Jump to content
Adeus

Gara Gara Pakai Headset Sambil Handphone di Charge, Kepalanya Meleduk

Recommended Posts

Handphone atau biasanya dikenal dengan smartphone atau gadget adalah barang elektronik yang dapat mengeluarkan radiasi yang berbahaya untuk tubuh maka dari itu kita juga harus membatasinya, efek panas pada handphone yang dapat menyebabkan radiasi yang negatif bagi tubuh kita.

Tentunya setiap kita suka untuk mendengarkan musik melalui barang elektronik kita ataupun handphone. Namun jika mendengarkan musik yang keras dalam jangka panjang dapat merusak telinga kita.

5584babaee2e9_Asik_Tertidur_Karena_Heads

Seorang wanita di Filipina ditemukan tewas di atas tempat tidurnya. Wanita malang ini dibunuh oleh headsetnya sendiri dalam tidurnya.

Crizelle de Vera mengatakan, wanita ini mengecas ponselnya sambil mengenakan headset di telinga dan tertidur.

Belum diketahui apakah dia sedang menelpon atau sedang mendengarkan lagu kemudian tertidur, yang jelas ketika jasadnya ditemukan headset masih tertancap di telinganya.

Vera juga melanjutkan, ketika wanita ini tertidur pulas, ponsel yang terhubung dengan charger terlalu panas, sehingga terbakar dan arus listrikpun mengalir ke telinganya melalui headset yang terhubung.

Peristiwa ini terjadi di Filipina pada tanggal 10 Juni 2015 lalu, sekitar jam 11 malam.

Vera pun membagikan cerita ini melalui akunnya, supaya orang lebih berhati-hati saat menggunakan headset supaya kejadian seperti yang dialami gadis malang ini tidak terulang lagi.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • Guest news
      By Guest news
      Sebuah toko pakaian unik dibuka di kota New York baru-baru ini, yang menawarkan pakaian netral jender. “Phluid project” menjual busana yang tidak dikategorikan berdasarkan jender, untuk siapapun dengan jender dan orientasi seksual apapun.
       
    • By paimin
      Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Saatnya Alvin beranjak dari tempatnya menimba ilmu di SDN Kebon Kacang 02 Petang, Tanah Abang, Jakarta Pusat menuju rumahnya. Sekolah Alvin terletak di jantung Ibu Kota, tepatnya di belakang pusat perbelanjaan Thamrin City. 

      Akan tetapi, perjalanan Alvin untuk bisa bertemu orang tua dan saudaranya tak semudah yang dibayangkan. Bocah berusia 8 tahun itu saban harinya harus menempuh jarak sejauh 50 kilometer sebelum sampai ke rumah. 

      Alvin tak mengeluh, kondisi seperti ini sudah ia lakoni sejak 6 bulan yang lalu saat kedua orang tuanya pindah ke Parung Panjang, Bogor. Dua kaki kecilnya dengan lincah berjalan menyusuri trotoar yang dipadati kendaraan. Mengenakan tas ransel berwarna merah, topi merah putih berlambang garuda dan seragam putih Alvin tampak bersemangat. 

      Ia berhenti di depan SPBU Kebon Kacang dan menunggu angkutan umum yang biasa mengantarnya ke Stasiun Karet.Sesak udara di angkutan biru tak membuatnya menyerah. 
      Sesampainya di Stasiun Karet, siswa kelas dua itu bergegas menuju loket untuk membeli tiket ke stasiun Parung Panjang seharga Rp 6.000. Memasuki stasiun, Alvin menunggu di tempat yang paling ujung agar dekat dengan gerbong wanita. 
      "Biasanya duduk di gerbong wanita," ujar Alvin saat ditemui pada Senin (9/4). 

      Baru 10 menit ia duduk di kursi KRL, anak ketiga dari lima bersaudara itu sudah harus bersiap di pintu gerbong untuk transit di stasiun Tanah Abang dan pindah ke gerbong lain tujuan Parung Panjang. 

      Suasana stasiun Tanah Abang memang selalu ramai dan padat oleh pengunjung, terlebih di jam-jam pulang kantor. Duh, tak terbayang anak sekecil itu harus berdesakan bersama orang dewasa lainnya. 

      Belum lagi, ia harus gerak cepat untuk mendapatkan tempat duduk, bila tak ingin berdiri selama 1,5 jam hingga sampai ke tujuan akhir, stasiun Parung Panjang. 
      Selama di dalam gerbong, Alvin lebih banyak diam dan menikmati pemandang melalui kaca bening yang ada di gerbong KRL. Sesekali ia berjalan menyusuri gerbong, tak jarang beberapa orang yang ditemuinya bertanya-tanya. 
      "Kamu naik KRL yang ngajarin siapa?" tanya seorang perempuan berambut panjang di sebelahnya. 
      "Aku sendiri," jawab Alvin. 
      "Ya Allah, anak gue seumuran dia ini, enggak tega lihatnya," sahut perempuan berkacamata yang duduk di depan Alvin. 

      Setelah menempuh waktu 1,5 jam menggunakan KRL, akhirnya kereta mengantarkan Alvin di pemberhentian terakhir yakni stasiun Parung Panjang. "Habis dari stasiun, biasanya jalan kaki kalau enggak ada ongkos. Tapi kalau punya ongkos naik mobil (omprengan)," kata Alvin 

      Langit semakin gelap, Alvin berlari kecil mengejar kendaraan roda empat berwarna hitam alias omprengan yang sedari tadi terparkir di seberang stasiun. Si sopir menjalankan omprengannya dengan hati-hati, karena jalan yang dilalui belum beraspal, berlubang, dan digenangi air. 

      Jarak dari stasiun Parung Panjang menuju rumah Alvin masih sekitar 7 km atau 20 menit dengan mengendarai omprengan. Itu pun bila uang saku Alvin masih tersisa, berbeda saat uang jajannya habis di perjalanan. Alvin akan berjalan dari stasiun Parung Panjang menuju rumahnya. 
      "Turun di mana dek?" tanya si sopir kepada Alvin. 
      "Di minimarket Ceria," sahut Alvin. 

      Rumah Alvin berada di paling ujung berdampingan dengan kebun yang terlihat tak terawat. Bangunan sederhana namun hangat. Di rumah itu, Alvin tinggal bersama ayah, ibu, tiga saudaranya, dan keluarga tantenya. 

      Sesampainya di rumah, Alvin lantas melepas sepatu dan berganti baju. Lalu bermain dengan saudara-saudaranya, bertemu ibu dan teman-teman lainnya. 

      "Saya bangga sama Alvin, saya merasa sedih apalagi kalau lihat Alvin tidur. Saya sedih banget lihat dia kecapekan," ujar Lasmawati, ibunda Alvin. Sebelum tertidur, ibu bertanya,"Ada PR enggak? Kalau ada dikerjain dulu," kata ibu. 

      Alvin menggeleng, ia sibuk bercengkerama dengan adik bungsunya yang masih berusia 7 bulan. Ayah Alvin jarang pulang karena mencari nafkah untuk keluarga. 
      "Kerjanya serabutan, kadang empat hari baru pulang bawa Rp70 ribu. Yah dicukup-cukupin aja," ujar wanita berusia 38 tahun itu. Saat azan magrib berkumandang, Alvin pulang ke rumah lalu beristirahat. Jarak 50 kilometer yang ia tempuh tentu membuat raganya lelah.
      Sumber: https://id.crowdvoice.com/posts/alvin-tempuh-jarak-50-km-dari-sekolah-ke-rumah-2KtG



    • Guest News
      By Guest News
      Layanan cloud alias komputasi awan seperti Dropbox dan Google Drive memungkinkan konsumen pribadi maupun usaha menyimpan berkas-berkas yang bisa diakses dari mana saja. Layanan-layanan tersebut menjanjikan keamanan data yang tersimpan, meski peneliti mencatat enkripsi ini perlu lebih ketat lagi.
       
    • By c0d1ng
      Semua berawal ketika industri smartphone mulai menanjak, Meizu dengan cepat merespons peluang yang ada. Perusahaan ini resmi memasuki bisnis smartphone pada 2007 di China, disusul kemunculan smartphone pertamanya di 2009 dengan sebutan M8. Ponsel ini juga menjadi yang pertama menyodorkan teknologi layar sentuh.
      Inovasi Meizu kemudian berlanjut di M9 sebagai ponsel pertama di China yang mengusung teknologi layar retina. Sementara penerusnya yang dinamai MX didaulat sebagai ponsel pertama yang menggunakan prosesor dual core.
      Di MX2, Meizu mulai fokus pada sisi desain yang menjadikan ponsel ini sebagai salah satu yang tertipis. Sedangkan di MX3 desainnya semakin disempurnakan lagi karena mampu menyodorkan desain yang lebih tipis lagi.
      Meizu mengklaim pengembangan MX3 dilakukan dengan sangat serius. Tercatat ada sebanyak 31 model yang dibuat Meizu demi menemui desain optimal di MX3. Pasalnya selain tampil elegan, Meizu juga ingin MX3 bisa nyaman digenggam hanya dengan satu tangan.
      Di era teknologi pemindai sidik jari sedang naik daun, Meizu lagi-lagi menempatkan posisinya sebagai ponsel yang pertama menyodorkan teknologi tersebut di China lewat MX4 Pro. Inovasi tak berhenti di situ karena kemudian di Pro5, Meizu masuk dalam jajaran seribu ponsel pertama di dunia yang membenamkan teknologi pemindai sidik jari di bagian depan ponsel. Sebagai penerus Pro5, sekarang Meizu memiliki Pro6 Plus yang dibekali segudang teknologi yang lebih baik lagi.
      Inovasi-inovasi tersebut berhasil membuat Meizu menarik perhatian  konsumen. Usaha Meizu juga tak sia-sia karena kini brand ponsel ini telah berhasil menempati peringkat lima besar di China.
      Di Indonesia sendiri, saat ini smartphone bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder, tetapi sudah menjadi kebutuhan primer di masyarakat. Smartphone saat ini bukan hanya digunakan untuk berkomunikasi tetapi juga difungsikan sebagai alat untuk menunjang pekerjaan atau kegiatan seseorang. Melihat peluang ini, Meizu hadir di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan segudang inovasinya. Meizu pun memantapkan eksistensinya di Indonesia sebagai principle.
      Kehadiran Meizu di Indonesia menawarkan sesuatu yang berbeda dari brand lain. Tak hanya menonjolkan inovasi produk, keseriusan dan komitmen Meizu juga dapat dilihat dari berbagai service center yang telah tersebar di kota-kota besar di Indonesia. Brand ponsel asal China ini meyakini, selain berbekal inovasi, pelayanan yang baik dan berkualitas juga membuat Meizu mendapatkan tempat di hati konsumennya.
    • By berita_semua
      Komedian Aming Sugandhi, resmi melayangkan surat permohonan cerai ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Jumat (3/3/2017).
      Meski pengacaranya belum menjelaskan alasan Aming menggugat cerai istrinya, Evelyn Nada Anjani, namun ada fakta mengejutkan dalam gugatannya.
      Terungkap ada unsur Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dalam konflik rumah tangga keduanya.
      "(Alasan permohonan cerai yakni adanya) perselisihan, pertengkaran terus menerus, dan ada KDRT," kata Jarkasih, Humas Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Jumat (3/3/2017).
      Dilanjutkan Jarkasih, unsur KDRT bisa berasal dari kedua belah pihak. Kekerasan tersebut juga bisa berbentuk fisik maupun psikis.
      "Bisa dua duanya, ada dari Evelyn-nya, ada dari Aming-nya. KDRT yang saya baca secara verbal dan non verbal," lanjut Jarkasih.
      Jarkasih juga menjelaskan, per hari ini telah terdaftar permohonan talak atas nama Aming Supriatna Sugandhi kepada Evelyn Nada Anjani dengan nomor surat 826 tahun 2017.
      Aming mendaftarkan surat permohonan cerai tersebut diwakili pengacaranya Devi Waluyo.
      Dalam seminggu ke depan, penetapan hari pertama sidang perceraian akan dipilih majelis hakim.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy