Jump to content
Roijuliop

Sekolah Orangutan di Bukit Tigapuluh

Recommended Posts

Program reintroduksi atau sekolah orangutan, tempat di mana orangutan sitaan yang sudah terbiasa hidup dengan manusia belajar bagaimana cara bertahan hidup di alam liar.

 

post-4624-0-49958500-1429811077.jpg

 

Kondisi orangutan Sumatera memang semakin mengkhawatirkan, penyebabnya adalah perburuan dan penghancuran hutan sebagai tempat tinggal mereka. Sebagian orangutan dipelihara manusia sebagai binatang piaraan.

 

Zoologische Gesellschaft Frankfurt (FZS) memulai program reintroduksi orangutan di Sumatera. FZS, organisasi perlindungan alam yang berpusat di Frankfurt, Jerman, berkonsentrasi menangani satwa yang terancam punah. Langkah yang diambil FZS ini adalah hasil kerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi dan Pan Eco Foundation, organisasi perlindungan alam asal Swiss yang merehabilitasi orangutan Sumatera di kota Medan. Tahun 2007, reporter DW Indonesia Vidi Legowo-Zipperer mengunjungi sekolah orangutan itu. Inilah kisahnya.

 

Tempat Ideal bagi Orangutan

Perjalanan untuk bertemu orangutan Sumatera dimulai juga. Pukul 7.30 pagi, dari kantor Zoologische Gesellschaft Frankfurt atau FZS, yang bermarkas di kota Jambi. Peter F. Pratje, koordinator FZS untuk Sumatera, turut berada di dalam mobil yang melaju ke kabupaten Tebo. Di sana, mobil Kijang ini akan digantikan oleh mobil khusus jalur offroad milik FZS.

 

post-4624-0-06004700-1429811080.jpg

 

Peter, yang sudah 10 tahun tinggal di Indonesia, dan sangat fasih berbahasa Indonesia, bercerita, mengapa FZS memilih Taman Nasional Bukit Tigapuluh sebagai tempat perlindungan terakhir bagi orangutan Sumatera. “Kalau mau reintroduksi orangutan harus cari tempat dimana orangutan sudah punah, tetapi macam hutan yang habitat aslinya ada Orangutannya. Jadi di Bukit Tigapuluh, kami tahu, sekitar 150 tahun yang lalu masih ada populasi orangutan.“

 

Reintroduksi adalah usaha menolong orangutan yang dulunya dipelihara manusia untuk pulang kembali menetap di hutan. Diperkirakan masih ada ratusan orangutan yang dipelihara manusia. Kini populasi orangutan Sumatera diperkirakan kurang dari 6000 ekor. Angka ini terus menurun setiap tahunnya.

Empat jam waktu yang diperlukan dari Jambi hingga ke Tebo. Dan menurut Pak Mulyono, supir FZS, lamanya waktu yang diperlukan hingga ke kamp FZS tidak bisa dipastikan. Ini tergantung cuaca dan kondisi jalan saat itu. Menurut Peter, jika jalur ini sulit dilewati kendaraan, berarti mereka memang telah menemukan lokasi reintroduksi yang sesuai.

 

Kandang Terpisah

Kesan pertama saat memasuki lahan kamp, mengingatkan pada tempat peristirahatan yang dipenuhi cottage-cottage kecil. Bedanya, ini berada di tengah hutan. Cottage yang berupa rumah panggung, disebut di sini sebagai mess - tempat menginap tamu dan para staf FZS yang sebagian besar direkrut dari Suku Talang Mamak, warga desa terdekat dari kamp FZS. Menurut Peter, mereka terus berupaya menjaga hubungan baik dengan masyarakat lokal.

 

post-4624-0-90446600-1429811077.jpg

 

Sungai kecil mengalir melintasi kamp FZS. Air sungai selain dialirkan ke kamar-kamar mandi di mess, juga digunakan sebagai air untuk masak dan minum. Sebuah jembatan kecil menghubungkan lahan kamp berisi mess dan dapur dengan wilayah sekolah orangutan. Sebuah jalan setapak yang dihiasi batuan kecil merupakan jalan menuju ke tempat-tempat yang berkaitan dengan orangutan.

 

post-4624-0-40466700-1429811078.jpg

 

Jalan utama setapak berakhir di Kandang Besar. Ada empat kandang disini. Tiga kandang hanya dihuni masing-masing satu orangutan besar. Ada Kombi, Handsome dan Roma. Sementara satu kandang yang berukuran lebih besar dihuni oleh Petra, Joko, Susilo, Bobo dan Masita, Orangutan yang paling dituakan di kandang itu.

 

Belajar untuk Hidup di Hutan

Pukul 8 pagi, program reintroduksi yang disini lebih dikenal dengan istilah sekolah orangutan sudah dimulai. Ada tiga kelas yang berbeda. Di kandang besar, orangutan belajar di dalam kandang mereka. Ada lagi kandang kecil, di mana orangutan dibawa keluar kandang untuk berlatih di dalam hutan. Sementara kelas yang terakhir adalah kelas pantau, di mana orangutan dilepas di hutan, namun dipantau oleh seorang staf yang mengikuti mereka dan mencatat kegiatan mereka setiap dua menit.

 

Manajer kamp yang bertugas, Julius dan staf FZS Damson, memulai kerja mereka di Kandang Besar. Mereka membagikan satu karung plastik kepada tiap-tiap orangutan. Menurut Julius, karung tersebut berisi berbagai jenis daun. “Jadi biasanya ada daun yang bisa dimakan ada yang tidak bisa dimakan, ada buah-buah. Jadi, dia coba cari di dalam tumpukan itu. Jadi, seperti sebuah permainan.“

 

Bunyi kentungan yang dipukul oleh staf FZS adalah pertanda waktunya makan bagi para murid sekolah orangutan. Julius datang dengan menenteng dua ember berwarna biru muda. Bunyi dan warna ember itu sangat diingat orangutan. Kali ini menunya adalah susu segar. Julius dan Damson menggunakan cangkir plastik untuk memberi minum satu persatu murid-muridnya.

 

Walau pun para orangutan ini dulu dipelihara manusia, hukum rimba ternyata masih berlaku disini. Siapa yang kuat, ialah yang paling berkuasa. Petra, yang paling kecil di kandang, menangis sambil berguling-guling di lantai besi karena jatah susunya selalu direbut Masita, orangutan yang paling tua disana. Selain susu, Julius dan Damson juga memberi sayur dan buah-buahan seperti terong, nenas dan timun. Biasanya yang diutamakan adalah buah-buahan yang ada di hutan.

 

Di tempat yang dinamakan Kandang Kecil terdapat dua kandang yang masing-masing berisi dua orangutan berukuran kecil, Marni dan Carolin, serta Ronaldinho dan Wintho. Ada lagi satu kandang yang dihuni Bimbim orangutan bertubuh besar. Setiap harinya, orangutan di sini bergantian belajar di sekolah orang utan.

 

Siap Kembali Hidup di Hutan

Selain menerima orangutan sitaan, FZS juga terkadang harus menerima kembali orangutan yang tadinya sudah dilepas ke alam liar lalu kembali lagi ke lokasi reintroduksi. Roma dan Bimbim misalnya, keduanya kembali ke lokasi reintroduksi karena mengganggu ladang penduduk lokal.

 

post-4624-0-29890900-1429811079.jpg

 

Sekitar pukul 5 sore, staf FZS mulai membersihkan kandang. Pekerjaan mereka baru selesai jika para orangutan sudah tertidur di atas sarang hasil buatan mereka sendiri. Walaupun demikian, jam normal tidur para orangutan adalah sekitar pukul 6 sore. Jadi di saat kamp mulai gelap dan generator dinyalakan itulah, para staf yang memantau orangutan kembali ke kamp.

 

Tujuan dari sekolah orangutan ini adalah agar para orangutan siap jika dikembalikan ke habitat asli mereka. Jika ditanyakan, kapan mereka akan dilepas dari kandang? Jawaban yang diperoleh selalu ”saat musim buah”. Julius juga mengatakan hal yang sama. ”Sebelum musim buah kita takut melepas karena buah di hutan tidak ada. Jadi, kita melepas pada musim buah, mereka beradaptasinya juga tidak susah, mereka langsung mengenal buah hutan.”

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • Guest News
      By Guest News
      Bagi mereka yang berbakat seni termasuk seni ukir dan seni rupa sekarang terbuka peluang untuk ikut memoles tampilan special effects di Hollywood. Keahlian seperti ini diperlukan untuk memproduksi film-film blockbuster sarat efek visual, termasuk seri film "Avatar" dan "Avengers".
       
    • By BincangEdukasi
      Apa saja fungsi dan peran yang dijalankan oleh sekolah dalam mencapai tujuannya? Begitu banyak pakar dan pegiat pendidikan yang mencoba menjawab pertanyaan ini. Salah satu yang menarik adalah tulisan John Taylor Gatto, “Against School”. John Gatto adalah seorang mantan guru teladan yang telah mengajar selama 30 tahun lalu menjadi aktivis pendidikan. Ia telah mengeluarkan banyak buku dan tulisan berisi kritik terhadap model persekolahan formal seperti yang pada umumnya kita lihat dan alami sekarang. Dalam “Against School”, John Gatto tidak menuliskan pendapatnya sendiri tentang fungsi sekolah, namun ia “mengutip” tulisan Alexander Inglis.
      John Gatto menuliskan bahwa Alexander Inglis, salah satu bapak pendidikan modern, tanpa malu-malu menyebutkan enam fungsi persekolahan modern dalam bukunya “The Principles of Secondary Education” yang terbit pada tahun 1918. Enam fungsi tersebut adalah:
      Adjustive atau adaptive function. Sekolah bertujuan menanamkan reaksi yang tetap terhadap otoritas. Tujuannya adalah menghilangkan pemikiran kritis seutuhnya. Fungsi ini juga menegasikan konsep bahwa sekolah perlu mengajarkan materi yang menarik, karena kita tidak akan bisa menguji kepatuhan reaktif kecuali kita membuat anak mau belajar dan melakukan hal-hal yang bodoh dan membosankan. Integrating function. Bisa juga disebut sebagai conformity function karena tujuannya adalah membuat setiap anak menjadi mirip dan serupa satu sama lain. Orang-orang yang patuh menjadi mudah ditebak, dan oleh karenanya akan bermanfaat bagi pihak-pihak yang ingin memanfaatkan mereka untuk menjadi tenaga kerja massal. Diagnostic and directive function. Sekolah dimaksudkan untuk menentukan peran sosial yang pantas bagi setiap siswa. Hal ini dilakukan dengan memasukkan “bukti-bukti” matematik pada catatan kumulatif. Catatan ini menempel secara permanen pada setiap individu. Differentiating function. Sesudah setiap peran sosial mereka ditentukan, anak-anak kemudian dipilah berdasarkan peranan itu serta dilatih hanya sebatas untuk memenuhi tujuan yang telah ditentukan oleh sekolah itu dan tidak lebih dari itu. Tidak ada usaha untuk membuat siswa menjadi dirinya yang terbaik. Selective function. Fungsi ini bukan menggambarkan kewenangan pilihan oleh siswa, namun menggambarkan teori seleksi alami Darwin yang di[salah]gunakan untuk memilih “ras favorit”. Singkatnya, fungsi ini bertujuan meningkatkan mutu “kawanan ternak”. Sekolah digunakan untuk menandai mereka yang dianggap tidak layak – dengan nilai rendah, pengulangan kelas, dan hukuman-hukuman lain – secara sangat kentara sehingga para sesamanya akan menganggap mereka inferior dan menyingkirkan mereka dari pergaulan sosial dan “undian reproduktif”. Itulah tujuan dari segala tindakan yang mempermalukan siswa sejak kelas awal: agar mereka terbuang ke selokan. Propaedeutic function. Sistem sosial yang diimplikasikan oleh berbagai fungsi ini membutuhkan pasukan elit yang akan menjaga kelanggengan sistemnya. Oleh karenanya, sebagian kecil dari anak-anak di sekolah akan dilatih diam-diam untuk memastikan keberlanjutian proyek ini, bagaimana mengawasi dan mengendalikan populasi yang sengaja dibuat bodoh dan tidak berdaya agar pemerintah dapat berjalan tanpa tantangan dan perusahaan selalu mendapatkan persediaan tenaga kerja yang patuh.
      Wow! Keras sekali penjelasan dari Alexander Inglis seperti dikutip John Gatto ini. Namun apakah benar sekeras dan sevulgar itu Inglis menulis? Bila buku Inglis, Principles of Secondary Education, dibaca kembali maka sebenarnya ditemukan penjelasan yang berbeda dari yang dikutip Gatto. Alexander Inglis menulis bahwa fungsi-fungsi sekolah adalah:
      Adjustive atau adaptive function. Sekolah perlu menyediakan sarana agar siswa mampu melakukan adaptasi dan re-adaptasi dengan lingkungannya yang dinamis dan terus berubah dengan cepat. Namun di sisi lain sekolah juga perlu mengembangkan prinsip-prinsip tertentu diri siswa yang teguh dan tidak terombang-ambing dengan perubahan yang cepat. Integrating function. Masyarakat juga memiliki tuntutan kepada sekolah untuk menyiapkan siswa-siswa yang mampu berintegrasi ke dalam masyarakat dalam arti memiliki visi dan tujuan yang sejalan. Perkembangan kehidupan yang semakin heterogen membutuhkan benang merah penghubung berupa nilai-nilai, pengetahuan dan tindakan yang diterima secara umum [misal di Indonesia: Pancasila]. Differentiating function. Inglis menekankan bahwa integrating functiontidak boleh dilihat terpisah dan tidak berkorelasi dengan differentiating function. Dua fungsi ini bersifat suplementer satu terhadap yang lain. Saatintegrating function berfungsi mengembangkan sebagian kecil sifat homogenitas dari populasi yang heterogen untuk memastikan solidaritas sosial, maka differentiating function berfungsi menangkap, mengembangkan dan memanfaatkan perbedaan-perbedaan individual untuk tujuan kemajuan sosial. Siswa di sekolah memiliki perbedaan yang sangat beragam dalam kemampuan, minat dan sikap alami. Kegagalan menyadari fakta adanya perbedaan ini akan menimbulkan kegagalan mengembangkan kemajuan sosial semaksimal mungkin. Kebutuhan dunia sosial dan industri modern yang juga semakin beragam membutuhkan individu-individu yang tidak seragam. Kesemuanya ini tidak mungkin disediakan oleh satu model pendidikan yang seragam. Aktivitas-aktivitas kehidupan yang beragam membutuhkan model-model pendidikan yang beragam. Propaedeutic function. Fungsi ini menjelaskan bahwa persiapan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi tidak selayaknya dianggap sebagai tujuan yang terpisah dari persekolahan. [Ingat di jaman Inglis menulis di awal tahun 1900-an ini, sangat sedikit siswa yang meneruskan ke pendidikan tinggi, sehingga banyak sekolah saat itu yang mengabaikan sama sekali persiapan bagi siswa yang ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi.] Inglis menulis perlu ada keseimbangan dalam pendidikan menengah untuk menyiapkan siswa yang ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi dan yang ingin langsung bekerja sesudah pendidikan menengah. Melebih-lebihkan atau, sebaliknya, mengabaikan salah satunya tidak akan membawa manfaat. Selective function. Fungsi seleksi muncul akibat adanya perbedaan individu yang menjadi faktor yang semakin penting saat siswa menapaki jenjang pendidikan. Perbedaan individu ini tidak memungkinkan ada satu model pendidikan yang fits for all, sehingga perlu ada fungsi seleksi untuk mengarahkan siswa ke model-model pendidikan yang berbeda [walau dengan keterbatasannya masing-masing pula]. Ada dua paradigma seleksi, yang pertama adalah mengeliminasi individu-individu yang tidak memenuhi satu set tuntutan standar tertentu yang seragam. Inglis menyatakan teori yang mendukung paradigma ini perlu dimodifikasi secara sangat signifikan [artinya: teori itu meragukan]. Paradigma ke-2 yang kontras terhadap paradigma pertama adalah seleksi berdasarkan diferensiasi.Ada  dua pertimbangan yang menjadi justifikasi paradigma ini: 1. Setiap individu sangat berbeda dalam kapasitas, minat dan sikap. Perbedaan-perbedaan dalam kapasitas, minat dan sikap itu tidak bisa dinilai secara kumulatif menjadi satu penilaian karakter total, namun tetap harus dilihat sebagai bagian-bagian sifat diri yang terpisah dan berbeda namun saling terhubung dan berkaitan;
      2. Tidak ada satu subjek atau kelompok yang dapat menyatakan dirinya eksklusif dan patut mendapat perhatian utama dalam persekolahan. Setiap subjek atau kelompok memiliki kedudukan setara. Artinya, seorang siswa yang lemah dalam satu kemampuan atau minat tertentu, namun memiliki kemampuan dan minat di bidang lain, maka siswa itu perlu mendapatkankan pendidikan dalam area di mana ia memiliki minat dan kemampuan. Ia tidak boleh dilucuti hak dan kesempatannya untuk mendapatkan pendidikan yang ia butuhkan hanya karena ia tidak memiliki minat dan kemampuan dalam subjek-subjek tertentu yang lebih disukai secara resmi oleh penguasa. Diagnostic and directive function. Demi mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan individu dan demi mencapai kemajuan bersama, maka setiap individu sebisa mungkin difasilitasi untuk melakukan hal-hal terbaik dan positif yang menjadi kekuatannya. Untuk menemukan apa yang bisa dilakukan dengan sangat baik dan dengan bahagia oleh setiap siswa maka siswa perlu dipaparkan pada sebanyak-banyaknya pengalaman yang berbeda. Maka sistem persekolahan yang dibangun perlu sebisa mungkin menyediakan ragam materi dan kegiatan yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mencoba dan menjelajahi minat dan kemampuannya, serta membantu memberikan arah dan bimbingan. Selain arah dan bimbingan secara umum, perlu juga disediakan arah dan bimbingan dalam aspek-aspek yang lebih sempit, yaitu bimbingan moral, bimbingan sosial, bimbingan fisik dan bimbingan vokasional. Sesudah membaca dengan lengkap tulisan Alexander Inglis, maka muncul pertanyaan apakah John Gatto membaca tulisan yang berbeda? Apakah ia salah membuat interpretasi? Ataukah ia sengaja membuat peringatan bagi pembacanya bahwa fungsi-fungsi sekolah sebagaimana disusun oleh Inglis dapat dengan mudah terbelokkan seperti yang ia lihat pada banyak sekolah saat ini? Yang jelas, dengan membaca kedua ini maka para pegiat pendidikan akan mendapatkan pengingat tentang bagaimana fungsi persekolahan yang ideal dan sebisa mungkin diwujudkan seperti yang ditulis Alexander Inglis, serta bagaimana fungsi persekolahan yang seharusnya dihindari seperti yang ditulis oleh John Gatto.
    • By berita_semua
      Zaman sekarang, anak sekolah memiliki jadwal yang padat. Mereka bisa belajar dari pagi hingga sore, belum lagi ditambah les. Begitu juga karyawan yang kerjanya kira-kira 8 jam sehari. 
      Dengan seabrek aktivitas ini, kita jadi mudah ngantuk lho. Tak jarang yang ketiduran di sekolah maupun di kantor. Gimana ya cara mengatasinya?
      Rutinitas lari pagi setiap Jumat yang dilakukan siswa Labschool membuat teman kita dari kelas akselerasi SMP Labschool Kebayoran, Zidan Hidayat, bertanya-tanya. Ada nggak ya hubungan olahraga pagi dengan konsentrasi belajar?
      Ia mempresentasikan pembelajaran berbasis masalah berjudul “Pengaruh Olah Raga Pagi terhadap Kebugaran dan Konsentrasi Belajar Siswa serta Karyawan”, pada Jumat (11/03) kemarin.
      Dari survei online dan offline yang ia sebar ke 117 responden dari berbagai usia, mayoritas setuju bahwa olahraga pagi bisa menyehatkan. Mayoritas responden berolahraga dua kali seminggu dan melakukannya sebelum sarapan. Dengan berolahraga kita bisa mencegah pikun, menyehatkan jantung, dan membakar lemak.
      Ternyata, hasil survey juga membuktikan bahwa 53% responden tidak merasa ngantuk saat beraktivitas kalau paginya olahraga, lho!
      Jadi, teman-teman jangan malas bangun pagi untuk olah raga, ya. Selain badan sehat, di sekolah jadi nggak ngantuk dan bisa konsentrasi belajar.
    • By berita_semua
      Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) telah mengusulkan ke Dinas Pendidikan DKI Jakarta agar jam masuk anak sekolah diubah, yang awalnya masuk pada pukul 07.30 WIB agar menjadi pukul 09.00 WIB.
      Menurut Ahok, usulan tersebut bukan tanpa alasan. Ahok melihat, jam masuk anak-anak sekolah tersebut juga menjadi salah satu penyebab kemacetan di Jakarta. Lantaran, banyaknya orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah dengan menggunakan kendaraan pribadi.
      "Ini ada kajian seperti itu, biar ngurangin macet, cuma kadang-kadang jam 9 lebih macet. Kalau kita analisa, ketika sekolah libur, Jakarta itu agak lenggang, karena banyak yang antar-antar anak sekolah itu yang bikin macet," ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta, Rabu (26/3).
      Untuk itu, Ahok menjelaskan Disdik DKI harus membuat rayonisasi terlebih dahulu apabila ingin merubah jam masuk sekolah tersebut. Ahok menceritakan pengalaman berat anaknya yang harus mengejar waktu lantaran masuk sekolah pada pukul 07.30 WIB.
      "Wong anak saya saja sekolah ke Tangerang Selatan. Pagi-pagi jam 06.15 WIB sudah harus jalan, pagi-pagi jam 05.40 WIB paling telat harus bangun, kadang-kadang enggak mandi itu anak. Semua jadi tekanan pagi-pagi itu," pungkas dia.

About Ngobas

Ngobas is All-in-One website that can be use by everyone for free to find friends and exchange information. The name Ngobas is derived from the abbreviation, which is Ngomong Bebas Originally Sedap, meaning that it is appropriate to speak according to the ethics of socializing.

CEO’s Greeting

I realize that information and communication are the main things in life. Ngobas is the right platform for that. We will always be connected wherever we are and that is the purpose Ngobas was built.

- Samuel Berrit Olam

×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy