Jump to content
VOAIndonesia

Jepang Cabut Situasi Darurat di 3 Prefektur

Recommended Posts

497844548_SuasanadisalahsatupusatbelanjadiTokyoJepang14Mei2020..thumb.jpg.8af00e3fca60b6af8e266271a401d504.jpg
Suasana di salah satu pusat belanja di Tokyo, Jepang, 14 Mei 2020.

Jepang berencana mencabut situasi darurat untuk tiga prefektur lagi sementara jumlah kasus baru virus corona telah berkurang.

Menteri Ekonomi Yasutoshi Nishimura, Kamis (21/5) di Tokyo mengatakan sekelompok pakar telah menyetujui rencana untuk mencabut situasi darurat yang diberlakukan untuk prefektur di bagian barat Jepang, Kyoto, Osaka dan Hyogo.

Ketiga kawasan itu termasuk di antara tujuh prefektur, termasuk Tokyo, yang pertama-tama ditetapkan berada dalam situasi darurat bulan lalu oleh PM Shinzo Abe, karena khawatir wabah virus corona akan membuat sistem layanan kesehatan Jepang kewalahan. Perdana menteri sempat sebentar menetapkan situasi itu untuk seluruh wilayah Jepang.

Tokyo dan empat prefektur lainnya, termasuk pulau Hokkaido di bagian utara Jepang, akan tetap berada dalam situasi darurat.

Wabah Covid-19 telah mendorong ekonomi Jepang memasuki resesi untuk pertama kalinya sejak 2015, karena produk domestik brutonya menyusut 3,4 persen per tahun pada kuartal pertama 2020, menyusul kontraksi pada kuartal terakhir 2019.

Bukti lain mengenai pukulan finansial muncul hari Kamis. Kementerian keuangan merilis data yang menunjukkan ekspor Jepang merosot 21,9 persen bulan lalu, penurunan terbesar sejak krisis finansial global 2008.

Dampak virus corona bagi Jepang ringan saja dibandingkan dengan di berbagai penjuru dunia, dengan 16 ribu lebih kasus terkonfirmasi, termasuk 700 kematian akibat virus corona. [uh/ab]

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By VOAIndonesia
      Indonesia memastikan kesiapan memproduksi ventilator secara massal bulan depan, Jakarta, 20 Mei. (Foto: Twitter/@BNPB_Indonesia)
      WASHINGTON DC (VOA) — Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan bantuan ventilator dari pemerintah Amerika akan tiba di tanah air pada akhir Mei atau awal Juni mendatang. Penegasan ini disampaikannya menjawab pertanyaan VOA dalam konferensi pers di Jakarta Rabu sore (20/5).
      “Indonesia dan Amerika telah melakukan komunikasi intensif terkait ventilator. Pada 4 Mei USAID di Jakarta telah berkomunikasi dengan Kemenkes untuk mengidentifikasi spesifikasi dan hal-hal teknis lain," ujarnya.

      Menlu RI Retno Marsudi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (20/5) (courtesy: Kemlu RI)
      "Lalu pada 5 Mei, informasi yang diminta USAID pada Kemenkes itu dikirimkan ke USAID. KBRI di Washington DC juga telah memonitor dan mengkomunikasikan hal ini dengan Departemen Luar Negeri dan Dewan Keamanan Nasional NSC di Amerika. Kami diberitahu bahwa pengiriman ventilator ini akan dilakukan pada akhir Mei atau awal Juni nanti,” papar Retno.
      Namun ditambahkannya bahwa Indonesia kini juga sudah mulai mengembangkan inovasi untuk memproduksi sendiri ventilator atau alat bantu pernafasan ini.
      Mulai Juni Indonesia Siap Produksi Ventilator
      Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan ada lima dari delapan jenis ventilator yang sudah lulus “equipment and critical test” di Kementerian Kesehatan.
      “Lima ventilator ini dapat digunakan di ICU – yang sifatnya invasif – dan dalam kondisi darurat di dalam ambulans maupun ruang gawat darurat untuk membantu orang yang mengalami gangguan pernafasan. Ini merupakan ventilator pertama buatan Indonesia, dan kami siap memproduksinya secara masif bulan depan.”

      Menristek Bambang Brodjonegoro (foto: courtesy).
      Lebih jauh Bambang menjelaskan bahwa setiap pabrik akan mampu memproduksi antara 200-300 unit ventilator per minggu guna memenuhi kelangkaan ventilator dalam menangani pasien virus corona, yang sangat terasa dalam beberapa bulan terakhir ini.
      “Untuk menjadi catatan, inovasi ini baru dimulai sekitar 2,5 bulan lalu. Peneliti dan inovator Indonesia berhasil mengerjakannya dalam waktu sangat singkat,” puji Bambang.
      Permintaaan ventilator ini mengemuka setelah Presiden Amerika Donald Trump mencuit pada 22 April tentang pembicaraan telepon yang dilakukannya dengan Presiden Joko Widodo. [em/pp]
       
    • By VOAIndonesia
      Seorang petugas kesehatan (kiri) mengambil sampel darah dari seorang pengendara motor yang melanggar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sebuah kantor polisi di Surabaya, 3 Mei 2020. (Foto: AFP)
      Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Polri, Ahmad Ramadhan mengatakan, polisi telah menangkap dua kelompok pelaku yang membuat dan menjual surat keterangan bebas corona pada Kamis (14/5). Kedua kelompok itu yaitu tiga orang yang menjual surat secara manual dan empat orang yang menjual secara online. Ketujuhnya ditangkap polisi di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali dan telah ditetapkan sebagai tersangka.
      "Modus para pelaku adalah memanfaatkan surat edaran nomor 4 Tahun 2020 tentang kriteria pembatasan perjalanan orang dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 dengan membuat dan menjual surat keterangan kesehatan yang palsu kepada para pengguna Pelabuhan Gilimanuk dan dijual secara manual," jelas Ahmad Ramadhan dalam konferensi pers online, Jumat (15/5).
      Ahmad menambahkan pelaku ingin mengambil keuntungan dengan menjual surat keterangan bebas Covid-19 seharga Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per lembar. Polisi menjerat pelaku dengan Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 268 KUHP dengan ancaman pidana enam tahun penjara.
      Sementara untuk penawaran surat bebas corona yang sempat beredar di Tokopedia saat ini sedang ditangani Direktorat Siber Bareskrim Mabes Polri. Ia mengimbau warga untuk tidak membeli surat keterangan bebas palsu karena dapat berujung pada pelanggaran hukum pidana.
      "Polri sudah menginstruksikan kepada seluruh jajaran, khususnya personel yang bertugas di check point dan pos pantau PSBB agar melaksanakan tugas lebih ketat dan teliti dalam pemeriksaan surat bebas Covid-19," tambahnya.
      Pantauan VOA, iklan surat bebas corona tersebut yang sempat tayang di platform digital Tokopedia pada Kamis (14/5) telah diturunkan. VOA juga menelusuri akun blogspot suratdokterindonesiaaa.blogspot.com yang menurut akun twitter @DokterPodcast, juga turut menjual surat bebas corona. Namun, akun blogspot tersebut juga telah dibekukan. Hanya, WhatsApp nomor HP yang tercantum di blogspot tersebut masih aktif hingga Jumat (15/5) pukul 01.40 WIB dini hari.
      Dalam akun @DokterPodcast juga terlihat surat yang dijual seharga Rp70 ribu per lembar itu dilengkapi dengan kop bertuliskan Rumah Sakit Mitra Keluarga Gading Serpong, Kabupaten Tangerang tertanggal 9 Mei 2020.
      Sementara itu, Rumah Sakit Mitra Keluarga melalui akun Instagramnya pada Kamis (14/5) menyatakan tidak pernah bekerja sama dengan orang yang memperjualbelikan surat keterangan bebas Covid-19. RS Mitra Keluarga mengancam akan menempuh jalur hukum jika masih ada orang yang mengatasnamakan atau menggunakan atribut Mitra keluarga, termasuk penggunaan kop surat tanpa seizin mereka.
      "Kami mohon agar para pihak yang menyalahgunakan kop surat Mitra Keluarga dan/atau mengatasnamakan Mitra Keluarga untuk keperluan tersebut di atas, agar segera mencabut dan/atau menghentikan perbuatan tersebut dalam waktu sesegera mungkin," tulis RS Mitra Keluarga dalam akun Instagram, Kamis (4/5). [sm/ab]
    • By ngocol
      Jangan dengerin episode 1 tentang COVID 19 dari #Ngocol ini sekedar sharing nya Samuel Berrit Olam dan Tantrio Virgiawan sesuai sama pandangan kita masing masing.
    • By purwa_weheb
      Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan masyarakat harus tetap tinggal di rumah, menghindari bepergian, dan tidak mudik sebagai cara mencegah diri tertular atau menularkan virus korona. “Tetap tinggal di rumah, karena kita tidak pernah tahu siapa orang di luar rumah yang membawa virus,” pria yang akrab disapa Yuri di Kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (25/4).
      Yuri menuturkan banyak sekali orang tanpa gangguan atau gejala membawa virus penyebab Covid-19 di dalam tubuhnya. Mereka sama sekali tidak memiliki keluhan sakit.
      Dikarenakan ketidakmampuan diri dalam mengenali orang-orang tanpa gejala secara kasat mata, dia menyarankan masyarakat untuk tetap tinggal di rumah. Sebisa mungkin menghindari kontak atau bertemu langsung dengan orang lain selama pandemi Covid-19.
      “Kita tidak bisa membedakan orang-orang seperti ini dengan mata biasa. Oleh karena itu, jangan bepergian, jangan mudik,” ungkapnya.
      Dengan diam di rumah, menjaga jarak, tidak bepergian, dan tidak mudik, setidaknya upaya ini dapat melindungi diri agar tidak tertular Covid-19 atau menularkan penyakit itu ke orang lain. “Kita harus memastikan kita tidak tertular atau malah mungkin kita yang menjadi sumber, (jadi) kita tidak menularkan ke orang lain,” tuturnya.
      Saat bepergian, potensi penularan Covid-19 akan meningkat. Penularan bisa saja terjadi di manapun seperti saat berada di dalam kendaraan umum, terminal, stasiun, bandara, tempat peristirahatan (rest area) dan toilet umum sepanjang perjalanan.
      “Mungkin dan akan sangat mungkin kita akan bertemu dan terpaksa kontak dekat dengan orang lain yang tanpa gejala atau orang yang gejalanya sangat ringan di perjalanan,” ujarnya.
      Ketika sampai di rumah atau kampung halaman, maka yang dikhawatirkan adalah virus yang didapat saat perjalanan menyebar ke anggota keluarga di rumah atau di kampung halaman.
×
×
  • Create New...