Jump to content
  • Our picks

    • Adik Personel One Direction Meninggal Dunia di Usia 18 Tahun
      Kabar duka datang dari keluarga salah satu personel One Direction, Louis Tomlinson. Adiknya, yang bernama Felicite Tomlinson dikabarkan meninggal dunia pada Rabu (13/3/2019) karena serangan jantung.
      • 0 balasan baru
    • Ahmad Sahroni Bocorkan Rumus Kaya Seketika
      Ada kisah menggetarkan hati dari sosok yang tak asing di mata publik.

      Ahmad Sahroni, politisi Partai Nasdem yang kini duduk di kursi DPR RI blak-blakan tentang masa lalunya.

      Siapa sangka Ahmad Sahroni memiliki pengalaman kelam, yang tak pernah terlupakan.

      Ia mencurahkan pengakuannya di depan Hotman Paris, dalam program televisi Hotman Paris Show.
      • 1 balasan baru
    • Banjir Hadiah! Cover Lagu Ricky Kevin Berapa Banyak Cinta
      Jakarta -  Ricky Kevin, penyanyi berbakat asal kota Bandung ini kembali meramaikan blantika musik Indonesia. Single baru bertajuk “Berapa Banyak Cinta” ini resmi dirilis pada 16 Oktober 2018, ciptaan Bemby Moor. Dibawah naungan manajemen CKH Entertainment, bekerja sama dengan lebih dari 50 radio di seluruh Indonesia melakukan pemutaran serentak untuk single yang easy-listening ini.
      • 3 balasan baru
    • Kanker Darah Ani Yudhoyono yang Cukup Agresif
      Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkap kondisi ibundanya,Ani Yudhoyono, yang kini dirawat di National University Hospital, Singapura. Penyakit kanker darah yang diidap Ani Yudhoyono disebut bersifat agresif.

      AHY mengatakan kondisi Ani Yudhoyono mulai menurun setelah mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkunjung di Aceh. Mulanya, keluarga mengira Ani Yudhoyono kelelahan, tapi pemeriksaan medis berkata lain. 
      • 3 balasan baru
    • Apple Mulai Kehilangan Mahkota Triliun Dolar AS
      Apple kehilangan statusnya sebagai perusahaan triliun dollar setelah Wall Street melihat bahwa pembuat iPhone itu mengalami kehilangan USD190 miliar atau lebih dari Rp2.818 triliun.
      • 0 balasan baru
berita_semua

Kenapa kita tak seharusnya mengikuti Silicon Valley

Recommended Posts

93235563_siliconvalley.thumb.jpeg.848b34dcf753a0686888f419fad1953d.jpeg

Ada argumen yang kuat tentang kenapa kita tak seharusnya mereplikasi Silicon Valley dan membuat versinya di berbagai negara di dunia.

Kini ada sebuah kontes popularitas global dan bukan Twitter yang saya maksud.

Pemimpin dari kota-kota terbesar dunia saling berkompetisi untuk melabeli kota mereka sebagai 'Silicon Valley berikutnya'.

Dari London ke Beijing, Tel Aviv sampai Tallinn, ada pertandingan untuk menciptakan kota teknologi yang akan menarik orang-orang terbaik — dan investor dengan kocek yang dalam.

Tapi, apakah Silicon Valley dan budaya yang berkembang seputar pusat teknologi itu harus menjadi contoh untuk diikuti oleh kota-kota dunia? Dan biaya untuk mengikuti Silicon Valley pun nantinya akan dibayar oleh uang pajak.

Dalam 60 tahun terakhir, dunia telah melihat Silicon Valley berubah dari jaringan kecil manufaktur teknologi yang khusus menjadi sebuah nukleus global bagi teknologi bernilai miliaran dolar.

Silicon Valley adalah tempat Apple, Google, Facebook, Netflix, dan banyak perusahaan serupa berada, yang jika digabung, nilai mereka bisa mencapai triliunan dolar.

Jika dilihat dari data, Valley adalah kawasan seluas 4.801 km persegi dengan tiga juta orang, 38% dilahirkan di luar Amerika Serikat.

Dihitung per kapita, Silicon Valley adalah salah satu tempat terkaya di dunia, lebih kaya dari banyak negara.

Penduduknya rata-rata menghasilkan $125.580 per tahun (sekitar Rp1,7 miliar) dan pada 2015, kawasan ini berada di nomor tiga, setelah Zurich dan Oslo, dari sisi PDB.

Jadi mudah dipahami mengapa banyak negara ingin mendapat kesuksesan yang sama.

Apakah ada rumus atau resepnya? Satu kesamaan dari banyak perusahaan besar Silicon Valley adalah kemampuannya bergerak cepat, berinovasi serta berkembang.

Tapi apakah ini sesuatu yang bisa direka ulang di tempat lain? Dan jika benar bisa, haruskah kita melakukannya? Karena kumpulan perusahaan perintis yang melesat kemudian hancur tentu punya kekurangan.

Bagi Dan Breznitz, seorang pakar dan konsultan inovasi di University of Toronto, jawabannya adalah 'tidak'.

"Bayangkan Silicon Valley — seorang lulusan Stanford atau MIT, bukan orang biasa, dan Anda memberi mereka setumpuk uang agar mereka bisa membuat perusahaan sehingga menjadi sukses dan menjadi miliarder," katanya, mencontohkan kisah sukses banyak pendiri perusahaan perintis yang kemudian akan gagal.

"Ini benar-benar sebuah tempat perjudian."

Meski ada data yang menyebut bahwa perusahaan perintis yang gagal di AS bisa mencapai 90%, namun angka yang lebih tepat adalah 60%, tapi tetap saja itu adalah tingkat kegagalan yang tinggi dan merupakan risiko investasi.

Breznitz berargumen bahwa ada situasi unik yang berperan dalam menciptakan Silicon Valley — tim penelitian universitas di California yang mendorong lahirnya perusahaan semikonduktor — dan model itu mungkin tak ideal untuk menjadi contoh pusat inovasi di negara-negara lain di dunia.

Dan seperti dia katakan, Valley membutuhkan beberapa dekade untuk sampai ke posisinya sekarang.

Untuk menyusun ekosistem pendidikan dan industri yang menyokong pusat inovasi seperti itu dalam waktu cepat adalah hal yang sulit.

Dan kini, ada peribahasa baru untuk zaman kita: Silicon Valley tak dibangun dalam sehari.

Bidang pendukung

Analis itu menyatakan satu poin yang kadang terlupakan: bahwa negara-negara lain di seluruh dunia yang sukses secara ekonomi sudah mendapat pemasukan, bukan dengan berusaha mengembangkan Silicon Valley versi mereka, tapi dengan melakukan diversifikasi dan mengambil keuntungan dari pertumbuhan ekonomi di AS.

Contohnya Taiwan, yang unggul di bidang produksi cip — sebuah industri yang menumpang dari kesuksesan Silicon Valley.

"Bukan karena Taiwan sekedar punya fasilitas pabrik," kata Breznitz. "Mereka mengembangkan teknologi di sekitarnya yang memungkinkan pembuat perangkat keras untuk menciptakan sesuatu secara lebih efisien."

Sektor teknologi di Taiwan bernilai sekitar $130 miliar (hampir Rp 1.800 triliun).

Meski begitu, baru-baru ini Taiwan bereksperimen dengan jalur inovasi mirip Silicon Valley dalam upaya mengikuti perubahan dan berkompetisi dengan Cina.

Sementara di Jerman, mereka mempertahankan dominasi industri manufaktur di Eropa dengan meningkatkan kemampuan dan berinvestasi di sektor yang spesifik.

Inilah sebabnya perusahaan Jerman seperti Siemens mengembangkan fasilitas manufaktur di Cina — dan tidak sebaliknya.

Fraunhofer Institutes di Jerman yang terkenal memiliki beberapa cara untuk meningkatkan sisi teknis dari perusahaan-perusahaan terbesar di negara itu, dan memastikan agar mereka tetap kompetitif.

Situs SoundCloud berbasis di Berlin. Dan Anda mungkin akan terkejut saat mengetahi bahwa algoritme kompresi MP3 diciptakan oleh teknisi Fraunhofer — bukan oleh entrepreneur Silicon Valley.

Spesialisasi

Sejarah menyimpan banyak contoh-contoh pusat industri yang dulunya kuat namun kemudian kalah oleh saingan mereka.

Contohnya adalah kebangkitan galangan kapal di Asia pada 1950an dan 1960an, dengan teknik manufaktur yang baru dan desain yang bisa beradaptasi dengan mudah, menjadi akhir bagi industri perkapalan Inggris.

Tapi tetap saja, ada beberapa Silicon Valley imitasi yang muncul seperti di Shenzhen di Cina atau di Tel Aviv di Israel yang menjadi unggul karena memiliki area spesialisasi, kata analis industri teknologi Paul Triolo dari Eurasia Group.

Shenzhen berfokus pada pengembangan inovasi di perangkat keras, sementara Tel Aviv terkenal karena inovasinya di bidang keamanan siber.

London juga memiliki Silicon Roundabout dengan fokus di teknologi keuangan (karena besarnya sektor keuangan di kota itu) dan kecerdasan buatan, dengan penelitian yang dilakukan oleh universitas terkemuka seperti University of Central London dan Imperial College.

"Banyak dari pusat teknologi dunia kini melayani pasar khusus, sementara Valley cenderung berfokus pada hal-hal yang besar dan berlebihan — seperti media sosial, contohnya," kata Triolo, yang merujuk pada platform besar seperti Facebook atau Google yang berusaha untuk menempatkan diri di jantung kehidupan digital konsumen.

Budaya Valley

Perusahaan teknologi yang berkembang cepat akan sering menghadapi serangkaian masalah.

Dari mulai kebijakan manajemen yang terburu-buru yang menimbulkan gesekan di kalangan staf sampai pendekatan yang kacau dalam upaya melindungi data pribadi pengguna.

Meski budaya Valley yang disruptif dan tak peduli aturan telah lama dikritik, namun laporan terbaru akan pelecehan seksual dan penutupan akan kebocoran data telah merusak reputasi sebagian perusahaan.

Dan kegagalan dalam mengakui skala dan keseriusan atas kerusakan ini, oleh majalah Wired, baru-baru ini disebut "gelembung teknologi selanjutnya".

Facebook, contohnya, tak lagi dilihat sebagai "peretas yang bersenang-senang membangun alat yang lucu", tulis Erin Griffith, tapi sebagai "pengepul data pribadi yang berkuasa dan mungkin berniat jahat".

Perusahaan lain telah menghadapi kritikan yang lebih keras. Perusahaan berbagi tumpangan Uber berkembang dalam kecepatan yang mencengangkan menggunakan dana investasi besar dari perusahaan pemodal ventura tapi tak pernah mendapat untung.

Dari awalnya dielu-elukan di media, perusahaan tersebut kemudian terhambat oleh keputusan manajemen yang buruk dan pertikaian internal.

Tahun lalu, direktur eksekutifnya mengambil cuti panjang, setelah mengatakan bahwa dia membutuhkan "bantuan kepemimpinan".

Analis industri teknologi, Patrick Imbach di KPMG di London mengatakan bahwa aturan internal masih cukup untuk kebanyakan perusahaan, dan bagi perusahaan yang buruk, "semoga pasar bisa memperbaikinya".

Dengan kata lain, perusahaan akan menghadapi tekanan dari pemegang saham, atau mengalami kekeringan investasi, jika tidak mengubah langkah mereka.

Aksi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) adalah salah satu hal yang menjadi semakin penting.

Baru-baru ini, CSR disebut sangat penting oleh manajer dana investasi terbesar dunia, BlackRock. Dan jika orang-orang investasi, para pemegang uang, memperhatikan CSR maka perusahaan teknologi pun harus mendengarkan.

Satu hal yang diyakini Imbach akan kita lihat pada 2018, sebagai tanggapan langsung akan skandal-skandal terbaru, adalah keragaman di dewan direksi di Silicon Valley.

Ini adalah satu "pelajaran" dari masa sekarang: memiliki dewan direksi dengan pandangan yang lebih luas, contohnya dari sisi isu ras atau gender, yang semakin dilihat sebagai aset yang berharga.

Meniru model Cina

Mungkin tantangan terbesar AS di masa depan akan datang dari Cina. Beberapa kota di sana sudah memiliki budaya perusahaan perintis yang berkembang, kata investor Hans Tung dari perusahaan pemodal ventura GGV Capital, lalu merujuk Beijing, Shanghai, Hangzhou dan Shenzhen.

Cina juga sudah memiliki raksasa teknologinya sendiri, termasuk Alibaba, Tencent dan Baidu.

Beberapa kota-kota Cina itu kini "menyaingi" Silicon Valley, kata Tung. Dia meyakini bahwa dengan memprioritaskan perusahaan perintis, masyarakat harus membuat pilihan-pilihan yang sulit akan budaya kerjanya.

Contohnya, budaya Cina yang bekerja dalam waktu yang panjang, yang menuntut banyak dari pegawainya, akan semakin menuntut lebih seiring dengan semakin banyaknya investasi yang dikucurkan.

Dan meski sudah bekerja keras, banyak perusahaan-perusahaan baru ini yang tidak mendapat untung — karena jika ada banyak perusahaan perintis, maka proporsi perusahaan yang gagal juga tinggi.

Perusahaan perintis di Cina jelas bernasib kurang lebih sama dengan saingan mereka di belahan dunia lain.

Satu laporan baru menyatakan bahwa 90% dari bisnis realitas virtual Cina sudah bangkrut. Dan perusahaan AS yang juga meluncurkan perusahaan perintis di Cina juga sering gagal. Contohnya, situs diskon konsumen Groupon yang mencoba membuka bisnis di Cina.

Gelembung?

Banyak negara dan investor besar yang santai menanggapi budaya perusahaan perintis ini dan akan nasib investasi mereka. Mereka melihat bahwa sektor teknologi yang berkembang itu sehat.

Tapi ada satu manajer investasi yang khawatir, yaitu Robert Naess di Nordea Bank.

Naess menjelaskan bahwa di AS, pemodal ventura dan "pendukung dana" lain, kini menunggu untuk waktu yang sangat lama sebelum mendapat untung dari investasi mereka di perusahaan teknologi besar.

Ini artinya, pasar memberikan dana yang sangat besar agar perusahaan-perusahaan ini sukses dan terus sukses. "Saya menahan diri untuk tidak menyebutnya sebuah gelembung," kata Naess.

Dan ada tanda-tanda lain akan perlambatan, contohnya, di area yang dulunya bisa diandalkan, seperti elektronik, yang mendorong pertumbuhan perusahaan seperti Google dan Apple.

Simon Bryant, analis di Futuresource menjelaskan bahwa meski ada banyak antusiasme akan teknologi 'smart home' dan perangkat Internet of Things, tak ada banyak tanda yang menunjukkan bahwa konsumen berniat membelinya.

Membandingkan pasar hari ini dengan era kejatuhan Dotcom 18 tahun lalu juga tak selalu membantu, karena sebagian besar analis merasa bahwa itu adalah era yang berbeda.

Dan Breznitz menyebut bahwa gelembung era dotcom adalah sesuatu yang perlu terjadi untuk mengawali apa yang kini terjadi.

Bahkan, menurutnya gelembung era dotcom menjadi fondasi fisik yang membuat raksasa teknologi saat ini mampu membangun kerajaan bisnis mereka.

Butuh banyak investasi dan antusiasme untuk menempatkan infrastruktur serat optik itu — dan itulah antusiasme yang ada di gelembung , dia menambahkan.

"Hampir semua orang yang berinvestasi di serat optik kehiangan uang mereka — orang-orang yang membeli serat optik dengan harga murah, seperti Google, mendapat keuntungan besar," kata Paul Triolo, menyetujui.

"Semua serat optik itu akhirnya digunakan oleh analisis big data dan Cloud," katanya.

Pada akhirnya, sebagian orang merasa bahwa keributan dan kekecewaan dari gelembung pertama adalah pembelajaran yang menciptakan Valley yang sangat menguntungkan.

Kekacauan itu adalah sesuatu yang buruk yang harus terjadi, menurutnya. Dan akhirnya, sebagian kecil orang menjadi sangat kaya.

Jadi, dari Shenzhen sampai Dublin, dan berbagai pusat inovasi lain yang ingin mengambil keuntungan dari sukses ini mungkin tetap tergoda: mari membuat pengorbanan besar, mengambil risiko besar — meski jalannya tidak bertanggungjawab.

Tampaknya kini kita semua sedang menjadi penjudi besar.

Jadi, siapa yang takut menghadapi gelembung berikutnya?

Share this post


Link to post
Bagikan di situs lain

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Balas topik ini...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Konten yang sama

    • Guest News
      Oleh Guest News
      Elon Musk, Kepala SolarCity dan CEO Tesla Motors, berbicara di KTT Energi SolarCity di Manhattan, New York.
      Beberapa eksekutif Silicon Valley memberikan sumbangan kepada upaya-upaya hukum untuk mendukung para imigran yang menghadapi pelarangan.
      Silicon Valley mengambil tempat di depan pada akhir pekan dalam perlawanan korporat terhadap larangan imigrasi Presiden AS Donald Trump, dengan mendanai gugatan hukum, mengkritik rencana tersebut, dan membantu para pegawai yang terimbas perintah eksekutif Trump itu.
      Dalam sebuah industri yang telah lama bergantung pada imigran dan merayakan kontribusi mereka, serta mendukung aktivisme liberal seperti hak-hak gay, pada awalnya tidak banyak konsensus mengenai bagaimana merespon langkah Trump hari Jumat (27/1).
      Namun, meski sebagian besar di dalam industri teknologi tidak secara langsung mengkritik presiden baru dari Partai Republik itu, mereka melangkah lebih jauh dibandingkan para mitranya di sektor lain, yang sebagian besar tutup mulut selama akhir pekan. Sebagian besar dari bank-bank besar AS dan perusahaan otomotif, misalnya, menolak berkomentar saat ditanya Reuters.
      Trump memerintahkan larangan sementara terhadap orang-orang yang datang dari tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim dan penangguhan 120 hari terhadap pemukiman pengungsi. Aksi ini memicu protes global, dan menimbulkan kebinungan dan kemarahan setelah para imigran, pengungsi dan pengunjung dilarang naik pesawat dan terlunta-lunta di bandar-bandar udara.
      Perusahaan-perusahaan besar seperti Apple Inc, Google dan Microsoft Corp menawarkan bantuan hukum pada para pegawai yang terimbas perintah eksekutif itu, menurut surat-surat yang dikirim kepada staf. Beberapa eksekutif Silicon Valley memberikan sumbangan kepada upaya-upaya hukum untuk mendukung para imigran yang menghadapi pelarangan.
      CEO Tesla Elon Musk dan direktur Uber Travis Kalanick mengatakan di Twitter bahwa mereka akan membawa keprihatinan industri mengenai imigrasi ke dewan penasihat bisnis Trump, dimana mereka menjadi anggotanya.
      Kalanick telah menghadapi kecaman di media sosial karena setuju menjadi bagian kelompok penasihat tersebut. Dalam tulisan di halaman Facebooknya hari Minggu, Kalanick menyebut larangan imigrasi itu "keliru dan tidak adil" dan mengatakan bahwa Uber akan menyediakan dana US$3 juta untuk membantu para pengemudi dengan masalah-masalah imigrasi.
      Di antara yang terimbas larangan tersebut adalah Khash Sajadi, warga Iran keturunan Inggris yang merupakan kepala eksekutif perusahan teknologi Cloud 66 di San Francisco, yang terjebak di London. Seperti banyak pekerja teknologi lainnya, ia memegang visa H1B, yang memungkinkan warga-warga negara asing dengan keahlian khusus untuk bekerja di perusahaan-perusahaan AS.
      Sajadi mengatakan ia berharap perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Google dan Facebook akan mengambil tindakan hukum untuk melindungi para pegawai yang terdampak. Hal itu dapat membantu membuat preseden untuk orang-orang dengan situasi sama, namun ada di perusahaan lebih kecil.
      "Pada akhirnya, hanya berbicara saja tidak akan mengubah sesuatu" jika mereka tidak kaya dan tidak tinggal di pesisir Timur atau Barat [tempat perusahaan-perusahaan teknologi besar berada], ujarnya.
      Protes 'Tech Against Trump'
      Respon dari perusahaan-perusahaan teknologi telah "sekuat mungkin," ujar Eric Talley, profesor hukum korporasi dari Fakultas Hukum Universitas Columbia.
      "Salah satu aspek sulit dari reaksi terhadap pemerintahan Trump dalam dua minggu pertamanya adalah mencoba menyeimbangkan keinginan mengekspresikan keprihatinan yang sah dengan konsekuensi berdiri terlalu jauh dari orang-orang lain," ujarnya.
      Industri teknologi juga memiliki isu-isu lain yang mungkin menempatkan mereka di pihak yang berlawanan dengan Trump, termasuk kebijakan perdagangan dan keamanan dunia maya.
      Presiden Mountain View, inkubator perusahaan rintisan Y Combinator di California, Sam Altman, menulis dalam tulisan blog yang dibaca banyak orang, mendesak para pemimpin sektor teknologi untuk bersatu melawan larangan imigrasi itu. Ia mengatakan ia telah berbicara dengan beragam orang mengenai pengorganisasian tapi tetap tidak yakin tindakan apa yang paling baik.
      "Jujur saja kami belum tahu," ujarnya. "Kami sedang membahasnya dengan kelompok-kelompok legal dan teknologi, tapi hal ini belum pernah terjadi sebelumnya dan saya kira tidak ada yang memiliki buku panduannya."
      Pada perusahaan transportasi Lyft, para pendirinya John Zimmer dan Logan Green, menjanjikan dalam blog perusahaan akan mendonasikan satu juga dolar dalam empat tahun ke depan untuk Serikat Kemerdekaan Sipil Amerika (ACLU), yang memenangkan gugatan melawan sebagian perintah eksekutif Trump pada Sabtu malam.
      Eksekutif lain, seperti Stewart Butterfield dari Slack dan kedua mitra Union Square Ventures, Albert Wenger dan Fred Wilson berjanji akan menyamai kontribusi untuk ACLU.
      Michael Dearing, pendiri perusahaan permodalan Harrison Metal, membentuk upaya yang disebut Project ELLIS -- singkatan dari Entrepreneurs' Liberty Link in Silicon Valley -- untuk membantu perusahaan-perusahaan rintisan dan perusahaan-perusahaan teknologi yang lebih kecil dengan isu-isu imigrasi. "ELLIS" juga merupakan referensi untuk Pulau Ellis di New York, tempat jutaan imigran tiba.
      Dalam kurang dari sehari, kelompok ini telah menangani dua kasus, ujarnya.
      Dave McClure, mitra pendiri 500 Startups dan pengkritik yang vokal terhadap Trump, mengatakan perusahaan investasinya akan segera membuka dana pertama di Timur Tengah dan akan menggeser perhatian untuk mendukung para wirausaha di negara-negara asal mereka, jika membawa mereka ke Amerika Serikat mustahil.
      Para pegawai rendahan telah mendesak para eksekutif untuk bertindak lebih jauh pada akhir pekan.
      Tak lama setelah mengetahui perintah Trump, Brad Taylor, insinyur berusia 37 tahun yang bekerja di perusahaan analisis web Optimizely, mulai mengorganisir "Tech Against Trump," sebuah demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Maret.
      Selain berdemonstrasi di Palo Alto, California, para penyelenggara acara ini mendesak para pegawai industri teknologi di perusahaan-perusahaan yang diam saja terhadap Trump untuk keluar dari kantor mereka.
      Taylor mengatakan ia terharu dengan pernyataan-pernyataan para pemimpin teknologi selama akhir pekan namun ia ingin melihat industri ini maju lebih jauh.
      "Tujuannya bukan untuk melawan industri teknologi, namun untuk mendesak mereka agar ada di pihak yang benar dalam sejarah," ujarnya.
    • Guest News
      Oleh Guest News
      Organisasi nirlaba "Leaders" mengirimkan beberapa perusahaan rintisan Palestina untuk belajar belajar bisnis di Silicon Valley, AS. Program ini mendapat dukungan dari Konsulat AS di Palestina.
       
    • Guest News
      Oleh Guest News
      Silicon valey adalah tempat mangkal perusahaan-perusahaan teknologi besar di San Fransisco Amerika Serikat.
      Presiden Joko Widodo meminta bantuan dukungan untuk Indonesia juga kepada perusahaan-perusahaan teknologi yag ada di silicon valley.
       
    • Oleh berita_semua
      Dua pemeran film serial Silicon Valley, Kumail Nanjiani dan Thomas Middleditch, tiba-tiba dihampiri dua orang pemuda kulit putih berusia 20-an tahun ketika sedang berada di dalam sebuah bar di kota Los Angeles, AS, akhir minggu lalu.
      Kedua pemuda tersebut rupanya ingin mengajak berdebat karena tidak suka dengan sikap politik Nanjiani dan Middleditch yang dikenal sebagai penentang Presiden terpilih AS, Donald Trump. 
      Tapi, Nanjiani tak mau melayani ulah mereka. “Hei, kami tidak mau berdiskusi soal politik sekarang,” kicau Nanjiani di Twitter, mengulangi ucapannya malam itu.
      Penolakannya malah berbuah ejekan dari kedua pemuda pendukung Trump yang mulai berteriak dan mendekati Nanjiani. Middleditch yang berusaha menghentikan tindakan agresif itu malah diajak berkelahi.
      Beruntung, sebelum situasi menjadi makin panas, petugas bar menghampiri mereka, lalu mengusir kedua pemuda tadi ke luar bar. 
      Silicon Valley adalah serial TV yang ditayangkan di HBO yang bercerita seputar kehidupan startup teknologi di AS. Seperti diketahui, mayoritas perusahaan teknologi di AS memang berseberangan dengan cara pandang Donald Trump selama kampanye.
      Berbau rasial
      Insiden tersebut diduga dilatarbelakangi rasisme karena Nanjiani adalah komedian asal Pakistan yang bertampang Asia. Dia besar di kota Karachi, lalu pindah ke AS saat kuliah dan kini memiliki dua kewarganegaraan. 
      Nanjiani menyayangkan peristiwa tersebut bisa terjadi di Los Angeles yang dikenal sebagai kota liberal. Lokasinya pun tidak sepi, melainkan ramai dengan pengunjung ketika itu.
      “Saya tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya menjadi orang yang berpenampilan seperti saya di wilayah lain negeri ini,” ucapnya.
      Semenjak Trump memenangi pemilu AS Rabu pekan lalu, gelombang serangan berbau hate crime yang dilatarbelakangi kebencian berbasis SARA telah melanda Negara Paman Sam. 

      Para pelakunya disinyalir memperoleh justifikasi dan berani muncul ke permukan karena menganggap tindakan mereka sesuai dengan pandangan Trump terhadap politik dan masyarakat AS. 

      Sang presiden terpilih itu memang sering menyuarakan kebencian terhadap golongan minoritas di AS ketika berkampanye.
    • Guest News
      Oleh Guest News
      Berbagai perusahaan teknologi di Silicon Valley, Amerika jadi incaran banyak pencari kerja dari seluruh dunia. Selain menawarkan gaji dan tunjangan menggiurkan, mereka juga menawarkan berbagai fasilitas yang memanjakan karyawan, mulai dari ruang video game sampai layanan cukur rambut.
       
×
×
  • Membuat baru...

Important Information

Kami menggunakan cookie. Mereka tidak menakutkan, tetapi beberapa orang berpikir mereka. Terms of Use & Kebijakan Privasi