Jump to content
  1. Sam

    Sam

  • Similar Content

    • By BincangEdukasi
      Menjaga agar anak tetap sehat dan selamat adalah bagian dari naluri orangtua, dan setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk melakukannya. Beberapa orangtua bahkan terlalu melindungi anak mereka, bukan hanya dari permasalahan besar, tetapi juga dari hal kecil dan tanggung jawab yang seharusnya mereka bisa atasi sendiri. Hal ini dikenal dengan  pola asuh helicopter parenting dan istilah ini relatif menjadi lebih populer dalam satu dekade terakhir.
      Apa itu helicopter parenting?
      Helicopter parenting adalah istilah yang merujuk pada cara pola asuh anak oleh orangtua yang terlalu berfokus terhadap kehidupan anak. Akibatnya, orang tuaterlalu ikut campur terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh anak mereka. Berbeda dengan pola asuh yang menuruti berbagai keinginan anak, pola asuh helicopter parenting lebih cenderung menentukan bagaimana anak seharusnya bertindak, dan lebih bersifat terlalu melindungi anak dari kesulitan atau kegagalan.
      Pada dasarnya, hal ini dilandasi oleh niat yang baik, namun orangtua yang melakukan helicopter parentingcenderung menyelesaikan berbagai urusan yang dihadapi anak, meskipun si anak sebenarnya dapat menyelesaikannya sendiri. Pakar psikologi Michael Ungar mengatakan (sebagaimana yang dilansir oleh Psychology Today), “Hal ini (helicopter parenting) tentu saja tidak sesuai dengan tujuan utama pola asuh anak untuk menjadikannya mampu menyelesaikan berbagai tugas orang dewasa.“
      Ia juga berpendapat bahwa melatih anak untuk mengambil keputusannya sendiri jauh lebih penting dibandingkan membiarkan mereka bergantung pada orangtua untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi.
      Helicopter parenting dapat berupa berbagai perilaku orangtua yang terlalu memonitor kehidupan sekolah, sosial, bahkan pekerjaan anak, misalnya: Menentukan jurusan pendidikan yang diambil oleh anak meskipun anak tidak menyukainya. Memonitor jadwal makan dan olahraga. Orangtua meminta anak untuk selalu memberikan kabar di mana ia berada dan dengan siapa. Saat nilai anak buruk, orangtua menghubungi guru atau dosen untuk protes. Ikut campur jika ada permasalahan dengan teman atau pekerjaan. Kenapa orangtua terlalu ikut campur dalam kehidupan anak?
      Terdapat banyak alasan orangtua terlalu melakukan campur tangan dalam kehidupan anak. Namun pada dasarnya hal ini disebabkan oleh kecemasan yang berlebihan orangtua terhadap bagaimana anak menjalani hidup mereka. Akibatnya, helicopter parent melakukan berbagai hal untuk membantu mengatasi permasalahan hidup, bahkan mengambil alih hal yang seharusnya dilakukan oleh anak.
      Meskipun terkesan hal ini hanya dilakukan oleh orangtua dengan anak yang telah beranjak dewasa, tetapi perilaku helicopter parenting juga dapat terjadi pada setiap tahap perkembangan anak. Orangtua yang selalu cemas dan sudah terbiasa membantu anaknya dalam berbagai hal sejak ia masih anak-anak kemungkinan akan terus melakukannya hingga dewasa. Tanpa disadari, saat sudah remaja atau dewasa, anak cenderung menjadi mudah cemas dan selalu mengandalkan orangtua saat menghadapi kesulitan.
      Kenapa terlalu ikut campur dalam kehidupan anak adalah pola asuh yang kurang baik?
      Berikut beberapa alasan terlalu melindungi anak dapat berdampak kurang baik:
      Tidak membiarkan anak tumbuh
      Anak yang diasuh oleh orangtua yang terlalu mengawasi dan ikut campur cenderung mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah, karena ia memiliki kepercayaan diri yang rendah dan lebih takut akan kegagalan.  Semakin jauh orangtua ikut campur dalam tanggung jawab anak, maka semakin sedikit kepercayaan mereka akan kemampuan anaknya. Seiring dengan pertumbuhanny,a hal ini tidak hanya membuat anak mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan masalah, namun juga dapat berdampak pada kehidupan sosial, pendidikan, bahkan karir setelah ia dewasa.
      Anak tidak memiliki coping skill
      Coping skill adalah keterampilan seseorang agar dapat menghadapi permasalahan dan rasa kekecewaan atau kegagalan dengan baik. Selalu membantu anak sehingga mereka tidak pernah salah atau mengalami kegagalan adalah hal yang dapat menghambat perkembangan coping skill. Akibatnya, anak tidak terbiasa mengatasi masalah atau menghadapi kegagalan, dan mereka tidak pernah belajar bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut.
      Menurunnya kepercayaan diri anak
      Sikap orangtua yang terlalu ikut campur saat anak sudah memasuki usia remaja akan menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri untuk bergaul dengan anak seusianya. Hal ini juga akan menyebabkan ia lebih sulit bergaul dan menutup diri bahkan saat ia dewasa. Perlu dipahami oleh orangtua, bahwa kepercayaan diri adalah sesuatu yang hanya dapat diperoleh saat anak bergantung kepada kemampuannya sendiri, baik dalam mengambil keputusan maupun menerima konsekuensi.
      Orangtua membantu anak hanya karena kecemasan berlebih
      Sebagian besar perilaku helicopter parenting didasari oleh kecemasan  berlebih, dibandingkan niat untuk menolong anak. Beberapa kecemasan orangtua bahkan disebabkan karena takut merasa bersalah saat anak mengalami kegagalan, atau takut apa yang orang lain pikirkan tentang anak mereka, bukan karena rasa cemas akibat kemampuan anak atau permasalahan yang sedang dihadapi anak. Saat Anda sebagai orang tua mengalami kecemasan, sebaiknya bicarakan bagaimana anak menghadapi permasalahan tersebut. Memberikan arahan dan motivasi tanpa ikut campur secara langsung akan lebih baik bagi anak dalam menyelesaikan masalah.
      Yang dapat dilakukan orang tua agar tidak terlalu ikut campur
      Terlalu khawatir dan ikut campur dalam kehidupan anak bukanlah cara yang bijak untuk menjalin kedekatan dengan Anak. Berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menghindari pola asuh helicopter parenting:
      Biarkan anak berusaha sesuai dengan kemampuan
      Seiring dengan pertumbuhannya, anak mengalami perkembangan yang bertahap dalam melakukan berbagai hal. Oleh karena itu, membiarkan anak belajar untuk menangani hal dan tanggung jawabnya sendiri adalah hal terbaik untuk membuatnya lebih mandiri dan mengembangkan kemampuannya dalam menjalani kehidupan. Selain itu, ada baiknya orangtua membiarkan anak membuat keputusan dan menerima konsekuensinya sendiri, selama hal tersebut tidak membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan anak.
      Saat anak dalam kesulitan, jangan membuatnya cemas
      Hindari terlalu cemas dan membuat sesuatu terkesan lebih buruk dari yang sebenarnya. Hal ini hanya akan membuat anak bingung dan menjadi mudah cemas karena respon negatif yang diberikan orangtua terhadap suatu permasalahan. Hadapi kesulitan bersama dengan anak, dengan menghadirkan respon yang lebih positif dan tanpa membuat anak lebih cemas.
      Jangan membuat anak menjadi pusat dari kehidupan Anda
      Hal ini adalah penyebab utama sebagian orangtua cemas akan pilihan apa yang diambil oleh anaknya. Cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan menyadari bahwa anak memiliki kehidupan, dan berhak menentukan pilihannya sendiri. Serta ingat, tinggi atau rendahnya pencapaian anak bukanlah indikator yang sesuai dengan kualitas pola asuh anak yang Anda lakukan.
      Hargai pendapat anak
      Memaksakan pendapat terhadap anak dapat menyebabkan anak tidak memiliki pendirian akan pendapatnya sendiri. Oleh karena itu, pahamilah sebagai sesuatu yang positif jika anak Anda memiliki pendapat yang berbeda dengan Anda. Jika hal tersebut tidak kurang sesuai dengan kebaikan anak, cobalah ajak ia berbicara dan pahami mengapa anak Anda berpikir demikian.
    • By MariaAngeline
      Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, sebagai orang tua mungkin kita menjadi sering lupa dalam menjaga privasi di sosial media. Di sisi lain, sosial media memang memudahkan kita dalam menerima dan memberi informasi kepada teman terdekat hingga yang tak kenal sekalipun. Facebook contohnya, kebanyakan orangtua lebih memilih mengunggah foto anaknya dibanding foto orangtuanya sendiri.
      Masih ingat kasus seorang remaja yang dituduh telah menghina Kota Bandung dengan kata-kata kotornya di Twitter? Ya, kasus yang telah dilaporkan ke polisi oleh Wali Kotanya langsung ini sempat heboh di dunia maya, hingga terungkaplah bahwa foto orang pada akun bermasalah tersebut bukan foto asli pelaku. Dari kasus ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kita tidak boleh sembarang mengupload sebuah foto di sosial media, jika yang sopan saja sudah disalahgunakan bagaimana dengan foto yang kurang sopan?
      Sebaiknya orangtua kini lebih bijak dalam mengupload foto anak di sosial media, mengupload foto tanpa diseleksi lebih dulu bisa berdampak negatif di antara bahayanya adalah menjadi sasaran pelaku pedofil dan penculikan anak. Lalu, apa yang harus diperhatikan sebelum mengupload foto ke sosial media?
      Perhatikan Pengaturan Privasi
      Di Facebook misalnya, Anda dapat mengatur siapa saja yang bisa melihat foto atau status yang diposting, hanya untuk diri sendiri, keluarga, teman atau publik. Untuk photo anak lebih baik hanya kalangan teman atau anggota keluarga saja yang bisa melihat.
      Tidak Memasang Foto Anak Tanpa Busana
      Siapa yang tidak gemas jika melihat anak balita yang tengah mandi atau tanpa busana? Tentu semua orang menyukai foto bayi yang terlihat lucu saat mandi. Tapi ternyata, mengupload foto balita tanpa busana atau hanya memakai pakaian dalam sangat tidak disarankan. Karena ini akan membahayakan anak sendiri, anak bisa menjadi target dari pelaku pedofil atau predator.
      Meski masih balita bukan berarti bisa bebas mengabadikan semua momen dan mengunggah fotonya di sosial media. Sebaiknya dipikir ulang jika ingin mengunggahnya, pilihlah foto yang memang sopan dan tidak memancing tindak kriminal.
      Hindari Memasang Status Lokasi
      Tidak jarang para orangtua suka menandai keberadaan lokasi saat bersama anak. Bukan tidak boleh berbagi informasi tentang kegiatan dan lokasi dimana kita menghabiskan waktu bersama anak, tapi cobalah untuk mengurangi kebiasaan memberitahu secara detail lokasi dimana kita berada. Hal ini bisa memancing tindakan penculikan terhadap anak, jadi alangkah baiknya jika Anda tidak menulis nama lengkap anak atau lokasi secara detail jika ingin mengupdate status di sosial media.
      Hindari berfoto dengan latar tempat
      Misalnya berfoto di depan sekolah, rumah dan lokasi-lokasi yang sekiranya dapat memudahkan para pedofil atau penculik mencari anak Anda. Hindari melakukan hal ini! Banyak kasus penculikan yang bermula dari lokasi sekolah anak dengan tujuan untuk memeras hingga kasus penjualan anak.
      Berikan Komentar Positif
      Saling memberikan komentar di sosial media memang akan menjadi ajang sosialisasi yang menyenangkan, namun pastikan Anda selalu memberikan komentar positif di sosial media. Jangan memberikan komentar negatif atau mengejek ya. Hindari menggunakan ikon atau tokoh kartun dengan karakter negatif sebagai julukan kepada anak. Sebaiknya sosial media dijadikan ajang positif untuk memberikan informasi yang bermanfaat.
      Perlu diingat bahwa setiap foto yang Anda upload di sosial media meskipun telah Anda hapus tidak menjamin foto tersebut akan menghilang di database mesin pencari, mungkin foto yang Anda unggah sudah ada yang mendownload atau menyebarkannya via sosial media lain. Jadi berhati-hatilah, jangan terlalu sering mengupload foto. Lebih baik dokumentasikan melalui album foto di rumah Anda.
    • By safitri_bianka

      Dalam sebuah hubungan, dibohongi pasangan tentu bisa menjadi hal yang paling menjengkelkan sekaligus mengecewakan, terlebih jika sedari awal hubungan kalian sudah bersepakat untuk saling terbuka satu sama lain. Jika hal ini terjadi, maka tak heran jika kebohongan yang dianggap sepele pada awalnya ternyata membawa dampak yang cukup merugikan bagi hubungan. 
      Nah, daripada kamu uring-uringan dan kecewa berat karena tertipu oleh pacarmu, coba kenali beberapa bahasa tubuh pasanganmu. Disebutkan dalam laman www.gurl.com, berikut ini beberapa bahasa tubuh yang dapat menandakan bahwa pasanganmu (mungkin) sedang berbohong. Yuk, simak!
      Menghindari Tatapan Langsung. Salah satu cara mengetahui bahwa pasanganmu sedang berbohong, dapat dilakukan dengan memperhatikan gerakan matanya. Coba perhatikan apakah pasanganmu sering menghindari kontak mata denganmu saat berbicara, dan apakan gerakan matanya terlihat tidak tenang? FYI, Gerakan mata ke kiri dan kanan pada saat berbicara dapat menandakan bahwa seseorang sedang menyembunyikan sesuatu. Menyeka Hidung. Sering menyeka hidung pada saat berbicara dapat menjadi indikasi pasanganmu sedang berbohong. Perhatikan apakah sebelumnya ia sudah sering melakukan gerakan tersebut atau hanya dilakukan pada saat sedang berbicara padamu. Melakukan Gerakan Tangan Tak Beraturan. Saat seseorang berbohong pada pasangannya, maka akan terlihat bahasa tubuh yang gelisah, salah satunya akan terlihat dari melakukan gerak tangan yang tak beraturan seperti meremas-remas tangan dan menyentuh benda-benda yang ada di sekeliling. Ekspresi Marah. Ekspresi yang terlihat mudah marah atau emosi lebih dari biasanya, dapat menjadi salah satu tanda bahwa perselingkuhan sedang terjadi. Contohnya pada saat kamu melontarkan pertanyaan-pertanyaan ringan, tapi yang tampak dari ekspresinya justru ekspresi marah yang seolah tidak beralasan. Menggaruk Leher. Berbohong akan membuat seseorang semakin sering menggaruk lehernya. Perhatikan berapa kali dia menggaruk lehernya pada saat berbicara dengan kamu. Jika hal ini sering dilakukan, dapat dilihat bahwa dia menunjukkan rasa ragu dengan ucapan yang dilontarkan. Jika demikian, kamu bisa mulai mencurigainya dan meminta penjelasan darinya. Nah, itulah beberapa bahasa tubuh yang menunjukkan si dia sedang berbohong kepadamu. Jika kamu menangkap dia melakukan hal-hal ini saat berbicara denganmu, kamu bisa menanyakan kepadanya untuk mendapatkan kejelasan. So, semoga bermanfaat!
    • By manuvoping

      Sebuah studi yang digelar oleh University of East Anglia, Inggris menemukan bahwa kejujuran orang berbeda di setiap negara. Mereka menemukan bahwa warga Inggris adalah yang paling jujur di dunia, sementara Cina adalah yang paling gemar berbohong.
      Studi yang diuraikan dalam konferensi London Experimental Workshop di London, Inggris pada 16 November kemarin itu digelar dengan melibatkan 1500 responden dari 15 negara, yang mewakili seluruh kawasan di dunia. 
      Negara-negara itu adalah Brasil, Cina, Yunani, Jepang, Rusia, Swiss, Turki, Amerika Serikat, Argentina, Denmark, Inggris, India, Portugal, Afrika Selatan, dan Korea Selatan.
      Studi itu sendiri digelar dengan melakukan dua eksperimen online. Dalam eksperimen pertama, para peserta diminta untuk mengundi koin dan memberitahukan gambar kepala atau ekor yang muncul. Sebelumnya mereka telah diberitahu bahwa jika gambar kepala yang muncul, maka mereka akan mendapatkan imbalan sebesar 3 sampai 5 dolar AS.
      Nah, jika di satu negara ada lebih dari 50 persen yang melaporkan bahwa koin yang diundi menunjukkan gambar kepala, maka itu adalah indikasi mereka berbohong.
      Dalam eksperimen kedua, para responden diminta bermain kuis tentang musik. Jika benar mereka juga akan mendapat hadiah berupa uang, tetapi syaratnya mereka tak boleh mencari jawabannya di internet. Adapun pertanyaan yang diberikan sangat sukar, sehingga para responden akan cenderung menggunakan di internet untuk menemukan jawaban yang tepat.
      Hasil dua eksperimen itu, kata peneliti David Hugh-Jones, menunjukkan bahwa di semua negara ada kecenderungan untuk berbohong, tetapi tingkatnya bervariasi. 
      Negara paling jujur dalam eksperimen pertama adalah Inggris, dengan tingkat ketidakjujuran 3,4 persen dan tertinggi Cina pada 70 persen. Dalam eksperimen kedua, negara paling jujur adalah Jepang, diikuti oleh Inggris. Berada di daftar terbawah adalah Turki dan Cina di urutan kedua dari terakhir.
    • By taniveline
      Apakah Anda punya balita tapi dia sudah mulai berkata bohong? Jangan langsung mengecapnya sebagai anak nakal.
      Anak-anak cenderung mulai berbohong di usia muda terutama karena mereka memiliki imajinasi yang aktif dan sering tenggelam dalam fantasi sendiri. Inilah alasan lain mengapa anak berbohong.
      Pertama, balita mungkin tidak tahu perbedaan antara mengatakan kebenaran dan berbohong. Hal ini tidak berbahaya, tapi orangtua tetap harus memonitor terutama menjelang usia masuk sekolah.
      Kedua, setelah anak duduk di bangku sekolah, ia terpapar lingkungan baru dan bertemu banyak teman baru. Anak-anak berbohong untuk menyembunyikan hal-hal yang mereka pikir salah. Si kecil melakukannya karena mereka takut konsekuensi saat ketahuan bersalah.
      Ketiga, perilaku berbohong juga sering dikaitkan dalam rangka mencari perhatian di antara anak-anak yang merasa diabaikan. Memberikan perhatian, kasih sayang, dan mengatakan bahwa Anda memercayai mereka akan membantu si kecil menyingkirkan kebiasaan ini.
      Keempat, berbohong juga disebabkan karena si kecil merasa rendah diri dan tidak aman dengan lingkungannya.
×
×
  • Create New...