Jump to content
  • Popular Contributors

    Nobody has received reputation this week.

  • Our picks

    • Wanita Ini Baru Tau Pekerjaan Suaminya Setelah Suaminya Meninggal
      Seorang wanita menemukan fakta mengejutkan tentang suaminya yang telah dinikahinya selama 64 tahun.

      Kenyataan mengejutkan tersebut bahkan baru diketahuinya setelah sang suami yang bernama Glyn meninggal dunia.
      • 0 replies
    • Kamu Harus Tau Tentang Amnesia
      Apa itu Amnesia?

      Amnesia atau dikenal juga sebagai sindrom amnesik, adalah kondisi yang menyebabkan kehilangan memori. Hal ini meliputi kehilangan informasi, fakta-fakta, dan pengalaman personal. Ada banyak kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan amnesia, seperti dementia, stroke, atau cedera kepala.
      • 0 replies
ginseng

Jangan Tanyakan Terus Kejadian Tsunami Selat Sunda pada Korban

Recommended Posts

229889847_korbantsunamianyer.thumb.jpg.6681b0827e73d3f39dc8f8992f598bdd.jpg

Tsunami Selat Sunda membuat 430 orang meninggal dunia, ribuan orang luka-luka, 159 orang hilang dan 21 ribu orang mengungsi seperti disampaikan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Bisa jadi, salah satu korban adalah saudara, rekan kerja, atau kolega Anda. Memberikan dukungan dan bantuan kepada saudara atau teman yang jadi korban tsunami Selat Sunda adalah hal yang amat baik. Lalu, bagaimana cara membuat mereka nyaman pascabencana dengan apa yang kita lakukan?

Pertama, memberikan bantuan. Selain materi, bisa juga memberikan bantuan psikologis seperti disampaikan psikolog Rena Masri.

Bantuan psikologis bisa dilakukan dengan mengajak teman atau saudara yang sudah memiliki anak mengajak buah hati mereka beraktivitas. Bisa dengan bermain atau membacakan buku yang menarik serta hal-hal lain yang membuat mereka bahagia.

Rena juga mengingatkan jangan menanyakan terus menerus kejadian tsunami Selat Sundakemarin. Hal itu malah berdampak buruk bagi mereka. 

"Jangan terus-terusan tanya kejadian kemarin. Hal ini akan membuat mereka ingat terus kejadian kemarin. Kejadian menakutkan itu akan diingat terus oleh mereka," kata Rena.

Lebih baik, menambah pengalaman-pengalaman membahagiakan bagi mereka. Sehingga, pengalaman yang kemarin bisa 'ditutupi' dan diterima oleh mereka.

Mendengarkan secara aktif

Biasanya orang yang baru saja melewati kejadian bencana ingin bercerita tentang kesedihan atau ketakutannya. Biarkan mereka bercerita dan tugas kita adalah mendengarkan secara aktif.

"Dengarkan saja, yang penting aktif. Misalnya usai dia bercerita, 'Oh iya, lalu gimana perasaan kamu sekarang?'," kata Rena.

Hindari memberikan penghakiman atas tindakan mereka. Lebih baik besarkan hati mereka pascabencana. Jika memang apa yang dilakukan oleh teman atau saudara itu salah, jangan disalahkan saat itu.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By merahputih
      Presiden RI Joko Widowo menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam untuk para korban  tsunami Anyer, Banten, dan Lampung Selatan di Konser HUT ke-35 Slank Indonesia Now di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (23/12/2018) malam.
      Ucapan belasungkawa ini disampaikan presiden Jokowi melalui rekaman video."Saya juga mengajak kepada semua yang hadir, para Slankers untuk mendoakan saudara-saudara kita yang terkena musibah tsunami. Semoga bisa tabah menjalani cobaan ini," ujar Jokowi di dua layar raksasa di atas panggung.
      Tak lupa, Jokowi juga mengucapkan selamat ulang tahun kepada Slank. Jokowi berpesan agar band yang didirikan tahun 1983 ini terus berkarya, meneruskan sumbangsih mereka dengan lirik-lirik yang peduli kepada kebaikan bangsa ini.
      "Mohon maaf saya tidak bisa hadir. Tapi, jangan ragukan dukungan saya untuk Slank," ujar Jokowi mantap.
      Rencananya, di konser ini, Slank akan membawakan lebih dari 30 lagu. Dengan konsep tentang perempuan, sesuai dengan perayaan Hari Ibu, di konser ini, secara khusus mengundang bintang tamu yang semuanya perempuan.
    • By chyntia_irawan
      Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, korban meninggal akibat tsunami di Selat Sunda terus bertambah. Data terbaru pada Selasa (25/12/2018) pukul 13.00 WIB menyatakan, korban meninggal berjumlah 429 orang.
      "429 orang meninggal, 1.485 luka-luka, 154 hilang," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat konferensi pers di Kantor BNPB, Jakarta, Selasa.
      Sutopo juga menyampaikan, 16.082 orang mengungsi akibat tsunami. Korban meninggal terdapat di wilayah Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Pesawaran, dan Tanggamus.
      Sutopo menyatakan, dari data terbaru akibat tsunami disebutkan 882 unit rumah rusak, 73 penginapan rusak, 60 warung rusak, 434 perahu dan kapal rusak, 24 kendaraan roda empat rusak, 41 kendaraan roda 2 rusak, 1 dermaga rusak, dan 1 shelter rusak.
      Pencarian Korban
      Sementara itu, TNI mengerahkan kapal untuk membantu pencarian korban tsunami di Selat Sunda. Penyisiran dilakukan dari wilayah Carita sampai dengan wilayah Sumur bagian selatan, Banten.
      "KRI Torani menyisir wilayah laut dari Labuhan sampai dengan Sumur bagian selatan, untuk menyisir sepanjang pantai untuk menemukan kemungkinan korban yang berada di laut," ujar Kapendam III Siliwangi Kolonel Arh Hasto Respatyo melalui pesan singkat kepada Liputan6.com, Selasa (25/12/2018).
      Tak hanya KRI Torani, TNI Angkatan Laut juga mengerahkan kapal KAL Sanca-815 dari Lantamal III Jakarta, dan dua KAL lainnya dari Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Banten, serta prajurit untuk membantu penanganan korban tsunami Selat Sunda, Minggu 23 Desember 2018.
      TNI AL juga mempersiapkan KRI Teluk Cirebon-543 untuk dikerahkan ke lokasi bencana. Hal tersebut disampaikan Kadispenal Laksamana Pertama TNI Mohammad Zaenal dalam siaran pers.
      "TNI AL mengerahkan sejumlah kapal dan prajurit ke lokasi terdampak tsunami sebagai reaksi awal penanggulangan bencana tersebut," kata dia seperti dilansir Antara.
    • By abas
      Musibah gempa dan tsunami di Donggala dan Palu kini tengah menjadi sorotan. Apalagi jumlah korban jiwa mencapai lebih dari 1.500 orang.
      Banyaknya korban akibat musibah bencana alam biasanya yang menjadi perhatian. Meski sejumlah orang berhasil menyelamatkan diri.
      Beberapa orang yang selamat menceritakan bagaimana mereka bisa selamat di tengah kepungan bahaya bencana tersebut. Terdengar seperti mukjizat dan keajaiban, tapi nyata bahwa orang-orang itu lolos maut dari gempa atau tsunami dahsyat.
      Seperti warga Prancis yang selamat dari gempa dan tsunami Palu, Jean Marc Pareja. Ia menceritakan perjuangan dirinya bersama istri dan seorang teman selamat dari gempa dan tsunami Palu yang terjadi pada 28 September 2018.
      Jean Marc Pareja bersama istrinya, Pascale dan seorang teman bernama Joelle Girey tengah berada di sebuah hotel di Palu saat gempa melanda. Mereka kemudian berlindung di bawah meja restoran. Lalu saat tsunami terjadi, ketiganya mengaku berpegangan pada sebuah pohon.
      Kisah keajaiban bisa selamat dari musibah gempa dan tsunami dahsyat tersebut juga pernah terjadi di sejumlah negara.
      3.000 Siswa yang Selamat dari Tsunami Jepang

      Gempa berkekuatan 9 skala Richter yang memicu tsunami melanda kawasan utara Jepang pada 11 Maret 2011. Peristiwa itu menewaskan lebih dari 15.800 jiwa dan 2.600 orang dinyatakan hilang.
      Namun, hampir 3.000 siswa sekolah dasar dan menengah di Kota Kamaishi, Prefektur Iwate, berhasil selamat dari bencana dahsyat itu. Keajaiban tersebut membawa harapan bagi banyak orang.
      Segera setelah gempa berkekuatan 9 skala Richter mengguncang, para siswa di Kamaishi East Junior High School keluar dari gedung sekolah dan berlari menuju tempat yang lebih tinggi. Respons cepat mereka membuat siswa dan guru di sekolah dasar Unosumai mengikutinya dan membuat penduduk setempat mengikuti langkah tersebut.
      Saat mereka berlari, siswa yang lebih tua membantu mereka yang lebih muda. Secara bersama-sama mereka mencapai lokasi aman, sementara tsunami besar menelan sekolah dan kota.
      Dilansir dari website Kantor Hubungan Masyarakat Pemerintah Jepang, sekitar 1.000 orang di Kamaishi menjadi korban jiwa akibat peristiwa tersebut. Namun hanya lima di antara mereka yang berusia sekolah dan memang tidak berada di sekolah ketika gempa itu terjadi. Kisah evakuasi sukses tersebut dikenal sebagai "the miracle of Kamaishi".
      Faktanya, respons cepat mereka merupakan hasil dari pendidikan pencegahan bencana yang dilakukan sekolah-sekolah di Kamaishi selama beberapa tahun di bawah bimbingan seorang profesor teknik sipil di Gunma University, Toshitaka Katada.
      Katada mulai fokus dalam pencegahan bencana tsunami setelah ia menyaksikan bencana gempa dan tsunami dahsyat yang menimpa Aceh pada 2004. Ia merasa khawatir melihat fakta bahwa tingkat siaga masyarakat masih rendah, meski wilayah pesisir Jepang telah memperingatkan akan gempa bumi.
      Katada ingat betapa terkejutnya ia ketika beberapa anak di wilayah Sanriku yang pernah terdampak dari gempa besar dan tsunami sebelumnya, mengatakan tanpa ragu bahwa mereka tidak akan mengungsi jika orang-orang dewasa di keluarga mereka tidak melakukannya.
      "Anak-anak melihat contoh orang dewasa dan apa yang mereka lakukan. Aku berpikir apabila anak-anak kehilangan nyawa karena tsunami, kesalahan tak hanya harus ditanggung oleh orang tua, tetapi juga orang dewasa dan masyarakat. Saya tahu saya harus melakukan sesuatu, sehingga anak-anak dapat menyelamtkan nyawanya sendiri," ujar Katada.
      Antusiasme Katada menggerakkan para guru di Kamaishi untuk bekerja bersama-sama. Mereka pun melakukan berbagai macam kegiatan di ruang kelas dan aktivitas bagi anak-anak untuk belajar mengenai tsunami dan pentingnya evakuasi.
      Namun Katada tidak hanya memberi informasi mengenai tsunami kepada anak-anak, tapi juga menekankan pada pengembangan sikap yang benar untuk menangani bencana alam. "Ini tentang menghormati alam dengan perasaan kagum, dan menjadi proaktif untuk menyelamatkan nyawa," ujar Katada.
      Untuk memudahkan anak-anak dalam memahami hal tersebut, Katada menciptakan tiga prinsip evakuasi, yakni jangan menaruh kepercayaan terlalu besar terhadap asumsi usang, berusaha sebaik mungkin dalam menghadapi situasi, dan mendorong anak-anak untuk mengambil inisiatif dalam evakuasi apa pun.
      Tersangkut Pohon Bakau Saat Tsunami

      26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 skala Richter menghentikan dia dan temannya yang sedang bermain sepak bola, ia pun berlari mencari Ayahnya Sarbini yang bekerja di sebuah tambak yang tak jauh dari rumahnya. Setelah bertemu, ayahnya meminta ia untuk pulang ke rumah lebih dahulu.
      Sesampai di rumah, Martunis bersama ibunya, Salwa kakaknya, adiknya Nurul A'la dan adik bungsunya, Annisa, berupaya menyelamatkan diri. Mereka menumpang mobil pikap tetangganya.
      Tak seberapa lama kemudian mobil yang ditumpanginya dihantam gelombang raksasa hingga ia terpisah dengan ibu dan 3 saudaranya. Setelah timbul tenggelam dalam pekat gelombang, Martunis kemudian meraih sebuah kasur dan naik ke atasnya. Namun tidak bertahan lama, kasur pun tenggelam, Ia terus berusaha bertahan hingga bergelantungan pada batang pohon yang hanyut.
      Arus pun membawa Martunis berputar-putar hingga dirinya pingsan. Begitu tersadar, ia telah tersangkut di atas pohon bakau di kawasan Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala. "Semuanya rata, saya tak tahu di mana letak kampung saya, yang tampak hanya mayat-mayat," kenang Martunis.
      Martunis bertahan selama 21 hari di atas pepohonan dengan ngelimpangan mayat di sana-sini. Untuk bertahan hidup ia memungut makanan dan air mineral yang terseret gelombang. Matanya berkaca-kaca saat mengisahkan dirinya bertahan dari hempasan gelombang raksasa yang mewewaskan puluhan ribu jiwa itu.
      Pada hari ke-21, 2 pria yang sedang mencari keluarganya di kawasan tersebut menemukan Martunis. Lantas, Martunis diserahkan kepada wartawan Sky News yang saat itu meliput bencana tsunami di kawasan Deah Raya.
      Pemberitaan penemuan Martunis yang menggunakan kostum Portugal menghebohkan dunia dan mengundang simpati. Hingga Cristiano Ronaldo pemain sepak bola timnas Portugal ini juga turut memberikan perhatiannya pada sang bocah.
      Diangkat Anak oleh Cristiano Ronaldo
      Setelah mendapatkan perawatan dan kembali bertemu dengan ayahnya, beberapa bulan kemudian, Martunis diundang khusus ke Portugal bersama ayahandanya, dengan sambutan hangat oleh segelintir bintang sepak bola timnas Portugal.
      "Di Portugal saya diajak jalan-jalan dan bermain bola," tutur Martunis.
      Namun Ibu dan ketiga saudaranya lenyap ditelan gelombang, hingga jasadnya pun tidak ditemukan lagi.
      Ketenaran bocah tsunami ini terus melejit, hingga sederetan orang-orang penting mengundangnya untuk bertemu, seperti halnya Presiden RI saat itu Susilo Bambang Yudhoyono, artis Celine Dion, Presiden FIFA Sepp Blatter dan beberapa bintang sepak bola dunia lainnya.
      Martunis bahkan diundang sebagai tamu kehormatan pada laga Portugal versus Slovakia di Stadion Da Luz, Lisbon, dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2006.
      "Itu menjadi kisah yang luar bisa bagi saya, saya sangat ngembira saat itu," ungkap dia.
      Pada 2013, Cristiano Ronaldo kembali menemui Martinus di Aceh. Ia pun diangkat Ronaldo sebagai anak. Saat itu dirinya sering berkomunikasi dengan Cristiano Ronaldo melalui telepon selular dengan bantuan penerjemah bahasa.
      Minum Air Urine
      Pablo Cordova adalah salah satu yang berhasil lolos dari maut. Ia selamat gempa dahsyat berkekuatan 7,8 skala Richter (SR) mengguncang Ekuador, meski hotel tempatnya bekerja rubuh hingga rata dengan tanah.
      "Mereka sudah mempersiapkan pemakaman saya, lengkap dengan peti matinya. Tetapi saya hidup kembali," kata Pablo saat ditemui awak media di rumah sakit, seperti dikutip dari Belfast Telegraph, 20 April 2016.
      Pablo terkurung di bawah puing-puing, namun ia cukup beruntung karena tidak sampai terjepit reruntuhan bangunan. Ada cukup ruang baginya untuk bergerak.
      Selama kurang lebih satu setengah hari itu, dia bertahan hidup dengan meminum urine atau air kencingnya sendiri. Seraya berdoa agar regu penyelamat menemukannya di balik bongkahan bangunan yang ambruk, sebelum baterai ponselnya habis.
      Alhasil, dia selamat dari bencana alam yang menewaskan lebih dari 480 orang tersebut.
      Segera setelah ditarik keluar oleh regu penyelamat dari Kolombia, Pablo segera menghubungi istrinya pada Senin 18 April 2016 siang.
      Betapa riang sang istri mendengar suaminya masih hidup dan bersuara. Setelah sebelumnya sempat pingsan dan sedih akibat mengetahui sang suami tertimbun reruntuhan hotel bertingkat lima di Portoviejo.
    • By TheKingsArmy
      Cerita ini adalah kisah nyata dan rahasia di balik terjadinya tsunami Aceh dengan kesaksian 400 orang umat Kristen bahwa kisah ini sungguh terjadi...

      Bencana Raya Tsunami Aceh 2004 sudah lama berlalu, tapi tak seorangpun yang akan pernah melupakannya. Prahara itu setara dasyatnya dengan Bom Hiroshima dalam catatan sejarah bumi ini. Sampai kapanpun orang tidak akan pernah lupa pada Tsunami Aceh, dan seluruh umat manusia, keturunan demi keturunan, akan terus mengenangnya.Orang akan tetap mengingatnya sebagai bencana alam terbesar sepanjang zaman modern.

      Tak seorangpun yang akan lupa betapa stasiun-stasiun TV menayangkan video-video mengerikan: mayat-mayat manusia bergeletakan tak berarti di jalan-jalan, di trotoar, di lapangan, di selokan-selokan, tergantung di tiang listrik, di atas pohon dan tempat-tempat lain. Para reporter melaporkan langsung dengan berdiri di sekitar tumpukan mayat berserakan, bagai tumpukan ikan di pasar ikan.
      Tapi adakah yang tahu rahasia besar di balik peristiwa dahsyat itu? Sekaranglah saatnya rahasia itu diungkapkan secara luas, agar menjadi peringatan besar bagi dunia, sama seperti Bahtera Nuh menjadi peringatan akan bengisnya murka Allah atas manusia di jaman itu.
      Berikut ini saya salin dari catatan harian saya dari tahun 2005 lalu.
      “Tadi pagi saya mendengar cerita yang menggetarkan dari tante saya. Beliau adik perempuan ibu saya, yang baru tiba dari Pekan Baru-Riau beberapa hari lalu ke kota ini, untuk meninjau anaknya yang sekolah disini. Cerita itu terlalu mengguncangkan sampai saya merinding mendengarnya dan memutuskan untuk menulisnya disini. Beliau bercerita tentang sebuah peristiwa yang luput dari pers, yang menjadi awal dari bencana besar Tsunami Aceh 2004 lalu”
      Tanggal 24 Desember 2004, sebuah jemaat gereja berjumlah kira-kira 400 jiwa di Meulaboh, Aceh Darussalam, sedang kumpul-kumpul di gedung gereja untuk persiapan Natal, tiba-tiba mereka didatangi segerombol besar massa berwajah beringas. Mereka adalah warga kota, tetua-tetua kota, aparatur pemerintah serta polisi syariat. Massa ini dengan marah mengultimatum orang-orang Kristen itu untuk tidak merayakan Natal. Tetapi pendeta dan jemaat gereja itu mencoba membela diri, kurang lebih berkata:
      “Mengapa Pak? Kami kan hanya merayakan hari besar agama kami. Kami tidak berbuat rusuh atau kejahatan kok. Acara besok untuk memuji dan menyembah Tuhan kok, Pak. Yakinlah, kami tidak akan mengganggu siapapun.”
      Tetapi massa itu tidak menggubris dan kurang lebih berkata:
      “Sekali tidak boleh, ya tidak boleh! Ini negeri Islam! Kalian orang-orang kafir tidak boleh mengotori kota kami ini! Dengar, kalau kami membunuh kalian, tidak satupun yang akan membela kalian, kalian tahu itu!?”
      Tetapi orang-orang Kristen itu tetap berusaha membujuk-bujuk massa itu. Lalu massa yang ganas itu memutuskan begini: “Kalian tidak boleh merayakan Natal di dalam kota. Kalau kalian merayakannya disini, kalian akan tahu sendiri akibatnya! Tapi kalau kalian tetap mau merayakan Natal, kalian kami ijinkan merayakannya di hutan di gunung sana!!”
      Setelah mengultimatum demikian, massa itupun pergi. Lalu pendeta dan jemaat gereja itu berunding, menimbang-nimbang apakah sebaiknya membatalkan Natal saja, ataukah pergi ke hutan dan bernatal disana. Akhirnya mereka memilih pilihan kedua. Lalu berangkatlah mereka ke hutan, di daerah pegunungan. Di suatu tempat, mereka mulia membersihkan rumput dan belukar, mengikatkan terpal-terpal plastik ke pohon-pohon sebagai atap peneduh, lalu mulai menggelar tikar. Besoknya, 25 Desember 2004, jemaat gereja itu berbondong-bondong ke hutan untuk merayakan Natal.
      Perayaan Natal yang sungguh memilukan sekali. Mereka menangis meraung-raung kepada Tuhan, meminta pembelaanNya. Sebagian besar mereka memutuskan menginap di hutan malam itu.
      Lalu pagi-pagi buta sekali, ketika hari masih gelap, istri si pendeta terbangun dari tidur. Ia bermimpi aneh, membangunkan suaminya dan yang lain. Dalam mimpinya itu TUHAN YESUS datang kepadanya, menghiburnya dengan berkata:
      “Kuatkanlah hatimu, hai anakKu. Jangan engkau menangis lagi. Bukan kalian yang diusir bangsa itu, tetapi Aku! Setiap bangsa yang mengusir Aku dan namaKu dari negeri mereka, tidak akan luput dari murkaKu yang menyala-nyala. Bangunlah dan pergilah ke kota, bawa semua saudaramu yang tertinggal disana ke tempat ini sekarang juga, karena Aku akan memukul negeri ini dengan tanganKu!”
      Lalu mereka membahas sejenak mimpi itu. Sebagian orang menganggap itu mimpi biasa, menenangkan si ibu pendeta dengan berkata kira-kira begini: “Sudahlah Ibu, jangan bersedih lagi. Tentulah mimpi itu muncul karena ibu terlalu sedih”. Tetapi sebagian lagi percaya atau agak percaya bahwa mimpi itu memang betul-betul pesan Tuhan. Akhirnya mereka memutuskan mengerjakan pesan seperti dalam mimpi itu. Beberapa orang ditugaskan ke kota pagi buta itu juga untuk memanggil keluarga-keluarga jemaat yang tak ikut bernatal ke hutan.
      Ketika pagi hari, sekitar pukul 7 s/d 8 pagi mereka semua telah berada kembali di pegunungan, mereka dikejutkan goncangan gempa yang dasyat sekali. Tak lama kemudian, peristiwa Tsunami Besar itupun terjadi.
      Sekarang, pendeta gereja yang selamat itu telah pergi kemana-mana, mempersaksikan kisah luar biasa itu ke gereja-gereja di seluruh Indonesia, termasuk ke gereja dimana tante saya beribadah, di Pekan Baru.
      Saya tidak tahu kebenaran cerita tante saya itu, sebab dialah orang satu-satunya yang pernah bercerita begitu pada saya.Itulah sebabnya saya tulis dulu di buku harian ini supaya saya tidak lupa dan supaya bila kelak saya telah mendengar cerita yang sama dari orang lain, barulah saya akan percaya dan akan saya ceritakan kepada sebanyak-banyaknya orang”.
      Saudara dalam Yesus,
      Beberapa waktu lalu, saya teringat pada catatan itu lalu terpikir untuk surfing di internet ini, apakah ada orang lain yang mendengar kesaksian yang sama. jika ada, berarti tante saya itu tidak membual pada saya, dan berarti peristiwa itu benar terjadi.
      Lalu apa yang saya temukan? Saya BENAR-BENAR menemukannya setelah dengan susah payah membuka-buka banyak situs. Salah satunya saya temukan di pedalaman salib.net.
      Itulah sebabnya catatan harian itu saya publikasikan di blog ini untuk saudara publikasikan lebih luas lagi ke seluruh dunia. Biarlah seluruh dunia tahu bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah satu-satunya Tuhan dan Ia sungguh-sungguh HIDUP!
      Haleluyah!!
      Sumber: http://yehudaministry.blogspot.com/2013/07/kesaksian-rahasia-besar-dibalik-tsunami.html
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy