Jump to content

Google Chrome tidak mendukung lagi Windows XP


Recommended Posts

  • ✔ Verified Account

post-100-0-69178000-1429391762_thumb.jpg

 

Google mengumumkan akan menutup dukungan aplikasi peramban atau browser Chrome untuk sistem operasi Windows XP pada akhir 2015.

 

Dalam publikasi di blog resmi perusahaan, Kamis 16 April 2015, Direktur Teknik Google Chrome Mark Larson mengatakan pihaknya "akan terus memberi pembaruan reguler dan keamanan Chrome di Windows XP sampai akhir 2015."

 

Waktu tersebut telah diperpanjang oleh pihak Google karena sebelumnya mereka berencana hanya memberi dukungan sampai April 2015.

 

Larson mengakui bahwa tidak semua orang dapat beralih ke sistem operasi yang lebih baru dalam waktu dekat. Tetapi, Larson mengatakan bahwa pihaknya tidak punya pilihan lain karena sistem operasi Windows XP sendiri telah dihentikan dukungan teknisnya oleh Microsoft pada April 2014.

 

Microsoft menghentikan dukungan teknis untuk aplikasi Internet Explorer di Windows XP yang berarti tak ada lagi pembaruan dalam hal keamanan dan perbaikan fitur untuk membantu pengguna meminimalkan risiko keamanan.

 

Para ahli kemananan siber menyarankan pengguna Windows XP untuk memakai aplikasi perambang lain seperti Google Chrome, Mozilla Firefox, atau Opera Software untuk meminimalkan risiko keamanan.

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By Sabrian_daud
      Nama Internet Explorer tak lagi menjadi alat peramban atau browser nomor satu di dunia, posisi ini setidaknya sudah berganti dan menjadi milik Google Chrome.
      Berdasarkan data yang dirilis oleh sebuah perusahaan analis, NetMarketShare, Google Chrome berhasil merebut pangsa pasar browser Microsoft Internet Explorer sebagai browser desktop nomor satu.
      NetMarketShare mencatat, hingga bulan April 2016, Chrome mendapatkan pangsa pasar 41,67 persen, unggul tipis dari Internet Explorer dengan porsi 41,37 persen. Sementara posisi ketiga, ditempati oleh Firefox dengan 9,76 persen, diikuti oleh Safari 4,91 persen, dan Opera 1,89 persen.
      Sementara sebuah perusahaan analisis trafik web, StatCounter justru mencatat bahwa Chrome sudah mengalahkan Internet Explorer sejak empat tahun terakhir.
      Perbedaan hasil antar lembaga riset mungkin saja terjadi karena masing-masing lembaga riset punya metodologi yang berbeda saat dalam mengumpulkan data. Untuk menentukkan pangsa pasar browser, NetMarketShare sendiri menghitung banyaknya unique user, bukan jumlah page view.
      Kendati demikian, masih ada kemungkinan pangsa pasar Chrome akan berkurang seiring dihentikannya dukungan atas browser tersebut beberapa minggu lalu pada sistem operasi Windows Vista atau di bawahnya dan OS X Mountain Lion atau di bawahnya.
      Hal ini memungkinkan para pengguna sistem operasi tersebut akan mengganti Chrome sebagai browser utamanya karena sudah tidak lagi menerima update terbaru dari Google.
      Di sisi lain, Microsoft juga menyiapkan browser terbarunya, Microsoft Edge untuk merebut kembali pangsa pasar browsernya. Browser bawaan pada sistem operasi Windows 10 tersebut kemungkinan penggunanya akan bertambah seiring meningkatnya pangsa pasar Windows 10.
      Microsoft sendiri menargetkan sistem operasi yang diluncurkan pada Juli 2015 lalu itu bisa mencapai 1 miliar pengguna sampai akhir 2016 secara global.
      Jumlah pengguna Windows 10 sendiri pada Maret 2015 telah mencapai angka 270 juta. Microsoft pun mengatakan para pengguna telah menghabiskan lebih dari 75 miliar jam untuk memakai Windows 10.
      Sejauh ini, menurut Microsoft, sudah ada lebih dari 500 perangkat baru yang dirancang secara spesifik untuk sistem operasi tersebut 
    • By dugelo
      Beberapa hari yang lalu, Opera telah membeberkan pengumuman besar, di mana para pengembang di balik Opera tengah membuat sebuah browser, yang di dalamnya sudah tersedia VPN (Virtual Private Networking) yang dapat digunakan secara gratis. VPN sendiri memungkinkan pengguna untuk rute lalu lintas internet melalui server pihak ketiga yang dapat menutupi alamat IP mereka yang sebenarnya dan meningkatkan privasi.
      Layanan VPN juga dapat menembus alamat atau domain yang telah diblokir di wilayah tertentu, seperti mengakses Netflix untuk menikmati siaran film. Fitur ini memang kelebihan dari browser Opera yang akan datang, namun Anda juga bisa menikmati fitur ini di browser Chrome Anda.
      Di era sekarang ini VPN telah berubah menjadi sebuah kebutuhan, di mana data diri Anda diburu oleh para pengiklan hingga hacker. Layanan VPN dapat menyembunyikan identitas Anda dari perusahaan yang mencoba untuk melacak Anda dan mencegah mereka untuk membuat profil online yang sangat mereka inginkan.

      Tentu saja, beberapa orang tidak keberatan dan tidak perduli ketika data diri mereka dilacak, dan layanan VPN tidak menjadi suatu kebutuhan dari mereka. Namun bagi Anda pengguna browser Chrome yang menginginkan VPN ini dapat didapat dengan mudah, dan tidak memerlukan proses yang berbelit-belit.
      Ini merupakan layanan dari Betternet, di mana Anda hanya perlu menginstal add-on pada browser Anda. Bagi Anda ingin segera mencoba, dapat mengunjungi link berikut, dan kemudian instal add-on tersebut. Jika ekstensi sudah terinstal, maka Anda akan melihatnya di deretan add-on kemudian sambungkan ke server. Ini merupakan cara termudah, karena Anda tidak perlu mendaftar sebuah akun. Selamat mencoba.
    • By rudi_baskara_tri
      Aplikasi peramban atau browser Google Chrome ternyata tak hanya populer di perangkat Android, tetapi juga iOS seperti iPhone atau iPad.
      Sebuah studi baru yang dilakukan oleh Adobe Digital Index (ADI) menunjukkan bahwa pertumbuhan pengguna Google Chrome lebih cepat daripada Safari. Ini membuktikan Chrome tak cuma jago kandang di platform Android.
      "Pengguna iPhone mengunduh Chrome untuk menggantikan browser default mereka. Ini merupakan fakta bahwa pengalaman pengguna yang disajikan Chrome mampu menarik perhatian," kata Adam Lloyd, seorang analis ADI.
      Berdasarkan analisis yang dilakukan, pengguna Chrome pada perangkat ponsel pintar berhasil tumbuh 77 persen dari tahun ke tahun. Pada periode yang sama, pertumbuhan Safari mencapai 33 persen.
      ADI juga melakukan survei terhadap 1.000 konsumen di Amerika untuk mengetahui browser favorit pada smartphone mereka. Dari survei tersebut terlihat bahwa sebagian besar pengguna perangkat iOS lebih memilih Safari (43 persen) sementara Chrome (33 persen). Hal ini memperlihatkan celah kecil antara browser buatan Apple dan Google.
      "Google mampu memposisikan Chrome sebagai browser multidevice yang terpadu," kata Lloyd.
      Di kalangan pengguna perangkat iOS sendiri, baik iPhone dan iPad, pertumbuhan browser Chrome dan Safari keduanya terus meningkat dari tahun ke tahun. Pengguna Safari meningkat 34 persen dan Chrome 19 persen.
      Di sisi lain, ADI juga sempat mengukur tingkat sentimen terhadap produk Apple pada media sosial. Hasilnya, terjadi penurunan tren pada seluruh Amerika Utara, Eropa, dan Asia Pasifik. Meski begitu, produk baru Apple yang segera dirilis, iPhone SE berhasil menjadi salah satu topik yang paling ramai dibicarakan.
    • By c0d1ng
      Pengguna sistem operasi Windows milik Microsoft di negara Tiongkok memang sangat dominan. Banyak dari perkantoran dan pengguna umum biasa yang menggunakan sistem operasi Windows. Dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan teknologi luar negeri, maka pemerintah Tiongkok membuat sistem operasi buatan negaranya sendiri yang bernama NeoKylin.
      Sistem operasi dekstop NeoKylin ini tampilannya sangat mirip dengan tampilan sistem operasi milik Microsoft yang legendaris, yakni Windows XP. OS NeoKylin ini merupakan salah satu proyek pemerintah Tiongkok untuk mengurangi ketergantungannya pada Microsoft.

      Program ini dijalankan oleh pemerintah Tiongkok pertama kali pada tahun 2013 dengan menggandeng Canonical sebagai pengembang sistem operasi dekstop berbasis ubuntu. Sebelumnya mereka juga telah memiliki proyek pertama yang bernama Kylin, namun proyek tersebut kurang diminati.
      Nah, proyek pemerintah Tiongkok yang kedua, NeoKylin, sukses dan kini menjadi sistem operasi non Windows yang populer di Tiongkok. Sistem operasi yang dibuat oleh China Standard Software ini jika dilihat sangat mirip dengan Windows XP terlebih lagi pada tampilan start menunya.
      Tak hanya tampilan sistem operasinya saja yang mirip, NeoKylin juga telah dijejali dengan software yang mirip dengan Microsoft Office, namun software pada NeoKylin ini merupakan modifikasi dari OpenOffice.
      Sistem operasi NeoKylin ini tak hanya digunakan oleh pemerintah Tiongkok saja, namun juga warga biasa juga telah mengusung sistem operasi NeoKylin. Kepopuleran NeoKylin ini juga ditunjukan dengan angka 40% dari produk PC Dell yang dijual di negara tersebut telah menjalankan sistem operasi NeoKylin.
      “Sistem operasi NeoKylin tersedia di Dell laptop Latitude, desktop komersial Dell OptiPlex , dan Dell Precision workstation”, kata juru bicara Dell yang dilansir dari Quartz. Namun belum diketahui, apakah versi yang digunakan oleh perangkat Dell memiliki tampilan yang sama dengan Windows XP milik Microsoft. 
      Pemerintah Tiongkok memang gencar mencanangkan membuat sistem operasi buatan sendiri untuk mengurangi pasokan teknologi dari luar negeri. Selain untuk segi keamanan negara, membuat sistem operasi buatan sendiri juga menstimulasi perkembangan teknologi Tiongkok.
      Jadi bukan hal yang aneh jika pemerintah Tiongkok membuat tandingan dari Windows XP, mengingat pengguna windows XP di tahun 2014 lalu mencapai 27%. Dengan angka yang cukup besar itu, pemerintah Tiongkok yakin secara berangsur, pengguna Windows XP di negaranya semakin berkurang.
    • By davidbo
      Pada 8 April lalu, Microsoft menutup keran dukungan teknis untuk Windows XP yang telah berumur 13 tahun. Riwayat sistem operasi lawas ini secara resmi sudah "tamat".
      Walaupun demikian, Windows XP ternyata masih memberi pemasukan untuk Microsoft, bahkan jumlahnya mencapai angka jutaan dollar AS. Bagaimana bisa?
      Hal itu terjadi karena Windows XP rupanya masih banyak digunakan oleh kalangan korporat. Persentasenya mencapai 44 persen, menurut data dari perusahaan manajemen perangkat Fiberlink.
      Nah, kalangan korporat ini rupanya enggan beralih dari Windows XP dan lebih memilih untuk membayar Microsoft agar menyalurkan dukungan teknis secara eksklusif. 
      Raksasa software itu memang menawarkan "custom support contract" agar pelanggan tetap dapat memperoleh updateuntuk Windows XP yang dipakai di komputer-komputer kantor.
      Namun, berbeda dengan update serupa dalam "masa hidup" Windows XP yang disalurkan secara gratis, dukungan lanjutan dari Microsoft ini mesti dibayar mahal, mencapai 200 dollar AS per perangkat untuk tahun pertama. Biaya tahun-tahun berikutnya bahkan lebih mahal lagi. 
      Seorang profesional TI menerangkan bahwa Microsoft mengutip 1 juta dollar AS (sekitar Rp 11 miliar) untuk menyalurkan dukungan bagi 5.000 PC di perusahaannya. Angka itu membengkak menjadi 2 juta dollar AS untuk tahun kedua, dan 3 juta dollar AS untuk tahun ketiga.
      Toh, banyak yang lebih memilih membayar Microsoft ketimbang melakukan upgrade. 
      Mereka termasuk pemerintah Inggris yang menggelontorkan 9,2 juta dollar AS ke kantong Microsoft untuk support terhadap Windows XP, Office 20013 dan, Exchange 2003 yang dipakai komputer pemerintah di sektor publik. 
      Pemerintah Belanda juga membayar jutaan Euro untuk dukungan teknis sekitar 30.000 komputer.
      Di Amerika Serikat, dinas pajak Internal Revenue Service (IRS) juga dilaporkan membayar Microsoft untuk urusan update sekitar 58.000 komputer berbasis Windows XP, walau jumlahnya tak sebesar yang lain, yaitu "kurang dari 500.000 dollar AS". Demikian pula dengan bank-bank dari berbagai belahan dunia yang masih memakai Windows XP di mesin-mesin ATM.
      Meski mendatangkan uang, hal ini sama sekali bukan kabar baik bagi sistem operasi terbaru Microsoft, Windows 8 yang tak kunjung berhasil memperoleh pangsa pengguna sebesar Windows XP.
      Perusahaan-perusahaan yang masih memakai Windows XP perlahan-lahan akan bermigrasi. Namun tujuannya bukan Windows 8, melainkan Windows 7 yang telah berumur 3 tahun sejak diluncurkan pada 2009. Begitu selesai migrasi, boleh jadi mereka akan bertahan lama dengan Windows 7, seperti yang dilakukan selama belasan tahun dengan Windows XP.
×
×
  • Create New...