Jump to content
  • Popular Contributors

  • Our picks

    • Kartu SIM Card ada celah keamanan nya
      Celah keamanan dalam kartu SIM disebut mengancam lebih dari satu miliar ponsel. Celah keamanan ini disebut dengan Simjacker.
      • 0 replies
    • Telegram Sindir Whatsapp
      WhatsApp dan Telegram adalah dua aplikasi pesan yang populer saat ini. Bahkan, bisa dibilang mereka sedang saling bersaing untuk mendapatkan jumlah pengguna lebih banyak.

      Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam hal fitur yang dihadirkan. Tapi, ada hal yang unik terkait fitur mereka. Telegram secara terang-terangan menyindir fitur transfer file yang dimiliki WhatsApp.
      • 4 replies
    • Pernah Menang Lotre Rp. 33 Miliyar Wanita Inggris Ini Kini Jatuh Miskin
      Seorang perempuan Inggris menceritakan kisahnya sempat menjadi seorang miliarder di usia muda setelah memenangkan lotre bernilai miliaran namun kini jatuh miskin.

      Callie Rogers, asal Cumbria, Inggris, pernah memenangkan hadiah lotre pada 2003 lalu, saat dia masih berusia 16 tahun.

      Ketika itu Callie memenangkan lotre senilai hampir 1,9 juta poundsterling (setara Rp 33 miliar untuk kurs saat ini). Berkat hadiah lotre itu, Callie pernah menjadi jutawan termuda di Inggris.
      • 0 replies
    • Malam ini, gw akan bercerita sebuah cerita dari seseorang, yang menurut gw spesial. kenapa?

      karena gw sedikit gak yakin bakal bisa menceritakan setiap detail apa yang beliau alami,

      sebuah cerita tentang pengalaman beliau selama KKN, di sebuah desa penari.

      sebelum gw memulai semuanya. gw sedikit mau menyampaikan beberapa hal.
      • 0 replies
    • Kesuksesan Jobs dengan Apple nya dunia sudah gak meragukan lagi, makanya gak sungkan-sungkan dunia menyematkan gelar "Bapak Revolusi Digital" pada Steve Jobs.
      • 1 reply
Adeus

Ayah Perokok, Anak Beresiko Kanker

Recommended Posts

post-108-0-84143600-1428903836_thumb.jpg

 

Studi di Australia menemukan, anak-anak yang ayahnya perokok memiliki resiko 15% lebih tinggi untuk mengembangkan kanker.

 

Menurut Patricia Buffler, Profesor dari University of California yang juga terlibat dalam studi tersebut, pentingnya paparan tembakau dan kanker anak hingga saat ini telah diabaikan. “Sehingga hasil studi ini penting untuk menambah bukti yang semakin kuat,” ungkapnya.

 

Tim  peneliti yang dipimpin oleh Dr. Elizabeth Milne di Telethon Institute for Child Health Research,  Australia ini, mensurvei hampir 400 anak dengan kanker leukemia. Survei menanyakan tentang kebiasaan merokok dari kedua orang tua. Dan survei menemukan bahwa perilaku ibu yang merokok tidak berdampak pada resiko kanker anak. Namun anak-anak yang ayahnya merokok terutama saat waktu pembuahan, 15% memiliki kemungkinan lebih tinggi mengembangkan leukemia. Mereka yang ayahnya merokok sedikitnya 20 batang/hari sekitar, 44% lebih mungkin didiagnosis kanker.

 

Temuan ini menuruyt Buffler masuk akal, karena merokok penuh dengan racun, termasuk dalam sel-sel yang memproduksi sperma. “Sperma DNA yang mengalami kerusakan masih dapat mencapai dan membuahi sel telur, namun dapat menyebabkan penyakit pada keturunanya,” terangnya.

 

Studi ini membuktikan bahwa kerusakan DNA dalam sperma yang disebabkan oleh merokok bertanggung jawab meningkatkan resiko kanker pada anak.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By jodang
      Menurut WHO, ada 90.000 kasus kematian pada wanita yang disebabkan oleh penyakit kanker. Salah satu jenis kanker yang sering diderita wanita adalah kanker serviks dan kanker rahim.
      Penting untuk diketahui, bahwa penyakit kanker rahim itu jelas berbeda dengan kanker serviks. Namun kedua penyakit tersebut merupakan salah satu penyakit yang dapat mematikan, terutama bagi kaum wanita.
      Kanker rahim adalah kanker yang berkembang dalam lapisan rahim. Rahim terletak di antara kandung kemih dan rektum, termasuk leher rahim dan rahim. Leher rahim berhubungan dengan vagina, sementara badan rahim berhubungan dengan tuba falopi.
      Sementara itu, kanker serviks merupakan kanker leher rahim. Leher rahim merupakan bagian dari saluran reproduksi wanita yang menghubungkan vagina dengan rahim atau uterus. Hampir semua kasus penyebab kanker serviks adalah human papillomavirus (HPV).
      Gejala Kanker Rahim Stadium Awal
      1. Nyeri Pada Perut dan Pinggang
      Kasus kanker rahim yang berkembang pada dinding adenosid rongga rahim biasanya memicu pasien mengeluhkan gejala kanker rahim berupa rasa nyeri yang menekan pada perut hingga pinggang. Gejala kanker rahim ini datang sewaktu-waktu, tetapi kadang muncul cukup kuat pada saat setelah melakukan aktivitas seks. Pada wanita usia subur, rasa nyeri bisa semakin kuat pada saat menstruasi datang.
      2. Perut Membesar
      Jaringan ligamen pada rongga rahim yang mengalami efek inflamasi karena invasi sel kanker biasanya akan membengkak. Ini membuat pasien tampak memiliki perut yang besar dan sedikit terasa keras.
      3. Rasa Nyeri Saat Kencing
      Banyak pasien juga mengeluhkan gejala kanker rahim stadium awal dengan nyeri pada saat kencing kadang juga disertai efek kesulitan untuk kencing. Hal ini dikarenakan lokasi rahim yang berdekatan dengan ginjal dan kandung kemih. Perkembangan sel kanker pada dinding rahim menekan organ-organ lain di sekitarnya.
      4. Menstruasi Berat
      Kebanyakan kasus penyakit ini akan menimbulkan gejala kanker rahim dengan menstruasi yang berat. Darah yang dikeluarkan sangat banyak dengan periode yang panjang. Meski dinding endometrium tidak terinvasi, tetap saja kerusakan pada dinding luar rahim akan mempengaruhi dinding dalam rongga rahim. 
      5. Pendarahan
      Kasus pendarahan rahim memang biasanya lebih banyak terjadi pada kasus kanker endometrium. Tetapi efek dari kerusakan pada dinding luar rahim juga bisa memberi efek tekanan pada dinding dalam rahim dan memicu terjadinya pendarahan. Biasanya gejala kanker rahim berupa pendarahan terjadi relatif lebih ringan hingga hanya muncul bercak darah saja.
      6. Rasa Lelah Berlebihan
      Efek serangan sel kanker banyak pasien juga mengeluhkan masalah kelelahan yang cukup berat. Bukan hanya itu, pasien juga tampak mudah lesu dan lemas. Beberapa pasien juga mengalami gangguan libido akibat efek gangguan fungsi saraf pada area genital wanita.
      7. Masalah Berat Badan
      Gejala kanker rahim pada umumnya juga mudah dikenali dari masalah selera makan yang menurun. Di saat yang sama pasien juga mudah merasa mual dan muntah.
      Di saat yang sama, sel kanker secara agresif menarik lebih banyak nutrisi. Ini akan membuat pasien dengan cepat mengalami penurunan berat badan.
      Faktor yang Meningkatkan Risiko Kanker Rahim
      1. Umur
      Peningkatan risiko kanker rahim berkaitan dengan bertambahnya usia seorang wanita. Sebagian besar kanker rahim menyerang wanita yang sudah mengalami menopause di usia 63 tahun ke atas.
      2. Riwayat kehamilan
      Wanita yang memiliki riwayat hamil di atas usia 35 tahun. Dan wanita yang belum pernah hamil memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kanker rahim.
      3. Obesitas
      Keterkaitan wanita obesitas dengan kanker rahim dikemukakan oleh beberapa penelitan. Beberapa penelitian tersebut mengungkapkan, wanita yang memiliki indeks massa tubuh di atas 30 memiliki peningkatan risiko terjadinya kanker rahim.
      4. Terapi hormon
      Wanita yang memiliki riwayat terapi hormon estrogen, yang biasanya terjadi pada wanita yang telah menopause, memiliki peningkatan risiko terjadinya kanker rahim.
      5. Riwayat keluarga
      Sebanyak 10% penderita kanker rahim disebabkan faktor genetika. Beberapa kasus kanker rahim disebabkan oleh perubahan gen tertentu, yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker rahim.
      Jika ada beberapa kerabat dekat dari keluarga yang memiliki riwayat penyakit kanker usus, payudara atau rahim, maka ada kemungkinan ada genetik diwariskan kepada generasi berikutnya. Kerabat dekat dalam hal ini mencakup orangtua, anak, saudara.
      6. Tamoxifen
      Tamoxifen merupakan obat hormonal yang digunakan untuk mengobati kanker payudara. Obat ini bisa sedikit meningkatkan risiko kanker rahim, bila dikonsumsi dalam waktu jangka panjang.
      Pengobatan untuk Kanker Rahim
      Pengobatan kanker rahim yang umum dilakukan adalah histerektomi atau operasi pengangkatan rahim. Histerektomi dapat dilakukan untuk menyembuhkan kanker rahim stadium awal, namun membuat pasien tidak bisa hamil.
      Kemoterapi dan radioterapi terkadang juga digunakan dan dikombinasikan dengan tindakan pembedahan. Selain itu, terapi hormon juga dapat dilakukan untuk pasien yang belum menopause dan masih ingin memiliki anak.
    • By BincangEdukasi
      Berita berpulangnya Julia Perez, artis yang juga kerap disapa Jupe ini membuat dunia hiburan berkabung. Jupe mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), pada Sabtu 10 Juni 2017, akibat kanker serviks. Kabar duka ini, pada awalnya, disampaikan sang adik, Nia Anggia Perez, lewat akun instagramnya. Dalam caption foto yang dia unggah, dia meminta doa buat kakak tercintanya. 
      Kasus penyakit kanker serviks sebenarnya bukan kasus langka. Sudah banyak penderita kanker serviks, baik di Indonesia, maupun di luar negeri. Kanker ini termasuk jenis kanker yang cukup ganas. Makanya nggak heran, kalau banyak cewek, terutama yang sudah aktif berhubungan seksual dan sudah menikah, khawatir dengan penyakit serius yang satu ini. 
      Kanker serviks sebenarnya bisa dicegah dengan pola makan dan juga gaya hidup sehat. Selain itu, perlu juga ada pemeriksaan rutin, dengan metode pap smeas. Metode ini dilakukan dengan cara mengambil sel yang ada pada rahim. Sel itu kemudian diperiksa di laboratorium dan dilihat, apakah sel tersebut merupakan sel kanker. Atau, apakah ada kemungkinan sel tersebut tumbuh secara tak normal. 
      Tapi, meskipun nggak menggunakan sistem pap smear, ciri-ciri kanker serviks bisa terlihat, kalau memang stadiumnya sudah memasuki tingkat lanjut. Dilansir dari Cancer.org, gejala ini bisa beragam, tergantung dari kondisi penderita. Namun, ada beberapa ciri umum. 
      1. Ketika kanker sudah menyerbu dan mengganas, ada beberapa tanda umum. Misalnya, keluar darah setelah berhubungan seksual. Kalau kondisi vagina dan rahim sehat, tak akan ada darah yang keluar kecuali kamu sedang menstruasi. 
      2. Selain itu, buat kamu yang sudah menopause, darah juga keluar dari mulut vagina. Padahal, setelah memasuki masa menopause, seharusnya tak ada darah yang keluar dari mulut vagina. 
      3. Kamu juga sebaiknya menghitung dan memerhatikan siklus menstruasimu. Kalau seharusnya mens sudah berhenti, tapi darah masih keluar, sebaiknya periksakan dirimu ke dokter kandungan. 
      4. Keputihan juga merupakan salah satu tanda adanya kanker serviks seperti yang diderita Julia Perez. Tapi keputihan ini nggak biasa. Keputihan ini mengandung sedikit darah. Biasanya, muncul di antara masa menstruasi atau setelah memasuki masa menopause. Selain itu, kalau kamu merasa sakit saat bercinta, sebaiknya kamu juga memeriksakannya ke dokter. 
    • By MariaAngeline
      Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, sebagai orang tua mungkin kita menjadi sering lupa dalam menjaga privasi di sosial media. Di sisi lain, sosial media memang memudahkan kita dalam menerima dan memberi informasi kepada teman terdekat hingga yang tak kenal sekalipun. Facebook contohnya, kebanyakan orangtua lebih memilih mengunggah foto anaknya dibanding foto orangtuanya sendiri.
      Masih ingat kasus seorang remaja yang dituduh telah menghina Kota Bandung dengan kata-kata kotornya di Twitter? Ya, kasus yang telah dilaporkan ke polisi oleh Wali Kotanya langsung ini sempat heboh di dunia maya, hingga terungkaplah bahwa foto orang pada akun bermasalah tersebut bukan foto asli pelaku. Dari kasus ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kita tidak boleh sembarang mengupload sebuah foto di sosial media, jika yang sopan saja sudah disalahgunakan bagaimana dengan foto yang kurang sopan?
      Sebaiknya orangtua kini lebih bijak dalam mengupload foto anak di sosial media, mengupload foto tanpa diseleksi lebih dulu bisa berdampak negatif di antara bahayanya adalah menjadi sasaran pelaku pedofil dan penculikan anak. Lalu, apa yang harus diperhatikan sebelum mengupload foto ke sosial media?
      Perhatikan Pengaturan Privasi
      Di Facebook misalnya, Anda dapat mengatur siapa saja yang bisa melihat foto atau status yang diposting, hanya untuk diri sendiri, keluarga, teman atau publik. Untuk photo anak lebih baik hanya kalangan teman atau anggota keluarga saja yang bisa melihat.
      Tidak Memasang Foto Anak Tanpa Busana
      Siapa yang tidak gemas jika melihat anak balita yang tengah mandi atau tanpa busana? Tentu semua orang menyukai foto bayi yang terlihat lucu saat mandi. Tapi ternyata, mengupload foto balita tanpa busana atau hanya memakai pakaian dalam sangat tidak disarankan. Karena ini akan membahayakan anak sendiri, anak bisa menjadi target dari pelaku pedofil atau predator.
      Meski masih balita bukan berarti bisa bebas mengabadikan semua momen dan mengunggah fotonya di sosial media. Sebaiknya dipikir ulang jika ingin mengunggahnya, pilihlah foto yang memang sopan dan tidak memancing tindak kriminal.
      Hindari Memasang Status Lokasi
      Tidak jarang para orangtua suka menandai keberadaan lokasi saat bersama anak. Bukan tidak boleh berbagi informasi tentang kegiatan dan lokasi dimana kita menghabiskan waktu bersama anak, tapi cobalah untuk mengurangi kebiasaan memberitahu secara detail lokasi dimana kita berada. Hal ini bisa memancing tindakan penculikan terhadap anak, jadi alangkah baiknya jika Anda tidak menulis nama lengkap anak atau lokasi secara detail jika ingin mengupdate status di sosial media.
      Hindari berfoto dengan latar tempat
      Misalnya berfoto di depan sekolah, rumah dan lokasi-lokasi yang sekiranya dapat memudahkan para pedofil atau penculik mencari anak Anda. Hindari melakukan hal ini! Banyak kasus penculikan yang bermula dari lokasi sekolah anak dengan tujuan untuk memeras hingga kasus penjualan anak.
      Berikan Komentar Positif
      Saling memberikan komentar di sosial media memang akan menjadi ajang sosialisasi yang menyenangkan, namun pastikan Anda selalu memberikan komentar positif di sosial media. Jangan memberikan komentar negatif atau mengejek ya. Hindari menggunakan ikon atau tokoh kartun dengan karakter negatif sebagai julukan kepada anak. Sebaiknya sosial media dijadikan ajang positif untuk memberikan informasi yang bermanfaat.
      Perlu diingat bahwa setiap foto yang Anda upload di sosial media meskipun telah Anda hapus tidak menjamin foto tersebut akan menghilang di database mesin pencari, mungkin foto yang Anda unggah sudah ada yang mendownload atau menyebarkannya via sosial media lain. Jadi berhati-hatilah, jangan terlalu sering mengupload foto. Lebih baik dokumentasikan melalui album foto di rumah Anda.
    • By MariaAngeline
      Pembicaraan mengenai sex masih tabu di kalangan masyarakat Indonesia, namun di zaman sekarang ini rasanya pendidikan sex perlu diperkenalkan lebih dini kepada anak. Sex education yang mendidik tentu tidak akan mencederai apa yang seharusnya dijaga dan dipertahankan, bukan malah mengarahkan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma agama, sosial, dan kesusilaan. Sebagai orangtua, kita perlu mewaspadai hal-hal yang sekiranya dapat mempengaruhi pergaulan anak-anak, tidak hanya itu bahan bacaan seperti buku pun patut menjadi perhatian.

      Buku berjudul “Saatnya Aku Belajar Pacaran” karya Toge Aprilianto yang akhir-akhir ini menuai kontroversi di dunia maya, adalah salah satu contoh sumber media yang perlu diwaspadai. Isinya yang seolah mengajak anak remaja berhubungan intim banyak menuai kecaman. Bebagai media kini semakin terbuka dalam mempengaruhi pemahaman anak mengenai pendidikan sex yang akhirnya banyak menyimpang. Disinilah sebagai orangtua kita perlu mengetahui dan memahami kapan sex education diperkenalkan kepada anak dengan tepat sesuai usianya.
      Usia 5 tahun ke bawah
      Pertama, mungkin kita akan merasa kebingungan bagaimana caranya menyampaikan pendidikan seks pada seorang balita yang berusia 5 tahun, kenyataannya mungkin Anda bisa melewati tahap ini dengan mudah. Pada rentang usia ini, Anda bisa memulai pendidikan seks dengan memperkenalkan organ tubuh dan fungsinya masing-maisng. Tidak perlu merasa bingung dan ragu saat Anda harus memperkenalkan alat kelaminnya, waktu yang tepat akan menghilangkan ketidaknyamanan Anda saat memperkenalkan organ vitalnya. Seperti saat anak sedang dimandikan atau saat Anda memakaikan pakaiannya. Dalam hal ini Anda tidak perlu membahasnya hingga terlalu detail atau mengajarkannya dalam keadaan yang serius, cara ini diharapkan bisa menghindari penyebutan yang dianggap tidak sopan dengan menyebut alat kelamin yang dimilikinya saat berada di lingkungan sosial masyarakat.
      Selain memperkenalkan organ vitalnya, Anda juga bisa mengajarkan mengenai jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki dan apa perbedaannya. Mengajarkan anak tentang hak dan kewajibannya untuk menjaga milik pribadinya juga sangatlah penting, termasuk alat vitalnya. Beritahukan bahwa mereka tidak boleh menunjukkan alat kelaminnya secara sembarang tempat dan orang yang bukan muhrimnya. Hal ini untuk menghindari pelecehan seksual yang banyak mengincar anak-anak di sekitar kita.
      Jika anak mencoba menolak dicium atau dipeluk orang lain, hargai keputusannya. Mereka memiliki hak untuk menolak segala macam bentuk kasih sayang dari orang lain yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman, jangan memaksakan mereka untuk melakukannya meskipun hanya sebagai bentuk penghargaan. Hal ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mereka belajar penolakan.
      Usia 6-9 tahun
      Pada usia ini, orangtua perlu memperhatikan banyak hal. Setiap anak baik perempuan maupun laki-laki memiliki minat berbeda terhadap seks, ada yang masa bodoh tidak ingin tahu, merasa terganggu dengan pembicaraan sex, bahkan ada anak yang bisa memberikan respon sangat tertarik pada materi sex. Sebagai orangtua kita perlu pintar dalam menyikapinya sebelum memberikan sex education lebih detail jangan sampai mereka merasa terpojokkan, malu, atau bahkan menjadi terlalu liar dalam menyikapinya.
      Pada kasus pencabulan anak yang sering terjadi, kebanyakan dari mereka merasa tidak sadar bahwa dirinya mengalami pencabulan. Yang dipahami anak adalah mereka merasa disayangi karena mungkin pelaku meracuni pikiran mereka dengan pemahaman yang sesat apalagi diberikan imbalan sesuatu yang disukainya. Faktor ketidaktahuan dan ketidakberdayaan mereka telah dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan seksual secara sengaja. Oleh karena itu, Anda bisa mengajarkan anak mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri dari kejahatan seksual. Seperti mengajarkan mereka untuk menolak membuka pakaian, diraba alat vitalnya oleh teman, saudara atau orang yang dikenalinya meskipun diberikan imbalan. Mereka juga harus diberitahu cara merespon jika mereka dipaksa melakukan sesuatu atau diintimidasi oleh orang dewasa saat mereka mencoba melakukan penolakan yang membuatnya tidak nyaman. Dekati sang anak agar mereka selalu berusaha terbuka kepada orangtuanya.
      Usia 9-12 tahun
      Pada usia ini Anda perlu banyak memberikan informasi detail mengenai perubahan-perubahan yang akan terjadi pada bagian tubuh mereka saat masa puber yang cenderung berbeda pada tiap individu dan jenis kelamin. Jika laki-laki, beritahu bagaimana cara menyikapi mimpi basah sebagai bagian dari tandanya dia telah baligh. Atau jika perempuan beritahu bagaimana caranya menyikapi masa menstruasi sebagai bagian normal dari tahapan perkembangan invidu khususnya pada wanita.
      Memperkenalkan bagaimana cara menjaga kesehatan alat kelamin juga sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit kelamin di kemudian hari, tekankan bahwa jika mereka mengikuti peraturan tersebut mereka tidak perlu merasa banyak khawatir.
      Usia 12 tahun ke atas
      Berbagai data survei menyebutkan bahwa hampir setengahnya remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seksual sebelum terikat pernikahan. Ini artinya, telah banyak remaja yang sudah terjerat seks bebas tanpa pengawasan dan penanggulangan pendidikan seks dini khususnya dari orangtua. Perlu diketahui bahwa dorongan atau gairah seksual pada masa puber meningkat sangat signifikan, oleh sebab itu orangtua seharusnya sudah mengajarkan seperti apa sistem reproduksi dan bagaimana cara kerjanya pada masa ini.
      Memberikan pemahaman tentang arti cinta dan pacaran sangat mempengaruhi pemikiran sang anak dalam menyikapi pergaulan seks bebas yang terjadi di sekitarnya. Tanamkan pemahaman khususnya pada anak perempuan, bahwa jika ada laki-laki yang mengajaknya berhubungan di luar nikah bahkan sampai melakukan pemaksaan dan marah saat dia menolaknya bukan berarti dia tidak mencintainya. Justru jika hal tersebut terjadi, itu tandanya mereka tidak mencintai anak Anda dan hanya ingin menjadikan dia sebagai pelampias nafsunya saja. Sampaikan bahwa ada banyak konsekuensi yang akan dihadapinya jika mereka melanggar prinsip melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, baik dari sisi biologis, psikologis maupun sosial. Orangtua selalu dituntut untuk melakukan komunikasi dua arah untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan.
      Hindari mengeluarkan kata-kata menghakimi agar anak-anak tidak merasa takut dan enggan untuk berbagi cerita dengan orangtuanya. Jika orangtua merasa berat untuk membicarakan bahasan tentang seks dengan anak, mungkin Anda bisa meminta bantuan kepada psikologi untuk memberikan pendidikan seks yang tepat.
    • By MariaAngeline
      Pembicaraan mengenai sex masih tabu di kalangan masyarakat Indonesia, namun di zaman sekarang ini rasanya pendidikan sex perlu diperkenalkan lebih dini kepada anak. Sex education yang mendidik tentu tidak akan mencederai apa yang seharusnya dijaga dan dipertahankan, bukan malah mengarahkan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma agama, sosial, dan kesusilaan. Sebagai orangtua, kita perlu mewaspadai hal-hal yang sekiranya dapat mempengaruhi pergaulan anak-anak, tidak hanya itu bahan bacaan seperti buku pun patut menjadi perhatian.

      Buku berjudul “Saatnya Aku Belajar Pacaran” karya Toge Aprilianto yang akhir-akhir ini menuai kontroversi di dunia maya, adalah salah satu contoh sumber media yang perlu diwaspadai. Isinya yang seolah mengajak anak remaja berhubungan intim banyak menuai kecaman. Bebagai media kini semakin terbuka dalam mempengaruhi pemahaman anak mengenai pendidikan sex yang akhirnya banyak menyimpang. Disinilah sebagai orangtua kita perlu mengetahui dan memahami kapan sex education diperkenalkan kepada anak dengan tepat sesuai usianya.
      Usia 5 tahun ke bawah
      Pertama, mungkin kita akan merasa kebingungan bagaimana caranya menyampaikan pendidikan seks pada seorang balita yang berusia 5 tahun, kenyataannya mungkin Anda bisa melewati tahap ini dengan mudah. Pada rentang usia ini, Anda bisa memulai pendidikan seks dengan memperkenalkan organ tubuh dan fungsinya masing-maisng. Tidak perlu merasa bingung dan ragu saat Anda harus memperkenalkan alat kelaminnya, waktu yang tepat akan menghilangkan ketidaknyamanan Anda saat memperkenalkan organ vitalnya. Seperti saat anak sedang dimandikan atau saat Anda memakaikan pakaiannya. Dalam hal ini Anda tidak perlu membahasnya hingga terlalu detail atau mengajarkannya dalam keadaan yang serius, cara ini diharapkan bisa menghindari penyebutan yang dianggap tidak sopan dengan menyebut alat kelamin yang dimilikinya saat berada di lingkungan sosial masyarakat.
      Selain memperkenalkan organ vitalnya, Anda juga bisa mengajarkan mengenai jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki dan apa perbedaannya. Mengajarkan anak tentang hak dan kewajibannya untuk menjaga milik pribadinya juga sangatlah penting, termasuk alat vitalnya. Beritahukan bahwa mereka tidak boleh menunjukkan alat kelaminnya secara sembarang tempat dan orang yang bukan muhrimnya. Hal ini untuk menghindari pelecehan seksual yang banyak mengincar anak-anak di sekitar kita.
      Jika anak mencoba menolak dicium atau dipeluk orang lain, hargai keputusannya. Mereka memiliki hak untuk menolak segala macam bentuk kasih sayang dari orang lain yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman, jangan memaksakan mereka untuk melakukannya meskipun hanya sebagai bentuk penghargaan. Hal ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mereka belajar penolakan.
      Usia 6-9 tahun
      Pada usia ini, orangtua perlu memperhatikan banyak hal. Setiap anak baik perempuan maupun laki-laki memiliki minat berbeda terhadap seks, ada yang masa bodoh tidak ingin tahu, merasa terganggu dengan pembicaraan sex, bahkan ada anak yang bisa memberikan respon sangat tertarik pada materi sex. Sebagai orangtua kita perlu pintar dalam menyikapinya sebelum memberikan sex education lebih detail jangan sampai mereka merasa terpojokkan, malu, atau bahkan menjadi terlalu liar dalam menyikapinya.
      Pada kasus pencabulan anak yang sering terjadi, kebanyakan dari mereka merasa tidak sadar bahwa dirinya mengalami pencabulan. Yang dipahami anak adalah mereka merasa disayangi karena mungkin pelaku meracuni pikiran mereka dengan pemahaman yang sesat apalagi diberikan imbalan sesuatu yang disukainya. Faktor ketidaktahuan dan ketidakberdayaan mereka telah dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan seksual secara sengaja. Oleh karena itu, Anda bisa mengajarkan anak mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri dari kejahatan seksual. Seperti mengajarkan mereka untuk menolak membuka pakaian, diraba alat vitalnya oleh teman, saudara atau orang yang dikenalinya meskipun diberikan imbalan. Mereka juga harus diberitahu cara merespon jika mereka dipaksa melakukan sesuatu atau diintimidasi oleh orang dewasa saat mereka mencoba melakukan penolakan yang membuatnya tidak nyaman. Dekati sang anak agar mereka selalu berusaha terbuka kepada orangtuanya.
      Usia 9-12 tahun
      Pada usia ini Anda perlu banyak memberikan informasi detail mengenai perubahan-perubahan yang akan terjadi pada bagian tubuh mereka saat masa puber yang cenderung berbeda pada tiap individu dan jenis kelamin. Jika laki-laki, beritahu bagaimana cara menyikapi mimpi basah sebagai bagian dari tandanya dia telah baligh. Atau jika perempuan beritahu bagaimana caranya menyikapi masa menstruasi sebagai bagian normal dari tahapan perkembangan invidu khususnya pada wanita.
      Memperkenalkan bagaimana cara menjaga kesehatan alat kelamin juga sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit kelamin di kemudian hari, tekankan bahwa jika mereka mengikuti peraturan tersebut mereka tidak perlu merasa banyak khawatir.
      Usia 12 tahun ke atas
      Berbagai data survei menyebutkan bahwa hampir setengahnya remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seksual sebelum terikat pernikahan. Ini artinya, telah banyak remaja yang sudah terjerat seks bebas tanpa pengawasan dan penanggulangan pendidikan seks dini khususnya dari orangtua. Perlu diketahui bahwa dorongan atau gairah seksual pada masa puber meningkat sangat signifikan, oleh sebab itu orangtua seharusnya sudah mengajarkan seperti apa sistem reproduksi dan bagaimana cara kerjanya pada masa ini.
      Memberikan pemahaman tentang arti cinta dan pacaran sangat mempengaruhi pemikiran sang anak dalam menyikapi pergaulan seks bebas yang terjadi di sekitarnya. Tanamkan pemahaman khususnya pada anak perempuan, bahwa jika ada laki-laki yang mengajaknya berhubungan di luar nikah bahkan sampai melakukan pemaksaan dan marah saat dia menolaknya bukan berarti dia tidak mencintainya. Justru jika hal tersebut terjadi, itu tandanya mereka tidak mencintai anak Anda dan hanya ingin menjadikan dia sebagai pelampias nafsunya saja. Sampaikan bahwa ada banyak konsekuensi yang akan dihadapinya jika mereka melanggar prinsip melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, baik dari sisi biologis, psikologis maupun sosial. Orangtua selalu dituntut untuk melakukan komunikasi dua arah untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan.
      Hindari mengeluarkan kata-kata menghakimi agar anak-anak tidak merasa takut dan enggan untuk berbagi cerita dengan orangtuanya. Jika orangtua merasa berat untuk membicarakan bahasan tentang seks dengan anak, mungkin Anda bisa meminta bantuan kepada psikologi untuk memberikan pendidikan seks yang tepat.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy