Jump to content

Susah Cari Kerja? Kenapa Tidak Coba Bikin Usaha Sendiri?


Recommended Posts

  • Premium Account

1171220714_businessplan.thumb.jpg.10e403ac80dd2367013bcf68793e1009.jpg

Situasi yang serba nggak menentu beberapa bulan belakangan paling berdampak pada sektor ekonomi. Nggak hanya banyak yang kehilangan pekerjaannya, tapi mencari pekerjaan baru juga nggak kalah susah karena saingannya semakin banyak.

Gambaran susahnya cari pekerjaan di masa sekarang ini sempat diungkapkan oleh akun Twitter salah satu portal penyedia lowongan pekerjaan dan bahkan sempat viral karena seperti menjawab pertanyaan banyak pejuang loker. Saat masa pandemi, jumlah lowongan yang ada berkurang drastis, tapi peminatnya malah bertambah hingga berkali-kali lipat. Sama persis seperti yang dirasakan sekarang. Tapi, kalau mencari pekerjaan susahnya setengah mati, kenapa nggak mencoba bikin bisnis sendiri?

Ini strategi yang kamu butuhkan!

Temukan Ide Bisnis yang Potensial

Ada baiknya memiliki ide sendiri yang berasal dari hobi atau keahlian yang dimiliki. Misalnya melihat piyama dan daster yang sekarang lagi jadi tren OOTD selama di rumah, nggak ada salahnya kamu menciptakan piyama lucu yang sesuai kebutuhan pasar dengan harga terjangkau.

Bisnis makanan juga diprediksi menjadi salah satu yang bakalan survive di masa depan, karena semua orang sudah pasti membutuhkan. Kamu bisa menciptakan makanan kering yang dapat disimpan selama beberapa minggu, seperti dendeng atau rendang bumbu kering. Jenis makanan ini juga lagi populer, lho.

Melihat tren yang sedang booming saat ini boleh-boleh saja, tapi jangan sampai menirunya habis-habisan. Asah kreativitasmu dengan mengambil ide dari produk atau jasa yang kini sedang laris di pasaran, lalu tambahkan ciri khas yang bikin bisnismu unik dan berbeda.

Hitung Cashflow yang Dibutuhkan

 

Setelah menemukan ide yang potensial, saatnya mencari cara bagaimana menghitung cashflow yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis dengan efektif. Cashflow sendiri sebenarnya merupakan aliran kas yang masuk dan keluar untuk keperluan bisnis dalam rentang waktu tertentu. Penghitungan dan pengelolaan yang buruk bisa berdampak pada modal usaha yang terkuras habis hingga mengalami kerugian.

Demi mendapatkan cashflow yang lancar, pastikan pemasukan yang didapat lebih besar daripada pengeluaran. Hal ini bisa dilakukan dengan memastikan persediaan produk, baik barang atau jasa, yang tepat, menunda pengeuaran untuk hal-hal yang nggak mendesak, menghitung biaya produksi, hingga memikirkan strategi pemasaran yang tepat.

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By dugelo
      Bayangkan bagaimana orang kaya hidup hari ini, ujar Hal Varian, ekonom utama di Google. Mereka punya supir sendiri. Bankirnya sendiri. Hidupnya serba dilayani dan bagaikan mimpi. Inikah pula yang kamu idamkan?
      Demikianlah, cara mudah membayangkan membayangkan masa depan menurut Varian: Di masa mendatang, pekerjaan-pekerjaan akan dituntaskan oleh robot. Rutinitas-rutinitas yang menyita waktu dan menyiksa akan diambil alih mereka sementara manusia akan memiliki semakin banyak waktu untuk dihabiskannya sendiri.
      Perjalanan mereka akan disetiri oleh kendaraan dengan kecerdasan buatan. Setiap orang akan memiliki sistem yang bekerja mengurusi tetek bengek yang menguras waktu dan tenaganya.
      Masa depan yang menyenangkan? Masa depan yang sudah tak terlalu jauh lagi, Varian percaya.
      Inovasi sudah terjadi tapi…
      Persoalannya, inovasi-inovasi teknologi serta pengorganisasian kerja sebenarnya sudah sejak lama memangkas berbagai kewajiban kerja yang kita perlukan. Sejak kapan telepon genggam kita berubah menjadi perkakas serba bisa?
      Apakah 2005 yakni sejak Blackberry serta Blackberry Messenger diperkenalkan dan memudahkan kebutuhan-kebutuhan komunikasi Anda? Apakah sejak iOS, Android diperkenalkan dan segala ragam aplikasi pengatur hidup tersedia dalam genggaman tangan?
      Yang pasti, berkatnya Anda kini tidak perlu lagi merepotkan diri mengirim dokumen-dokumen lewat pos.Anda tidak harus lagi mendatangi orang dan bergelut dengan kemacetan ketika detail pekerjaan dapat diterangkan melalui surel, pesan WhatsApp, atau panggilan video.
      Dan setiap saat, aplikasi-aplikasi, sistem operasi memutakhirkan diri sehingga kebutuhan-kebutuhan kecil—mengunggah foto atau dokumen, katakanlah—semakin tidak perlu Anda pikirkan.
      Apakah pekerjaan berkomunikasi Anda semakin sedikit, pertanyaannya? Apakah waktu luang Anda semakin banyak? Saya jamin, tidak. Bagi kebanyakan dari kita, tidak. Apa yang terjadi adalah Anda masih mesti menanggapi surel dari atasan atau klien pada pukul tiga dini hari. Boleh jadi, Anda bahkan masih harus bergelut dengan rapat melalui panggilan video pada hari raya Lebaran.
      Anda seorang desainer? Anda, boleh jadi, pernah bergelut merevisi pekerjaan Anda puluhan kali—menyambangi semua yang diinginkan klien dan bos Anda hanya untuk kembali ke desain pertama yang Anda ajukan. Semua berkat kemudahan berkomunikasi.
      Potret kerja media daring
      Bagaimana awalnya kepelikan ini terjadi? Keinginan. Ia, saya rasa, berawal dari keinginan manusia yang bukan saja tak tuntas-tuntas melainkan juga mengada-ada. Pekerjaan, toh, tak pernah sekadar melayani kebutuhan-kebutuhan bertahan hidup belaka sebuah masyarakat.
      Saya tak tahu bagaimana menerangkannya dengan kalkulasi ekonometri yang teliti. Tetapi, saya dapat menceritakan awal mula wartawan di Indonesia diharuskan menulis lima belas berita per harinya.
      Awalnya adalah kesuksesan Detik.com yang mengantarkannya menjadi media daring terbesar hingga hari ini. Pada waktu itu, media daring adalah wahana yang benar-benar baru. Belum ada yang benar-benar tahu strategi agar pengunjung secara konsisten terpikat mendatanginya.
      Detik.com, lantas, mencoba menayangkan sebanyak-banyaknya berita di portalnya. Lebih banyak selalu lebih baik. Lagi pula, berbeda dengan media cetak, media daring sanggup menayangkan berita sebanyak apa pun. Strategi ini berhasil meraup pembaca. Dan, memang, perhitungannya masuk akal. Dengan menayangkan lebih banyak berita, peluang berita mereka dibaca, disebarkan, dan dibicarakan dengan sendirinya akan lebih besar.
      Akan tetapi, apa yang terjadi selepas standar Detik.com menjadi mantra semua media daring yang ada? Media disesaki pengulangan-pengulangan tak berbobot. Satu cerita yang sama dapat didedah menjadi tiga-empat berita. Berita-berita merupakan jiplakan mentah dari siaran pers. Tentu saja, dengan cara apa lagi seorang awak media dapat menulis lima belas berita dalam sehari kecuali dengan taktik-taktik semacam ini?
      Keinginan siapa yang dipuaskan dengan berita-berita daring yang demikian? Keinginan pembaca, boleh jadi. Tetapi, bukankah keinginan mereka seharusnya dapat dipuaskan dengan berita secukupnya yang mengena dan merangkum semua informasi yang dibutuhkan? Dan bukankah kalau media daring tak menciptakan sendiri rasa penasaran tidak sehat pembaca dengan berita-berita sepotong dan umpan klik, wartawan tidak harus bekerja bak mesin atau bahkan menulis berita yang lebih bernas?
      Tak hanya media
      Saya kira, kepelikan ini kini tak sekadar mencekik para pekerja media. Beberapa editor media daring menetapkan standar wartawannya harus dapat dikontak 24 jam penuh. Bayangkan, 24 JAM PENUH!
      Peraturan menyesakkan serupa, kendati tak pernah disampaikan secara terbuka, juga menjadi norma yang sebenarnya dipaksakan kepada banyak pekerja di ranah-ranah lainnya.
      Staf Humas Elon Musk bercerita ia dapat dipanggil bosnya itu pukul tiga pagi hanya karena Sang Bos menemukan kritik sepele terhadap dirinya. Kondisi ini, saya yakin, bukan kondisi yang sulit dipahami pekerja-pekerja di Indonesia.
      Mereka mesti sudi dikontak atasannya dini hari lantaran Sang Atasan tersulut emosinya oleh satu dan lain hal. Mereka perlu menanggapi dengan ramah, manis, dan menguras kesabaran keluhan-keluhan klien atau penyandang dana ketika baru bangun tidur.
      Dan, lagi-lagi, sebagaimana kerja para wartawan media daring, kerja yang paling menguras waktu bukanlah kerja yang konkret. Ia adalah kerja-kerja menyusui keinginan yang tak ada habisnya bila seseorang tidak mengeremnya. Teknologi membuka ruang selebar-lebarnya, selentur-lenturnya untuk menagih kerja orang lain kapan pun dan di mana pun, dan relasi kerja yang timpang menyebabkan mereka tidak mungkin menolaknya. "Belum tipes, belum loyal,” katanya.
      Relasi kerja timpang
      Hal Varian, dengan demikian, boleh saja memimpikan orang-orang kian dimanjakan seiring tak terelakkannya perkembangan teknologi. Namun, dengan lemahnya posisi pekerja di Indonesia—dan sebenarnya juga di banyak negara lain—ia rentan menjadi mimpi muluk-muluk belaka bagi kebanyakan orang. Inovasi teknologi alih-alih memangkas kerja malah menciptakan kerja, dan alih-alih menghemat waktu kerja malah menyebabkan kerja menjajah waktu senggang kita hingga jengkal terakhirnya.
      Dengan tersedianya laptop, yang katanya memudahkan hidup banyak orang, toh, apa yang terjadi kalau bukan pekerjaan kini dianggap dapat dituntaskan di mana pun?
      Dan dengan tersedianya angkutan daring, apa yang terjadi kalau bukan manajemen tidak lagi mempermasalahkan jam pulang pekerjanya?
      Apa yang bisa kita antisipasi dari perkembangan teknologi menghebohkan selanjutnya, karenanya, kalau bukan ia semakin menyempurnakan eksploitasi pekerja?
      Mungkin, dengan demikian, teknologi tidak seharusnya semata berkembang dan melangkah maju. Ia juga tidak bisa melaju dengan kacamata kuda. Ia tidak seyogianya terjatuh ke tangan yang salah.
    • Guest news
      By Guest news
      Sebuah toko pakaian unik dibuka di kota New York baru-baru ini, yang menawarkan pakaian netral jender. “Phluid project” menjual busana yang tidak dikategorikan berdasarkan jender, untuk siapapun dengan jender dan orientasi seksual apapun.
       
    • By BincangEdukasi
      Migrain memang bisa datang kapan saja. Bahkan seringkali datang tiba-tiba di saat yang tidak terduga. Lebih menyebalkannya lagi, tak jarang migrain kumat saat kita sedang berada di kantor. Padahal, pekerjaan sedang banyak-banyaknya! Apakah kamu pernah mengalaminya? Ternyata, ada sejumlah alasan yang menyebabkan migrain timbul saat kamu sedang berada di kantor. Ini dia penyebabnya.
      Kondisi Lalu Lintas
      Banyak orang yang harus melalui perjalanan panjang dari rumah untuk tiba di kantor. Berbagai kendala di perjalanan bisa menjadi pemicu migrain dan sakit kepala. Misalnya kemacetan di perjalanan, mabuk perjalanan, hingga perubahan pola cahaya yang diterima oleh matamu selama perjalanan. Coba saja menyetir ke arah matahari terbit atau terbenam, cahaya yang menusuk matamu dapat memicu migrain.
      Pencahayaan buruk
      Nggak semua kantor memerhatikan pencahayaan ruang kerja dengan baik. Cahaya yang terlalu terang atau gelap akan membuatmu mudah mengalami migrain saat sedang bekerja. Apalagi jika pekerjaanmu mengharuskan kamu terus menerus menatap layar komputer di dalam ruangan dengan pencahayaan buruk.
      Stres tingkat tinggi
      Omelan si Bos, deadline pekerjaan, tuntutan untuk mencapai target, atau mempersiapkan presentasi, adalah kecemasan yang wajar dan sering terjadi. Namun bagi orang yang tidak bisa mengendalikan kecemasannya, maka bisa memengaruhi kondisi fisiknya juga. Migrain adalah salah satu penyakit yang bisa muncul karena stress.
      Ketegangan mata
      Terlalu lama menatap layar komputer bisa menyebabkan ketegangan saraf-saraf mata dan akhirnya kamu jadi mengalami migrain. Untuk memastikannya, coba cek ke dokter mata apakah migrain yang kamu alami berasal dari mata. Biasanya dokter akan menyarankan kamu menggunakan kacamata khusus sebagai terapi untuk mata. Mata yang kering juga bisa membutmu pusing. Jadi pastikan untuk berkedip setiap beberapa detik agar matamu tetap lembap dan berpalinglah dari layar komputer setiap 20 menit.
      Posisi duduk salah
      Perhatikan posisi dudukmu. Pastikan kursimu memiliki bantalan yang bisa menunjang tulang belakang (punggung), jika tidak ada, kamu bisa menambahkan bantalan tersendiri. Saat mengetik, posisikan tanganmu di bagian penyangga lengan kursi. Jika kamu sering menerima telepon, lebih baik gunakan headset agar tulang lehermu tidak terasa pegal dan lakukan stretching ringan setiap beberapa jam sekali.
      Bau yang kuat
      Entah itu bau asap rokok, parfume, ataupun cairan pembersih ruangan, jika bau tersebut terlalu kuat, maka bisa menimbulkan migrain. Hati-hati ya!
      Suara berisik
      Rekan kerja menyetel musik atau berbincang terlalu keras, bisa membuatmu terganggu dan sakit kepala. Sebab, kamu harus berkonsentrasi sementarab suasana di sekitarmu sangat berisik. Jika hal ini membuatmu terganggu, lebih baik gunakan headset dan nyalakan musik yang tenang untuk menetralisir kebisingan.
      Hidup teratur
      Aturlah rutinitas hidup Anda. Misalnya, usahakan makan di jam-jam yang sama. Tidak terlalu cepat atau terlambat. Jika kamu tipe orang yang bekerja di pagi hari, maka usahkan tidur malam tepat waktu dan tiba di kantor pada jam yang sama setiap hari. Hindari bekerja lembur karena akan ‘merusak’ jam biologismu. Jika migrain sudah tak terhindarkan, redakan dengan bodrex Migra. Kandungan paracetamol, propifenazon, dan kofein di dalam bodrex Migra dapat redakan sakit kepala berdenyut-denyut dengan segera.
    • By sondimargang
      Tahun 2016 dan tahun-tahun mendatang diramalkan akan semakin chaos. Persaingan semakin kacau, tidak teratur, dan menciptakan musuh-musuh baru yang tidak terlihat. Kehancuran merek pelan-pelan akan terjadi oleh kehancuran industrinya karena serangan pemain dari industri lain. Hati-hati melangkah jika tidak ingin jatuh!
      Sony, salah satu raksasa bisnis di dunia, pada akhir tahun 2014 mengumumkan rencana perombakan bisnis secara besar-besaran. Perusahaan yang terus merugi dalam beberapa tahun belakangan ini akhirnya melepaskan bisnis personal computer (PC) ke investor lain. Itu artinya merek VAIO akan hilang dari pasaran global dan hanya dijual di Jepang. Sony sendiri akan kembali memperkuat divisi televisinya yang selama satu dekade terus merugi.
      Sony memperkuat bisnis televisi melalui anak usahanya agar bisa lebih fleksibel dalam pengambilan keputusan. Walaupun tidak lagi menjual VAIO, Sony tetap mempertahankan mobile business seperti tablet dan smartphone yang masih dianggap bisnis masa depan. Ada ribuan pegawai yang harus di-PHK untuk melakukan restrukturisasi ini, namun Sony berharap bisa menjadi perusahaan yang semakin kompetitif di masa mendatang.
      Sony memang harus berbenah setelah babak belur dihajar pesaing. Merek yang menjadi ikon dominasi Jepang di dunia elektronik itu mulai tumbang oleh pesaing-pesaing baru yang lebih agresif dan cepat memahami kebutuhan pasar. Itulah sebabnya Sony harus menjalankan strategi baru agar lebih lincah dan mengikuti selera pasar.
      Perubahan yang Makin Acak
      Setiap perusahaan memahami bahwa perubahan (change) menjadi faktor eksternal yang memengaruhi gerak perusahaan. Namun, perubahan pada masa kini memiliki kecepatan yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Blackberry contohnya, harus kehilangan pasarnya karena konsumen lebih menyukai aplikasi chatting terbaru yang lebih fleksibel untuk berbagai operating system.
      Persaingan di industri televisi tak kalah serunya. Sejak kepemimpinan Sony diambil alih, merek-merek saling bersaing ketat seperti Sharp, LG, dan Samsung. Merek yang memiliki teknologi terdepan dengan cepat bisa mengganggu pola persaingan di industri ini. Selepas teknologi tabung digantikan oleh layar datar, teknologi televisi terus bermunculan seperti LCD, LED, Smart TV, atau Curve.
      Di dunia seluler, para operator kini juga bersaing dengan keunggulan yang baru. Setelah teknologi 2G hilang, teknologi seluler terus berkembang dan para pemain berupaya mengadopsi dan menjadi yang terdepan. Lihat saja bagaimana teknologi GPRS, Edge, 3G, 3.5G, HSDPA, dan kini 4G, membuat para pemain harus segera menyesuaikan diri.
      Di dunia food and beverages kita bisa melihat bagaimana para pemain produk minuman teh berupaya untuk berinovasi dan menjadi yang terkuat di subkategori produk ini seperti teh hijau, teh susu, teh dari pucuk daun, dan lain-lain. Konsumen seperti dididik untuk menikmati teh jenis baru melalui iklan-iklan yang dibombardir oleh para pemain. Setelah terus mendominasi di minuman teh botol, Sosro pun harus menghadapi para pemain baru dengan berbagai inovasi produk. Ini disebabkan konsumen tidak lagi terpaku bahwa minuman teh dalam kemasan adalah teh dalam botol. Generasi baru konsumen cepat bosan dan terus ingin menikmati teh dalam format baru, baik dalam hal kemasan maupun rasa.
      Pesaing yang Tidak Kelihatan
      Bergerak cepat pun sebenarnya tidak cukup dilakukan oleh para marketer pada zaman ini. Perubahan yang demikian cepat bukan hanya satu-satunya yang menjadi penyebab terjadinya chaos (kekacauan) yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kekacauan inilah yang membuat para pemilik merek sering kali bingung dan kehilangan kepercayaan dalam bersaing.
      Kekacauan lain adalah munculnya pesaing-pesaing yang tidak terduga. Jika dahulu para pemain sudah dikotak-kotakkan dengan persaingan di dalam satu product category, maka kini pemain pun harus berhadapan dengan produk di luar arena. Kita sudah mengalami bagaimana PT Pos Indonesia kini harus merombak struktur bisnisnya secara besar-besaran setelah orang-orang tidak lagi berkirim surat. Orang-orang kini lebih suka mengirimkan text, gambar, dan bahkan video melalui smartphone.
      Tidak hanya pos, smartphone juga mengancam industri kamera digital. Padahal dekade lalu industri ini membuat industri film berwarna mati. Dua merek besar di industri film berwarna, yakni Fuji dan Kodak, harus mengubah arah bisnis mereka akibat munculnya kamera digital. Kini kamera digital harus terancam oleh keberadaan smartphone yang memiliki teknologi kamera yang terus berkembang.
      Hal sama dialami pula oleh banyak tempat rekreasi yang kini terancam oleh mal, yang juga menyediakan tempat bermain dan berbelanja. DVD player kini berhadapan dengan internet yang menyediakan teknologi streaming. Transportasi bus dan kereta kini bersaing dengan penerbangan low cost carrier.
      Dengan demikian bisa dikatakan bahwa situasi chaos terjadi tidak hanya di dalam industri dengan munculnya teknologi dan produk yang cepat berganti. Di luar industri, ancaman justru muncul dari industri lain yang berupaya “memakan” industri lainnya supaya bisa survive.
      Tempat Bersaing Baru
      Chaos yang terjadi juga disebabkan oleh perubahan tempat berkompetisi (competition space). Hal ini terlihat misalnya dengan semakin kaburnya saluran distribusi. Orang membeli pulsa tidak lagi melalui penjualan kartu isi ulang. Orang bisa memperoleh pulsa melalui pembelian lewat SMS, lewat kasir di Indomaret atau Alfamart, melalui internet, dan lain-lain. Produk-produk elektronik kini tidak bersaing di toko elektronik, tetapi di hipermarket dan online store.
      Hal yang sama dialami pula oleh pemain department store. Jika dulu Matahari bersaing dengandepartment store lain dengan cara menambah outlet sebanyak-banyaknya, kini lokasi persaingan mulai diramaikan dengan banyaknya fashion online store yang bermunculan. Dengan perubahan tempat berkompetisi ini muncullah pemain-pemain baru yang memiliki keuntungan kompetitif di arena baru tersebut seperti Zalora, Berrybenka, Qoo10, dan lain-lain. Matahari pun mau tidak mau harus berkalkulasi dengan baik antara menambah outlet fisiknya atau membangun bisnis online.
      Ranah persaingan yang bergeser di dunia maya tidak hanya terjadi di dunia fashion dan elektronik. Perusahaan transportasi seperti Blue Bird pun kini menghadapi tantangan baru dengan kehadiran Uber Taxi, Gojek, Grab Taxi, dan lain-lain. Kini Blue Bird tidak hanya bersaing di jalan raya, namun bersaing pula di online market. Konsumen kini bisa memesan transportasi taksi maupun ojek lewat aplikasi online. Tidak hanya lebih nyaman dibandingkan menunggu di pinggir jalan, aplikasi online ini juga sangat cepat merespons permintaan konsumen.
      Ledakan media menyebabkan zona peperangan tidak lagi memanfaatkan media konvensional. Setiap kali ada media-media baru bermunculan, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain. Peperangan dalam bidang komunikasi ini membutuhkan pendekatan yang berbeda. Jika sebelumnya iklan hanya membutuhkan pendekatan satu arah, kini media baru membutuhkan pendekatan dua arah. Banyak pemilik merek kini mulai meninggalkan peperangan lewat iklan di televisi. Mereka memilih berperang melalui media sosial karena dianggap lebih personal dan langsung ke pasar sasaran.
      Beradaptasi atau Menghindar
      Lalu, apa yang harus dihadapi para pemilik merek dan marketer dalam menghadapi kekacauan situasi seperti ini? Merek bisa melakukan strategi dengan cara beradaptasi pada medan perang yang baru. Ini misalnya dilakukan oleh Matahari dengan mencoba masuk ke pasar online melalui MatahariMall.com. Hal yang sama dilakukan oleh Blue Bird dengan masuk ke aplikasi online untuk pemesanan taksi. Walaupun competitive skills dari kedua merek ini belum terlihat di dunia online, keduanya merasa harus memulai dari sekarang sebelum terlambat.
      Strategi lain adalah mencoba bergeser ke arena pertarungan yang belum terimbas oleh kekacauan kompetisi. Ini misalnya dilakukan oleh merek Canon. Merek kamera ini sadar bahwa kamerasmartphone mengancam segmen kamera entry level. Berperang di segmen ini membuat Canon akan “dihajar” oleh pemain-pemain di luar merek kamera. Namun untuk kamera-kamera yang high end danprofessional, ceruk pasar terlihat masih memungkinkan bagi Canon untuk bersaing saat ini. Itulah sebabnya Canon kini mencoba mempertahankan segmen pasar ini dan bersaing dengan merek-merek kamera digital lainnya.
      Menghindar dari persaingan yang chaos bisa dilakukan dengan value added innovation. Hal ini misalnya dilakukan oleh penyedia jasa travel konvensional seperti Dwidayatour. Penyedia jasa travelini kini tidak lagi berfokus menjual tiket, tetapi menjual paket-paket tur untuk rombongan, bisnis, serta menjadi travel consultant. Ceruk pasar orang yang membutuhkan travel experience rupanya masih punya potensi sehingga penyedia jasa layanan travel ini pun mencoba unggul di pasar ini.
      Inovasi memang menjadi bagian terpenting yang tidak boleh lepas dalam situasi chaos. Pemilik merek harus mempunyai tim research & development yang bisa melihat perubahan pasar dan memikirkan inovasi apa yang harus segera dilakukan. Merek seperti Aqua dan Teh Botol Sosro yang tadinya nyaman dengan keunggulan produknya kini harus terus berinovasi untuk membuat produk baru yang bisa memenuhi perkembangan kebutuhan konsumen yang baru. Merek seperti Kereta Api Indonesia (KAI) maupun bus seperti Lorena kini berbenah dengan inovasi produk dan layanan yang baru. Misalnya saja dengan meluncurkan bus untuk kalangan eksekutif dan perusahaan, layanan keanggotaan, paket wisata kereta, dan lain-lain.
      Hal lain adalah soal kolaborasi. Dengan persaingan yang semakin chaos, maka merek harus pintar-pintar berkolaborasi dengan banyak pihak untuk bisa bertahan. KAI misalnya harus berkolaborasi dengan Indomaret dan Alfamart untuk bisa memperluas saluran distribusi penjualan tiket. Penyedia layanan seluler harus bekerja sama dengan merek ponsel untuk memperbesar pasar.
      Memang, ketika menghadapi situasi yang kacau ini mencari kawan lebih penting dibandingkan menciptakan musuh.
    • By santowijaya
      Lebih baik jadi kepala semut daripada ekor gajah. Begitu dalih para pengusaha. Berwirausaha memang sangat menggoda. Dengan sikap yang tepat, sukses bukan cuma impian.
      Kalau Anda melihat Bill Gates atau Mark Zuckenberg, pasti Anda tergiur dengan kekayaan mereka yang luar biasa. Tapi sadarkah Anda, bahwa mereka juga memulai semuanya dari usaha kecil mereka. Dan tak satupun dari mereka yang menduga bakal mencetak keberhasilan seperti sekarang.
      Perusahaan pemula yang berubah menjadi perusahaan sukses bernilai miliaran bahkan triliunan, dalam dunia bisnis tak bedanya dengan pemenang lotere. Meletakkan semua uang Anda dan berharap mendapatkan jackpot, Anda justru bakalan terpuruk.
      Berikut 10 aturan untuk memulai usaha kecil. Daftar ini lebih untuk membuat Anda menyadari kenyataan yang ada, ketimbang gila-gilaan mengejar impian terdahsyat Anda dalam berbisnis.
      Lebih realistis. Saat membuat model bisnis, coba lihat ke sekeliling dan cari contoh sukses dari model bisnis yang Anda kehendaki, lalu pelajari. Bila Anda tak dapat menemukan, entah Anda yang luar biasa jenius, atau model bisnis Anda tidak bakal berhasil di dunia nyata. Jangan menginvestasikan uang sendiri. Karena kebanyakan bisnis adalah perjalanan yang berisiko, carilah partner. Jadi, jika semuanya tidak berjalan semua rencana, Anda tidak bakal bangkrut karena dana start-up tadi, dan tidak dikejar utang. Perbudak diri sendiri. Jika Anda tidak bersedia bekerja keras, lembur, melupakan keuntungan pribadi dan kesehatan, maka wirausaha bukan untuk Anda. Pada awalnya, Anda pasti tidak akan mampu membayar karyawan, sekalipun karyawan yang murah. Jadi, karyawan Anda, adalah Anda sendiri. Hargai waktu. Beri nilai uang pada waktu Anda, misalnya Rp20 ribu perjam. Ini akan membantu saat Anda harus mengambil keputusan: Bila sebuah toko mengenakan biaya Rp10 ribu untuk pengiriman setiap minggu, dan Anda membutuhkan waktu 2 jam untuk pergi ke toko tersebut sendiri, maka bayar terus ongkos kirim dari perusahaan tersebut, karena lebih murah. Ini mungkin bertentangan dengan aturan ke 3, tapi bahkan budak sekalipun juga memiliki nilai ekonomi. Rekrut karyawan dengan baik. Tanpa memedulikan ukuran usaha Anda, pada akhirnya Anda akan merekrut karyawan dari luar. Untuk itu, lakukan proses rekrutmen dengan hati-hati, tanpa tergesa-gesa, dan perlakukan hal tersebut sepenting saat Anda memulai usaha. Sangat disayangkan sikap pemilik usaha yang punya visi untuk usahanya, tapi merekrut karyawan yang justru menghalanginya meraih visi tersebut. Jual kelebihannya, bukan harganya. Saat Anda memulai usaha, sudah sewajarnya Anda frustasi memasarkannya.Tapi, jika Anda bersaing pada harga, Anda pada akhirnya kan menjual dengan harga pas-pasan atau bahkan di bawah modal. Kuasai keahlian berkomunikasi dengan pelanggan, untuk menjelaskan bahwa harga produk Anda lebih tinggi karena memiliki nilai yang lebih baik. Ketahui angka dasar. Mengetahui berapa banyak uang yang Anda butuhkan untuk menjalani usaha – mulai dari sewa toko, listrik, asuransi karyawan, sampai harga tinta printer, kertas, dan pajak. Lalu bagi semua itu dengan berapa hari dalam setahun Anda akan buka, dan… itulah angka dasar – jumlah minimum pendapatan yang Anda butuhkan setiap hari. Jika Anda tidak pernah berpikir tentang angka dasar, coba pikir ulang. Gunakan teknologi terbaru. Teknologi anyar seperti aplikasi dan penyimpaanan data dengan cloud technology sangat murah dan membuat perusahaan kecil dapat bersaing dengan perusahaan besar. Manfaatkan teknologi rendah biaya yang ada di pasaran. Perlakukan vendor dengan baik. Perlakukan vendor dan suplier Anda sebaik mungkin, seperti halnya Anda memperlakukan para pelanggan. Mereka bisa saja memberikan diskon berdasarkan besarnya volume pemesanan Anda, atau bahkan demi menjaga hubungan baik, serta berharap ada peningkatan volume di masa mendatang. Hubungan yang baik membuat mereka juga dapat memahami keterlambatan pembayaran, bahkan memberikan pengiriman gratis. Jadilah yang terbaik. Anda tidak boleh setengah-setengah.Setiap hal yang Anda lakukan untuk klien harus lah yangterbaik. Apapun yang Anda buat dan jual, haruslah yang terbaik. Lakukan itu terus menerus, dan kekuatan word of mouth akan menyebar.
×
×
  • Create New...