Jump to content

CEO Twitter Ogah Pakai Google Search Engine


Forzaken_DT

Recommended Posts

67510559_JackDorsey.thumb.jpg.45d6b94f5063073d0e39c1be4267bfc7.jpg

Jack Dorsey yang tak lain adalah CEO dari Twitter memanfaatkan browser mesin pencarian untuk berselancar di internet. Namun yang dipakai bukanlah Google, melainkan DuckDuckGo. Hah, apa itu?

Fakta itu ia beberkan dalam cuitan di akun Twitter miliknya @jack. Hal ini juga berbanding terbalik sebagian masyarakat yang lebih memilih Google dalam mencari informasi di dunia maya.

"Saya suka @DuckDuckGo sebagai mesin pencari default untuk saat ini. Aplikasi ini bahkan lebih baik," kicaunya.

Pendiri media sosial berlogo burung ini diketahui memasang DuckDuckGo sebagai mesin pencari informasi default di ponselnya. Melihat cuitan bos Twitter tersebut, DuckDuckGo langsung meresponnya dengan nada bahagia.

Lalu, siapa DuckDuckGo? Diketahui, DuckDuckGo merupakan mesin pencari yang didirikan pada 2008. Tempat kelahirannya sama dengan Google, yakni berasal dari Amerika Serikat juga.

DuckDuckGo hadir sebagai mesin pencari yang memprioritaskan privasi penggunanya. Mereka mengklaim tidak menjual data penggunanya.

Ini bukan pertama kalinya Dorsey 'menyenggol' sejumlah perusahaan teknologi. Sebelumnya, pria 43 tahun itu pernah memposting tweet yang mengejek perubahaan Facebook.

"Twitter ... from TWITTER," tulisnya.

Tweet tersebut meledek Facebook yang melakukan perubahaan di sejumlah layanan, seperti menempelkan embel-embel Facebook pada layanan WhatsApp dan Instagram.

Link to comment
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By ega
      Twitter resmi meluncurkan uji coba layanan premium mereka, yang disebut Twitter Blue, di Kanada dan Australia.
      Layanan premium itu dapat diakses oleh pengguna Twitter yang menggunakan sistem operasi iOS di kedua negara tersebut mulai Kamis (3/6/2021).
      Untuk dapat menikmati Twitter Blue, pengguna harus membayar biaya langganan sebesar 3,49 dollar Kanada atau 4,49 dollar Australia tiap bulan.
      Sebagai layanan premium, Twitter Blue menghadirkan sejumlah fitur tambahan yang tidak tersedia bagi pengguna Twitter biasa atau gratis.
      1. Bookmark Folder
      Twitter telah memperkenalkan fitur Bookmark sejak awal 2018.
      Dengan fitur itu, pengguna dapat menyimpan twit yang dirasa menarik untuk dibaca di waktu lain.
      Selain itu, fitur Bookmark juga membuat pengguna bisa menyimpan twit tanpa khawatir aktivitasnya akan diketahui oleh pengguna lain.
      Misalnya, jika sebuah twit ditandai dengan cara like, maka pengguna lain akan dapat melihat aktivitas tersebut.
      Namun, twit yang ditandai ke dalam bookmark, tidak akan diketahui oleh pengguna lain.
      Twitter Blue memperkuat fitur itu dengan Bookmark Folder, yakni memberi fasilitas pada pengguna untuk mengategorikan twit ke dalam folder yang dibuat pengguna.
      Contohnya, pengguna bisa mengategorikan beberapa twit ke dalam folder "Review Film", "Resep Masakan", atau bahkan "Thread Cerita Horror".
      2. Reader Mode
      Reader Mode merupakan fitur yang ditujukan agar pengguna lebih nyaman saat membaca utas panjang.
      Sebelumnya, layanan semacam itu telah dihadirkan oleh aplikasi pihak ketiga, seperti Thread Reader App.
      Untuk menggunakan Reader Mode, pengguna Twitter Blue cukup membuka utas yang ingin dibaca.
      Pada utas itu, Twitter Blue akan menyematkan tombol Reader Mode untuk masuk ke mode tersebut.
      3. Undo Tweet
      Undo Tweet merupakan fitur unggulan dari Twitter Blue.
      Dengan fitur tersebut, pengguna Twitter Blue dapat membatalkan twit sebelum diunggah.
      Pengguna bisa mengatur jeda waktu sebelum twit diunggah, hingga maksimal 30 detik.
      Dalam jeda waktu itu, jika pengguna menemukan kesalahan seperti salah ketik atau salah tag orang, twit bisa dibatalkan sebelum diunggah.
      Undo Tweet merupakan jawaban Twitter atas permintaan pengguna yang menginginkan fitur Edit Tweet.
      Melansir Tech Crunch, Twitter tidak menghadirkan fitur Edit Tweet, karena khawatir dapat mengarah ke tindakan tidak bertanggungjawab 
      Twitter khawatir jika fitur Edit Tweet akan disalahgunakan untuk mengubah total isi dari sebuah twit yang telah diunggah, dan akhirnya menimbulkan informasi yang menyesatkan.
      4. Fitur-fitur lain
      Selain sederet fitur tersebut, pelanggan Twitter Blue juga akan mendapatkan akses ke fasilitas lainnya, seperti kustomisasi ikon aplikasi, dan tema aplikasi.
      Pelanggan Twitter Blue juga akan mendapatkan akses ke layanan customer service khusus.
      Negara lain menyusul
      Tahap uji coba Twitter Blue sejauh ini baru dibuka untuk pengguna iOS di Kanada dan Australia mulai Kamis (3/6/2021).
      Twitter mengumumkan, fitur-fitur lain dan negara yang mendapatkan akses ke Twitter Blue akan segera diumumkan tahun ini.
      Biaya langganan Twitter Blue akan menyesuaikan setiap negara, dan dibayarkan tiap bulan.
    • By purwa_weheb
      Twit pertama bos Twitter Jack Dorsey terjual dalam bentuk aset Non-Fungible Token (NFT). Sebagai informasi, NFT merupakan aset digital unik yang popularitasnya meroket pada tahun 2021.
      Adapun twit yang dimaksud, ia terbit pada 22 Maret 2007 dan berbunyi, "just setting up my twttr."
      Twit itu, sebagaimana dikutip dari Reuters, Selasa (23/3/2021), dijual melalui lelang pada Valuables, platform yang dimiliki oleh perusahaan berbasis di AS yang bernama Cent.
      CEO dan co-founder di Cent, Cameron Hejazi, mengonfirmasi bahwa transaksi pembelian twit pertama bos Twitter menggunakan aset kripto Ethereum senilai 1630.5825601. Kurang lebih itu setara dengan USD 2,9 juta atau sekitar Rp 41,67 miliar.
      Cent pun menyatakan bahwa pembeli aset itu adalah Sina Estavi (@sinaEstavi). Menurut informasi yang tertulis di Bio, disebutkan bahwa Estavi berbasis di Malaysia dan merupakan CEO dari perusahaan blockchain Bridge Oracle.
      Sebagai aset digital, setiap entitas NFT memiliki tanda tangan digital berbasis blockchain masing-masing yang berfungsi sebagai buku besar dan memungkinkan proses verifikasi keaslian dan kepemilikan aset.
      Hasil lelang untuk donasi
      Pada 6 Maret lalu Dorsey menuliskan twit tautan ke laman di mana NFT itu terdaftar untuk dijual.
      Lalu pada 9 Maret dia pun kemudian mengatakan dalam twit lainnya akan menggunakan hasil lelang itu bitcoin dan menyumbangkannya kepada orang-orang yang terdampak Covid-19 di Afrika.
      Berkat penjualan twit pertamanya, Dorsey menerima 95 persen dari nilai yang ditentukan, sementara Cent mendapatkan 5 persen sisanya.
      "Nilasi dari aset-aset ini mungkin naik, mungkin juga turun, tetapi yang akan bertahan adalah buku besar dan sejarah [yang mengatakan] 'Saya membeli ini dari Anda pada saat ini' dan itu akan terjadi pada pembeli, penjual dan ingatan penonton publik," tutur Hejazi
    • By ega
      Google mengganti logo Gmail dari yang semula berbentuk amplop putih dengan tepian merah menjadi sebuah logo yang kini terasa lebih 'Google banget'.
      Logo baru Gmail kini menyerupai huruf M besar dengan bentuk mirip amplop, tetapi hadir dengan empat warna ciri khas Google. Warna warni yang dimaksud ada biru, merah, kuning, dan hijau.
      Logo baru Gmail ini cocok dan senada dengan logo Google, Google Maps, Google Photos, Chrome, dan produk-produk Google lainnya. Dengan logo baru Gmail ini, tak ada lagi amplop lawas khas Gmail.
      Fast Company melaporkan, Google sebelumnya mempertimbangkan untuk menghapus logo bentuk M sama sekali atau menghapus warna merah Gmail sepenuhnya. Namun, mereka yang terlibat dalam riset pengguna tak senang dengan perubahan tersebut.
      Pertahankan Huruf M
      Riset ini kemudian membantu Google menyadari, amplop dari logo Gmail bukanlah elemen desain yang penting. Dengan begitu, memungkinkan tim untuk bereksperimen dengan mempertahankan huruf M serta menambah palet warna tradisional Google.
      Logo baru Gmail ini masih terasa didominasi warna merah, dengan sedikit sentuhan warna kuning, biru, dan hijau di masing-masing lengkungan huruf M.
      G Suite Jadi Google Workspace

      Google juga sebelumnya mengubah logo Kalender, Docs, Meet, dan Spreadsheet agar sesuai dengan desain baru Gmail ini.
      Logo baru ini merupakan bagian dari perubahan lebih luas dari perangkat lunak G Suite Google yang kini diubah namanya menjadi Google Workspace.
      Google pun tengah mencoba menggabungkan Gmail, Chat, dan Docs ke dalam satu lokasi pusat untuk bisa lebih bersaing dengan Microsoft Office, terutama Outlook yang lebih terintegrasi.
    • By theblue
      Virus Corona COVID-19 telah dinyatakan sebagai wabah yang pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Perusahaan teknologi besar seperti Google dan Twitter memperbolehkan karyawannya dari rumah.
      Sejak Kamis (12/3/2020) Google sudah memandatkan 300.000 karyawannya untuk bekerja dari rumah. Khususnya untuk karyawan yang berbasis di Inggris, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Sebagai antisipasi penyebaran covid-19 atau virus corona.
      Pemberlakuan kerja dari rumah itu akan dilakukan sampai pemberitahuan lebih lanjut oleh Google.
      Google mengatakan, satu-satunya wilayah yang tersisa menjalankan bisnis seperti biasanya pada saat ini adalah Amerika Latin.
      Selain itu, Google juga telah memberi tahu lebih dari 100.000 karyawannya di Amerika Utara untuk tetap di rumah di tengah virus itu hingga setidaknya 10 April.
      CEO Google, Sundar Pichai dan CFO Google, Ruth Porat, mendesak karyawan untuk tetap termotivasi untuk menjalankan infrastruktur global Google di tengah perubahan besar dan kekhawatiran seputar penyebaran virus.
      "Kami tahu ini adalah waktu yang sangat meresahkan bagi semua orang," kata Pichai dalam email internal, pekan lalu. Ia menambahkan bahwa perusahaan memiliki tim keamanan dan ketahanan yang siap menjalankan pusat komando 24 jam untuk membantu para eksekutif memantau situasi penyebaran corona.
      Perusahaan teknologi Twitter juga menerapkan hal yang seperti Google. Twittermemutuskan untuk mewajibkan 4.900 karyawan bekerja dari rumah untuk menghadang penyebaran virus corona COVID-19 yang telah menyebar ke banyak negara.
      Dalam postingan di blog resmi perusahaan, Twitter mengatakan, "Kebijakan kerja dari rumah ini bersifat wajib karena perusahaan memiliki tanggung jawab untuk mendukung komunitas perusahaan dan mereka yang rentan," ujar perusahaan seperti dilansir dari CNBC International, Kamis (12/3/2020).
      "Kami memahami bahwa ini adalah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi ini adalah saat yang belum pernah terjadi sebelumnya," lanjutnya.
      Twitter mengatakan mereka akan terus membayar kontraktor dan membayar karyawan per jam yang tidak dapat melakukan tugas mereka saat bekerja dari rumah.
    • By VOAIndonesia
      SAN FRANCISCO - Seorang mantan eksekutif Google yang mencalonkan diri untuk menjadi anggota Senat Amerika, Kamis (9/1/20), menyerukan pemberlakuan regulasi yang keras terhadap raksasa-raksasa teknologi, dan menuduh raksasa internet tempat dia pernah bekerja itu telah keluar dari jalur “jangan jahat.”
      Ross LaJeunesse membidik Google dan perusahaan-perusahaan teknologi besar lainnya di Amerika dengan menyatakan bahwa kini keuntungan lebih diutamakan daripada hak asasi manusia.
      “Moto perusahaan dulu adalah “jangan jahat,” kata LaJeunesse, yang meninggalkan pekerjaannya sebagai kepala hubungan internasional di Google tahun lalu setelah 11 tahun mengabdi di perusahaan itu. “Banyak hal telah berubah,” tambahnya.
      Kini dia mencalonkan diri ikut bersaing memperebutkan kursi Senat Amerika untuk negara bagian asalnya, Maine. Dia bersaing melalui jalur Partai Demokrat.
      Google menolak kritikan tersebut, dan mengatakan pernyataan LaJeunesse itu disampaikan dalam konteks kampanye pemilihan.
      “Kami memiliki komitmen yang tak tergoyahkan untuk mendukung berbagai organisasi dan upaya-upaya hak asasi manusia," kata juru bicara Google ketika menanggapi pertanyaan kantor berita AFP. “Kami mendoakan yang terbaik untuk Ross dengan ambisi politiknya,” tambah juru bicara itu.
      LaJeunesse bergabung dengan Google pada tahun 2008 dan menjadi kepala kebijakan publik perusahaan itu untuk Asia Pasifik sebelum mengambil posisi sebagai kepala hubungan internasional.
      Dia mengatakan dia adalah orang yang melaksanakan keputusan Google untuk tidak lagi menyensor hasil pencarian lewat Internet di China seperti yang diminta oleh pemerintah negara itu.
      “Keputusan itu membuat marah tidak hanya pemerintah China, tetapi juga membuat frustrasi sebagian eksekutif produk Google yang mengincar pasar yang besar dan keuntungan yang menyertainya,” kata LaJeunesse.
      “Faktanya, dalam waktu satu tahun sejak keputusan 2010 itu, eksekutif untuk Maps dan produk Android mulai berusaha meluncurkan produk mereka di China,” tambahnya.
      Dia menyatakan terkejut ketika mengetahui pada tahun 2017 tentang adanya proyek “Dragonfly” di Google untuk menyesuaikan versi mesin pencari untuk China. Proyek itu kemudian ditinggalkan karena menuai kritik masyarakat.
      LaJeunesse juga menyuarakan keprihatinan tentang upaya Google untuk menjalin kerja sama komputasi awan (cloud computing) dengan pemerintah Arab Saudi dan membangun pusat intelijen buatan (AI) di sana.
      “Tepat ketika Google perlu menggandakan komitmen pada hak asasi manusia, Google memutuskan untuk mengejar keuntungan yang lebih besar dan harga saham yang bahkan lebih tinggi,” kata LaJeunesse. “Itu tidak berbeda dalam budaya tempat kerja di Google,” tambahnya.
      Dia berpendapat bahwa karena pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin menyerahkan operasi perusahaan kepada para eksekutif yang digaji, maka semangat mencari keuntungan lebih besar daripada bertahan pada prinsip-prinsip yang semula diutamakan.
×
×
  • Create New...