Jump to content

Tengah Virus Corona, Mahkamah Agung Berikan Kabar Resmi Terkait BPJS


Recommended Posts

  • Premium Account

863636303_images(5).jpeg.4922ff531cf47c3ac1cbf1364c39b7ba.jpeg

Gara-gara pandemi virus corona, semua kebijakan pemerintah yang harusnya berjalan jadi terganggu atau bahkan sampai batal.

Semua dana yang sudah dianggarkan pemerintah harus kembali dilarikan untuk menumpas habis virus corona dari Indonesia.

Meski dibuat kocar-kacir, pemrintah juga membuat kebijakan baru atau merevisi kebijakan karena adanya corona.

Dampak yang paling terasa selama pandemi Covid-19 belum usai ini adalah ekonomi.

Sektor ekonomi di Indonesia hampir semuanya merosot tajam, terleih lagi ekonomi menengah ke bawah.

Maka dari itu, pemerintah memberikan banyak bantuan, mulai dari pemotongan 50 persen untuk membayar listrik.

Baru-baru ini, kebijakan juga diberlakukan bagi BPJS.

Setelah sempat mendapat wacana kenaikan tarif BPJS, MA resmi membatalkan kenaikan tarif kenaikan BPJS.

Putusan MA dengan Nomor 7P/HUM/2020 yang membatalkan iuran jaminan kesehatan bagi peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) dan Peserta Bukan Pekerja (PBP) BPJS Kesehatan.

Keputusan MA ini resmi akan berlaku per 1 April.

"Pemerintah menghormati keputusan MA. Prinsipnya, pemerintah ingin agar keberlangsungan JKN terjamin dan layanan kesehatan pada masyarakat dapat diberikan sebagai bentuk negara hadir," kata Muhadjir dikutip dari siaran pers, Selasa (21/4/2020).

Dengan adanya keputusan MA ini, iuran BPJS yang semula akan kembali seperti semula.

Jumlah iuran BPJS kembali seperti yang sudah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.

Iuran untuk kelas III yang naik menjadi Rp 42.000 kembali menjadi Rp 25.500, kelas II dari Rp 110.000 menjadi Rp 51.000, dan kelas I dari Rp 160.000 menjadi Rp 80.000.

Bagaimana dengan kelebihan dari iuran bulan-bulan lalu?

Sesuai kata Muhadjir, kelebihan iuran dari bulan lalu akan dibayarkan untuk iuran bulan selanjutnya.

"Kelebihan iuran yang telah dibayarkan pada bulan April 2020 akan diperhitungkan pada pembayaran iuran bulan selanjutnya," kata Muhadjir.

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By keenion
      Jumlah pasien rawat inap terkait virus corona Covid-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta dan Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Pulau Galang, Kepulauan Riau, berkurang.
      Pada hari ini, Selasa (18/8/2020), terjadi pengurangan 21 pasien rawat inap di RSD Wisma Atlet. Sehingga total pasien rawat inap yang masih menghuni RSD Wisma Atlet sebanyak 1.312 orang. Data ini diterima hingga pukul 08.00 WIB.
      "Pasien rawat inap di RS Darurat Wisma Atlet berkurang 21 orang, dari semula 1.333 menjadi 1.312 pasien," ujar Kepala Penerangan Kogabwilhan-I Kolonel Marinir Aris Mudian dalam keterangannya, Selasa (18/8/2020).
      1.312 pasien rawat inap di RSD Wisma Atlet terdiri dari 731 pria dan 581 wanita. Dari jumlah tersebut, pasien yang terkonfirmasi positif sebanyak 1.306, sementara pasien suspek 6 orang.
      "Pasien terkonfirmasi positif berkurang 22 dari semula 1.328 menjadi 1.306 orang. Pasien suspek bertambah 1 menjadi 6 orang," kata Aris.
      Aris mengatakan, sejak dibuka 23 maret 2020, pasien yang terdaftar di RSD Wisma Atlet secara keseluruhan mencapai 10.903 orang. Sementara pasien yang sudah keluar sebanyak 9.127.
      "Dari 9.127 pasien keluar, yang dirujuk ke RS lain sebanyak 235 orang, sembuh 8.888 orang, meninggal 3, dan tanpa izin 1 orang," kata Aris.
      RS Pulau Galang Rawat 222 Pasien
       
      Sementara pasien rawat inap di RSKI Pulau Galang sebanyak 222, terdiri dari 172 pria dan 50 wanita. Dengan rincian pasien terkonfirmasi positif sebanyak 55 orang, pasien suspek sebanyak 167 orang.
      "Pasien rawat inap sebanyak 222 orang, terkonfirmasi Positif 55 orang, pasien suspek 167 orang," kata Aris.
    • By ega
      Pemerintah Kota Bogor mengimbau warga merayakan HUT ke-75 RI secara sederhana dengan menghindari kegiatan yang menimbulkan kerumunan warga karena masih dalam situasi pandemi COVID-19.
      "Saat ini kondisinya masih belum aman. Masih pandemi COVID-19. Kita memprioritaskan kesehatan masyarakat," kata Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim di Kota Bogor, Selasa 11 Agustus 2020.
      Ia menjelaskan kegiatan yang mengundang massa dan menimbulkan kerumunan berisiko terjadi penularan COVID-19.
      Oleh karena itu, katanya, kegiatan yang dapat menimbulkan kerumunan massa, seperti perlombaan, agar semaksimal mungkin dikurangi.
      Berdasarkan Surat Edaran (SE) No.005/2462-Prokompim tentang Pelaksanaan Peringatan HUT ke-75 RI, mengatur beberapa hal, di antaranya masyarakat diimbau memasang bendera Merah Putih di antara umbul-umbul pada 1-31 Agustus 2020.
      Pada 14 Agustus 2020, warga mengikuti siaran langsung pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia melalui berbagai kanal media massa.
      Upacara Virtual
      Untuk kantor perwakilan, lembaga, instansi pemerintah di Kota Bogor, mengikuti upacara secara virtual yang dilaksanakan Pemerintah Kota Bogor mulai pukul 07.00 WIB, sehingga meniadakan upacara tingkat instansi/perangkat daerah/BUMD/BUMN/BUMS.
      Pada 17 Agustus 2020, pukul 10.17 WIB, selama sekitar tiga menit, segenap masyarakat wajib menghentikan aktivitasnya sejenak.
      Seluruh masyarakat berdiri tegap saat pengumandangan lagu Indonesia Raya secara serentak di berbagai lokasi.
      Pengecualian menghentikan aktivitas sejenak bagi warga dengan aktivitas yang berpotensi membahayakan diri sendiri dan orang lain apabila dihentikan.
      Pelaksanaan hal-hal dimaksud agar mematuhi protokol kesehatan penanganan dan pencegahan COVID-19.
       
    • By purwa_weheb
      Bill Gates mengkritik pernyataan-pernyataan kontroversial mengenai pandemi COVID-19 yang kerap dilontarkan CEO Tesla, Elon Musk. Menurut Bill Gates, Elon Musk seharusnya tetap fokus pada bidang keahliannya daripada menyebarkan kebohongan tentang virus corona atau COVID-19.
      Hal itu disampaikan Gates saat menghadiri acara di CNBC "Squawk Box,". Saat itu dirinya menanggapi komentar Musk tentang COVID-19 di jejaring sosial Twitter sudah sangat keterlaluan. 
      "Penentuan posisi Elon adalah untuk mempertahankan tingkat komentar keterlaluan yang tinggi. Dia tidak banyak terlibat dalam vaksin. Dia membuat mobil listrik yang hebat. Dan roketnya bekerja dengan baik. Jadi dia diizinkan untuk mengatakan hal-hal ini. Saya harap dia tidak membingungkan daerah-daerah yang dia tidak terlibat terlalu banyak," ungkap Gates, seperti dikutip dari laman Futurism, Kamis , 30 Juli.
      Tak hanya itu, Gates juga menyinggung platform media sosial yang selalu cepat untuk menyebarkan informasi yang salah. "Ketika Anda membiarkan orang berkomunikasi, Anda harus berurusan dengan fakta bahwa hal-hal keliru tertentu yang sangat menggairahkan dapat menyebar sangat cepat dibandingkan dengan kebenaran." 
      Komentar Gates muncul setelah miliarder Musk berbicara menyesatkan tentang COVID-19, menyebarkan kepalsuan, dan menyatakan keraguan atas keparahan pandemi di Amerika Serikat (AS) bahkan ketika kasus telah meningkat di seluruh negara.
      "Ada banyak kesalahan positif C19 (COVID-19) yang mengacaukan angka. Bahkan tes dengan tingkat positif kedapatan palsu 5 persen (dalam bidang, bukan lab) akan muncul sebagai ~ 17 juta kasus C19 palsu bahkan jika sebenarnya tidak ada," tweet Musk pada 30 Juni lalu.
      Sewaktu tweet itu diterbitkan, 48.000 kasus COVID-19 positif baru diumumkan di AS, memecahkan rekor satu hari pada saat itu. Menurut analisis yang dilaporkan The New York Times, ada lebih dari 4,3 juta orang telah terinfeksi COVID-19 di AS sementara 148.400 telah meninggal pada 28 Juli.
      Ini bukan satu-satunya komentar bos Tesla dan SpaceX mengenai pandemi COVID-19 yang dialami AS. Pada April lalu, ia menyebut langkah-langkah perlindungan seperti karantina itu tidak masuk akal.
      "Terus terang, saya akan menyebutnya pemenjaraan paksa orang di rumah mereka terhadap semua, hak konstitusional mereka, menurut pendapat saya. Itu melanggar kebebasan orang dengan cara yang mengerikan dan salah dan bukan mengapa mereka datang ke Amerika atau membangun negara ini," ungkap Musk.
      Selain itu, Musk juga men-tweet pada 19 Maret lalu dengan pernyataan palsu bahwa "anak-anak pada dasarnya kebal" terhadap virus corona. Tweet tersebut juga mengundang kontroversi.
      Bapak satu anak itu juga sempat memuji Texas karena mengizinkan pelaku bisnis untuk membuka usahanya pada akhir April. Mskipun negara tersebut kemudian menjadi zona merah pada kasus virus corona.
      "Bravo Texas!" ia mentweet bersama dengan tautan ke cerita Texas Tribune pada 29 April tentang restoran, toko, dan bisnis lain yang diizinkan untuk dibuka kembali. Tweet itu muncul setelah Tesla harus membatalkan rencananya untuk membawa karyawan kembali bekerja di fasilitas Fremont. 
    • By theblue
      Hamil di tengah pandemi corona Covid-19 tentunya tidak pernah dibayangkan oleh Popi dan suaminya. Namun saat mengetahui dirinya hamil pada Januari lalu, mereka tentu tak menyangka kalau wabah corona juga melanda Indonesia dan bahkan hampir semua negara.
      Namun di sisi lain, Popi dan suami sudah cukup lama menantikan anak kedua setelah dikaruniai anak pertama pada 2013. Mereka pun makin sennag setelah mengetahui calon bayi mereka adalah perempuan karena anak pertama laki-laki.
      Popi dan suami tadinya berencana melahirkan di rumah sakit tempat ia melahirkan anak pertamanya di kawasan Jakarta Pusat. Namun saat wabah corona mulai terjadi di Indonesia, ia mendapat informasi kalau Rumah sakit tempat dia berencana melakukan persalinan digunakan untuk menangani pasien Covid-19 dan sedang kekurangan APD (alat pelindung diri).
      Jadi kalau ia mau melahirkan, maka harus masuk UGD (Unit Gawat Darurat) terlebih dahulu. Ia dan suami pun memutuskan untuk berganti rumah sakit yang juga berada di kawasan Jakarta Pusat. Popi pun sudah beberapa kali menjalani pemeriksaan di rumah sakit tersebut.
      "Waktu masih awal-awal pandemi dan penerapan PSBB ya prosedurnya nggak jauh beda seperti biasanya. Paling ya harus memakai masker dan cuci tangan. Tapi setelah beberapa kali, kalo nggak salah pas bulan Mei, harus ada protokol kesehatan sebelum dan sesudah diperiksa. Ya biayanya sekitar 200 sampai 300 ribu rupiah tiap kali kunjungan. Terus biaya untuk melahirkan juga naik karena biaya buat protokol kesehatannya lebih besar," terang Popi
      Karena biaya melahirkan naik sampai sekitar 50 persen yang bisa mencapai sekitar Rp20 juta sampai Rp30 juta, Popi dan suami pun mencari altternatif lain.  Mereka pun mendapat informasi dari beberapa teman tentang klinik bersalin yang tak jauh dari rumah mereka. Mereka akhirnya lebih memilih klinik bersalin yang biayanya jauh lebih kecil tapi tetap terjamin dan bisa dipercaya.
      "Tadinya suami sempat kurang setuju karena dia lebih percaya sama dokter spesialis. Tapi setelah mendengar pengalaman beberapa teman, kita akhirnya sepakat memilih klinik bersalin walaupun cuma ditangani bidan. Tapi mereka bidan yang berpengalaman dan sekali menangani persalinan bisa empat sama lima orang bidan yang turun tangan," ucap Popi.
      Untuk biaya diperkirakan tidak sampai Rp10 juta, bahkan bisa memakai BPJS sehingga bisa lebih menghemat biaya lagi. Meski begitu, suami Popi tetap mempersiapkan bujet lebih kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan dan Popi harus melahirkan di rumah sakit. Lalu, bagaimana dengan mereka yang sudah melahirkan di masa pandemi?
      Meningkat Dua Kali Lipat
      Bagi Desi melahirkan di masa pandemi, tepatnya pada Juni lalu, ternyata menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tentunya ia dan suami senang menyambut kelahiran anak mereka yang keempat.
      Tapi mereka juga harus merogoh kocek cukup dalam yang untungnya memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Desi melahirkan anak keempatnya di Rumah Sakit (RS) Hermina Bogor, Jawa Barat.
      "Biayanya sekitar Rp22 juta, terus ada cek kehamilan sekitar Rp2 juta, itu semua udah termasuk biaya buat protokol kesehatan. Total habis biaya sekitar Rp25 juta. Itu pun saya di kamar Kelas 3. Ya mungkin juga karena pandemi dan memang di sana (RS Hermina) biayanya memang cukup tinggi," jelasnya.
      Sebelumnya, ketiga anak Desi lahir di rumah sakit di Jakarta dan biayanya jauh berbeda dengan kelahiran anak keempat.
      "Kalau yang pertama saya agak lupa, yang jelas pas lahiran anak kedua itu sekitar Rp9 jutaan dan yang ketiga sekitar Rp12 jutaan. Nah itu kan beda jauh sama lahiran yang keempat sampai dua kali lipat, ya mungkin juga karena pengaruh pandemi dan tergantung rumah sakitnya juga," lanjut Desi.
      Tiap rumah sakit sepertinya memang menambahkan tarif mereka karena dampak pandemi corona. Biaya tambahan itu biasanya untuk menjalankan protokol kesehatan maupun untuk APD.Di RSIA Asih di kawasan Melawai, Jakarta Selatan misalnya.
      Wajib Rapid Test
      Mereka menjelaskan biaya persalinan di tempat nereka sudah berlaku tarif mulai 1 April 2020 meski tidak menyebutkan berapa persen kenaikannya dari tarif sebelumnya.
      Untuk persalinan normal tarifnya mulai dari Rp19 jutaan (Kelas 3) sampai dengan Rp28 jutaan (VVIP). Sedangkan untuk persalinan Caesar, mulai dari Rp33 jutaan (Kelas 3) sampai dengan Rp48 jutaan (VVIP).
      Tarif tersebut belum termasuk biaya administrasi rumah sakit, tapi sudah termasuk untuk biaya tindakan dan perawatan ibu dan bayi sehat selama tiga hari. Biaya akan bertambah kalau ada tindakan tambahan seperti operasi atau bayi sakit.
      "Untuk melahirkan nanti pada saat masuk untuk rawat inap, untuk penunggu hanya boleh untuk suami saja dan tidak ada jam besuk. Ibu melahirkan juga wajib rapid test. Untuk biaya rapid test sekitar Rp270 ribu," terang mereka lagi.
      Tambahan Biaya untuk APD
      Lalu bagaimana dengan di klinik bersalin? Salah satu klinik di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Klinik Bersalin Lahir di Tembuni, menetapkan tarif yang sama dengan sebelum pandemi.
      "Untuk biaya melahirkan masih sama seperti sebelumnya. Untuk persalinan normal estimasinya Rp25 jutaan (VVIP), Rp22 juta (VIP) dan Rp18 juta (Deluxe). Itu sudah include biaya persalinan, jasa dokter, kamar, obat, dan alat kesehatan. Hanya ada tambahan biaya Rp300 ribu untuk APD," terang mereka melalui pesan elektronik, Jumat, 10 Juli 2020.
      Sedangkan klinik bersalin di Bandung, Jawa Barat, Klinik Utama Jasmine MQ Medika menetapkan tarif berbeda. Untuk biaya persalinan ada kenaikan sebesar 20 sampai dengan 30 persen.
      "Kenaikan biaya karena ada pandemi. Jadi ada protokol pemeriksaan, labaoratorium dan penggunaan APD bagi nakes. Tarifnya mulai dari Rp5 juta sampai Rp25 juta," terang pihak klinik melalui pesan elektronik pada Jumat, 10 Juli 2020.
      Hamil dan melahirkan tentu hal yang wajar dan bahkan membahagiakan bagi pasangan yang sudah lama menantikan kehadiran anak. Namun di tengah pandemi, tentu ada baiknya menyiapkan dana lebih untuk menghadapi segala kemungkinan.
       
    • By black_zombie
      New normal lagi jadi topik yang ramai dibahas netizen di media sosial. Setelah hampir 3 bulan menjalani karantina diri dan work from home,  kabarnya sebentar lagi masyarakat bakal menjalani tatanan gaya hidup baru. Dalam masa ini, masyarakat sudah mulai bisa melakukan aktivitas di luar rumah, tapi tetap memperhatikan protokol kebersihan diri sebagai bagian dari gaya hidup baru.
      Sudah siapkah kamu menghadapinya? Jika new normal diterapkan, ini dia beberapa new normal kits dan panduan yang wajib kamu pahami.
      1. Era New Normal Tetap Memperhatikan Physical Distancing

      Memasuki era new normal kamu memang sudah bisa melakukan aktivitas di luar rumah. Tapi, tetap harus memperhatikan physical distancing. Tetap jaga jarak aman dengan orang lain akan jadi kebiasaan baru dalam new normal. Idealnya, jarak aman antara satu orang dengan yang lain menurut imbauan Badan Kesehatan Dunia atau WHO adalah 1-2 meter.
      2. Masker, Sunglasses, Topi: Pelindung Diri Wajib Saat Keluar Rumah

      Selain menjaga jarak sosial, pelindung diri juga wajib digunakan saat keluar rumah di era new normal. Misalnya saja wajib menggunakan masker selama beraktivitas di luar rumah untuk mencegah penularan virus. Selain itu, nggak ada salahnya melindungi tubuh dengan items lainnya. Tapi, ingat ya kalau nggak perlu Alat Pelindung Diri atau APD kok, karena APD hanya buat tenaga medis. Kamu cukup memanfaatkan sunglasses untuk melindungi mata dan topi sebagai penutup kepala saat sedang berada di moda transportasi umum. Selain bisa melindungi diri, nilai plus-nya adalah penampilan jadi lebih stylish. Kalau memang perlu, kamu juga bisa menggunakan face shield untuk perlindungan yang lebih maksimal.
      3. Cuci Tangan Secara Rutin, Sedia Selalu Hand Sanitizer di Dalam Tas

      Kebiasaan mencuci tangan nggak hanya perlu dilakukan selama karantina diri. Ketika sudah menjalani new normal pun, rutin cuci tangan juga diperlukan buat mencegah bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh. Tangan menjadi media penyebaran bakteri dan virus yang paling cepat, karena sering memegang benda lain. Apalagi ketika sudah kembali bekerja di kantor lagi, di mana kamu bakal sering bersentuhan dengan benda-benda yang berisiko memiliki bakteri dan virus menempel seperti gagang pintu, meja, hingga tombol lift.
×
×
  • Create New...