Jump to content
ega

Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan Saat Pitching ke Calon Investor

Recommended Posts

Melihat maraknya startup yang tumbuh dan berkembang di dunia digital memancing para Startup Enthusiast untuk membangun startup milik mereka. Setiap Founder pasti pernah merasakan jatuh saat membangun startup. Sebut saja Nadiem Makarim, Founder GOJEK yang dulu pernah 3 kali gagal sebelum GOJEK dikenal seperti sekarang ini. Sebagai seorang Founder ia pun mengaku pernah merasakan keliling untuk pitching ke para calon Investor pada masa awal GOJEK didirikan.

Namun, apakah semua Founder dapat memiliki kesempatan yang sama di depan para calon Investor? Jika tidak, apa saja yang menyebabkan mereka gagal menarik perhatian para calon Investor?

Menurut Raditya Pramana, Partner di Venturra Discovery ada 5 kesalahan umum yang sering dilakukan saat melakukan pitching ke Calon Investor.

01. Fokus di fundamental

Di depan calon Investor, kamu harus siap untuk menjelaskan apa yang sudah dicapai, apa yang sedang dilakukan, dan apa target bisnis kalian kedepannya karena performance dari bisnis tersebut yang nantinya akan dilihat oleh para calon Investor.

02. Hindari Over-Promising ke Investor

Banyak yang memberikan janji hasil yang muluk untuk Investor. Sedangkan yang dilihat calon Investor bukan itu. Seimbangkan target bisnis yang terjangkau, sehinggal believable untuk calon Investor.

03. Datang dengan mindset: Kalian ingin mencari Partner

Datanglah bukan dengan mindset seperti ingin mencari kerja, tapi lebih untuk menjadi Partner. Diskusikan layaknya kamu berdiskusi dengan partner.

04. Ketahui yang Investor inginkan

Sebelum para calon Investor menyampaikan apa yang mereka inginkan, kamu harus lebih dulu mengetahui apa yang mereka inginkan. Hal ini dapat diketahui dengan research perusahaan itu terlebih dahulu.

05. Hindari Buzz Words

Gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti oleh orang awam. Daripada menggunakan kata AI, Machine Learning, dan lainnya, lebih baik gunakan kalimat yang menjelaskan kata-kata tersebut.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By BincangEdukasi
      Branding pada dasarnya adalah sebuah usaha yang masuk dalam strategi marketing. Banyak sumber yang menyebutkan bahwa brand adalah nama, logo, simbol dan hal lainnya yang bisa mengidentifikasikan sebuah bisnis. Branding tidak hanya penting untuk bisnis konvensional, tetapi juga startup, yang notabene merupakan perusahaan rintisan pun perlu merancang strategi branding mereka. Tujuannya untuk lebih cepat mengenalkan perusahaan, baik untuk layanan yang diberikan atau sebagai sebuah bisnis yang layak dikenal.
      Startup punya banyak tugas penting di awal perjalanannya. Mencari pengguna potensial, memberikan produk berkualitas, dan mencoba memahami kondisi pasar adalah beberapa hal penting yang jangan terlewatkan. Salah satu tindakan pelengkap untuk mendongkrak pertumbuhan bisnis startup perlu strategi marketing, mulai dari memanfaatkan media sosial untuk promosi hingga membangun branding dari sejak awal. Seperti memilih nama domain, logo, warna dan identitas lainnya yang bisa “nempel” di pikiran masyarakat.
      Logo dan website mungkin jadi sesuatu yang fundamental dalam usaha membangun brand, tetapi lebih dari itu mempresiapkan kapan, bagaimana, hingga ke siapa Anda memasarkan produk Anda adalah bagian tak tergantikan dari strategi membangun brand. Semuanya harus diperhitungkan dan disusun sejak awal untuk mengirimkan pesan ke orang yang tepat di waktu yang tepat. Semua itu kemudian dilengkapi sesuatu yang terlihat mudah tapi butuh perjuangan, yakni konsistensi.
      Membangun brand penting bagi startup
      Tujuan branding adalah untuk membuat menyampaikan pesan ke masyarakat dan pengguna baik melalui materi pemasaran atau melalui logo dan nama yang dipilih. Di sisi lain startup butuh kesemaptan untuk dikenal, dan dilihat oleh banyak orang untuk membuka kesempatan lebih banyak dikenal oleh masyarakat. Membangun brand bagi startup sama halnya berinvestasi untuk meningkatkan “keterlihatan”, dan menempatkan posisi di masyarakat sebagai sesuatu yang diingat. Di samping itu brand juga jadi jalan yang tepat untuk menyampaikan value ke masyarakat.
      “Brand Anda adalah apa yang orang lain katakan tentang Anda saat Anda tidak berada di dalam ruangan.”
      Demikian kutipan populer Founder Amazon Jeff Bezos yang pernah ia sampaikan pada acara TEDGlobal 2012. Sebuah gambaran sederhana tentang brand yang bisa diaplikasikan untuk personal maupun brand sebuah produk atau bisnis.
      Apa yang perlu dipersiapkan
      Branding bisa disebut juga upaya untuk menyampaikan pesan dan mengenalkan sebuah produk atau bisnis. Sebelum jauh merencanakan strategi branding ada beberapa hal yang harus disiapkan, seperti menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :
      Apa misi perusahaan Anda? Apa manfaat dan fitur yang ada di produk atau layanan Anda? Apa yang pengguna dan pengguna potensial pikirkan tentang perusahaan Anda? Kualitas apa yang Anda ingin mereka (pengguna) kaitkan tentang perusahaan Anda? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan menuntuk Anda membuat nilai-nilai yang ingin Anda berikan melalui branding. Untuk memulai branding ada beberapa hal yang perlu disiapkan, seperti:
      Nama perusahaan. Nama perusahaan di era digital berikaitan erat dengan pemilihan nama domain. Nama harus menjadi sebuah penanda yang menggambarkan seperti apa perusahaan Anda, atau paling tidak bisa menggambarkan di bidang apa perusahaan Anda beroperasi. Pemilihan nama selain memperhatikan arti juga sangat memperhatikan penggunaan nama yang sama oleh perusahaan sejenis atau bahkan diasosiasikan dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan maksud dan gambaran perusahaan Anda.
      Logo. Logo ada penggambaran visual dari maksud dan makna perusahaan. Buatlah logo yang bisa ditempatkan di mana saja. Logo yang bisa ditempatkan di mana saja akan sangat berguna untuk berbagai macam strategi marketing.
      Pesan yang ingin disampaikan. Siapkan pesan-pesan yang ingin dikomunikasikan dengan para pelanggan. Ini termasuk juga jawaban dari pertanyaan yang telah disusun sebelumnya.
      Desain dan tagline. Siapkan kalimat tagline yang mudah diingat dan mewakili produk atau bisnis Anda. Hal yang sama juga berlaku untuk desain, gunakan warna, peletakan logo dan sesuatu yang sesuai dan mewakili.
      Konsisten. Kunci dari branding dan segala strategi yang dirancang adalah konsistensi. Mulai dari konsistem mengkomunikasikan nilai-nilai hingga konsisten menggunakan warna, pola dan tagline.
    • By satpam
      Ada banyak cerita-cerita sukses startup yang dibagikan. Dari sana kita yang ingin menjalankan sebuah bisnis bisa mengambil beberapa teori atau mencoba mengulang langkah yang sama untuk mencapai kesuksesan yang sama. Berikut ini rangkuman mengenai kutipan-kutipan Y Combinator yang mungkin bisa memberikan wawasan atau pelengkap rencana Anda yang sedang mencari cara bagai mana memulai sebuah bisnis.
      Buat sesuatu yang mudah untuk dibicarakan
      Memberikan solusi dan populer. Dua kata yang coba diusahakan startup pada tahap awal. Bagi Anda yang sedang dalam tahap mencari masalah, atau menulis ide untuk bisnis bisa dicoba untuk mencari sesuatu solusi yang mudah menjadi buah bibir, tentu dalam arti yang positif. Sebuah solusi yang memicu semua orang membicarakan solusi Anda karena manfaat dan kemudahan yang ditawarkan.
      Dapatkan pengguna secara manual
      Banyak layanan pemasaran yang menawarkan solusi mudah untuk menawarkan produk atau solusi Anda kepada masyarakat. Namun jika Anda masih di tahap awal tidak ada salahnya untuk mencari pengguna secara manual dan konvensional. Temui orang yang ada di coffee shop, kedai, atau kerumunan. Perkenalkan aplikasi Anda. Cari tahu apakah apa yang Anda buat bisa diterima oleh mereka. Jika penolakan terjadi karena solusi Anda kurang menarik Anda sudah harus khawatir. Coba pikirkan ulang, coba desain ulang, dan temukan umpan balik jika pengguna pertama Anda menerima produk atau ide Anda.
      Pahami apa yang sedang dikerjakan
      Sebelum benar-benar mengeksekusi sebuah ide kita selalu punya gambaran besar mengenai ide tersebut. Semacam roadmap yang nantinya menghantarkan ke satu tujuan. Jika Anda sedang memulai ada baiknya  Anda tetap pada roadmap awal. Jika pun ada penyesuaian paling tidak tujuan tidak bergeser terlalu jauh. Hal ini penting untuk memastikan Anda untuk mengerjakan sesuatu yang jelas dan benar-benar dikonsep dari awal. Menghindari dari mengerjakan sesuatu yang tidak pasti.
      Investasi untuk membangun tim yang solid
      Menjalankan dan mengembangkan startup tidak bisa sendirian. Membangun sebuah tim adalah salah satu cara untuk membagi beban dan tanggung jawab sekaligus mengakselerasi progres untuk segera mencapai tujuan. Untuk hal membangun tim tidak ada salahnya berinvestasi lebih di sana. Mencari orang-orang hebat sesuai keahlian yang dibutuhkan perlu investasi yang tidak sedikit.
      Beri kesempatan ide untuk berkembang
      Perubahan mungkin salah satu hal yang konstan dalam dunia bisnis. Ide luar biasanya berevolusi. Perpaduan dari ide sederhana yang kemudian berkembang dengan masukan dan solusi lain yang ditemukan dari cerita dan komentar dari pengguna. Atau dari pemikiran dan pendekatan lain yang dilakukan. Yang perlu digarisbawahi adalah berikan ruang ide untuk berkembang menjadi sesuatu yang lebih baik.
    • By satpam
      Setelah 12 tahun meninggalkan kampus, Mark Zuckerberg menjadi tamu kehormatan saat acara kelulusan mahasiswa Universitas Harvard angkatan 2017. Dalam pidatonya di hadapan lulusan tahun 2017, Zuckerberg menyampaikan beberapa poin penting yang relevan terkait dengan teknologi hingga tren entrepreneur saat ini.
      Kami merangkum beberapa poin penting yang bisa dicermati calon pelaku startup yang berniat untuk meluncurkan startup atau menjadi entrepreneur.
      Temukan teman sejati
      Salah satu cerita yang disampaikan Zuckerberg adalah bagaimana sulitnya ia menemukan teman baru di masa awal kuliah, namun beruntung ada satu orang yang bersedia untuk mengajak ngobrol hingga akhirnya mengerjakan proyek bersama. Temannya saat itu adalah Kang-Xing Jin yang hingga kini masih bersama Zuckerberg di Facebook.
      Inti dari cerita yang ingin disampaikan oleh Zuckerberg adalah terkadang pertemanan di saat kuliah bisa berujung menjadi rekan bisnis yang loyal. Untuk itu cari tahu siapa saja teman saat kuliah yang cocok dan nantinya bisa diajak bekerja sama ketika Anda berniat membangun perusahaan suatu saat nanti.
      Bangun bisnis untuk alasan yang tepat
      Dalam pidatonya Zuckerberg juga kerap menyebutkan betapa pentingnya alasan yang tepat dan memiliki impact saat membangun bisnis. Sense of purpose menjadi hal yang wajib diterapkan saat Anda ingin membangun startup yang sukses. Bukan hanya memberikan manfaat untuk Anda namun juga orang banyak. Alasan utama atau purpose juga bisa menjadi motivasi ketika Anda mulai merasa kewalahan saat menjalankan bisnis. Menjadi hal yang penting bukan hanya menciptakan peluang dan potensi namun juga menemukan alasan yang tepat.
      Jangan jual startup terlalu cepat
      Saat Zuckerberg mulai mengembangkan Facebook, banyak perusahaan besar yang mulai melirik teknologi serta inovasi yang dimiliki Zuckerberg dan Facebook. Zuckerberg menolak untuk menjual bisnis yang telah ia bangun, demi tujuan yang lebih besar, yaitu menciptakan inovasi dan bermanfaat untuk orang banyak. Upaya Zuckerberg akhirnya mulai menunjukkan hasil dengan diluncurkannya fitur Newsfeed.
      Jika Anda merasa yakin dengan produk atau layanan yang Anda miliki, coba pertahankan terlebih dahulu perusahaan dengan menghadirkan inovasi dan lihat hasilnya, sebelum Anda memutuskan untuk menjual startup.
      Jangan takut membuat kesalahan
      Sebelum Zuckerberg sukses membuat Facebook, ia telah meluncurkan beberapa produk yang tidak terlalu sukses. Tidak menjadi masalah ketika saat memulai startup Anda gagal dan harus mengulang atau menciptakan inovasi yang baru. Selama Anda terus belajar dari kesalahan dan bisa menemukan dengan tepat, produk atau layanan yang tepat dan bakal diminati oleh pasar.
      Perluas wawasan dan terus belajar
      Saat ini teknologi berubah dengan cepat, begitu juga dengan metode, informasi, dan hal-hal penting lainnya yang wajib Anda ketahui. Jangan pernah berhenti belajar, membuka wawasan, dan menggali informasi sebanyak-banyaknya, agar Anda bisa beradaptasi dengan tren dan perubahan teknologi. Pendidikan menjadi faktor pendukung yang wajib diperhatikan setiap saat, agar Anda bisa memiliki wawasan yang cukup untuk memulai usaha hingga menjalankan bisnis setiap hari.
    • By berita_semua
      Ketika kamu memiliki sebuah ide besar dan ingin mewujudkannya, apa yang pertama kali harus kamu lakukan? Pertama, kamu dapat membuat prototipe dan melakukan validasi awal kepada pengguna. Ketika prototipe tersebut mendapatkan traksi yang positif, maka kamu akan membutuhkan modal lebih dari investor. Di sini sebuah pitch deck dan presentasi yang bagus di depan investor dapat membuat banyak perbedaan.
      Lalu, apa sih sebenarnya pitch deck itu? Pitch deck adalah sebuah presentasi singkat berbentuk slide yang memberikan audiens informasi umum tentang bisnis yang akan atau sedang kamu jalani. Pitch deck biasanya berbentuk rangkuman dari seluruh aspek bisnis kamu untuk mempermudah penyampaiannya — bahkan Steve Jobs dalam presentasinya hanya menggunakan gambar tanpa ada kalimat apa pun.
      Salah satu bagian tersulitnya adalah kamu akan mempunyai waktu yang sangat terbatas untuk menyampaikan gambaran ide kamu kepada investor. Di saat yang sama kamu juga tetap harus menjaga agar aspek bisnis yang penting tidak terlewat. Tapi pertanyaannya adalah, apakah kamu tahu apa yang investor cari di presentasi pitch deck kamu?
      Industri startup telah memiliki standar tersendiri yang menjadi acuan para investor untuk melihat, manakah deck yang baik dan mana yang tidak. Tentu saja kamu dapat membuat pitch deck kamu sendiri dari ide yang bermunculan di kepala kamu, tapi seperti orang bijak katakan “Belajar dari kesalahan dan keberhasilan orang lain”.
      Kali ini, Tech in Asia Indonesia telah mengumpulkan beberapa contoh pitch deck startup yang bisa kamu gunakan sebagai acuan. Kami menyusun daftar ini dengan mengambil contoh startup yang sudah menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia sampai kepada startup yang baru agar tetap relevan.
      Kamu bisa melihat contoh pitch deck dalam format slide via SlideShare di bawah ini.
      BrandBoards
       
      Lokasi: Palo Alto, California
      Industri: Web Development, Advertising, News
      Karyawan: 1-10
      Para pemilik merek besar dari seluruh dunia kini rela untuk membayar lebih banyak untuk ruang iklan virtual, tidak peduli apakah itu televisi atau internet. BrandBoards menyajikan kepada para pemasang iklan sebuah cara terpadu, yang tidak hanya memperlihatkan ketersediaan ruang iklan, namun juga menyuguhkan titik iklan mana yang memang benar-benar terbukti efektif untuk merek secara spesifik.
      Ide ini muncul dari pemikiran sang founder Tim Schoen, seorang figur yang juga cukup terkenal di dunia olahraga. Sebelum bergabung dengan BrandBoards, ia adalah Executive VP dari Sports and Entertainment. Di perusahaan inilah ia mendapatkan ide untuk membuat BrandBoards.
      BrandBoards kini telah ada dalam tahap pematangan kontrak dengan dua belas tim olahraga. Saat ini, BrandBoards masih membutuhkan sekitar US$750 ribu (sekitar Rp10 miliar) untuk mewujudkan produk mereka.
      Sorotan utama: Dengan anggota tim yang memiliki pengalaman di dunia olahraga, BrandBoards menyajikan sebuah metode menarik tentang pemanfaatan iklan yang mungkin tidak semua orang mengetahuinya. Dengan solusi yang mereka punya, BrandBoards berusaha untuk memanfaatkan celah ini dan memaksimalkannya agar tidak ada anggaran iklan yang terbuang percuma.
      MapMe
       
      Lokasi: Herzliya, Tel Aviv
      Industri: Crowdsourcing, Internet
      Karyawan: 1-10
      Kamu masih menggunakan kertas untuk menggambar peta? Ayolah, ini tahun 2017. Dengan MapMe, kamu dapat menggambar peta di mana saja dan kapan saja, bahkan tanpa kemampuan coding sedikitpun. Peta yang telah kamu buat dapat diakses di smartphone, tablet, dan komputer.
      Peta yang dibuat dapat diklasifikasikan agar dapat digunakan oleh pengguna lain. Apakah peta tersebut adalah rute hiking, rute balap offroad, atau rute downhill, MapMe memiliki fitur untuk dapat menyertakan kategori tertentu untuk membagi hasil pencitraan kamu kepada pengguna lain. MapMe juga dapat digunakan oleh para pilot dalam menentukan rute terbaik untuk penerbangan mereka.
      Sorotan utama: Untuk menarik perhatian investor, MapMe menyertakan berbagai peluang model bisnis yang dapat diterapkan di dalam produk mereka. Ragam peta yang ditampilkan dalam pitch deck mereka juga menarik calon pengguna baru untuk menambah koleksi yang ada. Lebih banyak pengguna = peluang monetisasi yang lebih besar.
      Pinmypet
       
      Lokasi: Brazil, Rio de Janeiro
      Industri: Hardware, Software, Mobile Apps
      Karyawan: 11-50
      Pinmypet adalah sebuah perangkat yang disematkan pada kalung hewan peliharaanmu. Perangkat ini akan mendeteksi lokasi binatang kesayanganmu dan melacak apa saja yang mereka lakukan di mana saja, kapan saja.
      Aplikasi ini akan memudahkan kamu untuk mengetahui keberadaan hewan peliharaan kamu, terutama ketika mereka hilang. Selain itu, perangkat ini juga dirancang untuk mencatat data kesehatan hewan peliharaan kamu. Jadi seluruh informasi tentang binatang peliharaanmu akan mudah diakses melalui smartphone kamu.
      Sorotan utama: PinMyPet tidak menggunakan banyak teks dan penjelasan yang tidak perlu. Sebaliknya, mereka menggunakan gambar dan statistik yang perlu diketahui serta relevan dengan produk yang mereka tawarkan.
      Tealet
       
      Lokasi: Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat
      Industri: Ecommerce dan Marketplace
      Karyawan: 1-10
      Tealet adalah sebuah marketplace tempat para petani teh menjual hasil panen mereka dan menukarnya dengan mata uang bitcoin. Melalui Tealet, para petani teh ini akan terhubung langsung dengan para peritel serta penjual besar. Tealet berperan sebagai platform dagang transparan yang memberikan layanan online marketing yang optimal, pengiriman internasional, serta pembayaran dengan mudah dan aman melalui cryptocurrency.
      Tealet hadir untuk memberikan solusi yang lebih transparan bagi para petani untuk memilih pembeli dengan harga yang mereka kehendaki. Peritel dan penjual besar juga dapat memutuskan sendiri kualitas teh yang ingin dibeli dari petani.
      Sorotan utama: Pitch deck yang dimiliki oleh Tealet adalah salah satu yang memiliki desain terbaik di antara pitch deck lainnya. Dengan nuansa daun teh yang menenangkan serta berbagai informasi lengkap tentang permasalahan yang terjadi di industri, Tealet secara langsung telah menyatakan solusi mereka: menghadirkan solusi terbaik demi kesejahteraan para petani teh.
      Airbnb
       
      Lokasi: Amerika Serikat
      Industri: Marketplaces, Hotels & Accomodation
      Karyawan: 1001–5000
      Airbnb dirintis pada tahun 2008 oleh Joe Gebbia, Brian Chesky, dan Nathan Blecharcyk. Pitch deck yang satu ini menjadi referensi yang paling populer di kalangan entrepreneur dunia ketika Airbnb berhasil memenangkan pendanaan sebesar US$600 ribu (sekitar 7,8 miliar) dari Sequoia Capital dan Y Ventures.
      Kini, perusahaan ini telah menjadi raksasa di industri travel, dengan nilai valuasi sebesar US$20 milyar (sekitar Rp260 triliun) pada awal 2015 lalu.
      Sorotan utama: Yang menarik di sini adalah cara Airbnb untuk menjelaskan model bisnis mereka dalam satu kalimat. Terkadang model bisnis bisa sedikit sulit jika harus dijelaskan dalam satu kalimat, tetapi sebisa mungkin buatlah sebuah punchline yang akan terngiang-ngiang di benak investor dan pengguna kamu.
      Apabila investor dan pengguna dapat mengerti mengerti apa yang kamu lakukan dengan cepat maka kamu sudah satu langkah lebih maju untuk mewujudkan bisnis kamu.
      Facebook
       
      Lokasi: Amerika Serikat
      Industri: Communities, Social Networking
      Karyawan: 10000+
      Pada tahun 2004, pitch deck inilah yang digunakan oleh pemuda berumur 21 tahun bernama Eduardo Saverin untuk meyakinkan investor agar mereka mau menanamkan uang di thefacebook.com, yang dirintis Eduardo bersama temannya, Mark Zuckerberg.
      Kini, siapa yang menyangka bahwa Facebook adalah salah satu perusahaan yang paling sukses abad ini. Format pitch deck seperti ini mungkin terbilang tua dan kurang relevan lagi, tetapi beberapa poin dapat menginspirasimu untuk membuat pitch deck yang baik.
      Sorotan utama: Facebook belum dapat menampilkan revenue traction (pertumbuhan pendapatan yang sehat), karena Mark dan Eduardo memang belum mendapatkan uang dari The Facebook. Tetapi, mereka memiliki angka user engagement, customer base, dan growth metrics yang luar biasa. Statistik inilah yang menjadi “senjata utama” mereka dalam menarik investor.
      BuzzFeed
       
      Lokasi: Amerika Serikat
      Industri: News, Digital Media
      Karyawan: 1300+
      Delapan tahun lalu, BuzzFeed hanyalah sebuah startup kecil beranggotakan lima karyawan yang bekerja di salah satu kantor di Chinatown, New York. Kini perusahaan ini telah memiliki lebih dari 1300 karyawan dan dikunjungi oleh lebih dari 200 juta pengguna setiap bulannya. BuzzFeed berhasil menjadi salah satu pemain besar di industri media digital.
      Pitch deck inilah yang membuat BuzzFeed sukses “mencuri” hati para investor. Apabila model bisnis startup yang kamu rintis memiliki kesamaan dengan BuzzFeed, mungkin kamu dapat terinspirasi dari pitch deck mereka.
      Sorotan utama: BuzzFeed berani untuk menyajikan jumlah pageview dan impresi yang mereka dapatkan untuk menarik perhatian investor. Investor menyukai startup dengan visi yang ambisius, namun tentunya kamu juga harus bisa menjelaskan bagaimana strategi kamu untuk mencapainya.
      Foursquare
       
      Lokasi: Amerika Serikat
      Industri: Communities, Social Networking
      Karyawan: 180+
      Foursquare adalah sebuah perusahaan teknologi yang memanfaatkan lokasi pengguna untuk membangun sebuah user experience yang unik. Dirintis pada tahun 2009 oleh Naveen Selvadurai dan Dennis Crowley, perusahaan ini berhasil mendapatkan pendanaan sebesar US$160 juta (sekitar Rp2 triliun) dari para investor kelas kakap seperti Andreessen Horowitz, DFJ Growth, Microsoft, dan Silver Lake Partners.
      Sorotan utama: Foursquare telah memiliki traksi yang cukup baik sebelum mereka bertemu investor, ini mereka buktikan dengan menyertakan screenshot dari sederetan pengguna yang telah aktif berinteraksi di dalam aplikasi.
      Pembuktian ide dalam skala yang lebih kecil sebagai validasi adalah hal yang baik untuk dilakukan sebelum bertemu dengan investor. Jangan segan juga untuk memasukkan testimoni atau pengalaman pengguna di dalam pitch deck kamu.
      Podozi
       
      Lokasi: Nigeria
      Industri: E-Commerce
      Karyawan: Data tidak ditemukan
      Meluncur pada Januari 2015 silam, Podozi adalah salah satu startup e-commerce kecantikan terbesar di Nigeria. Perusahaan ini berusaha untuk menyajikan produk-produk kecantikan untuk para wanita di seantero Afrika dengan lebih dari 5000 varian produk yang mereka hadirkan.
      Untuk dapat memuaskan penggunanya, Podozi menggandeng beberapa brand besar untuk bekerja sama dengan mereka, antara lain: Maybelline, Oriflame, Calvin Klein, dan banyak lagi.
      Kini Podozi telah memiliki nilai valuasi sebesar US$4 juta (sekitar Rp51 miliar).
      Sorotan utama: Podozi tidak perlu membuat sebuah pitch deck panjang lebar dengan jumlah slide lebih dari 10. Dengan pitch deck ini, Podozi berhasil mendapatkan pendanaan dari Savannah Fund. Nama-nama besar yang digandeng Podozi juga menjadi nilai tambah bagi startup ini untuk menarik perhatian para investor.
      Salah satu kekuatan Podozi adalah mereka sudah bekerja sama dengan banyak brand besar. Investor akan tertarik ketika mengetahui bahwa para brand besar atau berpengaruh ingin bekerja sama dengan kamu.
      Buffer
       
      Lokasi: Amerika Serikat
      Industri: Social Networking
      Karyawan: 50
      Dirintis pada Oktober 2010 oleh Joel Gascoigne, Leo Widrich, dan Tom Moor, Buffer membantu penggunanya untuk membagikan konten media sosial secara terjadwal sepanjang hari. Tool ini banyak digunakan oleh para pekerja media sosial untuk mengotomatisasi pekerjaan mereka. Pitch deck ini adalah yang mereka gunakan ketika Buffer berhasil mendapatkan pendanaan sebesar US$500 ribu (sekitar Rp6,5 miliar).
      Kini, Buffer terbilang cukup sukses dan berhasil memperoleh pendanaan hingga US$3 juta (sekitar Rp38 miliar) dalam tiga round pendanaan dari investor besar seperti Collaborative Fund, Angel Pad, dan banyak lagi.
      Sorotan utama: Tidak seperti perusahaan lainnya yang menutup rapat pitch deck mereka kepada khalayak ramai, Buffer memublikasikan deck mereka secara online untuk menginspirasi startup lain. Ini sejalan dengan value yang mereka miliki yakni transparansi.
      Ooomf (kini bernama Crew)
       
      Lokasi: Kanada
      Industri: Marketplace, Outsourcing
      Karyawan: 30
      Dirintis pada Februari 2012 di Montreal, Kanada, Ooomf (yang kini telah bernama Crew) memiliki misi untuk mengubah cara produk digital diciptakan. Ooomf membangun sebuah marketplace online untuk talenta-talenta kreatif, yang akan menjembatani antara kreator dan developer dengan pengguna yang membutuhkan jasa pembuatan aplikasi mobile, situs web, dan brand.
      Dengan pitch deck mereka ini, mereka berhasil mendapatkan pendanaan sebanyak US$2 juta (sekitar Rp26 miliar).
      Sorotan utama: Cara penyajiannya yang simpel dan tanpa terlalu banyak menyajikan tulisan pada presentasinya menjadikan contoh dari Ooomf ini menarik bagi para investor.
      Ketika investor menyadari bahwa keahlian presentasi kamu masih kurang maka mereka akan cenderung melihat pitch deck (karena kamu membosankan). Namun pada saat deck kamu terasa kurang menarik, kamu tetap dapat menarik perhatian mereka dengan kemampuan presentasi kamu. Latihan, latihan, latihan.
      Castle
       
      Lokasi: Amerika Serikat
      Industri: Properti
      Karyawan: 5
      Berbicara tentang penerapan teknologi, industri properti adalah salah satu industri yang terbilang lambat perkembangannya. Karenanya, Castle berusaha untuk menghadirkan inovasi dalam industri ini dengan merancang sebuah platform manajemen properti.
      Solusi ini mempermudah proses jual beli properti, menyaring calon penyewa, penarikan uang sewa, dan fitur unggulan lain yang tak kalah menarik. Castle berhasil mendapatkan pendanaan sebesar US$270 ribu (sekitar Rp3,5 miliar) untuk menjalankan aktifitas bisnis mereka.
      Sorotan utama: Berusaha menarik perhatian investor dengan desain yang bagus, Castle juga berhasil menyajikan informasi apa saja yang dibutuhkan oleh investor untuk menanamkan uang mereka. Prototipe solusi mereka juga mendapatkan traksi yang cukup positif dari penggunanya, menjadikan investasi pada startup ini lebih menjanjikan.
      Sumber: Tech in asia
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy