Jump to content

Hukuman Warga Sidoarjo Kalau Gak pake Maser; Berdoa di Makam Pasien Covid-19


Recommended Posts

berdoa.thumb.jpg.85378c7b37759aed54187903c4300bf8.jpg

Kepolisian Resor Kota Sidoarjo memberi efek jera bagi 54 orang pelanggar protokol kesehatan COVID-19 yang kedapatan tidak mengenakan masker saat keluar rumah.

Sebagai bentuk hukuman, mereka berdoa bersama di makam khusus korban virus corona baru atau COVID-19, di pemakaman Delta Praloyo.

"Rupanya hukuman sosial dengan membersihkan fasilitas umum yang selama ini diterapkan masih belum mendapatkan efek jera dari pelanggar protokol kesehatan ini, sehingga kami berinisiatif menyuruh para pelanggar itu untuk berdoa bersama di makam khusus korban COVID-19 di Sidoarjo ini," ujar Kepala Kepolisian Resor Kota Sidoarjo Komisaris Besar Polisi Sumardji, di Sidoarjo.

Dia mengatakan, para pelanggar terjaring razia jam malam, dan mengabaikan protokol kesehatan dengan tidak memakai masker. Razia itu digelar oleh petugas gabungan polisi, TNI, dan Satpol PP di warung kopi dan kafe.

"Selama ini warga di Sidoarjo masih banyak yang mengabaikan protokol kesehatan. Kedisiplinan warga masih kurang terutama yang tidak menggunakan masker dan melanggar jam malam," katanya lagi.

"Ini salah satu upaya untuk membuat mereka jera. Selain itu, ini bentuk untuk penyampaian moral ke warga Sidoarjo tentang bahayanya COVID-19 itu nyata," tambahnya. 

Kapok

David, warga Sidoarjo yang terjaring razia mengaku sangat kapok tidak akan mengulangi lagi dan berjanji akan menggunakan masker setiap keluar rumah.

"Saya merasa takut mas malam-malam ngaji bareng baca tahlil di tengah pusara pasien COVID-19," kata David lagi.

Sementara itu, jumlah pasien COVID-19 di Sidoarjo hingga Jumat, 4 September kemarin tercatat sebanyak  5.327 orang yang dinyatakan positif. 

Dari jumlah itu yang terkonfirmasi meninggal dunia sebanyak 345 orang.

Link to post
Share on other sites
  • Ngobas changed the title to Hukuman Warga Sidoarjo Kalau Gak pake Maser; Berdoa di Makam Pasien Covid-19

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By Iqbal_Maulana
      Isolasi dan karantina seakan menjadi hal yang menakutkan di tengah pandemi Covid-19. Seseorang merasa jadi terpenjara, tidak boleh keluar ruangan, tidak boleh bertemu siapapun dan lain sebagainya. Terlebih jika harus dijemput petugas kesehatan untuk dibawa ke Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat. Padahal prakteknya tidak semenakutkan yang dibayangkan.
      Jika hasil tes Anda reaktif terhadap Covid-19, tidak memiliki penyakit bawaan dan masih dalam kondisi stabil, maka melakukan isolasi dan karantina di RSD Wisma Atlet merupakan salah satu jalan terbaik untuk melindungi keluarga dan orang-orang terdekat Anda.
      RSD Wisma Atlet memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung kesembuhan para pasien Covid-19 dari tingkat ringan hingga sedang. Seiring dengan meningkatnya jumlah pasien yang dirujuk, pemerintah terus meningkatkan fasilitas dan layanan yang ada di RSD Wisma Atlet. Terbaru adalah membuka fasilitas di flat isolasi mandiri Tower 4 Wisma Atlet.
      Koordinator Rumah Sakit Darurat COVID-19, Tugas Ratmono mengatakan flat di Tower 4 sama seperti Tower 5 Wisma Atlet, yang juga sebagai tempat isolasi mandiri dan setiap harinya menangani para pasien dari sisi kesehatan baik tubuh maupun pikiran. Terdapat tim psikososial dari psikolog. Pasien yang menjalani isolasi mandiri bisa berkonsultasi dengan psikolog maupun dokter.
      "Kami di Wisma Atlet ada yang namanya weekend psychology consultant. Jadi, semacam layanan daring dengan virtual gitu. Mereka (pasien) langsung diberikan akses kepada host di Tower 2, bagian manajemen," kata Tugas Ratmono saat dialog di Media Center COVID-19, Graha BNPB, Jakarta, Senin (21/9/2020).
      Tugas menjelaskan pasien diberi akses melalui ponsel dan perangkat elektronik supaya langsung konsultasi dengan psikolog juga dokter-dokter.
      "Dalam hal ini, dokter penanggungjawab spesialis paru, penyakit dalam, dan lainnya," tambahnya.
      Peran Vitamin C Dalam Terapi Pasien Covid-19
      Dikutip dari farmasetika, Vitamin C pada dosis yang lebih tinggi daripada biasanya digunakan untuk pasien rawat jalan, telah terbukti menurunkan mortalitas pada sepsis dan memiliki hasil klinis positif pada pasien yang menderita infeksi virus. Sifat antioksidan tambahan membuatnya sangat bermanfaat untuk membersihkan spesies oksigen reaktif berbahaya (ROS) yang digunakan oleh sel-sel kekebalan untuk menonaktifkan virus, tetapi juga menyebabkan peradangan dan membahayakan sel-sel manusia.
      Sebagai contoh, penelitian telah menunjukkan bahwa vitamin C membantu mencegah flu biasa, yang disebabkan oleh coronavirus lain, pada pasien yang tubuhnya mengalami stres fisik. Vitamin C juga mengurangi durasi dan keparahan gejala pilek dalam uji suplementasi. Selain itu, vitamin C telah menunjukkan beberapa manfaat pada pasien sepsis dan, meskipun masih dalam penyelidikan, memiliki kemungkinan terbukti bermanfaat pada pasien COVID-19 yang parah.
      Hal tersebut juga diperkuat dengan pernyataan dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) jika Vitamin C termasuk dalam  protokol tatalaksana penanganan Covid-19, karena besarnya khasiat yang dimiliki. Pada pasien positif Covid-19 tanpa gejala dan gejala ringan, pasien diberi Vitamin C oral dengan dosis 100-200 mg untuk dikonsumsi 3 kali sehari selama 14 hari. Untuk pasien positif Covid-19 dengan gejala sedang dan berat direkomendasikan pemberian vitamin C dengan dosis 200-400 mg/8 jam secara intravena.
       Selain itu, para pasien di Wisma Altlet juga diberikan multivitamin, termasuk vitamin C. Sejak wabah COVID-19 muncul di Indonesia, vitamin C memang sering sekali digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, serta memulihkan sakit.
      "Vitamin C berperan sebagai antioksidan dan membantu fungsi berbagai enzim dalam tubuh. Beberapa penelitian membuktikan konsumsi vitamin C secara rutin terbukti meningkatkan daya tahan tubuh, mempercepat pemulihan saat sakit," ujar dr Devia melalui Wawancara saat IG Live di Channel JOSS C1000 22 Juni 2020 lalu.
      Adapun dosis konsumsi harian vitamin C berkisar antara 250 mg – 1.000 mg. Oleh karena itu, untuk mempercepat pemulihan, pasien COVID-19 bisa mengonsumsi vitamin C dosis tinggi 1.000 mg.
      Joss C1000 merupakan suplemen minuman dengan kandungan Vitamin C 1000 mg yang juga direkomendasikan Klikdokter untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Dengan mengonsumsi Joss C1000, tubuh akan menjadi sehat dan kuat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
    • By keenion
      Jumlah pasien rawat inap terkait virus corona Covid-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta dan Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Pulau Galang, Kepulauan Riau, berkurang.
      Pada hari ini, Selasa (18/8/2020), terjadi pengurangan 21 pasien rawat inap di RSD Wisma Atlet. Sehingga total pasien rawat inap yang masih menghuni RSD Wisma Atlet sebanyak 1.312 orang. Data ini diterima hingga pukul 08.00 WIB.
      "Pasien rawat inap di RS Darurat Wisma Atlet berkurang 21 orang, dari semula 1.333 menjadi 1.312 pasien," ujar Kepala Penerangan Kogabwilhan-I Kolonel Marinir Aris Mudian dalam keterangannya, Selasa (18/8/2020).
      1.312 pasien rawat inap di RSD Wisma Atlet terdiri dari 731 pria dan 581 wanita. Dari jumlah tersebut, pasien yang terkonfirmasi positif sebanyak 1.306, sementara pasien suspek 6 orang.
      "Pasien terkonfirmasi positif berkurang 22 dari semula 1.328 menjadi 1.306 orang. Pasien suspek bertambah 1 menjadi 6 orang," kata Aris.
      Aris mengatakan, sejak dibuka 23 maret 2020, pasien yang terdaftar di RSD Wisma Atlet secara keseluruhan mencapai 10.903 orang. Sementara pasien yang sudah keluar sebanyak 9.127.
      "Dari 9.127 pasien keluar, yang dirujuk ke RS lain sebanyak 235 orang, sembuh 8.888 orang, meninggal 3, dan tanpa izin 1 orang," kata Aris.
      RS Pulau Galang Rawat 222 Pasien
       
      Sementara pasien rawat inap di RSKI Pulau Galang sebanyak 222, terdiri dari 172 pria dan 50 wanita. Dengan rincian pasien terkonfirmasi positif sebanyak 55 orang, pasien suspek sebanyak 167 orang.
      "Pasien rawat inap sebanyak 222 orang, terkonfirmasi Positif 55 orang, pasien suspek 167 orang," kata Aris.
    • By congek
      PSBB Tangerang Raya diperpanjang selama 14 hari ke depan. Sebelumnya PSBB jilid III Tangerang Raya berakhir Minggu (14/6/2020).
      Berdasarkan hasil evaluasi dan telekonferensi dengan Gubernur Banten Wahidin Halim, diputuskan PSBB untuk Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan diperpanjang selama dua pekan. 
      "Rencana kembali diterapkan selama 14 hari, berarti sampai tanggal 28 Juni," ujar Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah.
      Menurutnya, pelaksanaan PSBB Tangerang Raya cukup efektif menekan angka kasus virus corona Covid-19. Dia menyebut, hari ini tidak ada warga Kota Tangerang yang dilaporkan terjangkit Covid-19.
      "Hari ini tidak ada laporan kasus baru, semoga angka ini terus bertahan. Jadi PSBB ini tahap terakhir, semakin hari semakin membaik,"ujar Arief.
      Alasan Perpanjangan
      Sementara itu, Bupati Tangerang Zaki Ahmed Iskandar menyatakan, perpanjangan PSBB di Tangerang Raya lantaran angka penularan virus corona Covid-19 di tiga wilayah itu masih terbilang tinggi.
      "Masih tingginya angka penularan, masih diatas 1.2. Namun, dilihat dari pasien positif Covid, ODP, ataupun PDP, menunjukkan angka yang cenderung menurun," ujar Zaki.
      Di Bawah 60 Persen
      Zaki menyebut, tingkat kesadaran warga di Kabupaten Tangerang untuk melaksanakan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 masih rendah atau di bawah 60 persen. Masih banyak warga yang tidak memakai masker dan keluar rumah tanpa keperluan mendesak.
      Namun untuk kali ini, pembatasan akan diperketat hingga ke tingkat RT dan RW. Peran Ketua RT dan RW di masing-masing lingkungan akan dilibatkan lebih aktif lagi.
    • By congek
      Pemprov DKI Jakarta mengizinkan mal untuk kembali beroperasi pada PSBB masa transisi, Senin (15/6/2020). Ada 80 pusat perbelanjaan yang buka.
      Ketua Asosiasi Persatuan Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta Ellen Hidayat menyebut pihaknya kini tengah menyempurnakan peralatan dengan touchless, sebagai upaya menjaga meningkatkan terhindarnya bersentuhan.
      Mal juga wajib memberlakukan protokol kesehatan yang meliputi pemakaian masker, jarak antre satu meter, suhu tubuh di bawah 37,5 derajat Celcius, lift maksimum enam orang, juga pembayaran yang diusahakan cashless.
      Beragam persiapan dan inovasi diterapkan mal-mal tersebut, salah satunya Senayan City. Melalui IGTV di Instagram resmi, mal ini menginformasikan akan beroperasi pada Senin--Minggu juga Libur Nasional buka mulai 11.00--20.00.
      Ragam layanan yang diberikan juga 100 persen touchless agar pengunjung merasa lebih nyaman, aman, dan bersih saat berada di mal. Dalam video berdurasi satu menit dan 32 detik, Senayan City menampilkan persiapan yang telah dilakukan.
      Video diawali dengan stiker kuning bertuliskan "Area Wajib Masker". Berlanjut dengan adanya intensive temperature screening saat pengunjung memasuki mal dan tersedia pula touchless hand sanitizer.
      Kemudian terlihat pula touchless lift button dengan mendekatkan tangan sekitar 10 sentimeter dari sensor. Lalu touchless parking button, disarankan pembayaran cashless, sabun tangan touchless, memberi jarak dua langkah di eskalator, adanya UV-C Merchandise Sterilizer, dan memberi jarak antara pengunjung lain saat duduk.
      Kebijakan Central Park Mall

      Central Park Mall juga menyediakan layanan 100 persen touchless dengan intensive safety screening saat memasuki semua area. Beberapa persiapan mal yang berada di Jakarta Barat ini disampaikan melalui akun Instagram resmi menjelang buka.
      Adalah diwajibkan mengenakan masker, adanya monitoring saat masuk dan keluar, touchless temperature thermal screening. Tim service mengenakan masker, face shield, serta sarung tangan, serta customer service counter shield.
      Setiap pengunjung yang masuk dan keluar area mal dinformasikan untuk melakukan prosedur in and out. Prosedur saat masuk meliputi scan QR Code atau buka link yang tertera di pintu akses, mengisi online form, klik check in untuk tanda masuk ke area mal, tunjukkan bukti check in ke petugas, pengecekan suhu tubuh, gunakan hand sanitizer dan masker setiap saat.
      Sementara untuk prosedur saat keluar adalah scan QR Code atau buka link yang tertera di pintu akses, klik check out untuk tanda keluar dari area mal, tunjukkan bukti check out ke petugas.
      Aturan Lain
      Fitur tambahan pada fasilitas tanpa sentuhan untuk menghindari kontak fisik secara langsung juga termasuk touchless hand sanitizer, touchless lift button, touchless foot pedal lift, touchless payment using apps, touchless menu scan QR Code, touchless mall promotion, hingga touchless parking.
      Central Park Mall juga memastikan jarak aman antara pengunjung di dalam mal, mulai dari pengaturan tempat duduk setidaknya 1,5 meter, dua meter jarak fisik pada garis antrean, jumlah pengunjung terbatas saat di lift, memberi jarak tiga langkah saat di eskalator, memberi arah masuk dan keluar.
      Ada pula layanan sanitasi dan produk yang disediakan untuk kenyamanan pengunjung yakni vending machine masker dan hand sanitizer serta layanan sterilisasi UV-C.
    • By VOAIndonesia
      Para pekerja mengenakan baju pelindung bersiap memakamkan jenazah pasien virus corona (Covid-19) di pemakaman yang disediakan oleh pemkot Surabaya, 16 Mei 2020. (Foto: Reuters)
      Petugas medis, dokter dan perawat, adalah salah satu korban pandemi virus corona. Senin (18/5), seorang perawat di Rumah Sakit Royal Surabaya meninggal dunia karena terpapar virus mematikan itu. Ironisnya ia meninggal dalam kondisi hamil empat bulan.
      Isak tangis teman-teman Ari Puspita Sari tak tertahan lagi ketika melihat perawat RS Royal Surabaya ini dipindahkan ke ruangan intensif lain. Ari, yang berusia 26 tahun, meninggal bersama janin berusia empat bulan yang dikandungnya setelah menjalani perawatan intensif selama satu pekan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam tidak saja bagi warga Surabaya, tetapi juga Indonesia.
      Presiden Joko Widodo menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian Ari dan petugas medis lain dalam upaya melawan pandemi virus corona ini.
      “Saya sungguh-sungguh berduka cita yang dalam untuk kepergian Ari, dokter dan tenaga medis lain, serta orang-orang yang berada di garis terdepan penanganan pandemi Covid-19 yang telah menjadi korban penularan virus ini. Semoga mereka semua mendapatkan pahala yang setimpal di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberiNya kekuatan dan kesabaran,” tulis Presiden di akun Instagramnya.
      Jokowi kembali menggarisbawahi pentingnya semua orang disiplin mematuhi anjuran dan protokol kesehatan demi memutus rantai penularan Covid-19.
      Juru bicara RS Royal Surabaya, Dewa Nyoman, sebagaimana dikutip sejumlah media lokal, menegaskan bahwa Ari Puspita Sari bukan perawat khusus yang menangani pasien corona.Tim dinas kesehatan masih melacak penyebab tertularnya Ari.
      Ada Standar Petugas Medis untuk Corona
      Ketua Gugus Kuratif Jawa Timur, dr. Joni Wahyuhadi, memastikan bahwa pemerintah telah mengeluarkan standar tentang petugas medis yang diperbolehkan melakukan pekerjaan yang bersentuhan dengan pasien corona. Joni Wahyuhadi menegaskan para petugas medis yang berisiko tinggi, tidak diperkenankan ikut terlibat dalam pelayanan pasien corona.

      Para petugas medis bersantai usai mengambil sampell darah dari warga saat tes cepat Covid-19 di Surabaya, 13 Mei 2020. (Foto: AFP)
      Dr. Joni memaparkan mereka yang termasuk berisiko tinggi tertular dan berakibat kecacatan atau kematian, antara lain orang berpenyakit kronis, penderita diabetes, hipertensi, asma, penayakit imun, gangguan imunitas dan orang tua.
      “Jadi kalau di RSUD Dr. Soetomo itu yang berusia 60 ya cuti. Hamil memang disarankan cuti, karena orang hamil itu terjadi perubahan metabolisme, dan rentan terhadap infeksi. Dua-duanya, ibu dan bayinya,” kata Joni Wahyuhadi
      Data Pasien Bantu Lindungi Petugas Medis
      Banyaknya petugas medis, baik dokter maupun perawat yang meninggal dunia akibat corona, juga menjadi sorotan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), yang menilai sudah saatnya menggandakan upaya mencegah perebakan virus corona untuk menurunkan beban pada tenaga dan fasilitas kesehatan.
      Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Jawa Timur, dr. Sutrisno, mengatakan pengelolaan data dan informasi yang baik, memudahkan identifikasi jenis pasien dan sekaligus melindungi tenaga kesehatan dari kemungkinan tertular virus corona akibat tidak jujurnya pasien dalam memberikan data.
      Bila data itu dikelola menjadi sebuah sistem, kata Sutrisno, petugas medis bisa melakukan pelacakan dan melakukan tindakan terhadap orang-orang yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19, kontak denganorang tanpa gejala (OTG) maupun merek yang pernah menjalani tes.
      “Mereka yang ODP (orang dalam pemantauan) ringan, PDP (pasien dalam pengawasan) ringan itu masih bisa jalan-jalan kemana-mana. Maka dengan pengelolaan data yang bagus, otomatis itu akan membuat tenaga kesehatan, faskes itu mendapatkan informasi dan akan memperkecil kemungkinan terpapar mereka-mereka (pasien) yang tidak jujur,” jelas dokter Sutrisno.

      Pelaksanaan rapid test di salah satu rumah sakit di Surabaya (Foto: Humas Pemprov Jatim).
      Sutrisno menambahkan, rumah sakit atau fasilitas kesehatan juga harus lebih meningkatkan pelayanan dan fasilitasnya, untuk melindungi tenaga kesehatan dan pasien yang ada di rumah sakit. Termasuk pelaksanaan prosedur pelayanan pasien corona dan pemakaian alat pelindung diri (APD) sesuai standar.
      Selain itu, tambah Sutrisno, tempat atau laboratorium penyelenggara tes PCR (polymerase chain reaction) atau TCM (tes cepat molekuler) mesti diperbanyak, agar hasil yang diperoleh dapat lebih sesuai waktu terkini.
      Perawat Khawatir akan Keamanan Diri
      Meninggalnya para tenaga kesehatan, termasuk perawat RS Royal Surabaya, Ari Puspita Sari, menjadi duka dan keprihatinan Cecilia Eka, sejawat perawat yang lain.
      Cecilia yang ikut menangani pasien corona di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya ini, menyesalkan masih ada petugas medis di rumah sakit rujukan corona yang meninggal akibat tertular dari pasien yang sedang dirawat. Padahal kata Cecilia, prosedur dan pengamanan diri telah dilakukan secara ketat dan sesuai standar.
      Menurutnya risiko penularan terjadi karena pasien kurang terbuka tentang riwayat kesehatan dan riwayat kontak dengan orang yang tertular virus corona. Cecilia juga menyayangkan masih banyak masyarakat yang menganggap sepele virus corona, sehingga tidak melindungi diri dengan baik. Hal itu mengakibatkan banyak orang lain termasuk tenaga kesehatan ikut tertular.
      “Kita memang sudah rapat jaga kondisi, dengan kondisi-kondisi tertentu. Pada titik-titik tertentu kami pasti capek, dalam kondisi capek seperti itu apakah tidak mungkin kita tertular, mungkin sekali. Tapi apa yang diperbuat masyarakat, tidak ada timbal-baliknya ke kami,” ujar Cecilia kepada VOA.
      “Rasanya itu kami itu seperti sesuatu yang patut dikorbankan, yo wes (ya sudah) itu profesimu lakonono (jalanilah) seperti itu. Jangan menganggap seperti itu. Kami yang berjibaku di depan ini lho, apakah tidak pernah dipikirkan,” ungkap Cecilia.
      Abaikan PSBB
      Selain itu, Cecilia juga menyesalkan sikap pemerintah yang tidak tegas dalam membuat kebijakan penanganan corona. Salah satunya dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang tidak tegas, terutama di Surabaya.
      Banyak tempat perbelanjaan yang dibuka, pasar-pasar dipenuhi pengunjung, dan masyarakat masih tidak peduli terhadap upaya pencegahan untuk menurunkan angka kasus corona.
      “Jadi, mal-mal di buka, pasar-pasar sampai seperti itu bergerombol. Mau berapa kali lipat kita itu menerima pasien-pasien yang sudah positi-positif, kondisi jelek-jelek. Sekarang kalau memangnya habitnya masyarakat tidak bisa diubah, kami kalau di garda depan ini kewalahan, terus siapa yang mau merawat?” ujar Cecilia.
      Sampai 19 Mei 2020, jumlah kasus positif corona di Jawa Timur mencapai 2.372, dan tertinggi kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta. [pr/em/ft]
       
×
×
  • Create New...