Jump to content
BisaJadi

Apa itu Badan Siber dan Sandi Negara

Recommended Posts

BSSN.thumb.png.d945fed777088b1b2f5497b7610a5971.png

Apa itu BSSN?

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) adalah lembaga teknis non-kementerian yang didirikan pada 2017.

Presiden Jokowi telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) No. 133 tahun 2017 tentang Perubahan atas Perpres No. 53 tahun 2017 tentang Badan Siber dan Sandi Negara pada 16 Desember 2017.

BSSN bukan merupakan lembaga baru yang dibentuk, namun merupakan revitalisasi Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) dengan tambahan Direktorat Keamanan Informasi, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo)

Apa saja tugas BSSN?

Selain membangun ekosistem ranah siber Indonesia yang kuat dan ama, BSSN juga menjadi penyelenggara dan pembina persandian negara dalam menjamin keamanan informasi, utamanya yang berklasifikasi milih pemerintah atau negara, dengan tujuan untuk menjaga keamanan nasional.

Apa saja fungsi BSSN?

BSSN berfungsi untuk mendeteksi, mencegah, dan menjaga keamanan siber, mengingat banyak aksi-aksi kejahatan yang memanfaatkan dunia maya dalam beberapa waktu ke belakang.

BSSN memiliki sejumlah fungsi, di antaranya:

  • Identifikasi, deteksi, proteksi dan penanggulangan e-commerce
  • Persandian
  • Diplomasi siber
  • Pusat manajemen krisis siber
  • Pemulihan penanggulangan kerentanan, insiden dan/atau serangan siber

Apakah membasmi hoax termasuk di dalamnya?

Ya, tapi bukan itu saja. Termasuk juga pelaksanaan seluruh tugas dan fungsi di bidang keamanan informasi, pengamanan pemanfaatan jaringan telekomunikasi berbasis protokol internet, dan keamanan jaringan dan infrastruktur telekomunikasi.

Kepada siapa Kepala BSSN akan melapor?

BSSN berada langsung “di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden”.

Awalnya, sebelum perubahan Perpres No. 53 tahun 2017, disebutkan Kepala BSSN bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam).

Bagaimana struktur lembaga BSSN?

Kepala BSSN akan dibantu oleh sekretariat utama dan empat deputi, yaitu:

  • Deputi Bidang Identifikasi dan Deteksi
  • Deputi Bidang Proteksi
  • Deputi Bidang Penanggulangan dan Pemulihan
  • Deputi Bidang Pemantauan dan Pengendalian

BSSN akan diisi oleh tenaga profesional dari Badan Intelijen Negara (BIN), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian.

Share this post


Link to post
Share on other sites
Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By dugelo
      Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Bambang Heru Tjahjono mengatakan, isu keamanan siber menjadi hal sangat penting dalam era ekonomi digital.
      Dalam Seminar dan Workshop Cybersecurity Capacity in Indonesia di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta pekan lalu, Bambang berkata hal ini harus diantisipasi oleh pemerintah untuk menghadapi perkembangan teknologi informasi yang tidak bisa dibendung.
      “Tentunya risiko ini yang harus kita hadapi berikutnya ke depan. Pemerintah sudah membuat dan menjalan roadmap tersebut di era online dan era digitalisasi serta antisipasi informasi-informasi dari luar," kata Bambang seperti dikutip dari situs web resmi Kemkominfo.
      Dalam hal layanan kendaraan panggilan berbasis aplikasi, misalnya, harus dilihat aspek keamanan datanya untuk melindungi data konsumen.
      Bukan hanya dari sisi jasa kendaraan panggilan, layanan berbasis aplikasi juga semakin luas pemanfaatannya di bidang pemesanan hotel, kesehatan sampai apotek.
      "Kalau itu semuanya online maka kita harus mengantisipasi yang terkait dengan keamanan data. Begitu juga meningkatnya konsumen internet ke depan,” kata Bambang.
      Sejauh ini, untuk menjaga keamanan data itu pemerintah memiliki UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelengaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE).
      Khusus UU ITE akan direvisi dan diharapkan rampung tahun ini. Sementara PP PSTE dilaporkan bakal segera direvisi karena tak sehalan dengan irama industri yang kompetitif.
    • By berita_semua
      Petugas memeriksa jaringan base transceiver station (BTS) milik Telkomsel di BTS Bangkalan, Madura, Jawa Timur
      Telkomsel mengatakan setidaknya menganggarkan Rp 100 miliar per tahun untuk mengamankan jaringan seluler dan Internet yang dipakai oleh para pelanggannya.
      Perusahaan operator seluler terbesar itu merasa butuh memberi jaminan keamanan di tengah tren perangkat mobile dan ponsel pintar yang telah menjadi alat yang sifatnya sangat personal.
      "Di atas Rp 100 miliar per tahun. Setiap kali belanja kita besar sekali untuk keamanan," ungkap Ariyanto Setyawan, Network Security Management Telkomsel,  di sela acara Simposium Nasional Cyber Security 2015 di Jakarta, Kamis (4/6).
      Ia menjelaskan, sumber atau motif serangan siber yang ditujukan kepada pelanggan seluler semakin banyak, bisa melalui virus bot ataupun program jahat yang mencuri data pelanggan.
      Si peretas juga bisa melakukan kejahatan siber dengan cara menyebarkan pesan teks atau SMS broadcast ilegal yang isinya bersifat ajakan untuk melakukan transaksi penipuan, macam modus "Mama Minta Pulsa," atau pengelabuan berupa tautan yang sebenarnya adalah jebakan untuk menyisipkan malware ke perangkat konsumen.
      "Kita sekarang ini mencoba meningkatkan kesadaran keamanan ke pelanggan. Serangannya sudah sangat banyak, bisa dibilang setiap detik ada," tutur Ariyanto.
      Ia tak menyebutkan jumlahnya karena baginya angka itu bersifat relatif, namun ia menekankan kejahatan siber bisa menyebabkan kerugian miliaran rupiah per harinya.
      Ia pun mengungkapkan kekhawatiran pada para pengguna ponsel pintar bersistem operasi Android yang menjadi target para penjahat siber. Sudah menjadi nasib sebuah sistem operasi yang banyak digunakan, seperti Windows dari Microsoft, bakal jadi sasaran empuk peretas.
      Direktur perusahaan antivirus Vaksincom, Alfons Tanujaya mengatakan, sekitar 70 persen pengguna ponsel Android di Indonesia masih kurang peduli soal keamanan siber. Padahal, ada banyak kejahatan yang mengancamnya.
      "Populasi pengguna Android di Indonesia sangat besar. Sayangnya tingkat kesadaran mereka mengenai keamanan peranti lunak masih sangat rendah," kata Alfons.
      Ia menyarankan agar para pengguna ponsel pintar Android memasang peranti lunak antivirus untuk meminimalkan risiko diretas, juga tidak mengunjungi situs web yang tidak jelas pengelolanya, termasuk situs web pornografi yang menjadi gudang program jahat.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy