Jump to content
  1. Angel_Vhania19

    Angel_Vhania19

  2. congek

    congek

  • Similar Content

    • By VOAIndonesia
      Seorang petugas kesehatan (kiri) mengambil sampel darah dari seorang pengendara motor yang melanggar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sebuah kantor polisi di Surabaya, 3 Mei 2020. (Foto: AFP)
      Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Polri, Ahmad Ramadhan mengatakan, polisi telah menangkap dua kelompok pelaku yang membuat dan menjual surat keterangan bebas corona pada Kamis (14/5). Kedua kelompok itu yaitu tiga orang yang menjual surat secara manual dan empat orang yang menjual secara online. Ketujuhnya ditangkap polisi di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali dan telah ditetapkan sebagai tersangka.
      "Modus para pelaku adalah memanfaatkan surat edaran nomor 4 Tahun 2020 tentang kriteria pembatasan perjalanan orang dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 dengan membuat dan menjual surat keterangan kesehatan yang palsu kepada para pengguna Pelabuhan Gilimanuk dan dijual secara manual," jelas Ahmad Ramadhan dalam konferensi pers online, Jumat (15/5).
      Ahmad menambahkan pelaku ingin mengambil keuntungan dengan menjual surat keterangan bebas Covid-19 seharga Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per lembar. Polisi menjerat pelaku dengan Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 268 KUHP dengan ancaman pidana enam tahun penjara.
      Sementara untuk penawaran surat bebas corona yang sempat beredar di Tokopedia saat ini sedang ditangani Direktorat Siber Bareskrim Mabes Polri. Ia mengimbau warga untuk tidak membeli surat keterangan bebas palsu karena dapat berujung pada pelanggaran hukum pidana.
      "Polri sudah menginstruksikan kepada seluruh jajaran, khususnya personel yang bertugas di check point dan pos pantau PSBB agar melaksanakan tugas lebih ketat dan teliti dalam pemeriksaan surat bebas Covid-19," tambahnya.
      Pantauan VOA, iklan surat bebas corona tersebut yang sempat tayang di platform digital Tokopedia pada Kamis (14/5) telah diturunkan. VOA juga menelusuri akun blogspot suratdokterindonesiaaa.blogspot.com yang menurut akun twitter @DokterPodcast, juga turut menjual surat bebas corona. Namun, akun blogspot tersebut juga telah dibekukan. Hanya, WhatsApp nomor HP yang tercantum di blogspot tersebut masih aktif hingga Jumat (15/5) pukul 01.40 WIB dini hari.
      Dalam akun @DokterPodcast juga terlihat surat yang dijual seharga Rp70 ribu per lembar itu dilengkapi dengan kop bertuliskan Rumah Sakit Mitra Keluarga Gading Serpong, Kabupaten Tangerang tertanggal 9 Mei 2020.
      Sementara itu, Rumah Sakit Mitra Keluarga melalui akun Instagramnya pada Kamis (14/5) menyatakan tidak pernah bekerja sama dengan orang yang memperjualbelikan surat keterangan bebas Covid-19. RS Mitra Keluarga mengancam akan menempuh jalur hukum jika masih ada orang yang mengatasnamakan atau menggunakan atribut Mitra keluarga, termasuk penggunaan kop surat tanpa seizin mereka.
      "Kami mohon agar para pihak yang menyalahgunakan kop surat Mitra Keluarga dan/atau mengatasnamakan Mitra Keluarga untuk keperluan tersebut di atas, agar segera mencabut dan/atau menghentikan perbuatan tersebut dalam waktu sesegera mungkin," tulis RS Mitra Keluarga dalam akun Instagram, Kamis (4/5). [sm/ab]
    • By purwa_weheb
      Penularan virus Korona jenis baru di dunia terjadi dengan begitu super cepat. Bayangkan saja, sejak Desember 2019 sampai saat ini, terhitung dalam waktu 5 bulan saja virus ini sudah bisa menginfeksi lebih dari 3,5 juta orang di dunia. Padahal awal mula virus ini ditemukan sejak Desember 2019 di Wuhan, Tiongkok.
      Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Achmad Yurianto memberikan evaluasi perjalanan perkembangan virus Korona jenis baru di dunia hingga akhirnya masuk ke tanah air. Indonesua secara resmi mengumumkan kasus itu pada awal Maret 2020. Dan hanya berlangsung 2 bulan, virus pernapasan ini sudah menginfeksi 11.192 orang hingga Minggu (3/5).
      “Sejak pertengahan Desember semua negara di dunia telah diingatkan dengan virus baru dari Tiongkok. Sejak saat itu negara-negara di dunia secara serempak telah perketat dan memperkuat karantina di pintu-pintu masuk negara masing-masing,” kata Yurianto dalam konferensi pers, Minggu (3/5).
      Segera setelah itu, Tiongkok langsung melakukan lockdown atau penguncian pada Wuhan. Sejumlah negara juga menutup jalur penerbangan langsung dari Tiongkok. Serta memperketat pintu masuk orang-orang yang dari daratan Tiongkok dan negara lain yang terdampak.
      “Dan kalau ingat, Indonesia juga sempat pulangkan WNI dari Wuhan ke Natuna lalu para ABK dari Jepang ke Indonesia dan lainnya. Lalu kami perketat pintu-pintu masuk bandara dan perbatasan untuk mencegah masuknya virus ke tanah air,” katanya.
      Namun perjalanan perkembangan virus bermutasi dengan cepat. Yurianto menjelaskan virus itu sejak awal mulanya di Wuhan menunjukkan gejala yang parah. Penderitanya pasti merasakan demam, batuk, dan sesak napas. Maka setiap orang dengan mudah terdeteksi.
      “Kita sampai menggunakan alat thermal scan di bandara dan pelabuhan untuk mengukur suhu tubuh siapapun yang masuk ke negara kita,” paparnya.
      Tapi seiring berjalannya waktu, virus itu menjadi berkembang seolah lebih ringan bahkan tanpa gejala. Sehingga seseorang tak bisa lagi dideteksi dari suhu tubuhnya. Orang tanpa gejala semakin banyak dan membawa virus.
      “Perkembangan waktu demi waktu Badan Kesehatan Dunia WHO mengamati orang yang terkena Covid-19 tampakkan perubahan gejalanya. Tak lagi dengan panas tinggi, batuk dengan sesak. Banyak covid tanpa gejala atau dengan gejala ringan sehingga tampak tak sakit,” jelasnya.
      “Diyakini para ahli ada perubahan cepat atau mutasi perubahan virusnya,” tambah Yurianto.
      Maka dalam waktu singkat semua warga dunia terinfeksi. Makanya akhirnya WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi. Dan seluruh warga dunia wajib memakai masker, bukan hanya yang sakit saja.
      “Dengan cepat semua negara menyelamatkan warga negara masing-masing. Pemerintah kita juga menyatakan penyakit ini sebagai kedaruratan kesehatan di masyarakat. Sudah dinyatakan sebagai bencana nasional sejak awal. Maka semua aktivitas kehidupan harus memahami cara penularan dan cara bahayanya dan mampu melaksanaan upaya memutus rantai penularannya,” tutup Yurianto.
    • By kotawa
      Aturan pelarangan mudik di area yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), khususnya di area Jabodetabek mulai berlaku Jumat 24 April 2020 tepat pukul 00.00 hingga 31 Mei 2020. Artinya, tidak ada lagi kendaraan pribadi yang bisa keluar atau masuk area tersebut, baik lewat jalan tol maupun jalan nasional. 
      Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi menjabarkan sejumlah penyekat dan pos pemeriksaan (Check point) sedang dipersiapkan pihaknya untuk mengimplementasikan pelarangan mudik mulai dini hari nanti. Hal itu dilakukan tak lain untuk memutus mata rantai penyebaran Virus Corona atau COVID-19.  
      "Dari luar ke Jabodetabek enggak boleh masuk dan dari dalam juga enggak bisa keluar," ungkapnya dalam teleconference, Kamis 23 April 2020. 
      Dia menegaskan, mulai tanggal 24 April hingga 7 Mei 2020, pihaknya bersama otoritas terkait khususnya Kepolisian hanya memberikan peringatan kepada pengendara yang melanggar. Namun setelah periode tersebut nanti sanksi akan diterapkan sesuai dengan aturan yang berlaku.
      Dalam hal ini Kemenhub merujuk pada UU Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Karantina Kesehatan. Pelanggar bisa dikenakan sanksi penjara maksimal satu tahun, dan denda maksimal Rp100 juta.
      "Skema kita untuk semua kendaraan pribadi dan pelat hitam tidak boleh keluar masuk area PSBB," tegasnya. 
      Lebih lanjut dia mengatakan, dari pemantauan area check point sore ini, banyak pengguna sepeda motor yang melewati jalan nasional untuk keluar Jabodetabek. Mereka antara lain menuju ke daerah Indramayu area Jawa Tengah lainnya. 
      "Besok sudah tidak ada kendaraan lagi yang mudik," ungkapnya. 
      Dia pun meminta para warga tidak memaksakan diri untuk keluar dari Jabodetabek, dengan kendaraan pribadi setelah aturan pelarangan mudik berlaku. Karena hanya akan menyusahkan diri sendiri. 
      "Nanti akan kami suruh putar balik. Masyarakat diharapkan menyesuaikan dan mematuhi aturan ini," tegasnya.
    • By BisaJadi
      Pemerintah kembali memperbarui kasus positif corona di Indonesia. Juru bicara penanganan COVID-19 di Indonesia, Achmad Yurianto, juga membeberkan jumlah spesimen yang sejauh ini sudah diperiksa.
      Dalam konferensi pers di BNPB, Selasa (21/4), Yurianto sempat menyebut spesimen yang diperiksa sebanyak 503.701 spesimen. Jauh melonjak dari hari sebelumnya, 47.478 spesimen.
      Data ini jugalah yang disampaikan oleh BNPB melalui grup-grup wartawan.
      Namun, ketika dikonfirmasi, Yurianto mengklarifikasi adanya salah data itu.
      "Sorry, 50.370," kata Dirjen P2P Kemenkes itu melalui pesan singkat mengklarifikasi.
      Sementara jumlah orang yang diperiksa sejauh ini adalah 46.173 orang. Meningkat dari hari sebelumnya, 42.219 orang.
      Dari data ini, ada 7.135 orang terkonfirmasi positif corona. Sementara 39.038 orang negatif corona.
      Jumlah kasus yang sembuh juga meningkat sebanyak 95 orang. Jadi sejauh ini ada 842 pasien yang sembuh.
      Kasus meninggal juga bertambah sebanyak 26 orang. Sehingga total ada 616 pasien yang meninggal.
    • By Males
      Dunia masih berjibaku dengan wabah virus corona. Sudah lebih dari 250 ribu orang terjangkit dan lebih dari 10 ribu orang tewas namun lebih dari 90 ribu orang sembuh dari penyakit Covid-19 itu.
      Indonesia juga mencatatkan kasus penularan yang tidak sedikit. Ratusan orang terinfeksi dan bahkan rasio kematian akibat virus itu di Indonesia sempat mencapai 8 persen, tertinggi ketiga setelah San Marino dan Filipina, berdasarkan data pada 20 Maret 2020.
      Di saat yang sama, dunia kian berharap segera ditemukan obat atau vaksin untuk melawan wabah corona itu. Sebab, meski tingkat kematian akibat virus itu rendah, kecepatan penularannya sangat tinggi dan kini nyaris tak ada lagi negara di dunia yang tidak terjangkit.
      Kabar-kabar tentang sarana penularan masih menghiasi media massa arus-utama dan media sosial sepanjang sepekan terakhir. Tetapi berita tentang penemuan obat atau vaksin corona lebih mendominasi, mengisyaratkan harapan besar masyarakat dunia akan wabah itu segera ditumpas.
      Tim redakasi VIVA Fakta telah mengompilasi kabar-kabar tentang kedua topik itu, meski ada juga yang di luar itu, misal, misinformasi tentang masjid-masjid di China yang ramai didatangi orang di saat wabah corona telah menjangkiti lebih dari 80 ribu orang di sana. Berikut ini selengkapnya:
      1. Vaksin corona buatan Indonesia
      WHO ternyata sudah mendata lembaga mana saja yang sedang mengembangkan vaksin virus corona. Setidaknya terdapat 41 lembaga yang mengembangkan kandidat vaksin Covid-19. Indonesia dikabarkan juga akan membuat sendiri vaksin Covid-19. Benarkah?
      2. Vaksin corona buatan Amerika Serikat dan China
      Sejumlah peneliti di Amerika Serikat dan China mengklaim telah menemukan vaksin virus corona Covid-19. Amerika Serikat bahkan telah menguji coba kandidat vaksin tersebut pada manusia. Benarkah vaksin tersebut ampuh terhadap Covid-19?
      3. Corona dapat menular melalui uang kertas
      Jumlah pasien positif Covid-19 terus bertambah, didukung penularan virus yang relatif cepat. Virus corona disebut bisa bertahan pada permukaan benda sekian jam. Belakangan beredar asumsi virus ini bisa bertahan di uang kertas dan menularkan pada orang lain. Benarkah?
      4. Masjid-masjid di China saat wabah corona
       
      Unggahan mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo soal renungan memakmurkan masjid ramai diperbincangkan. Gatot mengungkapkan kesedihannya karena kondisi masjid yang sepi akibat virus corona Covid-19. Ia meminta umat Islam tetap memakmurkan masjid dan tak takut corona.
      5. Orang dengan golongan darah A
      Kategori golongan darah sempat dikait-kaitkan dengan kerentanan terhadap virus corona baru atau Covid-19. Bahkan, sempat muncul dugaan Covid-19 rentan menginfeksi golongan darah O. Kini muncul lagi asumsi golongan darah A lebih rentan terhadap Covid-19. Benarkah demikian?
      6. Covid-19 dapat diobati dengan obat malaria
      Beredar informasi di masyarakat soal obat penyakit malaria dapat digunakan untuk mengobati pasien-pasien terjangkit Covid-19. Informasi tersebut beredar di media sosial. Benarkah?
      7. Perokok lebih berisiko terjangkit corona
      Dalam laman resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disebutkan bahwa merokok tidak dapat menyembuhkan orang yang mengidap virus corona baru atau Covid-19. Belakangan perokok disebut-sebut menjadi salah satu kelompok yang rentan terinfeksi Covid-19. Sebab, dalam tubuh perokok terdapat reseptor yang 'disukai' Covid-19.
×
×
  • Create New...