Jump to content

Nggak Usah Panik, Lakukan Hal Ini Saat Keluarga Terkena Covid-19


Recommended Posts

Orang yang terinfeksi Covid-19 tidak semuanya akan menjadi sakit. Bisa saja, orang tersebut tidak mengalami gejala seperti umumnya pasien Covid-19 atau tidak merasakan sakit seperti orang tanpa gejala. Kalau ada anggota keluarga yang terkena virus Corona, jangan panik dulu. Kalian bisa melakukan beberapa hal berikut agar tetap bisa karantina mandiri. Pertama-tama, lakukan PCR test untuk seluruh keluarga agar bisa memastikan tidak ada anggota keluarga lain yang tertular. Nah, selanjutnya ikuti tips berikut ya!

622772965_Ilustrasiorangmenggunakanmasker.MichaelAmadeus-Unsplash.jpg.13d27467f0c4b58342b663f6465d25a0.jpg

Ilustrasi orang menggunakan masker. [Michael Amadeus - Unsplash]

Ruang Terpisah

Berikan orang yang terpapar ruangan terpisah dari anggota keluarga lain selama 14 hari setelah dinyatakan positif. Usahakan ada di kamar yang punya ventilasi yang cukup, seperti jendela lebar yang bisa dibuka atau pintu. Agar udara yang ada di ruangan tersebut bisa berganti.

Selain itu, upayakan juga ruangan itu memiliki kamar mandi sendiri yang hanya bisa diakses oleh orang yang terpapar tersebut. Kalau tidak memungkinkan, usahakan untuk menggunakan kamar mandi paling terakhir setelah anggota keluarga lain.

Protokol Kesehatan di Rumah

Meski berada di dalam rumah, usahakan untuk memakai masker, menjaga jarak, hindari kontak langsung, dan tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan mendesak seperti berobat. Pisahkan baju dan peralatan makan dari anggota keluarga lain, langsung cuci dengan sabun setelah dipakai. Bersihkan secara teratur permukaan benda yang sering disentuh, seperti gagang pintu, sakelar lampu, keran, dan lainnya.

Beri Vitamin dan Makanan Bergizi

Meski tidak merasakan sakit, orang yang terpapar Covid-19 tetap harus diberikan perhatian. Semangati mereka agar tidak down atau stres karena berada di dalam ruangan sendirian terus menerus. Sediakan juga hal-hal yang dibutuhkan, seperti hiburan atau makanan bergizi. Jangan lupa untuk rutin minum vitamin yang bisa meningkatkan imun tubuh.

Konsultasi Dokter

Anggota keluarga bisa membantu konsultasi dengan dokter secara online, jadi tidak perlu ada kontak langsung dan bisa dilakukan di rumah. Konsultasikan jika mengalami gejala-gejala yang membuat tidak nyaman.

Nggak perlu khawatir atau sampai panik kalau ada anggota keluarga yang terkena Covid-19.

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By congek
      Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo keluarga bisa berperan sebagai kunci dari pencegahan COVID-19.
      Pernyataan tersebut disampaikan Hasto dalam siaran dialog dari Graha BNPB.
      "Yang perlu kita sadari bersama, di hari-hari ini, klaster satu dengan klaster yang lainnya sudah bertemu dan bertemunya di keluarga. Oleh karena itu klaster keluarga ini tidak bisa dihindari," ujarnya dikutip Jumat (9/10/2020).
      Ia mengatakan, keluarga merupakan sentral dari pencegahan COVID-19 apabila ingin dilakukan di tingkat hulu.
      "Bagaimana pun juga tempat berkumpulnya mereka yang dari kelompok di mana saja beraktivitas adalah keluarga. Inilah yang tidak bisa kita hindari, mau tidak mau, suka tidak suka, keluarga memang menjadi klaster terakhir setelah klaster-klaster sudah dilewati."
      "Kalau keluarga ini kita kuatkan, anak-anak dalam keluarga ini bisa menjaga orangtuanya atau neneknya yang punya komorbid atau risiko tinggi, maka insyaallah, sukseslah kita mencegah morbiditas dan mortalitas untuk orang-orang dengan komorbid," Hasto menambahkan.
      Risiko dalam Keluarga Berbeda-Beda
      Dwi Listyawardani, Kepala Sub Bidang Sosialisasi Perubahan Perilaku Satgas COVID-19 mengatakan bahwa setiap anggota keluarga harus mengambil peran untuk menjaga dirinya masing-masing.
      Dani, yang juga Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, mengatakan bahwa keluarga memang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang bekerja di luar rumah atau mereka yang memiliki tingkat risiko infeksi yang berbeda-beda.
      "Masing-masing punya derajat risiko yang berbeda, di mana mungkin yang usianya lebih tua karena adanya komorbid, maka risikonya untuk menjadi positif, katakanlah demikian, menjadi lebih besar."
      "Mau tidak mau di dalam keluarga diterapkan 3M," tambahnya.
      Meski begitu, Dani juga mengakui adanya tantangan dalam penerapan jaga jarak dalam keluarga, khususnya di perkotaan. Hal ini mengingat seringkali keterbatasan ruang di rumah menjadi kendala untuk melakukan ini.
    • By congek
      Dokter Kepresidenan Amerika Serikat, Sean Conley, mengatakan, Presiden Donald Trump diizinkan kembali bekerja setelah melihat hasil pemeriksaan kesehatannya.
      Selama 24 jam terakhir, kata Sean, Trump tak menunjukkan gejala COVID-19 sama sekali. Dia juga tidak demam dan kondisinya dalam keadaan stabil.
      Begitu juga hasil uji fisik dan tanda-tanda vital, termasuk saturasi oksigen dan laju pernapasan.
      "Semuanya tetap stabil dan normal," kata Sean dikutip dari Channel News Asia pada Kamis, 8 Oktober 2020.
      Sean lalu mengatakan bahwa sekarang Donald Trump sudah memiliki antibodi COVID-19.
      "(Uji) lab presiden mendemonstrasikan level terdeteksi dari antibodi-antibodi SARS-CoV-2 lgG pada Senin 5 Oktober," Sean menekankan.
      Donald Trump mengumumkan dirinya positif terinfeksi COVID-19 pada Jumat, 2 Oktober 2020, melalui akun Twitter pribadinya.
      Trump lalu menjalani perawatan di Walter Reed Medical Center yang berada di luar Washington.
      Saat dirawat, Sean, melaporkan, Donald Trump menjalani pengobatan campuran antibodi eksperimental COVID-19, Regeneron.
      Selain itu, Trump juga mengonsumsi multivitamin seperti zink, vitamin D, famotidine, melatonin, serta aspirin.
      Tak butuh waktu lama, pada Senin, 5 Oktober 2020 waktu setempat atau Selasa, 6 Oktober 2020, waktu Indonesia, Donald Trump sudah diizinkan pulang untuk menjalani pemulihan di Gedung Putih.
       
    • By black_zombie
      New normal lagi jadi topik yang ramai dibahas netizen di media sosial. Setelah hampir 3 bulan menjalani karantina diri dan work from home,  kabarnya sebentar lagi masyarakat bakal menjalani tatanan gaya hidup baru. Dalam masa ini, masyarakat sudah mulai bisa melakukan aktivitas di luar rumah, tapi tetap memperhatikan protokol kebersihan diri sebagai bagian dari gaya hidup baru.
      Sudah siapkah kamu menghadapinya? Jika new normal diterapkan, ini dia beberapa new normal kits dan panduan yang wajib kamu pahami.
      1. Era New Normal Tetap Memperhatikan Physical Distancing

      Memasuki era new normal kamu memang sudah bisa melakukan aktivitas di luar rumah. Tapi, tetap harus memperhatikan physical distancing. Tetap jaga jarak aman dengan orang lain akan jadi kebiasaan baru dalam new normal. Idealnya, jarak aman antara satu orang dengan yang lain menurut imbauan Badan Kesehatan Dunia atau WHO adalah 1-2 meter.
      2. Masker, Sunglasses, Topi: Pelindung Diri Wajib Saat Keluar Rumah

      Selain menjaga jarak sosial, pelindung diri juga wajib digunakan saat keluar rumah di era new normal. Misalnya saja wajib menggunakan masker selama beraktivitas di luar rumah untuk mencegah penularan virus. Selain itu, nggak ada salahnya melindungi tubuh dengan items lainnya. Tapi, ingat ya kalau nggak perlu Alat Pelindung Diri atau APD kok, karena APD hanya buat tenaga medis. Kamu cukup memanfaatkan sunglasses untuk melindungi mata dan topi sebagai penutup kepala saat sedang berada di moda transportasi umum. Selain bisa melindungi diri, nilai plus-nya adalah penampilan jadi lebih stylish. Kalau memang perlu, kamu juga bisa menggunakan face shield untuk perlindungan yang lebih maksimal.
      3. Cuci Tangan Secara Rutin, Sedia Selalu Hand Sanitizer di Dalam Tas

      Kebiasaan mencuci tangan nggak hanya perlu dilakukan selama karantina diri. Ketika sudah menjalani new normal pun, rutin cuci tangan juga diperlukan buat mencegah bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh. Tangan menjadi media penyebaran bakteri dan virus yang paling cepat, karena sering memegang benda lain. Apalagi ketika sudah kembali bekerja di kantor lagi, di mana kamu bakal sering bersentuhan dengan benda-benda yang berisiko memiliki bakteri dan virus menempel seperti gagang pintu, meja, hingga tombol lift.
    • By eunike_grace
      Musisi Jerinx SID menilai pandemi corona atau Covid-19 merupakan sebuah konspirasi.
      Menurutnya, letak konspirasi tersebut ada pada angka kasus Covid-19 yang terlapor hingga saat ini.
      Jerinx mengatakan, angka-angka tersebut bukanlah jumlah yang sebenarnya.
      "Konspirasinya adalah banyaknya angka yang tidak sebenarnya, permainan-permainan angka jumlah korban," kata Jerinx dalam acara Sapa Indonesia Malam yang dipandu oleh Aiman di Kompas TV, Rabu (6/5/2020).
      Jerinx menyebutkan, alat tes Covid-19 yang ada saat ini tidak terjamin keabsahannya.
      Menurutnya, para ilmuwan di negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa pun masih belum sepakat mengatakan kevalidan alat tes tersebut.
      Jerinx juga mengatakan, banyak orang yang hasil swab test-nya positif namun menjadi negatif setelah diperiksa kembali.
      Namun, menurut Jerinx, hal ini jarang diungkap oleh media mainstream.
      "Swab test dan rapid test itu hasilnya tidak valid," kata Jerinx.
      "Itu banyak menimbulkan kesimpangsiuran informasi tapi media selalu dengan gampangnya membawa narasi jika swab test itu hasilnya sudah 100 persen."
      "Sedangkan ilmuwan-ilmuwan di negara maju, yang jauh lebih pintar daripada ilmuwan di Indonesia, mereka aja belum satu suara, tapi kenapa Indonesia begitu takut sama WHO?" tambahnya.
      Sementara itu, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, membantah pernyataan Jerinx tersebut.
      Menurut Hermawan, sejauh ini para peneliti melaporkan hasil dari swab tenggorokan melalui realtime PCR memiliki keakuratan 96 persen.
      "Sejauh ini, para peneliti untuk swab tenggorokan melalui realtime PCR itu menganggap 96 persen hasilnya valid," kata Hermawan dalam acara yang sama.
      "Agak berbeda dengan rapid test, kalau rapid test itu memang false negatifnya tinggi itu sekitar 36 persen efektivitasnya," tambah dia.
      Kendati demikian, Hermawan mengatakan rapid test penting untuk melakukan penelusuran awal.
      "Tapi, rapid test penting untuk mitigasi penelusuran awal untuk lebih private dalam rangka pendeteksian mereka dengan Covid positif," terangnya.
      Jerinx Sempat Imbau Masyarakat untuk Tidak Tes Covid-19
      Sebelumnya, Jerinx sempat mengunggah tulisan di akun Instagram pribadinya pada Senin (4/5/2020).
      Dalam unggahannya, ia mengimbau masyarakat supaya jangan pernah mau untuk dites Covid-19.
      Jerinx pun berpesan pada masyarakat supaya lebih fokus menyembuhkan penyakitnya dengan cara biasa.
      Jerinx menilai, semakin banyak yang mau untuk melakukan tes Covid-19 maka sama saja memuluskan Bill Gates dalam memonopoli dunia.
      Ketua Satgas Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp. PD., menanggapi perihal unggahan musisi Jerinx SID yang mengatakan agar jangan pernah mau melakukan tes Covid-19.
      Menurut Zubairi, pernyataan Jerinx tersebut tidaklah tepat.
      Ia mengatakan, tes Covid-19 justru semestinya dilakukan sebanyak mungkin untuk memutus rantai penularan.
      Zubairi menerangkan, dengan dilakukannya tes Covid-19 maka pasien positif akan ditemukan.
      Dengan begitu, pasien tersebut dapat segera diisolasi sehingga tidak menularkan virus yang dibawanya.
      "Kemudian dilakukan telusur kontak, teman-teman (pasien) yang positif itu juga diperiksa, yang positif kemudian diisolasi atau dikarantina," kata Zubairi.
      "Dengan cara itu, penularan akan sangat berkurang dan berhenti," tambahnya.
      Sementara itu, mengenai fokus menyembuhkan penyakit sesuai dengan penyakit yang diderita, menurut Zubairi ada benarnya.
      Namun, menolak untuk dites adalah hal yang keliru.
      "Tentu fokus pada penyakitnya ketika kita sakit itu benar tapi tidak tes itu keliru," tegasnya.
      Zubairi menyebutkan, pasien yang diminta untuk melakukan tes Covid-19 harus bersedia mengikutinya.
      Menurut Zubairi, dalam situasi wabah seperti saat ini, Indonesia harus belajar dari negara-negara lain.
      Zubairi menyebutkan, negara-negara yang melakukan tes Covid-19 secara masif terbukti dapat menyelesaikan pandemi ini dengan cepat.
      "Jadi menjawabnya adalah jika belajar dari negara lain maka negara-negara yang amat cepat mengerjakan tes sebanyak mungkin itu berhasil mengatasi masalah covid-19 ini dengan cepat," kata Zubairi.
      "Contohnya adalah Korea Selatan, contohnya juga di China, contohnya juga di Jerman," tambahnya.
      Zubairi menambahkan, meskipun Jerman memiliki angka kasus positif yang terbilang sangat tinggi, namun negara tersebut memiliki angka kematian yang lebih rendah dari negara-negara sekitarnya.

      "Dibandingkan dengan Belanda, Inggris, Spanyol, Itali, maka kematian di Jerman itu amat rendah," terangnya.
      Sementara itu, Zubair juga menanggapi pernyataan Jerinx yang menyebutkan semakin banyak pihak yang melakukan tes Covid-19 maka dianggap semakin memuluskan Bill Gates memonopoli dunia.
      Seperti yang diketahui, Jerinx juga sempat menyinggung pandemi Covid-19 ini sebagai konspirasi global.
      "Ya menurut saya sekarang yang ilmiah saja," kata Zubairi.
      "Kalau konspirasi global itu kan konspirasinya siapa?"
      "Kalau konspirasinya China, kenyataannya China yang kena banyak, yang meninggal banyak."
      "Kalau yang bikin orang Amerika, Amerika sekarang paling banyak terinfeksi lebih dari 1 juta, yang meninggal juga tadi banyak sekali, jadi tidak sesuai dengan konspirasi global," tambahnya.
      Lebih lanjut, Zubairi mengimbau agar masyarakat lebih berfokus pada bagaimana mengatasi Covid-19 di Indonesia.
      "Misalnya konspirasi oleh Amerika, ya saat ini jumlah di Amerika itu sudah sejuta lebih dengan angka kematian 69 ribu lebih, kalau konspirasinya oleh China, China itu jumlah pasiennya 82 ribu lebih, yang meninggal 4.633," kata Zubairi.
      "Jadi menurut saya, tidak sesuai dengan teori konspirasi, namun sekali lagi yang lebih penting kita fokus saja ke Indonesia," sambungnya.
      Menurut Zubairi, untuk mengatasi Covid-19 di Indonesia, saat ini yang perlu dilakukan adalah mengisolasi pasien positif, mengobati pasien positif Covid-19 yang sakit, dan disiplin untuk tinggal di rumah serta tidak berpergian.
      Zubairi mengaku mengkhawatirkan situasi di Jakarta yang saat ini mulai tampak ramai.
      "Saya terus terang agak khawatir sekarang ini, seminggu terakhir ini jalan-jalan di Jakarta makin penuh mobil kendaraan," kata Zubairi.
      "Itu tanda-tanda buruk untuk keberhasilan program penanggulangan Covid," sambungnya.
    • By BisaJadi
      Pemerintah kembali memperbarui kasus positif corona di Indonesia. Juru bicara penanganan COVID-19 di Indonesia, Achmad Yurianto, juga membeberkan jumlah spesimen yang sejauh ini sudah diperiksa.
      Dalam konferensi pers di BNPB, Selasa (21/4), Yurianto sempat menyebut spesimen yang diperiksa sebanyak 503.701 spesimen. Jauh melonjak dari hari sebelumnya, 47.478 spesimen.
      Data ini jugalah yang disampaikan oleh BNPB melalui grup-grup wartawan.
      Namun, ketika dikonfirmasi, Yurianto mengklarifikasi adanya salah data itu.
      "Sorry, 50.370," kata Dirjen P2P Kemenkes itu melalui pesan singkat mengklarifikasi.
      Sementara jumlah orang yang diperiksa sejauh ini adalah 46.173 orang. Meningkat dari hari sebelumnya, 42.219 orang.
      Dari data ini, ada 7.135 orang terkonfirmasi positif corona. Sementara 39.038 orang negatif corona.
      Jumlah kasus yang sembuh juga meningkat sebanyak 95 orang. Jadi sejauh ini ada 842 pasien yang sembuh.
      Kasus meninggal juga bertambah sebanyak 26 orang. Sehingga total ada 616 pasien yang meninggal.
×
×
  • Create New...