Jump to content

Fakta Pasien Suspect Corona di Cianjur Meninggal Dunia


Recommended Posts

  • ✔ Verified Account

IMG20200303091446.pg.jpg

Pasien suspect virus corona meninggal dunia. Pasien dengan inisial D (50) adalah pasien pertama terduga corona yang meninggal dunia di Indonesia pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 04.00 WIB di Cianjur, Jawa Barat.

Berdasarkan keterangan PLT Bupati Cianjur, H. Herman Suherman, D merupakan pegawai BUMN. Pasien yang merupakan warga Bekasi tersebut sudah menjalani perawatan sejak Minggu (1/3/2020).

Informasi dari tim medis mengatakan bahwa pasien D memiliki riwayat perjalanan dari Malaysia.

“Beliau pegawai Telkom Bekasi, sempat ke Malaysia tanggal 14 sampai 17 Februari 2020,” ujar Herman saat menemui media di lobi RSDH Cianjur, Senin (2/3/2020).

Pada tanggal 20 Februari, yang bersangkutan mulai merasakan sakit dengan gejala demam dan batuk-batuk. Kemudian pasien mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi pada tanggal 22-26 Februari.

"Belum sembuh  100%, pasien meminta pulang," tambahnya.

Kemudian, D berkunjung ke rumah saudaranya di Kecamatan Ciranjang, Cianjur, sekaligus bermaksud untuk mencari pengobatan lain. Akan tetapi, pada Minggu 1 Maret 2020, kondisi yang bersangkutan ternyata makin menurun dan drop serta merasakan sesak nafas.

“Beliau berusaha mencari pengobatan alternatif di Cianjur. Tapi tidak ada hasil, akhirnya yang bersangkutan dirawat di RSDH, untuk mendapatkan penanganan medis,” jelas Herman.

Saat kondisi pasien mulai membaik, ada rencana untuk dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada malam harinya. Namun, belum sempat dibawa, sudah meninggal duni pada dini hari.

Herman menegaskan, pihak RSDH masih belum bisa memastikan apakah pasien tersebut positif terjangkit virus corona atau tidak.

"Pihak rumah sakit masih menunggu hasil uji laboratorium yang dikirimkan ke Kementerian Kesehatan RI di Jakarta. Jadi ini masih suspect, belum tentu positif. Tapi memang beliau mengeluhkan sesak nafas,” terang Herman.

Karena itu, Herman mengimbau masyarakat Cianjur agar tidak panik dan tidak mempercayai informasi yang tersebar di media sosial.

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By eunike_grace
      Gangguan bipolar adalah suatu bentuk gangguan psikiatri, dimana suasana hati seseorang berfluktuasi antara keadaan energi tinggi (disebut juga episode manik/mania) dan depresif secara ekstrim. Gangguan bipolar adalah kondisi serius, yang sangat berpotensi mempengaruhi baik kualitas hidup maupun karir seseorang. Kondisi mania umumnya termanifestasi dengan gejala sulit tidur (kadang selama berhari-hari) disertai halusinasi, psikosis, delusi, atau kemarahan paranoid.
      Apa itu Gangguan Bipolar?
      Gangguan bipolar adalah penyakit kompleks yang kemungkinan berasal dari kombinasi faktor genetik dan non-genetik. Orang dengan Bipolar dapat mengalami periode dimana suasana hati dan energinya normal. Tingkat keparahan saat periode terjadinya gangguan dapat berkisar dari sangat ringan hingga ekstrim, dan dapat terjadi secara bertahap atau tiba-tiba dalam jangka waktu beberapa hari hingga beberapa minggu.
      Seiring dengan episode manik atau depresi, pasien dengan gangguan bipolar mungkin memiliki gangguan dalam berpikir. Mereka mungkin juga memiliki distorsi persepsi dan gangguan dalam fungsi sosial.
      Apa Penyebab Gangguan Bipolar?
      Seperti halnya gangguan psikiatri lainnya, penyebab gangguan bipolar tidak diketahui. Yang diketahui adalah bahwa gangguan bipolar melibatkan disregulasi fungsi otak dan kadang-kadang memiliki komponen genetik (dapat diturunkan dalam keluarga).
      Pada Usia Berapakah Biasanya Gangguan Bipolar Didiagnosis?
      Gangguan bipolar biasanya muncul antara usia 15 dan 24 dan berlanjut sepanjang hidup. Tidak banyak kasus yang baru didiagnosis pada orang dewasa atau lansia di atas usia 65 tahun.
      Tingkat keparahan gejala bervariasi dengan tiap individu yang memiliki gangguan bipolar. Sementara beberapa orang bisa tidak merasakan gejala yang berarti, orang lain dapat mengalami gejala berat yang mengganggu kemampuan mereka untuk bekerja dan hidup normal.
      Gangguan bipolar memiliki tingkat kekambuhan yang tinggi jika tidak diobati secara optimal. Pasien dengan mania berat biasanya memerlukan rawat inap untuk menjaga mereka melakjukan perilaku berisiko. Mereka yang mengalami depresi berat juga mungkin perlu dirawat di rumah sakit agar mereka tidak bertindak berdasarkan idealisme bunuh diri atau gejala psikotik (delusi, halusinasi, pemikiran tidak teratur) mereka.
      Sekitar 90% orang dengan gangguan bipolar I, yang merupakan bentuk yang lebih serius, akan mengalami setidaknya satu periode rawat inap karena keluhan psikiatris. Dua dari tiga akan mengalami dua atau lebih periode rawat inap semasa hidup mereka.
      Apa Gejala Depresi Gangguan Bipolar?
      Gejala-gejala depresi klinis yang terlihat dengan gangguan bipolar adalah sama dengan yang terlihat pada gangguan depresi mayor dan termasuk:
      Nafsu makan berkurang dan / atau penurunan berat badan, atau makan berlebihan dan penambahan berat badan Kesulitan berkonsentrasi, mengingat, dan membuat keputusan Kelelahan, penurunan energi, “melambat” Perasaan bersalah, tidak berharga, tidak berdaya Perasaan putus asa, pesimisme Insomnia, bangun pagi, atau tidur berlebihan Kehilangan minat atau kesenangan pada hobi dan aktivitas yang pernah dinikmati, termasuk hubungan intim Gejala fisik persisten yang tidak berespons terhadap pengobatan, seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, dan nyeri kronis Suasana hati yang terus-menerus sedih, cemas, atau “kosong” Gelisah, mudah marah Sering berpikir mengenai kematian atau bunuh diri, pernah melakukan percobaan bunuh diri Apa Tanda-Tanda Mania dalam Gangguan Bipolar? Tanda-tanda mania pada gangguan bipolar meliputi: Pikiran terputus dan sangat cepat (kalap) Keyakinan muluk Kegembiraan atau euforia yang tidak pantas Kemarahan yang tidak pantas Perilaku sosial yang tidak pantas Hasrat seksual meningkat Peningkatan kecepatan atau volume bicara Secara signifikan meningkatkan energi Penilaian yang buruk Kebutuhan tidur yang menurun karena energi tinggi Bagaimana Gangguan Bipolar Didiagnosis?
      Seperti kebanyakan gangguan psikiatri, tidak ada tes laboratorium atau metode pencitraan otak untuk mendiagnosis gangguan bipolar. Setelah melakukan pemeriksaan fisik, dokter akan mengevaluasi tanda dan gejala pribadi yang bersangkutan. Dokter Anda juga akan bertanya tentang riwayat kesehatan pribadi dan riwayat keluarganya. Tes laboratorium dapat dilakukan untuk menyingkirkan penyakit medis lain yang dapat memengaruhi suasana hati.
      Selain itu, dokter juga akan berbicara dengan anggota keluarga untuk melihat apakah mereka dapat mengidentifikasi waktu ketika orang yang bersangkutan merasa gembira dan terlalu bersemangat. Karena episode manik yang ditandai dengan kegembiraan mungkin terasa baik atau bahkan normal jika dibandingkan dengan episode depresif, seringkali sulit bagi seseorang dengan gangguan bipolar untuk mengetahui apakah suasana hatinya terlalu berfluktuasi. Mania sering memengaruhi pemikiran, penilaian, dan perilaku sosial dengan cara yang menyebabkan masalah serius dan membuat malu. Misalnya, keputusan bisnis atau keuangan yang tidak bijaksana dapat dibuat ketika seseorang berada dalam fase manik. Jadi diagnosis dini dan perawatan yang efektif sangat penting dengan gangguan bipolar.
      Bagaimana Gangguan Bipolar Diobati?
      Penting untuk diingat, perspektif terhadap obat-obatan ini hendaknya seperti perspektif kita terhadap penggunaan kacamata; tidak ada yang pernah mengatakan bahwa seseorang “mengalami ketergantungan” terhadap kacamata yang digunakan tiap hari bukan? Demikian pula dengan obat-obatan bipolar; obat-obatan tersebut digunakan setiap hari, persis seperti kacamata. Hanya bedanya, kacamata dikenakan pada wajah, sedangkan obat-oabtan bipolar diminum.
      Perawatan untuk gangguan bipolar biasanya melalui penggunaan penstabil suasana hati seperti lithium. Antikonvulsan, antipsikotik, dan benzodiazepin tertentu juga bisa digunakan untuk menstabilkan suasana hati. Kadang-kadang antidepresan diberikan dalam kombinasi dengan penstabil suasana hati untuk meningkatkan suasana hati yang depresi, meskipun antidepresan sering tidak seefektif beberapa penstabil suasana hati atau antipsikotik atipikal tertentu untuk mengobati depresi pada gangguan bipolar.
      Apa yang bisa kita lakukan?
      Seperti semua penyakit psikiatri pada umumnya, kita perlu menyadari bahwa kelainan Bipolar dapat terjadi pada siapapun tanpa terkecuali; tanpa memandang tingkat pendidikan, status ekonomi, status rohani (ya, bahkan rohaniwan sekalipun bisa mengalami Bipolar, dan itu wajar!), maupun status sosialnya. Sama pula seperti orang yang batuk pilek, patah tulang bahkan kanker, kelainan bipolar tidak ada sangkut pautnya dengan “ketahanan mental” atau “ketenangan batin”; orang dengan gangguan Bipolar memiliki respon kimiawi yang berbeda di otaknya dibanding dengan orang pada umumnya. Oleh sebab itu, kita sebaiknya tidak melabeli penderita Bipolar sebagai “orang dengan mental yang lemah” atau bahkan “cengen”; kita tidak mungkin mengatakan hal seperti “ah, tulang patahmu itu hanya karena batinmu yang tidak tenang” kepada orang yang baru mengalami kecelakaan motor kan?
    • By theblue
      Hamil di tengah pandemi corona Covid-19 tentunya tidak pernah dibayangkan oleh Popi dan suaminya. Namun saat mengetahui dirinya hamil pada Januari lalu, mereka tentu tak menyangka kalau wabah corona juga melanda Indonesia dan bahkan hampir semua negara.
      Namun di sisi lain, Popi dan suami sudah cukup lama menantikan anak kedua setelah dikaruniai anak pertama pada 2013. Mereka pun makin sennag setelah mengetahui calon bayi mereka adalah perempuan karena anak pertama laki-laki.
      Popi dan suami tadinya berencana melahirkan di rumah sakit tempat ia melahirkan anak pertamanya di kawasan Jakarta Pusat. Namun saat wabah corona mulai terjadi di Indonesia, ia mendapat informasi kalau Rumah sakit tempat dia berencana melakukan persalinan digunakan untuk menangani pasien Covid-19 dan sedang kekurangan APD (alat pelindung diri).
      Jadi kalau ia mau melahirkan, maka harus masuk UGD (Unit Gawat Darurat) terlebih dahulu. Ia dan suami pun memutuskan untuk berganti rumah sakit yang juga berada di kawasan Jakarta Pusat. Popi pun sudah beberapa kali menjalani pemeriksaan di rumah sakit tersebut.
      "Waktu masih awal-awal pandemi dan penerapan PSBB ya prosedurnya nggak jauh beda seperti biasanya. Paling ya harus memakai masker dan cuci tangan. Tapi setelah beberapa kali, kalo nggak salah pas bulan Mei, harus ada protokol kesehatan sebelum dan sesudah diperiksa. Ya biayanya sekitar 200 sampai 300 ribu rupiah tiap kali kunjungan. Terus biaya untuk melahirkan juga naik karena biaya buat protokol kesehatannya lebih besar," terang Popi
      Karena biaya melahirkan naik sampai sekitar 50 persen yang bisa mencapai sekitar Rp20 juta sampai Rp30 juta, Popi dan suami pun mencari altternatif lain.  Mereka pun mendapat informasi dari beberapa teman tentang klinik bersalin yang tak jauh dari rumah mereka. Mereka akhirnya lebih memilih klinik bersalin yang biayanya jauh lebih kecil tapi tetap terjamin dan bisa dipercaya.
      "Tadinya suami sempat kurang setuju karena dia lebih percaya sama dokter spesialis. Tapi setelah mendengar pengalaman beberapa teman, kita akhirnya sepakat memilih klinik bersalin walaupun cuma ditangani bidan. Tapi mereka bidan yang berpengalaman dan sekali menangani persalinan bisa empat sama lima orang bidan yang turun tangan," ucap Popi.
      Untuk biaya diperkirakan tidak sampai Rp10 juta, bahkan bisa memakai BPJS sehingga bisa lebih menghemat biaya lagi. Meski begitu, suami Popi tetap mempersiapkan bujet lebih kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan dan Popi harus melahirkan di rumah sakit. Lalu, bagaimana dengan mereka yang sudah melahirkan di masa pandemi?
      Meningkat Dua Kali Lipat
      Bagi Desi melahirkan di masa pandemi, tepatnya pada Juni lalu, ternyata menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tentunya ia dan suami senang menyambut kelahiran anak mereka yang keempat.
      Tapi mereka juga harus merogoh kocek cukup dalam yang untungnya memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Desi melahirkan anak keempatnya di Rumah Sakit (RS) Hermina Bogor, Jawa Barat.
      "Biayanya sekitar Rp22 juta, terus ada cek kehamilan sekitar Rp2 juta, itu semua udah termasuk biaya buat protokol kesehatan. Total habis biaya sekitar Rp25 juta. Itu pun saya di kamar Kelas 3. Ya mungkin juga karena pandemi dan memang di sana (RS Hermina) biayanya memang cukup tinggi," jelasnya.
      Sebelumnya, ketiga anak Desi lahir di rumah sakit di Jakarta dan biayanya jauh berbeda dengan kelahiran anak keempat.
      "Kalau yang pertama saya agak lupa, yang jelas pas lahiran anak kedua itu sekitar Rp9 jutaan dan yang ketiga sekitar Rp12 jutaan. Nah itu kan beda jauh sama lahiran yang keempat sampai dua kali lipat, ya mungkin juga karena pengaruh pandemi dan tergantung rumah sakitnya juga," lanjut Desi.
      Tiap rumah sakit sepertinya memang menambahkan tarif mereka karena dampak pandemi corona. Biaya tambahan itu biasanya untuk menjalankan protokol kesehatan maupun untuk APD.Di RSIA Asih di kawasan Melawai, Jakarta Selatan misalnya.
      Wajib Rapid Test
      Mereka menjelaskan biaya persalinan di tempat nereka sudah berlaku tarif mulai 1 April 2020 meski tidak menyebutkan berapa persen kenaikannya dari tarif sebelumnya.
      Untuk persalinan normal tarifnya mulai dari Rp19 jutaan (Kelas 3) sampai dengan Rp28 jutaan (VVIP). Sedangkan untuk persalinan Caesar, mulai dari Rp33 jutaan (Kelas 3) sampai dengan Rp48 jutaan (VVIP).
      Tarif tersebut belum termasuk biaya administrasi rumah sakit, tapi sudah termasuk untuk biaya tindakan dan perawatan ibu dan bayi sehat selama tiga hari. Biaya akan bertambah kalau ada tindakan tambahan seperti operasi atau bayi sakit.
      "Untuk melahirkan nanti pada saat masuk untuk rawat inap, untuk penunggu hanya boleh untuk suami saja dan tidak ada jam besuk. Ibu melahirkan juga wajib rapid test. Untuk biaya rapid test sekitar Rp270 ribu," terang mereka lagi.
      Tambahan Biaya untuk APD
      Lalu bagaimana dengan di klinik bersalin? Salah satu klinik di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Klinik Bersalin Lahir di Tembuni, menetapkan tarif yang sama dengan sebelum pandemi.
      "Untuk biaya melahirkan masih sama seperti sebelumnya. Untuk persalinan normal estimasinya Rp25 jutaan (VVIP), Rp22 juta (VIP) dan Rp18 juta (Deluxe). Itu sudah include biaya persalinan, jasa dokter, kamar, obat, dan alat kesehatan. Hanya ada tambahan biaya Rp300 ribu untuk APD," terang mereka melalui pesan elektronik, Jumat, 10 Juli 2020.
      Sedangkan klinik bersalin di Bandung, Jawa Barat, Klinik Utama Jasmine MQ Medika menetapkan tarif berbeda. Untuk biaya persalinan ada kenaikan sebesar 20 sampai dengan 30 persen.
      "Kenaikan biaya karena ada pandemi. Jadi ada protokol pemeriksaan, labaoratorium dan penggunaan APD bagi nakes. Tarifnya mulai dari Rp5 juta sampai Rp25 juta," terang pihak klinik melalui pesan elektronik pada Jumat, 10 Juli 2020.
      Hamil dan melahirkan tentu hal yang wajar dan bahkan membahagiakan bagi pasangan yang sudah lama menantikan kehadiran anak. Namun di tengah pandemi, tentu ada baiknya menyiapkan dana lebih untuk menghadapi segala kemungkinan.
       
    • By black_zombie
      New normal lagi jadi topik yang ramai dibahas netizen di media sosial. Setelah hampir 3 bulan menjalani karantina diri dan work from home,  kabarnya sebentar lagi masyarakat bakal menjalani tatanan gaya hidup baru. Dalam masa ini, masyarakat sudah mulai bisa melakukan aktivitas di luar rumah, tapi tetap memperhatikan protokol kebersihan diri sebagai bagian dari gaya hidup baru.
      Sudah siapkah kamu menghadapinya? Jika new normal diterapkan, ini dia beberapa new normal kits dan panduan yang wajib kamu pahami.
      1. Era New Normal Tetap Memperhatikan Physical Distancing

      Memasuki era new normal kamu memang sudah bisa melakukan aktivitas di luar rumah. Tapi, tetap harus memperhatikan physical distancing. Tetap jaga jarak aman dengan orang lain akan jadi kebiasaan baru dalam new normal. Idealnya, jarak aman antara satu orang dengan yang lain menurut imbauan Badan Kesehatan Dunia atau WHO adalah 1-2 meter.
      2. Masker, Sunglasses, Topi: Pelindung Diri Wajib Saat Keluar Rumah

      Selain menjaga jarak sosial, pelindung diri juga wajib digunakan saat keluar rumah di era new normal. Misalnya saja wajib menggunakan masker selama beraktivitas di luar rumah untuk mencegah penularan virus. Selain itu, nggak ada salahnya melindungi tubuh dengan items lainnya. Tapi, ingat ya kalau nggak perlu Alat Pelindung Diri atau APD kok, karena APD hanya buat tenaga medis. Kamu cukup memanfaatkan sunglasses untuk melindungi mata dan topi sebagai penutup kepala saat sedang berada di moda transportasi umum. Selain bisa melindungi diri, nilai plus-nya adalah penampilan jadi lebih stylish. Kalau memang perlu, kamu juga bisa menggunakan face shield untuk perlindungan yang lebih maksimal.
      3. Cuci Tangan Secara Rutin, Sedia Selalu Hand Sanitizer di Dalam Tas

      Kebiasaan mencuci tangan nggak hanya perlu dilakukan selama karantina diri. Ketika sudah menjalani new normal pun, rutin cuci tangan juga diperlukan buat mencegah bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh. Tangan menjadi media penyebaran bakteri dan virus yang paling cepat, karena sering memegang benda lain. Apalagi ketika sudah kembali bekerja di kantor lagi, di mana kamu bakal sering bersentuhan dengan benda-benda yang berisiko memiliki bakteri dan virus menempel seperti gagang pintu, meja, hingga tombol lift.
    • By VOAIndonesia
      Seorang petugas kesehatan (kiri) mengambil sampel darah dari seorang pengendara motor yang melanggar Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sebuah kantor polisi di Surabaya, 3 Mei 2020. (Foto: AFP)
      Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Polri, Ahmad Ramadhan mengatakan, polisi telah menangkap dua kelompok pelaku yang membuat dan menjual surat keterangan bebas corona pada Kamis (14/5). Kedua kelompok itu yaitu tiga orang yang menjual surat secara manual dan empat orang yang menjual secara online. Ketujuhnya ditangkap polisi di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali dan telah ditetapkan sebagai tersangka.
      "Modus para pelaku adalah memanfaatkan surat edaran nomor 4 Tahun 2020 tentang kriteria pembatasan perjalanan orang dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 dengan membuat dan menjual surat keterangan kesehatan yang palsu kepada para pengguna Pelabuhan Gilimanuk dan dijual secara manual," jelas Ahmad Ramadhan dalam konferensi pers online, Jumat (15/5).
      Ahmad menambahkan pelaku ingin mengambil keuntungan dengan menjual surat keterangan bebas Covid-19 seharga Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per lembar. Polisi menjerat pelaku dengan Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 268 KUHP dengan ancaman pidana enam tahun penjara.
      Sementara untuk penawaran surat bebas corona yang sempat beredar di Tokopedia saat ini sedang ditangani Direktorat Siber Bareskrim Mabes Polri. Ia mengimbau warga untuk tidak membeli surat keterangan bebas palsu karena dapat berujung pada pelanggaran hukum pidana.
      "Polri sudah menginstruksikan kepada seluruh jajaran, khususnya personel yang bertugas di check point dan pos pantau PSBB agar melaksanakan tugas lebih ketat dan teliti dalam pemeriksaan surat bebas Covid-19," tambahnya.
      Pantauan VOA, iklan surat bebas corona tersebut yang sempat tayang di platform digital Tokopedia pada Kamis (14/5) telah diturunkan. VOA juga menelusuri akun blogspot suratdokterindonesiaaa.blogspot.com yang menurut akun twitter @DokterPodcast, juga turut menjual surat bebas corona. Namun, akun blogspot tersebut juga telah dibekukan. Hanya, WhatsApp nomor HP yang tercantum di blogspot tersebut masih aktif hingga Jumat (15/5) pukul 01.40 WIB dini hari.
      Dalam akun @DokterPodcast juga terlihat surat yang dijual seharga Rp70 ribu per lembar itu dilengkapi dengan kop bertuliskan Rumah Sakit Mitra Keluarga Gading Serpong, Kabupaten Tangerang tertanggal 9 Mei 2020.
      Sementara itu, Rumah Sakit Mitra Keluarga melalui akun Instagramnya pada Kamis (14/5) menyatakan tidak pernah bekerja sama dengan orang yang memperjualbelikan surat keterangan bebas Covid-19. RS Mitra Keluarga mengancam akan menempuh jalur hukum jika masih ada orang yang mengatasnamakan atau menggunakan atribut Mitra keluarga, termasuk penggunaan kop surat tanpa seizin mereka.
      "Kami mohon agar para pihak yang menyalahgunakan kop surat Mitra Keluarga dan/atau mengatasnamakan Mitra Keluarga untuk keperluan tersebut di atas, agar segera mencabut dan/atau menghentikan perbuatan tersebut dalam waktu sesegera mungkin," tulis RS Mitra Keluarga dalam akun Instagram, Kamis (4/5). [sm/ab]
    • By purwa_weheb
      Penularan virus Korona jenis baru di dunia terjadi dengan begitu super cepat. Bayangkan saja, sejak Desember 2019 sampai saat ini, terhitung dalam waktu 5 bulan saja virus ini sudah bisa menginfeksi lebih dari 3,5 juta orang di dunia. Padahal awal mula virus ini ditemukan sejak Desember 2019 di Wuhan, Tiongkok.
      Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19 Achmad Yurianto memberikan evaluasi perjalanan perkembangan virus Korona jenis baru di dunia hingga akhirnya masuk ke tanah air. Indonesua secara resmi mengumumkan kasus itu pada awal Maret 2020. Dan hanya berlangsung 2 bulan, virus pernapasan ini sudah menginfeksi 11.192 orang hingga Minggu (3/5).
      “Sejak pertengahan Desember semua negara di dunia telah diingatkan dengan virus baru dari Tiongkok. Sejak saat itu negara-negara di dunia secara serempak telah perketat dan memperkuat karantina di pintu-pintu masuk negara masing-masing,” kata Yurianto dalam konferensi pers, Minggu (3/5).
      Segera setelah itu, Tiongkok langsung melakukan lockdown atau penguncian pada Wuhan. Sejumlah negara juga menutup jalur penerbangan langsung dari Tiongkok. Serta memperketat pintu masuk orang-orang yang dari daratan Tiongkok dan negara lain yang terdampak.
      “Dan kalau ingat, Indonesia juga sempat pulangkan WNI dari Wuhan ke Natuna lalu para ABK dari Jepang ke Indonesia dan lainnya. Lalu kami perketat pintu-pintu masuk bandara dan perbatasan untuk mencegah masuknya virus ke tanah air,” katanya.
      Namun perjalanan perkembangan virus bermutasi dengan cepat. Yurianto menjelaskan virus itu sejak awal mulanya di Wuhan menunjukkan gejala yang parah. Penderitanya pasti merasakan demam, batuk, dan sesak napas. Maka setiap orang dengan mudah terdeteksi.
      “Kita sampai menggunakan alat thermal scan di bandara dan pelabuhan untuk mengukur suhu tubuh siapapun yang masuk ke negara kita,” paparnya.
      Tapi seiring berjalannya waktu, virus itu menjadi berkembang seolah lebih ringan bahkan tanpa gejala. Sehingga seseorang tak bisa lagi dideteksi dari suhu tubuhnya. Orang tanpa gejala semakin banyak dan membawa virus.
      “Perkembangan waktu demi waktu Badan Kesehatan Dunia WHO mengamati orang yang terkena Covid-19 tampakkan perubahan gejalanya. Tak lagi dengan panas tinggi, batuk dengan sesak. Banyak covid tanpa gejala atau dengan gejala ringan sehingga tampak tak sakit,” jelasnya.
      “Diyakini para ahli ada perubahan cepat atau mutasi perubahan virusnya,” tambah Yurianto.
      Maka dalam waktu singkat semua warga dunia terinfeksi. Makanya akhirnya WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi. Dan seluruh warga dunia wajib memakai masker, bukan hanya yang sakit saja.
      “Dengan cepat semua negara menyelamatkan warga negara masing-masing. Pemerintah kita juga menyatakan penyakit ini sebagai kedaruratan kesehatan di masyarakat. Sudah dinyatakan sebagai bencana nasional sejak awal. Maka semua aktivitas kehidupan harus memahami cara penularan dan cara bahayanya dan mampu melaksanaan upaya memutus rantai penularannya,” tutup Yurianto.
×
×
  • Create New...