Jump to content
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
davidbo

Jalan Munir diresmikan di Den Haag, Belanda

Recommended Posts

post-3682-0-74955900-1429142888_thumb.jp

Tertulis di nama jalan itu, "Munir Said Thalib 1965-2004, Pejuang Hak Asasi Manusia Indonesia".

 

Walikota Den Haag, Joziaas van Aartsen meresmikan jalan Munir, yang diambil dari nama tokoh hak asasi manusia asal Indonesia, di Den Haag kemarin (14/04).

 

Sekitar 80 orang hadir dalam peresmian itu, termasuk istri Munir, Suciwati, beberapa pegiat hak asasi manusia asal Indonesia, serta mahasiswa Indonesia di Belanda.

 

Dalam sambutannya, Wali Kota Den Haag menyatakan apresiasinya atas perjuangan Munir.

 

Ia menegaskan bahwa Kota Den Haag mendukung upaya pemajuan HAM yang diperjuangkan oleh almarhum Munir dan Suciwati.

 

Istri Munir, Suciwati menyatakan bahwa pengabadian nama suaminya itu merupakan sebuah penghormatan besar baginya.

 

post-3682-0-99873000-1429142887_thumb.jp

Bagi istri almarhum Munir, penamaan ini merupakan kehormatan besar.

 

"Sayangnya bukan di tanah airnya sendiri, bukan di negeri tempat ia lahir dan dibesarkan bersama orang-orang lain yang mengaku sebangsa,” katanya.

 

Munir adalah seorang pegiat hak asasi manusia yang meninggal pada tanggal 7 September 2004 di atas pesawat jurusan Amsterdam dalam perjalanan untuk melanjutkan studi ke Universitas Utrecht, Belanda.

 

Ia meninggal karena racun yang dicampurkan ke dalam minumannya.

 

Prakarsa pemberian nama Jalan Munir ini disampaikan Walikota Den Haag pada acara Festival Film HAM, Movie That Matter di Belanda pada 2011 lalu. Namun janji tersebut baru bisa terpenuhi tahun ini, dilakukan di sebuah kompleks perumahan yang baru dibuka.

 

Selain pemberian nama jalan, nama almarhum Munir juga menjadi nama salah satu ruang pertemuan di kantor Amnesty International Belanda.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • Guest Hak Asasi Manusia
      By Guest Hak Asasi Manusia
      Tragedi Trisakti

      Pada 12 Mei 1998 demonstrasi mahasiswa menuntut pengunduran diri Suharto memuncak di kampus Universitas Trisakti, Jakarta. Komnas HAM mencatat jumlah korban kekerasan oleh aparat keamanan mencapai 685 orang, sementara tiga meninggal dunia akibat tembakan. Ironisnya berkas penyelidikan yang dikirimkan ke Kejaksaan Agung dinyatakan hilang pada Maret 2008 oleh Jampidsus Kemas Yahya Rahman.
      Semanggi Berdarah

      Kejaksaan Agung di bawah kendali Hendarman Supandji menjadi jalan buntu pengungkapan kasus pelanggaran HAM 1998. Berkas laporan Komnas HAM terhadap kasus kekerasan aparat yang menewaskan 17 orang (Semanggi I) dan melukai 127 lainnya pada November 1998 menghilang tak berbekas. Setahun berselang tragedi kembali berulang, kali ini korban mencapai 228 orang.
      Hilangnya Widji Tukul

      Satu per satu aktivis pro demokrasi menghilang tanpa jejak menjelang runtuhnya kekuasaan Suharto, termasuk di antaranya Widji Thukul. Ia diduga diculik aparat keamanan setelah dinyatakan buron sejak peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli 1996 (Kudatuli). Kasus Widji Thukul mewakili puluhan aktivis yang sengaja dilenyapkan demi kekuasaan.
      Pembantaian 1965

      Antara 500.000 hingga tiga juta nyawa simpatisan PKI melayang di tangan militer dan penduduk sipil setelah kudeta yang gagal pada 1965. Hingga kini upaya pengungkapan tragedi tersebut tidak pernah menyentuh pelaku. Adalah sikap membatu TNI yang melulu menjadi sandungan bagi penuntasan tragedi 1965.
      Petaka di Wamena

      Tragedi Wamena berawal dari penyerangan gudang senjata oleh orang tak dikenal yang menewaskan 2 anggota TNI pada April 2003. Aksi penyisiran yang kemudian dilakukan aparat menewaskan 9 penduduk sipil, sementara 38 luka berat. Seperti kasus sebelumnya, laporan penyelidikan Komnas HAM ditolak Kejagung dengan alasan tidak lengkap. TNI juga dituding menghalangi penyelidikan kasus tersebut.
      Pembunuhan Munir

      Sosok yang sukses membongkar pelanggaran HAM berat oleh Tim Mawar dan mengakhiri karir Danjen Kopassus Prabowo Subianto ini meninggal dunia setelah diracun dalam perjalanan menuju Belanda. Pollycarpus Budihari Priyanto dinyatakan bersalah dan divonis 14 tahun penjara. Namun hingga kini kejaksaan sulit memburu tersangka utama yakni Muchdi Pr. yang dikenal dekat dengan Prabowo.
    • Guest Munir Masih Hidup
      By Guest Munir Masih Hidup
      Terpidana kasus pembunuhan Munir Thalib, Polycarpus, dan bekas petinggi BIN yang dikaitkan dengan kasus yang sama, Muchdi PR, bergabung bersama Tommy Suharto di partai berlambang beringin adalah sebuah kejutan jika sosok yang paling mencolok pada jajaran nama pembesar di Partai Berkarya bukan pendirinya, Tommy Suharto, melainkan terpidana kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Thalib, Polycarpus Budihari Priyanto, dan bekas agen Badan Intelijen Negara, Muchdi PR, yang juga dikaitkan pada kasus yang sama.
      Muchdi yang sempat didakwa turut merencanakan pembunuhan Munir menjabat wakil ketua dewan pembina di partai besutan keluarga Cendana itu. Sebaliknya Polycarpus, menurut Sekretaris Jenderal Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang, hanyalah anggota biasa.
      Seakan menyadari beban politik yang dibawa kedua nama tersebut, Badaruddin mengakui pihaknya sudah menyiapkan argumen balasan. "Pasti akan melindungi semua anggota, apalagi pengurus yang sudah masuk menjadi keluarga besar partai berkarya, siapapun dia," katanya kepada Tribunnews.
      Ia menegaskan keanggotaan kedua pria itu tidak berhubungan satu sama lain. Menurut Badaruddin, Pollycarpus mendaftarkan diri sebagai kader Partai Berkarya di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
      Pollycarpus adalah mantan pilot Garuda Indonesia yang divonis 14 tahun penjara setelah dinyatakan terbukti ikut merencanakan pembunuhan terhadap Munir. Ia dibebaskan akhir 2014 silam setelah hanya menjalani masa tahanan selama 8 tahun.
      Sementara Muchdi PR sempat dijadikan tersangka untuk kasus yang sama. Ia dikabarkan aktif berhubungan dengan Polycarpus sebelum dan sesudah pembunuhan Munir. Menurut bekas Direktur Perencanaan dan Pengendalian Operasi BIN, Budi Santoso, Muchdi merupakan penyandang dana operasi pembunuhan. Namun lantaran kekurangan bukti, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan membebaskan bekas politisi Gerindra dan PPP itu dari semua dakwaan.
       
    • By peter_hutomo
      Sejak dahulu kala, nusantara yang kala itu belum dikenal sebagai Indonesia merupakan salah satu kepulauan di belahan Timur yang terkenal menghasilkan rempah-rempah terbaik. Alhasil, orang-orang Eropa di benua barat pun merasa tertarik dan berusaha untuk mengunjunginya.
      Salah satunya adalah Cornelis de Houtman. Pelaut Belanda yang sukses menginjakkan kakinya di Tanah Air lewat Banten pada 27 Juni 1596. Berbekal informasi dari para pelaut pada akhir abad ke-16, ia berangkat dari pelabuhan Amsterdam bersama empat kapal dagang yang mengiringi. kedatangan Cornelis de Houtman di Nusantara, menjadi cikal bakal penjajah Belanda mulai bercokol di Indonesia.
      Tergiur karena cerita-cerita di kalangan saudagar
      Pria kelahiran Gouda, 2 April 1565 ini, tertarik menjelajah ke sisi Timur dunia setelah mendapat informasi dari kalangan pedagang Eropa tentang keberadaan Pulau “Surga” yang tersembunyi. Kawasan tersebut, diyakini memiliki kekayaan alam berupa rempah-rempah.

      Cornelis de Houtman pun segera mempersiapkan pelayaran setelah dirinya ditunjuk oleh Para otoritas saudagar Belanda. Dalam The Cradle of Colonialism (1963), George Masselman menyebutkan bahwa armada Cornelis de Houtman berangkat dari Amsterdam menuju Lisboa, Portugal. Tujuannya untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang keberadaan pulau misterius tersebut.
      Bentuk serikat dagang Belanda
      Setelah menghabiskan waktu selama dua tahun di Portugal, Cornelis pun memutuskan untuk kembali pulang ke negerinya. Saat itulah, ia berjumpa dengan seorang Belanda lainnya yaitu Jan Huygen van Linschoten. Ia merupakan pedagang yang bekerja untuk kerajaan Portugis di India. Dari van Linschoten inilah, Cornelis mendapatkan informasi berharga tentang keberadaan Nusantara yang konon kaya akan rempah-rempah.

      Pada 1594, Cornelis de Houtman bersatu dengan seluruh pedagang Belanda dan membentuk Compagnie van verre te Amsterdam (perusahaan jarak Jauh) yang berpusat di Amsterdam. Perserikatan dagang baru ini dibentuk untuk menemukan kepulauan yang menghasilkan rempah-rempah. Hingga pada 2 April 1595, Cornelis de Houtman ditunjuk agar segera angkat sauh dan mulai berlayar pada 2 April 1595.
      Sampai di Nusantara dengan korban ratusan nyawa
      Diiringi oleh empat kapal, Amsterdam, Hollandia, Mauritius, dan Duyfken, Conelis de Houtman memulai penjelajahannya menuju sisi Timur dunia. Nahas, karena tipisnya stok makanan, banyak kru kapal yang tewas karena menderita penyakit sariawan. Tak jarang, konflik internal antara kapten kapal dan kru juga jadi masalah tersendiri. Pengaruh iklim tropis yang berbeda dengan cuaca di Belanda, juga membuat banyak kru dari keempat kapal tersebut berguguran satu demi satu.

       
      Pada 27 Juni 1596, rombongan armada Cornelis de Houtman tiba di pulau Banten. Dilansir dari tirto.id, total, ada sekitar 249 orang yang selamat sampai di tujuan. Para saudagar asing ini, awalnya diterima dengan baik oleh otoritas setempat. Namun sayang, karena perangai buruk seperti keluar masuk kota seenaknya, banyak dari mereka yang ditangkap oleh petugas keamanan kesultanan Banten.
      Sukses temukan Indonesia meski harus terusir keluar
      Akibatnya pun sungguh fatal. Para pedagang asing asal Belanda, termasuk Frederick de Houtman yang merupakan kakak Cornelis, dijebloskan ke dalam penjara. Alhasil, dirinya pun harus mengeluarkan denda berupa uang untuk membebaskan sang kakak. Tingkah polah mereka pun harus dibayar mahal pada saat itu. Dilansir dari tirto.id, Cornelis beserta rombongan dagang Belanda lainnya, terpaksa digiring keluar dan diusir dari tanah Banten.

      Meski tak berhasil menemukan rempah-rempah yang dicari, toh Cornelis de Houtman berhasil menemukan jalur pelayaran menuju ke Indonesia. Dirinyalah yang nantinya membuka jalan bagi pelaut-pelaut Belanda lain untuk datang kembal ke tanah Nusantara. Bukan sebagai pedagang, melainkan berubah menjadi penjajah yang kelak mendirikan kolonialisme di Indonesia selama ratusan tahun lamanya.
      Tak heran jika Indonesia dijajah Belanda di kemudian hari. Selain tertarik dengan potensi rempah-rempahnya, kolonialis Eropa tersebut hendak melebarkan bisnis pedagangannya lebih luas. Bahkan hingga saat ini pun, Indonesia masih diincar oleh penjajah asing secara halus yang mengincar SDA dan sumber lainnya.
    • By BincangEdukasi
      Saya seringkali ditanya, “Apakah saran praktis mengendalikan emosi di Jalan?”. Inilah yang ingin saya bagikan.
      Yang jelas, seringkali di internet atau di majalah, banyak yang bicara soal tips mengendalikan emosi. Ada tips yang masuk akal dan mudah diterapkan, tapi ada yang terlalu ideal karena tatkala emosi sudah terjadi, perlu cara masuk akal untuk meredakan emosi kita. Masalahnya adalah kalau nggak segera diredakan, bisa-bisa berakhir dengan pidana (karena memukul, mengumpat, dll). Bagaimana saran Kecerdasan Emosional?
      1. Tunda Minimal 6 detik Sebelum Merespon
      Enam detik ini berdarkan hasil penelitian soal otak manusia (neuropsikologi). Ternyata, kalau kurang dari enam detik maka, bagian otak yang mengendalikan emosi yakni amygdala akan berperan. Amygdala itulah yang membuat kita merespon secara reflex dengan memaki, mengumpat hingga memukul. Nah, supaya respon reflex yang akhirnya disesali ini nggak muncul caranya adalah dengan menunda minimal 6 detik.
      2. Ganti Pikiran Negatif dengan Pikiran Logis
      Ingat, jadi bukan ganti dengan yang positif tapi yang logis. Misalkan ada bis kota motong jalan kita. Biasanya kalau pikiran positif adalah, “Mungkin dia lagi kejar setoran”. Nah, kadang pikiran positif ini bisa bagus, bisa nggak ada efeknya. Lebih masuk akal adalah menggunakan pikiran logis, misalnya “Kalau aku kejar dia dan umpat balik, buat apa? Toh nggak akan membuat dia bertobat. Lagian juga nggak kena mobilku kok”. Ini pikiran logis!
      3. Gunakan jas hujan emosi
      Ini teknik mengantisipasi, Jadi sebelum berangkat ataupun masuk ke dalam kendaraan, bayangkan diri kita sudah mengenakan jas hujan emosi dan bilang pada diri kita, “Kalau ada yang mengumpat ataupun yang membuat saya marah di jalan, saya tidak akan terpengaruh”
      4. Siapkan Penjaga Mood-mu
      Kadangkala, kondisi mood yang buruk juga mebuat kita jadi mudah emosi di jalan. Nah, ada berbagai hal yang bagi beberapa orang bisa jadi pelega sekaligus penjaga mood atau emosi yang positif. Misalkan saja mendengarkan music yang menyenangkan, makan permen ataupun mencium wangi2an tertentu di kendaraan yang dibawa. 
      5. Ciptakan “Self Talk” untuk men-counter pikiran emosional kita
      Cara kerjanya bayangkan ada semacam suara yang terus-menerus akan muncul tatkala kita mulai jengkel dan tidak terkendali. Bisa dibayangkan kalau suara itu berasal dari diri kit sendiri, suara malaikat atau suara orang yang kita kagumi sedang mengingatkan kita. Nah, tujuan self talk ini adalah mengingatkan kita dengan cara berpikir yang berbeda untuk melihat situasi yang memicu kita marah di jalan, dengan sudut pandang  yang lain. Misal: di depan ada kendaraan yang lambat, ternyata dia lagi terima HP. Reaksi kita mau memakinya. Tapi self talk lain bisa begini, “Emangnya kamu polisi? Mau sok ingatin dia? Kamu pikir kalau kamu ingatin dia, dia akan terima kasih sama kamu? Kenal juga nggak. Biarian aja. Lanjutkan perjalananmu. Lupakan dia. Ngapaian diambil pusing?”
    • By berita_semua
      Motif pembunuhan aktivis hak asasi manusia, Munir Said Thalid, pada 7 September 2004 masih misterius hingga kini. Ada dugaan Munir dibunuh karena memegang data penting seputar pelanggaran hak asasi manusia seperti pembantaian di Talang Sari, Lampung, pada 1989, penculikan aktivis 1998, referendum Timor Timur, hingga kampanye hitam pemilihan presiden 2004.
      Menurut mantan Deputi Bidang Perencanaan dan Pengendalian Operasi Badan Intelijen Negara Budi Santoso, pernah ada rapat internal lembaganya membahas Munir. Direktur Imparsial itu disebut akan menjual negara dengan data-datanya, yang ia bawa ke Belanda untuk studi hukum di Utrecht Universiteit. “Hendropriyono meminta upaya Munir itu dicegah,” kata Budi dalam kesaksianya yang direkam dan disaksikan Tempo pekan lalu.
      A.M Hendropriyono, Kepala BIN 2001-2004, sudah menyangkal lembaga yang dipimpinnya mengincar Munir. “Munir bukan orang yang membahayakan,” katanya. Hendro mengatakan tahun 2004 bahkan Munir sudah merapat ke kubu PDI Perjuangan yang dipimpin Megawati Soekarnoputri, presiden yang dekat dengannya.
      Suciwati, istri Munir, juga menyangkal dugaan ini. Sebelum berangkat Suciwati memeriksa laptop yang dibawa suaminya. “Ketika dikembalikan setelah meninggal, saya periksa isinya sama: tak ada data penting,” katanya. “Dokumen penting itu, ya, Munir sendiri. Dia dokumen hidup.”
      Suciwati tak percaya dugaan itu meski beberapa saat setelah kematian Munir, Deputi VII Bidang Teknologi dan Informasi BIN Bijah Subiyanto, memberitahu secara samar soal motif pembunuhan itu. “Coba periksa kasus-kasus besar yang ditangani almarhum sebelum pergi,” katanya, mengutip Bijah.
      Bijah meninggal pada 1 Juli 2009 di Tiongkok, tanpa keterangan meyakinkan penyebab kematiannya. Menurut Suciwati, Bijah secara rutin menghubunginya setelah kematian Munir. “Tiap Lebaran dia mengirim SMS meminta maaf,” katanya.
      Motif pembunuhan juga dikaitkan dengan pemberantasan terorisme yang pada 2004 menjadi agenda nasional. Indonesia menjadi bagian “War on Terror” yang dicetuskan Amerika Serikat setelah serangan 11 September 2001. Munir kerap mempertanyakan metode Detasemen Antiteror dan BIN menangkap para pelaku teror tanpa mempertimbangkan hak asasi.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy