Jump to content
  1. BisaJadi

    BisaJadi

  • Similar Content

    • By congek
      Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo keluarga bisa berperan sebagai kunci dari pencegahan COVID-19.
      Pernyataan tersebut disampaikan Hasto dalam siaran dialog dari Graha BNPB.
      "Yang perlu kita sadari bersama, di hari-hari ini, klaster satu dengan klaster yang lainnya sudah bertemu dan bertemunya di keluarga. Oleh karena itu klaster keluarga ini tidak bisa dihindari," ujarnya dikutip Jumat (9/10/2020).
      Ia mengatakan, keluarga merupakan sentral dari pencegahan COVID-19 apabila ingin dilakukan di tingkat hulu.
      "Bagaimana pun juga tempat berkumpulnya mereka yang dari kelompok di mana saja beraktivitas adalah keluarga. Inilah yang tidak bisa kita hindari, mau tidak mau, suka tidak suka, keluarga memang menjadi klaster terakhir setelah klaster-klaster sudah dilewati."
      "Kalau keluarga ini kita kuatkan, anak-anak dalam keluarga ini bisa menjaga orangtuanya atau neneknya yang punya komorbid atau risiko tinggi, maka insyaallah, sukseslah kita mencegah morbiditas dan mortalitas untuk orang-orang dengan komorbid," Hasto menambahkan.
      Risiko dalam Keluarga Berbeda-Beda
      Dwi Listyawardani, Kepala Sub Bidang Sosialisasi Perubahan Perilaku Satgas COVID-19 mengatakan bahwa setiap anggota keluarga harus mengambil peran untuk menjaga dirinya masing-masing.
      Dani, yang juga Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, mengatakan bahwa keluarga memang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang bekerja di luar rumah atau mereka yang memiliki tingkat risiko infeksi yang berbeda-beda.
      "Masing-masing punya derajat risiko yang berbeda, di mana mungkin yang usianya lebih tua karena adanya komorbid, maka risikonya untuk menjadi positif, katakanlah demikian, menjadi lebih besar."
      "Mau tidak mau di dalam keluarga diterapkan 3M," tambahnya.
      Meski begitu, Dani juga mengakui adanya tantangan dalam penerapan jaga jarak dalam keluarga, khususnya di perkotaan. Hal ini mengingat seringkali keterbatasan ruang di rumah menjadi kendala untuk melakukan ini.
    • By merahputih
      Para pemilih di Amerika Serikat akan menentukan pada 3 November mendatang, apakah Donald Trump akan tetap menempati Gedung Putih selama empat tahun mendatang.
      Presiden dari Partai Republik itu ditantang oleh kandidat Partai Demokrat, Joe Biden, yang dikenal sebagai Wakil Presiden-nya Barack Obama dan telah berkecimpung di ranah politik AS sejak 1970-an.
      Ketika hari-H pemilihan presiden kian mendekat, sejumlah lembaga pembuat jajak pendapat akan berupaya menangkap suara warga AS dengan bertanya kepada para pemilih: siapa kandidat yang akan mereka pilih.
      Kami akan terus memantau berbagai jajak pendapat itu seraya berupaya menganalisis apa yang bisa diketahui dan tidak ketahui tentang siapa yang akan memenangi pilpres.
      Bagaimana performa kedua kandidat secara nasional?
      Jajak pendapat nasional adalah panduan yang baik untuk mengetahui seberapa populer seorang kandidat di seantero negeri, namun jajak pendapat semacam itu tidak serta-merta menjadi alat yang bagus untuk memprediksi hasil pemilu.
      Pada 2016, misalnya, Hillary Clinton memimpin pada sejumlah jajak pendapat dan memenangi hampir tiga juta suara lebih banyak ketimbang Trump.
      Tapi, dia tetap kalah—karena AS menggunakan sistem pemilihan electoral college sehingga meraih suara terbanyak tidak lantas menjamin seorang kandidat menang pilpres.
      Lepas dari catatan itu, Joe Biden selalu lebih unggul dari Donald Trump di jajak pendapat nasional selama sepanjang tahun ini.
      Angka yang diraih mencapai kisaran 50% dalam beberapa pekan terakhir dan pada beberapa kesempatan unggul 10 angka. Namum, Trump cenderung bangkit dalam beberapa hari terakhir.

      Perbedaan kondisi sekarang dengan empat tahun lalu, jajak pendapat pada 2016 kurang begitu jelas dan hanya beberapa poin yang memisahkan antara Trump dan Hillary Clinton ketika hari-H kian dekat.
      Negara bagian mana yang menjadi penentu dalam pilpres kali ini?
      Seperti yang ditemukan Hillary Clinton pada 2016, jumlah suara yang diraih kurang penting ketimbang dari mana suara tersebut dimenangkan.
      Kebanyakan negara bagian hampir selalu jelas haluan politiknya.
      Artinya, dalam kenyataan hanya ada segelintir negara bagian yang menghadirkan peluang menang yang sama bagi kedua kandidat.
      Tempat-tempat inilah yang kemudian menentukan kemenangan (atau kekalahan) seorang kandidat sehingga muncul istilah 'battleground states' alias negara-negara bagian kunci yang menjadi medan pertarungan.

      Dalam sistem pemilihan electoral college yang AS gunakan untuk memilih presiden, setiap negara bagian mendapat jumlah suara tertentu berdasarkan populasinya.
      Ada sebanyak 538 suara electoral college yang diperebutkan, sehingga seorang kandidat memerlukan 270 untuk menang.
      Seperti yang ditunjukkan pada peta, beberapa negara bagian yang menjadi medan pertarungan punya suara electoral college lebih banyak dari negara bagian lain.
      Karenanya, kandidat akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berkampanye di negara bagian-negara bagian tersebut.
      Siapa yang memimpin di negara bagian kunci?
      Untuk saat ini, jajak pendapat di semua negara bagian kunci tampak dipimpin Joe Biden.
      Namun, jalan masih panjang dan berbagai hal bisa berubah dengan cepat, khususnya ketika Donald Trump terlibat.
      Survei menunjukkan Biden memimpin jauh di Michigan, Pennsylvania, dan Wisconsin—tiga negara bagian sarat sektor industri yang dimenangi Trump dengan selisih kurang dari 1% pada 2016 lalu.

      Akan tetapi, negara bagian kunci yang dimenangi telak oleh Trump pada 2016 yang bakal paling dirisaukan tim kampanyenya.
      Selisih kemenangannya di Iowa, Ohio, dan Texas berada pada kisaran 8-10% pada 2016, namun kini dia berkejaran dengan Biden di ketiganya.
      Angka-angka pada jajak pendapat ini mungkin bisa menjelaskan keputusan Trump dalam mengganti manajer tim kampanyenya pada Juli lalu serta mengapa dia kerap menyebut "jajak pendapat palsu".
      Meski demikian, pasar taruhan jelas belum menganggap Trump sudah keok.
      Prediksi terkini menyebut peluang kemenangan Trump pada 3 November adalah satu banding tiga.
      Seberapa jauh pandemi Covid-19 mempengaruhi peluang kemenangan Trump?
      Pandemi virus corona telah mendominasi tajuk utama media di AS sejak awal tahun dan respons terhadap aksi Presiden Trump bisa ditebak terbagi dua berdasarkan garis partai.
      Dukungan atas kebijakan-kebijakannya memuncak pada pertengahan Maret setelah dia mengumumkan darurat nasional dan menyediakan US$50 miliar bagi semua negara bagian untuk menghentikan penyebaran virus.
      Pada titik ini, 5% warga AS mendukung tindakannya, berdasarkan data lembaga Ipsos.
      Namun, sokongan dari pemilih Partai Demokrat menghilang setelah itu. Sementara simpatisan Partai Republik terus mendukung Trump.

      Namun, data terkini menunjukkan bahwa para pendukung Trump mulai mempertanyakan tindakan-tindakannya seiring dengan wilayah selatan dan barat AS menghadapi gelombang baru pandemi. Sokongan dari simpatisan Partai Republik merosot hingga 78% pada awal Juli.
      Inilah yang mungkin menjelaskan mengapa akhir-akhir dia mencoba mengubah pesannya soal virus corona. Alih-alih berkata virus akan "menghilang begitu saja", Trump memperingatkan situasi akan "bertambah buruk sebelum kemudian berangsur membaik".
      Dia pun memakai masker untuk pertama kali dan meminta warga AS memakainya, disertai kata-kata "[masker] ini akan berdampak" dan menggunakan masker menunjukkan "patriotisme".
      Sebuah model yang diciptakan para pakar Universitas Washington memprediksi angka kematian akan melampaui 230.000 pada 1 November—dua hari sebelum pilpres.
      Apakah kita bisa mempercayai jajak pendapat?
      Mudah untuk tak lagi mempercayai jajak pendapat dan mengatakan metode itu salah pada 2016, kata-kata yang kerap diutarakan Presiden Trump. Namun, itu tidak sepenuhnya benar.
      Banyak jajak pendapat memang menyebut Hillary Clinton unggul beberapa angka persentase, namun itu tidak berarti metode tersebut salah. Toh Hillary meraup tiga juta suara lebih banyak ketimbang Trump.
      Para lembaga jajak pendapat memang menemui sejumlah kendala pada 2016 — terutama kegagalan memberikan keterwakilan yang layak pada pemilih tanpa gelar sarjana.
      Ini artinya keunggulan Trump di sejumlah negara bagian kunci tidak terdeteksi sampai tahap akhir persaingan. Sebagian besar lembaga jajak pendapat kini telah mengoreksi kesalahan itu.
      Namun tahun ini ada lebih banyak ketidakpastian dari biasanya lantaran pandemi virus corona belum berakhir dan dampaknya pada ekonomi dan cara pemilih menentukan pilihan mereka pada November.
      Dengan demikian, semua jajak pendapat harus dilihat dengan skeptis, khususnya ketika hari pemilihan masih relatif jauh.
    • By eunike_grace
      Amerika Serikat seperti sedang dalam kondisi yang sangat tidak bagus. Selain diserang pandemi virus corona, AS juga tengah dihantui utang.
      Apalagi setelah sang Presiden Donald Trump menyebut dirinya sendiri dengan julukan "King of Debt" atau raja utang. Di masa jabatannya, terjadi lonjakan utang yang cukup besar dan membawa AS ke dalam krisis.
      Alih-alih mengurangi defisit ketika ekonomi sedang kuat, Trump justru membuat tumpukan utang lebih banyak untuk membiayai insentif pemotongan pajak skala besar dan belanja negara yang meningkat. Itu berarti AS sedang mengalami masa krisis dalam kondisi keuangannya.
      Melansir CNN, utang terhadap PDB mencapai hampir 80% bahkan sebelum pandemi virus corona melanda. Naik lebih dari dua kali lipat dari rata-rata dan dua kali lipat sebelum resesi hebat.
      Utang tersebut akan semakin bertambah karena Amerika Serikat harus bertahan hidup di tengah pandemi ini.
      Departemen Keuangan menyebutkan akan meminjam sekitar 3 triliun dolar AS pada kuartal ini. Itu hampir enam kali lipat rekor sebelumnya, yang ditetapkan pada 2008.
      Sementara utang nasional Amerika Serikat sekarang mencapai 25 triliun dolar AS.
      Para ekonom sepakat bahwa Amerika Serikat harus terus menumpuk utang untuk mencegah depresi ekonomi yang lebih parah. Jika tidak, Amerika Serikat tidak bisa membayar utang setelah krisis COVID-19 ini berakhir.
      Bahkan pengawas defisit mendesak Paman Sam untuk terus meminjam.
      "Kami membuat kesalahan besar dalam utang ketika ekonomi kuat. Tapi hanya karena kecerobohan yang mendorong kita ke masa krisis, tidak berarti kita tidak boleh meminjam sebanyak itu."" ujar Maya MacGuineas, presiden bipartisan Komite Responsible Federal Budget kepada CNN Business.
      Akan ada konsekuensi jangka panjang atas utang yang harus dihadapi AS. Misalnya tingkat bunga yang lebih tinggi, inflasi yang lebih parah dan kemungkinan pajak yang lebih tinggi.
      Untuk saat ini, fokus yang dilakukan adalah menjaga kondisi ekonomi Amerika tetap bertahan. Pada bulan Maret, Kongres meloloskan paket stimulus 2,3 triliun dolar AS, yang terbesar dalam sejarah AS.
      Setengah triliun dolar pinjaman telah diberikan kepada usaha kecil. Bantuan langsung diberikan kepada keluarga berpenghasilan rendah dan menengah.
      Kantor Anggaran Kongres memperkirakan defisit anggaran federal akan mencapai 3,7 triliun dolar AS tahun ini, naik 1 triliun dolar pada tahun 2019.
      Kemungkinan paket stimulus juga akan didatangkan akhir tahun ini. Jumlahnya diperkirakan sekitar 2 triliun dolar. Paket tersebut untuk membantu pemerintah negara bagian dan lokal yang terdampak oleh krisis.
    • By Sam
      The coronavirus outbreak is first and foremost a human tragedy, affecting  hundreds of thousands of people. It is also having a growing impact on the global economy. 
      by Matt Craven, Linda Liu, Mihir Mysore, and Matt Wilson
    • By Brenda_Christie
      Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan uang kertas berpotensi menyebarkan virus Corona baru atau COVID-19, sehingga orang harus mencoba pembayaran tanpa kontak fisik. Ia juga harus mencuci tangan setelah menyentuh uang kertas, karena COVID-19 yang infeksius dapat menempel di permukaan selama beberapa hari.
      Juru Bicara Pemerintah dalam Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto berpendapat faktor utama penyebaran Corona ialah percikan (droplet) batuk atau bersin dari orang yang terpapar virus tersebut. Ia mencontohkan jika dirinya sebagai orang terpapar.
      “Kalau sekarang saya sakit, lalu saya bersin dan uangnya Anda terima. Lalu Anda menggosok hidung, [maka] tertular," kata Yurianto, ketika dihubungi reporter Tirto, Jumat (27/3/2020).
      Namun jika ia bersin atau batuk lantas uang itu baru dipergunakan orang lain satu hingga dua pekan berikutnya, kata dia, maka tidak akan tertular.
      Yurianto mengatakan uang bukan media utama penyebaran virus COVID-19. Namun ia menegaskan masyarakat harus menekankan pentingnya mencuci tangan.
      “Tidak harus uang. Saya pegang pulpen usai bersin, kemudian pulpennya diberikan ke orang lain, orang itu pegang hidung dan makanan sebelum cuci tangan, maka kena (tular) juga,” kata pria yang akrab disapa Yuri itu.
      Pemerintah pun berusaha mengurangi penyebaran COVID-19, salah satunya dengan mengarantinakan uang. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko mengatakan untuk pengisian mesin-mesin ATM, akan diisi dengan uang baru.
      “Uang yang masuk ke BI kami masih karantina (selama) 14 hari. Kami utamakan saluran uang baru. Demi keamanan dan keselamatan, disarankan masyarakat gunakan uang elektronik, internet banking, mobile banking dan QRIS," ucap Onny ketika dihubungi reporter Tirto, Jumat (27/3/2020).
      Hal itu ia anggap sangat selaras dengan situasi saat ini karena banyak masyarakat bekerja dan tinggal di rumah. “Jadi dengan gunakan empat hal yang saya sebutkan, berarti kita semua telah turut berpartisipasi menanggulangi penyebaran COVID-19,” imbuh Onny.
      Jika masa karantina uang rampung, kata dia, uang bisa diedarkan ke masyarakat. Karena BI memiliki cukup stok uang baru, maka itu yang kini beredar.
      "Untuk keamanan dan keselamatan masyarakat, yang baru diedarkan sesuai kebutuhan," lanjut Onny.
      BI juga mengklaim jumlah uang tunai yang ada kini cukup memenuhi kebutuhan selama enam bulan. Uang tunai itu akan didistribusikan oleh 46 bank via kantor cabang dan mesin ATM.
      "Stok uang kami jauh lebih dari cukup (sekitar Rp450 triliun), hampir enam bulan. Jangan khawatirkan higienitas uang itu. Kami juga menyarankan (penggunaan) uang non tunai. Bukan hanya mencegah, tapi membuat lebih baik," kata Gubernur BI Perry Warjiyo, Kamis (26/3/2020).
      Ketua Asosiasi Ekonomi Kesehatan Indonesia Hasbullah Thabrany berujar cara yang dilakukan BI sudah cukup bagus. "Semoga itu membantu, (uang) yang ada di ATM harus steril saja sudah bagus," kata dia ketika dihubungi reporter Tirto.
      Namun upaya tersebut ia nilai tidak cukup efektif karena tidak mungkin seluruh uang harus ditarik dari peredaran, sebab transaksi tanpa uang tunai belum memadai.
      "Saya tidak yakin uang beredar bisa ditarik, juga belum ada data berapa banyak kasus yang tertular dari uang," kata Thabrany.
      Menurut dia bukan lembaran uang yang harus dikarantina, tapi ubah perilaku penduduk. "Jika perlu paksa dengan denda besar," tegas Thabrany.
      Jumlah kasus positif COVID-19 di 28 provinsi di Indonesia mencapai 1.046 pasien per 27 Maret 2020. Dari data itu, 46 pasien dinyatakan sembuh, sementara 913 pasien lainnya berstatus dalam perawatan.
      Angka kematian pasien COVID-19 di Indonesia menjadi 87 jiwa per 27 Maret dan menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara, serta melampaui negara-jiran lainnya. Sebagai perbandingan, Malaysia saat ini memiliki kasus terbanyak di Asia Tenggara, yakni 2.031 pasien, hanya memiliki jumlah kematian sebanyak 24 jiwa.
      Kasus Positif COVID-19 Indonesia
      Berdasarkan Data Per 28 Maret 2020

      Data ini sesuai dengan yang tercatat di laman John Hopkins University. Sementara itu, berdasarkan data per 26 Maret 2020 dari WHO, Cina menjadi peringkat pertama dalam kawasan Western Pacific dengan 81.961 kasus Corona. Ada 3.293 kematian di sana. Untuk wilayah Eropa, Italia nomor satu karena ada 74.386 kasus dan 7.505 kematian.
      Indonesia pun menerima bantuan 40 ton alat kesehatan guna penanganan pandemi COVID-19 ini.
      “Bantuan ini berasal dari investor Cina yang berfokus pada hilirisasi minerba. Bantuan tahap 1 sudah tiba, selanjutnya minggu ini akan datang lagi yang tahap 2, kami bergerak cepat," ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Agung Kuswandono.
      Pasokan medis itu terdiri dari test kit Covid-19, swab kit, masker N95, masker bedah, alat pelindung diri seperti baju, kacamata, sarung tangan. Seluruh barang itu akan didistribusikan melalui BNPB, rumah sakit-rumah sakit, dan jaringan Fakultas Kedokteran.
      Peta Sebaran COVID-19 Indonesia
      Data per 27 Maret 2020

×
×
  • Create New...