Jump to content
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  1. fzaldi

    fzaldi

  • Similar Content

    • By abditrass
      Kota Bogor
      Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
      iklan :
      https://abditrass.blogspot.com
       
       
       
      Jump to navigation Jump to search
      Bogor beralih ke halaman ini. Untuk Kabupaten yang bernama sama, lihat pula Kabupaten Bogor. Untuk kegunaan lain dari Bogor, lihat Bogor (disambiguasi).
      Kota Bogor
      ᮊᮧᮒ ᮘᮧᮌᮧᮁ
      Kota Buitenzorg
      Kota di Indonesia

      Lambang
      Semboyan: Tegar Beriman

      Peta lokasi Kota Bogor
      Negara Indonesia
      ProvinsiJawa Barat
      Hari jadi3 Juni 1482
      Koordinat106°48' BT dan 6°26' LS
      Pemerintahan
       • Sekretaris DaerahAde syarif
      Luas
       • Total118.50 km2 (45.75 sq mi)
      Peringkat luas54
      Populasi (2015)[1]
       • Total1.030.720
       • Peringkat12
       • Peringkat16
      Demografi
       • Suku bangsaSunda, Jawa, Minang, Batak, Tionghoa
       • AgamaIslam 83.37%
      Katolik 9.37%
      Kristen Protestan 4.60%
      Budha 1.16%
      Hindu 0.5%
       • BahasaSunda
      Indonesia
       
      iklan :
      https://abditrass.blogspot.com
       
       
       
      Zona waktuWIB (UTC+7)
      Kode telepon0251
      Kecamatan6
      Kelurahan68
      Situs webwww.kotabogor.go.id
      Kota Bogor (Sunda: ᮊᮧᮒ ᮘᮧᮌᮧᮁ) adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak 59 km sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. Dahulu luasnya 21,56 km², namun kini telah berkembang menjadi 118,50 km² dan jumlah penduduknya 1.030.720 jiwa (2014). Bogor dikenal dengan julukan kota hujan, karena memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Kota Bogor terdiri atas 6 Kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah 68 Kelurahan. Pada masa Kolonial Belanda, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg (pengucapan: boit'n-zôrkh", bœit'-) yang berarti "tanpa kecemasan" atau "aman tenteram".
      Hari jadi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor diperingati setiap tanggal 3 Juni, karena tanggal 3 Juni 1482 merupakan hari penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja dari Kerajaan Pajajaran.
      Bogor (berarti "enau") telah lama dikenal dijadikan pusat pendidikan dan penelitian pertanian nasional. Di sinilah berbagai lembaga dan balai penelitian pertanian dan biologi berdiri sejak abad ke-19. Salah satunya yaitu, Institut Pertanian Bogor, berdiri sejak awal abad ke-20.
      Kota Bogor memiliki banyak icon wisata, salah satunya Kebun Raya Bogor yang dikelilingnya mulai dijadikan sarana olahraga baru "Jogging" oleh warga Bogor semenjak wali kota Bima Arya membenahi pedestrian di sekeliling Kebun Raya Bogor menjadi lebih lebar dan lebih menarik.
      Daftar isi
      1 Letak
      1.1 Batas Wilayah
      2 Pembagian Administratif
      3 Iklim, topografi, dan geografi
      4 Sejarah
      4.1 Abad ke lima
      4.2 Kerajaan Sunda
      4.3 Zaman Kolonial Belanda
      4.4 Kebun Raya Bogor
       
      iklan :
      https://abditrass.blogspot.com
       
       
       
      4.5 Hindia Belanda
      4.6 Zaman Jepang
      4.7 Masa kemerdekaan
      5 Perwakilan
      6 Kuliner Khas Kota Bogor
      6.1 Masakan
      6.2 Minuman
      7 Tempat-tempat menarik dan pariwisata
      7.1 Wisata dan rekreasi
      7.2 Kolam renang
      7.3 Stasiun kereta dan terminal bus
      7.4 Daftar angkutan kota
      7.5 TransPakuan
      7.6 Tempat ibadah
      7.7 Museum dan perpustakaan
      7.8 Pusat Perbelanjaan dan Oleh-oleh khas Bogor
      8 Kota kembar
      9 Galeri
      10 Televisi
      11 Radio
      12 Lihat pula
      13 Referensi
      14 Pranala luar
      Letak
      Kota Bogor terletak di antara 106°43’30”BT - 106°51’00”BT dan 30’30”LS – 6°41’00”LS serta mempunyai ketinggian rata-rata minimal 190 meter, maksimal 350 meter dengan jarak dari ibu kota kurang lebih 60 km.
      Batas Wilayah
      Kota Bogor berbatasan dengan Kecamatan-kecamatan dari Kabupaten Bogor sebagai berikut:
      UtaraCilebut, Bojong Gede, dan Kemang
      TimurSukaraja dan Ciawi
      SelatanCijeruk dan Caringin
      BaratKemang, Ciomas dan Dramaga
      Pembagian Administratif
      Kecamatan di Kota Bogor adalah:
      Bogor Barat
      Bogor Selatan
      Bogor Tengah
      Bogor Timur
      Bogor Utara
      Tanah Sareal
      Iklim, topografi, dan geografi
      Kota Bogor terletak pada ketinggian 190 sampai 330 m dari permukaan laut. Udaranya relatif sejuk dengan suhu udara rata-rata setiap bulannya adalah 26 °C dan kelembaban udaranya kurang lebih 70%. Suhu rata-rata terendah di Bogor adalah 21,8 °C, paling sering terjadi pada Bulan Desember dan Januari. Arah mata angin dipengaruhi oleh angin muson. Bulan Mei sampai Maret dipengaruhi angin muson barat.
      Kemiringan Kota Bogor berkisar antara 0–15% dan sebagian kecil daerahnya mempunyai kemiringan antara 15–30%. Jenis tanah hampir di seluruh wilayah adalah latosol coklat kemerahan dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm dan tekstur tanah yang halus serta bersifat agak peka terhadap erosi. Bogor terletak pada kaki Gunung Salak dan Gunung Gede sehingga sangat kaya akan hujan orografi. Angin laut dari Laut Jawa yang membawa banyak uap air masuk ke pedalaman dan naik secara mendadak di wilayah Bogor sehingga uap air langsung terkondensasi dan menjadi hujan. Hampir setiap hari turun hujan di kota ini dalam setahun (70%) sehingga dijuluki "Kota Hujan". Keunikan iklim lokal ini dimanfaatkan oleh para perencana kolonial Belanda dengan menjadikan Bogor sebagai pusat penelitian botani dan pertanian, yang diteruskan hingga sekarang.
       
      iklan :
      https://abditrass.blogspot.com
       
       
       
      [sembunyikan]Data iklim Kota Bogor
      BulanJanFebMarAprMeiJunJulAgtSepOktNovDesTahun
      Rekor tertinggi °F9197939099100979399959790100
      Rata-rata tertinggi °F77777979797979798181797779
      Rata-rata harian °F72727272727272727273727272
      Rata-rata terendah °F64646464646463636364646464
      Rekor terendah °F52484850505545375550525037
      Presipitasi inci9.849.137.177.174.061.850.982.092.763.787.767.8764,45
      Rekor tertinggi °C33363432373836343735363238
      Rata-rata tertinggi °C25252626262626262727262526
      Rata-rata harian °C22222222222222222223222222
      Rata-rata terendah °C18181818181817171718181818
      Rekor terendah °C119910101373131011103
      Presipitasi mm25023218218210347255370961972001.637
      [butuh rujukan]
      BulanJanFebMarAprMeiJunJulAguSepOktNovDesTahun
      Jumlah hari hujan21212118128768132021176
      Rata-rata kecepatan angin (km/jam)5555555554455
      Kecepatang angin maksimum (km/jam)3744115767254619346745946115
      Kedudukan geografi Kota Bogor di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor serta lokasinya yang dekat dengan ibu kota negara, Jakarta, membuatnya strategis dalam perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi. Kebun Raya dan Istana Bogor merupakan tujuan wisata yang menarik. Kedudukan Bogor di antara jalur tujuan Puncak/Cianjur juga merupakan potensi strategis bagi pertumbuhan ekonomi.
      Kota Bogor mempunyai luas wilayah 118,5 km². Di kota ini juga mengalir beberapa sungai yang permukaan airnya jauh di bawah permukaan dataran, yaitu: Ci (Sungai) Liwung, Ci Sadane, Ci Pakancilan, Ci Depit, Ci Parigi, dan Ci Balok. Topografi yang demikian menjadikan Kota Bogor relatif aman dari bahaya banjir alami.
       
      iklan :
      https://abditrass.blogspot.com
       
       
       
      Sejarah
      Abad ke lima
      Bogor ditilik dari sejarahnya adalah tempat berdirinya Kerajaan Hindu Tarumanagara di abad ke lima. Beberapa kerajaan lainnya lalu memilih untuk bermukim di tempat yang sama dikarenakan daerah pegunungannya yang secara alamiah membuat lokasi ini mudah untuk bertahan terhadap ancaman serangan, dan di saat yang sama adalah daerah yang subur serta memiliki akses yang mudah pada sentra-sentra perdagangan saat itu. Namun hingga kini, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa arkeolog ternama seperti Prof. Uka Tjandrasasmita, keberadaan tempat dan situs penting yang menyatakan eksistensi kerajaan tersebut.
      Kerajaan Sunda
      Di antara prasasti-prasasti yang ditemukan di Bogor tentang kerajaan-kerajaan yang silam, salah satu prasasti tahun 1533, menceritakan kekuasaan Raja Prabu Surawisesa dari Kerajaan Sunda. Prasasti ini dipercayai memiliki kekuatan gaib dan keramat, sehingga dilestarikan sampai sekarang. Kerajaan Pajajaran memiliki pengaruh kekuasaan tidak hanya seluas Jawa Barat, Jakarta dan Banten tetapi juga mencakup wilayah Lampung. Kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran juga mencakup wilayah bagian selatan pulau Sumatera. Setelah Pajajaran diruntuhkan oleh Kesultanan Banten maka kekuasaan atas wilayah selatan Sumatera dilanjutkan oleh Kesultanan Banten.[2]
      Pakuan atau Pajajaran yang merupakan ibu kota pemerintahan Kerajaan Sunda (yang sering disebut juga sebagai Kerajaan Pajajaran sesuai nama ibukotanya) diyakini terletak di Kota Bogor, dan menjadi pusat pemerintahan Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Haji I Pakuan Pajajaran) yang dinobatkan pada 3 Juni 1482. Hari penobatannya ini diresmikan sebagai hari jadi Bogor pada tahun 1973 oleh DPRD Kabupaten dan Kota Bogor, dan diperingati setiap tahunnya hingga saat ini.[3]
      Zaman Kolonial Belanda
      Setelah penyerbuan tentara Banten, catatan mengenai Kota Pakuan hilang, dan baru ditemukan kembali oleh ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Scipio dan Riebeck pada tahun 1687. Mereka melakukan penelitian atas Prasasti Batutulis dan beberapa situs lainnya, dan menyimpulkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran terletak di Kota Bogor.
       
      iklan :
      https://abditrass.blogspot.com
       
       
      Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff membangun Istana Bogor seiring dengan pembangunan Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Batavia dengan Bogor. Bogor direncanakan sebagai sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jenderal. Dengan pembangunan-pembangunan ini, wilayah Bogor pun mulai berkembang.
      Setahun kemudian, van Imhoff menggabungkan sembilan distrik (Cisarua, Pondok Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindang Barang, Balubur, Dramaga, dan Kampung Baru) ke dalam satu pemerintahan yang disebut Regentschap Kampung Baru Buitenzorg. Di kawasan itu van Imhoff kemudian membangun sebuah Istana Gubernur Jenderal. Dalam perkembangan berikutnya, nama Buitenzorg dipakai untuk menunjuk wilayah Puncak, Telaga Warna, Megamendung, Ciliwung, Muara Cihideung, hingga puncak Gunung Salak, dan puncak Gunung Gede.
      Kebun Raya Bogor
      Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kebun Raya Bogor
      Patung Wanita desa dipinggir kolam penghias Istana Bogor, oleh pematung Indonesia, Trubus Sudarsono.
      Ketika VOC bangkrut pada awal abad ke sembilan belas, wilayah nusantara dikuasai oleh Inggris di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Thomas Raffles yang merenovasi Istana Bogor dan membangun tanah di sekitarnya menjadi Kebun Raya (Botanical Garden). Di bawah Raffles, Bogor juga ditata menjadi tempat peristirahatan yang dikenal dengan nama Buitenzorg yang diambil dari nama salah satu spesies palem.
      Hindia Belanda
      Setelah pemerintahan kembali kepada pemerintah Belanda pada tahun 1903, terbit Undang-Undang Desentralisasi yang menggantikan sistem pemerintahan tradisional dengan sistem administrasi pemerintahan modern, yang menghasilkan Gemeente Buitenzorg.
      Pada tahun 1925, dibentuk provinsi Jawa Barat (provincie West Java) yang terdiri dari 5 karesidenan, 18 kabupaten, dan kotapraja (stadsgemeente). Buitenzorg menjadi salah satu stadsgemeente.
      Zaman Jepang
      Pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, pemerintahan Kota Bogor menjadi lemah setelah pemerintahan dipusatkan pada tingkat karesidenan.
      Masa kemerdekaan
      Pada tahun 1950, Buitenzorg menjadi Kota Besar Bogor yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 16 tahun 1950.[4]
      Pada tahun 1957, nama pemerintahan diubah menjadi Kota Praja Bogor, sesuai Undang-Undang nomor 1 tahun 1957.[5]
      Kota Praja Bogor berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor, dengan Undang-Undang nomor 18 tahun 1965 dan Undang-Undang nomor 5 tahun 1974.[6][7]
      Kotamadya Bogor berubah menjadi Kota Bogor pada tahun 1999 dengan berlakunya Undang-Undang nomor 22 tahun 1999.[8]
      Perwakilan
      DPRD Kota Bogor hasil Pemilihan umum legislatif 2014 tersusun dari 11 partai, dengan perincian sebagai berikut:
      PartaiKursi
      PDI-P8
      Partai Golkar6
      Partai Gerindra6
      PKS5
      Partai Demokrat5
      PPP5
      Partai Hanura4
      PAN3
      Partai NasDem1
      PKB1
      PBB1
      Total45
      Kuliner Khas Kota Bogor
      Masakan
      Kota Bogor mempunyai bermacam-macam masakan khas, yaitu:
      Soto Bogor
      Cungkring
      Doclang
      Gepuk Karuhun
      Ikan Balita
      Asinan Bogor
      Toge Goreng
      Roti Unyil
      Laksa Bogor
      Lapis Bogor[9]
      Minuman
      Kota Bogor mempunyai bermacam-macam minuman khas, yaitu:
      Es Pala
      Bir Kocok
      Tempat-tempat menarik dan pariwisata
      Beberapa tempat menarik di Kota Bogor, di antaranya adalah:
      Wisata dan rekreasi
      Kebun Raya Bogor
      Sebuah kebun penelitian besar yang terletak di Kota Bogor, Indonesia. Luasnya mencapai 80 hektare dan memiliki 15.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan. Saat ini Kebun Raya Bogor ramai dikunjungi sebagai tempat wisata, terutama hari Sabtu dan Minggu. Di sekitar Kebun Raya Bogor tersebar pusat-pusat keilmuan yaitu Herbarium Bogoriense, Museum Zoologi, dan IPB.
      Istana Bogor
      Salah satu dari enam Istana Presiden Republik Indonesia yang mempunyai keunikan tersendiri. Keunikan ini dikarenakan aspek historis, kebudayaan, dan fauna yang menonjol. Salah satunya adalah adanya rusa-rusa yang indah yang didatangkan langsung dari Nepal dan tetap terjaga dari dulu sampai sekarang.
      Prasasti Batutulis
      Prasati peninggalan zaman Kerajaan Padjadjaran yang ditulis dalam bahasa aksara sunda kuna yang isinya menyebutkan Raja Pakuan Padjadjaran yang bernama Prabu Purana dinobatkan kembali dengan nama Sri Paduka Maharaja Ratu Haji dalam tahun yang tidak dapat dipastikan dikarnakan rusaknya prasasti, sehingga ada berbagai macam penafsiran. Prasasti ini disimpan di tepi jalan raya Batutulis, Bogor, sekitar 2 km dari pusat kota.
      CICO-Cimahpar Integrated Conservation Offices
      Kawasan pendidikan dan konservasi dengan pendekatan kepada alam, terletak di Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Kawasan ini memiliki beberapa fasilitas pendukung seperti gedung perkantoran, wisma, asrama (dormitory), serta kebun buah, sayur, dan tanaman obat. Tempat ini dilengkapi dengan fasilitas panjat tebing, kegiatan luar, dan area outbond. Kawasan ini didedikasikan untuk kepentingan konservasi.
       
      iklan :
      https://abditrass.blogspot.com
       
       
      Taman Topi
      Di dalam Plaza Kapten Muslihat terdapat sebuah taman yang diberi nama Taman Ade Irma Suryani, sebelumnya taman ini memiliki nama Taman Kebun Kembang tempat orang berwisata, namun pada tahun 1980-an taman ini berubah fungsi menjadi terminal angkutan kota karena letaknya yang strategis di muka Stasiun Bogor. Terminal tersebut kemudian direnovasi menjadi Plaza Kapten Muslihat yang mengusung konsep Bangunan berbentuk Topi, sehingga masyarakat pun menyebutnya dengan Taman Topi. Taman topi dilengkapi berbagai wahana permainan namun sejak tahun 1994 sampai saat ini (tahun 2007) tempat ini menjadi tidak terawat baik karena dikepung oleh pedagang kaki lima dan angkutan kota. Di dalamnya terdapat pula Pusat Informasi Kepariwisataan atau 'Tourist Information Centre'.
      Taman Kencana
      Sebuah taman kecil yang digunakan untuk tempat rekreasi anak-anak kecil, kaum muda, maupun orang tua yang melepas lelah setelah capai berjalan-jalan di lapangan Sempur ataupun Kebun Raya. Taman ini ramai pada hari Minggu dan umumnya ramai oleh para orangtua yang mengajak anak-anak mereka untuk menikmati hari libur.
      Lapangan Sempur
      Lapangan yang dahulu merupakan lahan kosong yang dipergunakan sebagai lapangan upacara untuk memperingati HUT Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus ini, sekarang sudah dikelola oleh Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bogor. Lapangan ini sekarang dijadikan tempat olahraga dan lapangan multifungsi. Di lapangan ini terdapat wall-climb, lapangan basket, lapangan utama untuk bermain bola dan soft/baseball, run-track, lapangan voli beralaskan pasir pantai, serta area untuk senam. Pada hari Minggu tempat ini akan menjadi pasar dadakan, banyak pedagang makanan ataupun alat-alat yang menggelar dagangannya di sini setiap hari Minggu. Lapangan ini kerap digunakan untuk berbagai pergelaran musik.
      saat ini lapangan sempur sedang tahap renovasi hingga April 2017
      Rancamaya
      Kawasan beriklim sejuk terletak 10 km dari pusat kota ke arah tenggara melalui Cipaku dan Genteng, dapat ditempuh pula melalu Tajur maupun Jalan Tol Jagorawi.
      Situ Gede atau Setu Gede
      Danau kecil di barat laut Kota Bogor, di tepi hutan penelitian Dramaga, Bogor.
      Dramaga, Bogor
      Terletak di bagian barat dari kota, tepatnya sekitar 8 km dari pusat Kota Bogor. Wilayah Dramaga merupakan sentra produksi manisan basah dan kering, baik itu dari buah-buahan (pala, mangga, jambu batu, kemang, pepaya, kweni, salak, kedondong, atau caruluk) maupun dari bahan sayuran (wortel, labu siam, pare, lobak, bligo, serta ubi jalar).
      Setu Burung ;
      Puncak
      Kawasan wisata perbukitan yang terletak di sebelah timur Kota Bogor, dikelilingi oleh Gunung Gede dan Gunung Pangrango.
      Gunung Bunder
      Gunung Pancar
      Gunung Gede
      Gunung Salak Endah
      Kolam renang
      Kolam Renang Gedung Olah Raga Kota Bogor
      Kolam Renang dengan air dari Gunung Salak, ZamZam Tirta-Ciomas
      Taman Yasmin Sport Centre
      Bukit Cimanggu City-Marcopolo
      Bogor Nirwana Residence-Jungle Water Park
      Kolam Renang Gumati
      Stasiun kereta dan terminal bus
      Stasiun Bogor
      Stasiun utama Kota Bogor yang merupakan warisan dari zaman Belanda. Sekitar tahun 1960-an stasiun ini melayani keberangkatan ke melalui Sukabumi dan Bandung.
      Stasiun Paledang
      Hanya melayani Pemberangkatan menuju Stasiun Sukabumi. Tersedia 2 kelas yaitu Ekonomi(AC) dan Kelas Eksekutif.
      Stasiun Batutulis
      Hanya melayani Pemberangkatan menuju Stasiun Sukabumi. Tersedia 2 kelas yaitu Ekonomi(AC) dan Kelas Eksekutif.
      Stasiun Sukaresmi
      Sedang dalam tahap pengerjaan.
      Terminal Bus
      Terminal Baranang Siang
      Rute
      1. Kp.Rambutan
      2. Pulo Gadung
      3. lebak bulus
      4. Tj. Priok
      5. Kalideres
      6. Tangerang
      7. Serang, Merak
      8. Rangkasbitung
      9. Bekasi
      10. Cikarang
      11. Karawang
      12. Purwakarta
      13. Bandung
      14. Cirebon
      15. Kuningan
      16. Pelabuhan Ratu
      17. Sukabumi
      Terminal Wangun
      Terminal Bubulak
      Rute
      1. Kp. Rambutan
      2. Blok M
      3. RawaMangun
      4. Ps. Senen
      5. Grogol
      6. Kuningan
      7. Bandung
      8. Tj.Priok
      Terminal Laladon
      Daftar angkutan kota
      A. Angkutan Kota
      01 Sukasari-Cipinanggading-Merdeka
      02 Sukasari-Bubulak
      03 Bubulak-Taman Kencana-Baranangsiang
      04 Wr.Nangka-Ramayana
      05 Cimahpar-Ramayana
      06 Ciheuleut-Ramayana
      07A Wr.Jambu-Gor Pajajaran-Ramayana
      07B Ciparigi-Merdeka
      07C Wr.Jambu-Pengadilan-Stasiun Bogor
      08 Wr. Jambu-Lodaya-Ramayana
      09 Ciparigi-Sukasari
      10 Bantar Kemang-Merdeka
      11 Br.Siang Indah-Terminal-Pasar Bogor/GgAut-Br.Siang Indah (Melingkar)
      12 Pasar Anyar-Cimanggu
      13 Bantar Kemang-Ramayana
      14 Laladon-PasirKuda-Sukasari
      15 Bubulak-Pasar Anyar (Mawar)
      16 Salabenda-Pasar Anyar
      17 Bina Marga-Tanah Baru-Pomad
      18 Ramayana-Mulyaharja
      19 Bubulak-Kencana-St.Cilebut
      20 Kencana-Pasar Anyar
      21 Br.siang-Ciawi
      22 Pondok Rumput-Pasar Anyar
      23 Ramayana-Taman Kencana-Wr.Jambu-indrapastra
      B. Angkutan Perkotaan
      02 Sukasari-Cicurug/Cidahu(Sukabumi)
      02A Sukasari-Cisarua/Tugu
      02B Sukasari-Cibedug/Tapos
      03 Ramayana-Ciapus
      04A Ramayana-Cihideung/Cijeruk
      05 Merdeka-Ciomas/Tmn.Pagelaran
      06 Merdeka-Parung
      06A Merdeka-Bantar Kambing
      07 Ps.Anyar-BojongGede
      08 Ps.Anyar-Cibinong-Citereup
      C. Angkutan Kota yg melintsi Kota Bogor
      32 Cibinong-Jln.Baru-Tmn.Pagelaran
      TransPakuan
      Koridor 1 Bubulak-Cidangiang (Br.Siang)
      Koridor 2 Cidangiang-Ciawi
      Koridor 3 Cidangiang-Sentul City
      Tempat ibadah
      Masjid Raya Kota Bogor, Jl. Raya Pajajaran, Bogor Timur
      Gereja Batak Karo Protestan Bogor, Jl. Tumapel Ujung, Perumahan Cimanggu Permai, Tanah Sareal
      Gereja Methodist Jemaat Immanuel, Jl. Cincau , Bogor
      Gereja Zebaoth, Jl. Ir. H. Juanda, Kebun Raya Bogor
      Masjid Jami Al-Juman Bogor, Jl. Pahlawan I, Bogor Selatan
      Gereja BMV Katedral Bogor, Jl. Kapten Muslihat
      Gereja St. Fransiskus Asisi, Jl. Siliwangi
      Gereja Kristen Indonesia, Jl. Pengadilan 35
      Gereja Sidang Jemaat Allah (GSJA), Jalan Suryakencana Bogor
      Gereja HKBP, Jl. Paledang Bogor
      Gereja Katedral Bogor, Jalan Kapten Muslihat Nomor 22, Bogor
      Klenteng Hok Tek Bio
      Masjid Agung Bogor, Jl. Dewi Sartika, Bogor Tengah
      Masjid Istiqom Budi Agung
      Pura Parhyangan Agung Jagatkartta, Gunung Salak, Taman Sari
      Pura Giri Kusuma, Bogor Baru
      Masjid Almuhajirin, Bukit Waringin, Bojong Gede
      Masjid Nahwa Nur Pura, Bojong Gede
      Masjid As-sholihin, jayasari
      Masjid Al-hidayah, BCC
      Masjid Al-Munawwar, Jl. Pemuda, Tanah Sareal
      Masjid Al-Ma'I (PDAM Tirta Pakuan), Jl. Siliwangi, Bogor Selatan
      Gereja Bethel, Jl. Jend. Sudirman, Bogor Tengah
      GPdI Tiberias Bogor, Jl. Gereja No. 19 Bogor (dibelakang Bank BCA Juanda)
      Museum dan perpustakaan
      Museum Etnobotani
      Museum Etnobotani diresmikan pada tahun 1982 oleh Prof. Dr. B. J. Habibie. Di dalamnya terdapat 2.000 artefak etnobotani dan berbagai diorama pemanfaatan flora.
      Museum Zoologi
      Museum Zoologi didirikan pada tahun 1894 dengan nama Museum Zoologicum Bogoriensis.
      Herbarium Bogoriense
      Terletak di Jalan Ir. H. Juanda, di sebelah barat Kebun Raya Bogor. Di dalamnya tersimpan dan dipamerkan berbagai jenis daun dan buah yang telah dikeringkan, berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.
      Museum Tanah
      Museum Tanah didirikan pada tanggal 29 September 1988. Museum ini merupakan tempat penyimpanan jenis contoh tanah yang terdapat di Indonesia yang disajikan dalam ukuran kecil berupa makromonolit.
      Museum Pembela Tanah Air (PETA)
      Didirikan pada tahun 1996 oleh Yayasan Perjuangan Tanah Air, dan diresmikan oleh H. M. Soeharto (Presiden RI ke-2). Di dalamnya memuat empat belas diorama sebagai salah satu perwujudan miniatur yang menggambarkan proses pergerakan kebangsaan terjadi pada tanggal 3 Oktober 1943 bertempat di bekas Kesatriaan tentara KNIL/Belanda, Pabaton.
      Museum Perjuangan
      Perpustakaan Bogor
      Didirikan pada tahun 1842 di dalam lingkungan Kebun Raya Bogor oleh ahli botani Belanda, Dr. J. Pierot. Koleksinya sekitar 300.000 jilid buku, 2.000 judul majalah ilmiah, dan lebih dari 100.000 barang cetakan lainnya. Koleksinya meliputi buku-buku ilmu pengetahuan alam murni dan praktis, dengan mengutamakan biologi, yang diperoleh dari hasil pertukaran dengan lembaga-lembaga ilmiah dan ahli-ahli botani dan biologi di seluruh dunia. Koleksi perpustakaan ini paling baik dan lengkap di Asia Tenggara.
      Pusat Perbelanjaan dan Oleh-oleh khas Bogor
      Botani Square
      Ekalokasari Plaza
      Bogor Trade Mall
      Bogor Plaza
      Plaza Jambu Dua
      Bogor Indah Plaza
      Bogor Trade Mall
      Yogya Bogor Junction
      Plaza Jambu Dua
      Bogor Trade World
      Taman Topi Square dan Matahari Department Store
      Plaza Jembatan Merah, Veteran Panaragan
      Pusat Grosir Bogor Merdeka
      Pusat Oleh-oleh Venus, Jl. Siliwangi
      Plaza Indah Bogor/ Yogya, Jl. Kyai Haji Sholeh Iskandar Cimanggu
      Plaza Bogor Surya Kencana, Sukasari
      Giant Taman Yasmin
      Ramayana Bogor Square
      Lottemart Taman Yasmin
      Hero dan Gramedia, Pajajaran
      Orchard Walk dan The Jungle Mall, Bogor Nirwana Residence - Bogor Selatan
      Roti Unyil Venus, Ruko V-Point Pajajaran
      Lapis Talas Bogor Sangkuriang, Pajajaran - Ruko Bantar Kemang, Jl. Kyai Haji Sholeh Iskandar Cimanggu.
      Asinan Gedung Dalam Sukasari
      Asinan Dewi Sri Baranang Siang
      Sentra Kerajinan & Cenderamata Pasar Bogor, Jl. Oto Iskandardinata
      Lapis Bogor Sangkuriang,ciomas - JL.raya ciomas BOGOR
      Kota kembar
      - St.Louis, Missouri, Amerika Serikat[10]
      Lloró, Kolombia
      Gödöllõ, Hungaria
      Salak Tinggi, Malaysia
      Galeri
      Tari Jaipong
      Sawah berteras
      Delman di Bogor
      Plaza Bogor, Otista 1994
      Suryakencana.jpg
      Suasana kawasan pecinan di Jalan Suryakencana Bogor
      Becak di Kota Bogor
      Pasar Anyar (kebon kembang)
      Stasiun Bogor
      eks Stasiun utama NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij) di Wanaherang, Gunung Putri, Bogor, saat sebelum pengaktifan kembali. Foto ini diambil tahun 2007
      Televisi
      Kota Bogor memiliki stasiun televisi, di antaranya:
      Megaswara.tv
      BSTV
      INTV
      BBS TV Bogor
      iNews
      TVRI terletak di Gunung Tela yang menjangkau Cigudeg, Jasinga hingga kabupaten Lebak dan Pandeglang berkekuatan 50 kW
      Radio
      Kota Bogor memiliki stasiun radio, di antaranya:
      Pro 1 RRI Bogor 93.7 FM serta 102 FM & 1242 AM
      Pro 2 RRI Bogor 106.8 FM
      Pro 3 RRI Bogor 93.0 FM
      Pro 4 RRI Jakarta (Relay) 89.0 FM
      Radio Pertanian Ciawi 88,6 FM
      Elpas FM 101,2
      Teman FM 95.3
      Megaswara FM 100.8
      Puncak FM 104.4
      Dila Swara FM 107,7
      96.5 RKM FM
      Kisi FM 93.4
      Lesmana FM 100.1
      810 Now (810 khz)
      Melody 98.9FM
      103.6 Suara Kejayaan FM
      Radio Sipatahunan FM 107.1
      89,8 WKFM
      Fajri 99.3 FM
      Rodja 756 AM
      87.8 X Channel
      *Persiapan
       
      iklan :
      https://abditrass.blogspot.com
      https://abditrass.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringanabditrass.wordpress.com https://kanopibajaringanbogormurah.blogspot.co.id/ https://bogorbaja.blogspot.co.id/ https://bajaringanabditrass.blogspot.co.id/ https://bajaringantasikmalayamurah.blogspot.co.id/ https://bajaringanbogor-berkualitas.blogspot.co.id/ https://bajaringanbogormurah.blogspot.co.id/ https://abditrass.blogspot.co.id/ https://bajaringan-kanopi-tralis-bogor.blogspot.co.id/ https://bengkellasbogorsentulcity.blogspot.co.id/ https://canopybajaringanbogor.blogspot.co.id/ https://bajaringan-bogor-ciluar-abditrass.blogspot.co.id/ https://jasapemasangankanopibogor.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringanbogormurah.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringan-google.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringan-bogor-bajaringan.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringan-bogor-google.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringanmodern.blogspot.co.id/ https://kanopi-minimalis-bogor.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringan-bogor-cibinong.blogspot.co.id/ https://kusenalumuniumbogorcibinong.blogspot.co.id/ https://kusen-alumuniumbogor.blogspot.co.id/ https://plafonbogor.blogspot.co.id/ https://teralisbesibogor.blogspot.co.id/ https://kanopibajaringanbogor.wordpress.com https://kanopibogorbajaringanbogor.wordpress.com https://bajaringanabditrass.wordpress.com https://kanopibogorcibinong.wordpress.com https://plafon-gypsum-abditrass.blogspot.co.id/ https://plafon-gypsum-abditrass.blogspot.co.id/ https://kusen-alumunium-abditrass.blogspot.co.id/ https://kanopi-bajaringan-bogor-abditrass.blogspot.co.id/ https://bajaringan-abditrass.blogspot.co.id/ https://kanopi-bajaringan-bogor-abditrass.blogspot.co.id/ https://abditrass.blogspot.co.id/ http://kanopi-bajaringan-teralis-kusenalumunium-plafon-abditrass.business.site/?bw=true http://bajaringanbogor.business.site/?bw=true http://kanopi-baja-ringan-bogor.business.site/?bw=true
       
    • By fzaldi
      ITS FINALLY HAPPENED! JAKARTA MINOR!
       
      GESC - Global Electronic Sports Championship yang merupakan bagian dari Dota Pro Circuit 2018 memberikan Indonesia kesempatan sebagai host dari salah satu rangkaian turnamennya, GESC Jakarta 2018 is coming!
       
      GESC Jakarta ini menjadi event internasional Dota2 yang pertama kali diadakan di Indonesia.
       
      Event yang akan berlangsung dari tanggal 15-18 Maret 2018 di ICE BSD City ini akan mendatangkan tim-tim tier atas, salah satunya Evil Geniuses.
      EG sendiri mendapatkan direct invitation, sedangkan 7 tim lainnya akan ditentukan dengan qualifer masing-masing region.
       
      Harga tiket pun sudah dikeluarkan oleh pihak GESC sendiri

      harga tiket diatas masih diluar pajak dan biaya lainnya.
    • By berita_semua
      Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat sekaligus petahana berdasarkan hasil quick count hasil pemungutan suara dinyatakan kalah.
      Pemenangnya adalah pasangan nomor urut tiga, Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno.
      Hasil quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) menunjukkan pasangan Basuki dan Djarot hanya meraih 44,14 persen suara, sedangkan pasangan Anies dan Sandiaga meraih 55,86 persen suara.
      Data masuk sebanyak 96,29 persen.
      Hasil quick count Penelitian dan Pengembangan Harian Kompas menunjukkan pasangan Basuki dan Djarot hanya meraih 41,87 persen suara, sedangkan pasangan Anies dan Sandiaga meraih 58,13 persen suara.
      Data masuk sebanyak 94,7 persen.
      Kendati dinyatakan kalah, namun pemenang sah adalah yang akan diumumkan Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta berdasarkan hasil real count.
      Kekalahan pasangan petahana telah diprediksi sejumlah lembaga survei dan konsultan politik, sebelumnya.
      Saat pemungatan suara putaran pertama, pasangan Ahok, sapaan Basuki dan Djarot malah menang.
      Lalu, apa sebenarnya penyebab petahana kalah pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022?
      Peneliti dari lembaga survei sekaligus konsultan politik LSI Denny JA, Adjie Alfaraby dan Ardian Sopa pernah membeberkan sebelumnya.
      Berikut lima penyebab kekalahan pasangan petahana (incumbent) ini berdasarkan hasil riset LSI Denny JA yang dirangkum Tribun-Timur.com:
      1. Kesamaan Profil Pemilih
      Pendukung, termasuk partai politik pengusung pasangan nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni yang kalah pada putaran pertama lebih banyak mengalihkan dukungan kepada pasangan Anies dan Sandiaga.
      Hal ini didasari kesamaan profil pemilih.
      2. Kebijakan Tak Pro Rakyat
      Akibat kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang dinilai tak pro kepada rakyat.
      Kebijakan tersebut, antara lain berupa penertiban kawasan pemukiman dan reklamasi di pantai Jakarta Utara.
      3. Sentimen Anti-Ahok
      Faktor sentimen anti-Ahok karena kapitalisasi isu agama dan primordial.
      Ahok dianggap tak pas untuk memimpin pemerintahan DKI Jakarta karena bukan pemeluk agama yang mayoritas dipeluk warga DKI Jakarta.
      Berdasarkan asil riset LSI Denny JA, sekitar 40 persen pemilih yang beragama Islam di DKI Jakarta tidak bersedia dipimpin oleh Ahok yang non-Muslim.
      Mereka berupaya keras agar Ahok kalah dan tidak memimpin lagi DKI Jakarta.
      Selain itu, dia juga berasal dari kelompok etnis minoritas.
      4. Kasar dan Arogan
      Karakter Ahok yang kasar dan arogan.
      Sikap mantan Bupati Belitung Timur itu dianggap bukan tipe pemimpin yang layak memimpin Jakarta karena omongannya kerap dianggap kasar.
      Puncaknya, ketika dia blunder soal ayat suci Alquran.
      Belum lagi sikapnya yang dinilai tidak konsisten, suatu ketika mencerca partai politik dan hanya ingin maju lewat jalur independen.
      Namun, selanjutnya ia berjuang mencari dukungan partai politik.
      5. Kompetitor Baru
      Hadirnya kompetitor baru yang menjadikan pemilih memiliki alternatif dalam memilih pemimpin DKI Jakarta.
      Pasangan Anies dan Sandiaga, serta pasangan Agus dan Sylviana menjadi alternatif pemilih yang pro maupun kontra Ahok.
    • By orang_gila
      Pemilihan kepala daerah (pilkada) di Provinsi DKI Jakarta makin seru. Bukan hanya isu dan tokohnya berskala nasional, tetapi karena trend terkini kandidat petahana berpeluang besar kalah. Setidaknya tiga survei mengkonfirmasi kecenderungan yang mengejutkan itu.
      Survei Indikator Politik Indonesia pimpinan Burhanuddin Muhtadi menyebut elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat melorot tinggal 26,2 persen, dan kecenderungannya terus merosot. Agus Harimurti-Sylviana Murni menyodok dengan elektabilitas teratas (30,4 persen), sementara Anies Baswedan-Sandiaga Uno menempel ketat Basuki-Djarot (24,5 persen). Komposisi itu masih bisa berubah karena responden yang belum menentukan/merahasiakan pilihan masih tinggi (18,9 persen).
      Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA mengungkap hasil lebih mencengangkan, karena elektabilitas Basuki-Djarot anjlok (10,6 persen) pascakasus penistaan agama Islam. Posisi Anies-Sandi teratas (31,90 persen), diikuti Agus-Sylvi (30,90 persen), dan responden yang belum menentukan pilihan cukup tinggi (26,60 persen). LSI menemukan faktor sentimen keagamaan sangat menentukan pergeseran perilaku pemilih di Jakarta. Kurangnya sensitivitas petahana membuat elektabilitasnya merosot tajam, nyaris tak tertolong.
      Survei terkini dari Poltrack Indonesia pimpinan Hanta Yudha menempatkan Agus-Sylvi 27,92 persen di posisi teratas, diikuti Basuki- Djarot (22,00 persen), dan Anies-Sandi (20,42 persen). Responden yang belum menentukan pilihan tetap tinggi (29,66 persen) sehingga masih sulit diprediksi kandidat yang akan lolos ke putaran kedua, apalagi pemenang pilkada. Selisih elektabilitas antar kandidat juga sangat ketat, masih berada dalam jangkauan margin of error.
      Anomali. Survei Indikator menunjukkan gejala anomali, karena mayoritas responden menyatakan puas dengan kinerja Pemprov DKI (69%) dan mayoritas responden yang sama juga percaya tidak boleh dipimpin oleh kandidat non-Muslim (52,6%).
      Keanehan itu disebut Yurgen Alifia (Selasar, 28/11) sebagai gejala doublethink (berpikir ganda/kontradiktif), mengutip kategori George Orwell tentang disonansi kognitif. Yurgen, kandidat master di Oxford University dan mantan wartawan televisi, menilai sikap kontradiktif pemilih karena hasil propaganda elite politik yang mendukung kandidat penantang.
      Termasuk para pemuka opini yang mengeksploitasi isu primordial/agama, dan hal itu dipandang negatif bagi perkembangan demokrasi yang rasional.
      Sebenarnya, jika kita bisa menyelami suasana kejiwaan pemilih –dan itu sudah dicoba oleh LSI melalui wawancara kualitatif– tidak ada keanehan dan anomali politik. Burhan terlalu berpikir linier, bahwa kepuasan responden akan mengarah pada pilihan dan kepercayaan baru untuk kandidat petahana. Padahal, bisa saja responden menilai keberhasilan kinerja pembangunan di Jakarta adalah hasil kerja kolektif (birokrasi Pemprov) dan bukan prestasi pribadi Basuki.
      Dalam konteks itu, para pemilih di Ibukota justru makin rasional, sebab mereka tahu anggaran (APBD) DKI Jakarta sangat besar dan aparat serta infrastruktur Pemprov cukup lengkap sehingga siapapun yang menjabat Gubernur dengan mudah dapat menjalankan tugas rutinnya. Ibaratnya, Basuki tidur saja atau ngomel-ngomel saban hari, program di Jakarta terus berjalan: pasukan oranye tetap membersihkan jalan dan sungai, para Lurah melayani pembuatan KTP dan izin domisili, para dokter dan perawat melayani warga di puskesmas dan seterusnya.
      Yurgen Alifia berspekulasi terlalu jauh dengan menyudutkan pemilih yang berpikir dan berperilaku ganda, tanpa menunjukkan bukti tambahan di luar survei. Padahal, di masa transisi pasca-Reeformasi sudah terlalu banyak kita menyaksikan ‘anomali’ dari kacamata politik linier. Misalnya, dalam pemilihan umum, warga diajarkan untuk “menerima uang/bingkisan (money politics), tetapi jangan pilih partai/kandidatnya”. Tidak tanggung-tanggung, para aktivis Organisasi Nonpemerintah yang kritis mengkampanyekan: “Ambil saja uangnya, jangan pilih partai/kandidatnya!”
      Jakarta Unfair. Jika sekarang, pemilih di Ibukota bersikap to the point, menikmati pelayanan Pemprov DKI dan menolak kandidat Basuki, apakah masih disebut ‘anomali’? Atau, justru itu konsekuensi sikap rasional-kalkulatif sebagai dampak dari kampanye Ornop yang kritis. Kita tahu saat ini Basuki tak hanya berhadapan dengan warga yang kecewa dengan berbagai kebijakan diskriminatifnya, tetapi juga mendapat tentangan keras dari Ornop yang dipelopori LBH Jakarta, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Urban Poor Consortium (UPC), dan lain-lain yang mengkritik keras tindakan penggusuran paksa dan pembangunan reklamasi pulau di Teluk Jakarta.
      Para aktivis jurnalis independen juga membuat film dokumenter Jakarta Unfair yang diputar di kampung-kampung dan kampus-kampus untuk menyadarkan publik betapa berbahaya arogansi kebijakan Basuki. Setelah dua tahun berkuasa, warga kini bisa melihat perbedaan yang mencolok dari gaya kepemimpinan Basuki (2014-2016) dengan Joko Widodo (2012-2014) yang digantikannya. Sebagian besar warga Jakarta pada Pilkada 2012 memilih Jokowi, bukan Basuki, dan sekarang menyaksikan betapa Basuki tidak bisa diandalkan untuk menunaikan “Janji-janji Jokowi”. Di sinilah kontradiksi yang parah, mengguncang kesadaran pemilih di lapisan memori terdalam. Jadi, bukan anomali atau kontradiksi sikap di permukaan seperti disimpulkan Yurgen dan Burhan.
      Pertanyaannya kemudian, faktor apakah yang menyebabkan pergeseran dahsyat itu sehingga di permukaan tampak seperti kontradiksi perilaku pemilih? Yurgen membantah faktor agama yang menyebabkan perubahan sikap pemilih, dengan merujuk survei-survei sebelumnya (SMRC dan Populi).
      Riset lebih serius dilakukan oleh Ken Miichi (Associate Professor pada Iwate Prefectural University, Jepang) yang mengkaji peran agama dan etnisitas dalam Pilkada DKI 2012 (Jurnal Current Southeast Asian Affairs, 2012). Riset itu membandingkan hasil Pilkada DKI dengan komposisi demografi Jakarta dan sikap pemilih. Jadi, bukan sekadar prediksi atau spekulasi.
      Komposisi Jakarta. Kita semua tahu, Pilkada DKI 2012 diikuti oleh empat pasangan kandidat, yaitu: Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (diusung PD dan PAN), Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (PDIP dan Gerindra), Hidayat Nurwahid-Didik Rachbini (diusung PKS dan PAN yang terbelah), Alex Noerdin-Nono Sampurno (Golkar dan PPP).
      Pilkada berlangsung dua putaran, dengan hasil putaran pertama: Fauzi-Nachrowi (34,1 persen), Jokowi-Basuki (42,6), Hidayat-Didik (11,7), dan Alex-Nono (4,7). Lalu, pada putaran kedua, Foke-Nara (46,2) dikalahkan Jokowi-Basuki (53,8) dengan selisih cukup ketat (7,6).
      Sebelum mengecek alasan pemilih memberikan suara kepada kandidat jagoannya, kita perlu mengetahui komposisi warga Jakarta berdasarkan etnik dan agama.
      Ken Miichi menyajikan data yang menarik dari perbandingan komposisi etnik pada tahun 1960 dengan tahun 2000. Data tahun 1960 bersumber dari penelitian Lance Castle (peneliti dari Australia) dan data 2000 bersumber dari sensus nasional
                  Komposisi etnik Jakarta menurut Ken Michi di tahun 1960 (dalam prosentase), Jawa (25,4), Betawi (22,9), Sunda (32,9), Chinese (10,1), Batak (1,0), Minang (2,1). Dan tahun 2000, Jawa (35,2), Betawi (27,6), Sunda (15,3), Chinese (5,5), Batak (3,6), Minang (3,2).
      Sementara itu, komposisi agama warga Jakarta berdasarkan sensus adalah: Islam (85,36), Protestan (7,54), Katolik (3,15), Budha (3,13), Hindu (0,21) dan Konghucu (0,06). Warga Betawi, Jawa, Sunda dan Minang kebanyakan beragama Islam. Warga Batak mayoritas Kristen, sedang warga Chinese mayoritas memeluk Budha atau Konghucu.
      Berdasarkan exit poll yang direkam Majalah Tempo (2012), alasan pemilih memberikan suara kepada kandidat pilihannya adalah sebagai berikut.
      Alasan pemilih mendukung Jokowi-Basuki terutama karena: dipandang memprioritaskan kepentingan publik (32,7), suka dengan program alternatif yang ditawarkan (31,9), dan kejujuran (12,2). Sementara itu, alasan pemilih mendukung Fauzi-Nachrowi terutama karena: program yang sudah dijalankan (31,7), mewakili kesamaan agama (25,9) dan memprioritaskan kepentingan publik (9,2).
      Di situ terlihat kesamaan sikap pemilih karena prioritas kepentingan publik dan suka dengan program kandidat, jadi pemilih Jakarta dapat dikatakan relatif rasional. Namun, Jokowi memiliki kelebihan karena dipandang jujur, mungkin karena pemilih belum mengetahui jelas rekam jejak mantan Walikota Solo (periode 2005-2012) itu. Sedangkan pendukung Fauzi Bowo cukup besar yang berdasarkan kesamaan agama (25,9), bandingkan dengan Jokowi yang hanya didukung (0,5) karena kesamaan agama. Kesamaan etnik/suku tidak terlalu signifikan, karena memilih Jokowi hanya 4,9 dan memilih Foke hanya 4,6 persen.
      Mengapa Foke dipersepsi publik lebih agamis/Islamis, dengan asumsi mayoritas pemilih Jakarta beragama Islam? Lalu, mengapa Foke tetap kalah, meskipun didukung mayoritas pemilih Muslim? Itu pertanyaan yang menarik, apalagi bila dibandingkan dengan alasan pemilih pada Pilkada DKI 2007 yang menghadapkan Fauzi Bowo-Prijanto (diusung 20 partai besar dan kecil) dengan lawannya Adang Daradjatun-Dani Anwar (hanya diusung oleh PKS).
      Berdasarkan exit poll LSI 2007, maka pemilih mendukung Fauzi-Prijanto karena: kapabilitas kandidat (28,5), karakter kandidat (19,5), suka dengan program atau isu kampanye (18,1), kesamaan latar belakang agama-suku-dll (7,5), ikut dukungan partai (6,9), dan lain-lain (19,4).
      Terlihat pergeseran sikap pemilih Foke dari segi kesamaan agama-suku, pada pilkada 2007 hanya 7,5 persen, namun pada pilkada 2012 melonjak menjadi 25,9 persen. Apakah itu dukungan yang wajar karena pemilih Jakarta makin relijius, ataukah terjadi proses “religionisation” (agamaisasi) di masa kampanye, sebagaimana dinyatakan Ken Miichi, sambil mengutip konsep Robert Hefner.
      Fauzi Bowo pada pilkada 2007 dipersepsi bersifat moderat dan inklusif, merangkul semua golongan. Sementara penantangnya (Adang-Dani) dipersepsi (melalui kampanye media) bersifat “radikal dan militan” sehingga mengancam kemajemukan warga Jakarta. “Jika Adang-Dani yang didukung PKS menang, maka Jakarta akan berubah menjadi kota Taliban”, begitu propaganda massif tersebar di lapangan, menakut-makuti warga Jakarta bahkan sampai hari tenang.
      Tetiba, pada pilkada 2012, wajah toleran Foke berubah menjadi “militan dan intoleran” karena dinilai terlalu dekat/mengakomodir kelompok-kelompok garis keras. Foke memenangi pilkada 2007 karena mensiasati isu SARA dengan menyudutkan lawannya (Adang-Dani) dalam stigma negatif.
      Pada pilkada 2012, Foke terjebak permainannya sendiri dan dikalahkan Jokowi yang dengan cerdik membalikkan isu SARA serupa.
      Jadi, kita lihat dalam konteks Pilkada Jakarta, isu SARA bukan strategi jitu untuk memenangkan kandidat, tetapi efektif menyudutkan dan mengalahkan lawan dengan stigma negatif.
      Sekarang, bagaimana dengan Pilkada 2017? Apakah isu SARA masih bisa dipakai untuk menjegal kandidat pilihan atau lawan politik?
      Basuki masih punya waktu dua bulan untuk mengubah keadaan, menjalani proses hukum atas dugaan penistaan agama (bisa diputuskan bersalah atau bebas) dan berperilaku seperti korban (playing victim) atas fitnah dan tekanan massa. Agus Harimurti dan Anies Baswedan bisa terjebak dengan permainan isu sensitif itu, jika tak waspada, terutama para relawan pendukungnya yang bersemangat di lapangan dan ranah media sosial.
      Dalam kaitannya dengan Aksi Damai 4 November 2016 (411) yang mendesak Polri agar menahan Basuki sebagai tersangka kasus penistaan agama, Agus berkomentar positif, karena itu bagian dari hak demokrasi, menyampaikan pendapat (31/10/2016).
      Sementara Anies terlihat menjaga jarak obyektif dari aksi 411, tetapi memberi nasihat kepada Basuki saat berjumpa dalam acara talk show Mata Najwa (26/11/2016).
      “Kata-kata dapat merenggangkan hubungan, kata-kata dapat mempersatukan hubungan. Seperti apa yang terjadi dengan pak Basuki kan seperti itu, diungkapkan lalu disesali. Dan, efeknya luar biasa,” ujar Anies, disambut tepuk tangan audiens.
      Pengamat yang obyektif menganalisis berbagai survei politik dalam sejarah Indonesia kontemporer, tak kan meremehkan faktor SARA. Bahkan, unsur SARA bisa menjadi pembentuk identitas nasional atau memperkuat afiliasi politik.
      Dengan pemahaman SARA yang tepat, terutama agama, orang tak akan mengalami anomali atau doublethink. 
    • Guest News
      By Guest News
      Bantuan itu memberikan keuntungan politik bagi saingan Ahok.
       
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy