Jump to content
Adeus

Sedih! Ibu di Jepang Korbankan Nyawa Demi Kehidupan Anak

Recommended Posts

Screenshot_2014-12-19-11-12-57.thumb.png

Ternyata wanita itu telah berusaha menyelamatkan anaknya dengan cara bersujud. “Jika kamu dapat bertahan hidup, kamu harus ingat bahwa aku mencintaimu,” demikian pesan dalam ponsel di selimut bayi.

Ini kisah haru setelah terjadi gempa besar di Jepang. Saat tentara dan tim penyelamat jepang mencari satu persatu korban gempa di reruntuhan bangunan, menemukan sebuah keajaiban.

Tim penyelamat semula mendatangi reruntuhan sebuah rumah warga. Namun mereka hanya melihat perempuan muda yang tengah bersujud. Tangannya tampak menopang badan agar tidak membenur ke lantai. Sementara pungung dan kepalanya telah tertimpa reruntuhan.

Screenshot_2014-12-19-11-14-02.thumb.png

Petugas penyelamat tak bisa masuk dalam reruntuhan itu. hanya bisa menggapai dengan tangan. Namun sayang, perempuan muda itu tak menunjukkan tanda-tanda hidup. Sehingga petugas meningalkannya, karena memang prioritas waktu itu mencari korban selamat dulu.

Tim penyelamat mendatangi rumah selanjutnya, namun tak menemukan korban selamat. Namun karena alasan tertentu, pemimpin tim terdorong untuk kembali ke rumah tempat perempuan muda itu ditemukan.

Pemimpin tim ini lalu berlutut lagi dan menggunakan kepalanya melalui celah-celah sempit untuk mencari sedikit ruang di bawah mayat wanita tersebut. Tiba-tiba, ia berteriak dengan gembira, “Anak kecil! Ada anak kecil!

Seluruh tim penyelamat pun mendekat. Mereka bekerja bersama-sama, dengan hati-hati menyingkirkan tumpukan benda hancur di sekitar wanita yang sudah meninggal. Setelah proses pembersihan ditemukan bayi 3 bulan terbungkus selimut bunga-bunga di bawah mayat ibunya.

jp2.thumb.jpg.1b40e6242378d239db4b7f67ed

Ternyata wanita itu telah berusaha menyelamatkan anaknya dengan cara bersujud. Saat diselamatkan, bayi itu masih tidur pulas. Dokter pun dengan cepat datang ke lokasi. Setelah selimut itu dibuka, ternyata ada sebuah ponsel. “Jika kamu dapat bertahan hidup, kamu harus ingat bahwa aku mencintaimu,” demikian pesan yang tertulis dalam layar ponsel itu.

Ini dia fotonya ndral: :nuangis

clip_image026_thumb.thumb.jpg.be177ae79a

Ini adalah kisah nyata Pengorbanan seorang Ibu selama Gempa di Jepang.

Setelah Gempa telah mereda, ketika para penyelamat mencapai reruntuhan rumah seorang wanita muda, mereka melihat mayat-nya melalui celah-celah. Tapi wanita tersebut berpose begitu aneh, dia berlutut seperti seseorang yang menyembah; tubuhnya condong ke depan, dan dua tangan yang mendukung oleh suatu benda. Rumah roboh telah menimpa punggung dan kepalanya.

Dengan begitu banyak kesulitan, pemimpin tim penyelamat meletakkan tangannya melalui celah sempit di dinding untuk mencapai tubuh wanita itu. Dia berharap bahwa wanita ini bisa jadi masih hidup. Namun, tubuh dingin dan kaku menandakan bahwa wanita tsb pasti telah meninggal.

Pemimpin tim dan seluruh anggota tim lalu meninggalkan rumah ini dan akan mencari gedung yang runtuh berikutnya. Namun karena alasan tertentu, pemimpin tim terdorong untuk kembali ke rumah hancur dari wanita tadi. Pemimpin tim ini lalu berlutut lagi dan menggunakan kepalanya melalui celah-celah sempit untuk mencari sedikit ruang di bawah mayat wanita tersebut. Tiba-tiba, ia berteriak dengan gembira, “Anak kecil! Ada anak kecil!”

