Jump to content
Males

Alasan Untuk Mencoba Naik Pesawat Airbus A380

Recommended Posts

A380-family-stage.thumb.jpg.c4c05ff720d691591bf42c73e520af3d.jpg

Airbus A380 berbeda dengan tipe pesawat lainnya. Jika Anda belum yakin kenapa harus mencoba naik pesawat ini, berikut adalah 5 alasan utamanya.

1. Kapasitas Besar

Airbus A380 adalah sebuah pesawat berbadan lebar dengan dua tingkat yang mampu memuat hingga 850 penumpang dalam konfigurasi satu kelas atau 555 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas. Pesawat ini merupakan pesawat komersial terbesar yang pernah dibuat dan dijuluki “Superjumbo”. Hingga saat ini, setidaknya ada 13 maskapai yang menggunakannya, yaitu Air France, Asiana Airlines, British Airways, China Southern, Emirates, Etihad, Korean Air, Lufthansa, Malaysia Airlines, Qantas Airlines, Qatar Airlines, Singapore Airlines, dan Thai Airways.

2. Desain Kabin

Umumnya, pesawat Airbus A380 didesain oleh maskapai dengan konfigurasi 2-3 kelas, yaitu Ekonomi, Bisnis, dan First Class. Desain dan konfigurasi tempat duduk pada kelas Ekonomi tampak seperti pada umumnya, hanya saja kursi dan layar di kursi terlihat lebih mewah, serta ruang kaki lebih lebar. Namun apabila Andamemasuki ruang Bisnis dan First Class, Anda akan terkesima. Di First Class maskapai Etihad dan Singapore Airlines misalnya, terdapat kamar tidur dan kamar mandi pribadi yang akan membuat Anda merasa sangat nyaman saat menempuh penerbangan panjang. Anda pun tidak akan kekurangan hiburan dengan adanya entertainment center dengan layar datar yang lebar.

3. Fasilitas Mewah

Kemewahan akan terasa sejak Anda memasuki kabin. Selain layar entertainment center yang berkualitas bagi setiap kursi, 8 dari 13 maskapai di atas menyediakan Wi-Fi dan membolehkan Anda menyalakan telepon genggam. Selain kompartemen bagasi kabin yang biasa ada di atas kepala Anda, maskapai seperti Korean Air dan Asiana Airlines bahkan menyediakan kompartemen ekstra untuk tas tangan bagi Anda yang duduk di dekat jendela. Untuk bagian penutup jendela, jika Anda biasa menutupnya dengan manual (menggeser ke atas/bawah), maskapai seperti Qantas membuat Anda melakukannya hanya dengan satu sentuhan kecil saja.

4. Lounge, Bar, Social Area

Fasilitas seperti hotel bintang 5 ini umumnya ada di bagian atas (upper deck). Anda bisa menikmati semua fasilitas, termasuk makanan dan minuman, yang ada secara gratis. Setiap maskapai bahkan punya tema sendiri dalam mendesain lounge, bar, social area, spa, hingga ruang gantinya. Ingin mencari teman baru selama penerbangan? Bersantai menghilangkan penat dengan teman dan keluarga Anda selama di pesawat? Itu semua bisa Anda lakukan di pesawat Airbus A380!

5. Wisata Kuliner dan Belanja

Tak hanya fasilitas dan desainnya saja yang seperti hotel bintang 5, begitu pula dengan menu makanan dan minuman yang tersedia. Menu yang disajikan oleh tiap maskapai memang berbeda, tapi mereka sama-sama dimasak oleh chef hebat yang kualitas bahan, rasa, dan tampilannya sama dengan chef dari hotel-hotel mewah. Selain makanan yang disajikan, Anda bisa menikmati makanan dan minuman yang ada di area self-service. Fasilitas ini ada di maskapai Air France, China Southern, dan Qantas. Untuk Anda yang suka berbelanja di atas pesawat, beberapa maskapai bahkan membuat area duty-free shop. Anda akan bisa merasakan pengalaman berbelanja seperti di toko pada umumnya namun kali ini toko itu berada di udara!

Itulah 5 alasan utama Anda, setidaknya sekali dalam seumur hidup, harus mencoba naik pesawat jenis Airbus A380.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By plusplus
      Iran membantah tuduhan yang menyebutkan bahwa pesawat Ukraina yang jatuh di Bandara Imam Khomeini disebabkan oleh tembakan rudal.
      Teheran menganggap tuduhan itu tidak masuk di akal, sebab beberapa penerbangan domestik dan internasional juga terbang di wilayah itu di ketinggian 2.440 meter pada saat yang sama.
      "Kisah tentang rudal yang menabrak sebuah pesawat sama sekali tidak benar. Rumor seperti itu tidak masuk akal," Kepala Organisasi Penerbangan Sipil Iran sekaligus Wakil Menteri Transportasi, Ali Abedzadeh, seperti dilansir AFP pada Kamis (9/1).
      Pesawat Ukraine International Airlines itu jatuh tidak lama setelah lepas landas pada Rabu (8/1) pagi waktu setempat. Seluruh 176 penumpang dan kru pesawat jenis Boeing 737 itu tewas di tempat.
      Iran telah menemukan kotak hitam pesawat itu namun menolak untuk diberikan kepada Amerika Serikat demi diselidiki. Teheran ingin kotak hitam itu diselidiki di negara selain AS.
      Laporan yang dirilis otoritas penerbangan Iran mengungkapkan bahwa pesawat itu sempat berputar balik ke arah bandara sebelum jatuh. Pilot dilaporkan tidak mengirimkan pesan radio terkait kemungkinan kerusakan pesawat.
      Investigasi yang dilakukan Teheran tak mengungkapkan lebih lanjut kecelakaan mendadak yang menimpa pesawat nahas tersebut.
      Berdasarkan sumber intelijen, media AS menyebut itu jatuh karena tembakan rudal militer Iran. Tuduhan itu muncul ketika ketegangan antara Teheran dan Washington kembali memanas terutama setelah serangan drone AS menewaskan jenderal Iran, Qasem Soleimani, di Irak.
      Kanada juga mengamini laporan AS itu. Perdana Menteri Justin Trudeau mengatakan negaranya memiliki data dari berbagai sumber intelijen menunjukkan pesawat itu jatuh akibat tertembak rudal Iran.
    • By ega
      Boeing mengumumkan akan menangguhkan sementara produksi 737 Max mulai bulan depan. Langkah ini diambil menyusul keputusan regulator keselamatan terkait pesawat 737 Max.
      Dikutip dari AFP, keputusan penangguhan tersebut menguatkan kekhawatiran investor terkait pemulihan perusahaan dari krisis yang berlarut-larut dan menciptakan ketidakpastian bagi Boeing.
      Kesulitan Boeing sejak Maret telah membebani ekonomi AS. Perusahaan tersebut menekan output manufaktur Amerika dan merusak kinerja perusahaan pada indeks Wall Street, Dow Jones Industrial Average.
      Dalam pernyataan resminya, perusahaan mengatakan akan terus membayar pekerjanya meskipun penghentian produksi sementara. Namun, keputusan tersebut menimbulkan pertanyaan untuk masa depan pemasok suku cadang yang berkontribusi pada pembuatan jet.
      "Kami sebelumnya telah menyatakan bahwa kami akan terus mengevaluasi rencana produksi kami jika landasan MAX lebih lama dari yang kami harapkan," kata Boeing dalam pernyataan resmi.
      Boeing pun mengungkap sebagai hasil dari evaluasi yang sedang berlangsung, perusahaan akan memprioritaskan pengiriman pesawat yang disimpan. Perusahaan mengatakan akan fokus pada pengiriman 400 jet yang telah disimpan di penyimpanan.
      Boeing 737 Max menjadi sorotan usai kecelakaan mematikan di Indonesia dan Ethiopia, yang menewaskan 346 orang. Namun, Boeing terus memproduksi 40 pesawat per bulan di sebuah fasilitas Renton, Washington.
      Pekan lalu, regulator penerbangan AS mengeluarkan teguran kepada Boeing dan menuduh perusahaan mengejar jadwal untuk membawa Max kembali ke 'udara'.
      Federal Aviation Administration mengatakan mereka tidak menyetujui kembalinya jet ke layanan sebelum 2020. Meskipun, Boeing telah lama menargetkan dapat lampu hijau regulator sebelum akhir tahun.
    • By iiee
      Maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. diminta untuk lebih transparan menjelaskan laporan keuangannya yang tengah menjadi polemik. Transparansi ini adalah bagian dari keterbukaan informasi Garuda sebagai perusahaan terbuka.
      "Seyogianya direksi Garuda perlu menjelaskan ke publik sebagai keterbukaan informasi. Mengingat Garuda adalah emiten sekaligus BUMN entitas publik," kata Ketua Institut Akuntan Publik Indonesia atau IAPI, Tarkosunaryo, ketika dihubungi Tempo, Kamis 25 April 2019.
      Sebelumnya terjadi perbedaan pendapat di antara Dewan Komisari Garuda Indonesia tentang laporan keuangan 2018. Dua komisaris Garuda, Chairal Tanjung dan Dony Oskaria menyatakan keberatan dan tak menandatangani laporan keuangan tersebut.
      Keberatan itu berpangkal pada adanya pos pendapatan lain-lain yang dianggap masih berbentuk piutang yang ikut masuk sebagai total pendapatan perseroan. Namun, kedua komisaris tersebut tak sependapat dalam pembukuan tersebut.
      Keduanya menilai pencatatan ini bertentangan dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Negara atau PSAK Nomor 23. Menurut mereka, piutang yang muncul dari perjanjian kerja sama antara Garuda dengan PT Mahata Aero Teknologi tersebut seharusnya tak dimasukan pos pendapatan.
      Tarkosunaryo juga berpendapat bahwa sebaiknya Garuda membuka secara lengkap bagaimana kontrak antara Garuda dengan Mahata. Khususnya mengenai bagaimana realisasi dari adanya kerja sama itu. "Apakah prestasi pekerjaan sudah ada dan hak tagih sudah dapat dieksekusi," kata Tarkosunaryo
      Kendati demikian, Tarko menjelaskan, pencatatan piutang sebagai pendapatan dalam dunia akuntansi dianggap sebagai sesuatu yang lazim ditemui. Dalam dunia akuntansi hal ini lazim dikenal dengan istilah pencatatan akuntansi berbasis akrual.
      Baca: Laporan Keuangan Garuda Janggal, Ini Keberatan Dua Komisaris
      Dalam hal ini, lanjut dia, transaksi-transaksi dicatat pada saat terjadinya transaksi itu, bukan saat uang diterima. Transaksi pendapatan dicatat dalam pembukuan pada saat hak tagih sudah ada karena penjual sudah melakukan kewajiban sesuai kontrak.
      Artinya, dalam kasus Garuda, yang perlu diperjelas adalah realisasi transaksi yang kemudian menimbulkan hak tagih (piutang) sehingga bisa dimasukkan dalam pendapatan. Hal inilah yang perlu diungkap ke publik apakah pencatatan dari piutang menjadi pendapatan tersebut sesuai standar. "Nah yang dapat melakukan ini ya direksi beserta auditornya," kata Tarkosunaryo.
    • By ThinkSmart
      CEO Boeing Co, Dennis Muilenburg untuk pertama kalinya, akhirnya mengakui bahwa malfungsi Boeing 737 Max 8 berperan dalam jatuhnya Lion Air JT 610 pada Oktober dan Ethiopian Airlines ET 302 pada Maret 2019. Menanggapi pengakuan yang dirilis Muilenburg dalam sebuah video itu, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti mengatakan bahwa Kementerian Perhubungan masih mempelajari ihwal kasus Boeing.
      Polana mengatakan Kemenhub masih menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi dan perbaikan yang akan dilakukan Boeing. "Terlalu dini kalau pemerintah melarang B737Max atau B737 families," kata Polana saat dihubungi, Ahad, 7 April 2019.
      Sebelumnya, CEO Boeing, Dennis Muilenburg mengakui kecelakaan Lion Air JT 610 dan Ethiopian Air ET 302 terjadi karena fitur otomatisasi MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) pesawat aktif sebagai respons terhadap informasi angle of attack/AOA (sudut serangan) yang keliru. Muilenburg  mencuitkan rasa menyesalnya itu ke akun Twitternya. Seperti dikutip Antara, Sabtu 6 April 2019, bos pabrikan pesawat terbesar Amerika Serikat itu mewakili seluruh karyawan Boeing menyampaikan simpati kepada keluarga korban para penumpang dan kru pesawat Lion Air dan Ethiopian Airlines. 
      Setelah mengakui kesalahan itu, Muilenburg mengatakan bahwa perusahaan memiliki "tanggung jawab untuk menghilangkan risiko tersebut. Lalu, Boeing pun berupaya membuat pembaruan perangkat lunak 737 Max untuk mencegah kecelakaan serupa terjadi lagi. 
      Terkait cacat sistem MCAS ini, Muilenburg menyebut pihaknya telah bekerja tanpa lelah bersama Federasi Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) semenjak tragedi Lion Air. Boeing bersama pihak lainnya pun berupaya untuk menyelesaikan dan mengimplementasikan perangkat lunak demi memastikan kecelakaan naas tersebut tak akan pernah terjadi lagi.
      Kecelakaan udara mematikan baru-baru ini telah menyebabkan pelarangan terbang pesawat 737 Max di seluruh dunia. Otoritas penerbangan Amerika Serikat, FAA, telah melarang terbang semua pesawat Boeing 737 Max 8 di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Di Indonesia, Kementerian Perhubungan telah meng-grounded 11 unit pesawat tipe tersebut yang dimiliki maskapai penerbangan Lion Air dan Garuda Indonesia sejak 14 Maret 2019.
    • Guest news
      By Guest news
      Burung liar di sekitar bandara bisa menabrak pesawat terbang atau tersedot mesin jet sehingga membahayakan keselamatan penerbangan. Otoritas bandara sering memakai anjing atau bunyi keras untuk menghalau kawanan burung, namun menurut perusahaan Belanda, burung robot produksinya jauh lebih efektif.
       
×
×
  • Create New...