Jump to content
JayaAlive

Mengenal Mardigu Wowiek, Pengusaha yang Dijuluki Bossman Sontoloyo Sekaligus Pendiri Rumah Yatim

Recommended Posts

1038469210_MardiguWowiek.thumb.jpg.1df50055ec44976c30ebcb50871a4668.jpg

Pengusaha Indonesia Mardigu Wowiek Prasantyo makin populer belakangan ini. Hal ini lantaran video-videonya di YouTube yang banyak ditonton netizen. Pengusaha yang dijuluki Bossman Sontoloyo ini juga sempat mengupas bagaimana masa depan ekonomi bisnis dan negara di tengah wabah corona.

Bahkan ia tak segan mengungkap kemungkinan perang antara China vs AS pasca corona. Videonya yang dikemas dengan naratif blak-blakan berhasil mengundang banyak orang. Kini namanya pun melambung dan memiliki banyak penggemar.

Mardigu adalah seorang pengusaha 32 perusahaan skala nasional dan regional. Ia memiliki usaha diantaranya di bidang oil dan gas.

Pendapatan Mardigu di bisnis ini diklaim mencapai USD 200 juta (Rp2,96 triliun). Mardigu sendiri adalah owner PT Titis Sampurna, PT Empora Gaharu, Narapatih Mind & Mental Clinic.

Bahkan sempat disebutkan apabila Mardigu mematikan aliran gasnya ke Singapura, maka separuh negara itu akan gelap gulita.

Tak hanya sibuk sebagai pengusaha, Mardigu juga kerap menyisihkan waktunya untuk menyayangi anak yatim. Ya, ialah pendiri Rumah Yatim Indonesia yang saat ini menaungi kurang lebih 10.000 santri di seluruh Indonesia. Sebagai seorang muslim Mardigu yakin jika dalam diri anak yatim tersimpan harta karun.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By agenrahasia
      Seperti kita ketahui bersama bahwa orang Tionghoa yang berada di Indonesia sebagian besar adalah seorang pengusaha. Dan, hebatnya hampir keseluruhan mereka adalah pengusaha yang sukses. Seakan-akan apapun bisnis yang pengusaha Tionghoa kerjakan bisa berjalan dengan baik dan membawanya menuju kesuksesan.
      Ada banyak nilai di sini yang bisa kita pelajari dalam sistem atau tata kelola bisnis yang dijalankan oleh pengusaha Tionghoa. Apa saja sebenarnya yang menjadi kunci sukses dalam menjalankan bisnis dari orang Tionghoa tersebut, perhatikan rahasianya di bawah ini.
      1. Pembelajaran Bisnis Sejak Dini
      Sudah menjadi hal yang lumrah bagi keluarga Tionghoa ketika menjalankan bisnis keluarga selalu diikutsertakan sejak dini. Bahkan jangan kaget ketika misalnya mereka membuka usaha toko, maka biasanya anak yang menjadi pelayan dan ibu menjaga kasir.
      Nah, pembelajaran bisnis seperti ini ternyata sangat efektif dan efisien dalam kultur pengusaha Tionghoa. Sangat bermanfaat bagi anak, nantinya ketika mereka dewasa, mereka sudah sangat memahami seluk beluk bisnis yang dikelola ayahnya. Sehingga ketika dilepaskan pun, mereka tidak kaget lagi.
      2. Manajemen Keuangan yang Baik
      Ini adalah salah satu kunci usaha yang mungkin jarang dilakukan oleh pebisnis kita. Pengusaha Tionghoa, seberapapun kecil bisnis yang mereka kelola, mereka selalu membuat pembukuan serapi mungkin dan sedetail mungkin.
      Mereka menyadari betul bagaimana pentingnya tata kelola keuangan dalam bisnis, sehingga dari sini akan memudahkan setiap langkah bisnis yang mereka akan lakukan. Dengan membiasakan diri membuat catatan keuangan sejak bisnis masih kecil, maka akan semakin memudahkan ketika bisnis menjadi besar suatu saat.
      3. Sistem Administrasi yang Rapi
      Hampir kita tidak pernah menemui sebuah toko yang dikelola orang Tionghoa kehabisan stok barang. Ini bukti nyata bahwa mereka benar-benar menjaga peluang yang ada, mereka tidak mau peluang meskipun sangat kecil sampai terlepas dari genggaman.
      Selain itu, hal ini juga menunjukkan betapa rapinya administrasi yang mereka jalankan. Mereka tahu jika sampai sekali saja tidak bisa melayani pelanggan, maka kredibilitas toko akan menurun di mata pelanggan. Sistem administrasi yang sangat tertata dengan baik bisa menjadi rahasia sukses mereka dalam menjalankan sebuah usaha.
      4. Meminimalisir Biaya Hidup
      Kebiasaan yang selalu dilakukan oleh pengusaha Tionghoa ketika mereka menjalankan usaha adalah dengan meminimalisir biaya hidup seminim mungkin. Sebelum mereka benar-benar kaya, mereka akan selalu bertindak dengan hati-hati. Bahkan mereka mampu menekan biaya hidup dengan hanya menggunakan 20% dari penghasilan yang mereka dapatkan.
      Mereka tidak akan pernah bersenang-senang sebelum posisi usahanya benar-benar aman. Jadi ketika mereka mendapatkan penghasilan 100 juta maka untuk biaya hidup mereka menggunakan yang 20 juta.
      5. Keberanian Pengusaha Tionghoa Dalam Mengambil Resiko
      Faktor ini juga sangat berpengaruh dalam setiap langkah bisnis yang diambil oleh pengusaha Tionghoa. Mereka memiliki keberanian yang sangat tinggi dalam mengambil sebuah resiko. Namun demikian, tentu setiap keputusan sudah dipikir dengan baik, dengan analisa yang kuat dari pengalaman.
      Maka dari itu, spekulasi mereka dalam berbagai bisnis sangat bagus. Intuisi yang kuat ini menunjukkan bahwa mereka memiliki jam terbang yang sangat tinggi dalam membaca peluang. Pengalaman jatuh bangun dalam dunia bisnis yang mereka geluti semakin mengasah kemampuan mereka dalam menganalisa sebuah peluang.
      6. Belajar Kepada Siapapun
      Kaum Tionghoa ketika mereka sudah memutuskan untuk menjalankan sebuah bisnis, maka mereka akan selalu belajar kepada siapapun. Mereka tidak pernah malu atau segan untuk bertanya pada siapapun yang dianggap bisa memberikan informasi terkait bisnis yang akan mereka jalankan. Daya belajar yang sangat tinggi ini membuat mereka cepat mengetahui informasi penting terkait usahanya. Sehingga membuat usaha yang mereka kelola cepat berkembang dan menjadi besar.
      7. Etos Kerja yang Sangat Baik
      Sudah bukan rahasia lagi bahwa kaum Tionghoa dalam bekerja memiliki etos kerja yang sangat luar biasa bagus.
      Mereka akan selalu bekerja dengan penuh tanggung jawab, tuntas dengan integritas yang sangat tinggi. Selain itu keseriusan mereka dalam mencintai pekerjaan menjadikan setiap langkah kerja menjadi menyenangkan. Sehingga hal ini menjadikan mereka semakin semangat setiap hari dalam memajukan bisnisnya.
    • By berita_semua
      Diam-diam, Musisi Maia Estianty dikabarkan menjalin cinta dengan pengusaha kaya raya, Irwan Danny Mussry. Bahkan semenjak keduanya dekat, Maia mulai terlihat koleksi jam mewah. Tak lagi berharga puluhan atau ratusan juta rupiah, mantan istri Ahmad Dhani itu tampak kenakan jam mewah buatan Swiss yang dibandrol dengan harga Rp 2,1 miliar.
      Hal tersebut terungkap lewat akun Instagram bernama @fashionselebindo, janda bernak tiga itu tampak percaya diri dengan arloji Richard Mille berbahan gelang kulit merah bertatahkan berlian di sekeliling jam tangan tersebut.
      Foto Maia dengan jam mewah itupun langsung menuai komentar netizen. Selain soal harga, mereka juga penasaran apakah Maia membelinya sendiri atau merupakan hadiah dari sang kekasih.
      “Busyet jamnya bisa beli rumah’ mobil mntor emas dll hahahaha,” ungkap salah seorang netizen. “Uangnya bisa kita pk beli rumah, mobil sm honey moon k lombok yang,” tulis ansmaulida.
      Namun, ada pula yang miris karena jam itu terkesan terlalu mewah. Seorang netizen bahkan menganggap akan lebih baik bila uangnya disumbangkan untuk pembangunan rumah ibadah.
      “Sayang banget ya uangnya sia sia untuk barang mati,lebih baik uangnya untuk bangun masjid tabungan buat diakhirat,” imbuh pemilk akun fitri_jelita96. “Gilaaaa duitnya bunda gak ada serinya minsay @memble_tapi_keece,” tulis anggiemargaretha. “Abis lihat ini muljem benturin kepala ke tembok.,” tulis dhewi_arini.
      “Lha bunda beli jam gini aja kuat loo, masak mat nani byar rs dul pas kclkaan 500jt ae marah2….katany kaya????@memble_tapi_keece @mulanjameelaqueen,” tulis ritha_setyarini. “Hidupnya bunda udh enak skg,ank ganteng udh gede2,karir lancar jaya.bd sm si onoh yg bunting kek kucing betina liar ngjar hrta warisan ny matdani,” tulis coklataseli.
      Hingga kini Maia ataupun pengusaha itu belum merespon soal kabar hubungan mereka. Tapi yang jelas kedekatan spesial mereka memang sudah terjalin cukup lama.
    • By berita_semua
      Orang bilang, tidak ada kesuksesan yang diraih tanpa kerja keras. Nampaknya ungkapan ini dibuktikan oleh CEO perusahaan agrobisnis Muhammad Hadi Nainggolan.
      Hadi Nainggolan memulai usahanya dengan berdagang kue. Belasan tahun lalu, Hadi adalah bocah penjual kue yang kerap berkeliling kampung membantu sang ibu untuk menafkahi keluarganya.
      Hadi dibesarkan di Desa Rimo, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh. Sang ayah berasal dari Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara, sedangkan ibu Hadi berasal Aceh Singkil, Nangroe Aceh Darussalam. Ayah Hadi adalah salah seorang pegawai di perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta yang cukup besar di masa Orde Baru.
      Sejak usia sembilan tahun, pria yang akrab di sapa Bang Hadi ini sudah berdagang menjual kue dan es. Kalau pagi habis salat subuh itu jualan kue keliling kampung hingga pukul 07.00 WIB sebelum berangkat ke sekolah. Siang hari sepulang sekolah, dia berjualan es dalam termos. Jalan hidup ini terpaksa ia lakoni setelah sang ayah sakit stroke sehingga tak bisa bekerja.
      “Karena keterbatasan ekonomi ini, rutinitas ini saya tempuh setiap hari sehabis salat subuh,” kata Hadi
      Jika hari minggu, dia membantu sang ibu berjualan rempah-rempah dan hasil bumi di pasar. Tanggung jawab yang ia pikul semakin besar setelah sang ayah meninggal dunia saat dirinya kelas 6 SD. “Pengalaman hidup saya waktu kecil seharusnya diisi bermain. Tapi seperti ini takdir hidup saya yang telah digariskan Allah SWT dan justru ini membuat saya menjadi mandiri,” ujar pria kelahiran 25 April 1983 tersebut.
      Ketika mulai memasuki masa SMP dengan SMA, Hadi terus berdagang. Bahkan dari hasil menabung dari membantu ibunya berjualan, Hadi bisa membeli kios sendiri di pasar saat duduk di bangku Madrasah Aliyah Muhammadiyah di kampung halaman ibunya. Seusai lulus, Hadi menempuh studi di Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara, Medan.
      Sambil kuliah, dia membuka bisnis desain grafis dan percetakan. Ia bahkan sempat memiliki properti dan kendaraan dari bisnis percetakannya. Namun dalam bisnis desain grafis dan percetakan ini Hadi sendiri mengakui mengalami jatuh bangun beberapa kali, begitu juga dengan bisnis properti dan event orgaziner yang sempat ia bangun, semua akhirnya gulung tikar. Ya namanya juga usaha dan sambil terus belajar tentu “human error” tinggi.
      Namun Hadi masih memiliki obsesi lebih besar lagi untuk meraih kesuksesan dengan mencari suasana baru di luar Aceh dan Sumatera utara. Akhirnya pada tahun 2011, Hadi memutuskan untuk menutup semua bisnis dan menjual seluruh asetnya di Medan. Ia memilih merantau ke Surabaya, Jawa Timur dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di Banjarmasin ia bertemu dengan mitra asal Singapura dan akhirnya menekuni bisnis batubara bersama koleganya tersebut.
      Sayangnya komoditi batubara akhirnya melorot. “Dari situ saya berpikir bahwa kita harus merancang bisnis yang lebih bisa bertahan lama,” tutur Hadi.
      Akhirnya mulai 1 Januari 2013, Hadi memutuskan merantau ke Ibu Kota Jakarta. Di sinilah ia secara bertahap berhasil membangun tiga kelompok usaha.
      Pertama, Daun Agro Group yang bergerak di bidang usaha Agribisnis khususnya perdagangan kelapa kopra. Bahan bakunya dari Nusa Tenggara Timur yang didistribusikan oleh penyalur di Surabaya. Selain itu, dia menyediakan jasa konsultan perencanaan perkebunan sesuai basis pendidikan yang dia miliki.
      Kedua, dia merupakan Founder dan CEO Langit Digital Group. Usaha ini adalah yang paling menjanjikan secara komersial dari tiga kelompok usaha yang dia miliki. Terdiri dari PT Langit Trans Digital, PT Langit Taktix Digital, PT Langit Medika Solusindo, yang bergerak dalam bidang Information Technology (IT), e-commerce, Crowdsourcing, Content Digital Marketing, Agency Digital Advertising.
      Selain itu, ada satu Perusahaan lagi akan diluncurkan. Sebuah perusahaan yang fokus pada e-commerce (jual beli online) pada Juni 2016 mendatang. Namun e-commerce yang akan ia luncurkan lebih bersifat spesifik pada produk-produk tertentu. “Karena itu justru memiliki peluang lebih besar kepada pasar. Kalau situs belanja online terlalu general produknya yang ditawarkan, orang akan malas,” jelas pria berdarah campuran Tapanuli Utara dan Aceh Singkil tersebut.
      Kelompok usaha yang ketiga ialah Graha Inspirasi, di mana Hadi juga sebagai founder sekaligus CEO. Graha Inspirasi didirikan pada tahun 2014. Ide mendirikan Graha Inspirasi tersebut merupakan kelanjutan dari salah impiannya ketika mendirikan Moeslim Entrepreneur Coaching di Kota Medan, Sumatera Utara pada tahun 2009 silam. Salah satu impian yang belum terwujud adalah membuat sebuah sentra kegiatan "creative hub" berbagai komunitas untuk bertukar ide, belajar bersama, saling mendukung, berbagi ilmu dan bersinergi dalam proses pengembangan bisnis/usaha serta kreativitas diri.
      Impian tersebut menjadi kenyataan ketika dirinya bertemu dengan Ibu Riwandari Juniasti di Jakarta, yang akhirnya menjadi partnership untuk bersama-sama mendirikan Graha Inspirasi. “Awalnya ini ditujukan sebagai kegiatan sosial, namun kemudian berkembang menjadi usaha yang menjanjikan,” tutur Hadi.
      Graha Inspirasi sendiri saati ini ada tiga perusahaan, PT Graha Inspirasi Indonesia, PT Inspirasi Muda Indonesia, PT Wahana Inspirasi Indonesia yang bergerak dalam bidang Creative and Community hub, Service Office, Coworking, Virtual Office, Legal Businees Service, Strategic Planning Innovation.
      Fokus Bisnis Graha Inspirasi ini ada lima. Pertama menyediakan jasa persewaan ruangan kantor di tujuh tempat, mulai Kalimalang, Pancoran, Rawamangun, Senen dan beberapa tempat lain. Kedua, virtual office yang merupakan kantor bersama. Ini bagi pelaku usaha yang belum mampu menyewa ruang kantor sendiri. Ketiga, coworking space atau kantor harian bagi pelaku usaha yang belum mampu sewa kantor ataupun virtual office.
      Keempat, jasa pembuatan legalitas badan hukum usaha di Wilayah DKI Jakarta. Kelima, jasa pelatihan entrepreneur bagi kawula muda. “Yang terakhir ini bisa saja tak dipungut biaya jika ada sponsornya,” kata Hadi.
      Saat ditanya apa impian terbesarnya dalam dunia bisnis “ saya bermimpi punya 50.000 orang karyawan saat memasuki usia 40 tahun”. Bayangkan jika saya punya 50.000 orang karyawan dan satu orang karyawan rata-rata bisa menghidupi tiga orang itu artinya saya bisa berkontribusi nyata membantu 150.000 orang di Negeri ini, imbuh Hadi.
      Hadi tak melulu mengisi hari-harinya dengan aktivitas bisnis. Ia aktif di beberapa Organisasi/Komunitas, ,mulai dari sebagai Co Founder Komunitas Memberi, Local President JCI Jakarta (Junior Chamber International) Jakarta tahun 2016, Sekretaris Forum Dialog BPP HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), Sekretaris Jenderal PERJAKBI (Perhimpunan Pengusaha Jasa Kantor Bersama Indonesia), Wakil Sekretaris Jenderal DPP BKPRMI (Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia) dan beberapa organisasi lainnya.
    • By dugelo

      Para serikat buruh terus menuntut kenaikan upah minimum provinsi (UMP) tahun depan sedikitnya 50% atau mencapai Rp 3,7 juta per bulan. Kalangan pengusaha mengancam akan hanya menerima lulusan sarjana (S-1) saja.
      "Bagi kami kalau itu sampai terjadi, ya silahkan, tapi jangan heran kita tahun depan hanya cari yang lulusan S-1 (sarjana)," kata Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta di Gedung KADIN Indonesia, Kuningan, Jakarta, Kamis (24/10/2013).
      Tutum mengatakan tuntutan gaji yang diminta para buruh tahun depan setara dengan gaji pekerja level sarjana. Tahun ini saja pengusaha di Jakarta dengan kenaikan UMP dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2,2 juta sudah merasa berat termasuk sektor usaha ritel.
      "Ya gaji segitu (Rp 3,7 juta) sama dengan sarjana, jadi buat apa kita cari pekerja yang lulusan SD, SMP atau SMA, kalau yang sarjana saja gajinya segitu. Sarjana yang butuh pekerjaan juga banyak," tegas Tutum.
      Ia mengakui permintaan para buruh mendesak kenaikan upah di atas 50% merupakan hak mereka. Namun jika hal itu terjadi maka yang akan rugi adalah kalangan buruh.
      "Pengusaha tidak mengharamkan upah naik, tapi kan ada aturan dan batasannya, jika nggak sanggup bayar, sementara harga produknya mahal, tutup saja, mending beli barang impor saja, lalu jual sendiri, jadi pedagang saja kita," ungkapnya.
      Menurutnya kenaikan upah yang diminta para buruh tidak akan ada habisnya. Kalangan pengusaha akan menyikapinya dengan menaikkan harga barang karena biaya produksi naik akibat biaya upah melonjak.
      "Harga barang-barang naik, buruhnya nggak cukup lagi penghasilannya, nuntut lagi upah tinggi, ini nggak ada habis-habisnya," tegas Tutum.
    • By comporonline

      Chief Executive Kibar dan Indonesia Google Business Group, Yansen Kamto mengatakan hampir semua pemuda di Indonesia yang terjun untuk membuat perusahaan startupberniat menjual kembali perusahaannya. "Kalau mau kaya ya terserah, tapi aliran kami memecahkan masalah," katanya saat menyambangi redaksi Tempo, Kamis, 19 November 2015.
      Menurut Yansen bisnis startup harus berawal dari niat memecahkan masalah, bukan mencari uang. Sebab perusahaan startup yang akan bertahan ialah yang mampu menghadirkan solusi berkelanjutan. "Ini pola pikir yang perlu ditanamkan," kata Yansen.
      Yansen mencontohkan dengan Gojek. Menurutnya perusahaan startup milik Nadiem Makariem ini dapat berjalan sebab memecahkan masalah antara pengemudi ojek dengan masyarakat sebagai penumpang. Lewat penerapan teknologi, Gojek membuat pengemudi tidak perlu mangkal dan berpanas-panasan, sedangkan dari sisi penumpang mendapatkan kejelasan harga. "Ojeknya senang, penumpangnya senang," tutur dia.
      Oktober lalu Komite Tetap Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri Kamar Dagang dan Industri Indonesia Handito Joewono mengatakan ada tren perusahaan startup hanya merekayasa pertumbuhan ekonomi, dan tidak fokus pada perdagangan. Tren ini hanya mementingkan untuk memperbesar perusahaannya, lalu menjualnya kembali.
      Menurut Dito tren seperti itu jamak terjadi di Amerika Serikat. Pengusaha membuat perusahaanstartup dan menarik banyak orang untuk bergabung, tapi menjualnya ke pihak lain. "Ini berbahaya, kelihatannya besar, transaksi tidak penting, habis itu jual perusahaan," saat dihubungi Tempo, Sabtu, 17 Oktober 2015.
      Senada dengan Dito, Yansen berpendapat tren di Amerika Serikat tersebut terjadi karena Amerika telah memulai bisnis startup sejak 1960-an. Sedangkan di Indonesia baru akhir-akhir ini. Namun ia mengakui kondisi yang sama terjadi di Indonesia.
×
×
  • Create New...