Jump to content
  • Popular Contributors

    Nobody has received reputation this week.

  • Our picks

    • Ini Enak dan Tidak Enaknya Jadi Menteri
      Joko Widodo dan Ma'ruf Amin resmi terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada periode 2019-2024 dalam Pilpres 2019.

      Setelah pemilihan umum dan berbagai sidang yang menegangkan, kini perhatian masyarakat terfokus pada calon menteri baru dalam kabinet pemerintah 2019-2024.

      Masyarakat penasaran siapa saja menteri yang akan membantu Presiden dan Wakil Presiden terpilih di masa depan.
      • 0 replies
    • Wanita Ini Baru Tau Pekerjaan Suaminya Setelah Suaminya Meninggal
      Seorang wanita menemukan fakta mengejutkan tentang suaminya yang telah dinikahinya selama 64 tahun.

      Kenyataan mengejutkan tersebut bahkan baru diketahuinya setelah sang suami yang bernama Glyn meninggal dunia.
      • 0 replies
    • Kamu Harus Tau Tentang Amnesia
      Apa itu Amnesia?

      Amnesia atau dikenal juga sebagai sindrom amnesik, adalah kondisi yang menyebabkan kehilangan memori. Hal ini meliputi kehilangan informasi, fakta-fakta, dan pengalaman personal. Ada banyak kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan amnesia, seperti dementia, stroke, atau cedera kepala.
      • 0 replies
fhajar

Wiranto Perangi Hoax Pakai UU Terorisme

Recommended Posts

Penyebar-Hoaks-Bisa-Dijerat-UU-Terorisme-Ini-Penjelasan-Wiranto.thumb.jpeg.23e7cc706bb7199096f3783374e9ef52.jpeg

Kepolisian RI tak mempermasalahkan wacana Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto akan menggunakan Undang-Undang Terorisme (UU Terorisme) dalam penanganan terhadap teror berita bohong atau hoaks (hoax). Namun, kepolisian memberikan catatan apabila UU Terorisme itu akan digunakan untuk teror hoaks.

"Kalau diterapkan UU Terorisme, berarti penyebar (hoaks) harus teridentifikasi bahwa dia jaringan teroris. Tapi sangat tergantung konstruksi dan fakta hukum oleh penyidik," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di kantornya, Jakarta Selatan pada Kamis, 21 Maret 2019.

Dedi mencontohkan, terduga teroris Y alias Khodijah yang ditangkap di Klaten, Jawa Tengah. Selain berencana aksi amaliyah atau aksi teror bersama, Khodijah turut mengunggah pesan berisi ancaman kepada polisi. Dalam pesan elektroniknya, dia mengatakan akan membunuh polisi yang sedang bertugas di lapangan. Ancaman itu kemudian bisa dikenakan dengan UU Terorisme.

Sebelumnya, Wiranto menegaskan bahwa penyebaran berita bohong atau hoaks dalam pelaksanaan Pemilu 2019 merupakan tindakan teror. Wiranto pun mewacanakan gunakan UU Terorisme untuk menangani teror hoaks.

"Saya kira hoaks ini teror, meneror psikologi masyarakat. Oleh karena itu, ya kita hadapi sebagai ancaman teror. Segera kita atasi dengan cara-cara tegas, tapi bertumpu kepada hukum," ujar Wiranto usai Rapat Koordinasi Kesiapan Pengamanan Pemilu 2019, di kantornya, Jakarta Pusat, pada 20 Maret 2019.

Apabila dikaitkan dengan pemilu, menurut Dedi, leading sector-nya Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). "Misalkan, pelanggaran atau pidana pemilu, maka diselesaikan oleh Bawaslu," ucap Dedi.

Dedi menambahkan, jika pidana pemilu itu kemudian dilimpahkan ke polisi maka akan diproses oleh Sentra Penegakan Hukum Terpadu atau Gakkumdu.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By keenion
      "Ini kan gak boleh kata broadcast di grup!" kata seorang ibu. Sang anak menimpali, "Hoax itu, Bu."
      Pernah dengar atau alami kejadian serupa? Hoax memang salah satu masalah yang muncul dari era digitalisasi karena ya, siapa sih yang tidak punya smartphone? Kita semua bisa mengakses informasi apapun dengan mudah lewat smartphone.
      Semua informasi ada di genggaman, tapi apakah benar atau tidak informasi tersebut, menjadi tugas kita untuk menyaringnya terlebih dahulu. Hal ini dijelaskan Benny Prawira, SPsi, Ketua Komunitas Pencegahan Bunuh Diri, Into The Light.
      "Ada yang bilang terkait dengan kecerdasan, ada yang bilang nggak juga. Ada yang bilang itu karena belief system kita, jadi kalau kita percaya sama satu hal sama satu sosok hoax itu bener karena itu muncul dari sosok itu," ungkapnya.
      Benny tak menampik ada juga hal lain, misalnya kurangnya kemampuan kita untuk berpikir kritis yang membuat kita jadi mudah 'pusing' melihat informasi secara lebih mendetail dari segala sisi.
      "Seringkali kita juga harus lihat generasi yang lebih tua menganggap berita yang beredar kayak di WhatsApp sama validnya dengan yang disiarkan di TV, padahal nggak. So itu masalah literasi digital lagi," sambungnya.
      "Ada banyak hal yang membuat hoax itu marak banget di Indonesia. Aku nggak percaya itu soal intelligence, tapi ya itu apa yang kita percayai, kemampuan kita berpikir kritis, literasi digital, itu semua yang mempengaruhi semuanya sih," tutupnya.
    • By endut
      Pesulap Limbad dikabarkan meninggal dunia ketika di atas panggung saat atraksi menegangkan. Sang istri, Susi pun membantah tegas kabar itu.
      Star Media Nusantara, manajemen yang menaungi Limbad pun angkat suara atas kabar hoax yang tak bertanggung jawab itu. Lewat media sosial, SMN mengunggah kegiatan Limbad di Manado.
      "Seru banget ya sarapan paginya #MasterLimbad pagi ini #LimbadJalanJalan," bunyi tweet SMN sambil mengunggah foto Limbad, Selasa (24/5/2016).
      Kabar meningga Limbad bermula dari pesan berantai dari pihak yang tak bertanggung jawab. Dalam pesan itu, Limbad dikabarkan meninggal ketika hendak menghentikan kipas angin dengan mulutnya.
    • By davidbo

      Kondisi Jakarta yang diguncang bom ternyata membuat banyak spekulasi dan informasi yang beredar. Dari adanya ancaman bom di beberapa tempat lain, hingga adanya tersangka bermotor yang masih dalam pengejaran beberapa waktu lalu. 
      "Jangan langsung percaya dengan semua berita yang belum dibuktikan kebenarannya," kata psikolog Anna Surti Ariani kepada CNNindonesia.com, Kamis (14/1).
      Nina, panggilan akrab Anna, mengungkapkan bahwa sebenarnya penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya, ini akan memicu kecemasan banyak orang. Dan yang lebih buruknya, hal ini juga akan memicu ketakutan orang. 
      Bisa jadi beragam informasi yang diberikan secara viral ini, punya maksud positif, yaitu agar berhati-hati. Hanya saja, Nina mengungkapkan yang sebaliknya.
      "Kalau belum terbukti kebenarannya, hanya broadcast saja, info ini hanyalah info yang tidak berguna,” tegasnya.
      Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa hal ini juga akan menggiring seseorang mengalami trauma. 
      "Trauma bukan hanya karena dia mengalami, ada di lokasi kejadian saat itu, luka, atau melihat kejadian saja,” ucap Nina. 
      "Tapi sebenarnya melihat, mendengar banyak info dari media sosial atau berita yang belum tentu benar tentang suatu kejadian itu juga akan menimbulkan trauma tersendiri."
      Hal ini, dinilai Nina, mungkin terjadi karena sekarang ini banyak orang ingin punya nilai kalau mereka punya info yang terdepan dan jadi yang pertama. 
      Selain itu, keingintahuan akan sesuatu yang besar dan ingin berbagi kepada orang lain, juga menjadi alasan kalau masyarakat jadi ingin mengunggah atau memberi banyak info. Hanya saja, mereka sendiri tak bisa memberikan informasi yang terverifikasi kebenarannya. 
      Berita yang tak jelas kebenarannya atau hoax ini pada akhirnya hanya akan membuat kecemasan berlebihan. Kecemasan ini akan membuat orang akhirnya tak bisa berpikir jernih, mengambil sikap yang tenang, dan justru takut. 
      "Rasa takut pasti ada, tapi yang dibutuhkan sekarang bukanlah takut dan cemas. Yang kita harus lakukan adalah waspada," ucapnya.
      "Kita harus paham, bahwa memang ada kejadian menakutkan ini, tapi kita juga harus bijak untuk menyaring setiap info yang kita terima."
      Alih-alih menyebarkan berita yang menakutkan, Nina sendiri lebih mengapresiasi penyaluran informasi yang lebih positif. Misalnya, informasi soal lalu lintas dan informasi jalanan yang aman dilalui, informasi jalan yang bisa dilewati, sampai informasi kendaraan umum yang bisa digunakan dengan gratis.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy