Jump to content
peter_hutomo

Metode Pencarian Google Akan Berubah

Recommended Posts

post-6-0-19105300-1428361201_thumb.jpg

 

Google rencananya akan menggunakan algoritma baru untuk mesin pencari mereka, dengan sistem ini pencarian akan sedikit berbeda.

 

Metode pencarian nanti dioptimalkan untuk situs-situs yang bersahabat dengan ponsel. Tak peduli apakah pengguna sedang melakukan pencarian di komputer atau tablet, situs yang optimal untuk ponsel akan diprioritaskan.

 

Google tak menyebutkan secara rinci situs seperti apa yang dianggap mereka bersahabat untuk ponsel, namun mesin pencari itu menyediakan satu halaman khusus untuk menguji apakah situs pengguna memang cocok untuk ponsel.

 

Algoritma baru tersebut akan mulai diimplementasikan pada 21 April 2015, dan akan berlaku untuk pencarian di seluruh dunia.

 

Meski baru akan berlaku mulai beberapa pekan ke depan, namun Google sudah menyebarkan ‘Googlebot’ untuk menelusuri situs-situs yang dianggap cocok dimasukkan daftar teratas pencarian mereka.

 

Perubahan metode pencarian pada Google bukanlah yang pertama kali terjadi, di tahun ini setidaknya Google sudah mulai menerapkan dua sistem berbeda.

 

Pada Februari 2015 lalu Google mengumumkan telah bekerjasama konten dengan Twitter. Kini, apa yang dikicaukan pengguna microblogging tersebut, bisa dilacak keberadaannya melalui Google.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By theblue
      Virus Corona COVID-19 telah dinyatakan sebagai wabah yang pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Perusahaan teknologi besar seperti Google dan Twitter memperbolehkan karyawannya dari rumah.
      Sejak Kamis (12/3/2020) Google sudah memandatkan 300.000 karyawannya untuk bekerja dari rumah. Khususnya untuk karyawan yang berbasis di Inggris, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Sebagai antisipasi penyebaran covid-19 atau virus corona.
      Pemberlakuan kerja dari rumah itu akan dilakukan sampai pemberitahuan lebih lanjut oleh Google.
      Google mengatakan, satu-satunya wilayah yang tersisa menjalankan bisnis seperti biasanya pada saat ini adalah Amerika Latin.
      Selain itu, Google juga telah memberi tahu lebih dari 100.000 karyawannya di Amerika Utara untuk tetap di rumah di tengah virus itu hingga setidaknya 10 April.
      CEO Google, Sundar Pichai dan CFO Google, Ruth Porat, mendesak karyawan untuk tetap termotivasi untuk menjalankan infrastruktur global Google di tengah perubahan besar dan kekhawatiran seputar penyebaran virus.
      "Kami tahu ini adalah waktu yang sangat meresahkan bagi semua orang," kata Pichai dalam email internal, pekan lalu. Ia menambahkan bahwa perusahaan memiliki tim keamanan dan ketahanan yang siap menjalankan pusat komando 24 jam untuk membantu para eksekutif memantau situasi penyebaran corona.
      Perusahaan teknologi Twitter juga menerapkan hal yang seperti Google. Twittermemutuskan untuk mewajibkan 4.900 karyawan bekerja dari rumah untuk menghadang penyebaran virus corona COVID-19 yang telah menyebar ke banyak negara.
      Dalam postingan di blog resmi perusahaan, Twitter mengatakan, "Kebijakan kerja dari rumah ini bersifat wajib karena perusahaan memiliki tanggung jawab untuk mendukung komunitas perusahaan dan mereka yang rentan," ujar perusahaan seperti dilansir dari CNBC International, Kamis (12/3/2020).
      "Kami memahami bahwa ini adalah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi ini adalah saat yang belum pernah terjadi sebelumnya," lanjutnya.
      Twitter mengatakan mereka akan terus membayar kontraktor dan membayar karyawan per jam yang tidak dapat melakukan tugas mereka saat bekerja dari rumah.
    • By VOAIndonesia
      SAN FRANCISCO - Seorang mantan eksekutif Google yang mencalonkan diri untuk menjadi anggota Senat Amerika, Kamis (9/1/20), menyerukan pemberlakuan regulasi yang keras terhadap raksasa-raksasa teknologi, dan menuduh raksasa internet tempat dia pernah bekerja itu telah keluar dari jalur “jangan jahat.”
      Ross LaJeunesse membidik Google dan perusahaan-perusahaan teknologi besar lainnya di Amerika dengan menyatakan bahwa kini keuntungan lebih diutamakan daripada hak asasi manusia.
      “Moto perusahaan dulu adalah “jangan jahat,” kata LaJeunesse, yang meninggalkan pekerjaannya sebagai kepala hubungan internasional di Google tahun lalu setelah 11 tahun mengabdi di perusahaan itu. “Banyak hal telah berubah,” tambahnya.
      Kini dia mencalonkan diri ikut bersaing memperebutkan kursi Senat Amerika untuk negara bagian asalnya, Maine. Dia bersaing melalui jalur Partai Demokrat.
      Google menolak kritikan tersebut, dan mengatakan pernyataan LaJeunesse itu disampaikan dalam konteks kampanye pemilihan.
      “Kami memiliki komitmen yang tak tergoyahkan untuk mendukung berbagai organisasi dan upaya-upaya hak asasi manusia," kata juru bicara Google ketika menanggapi pertanyaan kantor berita AFP. “Kami mendoakan yang terbaik untuk Ross dengan ambisi politiknya,” tambah juru bicara itu.
      LaJeunesse bergabung dengan Google pada tahun 2008 dan menjadi kepala kebijakan publik perusahaan itu untuk Asia Pasifik sebelum mengambil posisi sebagai kepala hubungan internasional.
      Dia mengatakan dia adalah orang yang melaksanakan keputusan Google untuk tidak lagi menyensor hasil pencarian lewat Internet di China seperti yang diminta oleh pemerintah negara itu.
      “Keputusan itu membuat marah tidak hanya pemerintah China, tetapi juga membuat frustrasi sebagian eksekutif produk Google yang mengincar pasar yang besar dan keuntungan yang menyertainya,” kata LaJeunesse.
      “Faktanya, dalam waktu satu tahun sejak keputusan 2010 itu, eksekutif untuk Maps dan produk Android mulai berusaha meluncurkan produk mereka di China,” tambahnya.
      Dia menyatakan terkejut ketika mengetahui pada tahun 2017 tentang adanya proyek “Dragonfly” di Google untuk menyesuaikan versi mesin pencari untuk China. Proyek itu kemudian ditinggalkan karena menuai kritik masyarakat.
      LaJeunesse juga menyuarakan keprihatinan tentang upaya Google untuk menjalin kerja sama komputasi awan (cloud computing) dengan pemerintah Arab Saudi dan membangun pusat intelijen buatan (AI) di sana.
      “Tepat ketika Google perlu menggandakan komitmen pada hak asasi manusia, Google memutuskan untuk mengejar keuntungan yang lebih besar dan harga saham yang bahkan lebih tinggi,” kata LaJeunesse. “Itu tidak berbeda dalam budaya tempat kerja di Google,” tambahnya.
      Dia berpendapat bahwa karena pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin menyerahkan operasi perusahaan kepada para eksekutif yang digaji, maka semangat mencari keuntungan lebih besar daripada bertahan pada prinsip-prinsip yang semula diutamakan.
    • By Forzaken_DT
      CEO Google yang baru saja diangkat sebagai CEO Alphabet, Sundar Pichai, makin tajir saja. Dia dipastikan bakal menerima bagian saham dengan nilai luar biasa besar.
      Pria kelahiran India ini dalam tiga tahun akan menerima jatah 'saham berdasarkan performa' sebesar USD 240 juta atau di kisaran Rp 3,3 triliun.
      Itu merupakan nilai saham tertinggi yang pernah diterima oleh seorang eksekutif Google. Soal gaji, setiap tahunnya mulai 2020 Pichai bakal meraup USD 2 juta.
      "Dalam hal pemberian saham yang didapatkan saat pengangkatan CEO, memang masih di bawah USD 376 juta pada Tim Cook ketika dia mengambil alih Apple," ujar Amid Batish dari Equilar, perusahaan yang meneliti pendapatan eksekutif.
      Saat dulu diangkat sebagai CEO Google peda tahun 2015, gaji tahunan Pichai 'hanya' USD 652.500. Di tahun berikutnya, pundi-pundinya melesat berkat jatah saham senilai USD 199 juta.
      Pichai dengan kecerdasan dan kepemimpinannya memang menjadi anak emas pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin. Keduanya telah lengser sebagai pemimpin Alphabet dan mempercayakannya pada Pichai.
      Pichai lahir di Tamil Nadu, India, 47 tahun lalu di sebuah keluarga sederhana dan pindah ke Amerika Serikat untuk kuliah. Ia gabung Google pada tahun 2004. Karirnya melesat begitu cepat di mana salah satu prestasinya adalah membuat browser Chrome sukses besar.
    • By Forzaken_DT
      Pengadilan federal Manhattan, Amerika Serikat, memvonis Evaldas Rimasauskas, pelaku penipuan terhadap perusahaan sekelas Google dan Facebook dengan hukuman lima tahun penjara. Kedua raksasa teknologi itu diketahui rugi hingga USD 120 juta atau Rp 1,67 triliun akibat penipuan tersebut.
      Tak hanya menghuni sel tahanan, Rimasauskas juga didenda sebesar USD 26,4 juta sebagai ganti rugi.
      "Evaldas Rimasauskas merancang skema berani untuk menipu perusahaan AS lebih dari USD 120 juta dan kemudian menyalurkan dana itu ke rekening bank di seluruh dunia," kata jaksa penutut Geoffrey Berman.
      Semua itu bermula dari aksi Rimasauskas berpura-pura sebagai karyawan dari perusahaan manufaktur elektronik bernama Quanta Computer di Taiwan. Untuk menyakinkan aksinya, pria ini sampai modal stempel perusahaan yang sesuai dengan aslinya hingga email palsu.
      Dari email palsu tersebut, Rimasauskas mengirimkan ke staf Google dan Facebook meminta pembayaran atas barang dan jasa yang dibeli dari Quanta. Pada saat itu, memang Google dan Facebook bermitra dengan Quanta.
      Rimasauskas pun menginstruksikan agar pembayaran ditransfer ke sejumlah bank di luar negeri yang dikuasainya. Ketahuan menipu, Rimasauskas ditangkap pada 2017 lalu dan pada pekan ini baru diputuskan hukumannya.
      "Rimasauskas melakukan pencurian teknologi tinggi dari belahan dunia, tetapi dia dijebloskan di pengadilan federal Manhattan," pungkas Berman.
    • By Forzaken_DT
      Jack Dorsey yang tak lain adalah CEO dari Twitter memanfaatkan browser mesin pencarian untuk berselancar di internet. Namun yang dipakai bukanlah Google, melainkan DuckDuckGo. Hah, apa itu?
      Fakta itu ia beberkan dalam cuitan di akun Twitter miliknya @jack. Hal ini juga berbanding terbalik sebagian masyarakat yang lebih memilih Google dalam mencari informasi di dunia maya.
      "Saya suka @DuckDuckGo sebagai mesin pencari default untuk saat ini. Aplikasi ini bahkan lebih baik," kicaunya.
      Pendiri media sosial berlogo burung ini diketahui memasang DuckDuckGo sebagai mesin pencari informasi default di ponselnya. Melihat cuitan bos Twitter tersebut, DuckDuckGo langsung meresponnya dengan nada bahagia.
      Lalu, siapa DuckDuckGo? Diketahui, DuckDuckGo merupakan mesin pencari yang didirikan pada 2008. Tempat kelahirannya sama dengan Google, yakni berasal dari Amerika Serikat juga.
      DuckDuckGo hadir sebagai mesin pencari yang memprioritaskan privasi penggunanya. Mereka mengklaim tidak menjual data penggunanya.
      Ini bukan pertama kalinya Dorsey 'menyenggol' sejumlah perusahaan teknologi. Sebelumnya, pria 43 tahun itu pernah memposting tweet yang mengejek perubahaan Facebook.
      "Twitter ... from TWITTER," tulisnya.
      Tweet tersebut meledek Facebook yang melakukan perubahaan di sejumlah layanan, seperti menempelkan embel-embel Facebook pada layanan WhatsApp dan Instagram.
×
×
  • Create New...