Jump to content

Militan ISIS Percaya Yesus Gara Gara Bermimpi


TheKingsArmy

Recommended Posts

  • Verified Account

2313350Pejuang-ISIS1780x390.thumb.jpg.71

Seorang mantan militan ISIS bermimpi melihat sosok yang dipercaya adalah Yesus. Militan ISIS yang diketahui telah banyak membantai umat Kristen mengaku telah mendengar suara Yesus.  

Hal ini disampaikan berdasarkan laporan Direktur Youth With A Mission (YWAM), Gina Fadely. Ia mengatakan seorang missionaris YWAM yang berada di Timur Tengah menceritakan pengalaman itu setelah bertemu dengan mantan anggota ISIS tersebut. “Ia menceritakan kepada pemimpin YWAM itu bahwa dia bermimpi tentang sosok laki-laki putih menghampirinya dan berkata, ‘Kamu membunuh umat Ku’. Dan dia mulai merasa sakit dan gelisah tentang apa yang telah dilakukannya,” terang Fadely.

Tak hanya terjadi satu kali, mimpi berikutnya kembali berulang. Ketika itu, sosok pria putih itu meminta untuk mengikut Dia. “Dalam mimpi lain, Yesus meminta untuk mengikuti-Nya dan sekarang dia diminta untuk menjadi pengikut dan murid Kristus,” tambahnya.

Nabeel Qureshi, seorang apologis dan penulis buku Seeking Allah, Finding Jesus, berkomentar bahwa pengalaman mimpi itu dapat dipercaya. Sebab banyak orang yang berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan Tuhan secara pribadi. Namun, kenyataannya perjumpaan itu bisa terjadi melalui mimpi dan seolah mendengar apa yang disampaikan Tuhan secara nyata.

Mungkin kisah ini sama seperti cerita Saulus sang pembantai orang percaya yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan (baca Kisah Para Rasul 9). Sebab sebelum mengalami mimpi itu, mantan militan tersebut mengaku sangat gemar membantai orang-orang Kristen. Sama seperti apa yang telah kita dengar tentang tindakan  brutal kelompok garis keras terhadap orang-orang tak berdosa, sebagian diperlakukan sebagai sanderaan dan kemudian dibunuh.

Link to comment
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By news
      Gedung Putih Sabtu lalu membenarkan tewasnya Hamza, putra Osama bin Laden yang dicurigai sedang disiapkan untuk memimpin kelompok Al Qaida. Hamza terbunuh dalam operasi militer yang tak dirinci lebih lanjut di Afghanistan-Pakistan. Wilayah yang sama kini juga berpotensi disusupi kelompok ISIS.
       
    • By karinanova
      Mengapa kita percaya adanya Tuhan? Mengapa kita memiliki agama sebagai keyakinan?
      Pertanyaan ini sebenarnya dapat dijawab dengan sederhana: karena kita yakin.
      Keyakinan tersebut yang membuat kita percaya akan adanya Tuhan, menjalankan perintah Tuhan, dan meyakini bahwa agama yang dianut adalah benar.
      Bagaimana pendapat sains tentang ini?