Lalu seluruh tim bekerja bersama-sama, dengan hati-hati mereka menyingkirkan tumpukan benda hancur di sekitar wanita yang sudah meninggal. Ada seorang anak kecil berusia 3 bulan terbungkus selimut bunga-bunga di bawah mayat ibunya. Jelas, wanita itu telah membuat pengorbanan untuk menyelamatkan anaknya. Ketika rumahnya jatuh, ia menggunakan tubuhnya untuk membuat penutup untuk melindungi anaknya. Anak itu masih tidur pulas ketika pemimpin tim mengangkatnya.

Para dokter datang cepat untuk mengevakuasi anak kecil itu. Setelah ia membuka selimut, ia melihat sebuah ponsel di dalam selimut. Ada pesan teks pada layar. Dikatakan, “Jika kamu dapat bertahan hidup, kamu harus ingat bahwa aku mencintaimu.

Ponsel ini berkeliling dari satu tangan ke tangan yang lain pada tim itu. Setiap tubuh yang membaca pesan tersebut menangis. “Jika kamu dapat bertahan hidup, kamu harus ingat bahwa aku mencintaimu.” Itu artinya cinta ibu untuk anaknya!

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By keenion
      Jepang adalah salah satu negara yang dipuji memiliki budaya jujur yang tinggi. Barang-barang yang hilang atau tertinggal di tempat umum akan dikembalikan kepada pemiliknya. Semua itu sudah diajarkan sejak dini di sekolah-sekolah Jepang.
      Jake Adelstein baru selesai makan siang dan berencana untuk membeli pancake. Ketika hendak mengambil uang, ia baru menyadari jika dompetnya terasa ringan dari biasanya. Padahal ia baru dari mesin ATM dan menarik uang tunai 100.000 yen.
      Saat diperiksa ternyata uang tersebut tak ada dalam dompet. Merasa ada sesuatu yang janggal ia pun menelepon operator bantuan ATM dan menanyakan terkait transaksi di ATM, akan tetapi menurut operator itu tak ada informasi mengenai transaksi itu. Ia pun disarankan untuk melapor ke polisi.
      Jake kemudian membuat sebuah laporan kehilangan di kantor polisi Shibuya dan menceritakan kembali kejadiannya kepada salah seorang polisi. Setelah selesai, polisi tersebut memberi Jake nomor kasus yang ia laporkan dan meminta Jake untuk tidak menghilangkannya.
      Keesokan harinya, pada pukul 10 pagi, ia mendapat telepon dari Kantor Polisi Shibuya untuk datang ke stasiun untuk mengambil uangnya dengan membawa identitas diri. Jake pun menuju ke tempat yang disebutkan oleh polisi tersebut dan setelah mengisi selembar kertas, uangnya pun dikembalikan.
      “Saya ingin meninggalkan hadiah untuk orang yang menyerahkannya (uang),” kata Jake.
      Namun, petugas tersebut menjawab bahwa orang yang menemukan uang tersebut menolak untuk mengklaim hadiah dan merahasiakan siapa yang menemukan. Mark Kareles pendiri Mt. Gox Co yang merupakan bursa Bitcoin terbesar di dunia yang kolaps pada 2014 itu juga mengagumi kejujuran sebagian besar orang Jepang.
      “Ketika saya pertama kali tiba (di Jepang), terkadang saya meninggalkan laptop saya di bangku taman dan saya kagum bahwa barang itu akan tetap ada saat saya kembali. Atau orang akan mengejar saya dengan laptop dan mengembalikannya,” ujar Mark.
      Untuk kenyamanan penduduknya Jepang memang membentuk Lost and Found Centre yang menjadi pusat barang-barang hilang. Tak hanya uang atau dompet, polisi Tokyo juga akan menindak kehilangan payung, syal atau sarung tangan termasuk penemuan uang 1 atau 5 yen.
      Ketika seseorang kehilangan barang di Jepang, biasanya mereka langsung datang ke Lost and Found Center. Barang-barang yang hilang akan disimpan selama 3 hingga 4 hari lalu setelah itu akan diserahkan Metropolitan Police Lost & Found Center yang berada dekat stasiun Lidabashi.
      Sarung tangan, payung hingga syal yang tertinggal di metro atau tempat umum dapat ditemukan di tempat itu. Asalkan harus melaporkan terlebih dahulu dan menunjukkan bukti kepemilikan barang serta identitas diri. Jika ingin meminta orang lain yang untuk mengambil barang yang hilang di Lost and Found Center, maka mereka harus membuat surat kuasa untuk dibawa oleh orang yang diminta untuk mengambil barang tersebut.
      Pada 2016, Tokyo Metropolitan Police Department's Lost and Found Center menangani sejumlah uang yakni sekitar 3,67 miliar yen atau setara 32 juta dolar AS yang hilang. Dalam prosesnya, menurut pihak kepolisian Tokyo, sekitar tiga perempat dari total uang yang hilang itu berhasil dikembalikan kepada pemiliknya.
      Benda sepele seperti payung yang ketinggalan di tempat publik atau di metro juga ditangani oleh kepolisian setempat. Di tahun yang sama, pihak Lost and Found Center menangani 381.135 payung. Mereka yang menemukan atau kehilangan uang 1 hingga 5 yen pun akan ditangani oleh pihak kepolisian.
      Anak-anak juga dibiasakan untuk melakukan hal jujur tersebut. Seperti yang dilakukan Mayako Matsumoto yang mengembalikan sebuah dompet berisi sekitar 100 dolar AS kepada pihak kepolisian dengan ditemani oleh ibunya. Pihak kepolisian mengapresiasi kejujuran Mayuko dengan memberinya imbalan beberapa permen. Kebiasaan itu tak terjadi secara tiba-tiba namun melalui pendidikan sejak dini.
      “Sekolah di Jepang memberi kelas terkait etika dan moralitas, dan siswa belajar membayangkan perasaan orang-orang yang kehilangan barang atau uang mereka sendiri. Jadi tak jarang melihat anak-anak membawa koin 10 yen ke kantor polisi itu, kata seorang profesor di Kansai University, Toshinari Nishioka.
      Selain itu, ada aturan yang menaungi terkait barang-barang yang hilang. Undang-Undang Jepang pada pasal 28 dari Lost Property Act menyatakan bahwa seseorang yang telah kehilangan barang harus membayar kepada para penemu antara 5 hingga 20 persen dari nilai barang yang ditemukan. Namun, hadiah itu hanya bisa diklaim dalam jangka waktu satu bulan. Tapi tak jarang juga mereka yang menemukan tak meminta imbalan.
      Dalam beberapa laporan menyebutkan tindakan kriminal di Jepang terutama perampokan menurun dari 5.988 kasus di tahun 2005 menjadi 3.056 kasus di tahun 2014. Atau jika dihitung per populasi yakni 4,72 kasus per 100.000 populasi di tahun 2005 turun menjadi 2,41 kasus per 100.000 populasi di tahun 2014.
      Laporan lain yakni dari United Stated Department of State Bureau of Diplomatic Security juga memberi status kriminal di Jepang pada level rendah atau low. Status itu berlaku untuk semua jenis tindak kriminal, termasuk kondisi dan keamanan transportasi yang baik.
      Bagaimana dengan Indonesia? Kejujuran memang masih ada di negeri ini tapi hanya bagi segelintir orang. Putri, penulis di salah satu media di Indonesia pernah kehilangan dompet di salah satu angkutan umum di Jakarta, sekitar tiga tahun lalu. Putri kemudian melapor kasus kehilangan itu ke pihak yang berwajib namun hingga saat ini, dompet tersebut tak kembali kepadanya.
      Dompet yang di dalamnya terdapat kartu identitas yang dapat memudahkan dalam mendapat petunjuk sang pemilik saja jarang dikembalikan, bayangkan barang seperti payung, syal, atau sarung tangan yang tentu tak ada identitas pemilik yang menempel di barang tersebut.
      Mereka yang berjalan di tempat umum kadang menjadi target dari para tangan nakal alias pencopet. Belum lagi tindakan perampokan yang berujung pada pembunuhan dan tindak kriminal lainnya. Kasus perampokan di Indonesia dari 9.742 pada 2008 naik menjadi 11.758 kasus di tahun 2014.
      Jika melihat ke Jepang, faktor pendidikan terkait kejujuran sudah dilakukan sejak dini menjadi salah satu faktor penting, sedangkan Indonesia hingga saat ini masih memperdebatkan terkait sistem pendidik full day school. Upaya tersebut diwacanakan untuk meningkatkan pendidikan karakter dari siswa siswi di Indonesia. Basisnya adalah kejujuran, toleransi, disiplin, hingga rasa cinta Tanah Air.
      Namun, sistem ini dikatakan tak tepat jika dilakukan di wilayah pedesaan dengan berbagai alasan. Sehingga masih banyak PR terkait pendidikan bagi pemerintah Indonesia, termasuk pendidikan terkait kejujuran.
    • By MariaAngeline
      Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, sebagai orang tua mungkin kita menjadi sering lupa dalam menjaga privasi di sosial media. Di sisi lain, sosial media memang memudahkan kita dalam menerima dan memberi informasi kepada teman terdekat hingga yang tak kenal sekalipun. Facebook contohnya, kebanyakan orangtua lebih memilih mengunggah foto anaknya dibanding foto orangtuanya sendiri.
