Jump to content
news

Gigi Berlubang Bisa Sebabkan Kematian

Recommended Posts

gigi berlubang.jpg

Gigi berlubang masih merupakan masalah yang paling sering dijumpai di Indonesia. Ini terjadi karena masih rendahnya kesadaran untuk menjaga kebersihan dan kesehatan mulut dan gigi.

Membangun kesadaran memang tidak mudah, mungkin salah satu penyebabnya adalah belum sadar benar atau ketidaktahuan atas dampak yang ditimbulkan dari gigi berlubang. Sering kali, gigi berlubang dikaitkan dengan berbagai penyakit seperti penyakit jantung,stroke dan diabetes, masalah pada kehamilan, infeksi pernapasan, hingga kanker.

Berikut yang perlu Anda ketahui mengenai gigi berlubang, jika Anda masih enggan rutin menyikat gigi, Anda harus segera ubah kebiasaan ini seperti dikutip dari hellosehat.com:

1. Sebabkan Infeksi
Jika tidak ditangani dengan benar, gigi berlubang dapat menyebabkan infeksi pada gigi atas bagian belakang, dan infeksi ini dapat menyebar ke sinus belakang mata. Jika sudah begitu, bakteri akan masuk ke dalam otak dan dapat menyebabkan kematian.

2. Bisa Kehilangan Gigi
Gigi berlubang disebabkan oleh bakteri yang memproduksi asam sehingga menggerogoti gigi, menyebabkan lubang pada gigi. Lubang tersebut membuat Anda mengalami rasa sakit, infeksi, dan kehilangan gigi.

3. Bagaimana Bakteri Merusak Gigi
Gigi memiliki tiga lapisan; dentin (lapisan tengah), enamel (lapisan luar), pulp (bagian tengah gigi yang terdiri dari saraf dan pembuluh darah). Semakin banyak lapisan yang terserang bakteri, akan semakin buruk kerusakan yang ditimbulkan.

4. Penyebab Terbentuknya Plak
Plak yang terbentuk pada gigi dan gusi mengandung banyak bakteri, tetapi dapat dikontrol dengan menyikat gigi dengan benar.

5. Proses Munculnya Kerusakan Gigi
Bakteri tersebut akan memakan gula dari makanan yang kita makan, lalu dia akan mengeluarkan asam yang akan menyerang gigi sekitar dua puluh menit setelah kita makan. Enamel adalah lapisan pertama yang akan dihancurkan oleh asam dari bakteri tersebut.

6. Kurangnya Air Liur
Saliva alias air liur ternyata mampu untuk menetralisir asam pada mulut. Pada kasus gigi berlubang, menurut drg. Sri Angky Soekanto, DDS, PhD, kurangnya saliva menyebabkan bakteri terakumulasi tingkat sehingga keasaman di mulut menjadi tinggi.

Mengapa gigi berlubang bisa menyebabkan berbagai penyakit hingga kematian?
Gigi berlubang akan ditandai dengan perubahan warna pada gigi, Anda bisa mengenalinya dengan noda warna hitam, abu-abu atau cokelat – berupa garis atau titik yang lama kelamaan akan melebar.

Ketika tidak diobati dalam waktu yang lama, lapisan pulp akan terinfeksi lalu akan membentuk abses di sekitar tulang gigi. Kalau sudah begitu, akan menyebabkan rasa sakit dan demam pada penderita.

Jika tidak diobati, abses gigi akan menyebar ke dalam ruang jaringan, pembengkakan pun terjadi pada wajah dan kulit. Abses gigi juga menyebabkan infeksi jaringan ruang dan bisa menyebabkan sesak napas, sulit menelan, hingga kematian. Kasus gigi berlubang yang berlanjut kematian memang jarang, tetapi bukanlah hal yang tidak mungkin.

Ini terjadi saat infeksi dari gigi berlubang tersebut menyebar ke otak. Selain itu, gigi berlubang memiliki hubungan dengan penyakit jantung.

Penjelasan yang paling mendekati adalah gigi berlubang dapat menyebabkan masalah pada gusi. Di sini peneliti menemukan bahwa sakit gusi meningkatkan risiko sakit jantung. Mereka juga berpendapat bahwa kondisi jantung yang memburuk juga dapat disebabkan oleh peradangan yang ditimbulkan oleh masalah periodontal (penyakit gusi).

Begitu pula dengan stroke. Ditemukan masalah infeksi oral pada penderita  cerebrovascular ischemia – kondisi di mana tidak cukup aliran darah yang dibawa ke otak, yang memicu terjadinya stroke isemik. Kedua penyakit ini dapat menyebabkan kematian.

Gigi berlubang juga menyebabkan munculnya berbagai penyakit. Salah satunya Rheumatoid – gangguan autoimun yang bertahan lama sehingga berdampak pada sakit sendi. Penderita penyakit ini harus menghilangkan gigi yang abses sebab menghilangkan jaringan yang sudah terinfeksi dapat membantu mendapatkan kembali kesehatan penderita.

Begitu juga dengan penyakit usus (gastro intestinal), infeksi oral dapat menjadi pemicunya karena secara konstan Anda menelan nanah dari gusi dan gigi.

Bagaimana cara pengobatan gigi berlubang?
Anda harus rutin mengecek kesehatan gigi setiap enam bulan sekali. Jika lubang gigi Anda sudah membesar bukan hanya berupa garis, biasanya dokter akan menambalnya.

Dokter akan mengebor bagian gigi Anda yang berlubang. Lalu, lubang tersebut akan diisi oleh material yang aman seperti campuran perak, emas, porselen, atau resin komposit. Jangan meremehkan gigi berlubang, karena selain sakit, tidak mengobatinya berarti membiarkan infeksi yang akan terjadi.

Bagaimana cara mencegah gigi berlubang?
Anda pasti sudah sering mendengar bahwa pencegahan lebih baik daripada mengobati, berikut ini kebiasaan yang harus Anda ubah untuk menghindari gigi berlubang:

1. Rutin Sikat Gigi
Selalu rutin menyikat gigi, minimal dua kali sehari, pada pagi hari dan sebelum tidur. Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride.

2. Jangan Ngemil Sebelum Tidur
Jangan memakan camilan sebelum tidur. Jika Anda tidak menggosok gigi dengan benar, makanan yang tertinggal di malam hari sangat berisiko membuat gigi Anda berlubang.

3. Hindari makanan yang banyak mengandung gula
Asam yang dihasilkan oleh bakteri akan semakin banyak ketika Anda mengkonsumsi banyak gula.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By news
      Apakah masker efektif cegah virus corona? Apakah sudah ada vaksinnya? Bagaimana tingkat kematiannya dibandingkan SARS dan MERS? Bagaimana pencegahannya? Kami menjawab semua pertanyaan itu. Courtesy: Reuters & AFP
       
    • By Tania
      Pasien penderita penyakit komplikasi yang lama terbaring di rumah sakit tak jarang membuat harapan untuk kembali sembuh kian tipis. Tak jarang dokter tak mampu berbuat banyak, lantaran kondisi pasien yang sudah di penghujung kematian.
      Dalam kondisi ini, Google mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) untuk memprediksi waktu kematian seseorang.
      Algoritme Google membaca 175.639 poin data dari seorang pasien pengidap kanker payudara stadium lanjut. Penyakit ini membuat cairan memenuhi paru-paru dan organ vital lainnya sehingga dokter memperkirakan ia hanya memiliki peluang hidup sebesar 9,3 persen.
      Sebaliknya, algoritme Google justru memperkirakan harapan hidup sedikit lebih besar. Dari data yang diperoleh, Google memperkirakan peluang kematian perempuan itu mencapai 19,9 persen. Meski beberapa hari kemudian pasien dinyatakan meninggal dunia.
      Belajar dari kasus tersebut, Google mengembangkan alat untuk memperkirakan peluang hidup pasien, termasuk berapa lama ia harus dirawat di rumah sakit, hingga kemungkinan pasien perlu dirawat kembali, dan waktu meninggal yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.
      Kecerdasan buatan ini mengolah semua informasi dan menghasilkan prediksi, jauh lebih cepat dan akurat dari teknik-teknik yang telah ada sebelumnya. Algoritme Google bahkan menunjukkan data mana yang akan berujung pada penarikan konklusi.
      Nigam Shah, profesor dari Stanford University sekaligus salah satu penulis dalam riset ini menyebut metode yang ada sekarang menghabiskan 80 persen waktu untuk membuat data laik saji. Sementara pendekatan yang digunakan Google justru menghindari hal tersebut.
      Kemampuan Google dalam menyaring data, termasuk catatan yang terkubur dalam dokumen dan grafik lama tak dipungkiri membuat rumah sakit, dokter dan penyedia layanan kesehatan kagum. Mengingat sejauh ini lembaga kesehatan telah berupaya bertahun-tahun untuk menggunakan rekam jejak kesehatan dan data pasien untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa.
      Jeff Dean, kepala bagian kecerdasan buatan Google kepada Bloomberg mengatakan tahap berikutnya yang akan ditempu yakni mengintegrasikan sistem yang memprediksi gejala penyakit ke klinik-klinik. Ia menyebut tingkat akurasi prediksi penyakit diharapkan bisa menjadi harapan dan alarm.
      "Mereka memahami masalah apa yang perlu segera dicarikan solusinya. Sejauh mereka (Google) telah melakukan cukup eksperimen kecil untuk mengetahui hasil yang berbeda-beda dari setiap pengujian," ungkap Jeff.
      Ia berharap kecerdasan buatan ini mampu mengarahkan para dokter kepada pengobatan tertentu dan membantu mendiagnosa penyakit pasien dengan lebih tepat.
    • By dugelo
      Banyak orang meninggal karena pembuluh darah pecah, apa penyebabnya? ANgka kematian ini sangat banyak
    • By sandyiktibal
      Apa yang dirasakan manusia saat akan meninggal? Ilmuwan berupaya menjelaskan apa yang dirasakan ketika saat tersebut tiba.
      Ajal adalah sesuatu yang dialami manusia sekali seumur hidupnya dan sangat jarang kita mendengar kesaksian bagaimana saat itu tiba. Kendati begitu ilmuwan dari The American Chemical Society membuat video mengenai apa yang dirasakan saat kematian tiba.
      Menurut asosiasi tersebut, menyaksikan seseorang dikejar-kejar pembunuh yang membawa kampak dalam film horor menciptakan perasaan yang sama seperti Anda yang tengah dikejar pembunuh tersebut.
      Dalam video tersebut ilmuwan The American Chemical Society menjelaskan bagaimana perubahan kimia dalam otak beberapa saat sebelum seseorang dibunuh oleh pembunuh berkampak.
      Rasa takut - seperti dijelaskan ilmuwan - merupakan respon kognitif yang memperingatkan kita saat berada dalam bahaya. Dari berbagai sudut pandang ilmuwan medis, Anda bisa meninggal karena ketakutan.
      Rasa takut tersebut dikirimkan ke bagian otak yang disebut Thalamus dimana pesan itu menjelaskan kepada tubuh bahwa kita dalam kondisi bertarung.
      "Saat sinyal rasa takut itu mencapai otak di bagian periaqueductal, kondisi itu memerintahkan otak untuk bersiaga," papar ilmuwan.
      Lalu mengapa kita berteriak saat kita ketakutan? Ilmuwan menjelaskan bahwa perilaku tersebut merupakan respon otomatis dari tubuh. Kita akan berusaha memberitahu orang lain dengan berteriak sekaligus menyatakan apa yang tengah dirasakan dengan harapan mendapatkan bantuan.
      "Berbeda dengan saat kita berbicara biasa, suara teriakan yang diterima telinga langsung menuju daerah Amygdala dimana itu adalah pusat darurat otak. Hal itu seperti halnya seseorang yang berteriak berusaha berbagi dengan Anda bagaimana kondisi otaknya," jelas ilmuwan.
      Saat pembunuh berkampak dalam film horor tersebut berhasil menangkap korban dan membunuhnya secara brutal serta menghentikan teriakan otomatis tadi.
      Rasa sakit menurut ilmuwan merupakan perasaan yang sangat berbeda dari sentuhan dan rasa tersebut memberitahukan tubuh bahwa apa yang baru terjadi tidak boleh terulang.
      Dengan mengasumsikan tidak terjadi kerusakan otak, sesuatu yang menarik terjadi saat ajal menjelang. Ketika jantung berhenti berdenyut dan Anda tak lagi bernafas saat itulah yang disebut kematian klinis.
      Ketika itu otak masih terus bekerja dan memasuki kondisi aktivitas perseptual-neural. Langkah terakhir dari kematian adalah saat otak berhenti bekerja dan itu yang disebut kematian biologis. Ketika itu seseorang benar-benar disebut meninggal dunia.
    • By davidbo

      Pada tahun 1967, seorang agen rahasia Inggris “dibekukan” sembari menunggu masa yang akan datang di mana musuh bebuyutannya bangun dari tidur panjangnya dalam kebekuan untuk kembali mengancam dunia. Masa itu tiba tahun 1997. Agen rahasia itu dibangkitkan kembali setelah diawetkan dalam es selama 30 tahun untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran.
      Mungkin anda mengenali scenario di atas yang ada dalam film “Austin Powers: International Man of Mystery” (1997). Ilmu pengetahuan yang mengilhami cerita film itu benar-benar ada. Ilmu itu disebut kriogenika, yaitu ilmu yang mempelajari tentang apa yang terjadi pada materi pada suhu yang sangat rendah. Krionika, yaitu teknik yang digunakan untuk mengawetkan tubuh manusia pada suhu yang sangat rendah dengan harapan suatu hari dapat dibangkitkan kembali, sedang dikembangankan saat ini.
      Gagasan di balik krionika adalah jika seseorang “mati” akibat penyakit yang dideritanya, ia dapat “dibekukan” untuk kemudian dibangkitkan kembali di masa depan saat teknologi pengobatan sudah dapat menyembuhkan penyakitnya itu. Seseorang yang diawetkan sedemikian rupa dikatakan berada dalam keadaan suspensi krionika.
      Tahap-tahap untuk menjalani suspensi krionika:
      Menjadi anggota sebuah fasilitas krionika dan membayar iuran keanggotaan (sekitar $400 per tahun). Dinyatakan “mati secara hukum”. Tim tanggap darurat dari fasilitas tersebut mendatangi anda, tubuh anda distabilkan dengan cara memasok oksigen melalui darah ke otak anda dalam jumlah yang cukup untuk mempertahankan fungsi minimal otak hingga saatnya tiba untuk anda dipindahkan ke fasilitas suspensi. Tubuh anda akan dibungkus dalam es dan diinjeksikan heparin (sejenis antikoagulan/ anti pembekuan darah) untuk mencegah darah anda membeku dalam perjalanan menuju fasilitas krionika. Sekelompok tim medis menunggu kedatangan tubuh anda di fasilitas itu. Begitu anda tiba di fasilitas kriogenika, “pembekuan” yang sesungguhnya segera dimulai. Fasilitas kriogenika tidak bisa begitu saja menempatkan pasien mereka ke dalam wadah nitrogen cair karena akan menyebabkan air yang dikandung sel tubuh membeku. Tim krionika harus membuang air dari sel-sel tubuh anda terlebih dahulu dan menggantinya dengan campuran kimiawi berbasis gliserol yang disebut krioprotektan (semacam senyawa antipembekuan tubuh manusia). Langkah selanjutnya adalah memasukan tubuh anda yang kemudian diletakkan ke dalam tangki logam yang besar yang berisi nitrogen cair pada suhu sekitar -196oC. Tubuh anda disimpan dengan posisi kepala di bawah. Karena biaya yang sangat mahal, ilmuwan memberikan jalan yang ekonomis dengan hanya mengawetkan otak anda. Dengan harapan suatu saat nanti teknologi menemukan cara untuk mengkloning tubuh anda yang lain yang tidak diawetkan.
×
×
  • Create New...