      Penelitian Terbaru
      Penelitian sebelumnya mengatakan bahwa orang-orang yang memiliki keyakinan agama yang kuat cenderung lebih intuitif dan kurang analitis. Sementara ketika mereka berpikir lebih analitis, keyakinan agama mereka menurun.
      Namun, menurut penelitian terbaru oleh Universitas Coventry dan Oxford mengatakan bahwa keyakinan agama tidak terkait dengan intuisi atau pemikiran rasional. Para akademisi dari Ilmu Perilaku di Universitas Conventry dan ilmuwan saraf di Universitas Oxford, menunjukkan bahwa kita (manusia) tidak terlahir sebagai ‘orang beriman’.
      Dengan kata lain, ketika kita lahir, kita tidak membawa keyakinan apapun--hanya akal dan sel-sel otak yang saling terkoneksi.
      Penelitian tersebut yang mencakup tes terhadap peziarah yang mengambil bagian dalam Camino de Santiago (di utara Spanyol) dan eksperimen stimulasi otak yang terkenal--tidak menemukan kaitan antara pemikiran analitis dan hambatan kognitif (kemampuan untuk menekan pikiran dan tindakan yang tidak diinginkan) dengan keyakinan adikodrati (supernatural).
      Sebaliknya, para akademisi menyimpulkan bahwa faktor lain, seperti proses asuhan dan sosio-kultural, lebih cenderung memainkan peran lebih besar dalam keyakinan agama.
      Studi yang diterbitkan dalam Scientific Reports adalah yang pertama untuk menantang tren yang berkembang di kalangan psikolog kognitif selama 20 tahun terakhir yang telah berusaha menunjukkan bahwa percaya pada hal adikodrati adalah sesuatu yang datang kepada kita 'secara alami’.
      Dalam penyelidikan pertama terhadap peziarah Camino de Santiago de Compostela, tim bertanya kepada mereka tentang kekuatan keyakinan mereka dan menilai tingkat pemikiran intuitif mereka dengan tes probabilitas- di mana para peserta harus memilih di antara pilihan logis atau 'firasat'.
      Hasilnya, tidak menyarankan hubungan antara kekuatan keyakinan dan intuisi adikodrati.
      Dalam studi kedua, tim menggunakan teka-teki matematika untuk meningkatkan intuisi. Hasilnya sama. Mereka juga tidak menemukan hubungan antara tingkat pemikiran intuitif dan kepercayaan adikodrati.
      Pada bagian terakhir dari penelitian, tim menggunakan stimulasi otak untuk meningkatkan tingkat penghambatan kognitif, yang diperkirakan mengatur pemikiran analitis.
      Sebuah penelitian pencitraan otak sebelumnya telah menunjukkan bahwa ateis menggunakan area otak yang mengendalikan hambatan kognitif ini lebih banyak lagi ketika mereka ingin menekan gagasan terkait hal-hal adikodrati.
      Hasilnya menunjukkan bahwa stimulasi otak ini meningkatkan tingkat penghambatan kognitif. Hal tersebut tidak mengubah tingkat kepercayaan adikodrat, menunjukkan bahwa tidak ada hubungan langsung antara keduanya.
      Para akademisi mengatakan bahwa terlalu "prematur" jika menjelaskan kepercayaan pada Tuhan sebagai intuitif atau alami.
      Sebaliknya, mereka mengatakan penelitian mereka mendukung teori bahwa agama adalah proses berbasis ‘nurture’ dan berkembang karena proses sosio-budaya, termasuk pengasuhan dan pendidikan.
      Penutup
      Maraknya aksi terorisme yang dilancarkan segelintir orang dari kaum agama tertentu tidak bisa menjadi patokan untuk menggeneralisasikan agama tersebut. Sejatinya, agama atau keyakinan bisa menjadi pedoman hidup yang baik untuk selalu berbuat kebaikan.
      Hanya saja, interpretasi yang salah, yang dilancarkan ‘pemuka agama’ tertentu yang tak bertanggung jawab dengan dalih ‘membela Tuhan’ bisa menjadi bahaya besar. Inilah ‘wrong number’ terbesar dari umat manusia, kata PK dalam film PK (2014).
      Intinya, pengasuhan dan pendidikan yang tepat terhadap keyakinan beragama sangat diperlukan untuk menciptakan kedamaian dan kerukunan dalam perbedaan.
      Tuhan ada, agama perlu. Namun, toleransi adalah yang utama.
    • By gogolakanok
      Direktur Wahid Foundation, Zanuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid) mengatakan jumlah warga Indonesia yang terlibat menjadi pejuang Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) meningkat 60 persen. Awalnya WNI yang menjadi penjuang ISIS cuma 500 orang. Sekarang sudah 800 orang menjadi pejuang ISIS di Irak dan Suriah," kata Yenny di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok, Kamis, 16 Februari 2017.
      Menurut Yenny, bahkan dari hasil survei Wahid Foundation bersama Lingkar Survei Indonesia pada 2016 mengungkapkan 11 juta dari 150 juta penduduk muslim Indonesia siap melakukan tindakan radikal. Jumlah tersebut mencapai 7,7 persen dari total penduduk muslim Indonesia. Sedangkan, 600 ribu atau 0,4 persen penduduk muslim Indonesia pernah melakukan tindakan radikal.
      Adapun karakteristik kelompok radikal di Indonesia, kata Yenny, pada umumnya masih muda dan laki-laki. Mereka banyak mengkonsumsi informasi keagamaan yang berisi kecurigaan dan kebencian. Selain itu, mereka memahami ajaran agama secara literatur bahwa jihad sebagai perang dan dalam isu muamalah. Bahkan, kelompok yang terpapar radikalisme membenarkan serta mendukung tindakan dan gerakan radikal. "Mereka juga menentang pemenuhan hak-hak kewarganegaraan," katanya.
      Aktivis Islam Yenny Wahid (kiri), Terpidana kasus terorisme Umar Patek (3 kiri) dan mantan narapidana kasus terorisme Jumu Tuani (kanan) saat menjadi pembicara dalam seminar Resimen Mahasiswa Mahasurya Jawa Timur, di Hotel Savana, Malang, Jawa Timur 25 April 2016. TEMPO/Aris Novia Hidayat.
      Survei tersebut didesain menggunakan multi-stage random sampling dengan perkiraan margine of error 2,6 persen dan tingkat keyakinan 95 persen. Sampel terdiri dari 1.520 responden dari 34 provinsi di Indonesia. Responden adalah dari orang dewasa berusia setidaknya 17 tahun. "Pengumpulan data dilakukan di keempat Maret dan pekan ketiga April 2016," ujarnya.

      Dari survei tersebut 72 persen atau mayoritas muslim Indonesia menolak tindakan radikal. Namun, dari hasil survei tersebut mengungkapkan tantangan munculnya dan meningkatnya gerakan radikalisme yang perlu mendapatkan tanggapan serius baik dari pemerintah maupun masyarakat. "Aksi radikal di Indonesia mencakup pemberian dana atau materi sampai melakukan penyerangan terhadap rumah agama. Gejala ini patut mendapatkan perhatian, ungkapnya.
    • Guest News
      By Guest News
      Presiden AS Donald Trump hari Jumat (27/1) datang ke Pentagon, kantor Departemen Pertahanan AS, guna mengadakan pembicaraan dengan petinggi militer tentang pilihan-pilihan yang ada untuk mengalahkan Negara Islam ISIS. Menurut pejabat-pejabat Pentagon kepada VOA, di bawah pemerintahan lalu, hal ini tidak boleh dibicarakan.
      Misalnya, kata seorang pejabat Pentagon kepada VOA pemerintahan Obama berpegang pada dua prioritas yaitu membuat Turki puas dan ISIS dikalahkan.
      Di lain bagian, Pentagon berharap mendapat prioritas yang jelas dalam mengarahkan tindakan untuk mengalahkan ISIS.
      Satu pilihan untuk mengalahkan ISIS yang mungkin diusulkan kepada Trump ialah mempersenjatai atau memperkuat kelompok Kurdi-Suriah yang dikenal dengan singkatan YPG.
      Dukungan Amerika kepada kelompok ini menjadi peka, karena Turki yang anggota NATO menganggap kelompok ini kelompok teroris. Namun, pasukan Kurdi merupakan inti dari pasukan untuk merebut Raqqa dan sudah terbukti sangat efektif dalam mengalahkan ISIS di Suriah timur dan utara.
      Pentagon besar kemungkinan minta wewenang yang lebih luas dari Trump supaya para komandan militer mempunyai ruang lebih luas dalam manuver untuk mengalahkan ISIS. [www.voaindonesia.com]
    • Guest News
      By Guest News
      Presiden Donald Trump menegaskan tekad AS untuk menyingkirkan kelompok teroris ISIS. Presiden Trump menyampaikan pernyataan itu di depan para anggota intelijen di Markas CIA di Langley, Virginia. 
       
×
×
  • Create New...