      Masih ingat kasus seorang remaja yang dituduh telah menghina Kota Bandung dengan kata-kata kotornya di Twitter? Ya, kasus yang telah dilaporkan ke polisi oleh Wali Kotanya langsung ini sempat heboh di dunia maya, hingga terungkaplah bahwa foto orang pada akun bermasalah tersebut bukan foto asli pelaku. Dari kasus ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kita tidak boleh sembarang mengupload sebuah foto di sosial media, jika yang sopan saja sudah disalahgunakan bagaimana dengan foto yang kurang sopan?
      Sebaiknya orangtua kini lebih bijak dalam mengupload foto anak di sosial media, mengupload foto tanpa diseleksi lebih dulu bisa berdampak negatif di antara bahayanya adalah menjadi sasaran pelaku pedofil dan penculikan anak. Lalu, apa yang harus diperhatikan sebelum mengupload foto ke sosial media?
      Perhatikan Pengaturan Privasi
      Di Facebook misalnya, Anda dapat mengatur siapa saja yang bisa melihat foto atau status yang diposting, hanya untuk diri sendiri, keluarga, teman atau publik. Untuk photo anak lebih baik hanya kalangan teman atau anggota keluarga saja yang bisa melihat.
      Tidak Memasang Foto Anak Tanpa Busana
      Siapa yang tidak gemas jika melihat anak balita yang tengah mandi atau tanpa busana? Tentu semua orang menyukai foto bayi yang terlihat lucu saat mandi. Tapi ternyata, mengupload foto balita tanpa busana atau hanya memakai pakaian dalam sangat tidak disarankan. Karena ini akan membahayakan anak sendiri, anak bisa menjadi target dari pelaku pedofil atau predator.
      Meski masih balita bukan berarti bisa bebas mengabadikan semua momen dan mengunggah fotonya di sosial media. Sebaiknya dipikir ulang jika ingin mengunggahnya, pilihlah foto yang memang sopan dan tidak memancing tindak kriminal.
      Hindari Memasang Status Lokasi
      Tidak jarang para orangtua suka menandai keberadaan lokasi saat bersama anak. Bukan tidak boleh berbagi informasi tentang kegiatan dan lokasi dimana kita menghabiskan waktu bersama anak, tapi cobalah untuk mengurangi kebiasaan memberitahu secara detail lokasi dimana kita berada. Hal ini bisa memancing tindakan penculikan terhadap anak, jadi alangkah baiknya jika Anda tidak menulis nama lengkap anak atau lokasi secara detail jika ingin mengupdate status di sosial media.
      Hindari berfoto dengan latar tempat
      Misalnya berfoto di depan sekolah, rumah dan lokasi-lokasi yang sekiranya dapat memudahkan para pedofil atau penculik mencari anak Anda. Hindari melakukan hal ini! Banyak kasus penculikan yang bermula dari lokasi sekolah anak dengan tujuan untuk memeras hingga kasus penjualan anak.
      Berikan Komentar Positif
      Saling memberikan komentar di sosial media memang akan menjadi ajang sosialisasi yang menyenangkan, namun pastikan Anda selalu memberikan komentar positif di sosial media. Jangan memberikan komentar negatif atau mengejek ya. Hindari menggunakan ikon atau tokoh kartun dengan karakter negatif sebagai julukan kepada anak. Sebaiknya sosial media dijadikan ajang positif untuk memberikan informasi yang bermanfaat.
      Perlu diingat bahwa setiap foto yang Anda upload di sosial media meskipun telah Anda hapus tidak menjamin foto tersebut akan menghilang di database mesin pencari, mungkin foto yang Anda unggah sudah ada yang mendownload atau menyebarkannya via sosial media lain. Jadi berhati-hatilah, jangan terlalu sering mengupload foto. Lebih baik dokumentasikan melalui album foto di rumah Anda.
    • By MariaAngeline
      Pembicaraan mengenai sex masih tabu di kalangan masyarakat Indonesia, namun di zaman sekarang ini rasanya pendidikan sex perlu diperkenalkan lebih dini kepada anak. Sex education yang mendidik tentu tidak akan mencederai apa yang seharusnya dijaga dan dipertahankan, bukan malah mengarahkan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma agama, sosial, dan kesusilaan. Sebagai orangtua, kita perlu mewaspadai hal-hal yang sekiranya dapat mempengaruhi pergaulan anak-anak, tidak hanya itu bahan bacaan seperti buku pun patut menjadi perhatian.

      Buku berjudul “Saatnya Aku Belajar Pacaran” karya Toge Aprilianto yang akhir-akhir ini menuai kontroversi di dunia maya, adalah salah satu contoh sumber media yang perlu diwaspadai. Isinya yang seolah mengajak anak remaja berhubungan intim banyak menuai kecaman. Bebagai media kini semakin terbuka dalam mempengaruhi pemahaman anak mengenai pendidikan sex yang akhirnya banyak menyimpang. Disinilah sebagai orangtua kita perlu mengetahui dan memahami kapan sex education diperkenalkan kepada anak dengan tepat sesuai usianya.
      Usia 5 tahun ke bawah
      Pertama, mungkin kita akan merasa kebingungan bagaimana caranya menyampaikan pendidikan seks pada seorang balita yang berusia 5 tahun, kenyataannya mungkin Anda bisa melewati tahap ini dengan mudah. Pada rentang usia ini, Anda bisa memulai pendidikan seks dengan memperkenalkan organ tubuh dan fungsinya masing-maisng. Tidak perlu merasa bingung dan ragu saat Anda harus memperkenalkan alat kelaminnya, waktu yang tepat akan menghilangkan ketidaknyamanan Anda saat memperkenalkan organ vitalnya. Seperti saat anak sedang dimandikan atau saat Anda memakaikan pakaiannya. Dalam hal ini Anda tidak perlu membahasnya hingga terlalu detail atau mengajarkannya dalam keadaan yang serius, cara ini diharapkan bisa menghindari penyebutan yang dianggap tidak sopan dengan menyebut alat kelamin yang dimilikinya saat berada di lingkungan sosial masyarakat.
      Selain memperkenalkan organ vitalnya, Anda juga bisa mengajarkan mengenai jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki dan apa perbedaannya. Mengajarkan anak tentang hak dan kewajibannya untuk menjaga milik pribadinya juga sangatlah penting, termasuk alat vitalnya. Beritahukan bahwa mereka tidak boleh menunjukkan alat kelaminnya secara sembarang tempat dan orang yang bukan muhrimnya. Hal ini untuk menghindari pelecehan seksual yang banyak mengincar anak-anak di sekitar kita.
      Jika anak mencoba menolak dicium atau dipeluk orang lain, hargai keputusannya. Mereka memiliki hak untuk menolak segala macam bentuk kasih sayang dari orang lain yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman, jangan memaksakan mereka untuk melakukannya meskipun hanya sebagai bentuk penghargaan. Hal ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mereka belajar penolakan.
      Usia 6-9 tahun
      Pada usia ini, orangtua perlu memperhatikan banyak hal. Setiap anak baik perempuan maupun laki-laki memiliki minat berbeda terhadap seks, ada yang masa bodoh tidak ingin tahu, merasa terganggu dengan pembicaraan sex, bahkan ada anak yang bisa memberikan respon sangat tertarik pada materi sex. Sebagai orangtua kita perlu pintar dalam menyikapinya sebelum memberikan sex education lebih detail jangan sampai mereka merasa terpojokkan, malu, atau bahkan menjadi terlalu liar dalam menyikapinya.
      Pada kasus pencabulan anak yang sering terjadi, kebanyakan dari mereka merasa tidak sadar bahwa dirinya mengalami pencabulan. Yang dipahami anak adalah mereka merasa disayangi karena mungkin pelaku meracuni pikiran mereka dengan pemahaman yang sesat apalagi diberikan imbalan sesuatu yang disukainya. Faktor ketidaktahuan dan ketidakberdayaan mereka telah dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan seksual secara sengaja. Oleh karena itu, Anda bisa mengajarkan anak mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri dari kejahatan seksual. Seperti mengajarkan mereka untuk menolak membuka pakaian, diraba alat vitalnya oleh teman, saudara atau orang yang dikenalinya meskipun diberikan imbalan. Mereka juga harus diberitahu cara merespon jika mereka dipaksa melakukan sesuatu atau diintimidasi oleh orang dewasa saat mereka mencoba melakukan penolakan yang membuatnya tidak nyaman. Dekati sang anak agar mereka selalu berusaha terbuka kepada orangtuanya.
      Usia 9-12 tahun
      Pada usia ini Anda perlu banyak memberikan informasi detail mengenai perubahan-perubahan yang akan terjadi pada bagian tubuh mereka saat masa puber yang cenderung berbeda pada tiap individu dan jenis kelamin. Jika laki-laki, beritahu bagaimana cara menyikapi mimpi basah sebagai bagian dari tandanya dia telah baligh. Atau jika perempuan beritahu bagaimana caranya menyikapi masa menstruasi sebagai bagian normal dari tahapan perkembangan invidu khususnya pada wanita.
      Memperkenalkan bagaimana cara menjaga kesehatan alat kelamin juga sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit kelamin di kemudian hari, tekankan bahwa jika mereka mengikuti peraturan tersebut mereka tidak perlu merasa banyak khawatir.
      Usia 12 tahun ke atas
      Berbagai data survei menyebutkan bahwa hampir setengahnya remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seksual sebelum terikat pernikahan. Ini artinya, telah banyak remaja yang sudah terjerat seks bebas tanpa pengawasan dan penanggulangan pendidikan seks dini khususnya dari orangtua. Perlu diketahui bahwa dorongan atau gairah seksual pada masa puber meningkat sangat signifikan, oleh sebab itu orangtua seharusnya sudah mengajarkan seperti apa sistem reproduksi dan bagaimana cara kerjanya pada masa ini.
      Memberikan pemahaman tentang arti cinta dan pacaran sangat mempengaruhi pemikiran sang anak dalam menyikapi pergaulan seks bebas yang terjadi di sekitarnya. Tanamkan pemahaman khususnya pada anak perempuan, bahwa jika ada laki-laki yang mengajaknya berhubungan di luar nikah bahkan sampai melakukan pemaksaan dan marah saat dia menolaknya bukan berarti dia tidak mencintainya. Justru jika hal tersebut terjadi, itu tandanya mereka tidak mencintai anak Anda dan hanya ingin menjadikan dia sebagai pelampias nafsunya saja. Sampaikan bahwa ada banyak konsekuensi yang akan dihadapinya jika mereka melanggar prinsip melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, baik dari sisi biologis, psikologis maupun sosial. Orangtua selalu dituntut untuk melakukan komunikasi dua arah untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan.
      Hindari mengeluarkan kata-kata menghakimi agar anak-anak tidak merasa takut dan enggan untuk berbagi cerita dengan orangtuanya. Jika orangtua merasa berat untuk membicarakan bahasan tentang seks dengan anak, mungkin Anda bisa meminta bantuan kepada psikologi untuk memberikan pendidikan seks yang tepat.
    • By MariaAngeline
      Pembicaraan mengenai sex masih tabu di kalangan masyarakat Indonesia, namun di zaman sekarang ini rasanya pendidikan sex perlu diperkenalkan lebih dini kepada anak. Sex education yang mendidik tentu tidak akan mencederai apa yang seharusnya dijaga dan dipertahankan, bukan malah mengarahkan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma agama, sosial, dan kesusilaan. Sebagai orangtua, kita perlu mewaspadai hal-hal yang sekiranya dapat mempengaruhi pergaulan anak-anak, tidak hanya itu bahan bacaan seperti buku pun patut menjadi perhatian.

      Buku berjudul “Saatnya Aku Belajar Pacaran” karya Toge Aprilianto yang akhir-akhir ini menuai kontroversi di dunia maya, adalah salah satu contoh sumber media yang perlu diwaspadai. Isinya yang seolah mengajak anak remaja berhubungan intim banyak menuai kecaman. Bebagai media kini semakin terbuka dalam mempengaruhi pemahaman anak mengenai pendidikan sex yang akhirnya banyak menyimpang. Disinilah sebagai orangtua kita perlu mengetahui dan memahami kapan sex education diperkenalkan kepada anak dengan tepat sesuai usianya.
      Usia 5 tahun ke bawah
      Pertama, mungkin kita akan merasa kebingungan bagaimana caranya menyampaikan pendidikan seks pada seorang balita yang berusia 5 tahun, kenyataannya mungkin Anda bisa melewati tahap ini dengan mudah. Pada rentang usia ini, Anda bisa memulai pendidikan seks dengan memperkenalkan organ tubuh dan fungsinya masing-maisng. Tidak perlu merasa bingung dan ragu saat Anda harus memperkenalkan alat kelaminnya, waktu yang tepat akan menghilangkan ketidaknyamanan Anda saat memperkenalkan organ vitalnya. Seperti saat anak sedang dimandikan atau saat Anda memakaikan pakaiannya. Dalam hal ini Anda tidak perlu membahasnya hingga terlalu detail atau mengajarkannya dalam keadaan yang serius, cara ini diharapkan bisa menghindari penyebutan yang dianggap tidak sopan dengan menyebut alat kelamin yang dimilikinya saat berada di lingkungan sosial masyarakat.
      Selain memperkenalkan organ vitalnya, Anda juga bisa mengajarkan mengenai jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki dan apa perbedaannya. Mengajarkan anak tentang hak dan kewajibannya untuk menjaga milik pribadinya juga sangatlah penting, termasuk alat vitalnya. Beritahukan bahwa mereka tidak boleh menunjukkan alat kelaminnya secara sembarang tempat dan orang yang bukan muhrimnya. Hal ini untuk menghindari pelecehan seksual yang banyak mengincar anak-anak di sekitar kita.
      Jika anak mencoba menolak dicium atau dipeluk orang lain, hargai keputusannya. Mereka memiliki hak untuk menolak segala macam bentuk kasih sayang dari orang lain yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman, jangan memaksakan mereka untuk melakukannya meskipun hanya sebagai bentuk penghargaan. Hal ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mereka belajar penolakan.
      Usia 6-9 tahun
      Pada usia ini, orangtua perlu memperhatikan banyak hal. Setiap anak baik perempuan maupun laki-laki memiliki minat berbeda terhadap seks, ada yang masa bodoh tidak ingin tahu, merasa terganggu dengan pembicaraan sex, bahkan ada anak yang bisa memberikan respon sangat tertarik pada materi sex. Sebagai orangtua kita perlu pintar dalam menyikapinya sebelum memberikan sex education lebih detail jangan sampai mereka merasa terpojokkan, malu, atau bahkan menjadi terlalu liar dalam menyikapinya.
      Pada kasus pencabulan anak yang sering terjadi, kebanyakan dari mereka merasa tidak sadar bahwa dirinya mengalami pencabulan. Yang dipahami anak adalah mereka merasa disayangi karena mungkin pelaku meracuni pikiran mereka dengan pemahaman yang sesat apalagi diberikan imbalan sesuatu yang disukainya. Faktor ketidaktahuan dan ketidakberdayaan mereka telah dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan seksual secara sengaja. Oleh karena itu, Anda bisa mengajarkan anak mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri dari kejahatan seksual. Seperti mengajarkan mereka untuk menolak membuka pakaian, diraba alat vitalnya oleh teman, saudara atau orang yang dikenalinya meskipun diberikan imbalan. Mereka juga harus diberitahu cara merespon jika mereka dipaksa melakukan sesuatu atau diintimidasi oleh orang dewasa saat mereka mencoba melakukan penolakan yang membuatnya tidak nyaman. Dekati sang anak agar mereka selalu berusaha terbuka kepada orangtuanya.
      Usia 9-12 tahun
      Pada usia ini Anda perlu banyak memberikan informasi detail mengenai perubahan-perubahan yang akan terjadi pada bagian tubuh mereka saat masa puber yang cenderung berbeda pada tiap individu dan jenis kelamin. Jika laki-laki, beritahu bagaimana cara menyikapi mimpi basah sebagai bagian dari tandanya dia telah baligh. Atau jika perempuan beritahu bagaimana caranya menyikapi masa menstruasi sebagai bagian normal dari tahapan perkembangan invidu khususnya pada wanita.
      Memperkenalkan bagaimana cara menjaga kesehatan alat kelamin juga sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit kelamin di kemudian hari, tekankan bahwa jika mereka mengikuti peraturan tersebut mereka tidak perlu merasa banyak khawatir.
      Usia 12 tahun ke atas
      Berbagai data survei menyebutkan bahwa hampir setengahnya remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seksual sebelum terikat pernikahan. Ini artinya, telah banyak remaja yang sudah terjerat seks bebas tanpa pengawasan dan penanggulangan pendidikan seks dini khususnya dari orangtua. Perlu diketahui bahwa dorongan atau gairah seksual pada masa puber meningkat sangat signifikan, oleh sebab itu orangtua seharusnya sudah mengajarkan seperti apa sistem reproduksi dan bagaimana cara kerjanya pada masa ini.
      Memberikan pemahaman tentang arti cinta dan pacaran sangat mempengaruhi pemikiran sang anak dalam menyikapi pergaulan seks bebas yang terjadi di sekitarnya. Tanamkan pemahaman khususnya pada anak perempuan, bahwa jika ada laki-laki yang mengajaknya berhubungan di luar nikah bahkan sampai melakukan pemaksaan dan marah saat dia menolaknya bukan berarti dia tidak mencintainya. Justru jika hal tersebut terjadi, itu tandanya mereka tidak mencintai anak Anda dan hanya ingin menjadikan dia sebagai pelampias nafsunya saja. Sampaikan bahwa ada banyak konsekuensi yang akan dihadapinya jika mereka melanggar prinsip melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, baik dari sisi biologis, psikologis maupun sosial. Orangtua selalu dituntut untuk melakukan komunikasi dua arah untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan.
      Hindari mengeluarkan kata-kata menghakimi agar anak-anak tidak merasa takut dan enggan untuk berbagi cerita dengan orangtuanya. Jika orangtua merasa berat untuk membicarakan bahasan tentang seks dengan anak, mungkin Anda bisa meminta bantuan kepada psikologi untuk memberikan pendidikan seks yang tepat.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy