Jump to content
  • Our picks

    • Agar Tidak Kecanduan Media Sosial
      Media sosial yang pada awalnya hanya bisa digunakan melalui komputer atau laptop, sekarang lebih banyak yang mengaksesnya melalui ponsel.
      • 0 balasan baru
    • Firefox Kembali Tingkatkan Keamanan Data Pengguna
      Firefox melanjutkan peningkatan layanan Firefox Monitor. Browserbesutan Mozilla itu akan memberikan notifikasi langsung kepada pengguna jika situs web yang dikunjung mengalami gangguan keamanan.
      • 0 balasan baru
    • Gaji Pilot Lion Air JT-610 Tercatat Hanya Rp3,7 Juta
      Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, Agus Susanto mengungkap besaran gaji dari pilot Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang sebesar Rp3,7 juta per bulan. Sementara Co-Pilot sebesar Rp 20 juta.
      • 0 balasan baru
    • Lari hingga Minum Urine, 3 Kisah Keajaiban Korban Selamat Gempa dan Tsunami Dahsyat
      Musibah gempa dan tsunami di Donggala dan Palu kini tengah menjadi sorotan. Apalagi jumlah korban jiwa mencapai lebih dari 1.500 orang.

      Banyaknya korban akibat musibah bencana alam biasanya yang menjadi perhatian. Meski sejumlah orang berhasil menyelamatkan diri.

      Beberapa orang yang selamat menceritakan bagaimana mereka bisa selamat di tengah kepungan bahaya bencana tersebut. Terdengar seperti mukjizat dan keajaiban, tapi nyata bahwa orang-orang itu lolos maut dari gempa atau tsunami dahsyat.
      • 0 balasan baru
    • Cara Ngakalin Iklan Facebook Biar Murah
      Biaya iklan adalah hal yang sangat diperhatikan oleh semua marketing. Bahkan perincian yang detail dengan konversi ke dampak yang dihasilkan adalah rutinitas wajib para marketer ataupun pebisnis ketika beriklan.
      • 0 balasan baru
dugelo

Pilih mana: Masa Depan Tanpa Kerja atau Penuh Kerja?

Recommended Posts

Bayangkan bagaimana orang kaya hidup hari ini, ujar Hal Varian, ekonom utama di Google. Mereka punya supir sendiri. Bankirnya sendiri. Hidupnya serba dilayani dan bagaikan mimpi. Inikah pula yang kamu idamkan?

Demikianlah, cara mudah membayangkan membayangkan masa depan menurut Varian: Di masa mendatang, pekerjaan-pekerjaan akan dituntaskan oleh robot. Rutinitas-rutinitas yang menyita waktu dan menyiksa akan diambil alih mereka sementara manusia akan memiliki semakin banyak waktu untuk dihabiskannya sendiri.

Perjalanan mereka akan disetiri oleh kendaraan dengan kecerdasan buatan. Setiap orang akan memiliki sistem yang bekerja mengurusi tetek bengek yang menguras waktu dan tenaganya.

Masa depan yang menyenangkan? Masa depan yang sudah tak terlalu jauh lagi, Varian percaya.

Inovasi sudah terjadi tapi…

Persoalannya, inovasi-inovasi teknologi serta pengorganisasian kerja sebenarnya sudah sejak lama memangkas berbagai kewajiban kerja yang kita perlukan. Sejak kapan telepon genggam kita berubah menjadi perkakas serba bisa?

Apakah 2005 yakni sejak Blackberry serta Blackberry Messenger diperkenalkan dan memudahkan kebutuhan-kebutuhan komunikasi Anda? Apakah sejak iOS, Android diperkenalkan dan segala ragam aplikasi pengatur hidup tersedia dalam genggaman tangan?

Yang pasti, berkatnya Anda kini tidak perlu lagi merepotkan diri mengirim dokumen-dokumen lewat pos.Anda tidak harus lagi mendatangi orang dan bergelut dengan kemacetan ketika detail pekerjaan dapat diterangkan melalui surel, pesan WhatsApp, atau panggilan video.

Dan setiap saat, aplikasi-aplikasi, sistem operasi memutakhirkan diri sehingga kebutuhan-kebutuhan kecil—mengunggah foto atau dokumen, katakanlah—semakin tidak perlu Anda pikirkan.

Apakah pekerjaan berkomunikasi Anda semakin sedikit, pertanyaannya? Apakah waktu luang Anda semakin banyak? Saya jamin, tidak. Bagi kebanyakan dari kita, tidak. Apa yang terjadi adalah Anda masih mesti menanggapi surel dari atasan atau klien pada pukul tiga dini hari. Boleh jadi, Anda bahkan masih harus bergelut dengan rapat melalui panggilan video pada hari raya Lebaran.

Anda seorang desainer? Anda, boleh jadi, pernah bergelut merevisi pekerjaan Anda puluhan kali—menyambangi semua yang diinginkan klien dan bos Anda hanya untuk kembali ke desain pertama yang Anda ajukan. Semua berkat kemudahan berkomunikasi.

Potret kerja media daring

Bagaimana awalnya kepelikan ini terjadi? Keinginan. Ia, saya rasa, berawal dari keinginan manusia yang bukan saja tak tuntas-tuntas melainkan juga mengada-ada. Pekerjaan, toh, tak pernah sekadar melayani kebutuhan-kebutuhan bertahan hidup belaka sebuah masyarakat.

Saya tak tahu bagaimana menerangkannya dengan kalkulasi ekonometri yang teliti. Tetapi, saya dapat menceritakan awal mula wartawan di Indonesia diharuskan menulis lima belas berita per harinya.

Awalnya adalah kesuksesan Detik.com yang mengantarkannya menjadi media daring terbesar hingga hari ini. Pada waktu itu, media daring adalah wahana yang benar-benar baru. Belum ada yang benar-benar tahu strategi agar pengunjung secara konsisten terpikat mendatanginya.

Detik.com, lantas, mencoba menayangkan sebanyak-banyaknya berita di portalnya. Lebih banyak selalu lebih baik. Lagi pula, berbeda dengan media cetak, media daring sanggup menayangkan berita sebanyak apa pun. Strategi ini berhasil meraup pembaca. Dan, memang, perhitungannya masuk akal. Dengan menayangkan lebih banyak berita, peluang berita mereka dibaca, disebarkan, dan dibicarakan dengan sendirinya akan lebih besar.

Akan tetapi, apa yang terjadi selepas standar Detik.com menjadi mantra semua media daring yang ada? Media disesaki pengulangan-pengulangan tak berbobot. Satu cerita yang sama dapat didedah menjadi tiga-empat berita. Berita-berita merupakan jiplakan mentah dari siaran pers. Tentu saja, dengan cara apa lagi seorang awak media dapat menulis lima belas berita dalam sehari kecuali dengan taktik-taktik semacam ini?

Keinginan siapa yang dipuaskan dengan berita-berita daring yang demikian? Keinginan pembaca, boleh jadi. Tetapi, bukankah keinginan mereka seharusnya dapat dipuaskan dengan berita secukupnya yang mengena dan merangkum semua informasi yang dibutuhkan? Dan bukankah kalau media daring tak menciptakan sendiri rasa penasaran tidak sehat pembaca dengan berita-berita sepotong dan umpan klik, wartawan tidak harus bekerja bak mesin atau bahkan menulis berita yang lebih bernas?

Tak hanya media

Saya kira, kepelikan ini kini tak sekadar mencekik para pekerja media. Beberapa editor media daring menetapkan standar wartawannya harus dapat dikontak 24 jam penuh. Bayangkan, 24 JAM PENUH!

Peraturan menyesakkan serupa, kendati tak pernah disampaikan secara terbuka, juga menjadi norma yang sebenarnya dipaksakan kepada banyak pekerja di ranah-ranah lainnya.

Staf Humas Elon Musk bercerita ia dapat dipanggil bosnya itu pukul tiga pagi hanya karena Sang Bos menemukan kritik sepele terhadap dirinya. Kondisi ini, saya yakin, bukan kondisi yang sulit dipahami pekerja-pekerja di Indonesia.

Mereka mesti sudi dikontak atasannya dini hari lantaran Sang Atasan tersulut emosinya oleh satu dan lain hal. Mereka perlu menanggapi dengan ramah, manis, dan menguras kesabaran keluhan-keluhan klien atau penyandang dana ketika baru bangun tidur.

Dan, lagi-lagi, sebagaimana kerja para wartawan media daring, kerja yang paling menguras waktu bukanlah kerja yang konkret. Ia adalah kerja-kerja menyusui keinginan yang tak ada habisnya bila seseorang tidak mengeremnya. Teknologi membuka ruang selebar-lebarnya, selentur-lenturnya untuk menagih kerja orang lain kapan pun dan di mana pun, dan relasi kerja yang timpang menyebabkan mereka tidak mungkin menolaknya. "Belum tipes, belum loyal,” katanya.

Relasi kerja timpang

Hal Varian, dengan demikian, boleh saja memimpikan orang-orang kian dimanjakan seiring tak terelakkannya perkembangan teknologi. Namun, dengan lemahnya posisi pekerja di Indonesia—dan sebenarnya juga di banyak negara lain—ia rentan menjadi mimpi muluk-muluk belaka bagi kebanyakan orang. Inovasi teknologi alih-alih memangkas kerja malah menciptakan kerja, dan alih-alih menghemat waktu kerja malah menyebabkan kerja menjajah waktu senggang kita hingga jengkal terakhirnya.

Dengan tersedianya laptop, yang katanya memudahkan hidup banyak orang, toh, apa yang terjadi kalau bukan pekerjaan kini dianggap dapat dituntaskan di mana pun?

Dan dengan tersedianya angkutan daring, apa yang terjadi kalau bukan manajemen tidak lagi mempermasalahkan jam pulang pekerjanya?

Apa yang bisa kita antisipasi dari perkembangan teknologi menghebohkan selanjutnya, karenanya, kalau bukan ia semakin menyempurnakan eksploitasi pekerja?

Mungkin, dengan demikian, teknologi tidak seharusnya semata berkembang dan melangkah maju. Ia juga tidak bisa melaju dengan kacamata kuda. Ia tidak seyogianya terjatuh ke tangan yang salah.

Share this post


Link to post
Bagikan di situs lain

Buat akun atau masuk untuk berkomentar

Anda harus menjadi anggota untuk memberikan komentar

Buat sebuah akun

Mendaftar untuk account baru dalam komunitas kami. Mudah!

Daftarkan akun baru

Masuk

Sudah mempunyai akun? Masuk disini.

Masuk Sekarang

  • Konten yang sama

    • Oleh abditrass
      Salam Kenal dari ABDITRASS BOGOR
      Salam Kenal dari Bogor

      kami adalah Abditrass Aplikator :
      -Bajaringan -Teralis
      -kanopi -Pagar
      -Las - Gerbang
      -Alumunium -Plafon
      -bangunan dll

      Bagi kawan yang mau Bergabung dengan Tim Marketing Kami,Baik Marketing Lapangan dan Online bisa hub Kami :
      whatsapp ...082112672826


      Link kami:

      https://abditrass.blogspot.com
      https://abditrass.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringanabditrass.wordpress.com https://kanopibajaringanbogormurah.blogspot.co.id/ https://bogorbaja.blogspot.co.id/ https://bajaringanabditrass.blogspot.co.id/ https://bajaringantasikmalayamurah.blogspot.co.id/ https://bajaringanbogor-berkualitas.blogspot.co.id/ https://bajaringanbogormurah.blogspot.co.id/ https://abditrass.blogspot.co.id/ https://bajaringan-kanopi-tralis-bogor.blogspot.co.id/ https://bengkellasbogorsentulcity.blogspot.co.id/ https://canopybajaringanbogor.blogspot.co.id/ https://bajaringan-bogor-ciluar-abditrass.blogspot.co.id/ https://jasapemasangankanopibogor.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringanbogormurah.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringan-google.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringan-bogor-bajaringan.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringan-bogor-google.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringanmodern.blogspot.co.id/ https://kanopi-minimalis-bogor.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringan-bogor-cibinong.blogspot.co.id/ https://kusenalumuniumbogorcibinong.blogspot.co.id/ https://kusen-alumuniumbogor.blogspot.co.id/ https://plafonbogor.blogspot.co.id/ https://teralisbesibogor.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringanbogor.wordpress.com https://kanopibogorbajaringanbogor.wordpress.com https://bajaringanabditrass.wordpress.com https://kanopibogorcibinong.wordpress.com https://plafon-gypsum-abditrass.blogspot.co.id/ https://plafon-gypsum-abditrass.blogspot.co.id/ https://kusen-alumunium-abditrass.blogspot.co.id/ https://kanopi-bajaringan-bogor-abditrass.blogspot.co.id/ https://bajaringan-abditrass.blogspot.co.id/
       

    • Guest News
      Oleh Guest News
      Setiap tahun, kompetisi Hyperloop Space-X menarik para mahasiswa dan insinyur untuk berlomba-lomba menciptakan konsep sistem transportasi jarak jauh tercepat di dunia. Simak kiprah tim Universitas Teknologi Delft dari Belanda, yang tahun lalu berada di peringkat ke-2 dalam liputan berikut ini.
       
    • Oleh BincangEdukasi
      Migrain memang bisa datang kapan saja. Bahkan seringkali datang tiba-tiba di saat yang tidak terduga. Lebih menyebalkannya lagi, tak jarang migrain kumat saat kita sedang berada di kantor. Padahal, pekerjaan sedang banyak-banyaknya! Apakah kamu pernah mengalaminya? Ternyata, ada sejumlah alasan yang menyebabkan migrain timbul saat kamu sedang berada di kantor. Ini dia penyebabnya.
      Kondisi Lalu Lintas
      Banyak orang yang harus melalui perjalanan panjang dari rumah untuk tiba di kantor. Berbagai kendala di perjalanan bisa menjadi pemicu migrain dan sakit kepala. Misalnya kemacetan di perjalanan, mabuk perjalanan, hingga perubahan pola cahaya yang diterima oleh matamu selama perjalanan. Coba saja menyetir ke arah matahari terbit atau terbenam, cahaya yang menusuk matamu dapat memicu migrain.
      Pencahayaan buruk
      Nggak semua kantor memerhatikan pencahayaan ruang kerja dengan baik. Cahaya yang terlalu terang atau gelap akan membuatmu mudah mengalami migrain saat sedang bekerja. Apalagi jika pekerjaanmu mengharuskan kamu terus menerus menatap layar komputer di dalam ruangan dengan pencahayaan buruk.
      Stres tingkat tinggi
      Omelan si Bos, deadline pekerjaan, tuntutan untuk mencapai target, atau mempersiapkan presentasi, adalah kecemasan yang wajar dan sering terjadi. Namun bagi orang yang tidak bisa mengendalikan kecemasannya, maka bisa memengaruhi kondisi fisiknya juga. Migrain adalah salah satu penyakit yang bisa muncul karena stress.
      Ketegangan mata
      Terlalu lama menatap layar komputer bisa menyebabkan ketegangan saraf-saraf mata dan akhirnya kamu jadi mengalami migrain. Untuk memastikannya, coba cek ke dokter mata apakah migrain yang kamu alami berasal dari mata. Biasanya dokter akan menyarankan kamu menggunakan kacamata khusus sebagai terapi untuk mata. Mata yang kering juga bisa membutmu pusing. Jadi pastikan untuk berkedip setiap beberapa detik agar matamu tetap lembap dan berpalinglah dari layar komputer setiap 20 menit.
      Posisi duduk salah
      Perhatikan posisi dudukmu. Pastikan kursimu memiliki bantalan yang bisa menunjang tulang belakang (punggung), jika tidak ada, kamu bisa menambahkan bantalan tersendiri. Saat mengetik, posisikan tanganmu di bagian penyangga lengan kursi. Jika kamu sering menerima telepon, lebih baik gunakan headset agar tulang lehermu tidak terasa pegal dan lakukan stretching ringan setiap beberapa jam sekali.
      Bau yang kuat
      Entah itu bau asap rokok, parfume, ataupun cairan pembersih ruangan, jika bau tersebut terlalu kuat, maka bisa menimbulkan migrain. Hati-hati ya!
      Suara berisik
      Rekan kerja menyetel musik atau berbincang terlalu keras, bisa membuatmu terganggu dan sakit kepala. Sebab, kamu harus berkonsentrasi sementarab suasana di sekitarmu sangat berisik. Jika hal ini membuatmu terganggu, lebih baik gunakan headset dan nyalakan musik yang tenang untuk menetralisir kebisingan.
      Hidup teratur
      Aturlah rutinitas hidup Anda. Misalnya, usahakan makan di jam-jam yang sama. Tidak terlalu cepat atau terlambat. Jika kamu tipe orang yang bekerja di pagi hari, maka usahkan tidur malam tepat waktu dan tiba di kantor pada jam yang sama setiap hari. Hindari bekerja lembur karena akan ‘merusak’ jam biologismu. Jika migrain sudah tak terhindarkan, redakan dengan bodrex Migra. Kandungan paracetamol, propifenazon, dan kofein di dalam bodrex Migra dapat redakan sakit kepala berdenyut-denyut dengan segera.
    • Oleh c0d1ng
      Billboard LED diyakini bisa menjadi primadona baru media iklan luar ruang. Sifatnya yang atraktif dan dinamis mampu menutup kelemahan billboard konvensional. Tapi, mengapa pasarnya masih jauh di bawah billboard konvensional? Soal harga atau edukasi yang minim?
      Ratusan orang berkumpul di halaman Times Square, New York. Mereka mengarahkan pandangan ke salah satu billboard besar. Tiba-tiba seorang wanita cantik muncul dari dalam billboard dan mengarahkan kamera polaroid ke arah kerumunan. Setelah memotret, wanita itu memperlihatkan hasil jepretannya ke arah kerumunan orang.
      Sebagian melambai-lambaikan tangan ke arah billboard. Mereka tertawa dan berteriak melihat wajah mereka ada di dalam billboard tersebut. Inilah cara Forever 21, jaringan ritel fashion, menarik perhatian pejalan kaki di Times  Square. Yang digunakan bukan lagi billboard LED biasa, tapi billboardLED interaktif.
      Menarik perhatian massa memang tidak mudah. Terlebih jika sasarannya adalah masyarakat urban yang supersibuk. Ini juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah ada habisnya bagi perusahaan atau merek. Pilihan media untuk beriklan memang bertambah, namun atensi masyarakat untuk menangkap pesan iklan juga terbagi.
      Itulah sebabnya media luar ruang—atau dikenal juga dengan sebutan media luar griya—sepertibillboard tidak pernah ditinggalkan oleh advertiser (pengiklan). Media konvensional, terutama TV dan media digital (internet), memang terus bertambah jumlahnya. Tapi, bagi pengiklan media tersebut belum cukup, mereka masih membutuhkan billboard untuk melengkapi aktivitas branding maupun memperkuat kegiatan bauran pemasaran (marketing mix).
      Dibandingkan TV dan internet, billboard punya keunggulan dalam hal eksposur dan impresi pada suatu lokasi. Billboard memiliki eksposur yang tinggi karena umumnya diletakkan di jalan-jalan protokol atau jalan-jalan yang ramai dilalui orang atau kendaraan.
      Ukuran yang lebih besar dari jenis iklan lainnya menjadikan billboard berpeluang untuk dilihat banyak orang (impresinya tinggi). Satu lagi keunggulan billboard, sebagai media luar ruang billboard menyatu dengan ruang publik, sehingga siapa pun bisa terpapar media ini.
      Namun, billboard juga punya kekurangan. Sifat statis billboard menjadi titik lemahnya, sehingga daya tarik iklan yang disajikan lama-lama akan berkurang. Di sisi lain, billboard kurang adaptif terhadap tuntutan dunia bisnis yang serba cepat.
      Pengiklan tidak bisa dengan segera mengganti materi iklan, karena harus mencetak ulang materi iklan. Kelemahan ini membuat billboard konvensional terasa kurang seirama dengan zaman yang sudah serba terdigitalisasi.
      Karena itu, untuk menyelamatkan nasib billboard, media luar ruang ini perlu mengadopsi teknologi digital. Billboard LED merupakan sebuah jawaban kesiapan billboard beradaptasi di era yang semakin digital. Billboard LED dirancang untuk memenuhi tuntutan pengiklan akan billboard yang atraktif.
      Hal ini lantaran materi iklan yang disajikan tidak lagi statis, melainkan gambar-gambar hidup. Teknologi LED memungkinkan hasil kualitas gambar yang tajam, sehingga menyaksikan iklan dibillboard LED tak ubahnya menyaksikan iklan di TV.
      Billboard LED sudah mulai muncul di beberapa lokasi di Jakarta. Beberapa perusahaan penyedia billboard mulai serius menggarap billboard LED. Rainbow Billboard, Media Indra Buana (MIB), dan Mahaka Advertisingadalah beberapa vendor billboard yang telah memasukkan billboard LED sebagai portofolio bisnis mereka.

      Kendala Harga
      Pertumbuhan billboard LED di Indonesia masih biasa-biasa saja, kalau tidak mau dibilang lamban. Padahalbillboard LED di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1990-an. Ada beberapa faktor yang menyebabkanbillboard LED belum tumbuh signifikan. Pertama, billboard LED jauh lebih mahal dibandingkanbillboard konvensional.
      Untuk billboard LED berukuran 4X8 (meter) misalnya, biaya yang harus dikeluarkan pengiklan menurut Direktur PT Media Indra Buana (MIB) Sofie S. Wulandari, sebanding dengan dua billboardkonvensional berukuran 8X16. Cukup mahal, wajar saja jika hanya perusahaan-perusahaan besar yang sanggup beriklan di billboard LED.
      Menurut President Director Mahaka Advertising Agoosh Yoosran, mahalnya beriklan di billboard LED disebabkan masih terbatasnya pasokan suku cadang. Panel solar misalnya, masih bergantung pada PLN dan LED raksasa masih harus diimpor.
      Hal tersebut membuat biaya pasang iklan di billboard membengkak. Kalau dihitung-hitung biayanya berkisar Rp 500 juta–Rp 3 miliar, ini belum menghitung ongkos konstruksi dan pemasangan.
      Faktor lain yang menghambat pertumbuhan billboard adalah isu hemat energi dan tata ruang. Rainbow Billboard sempat terpukul dengan masalah tersebut, sehingga bisnis billboard LED-nya sempat stagnan.
      Rainbow pernah memasang billboard LED di kawasan strategis Bundaran HI, Jakarta, pada awal tahun 1990. Namun, hanya bertahan beberapa tahun karena terbentur kendala tata ruang dan gerakan hemat energi dari pemda DKI.
      Perusahaan vendor billboard bukan tanpa upaya untuk mengatasi berbagai persoalan di atas. Mahaka Advertising, misalnya, mencoba mengatasi kendala harga dengan menawarkan paket ritel. Caranya, satu titik billboard bisa diisi dengan empat merek sekaligus. Jadi, hitung-hitung keempat merek tersebut melakukan tanggung renteng agar biayanya terasa ringan.
      Soal isu hemat energi, saat ini juga relatif tidak menjadi kendala berarti. Beberapa tahun lalu billboardLED memang dianggap boros listrik. Namun, saat ini billboard LED yang dikembangkan makin hemat listrik. Salah satu contohnya billboard LED yang dikembangkan Mediatronik Indonesia, selain mampu bertahan 100 ribu jam juga dilengkapi dengan fitur pengatur intensitas cahaya.
      Masih Perlu Edukasi
      Hingga saat ini kondisi pasar billboard LED di Indonesia seperti balita yang baru belajar berjalan. Padahal jika melihat perjalanan Rainbow yang telah mulai terjun ke pasar ini sejak awal tahun 1990,billboard LED di Indonesia harusnya bisa berlari lebih kencang.
      Hanya MIB tampaknya yang mulai kelihatan pasarnya. MIB yang menguasai 100 titik LED dan 70 klien berani pasang target kenaikan penjualan sebesar 50% billboard LED tahun ini. Bahkan, MIB mengaku kewalahan melayani permintaan billboard LED.
      Agar penetrasinya lebih kuat, edukasi pasar mesti digencarkan lagi. Para vendor bisa mengesampingkan persaingan lebih dahulu. Mereka mesti meyakinkan pengiklan bahwa billboardLED lebih mahal bukan karena faktor teknologi semata, tapi juga karena impresinya lebih tinggi daribillboard biasa.
      Yang juga tidak kalah penting adalah mengubah pandangan iklan billboard LED sama dengan TVC. Meskipun sama-sama mengandung unsur visual, penekanan materi iklan billboard sebenarnya pada repetisi pesan. Beda dengan TVC yang masih mengandung unsur story karena sifat TV sebagai media audio visual.
      Yayat Supriatna, Pengamat Tata Kota, melihat potensi billboard untuk berkembang di masa depan masih besar. Pertimbangannya, masyarakat semakin cerdas, siapa yang bias mencuri perhatian dengan informasi lengkap akan menjadi kekuatan untuk menguasai pasar media luar ruang. Ibaratnya, LED—secara visual—seperti memindahkan televisi ke ruang publik.
      Di beberapa lokasi strategis, billboard LED mulai menggusur posisi billboard konvensional. Beberapa lokasi strategis, misalnya, menyinergikan billboard LED dengan bangunan pos polisi atau pos pemantau lalu lintas. Jadi, LED dapat disinergikan dengan lokasi sarana publik.
    • Oleh c0d1ng
      Berbagai macam kendaraan masa depan mulai dikembangkan saat ini, salah satu yang paling menarik adalah kendaraan mobile Terrafugia TF-X. Kendaraan masa depan tersebut merupakan buatan Amerika Serikat yang memiliki keunggulan lebih karena diklaim mampu terbang, bahkan beroperasi di tengah cuaca ekstrim seperti, badai hujan.
      Mobil yang memiliki kemampuan melayang di udara ini berfokus pada sektor angkutan super cepat yang mengutamakan keamanan, kesederhanaan, dan kemudahan transportasi pribadi. Ini didasarkan pada penduduk bumi yang mulai jenuh dengan berbagai kemacetan lalu lintas yang sangat menguras tenaga. Tentu konsep mobil ini masih dikembangkan dan memerlukan waktu yang cukup lama, yakni 7 hinga 11 tahun lagi.
      Namun pemesanan mobil super canggih ini sudah bisa dilakukan untuk saat ini. Bicara soal harga, pabrikan TF-X hanya menuliskan ‘akan konsisten dengan mobil mewah high-end’. Informasi soal harga yang lebih spesifik akan tersedia secepatnya, atau ketika memasuki masa produksi massal.

      Terrafugia TF-X ini diklaim memiliki kemampuan jarak tempuh hingga 700 km dengan kecepatan jelajah hingga 300 kilometer per jam. Mobil ini dapat secara otomatis menghindari pemakaian lalu lintas udara lain, seperti cuaca buruk, wilayah udara terbatas dan lain-lain. Selain itu, menerbangkan kendaaraan ini juga tidak memerlukan izin dari otoritas penerbangan.
      Sebagai fitur keamanan, TF-X juga memiliki sistem parasut dan mesin cadangan yang dapat diaktifkan oleh operator ketika dalam keadaan darurat. Jika operator tidak mampu memberikan tanggapan yang responsif, maka secara otomatis TF-X akan menerapkan pendaratan darurat di bandara terdekat. Anda juga tidak perlu sekolah pilot untuk menerbangkan kendaraan ini, karena tidak dibutuhkan jam latih tinggi.

      Kendaraan ini mampu memboyong empat penumpang sekaligus, layaknya mobil sedan. Meski ukuran cukup bongsor, namun masih bisa diparkir ke dalam garasi mobil. Berbeda dengan pesawat, TF-X ini lepas landas secara vertikal layaknya helikopter, dengan helipad berukuran 20×20 meter. Anda pun juga bisa mengendarai TF-X ini layaknya mobil konvensional di jalanan umum.
      Meski harga akhir dari mobil ini belum diungkapkan hingga memasuki masa produksi, namun diperkirakan harganya akan setara dengan mobil mewah atau mobil sport yang ada saat ini. Jika permintaan mengalami peningkatan, bahan-bahan baru dan proses manufaktur pasti akan dikembangkan sehingga harga dapat ditekan.
      Mobil ini menggunakan tenaga listrik sebagai sumber dayanya. Hal ini bertujuan agar tidak menimbulkan suara bising, seperti mesin kendaaraan bahan bakal fosil. Untuk mengisi daya tinggal colokan ke sambungan pengisi daya listrik yang sudah disediakan.
      Bagaimana? Kendaraan yang sangat keren bukan? Tentu kita harus lebih bersabar hingga Terrafigua TF-X ini benar-benar hadir secara nyata, karena masih memerlukan beberapa tahun lagi hingga terealisasi.
×

Important Information

Kami menggunakan cookie. Mereka tidak menakutkan, tetapi beberapa orang berpikir mereka. Terms of Use & Kebijakan Privasi