Jump to content
ahmadyamadi_skom

Pegawai Apple Store Terbukti Pakai Kartu Kredit Curian

Recommended Posts

post-4603-0-17063600-1423631677_thumb.jp

 

Kasus pencurian oleh karyawan memang sering terjadi di seluruh dunia, tak terkecuali Apple. Namun kasus pencurian yang melibatkan Apple ini bukanlah kasus pencurian pulpen atau alat-alat kantor lainnya, melainkan voucher gift card yang dibeli secara ilegal dengan menggunakan kartu kredit curian.

 

Itulah yang dilakukan empat orang pegawai Apple Store dan seorang resepsionis klinik gigi. Mereka membeli voucher gift card Apple hingga senilai USD700,000 melalui kartu kredit hasil curian. Kartu kredit tersebut dicuri dari para pasien klinik gigi. Sang resepsionis klinik tersebut bertugas untuk mengambil informasi kartu kredit dari para pasien, kemudian memberikannya kepada empat orang temannya untuk membeli voucher gift card Apple. Voucher kemudian digunakan untuk membeli berbagai produk Apple.

 

Kasus ini memang mirip dengan kasus penjualan game FarCry 4 yang dibeli dengan menggunakan kartu kredit curian beberapa waktu yang lalu. Kasus ini memang tengah ditangani oleh pihak yang berwenang, dan pengadilan masih menganalisis kasus yang sangat kompleks ini. Hingga saat ini, pengadilan baru menjatuhkan hukuman kepada pimpinan para pelaku tersebut, yaitu Devin Bazile dengan hukuman 54 tahun penjara.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By qbonk
      CEO Apple Tim Cook memastikan layanan kartu kredit besutan perusahanya, Apple Card, akan meluncur pada awal bulan Agustus ini.
      Apple Card sendiri merupakan layanan kartu kredit untuk pengguna iPhone dan iPad dengan menggunakan jaringan Mastercard dan dioperasikan Goldman Sachs.
      "Ribuan karyawan Apple menggunakan Apple Card setiap hari dalam pengujian versi beta dan kami berencana untuk memulai peluncuran Apple Card pada bulan Agustus," kata Cook dikutip dari Tech Crunch, Rabu (31/7/2019).
      Apa yang disampaikan oleh Cook ini menegaskan rumor yang telah beredar terkait Apple Card sebelumnya. Apple Card sendiri pertama kali ke publik pada Maret lalu.
      Kartu ini dibuat untuk memudahkan pengguna melakukan pembayaran di tempat yang tidak mendukung Apple Pay. Berbeda dengan kartu konvensional, tak ada nomor, CVV, tanggal kadaluarsa, dan tanda tangan pada kartu Apple Card. 
      Menariknya dari Apple Card ini akan hadir tanpa mengenakan biaya, di mana pengguna diberikan pengurangan suku bunga dan diberi Daily Cash, yakni program cash back di setiap transaksinya.
      Untuk saat ini, Apple Card dirancang untuk pasar Amerika Serikat. Namun tidak menutup kemungkinan layanan ini bisa go international.
    • Guest News
      By Guest News
      Istilah 'tinggal gesek' untuk membayar ternyata mulai dijauhi kaum millennial AS, yakni mereka yang berusia antara 18 hingga 35 tahun. Ini tercermin dalam kepemilikan kartu kredit oleh konsumen generasi ini di AS yang mencapai titik terendah dalam seperempat abad lebih.
       
    • By BincangEdukasi
      Memiliki kartu kredit dan menjadi pengguna aktif merupakan sesuatu yang wajar dilakukan oleh banyak orang. Kartu kredit sudah menjadi kebutuhan wajib dan gaya hidup yang dilakukan oleh orang-orang kaya yang selalu mengedepankan kenyamanan dan kemudahan dalam hidupnya. Bahkan demi alasan kenyamanan, kemudahan, dan kebebasan banyak orang tua zaman sekarang yang sudah mulai memberikan kesempatan kepada anaknya untuk memegang kartu kredit sendiri. Sayangnya, banyak diantara mereka yang memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk mengakses kartu kredit tanpa pembekalan. Sehingga anak-anaknya menjadi tidak terkontrol dan menyalahgunakan fasilitas akses kartu kredit tersebut.
      Bahkan salah satu Diva Indonesia, yaitu Rossa terkejut ketika mengetahui tagihan kartu kredit yang dimilikinya mencapai belasan juta rupiah, padahal dia merasa kartu kredit tersebut jarang digunakan. Ternyata dia memberi kepercayaan anaknya untuk mengakses kartu kreditnya untuk membeli game online sampai tagihannya membengkak.
      Orang tua seharusnya tidak memberikan kebebasan anak untuk mengakses kartu kredit secara sembarangan. Orang tua harus memastikan usia anaknya sudah cukup dewasa untuk menggunakan kartu kredit. Selain itu orang tua wajib memberikan pendampingan dan pemahaman mengenai manfaat kartu kredit dan bahayanya jika menggunakannya secara sembarangan.
      Di sisi lain sebenarnya memberi kesempatan anak untuk mengelola kartu kredit ada dampak positifnya juga. Kartu kredit ini dapat menjadi alat pembelajaran untuk mendidik anak agar lebih pandai mengelola keuangannya. Manfaat lainnya, mari simak 4 manfaat memberikan kepercayaan anak untuk menggunakan kartu kredit berikut ini:  
      1. Mengajari Anak Cara Mengelola Keuangan

      Memperkenalkan dan memberikan fasilitas kartu kredit merupakan salah satu cara terbaik mengajari anak cara mengelola keuangan dengan cermat. Lihatlah sampai sejauh mana kemampuan anak dalam belajar mengatur pemasukan, pengeluaran, dan utang. Orang tua dapat menentukan batas limit yang bisa digunakan anaknya, sehingga anak dapat belajar bertanggung jawab atas keuangannya. Lakukan pengecekan secara rutin terhadap pemakaian kartu kredit anak setiap bulannya untuk mencegah penyalahgunaan fasilitas kartu kredit. Hal ini dapat menjadi bekal di masa depan anak, sehingga mereka dapat mengelola keuangan pribadinya dengan baik.
      2. Menanamkan Rasa Tanggung Jawab

      Memberikan kepercayaan kepada anak untuk menggunakan kartu kredit berarti telah melatih dan menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak untuk mengelola sendiri keuangannya. Orang tua harus tetap melihat dan memantau bagaimana cara anak melaksanakan kepercayaan yang telah diberikan padanya. Pendampingan dari orang tua sangat diperlukan karena anak masih sangat rentan tergoda untuk mencoba sesuatu yang baru. Jadi ajarilah mereka tanggung jawab menggunakan kartu kreditnya secara cerdas dan bijaksana.
      3. Belajar Mengendalikan Diri

      Seperti yang dijelaskan diatas anak muda sangat rentan terhadap godaan, baik yang berasal dari media sosial, media elektronik, iklan, sales promo maupun dari teman pergaulannya. Ini berarti anak harus belajar mengendalikan diri agar tidak tergoda untuk mencoba sesuatu baru atau membeli barang baru yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Berikan pemahaman pada mereka bahwa kartu kredit bukan merupakan uang orang tua, melainkan hutang kepada bank yang harus dibayar, jadi semakin sering kartu kredit tersebut digunakan maka jumlah tagihan utangnya juga akan semakin banyak.
      4. Belajar Memiliki Rekam Jejak yang Baik

      Anak-anak pasti akan tumbuh dewasa dan kelak mungkin akan memiliki kartu kredit mereka sendiri. Sebelum memiliki kartu kredit sendiri, ajari mereka menjadi nasabah yang baik dengan cara belajar membangun rekam jejak kredit yang baik. Pada dasarnya kartu kredit merupakan hutang kepada bank, namun memberikan kartu kredit kepada anak akan memberikan keuntungan tersendiri jika digunakan dengan baik dan benar. Sisi positifnya mereka akan lebih mengerti cara menggunakan kartu kredit dengan lebih bijak, jangan hanya memandang dari sisi negatifnya saja.
      Manfaat Umum Kartu Kredit Secara Umum:
      Sebagai orang tua sebaiknya Anda mengetahui dengan jelas apa saja fitur dan fasilitas yang terdapat di dalam kartu kredit yang digunakan agar dapat menjelaskan kepada anaknya. Berikut ini beberapa manfaat kartu kredit yang wajib anda ketahui:
      Pentingnya Pengawasan Orang tua Secara Rutin
      Demikian ulasan mengenai manfaat kartu kredit secara umum dan manfaat memberikan kartu kredit kepada anak. Namun itu sangat tergantung dari peran orangtua. Sebab memberikan kartu kredit bukan berarti lepas tangan, memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada anak untuk menggunakan kartu kredit tanpa dikontrol.
      Selalu berikan pendampingan dan pengawasan secara rutin, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti misalnya: kebobolan tagihan. Sebab memberikan kartu kredit kepada anak dapat membuat anak menjadi boros dan terbiasa berutang. Anda tidak perlu khawatir akan terjadi hal seperti itu jika orang tua mampu mengarahkan penggunaan kartu kredit anak. Sebaiknya cek lagi kondisi keuangan keluarga, sebelum memutuskan memberi kartu kredit kepada anak. Selamat menjadi orang tua yang cerdas.
    • By BincangEdukasi
      Nama VISA dan MasterCard pasti sudah sangat dikenal di kalangan pengguna kartu kredit. Di setiap kartu kredit biasanya tertera logo ini di sebelah kanan bawahnya. VISA dan MasterCard merupakan provider yang memungkinkan Bank untuk dapat menerbitkan kartu kredit sehingga dapat berlaku di merchant-merchant yang berlogo VISA atau MasterCard. Kedua provider ini tampak sangat serupa. Keduanya memberikan fasilitas dan kemudahan yang sama, yaitu dengan satu kartu Anda dapat menggunakannya di banyak tempat dimanapun, kapanpun.
      Ketika Anda ingin membuat kartu kredit, biasanya ada beberapa bank yang suka menanyakan “Ingin kartu kredit VISA atau MasterCard”? Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda harus mengetahui perbedaan dari dua hal yang sangat serupa ini. Oleh karena itu, kami akan membantu Anda melihat perbedaan dari VISA dan MasterCard.
      1. Perusahaan Provider
      Perbedaan pertama yang sangat jelas adalah perusahaan induk dari kedua provider ini. VISA merupakan produk dari Visa International Service Association (VISA .INC) yang berlokasi di Foster City, California. VISA .INC sudah berdiri sejak tahun 1955. Sedangkan MasterCard adalah produk dari MasterCard Worldwide. Korporasi ini sudah berdiri sejak tahun 1966 dan berlokasi di Purchase, New York. MasterCard adalah saingan dari VISA, keduanya menjadi provider kartu kredit terbesar di dunia.
      2. Popularitas dan Jangkauan
      Kartu kredit VISA dan MasterCard akan berlaku di merchant yang bekerja sama dengan provider tersebut. Misal, sebuah toko elektronik bekerjasama dengan VISA, maka kartu kredit yang dapat digunakan adalah kartu kredit VISA, kartu kredit MasterCard tidak dapat digunakan. Secara umum, kartu kredit VISA lebih popular di negara-negara Asia. MasterCard lebih banyak digunakan di negara-negara Amerika dan Eropa.
      3. Jenis Kartu Kredit dan Keuntungannya
      Terdapat beberapa jenis kartu kredit yang sama antara VISA dan MasterCard, namun ada juga yang berbeda. Perbedaan jenis ini tentu akan berdampak pada perbedaan keuntungan yang diberikannya. Pada dasarnya, ada 3 jenis kartu kredit yang sama baik di VISA maupun di MasterCard, yaitu Classic, Gold, dan platinum. Untuk ulasan jenis kartu kredit ini dapat Anda lihat di artikel kami, disini. Namun, ada beberapa jenis kartu kredit yang berbeda, berikut ini adalah jenis kartu kredit yang berbeda antara VISA dan MasterCard.
      VISA :

      MasterCard:

      4. Perlindungan nasabah
      Kedua provider ini memiliki caranya masing-masing dalam rangka melindungi nasabah. Ketika melakukan transaksi secara online, keamanan kartu kredit Anda sangat beresiko. Maka itulah VISA menawarkan pengamanan berupa memasukkan pin statis atau One Time Password (OTP) ke dalam jendela Verified by VISA. Dengan cara ini, kartu kredit Anda lebih terproteksi.  OTP akan dikirimkan pada saat Anda hendak melakukan transaksi ke nomor telepon genggam yang Anda daftarkan.
      Berbeda dengan VISA, MasterCard memberikan proteksi kepada nasabahnya berupa Secure Code. Secure code merupakan kode pin tambahan yang harus dimasukkan pengguna ketika bertransaksi secara online. Pin tersebut dibuat oleh Anda sendiri secara online.
      5. Biaya Transaksi
      Ketika Anda bertransaksi, ada biaya tambahan yantg dikenakan oleh VISA atau MasterCard. Biaya tambahan oleh VISA dan MasterCard memiliki perbedaan. Misal, untuk VISA jika Anda bertransaksi di luar negeri, biaya yang harus Anda bayarkan adalah 1% dari total transaksi Anda, sedangkan MasterCard memiliki biaya yang berbeda-beda, yaitu berkisar 0,2% hingga 1% tergantung dari merchant-nya.
    • By Monica_Gunawan

      1. Hutang kartu kredit dan KTA bersifat tidak mengikat para pemegangnya dan tidak ada Undang-undangnya, tidak diwariskan, tidak dapat dipindahtangankan (artinya tidak bisa ditagihkan kepada orang lain) ,tidak boleh menyita barang apapun dari anda,surat hutang tidak boleh diserahkan kepada pihak lain atau diperjualbelikan, dsb.
      2. Ada klausul yang disembunyikan oleh pihak penerbit kartu kredit bahwa jika pemegang kartu kredit sudah tidak mampu membayar maka hutang akan ditanggung penuh oleh pihak asuransi kartu kredit visa master. bahkan untuk beberapa bank asing tanggungan penuh asuransi itu mencapai limit 500 juta.
      3. Adalah oknum bank bagian kartu kredit yang menyerahkan atau bahkan melelang tagihan hutang kartu kredit macet itu ke pihak ketiga atau debt collector untuk ditagihkan kepada pemegang kartu kredit yang macet. dari informasi yang didapat dari para mantan orang kartu kredit bank swasta dan asing, maka sebenarnya uang itu tidaklah disetorkan ke bank karena memang hutang itu sudah dianggap lunas oleh asuransi tadi. Jadi uang yang ditarik dari klien pemegang kartu kredit yang macet itu dibagi dua oleh para oknum bank dan debt collector. Jadi selama ini rakyat dihisap oleh praktek bisnis ilegal seperti ini yang memanfaatkan ketidaktahuan nasabah dan penyembunyian klausul penggantian asuransi hutang kartu kredit.
      4. Surat kwitansi cicilan hutang dari klien ke pihak debt col pun banyak yang bodong alias buatan sndiri dan bahkan surat lunas pun dibuat sendiri dengan mengatasnamakan bank.
      5. Bahkan dijakarta dan cimahi, saya menemukan kasus dimana ada 1 orang (cimahi) telah melunasi hutangnya 5 tahun lalu sebesar 10 juta kepada pihak kartu kredit BNI 46. Namun bulan agustus 2009, dia didatangi oleh debt coll dan memaksa meminta surat lunas dari bank tersebut. Kemudian bulan september 2009, dia didatangi lagi oleh pihak debt col yang membawa surat tagihan sebesar 10 juta! Dua kali lipatnya. Akhrnya dia terpaksa membayar karena mengalami kekerasan dan tindak pidana serta ketakutan.
      Dari info yang saya dpt, kemungkinan ada permainan antara orang IT bank penerbit kartu kredit dan pihak debt coll untuk memanfaatkan kebodohan masyarakat. Kasus kedua dialami oleh teman saya sendiri dijakarta. Pada tahun 2005 dia sudah melunasi hutang sebesar 3 juta ke kartu kredit mandiri di tahun 2007. Lalu dia tidak memperpanjang kartunya lagi alias berhenti menggunakan kartu tersebut. Sehingga otomtatis dia tidak menerima kartu perpanjangan dan surat tagihan lagi. Namun tahun 2009 dia menerima tagihan lagi dan didatangi oleh debt collector mandiri dengan tagihan sebesar 6 juta! Dua kali lipat. Padahal tahun 2007 sudah dilunasi. Aneh memang. Apakah trend semacam ini sudah menjadi cara yang biasa dipakai oleh oknum bank kartu kredit dengan para debt collector di Indonesia? Membuat rakyat jadi miskin, padahal hutang kartu kredit sudah ditanggung penuh oleh asuransi visa master.
      6. Dari informasi yang saya dapat dari mantan orang kartu kredit standard chartered bank , bahwa perusahaan2 debt collector itu tidak ada yang memiliki izin/legalitas sama sekali. Alamat kantor dan nmr telponnya pun tidak pernah jelas, apalagi struktur organisasinya. Karena dinegara manapun didunia, tidak boleh ada perusahaan yang diberi ijin untuk menagih hutang. Jadi jika kita atau polisi mau mendatangi perusahaan2 debt coll ini berdasarkan info dari masyarakat, maka tentu orang-orang debt col itu akan lari dan akan pindah alamat dan kantornya.
      7. Dari sudut pandang hukum , kartu kredit adalah lemah karena tidak ada undang-undangnya dimanapun karena sifatnya yang konsumtif dan bunga tinggi serta banyak klausul-klausul yang disembunyikan dari para pemegangnya yang justru bisa melindungi para kliennya. namun tidak dikatakan secara jujur jadi klien banyak dibodohi.
      8. Kesalahan berikutnya dari pihak bank adalah dalam cara memasarkannya, dimana sebenarnya yang boleh memiliki kartu kredit bukan sembarang orang namun orang yang sudah mapan. Namun dalam sepuluh tahun terakhir justru sebaliknya, banyak kartu kredit ditawarkan dengan mudah dengan persetujuan yang mudah. Akhirnya orang yang belum mampu, dapat memiliki kartu kredit yang akan berakibat pada banyaknya hutang macet pada kartu kredit. Dan ditambah lagi, jika seseorang telah memiliki 1 kartu kredit maka dia akan mudah memiliki kartu kredit dari bank lain dengan limit yang lebih tinggi dan banyak. Sehingga jika seseorang punya 1 kartu, maka dia akan ditawari dari bank lainnya. Padahal semestinya kartu kredit menganut azas kemampuan diri nasabah ketika menawarkan. artinya jika nasabah sudah memiliki 1 kartu kredit maka secara akuntansi dia tidak boleh menambah kartu lainnya karena pasti akan tidak mampu.
      Ditingkat sales kartu kredit pun terjadi jual beli database pemegang kartu kredit dalam jumlah banyak, sehingga orang yang sudah punya kartu kredit akan ditawari kartu kredit dari bank lain lagi dengan limit yang lebih besar dan dengan tingkat approval yang tinggi dari bagian verifikasi bank. Sehingga dari sinipun terlihat bahwa pihak bank memberikan kontribusi besar diawal terhadap terjadinya kredit macet.
      9. dari semua ini, maka dapat disimpulkan bahwa yang membuat macet hutang kartu kredit adalah pihak bank sendiri. Dan kenyataan yang didapat dilapangan, kasus premanisme yang dilakukan oleh para debt coll terhadap klien2 kartu kredit yang macet sudah tidak manusiawi lagi. Disini rakyat tambah menjadi miskin, dan menderita. serta ketakutan. Dan banyak pelanggaran hukum yang berada pada sisi debt col bila kita mau mencermati, mulai dari soal ijin perusahaan, legalitas, alamat perusahaan, nmr telpon, dan sebagainya. Dan debt col ini sebenarnya menagih hutang yang sudah dilunasi oleh asuransi visa master. Jadi uang yang didapat dari masyarakat dipakai sendiri oleh oknum bank dan debt col dengan mengatasnamakan pihak bank. Perlu diketahui bahwa hutang kartu kredit dan KTA /kredit tanpa agunan memiliki sifat berbeda dengan hutang-hutang lainnya.
      Pertama karena sifatnya tanpa jaminan maka tidak ada ikatan pada nasabah untuk melunasi jika tidak mampu membayar bahkan ada didalam klausulnya. Kedua, hutang kartu kredit tidak diwariskan , alias tidak dapat ditagihkan kepada anggota keluarga yang lain. Yang justru dalam kenyataan, para debt col memintanya pada anggota keluarga yang lain. Ketiga, saya berharap bahwa POLRI akan menindak tegas premanisme semacam ini secara proaktif dan bukan berdasarkan laporan/delik aduan saja. karena bila kita lihat , sudah sejak dulu masyarakat diperlakukan seperti ini dan kita bisa bayangkan sudah berapa biliun uang rakyat diambil oleh debt col yang notabene adalah premanisme dan oknum bank., sehingga rakyatlah yang memperkaya debt col dan oknum bank itu. Mungkin ada beberapa kekurangan dari hasil investigasi saya ini, namun inilah semua yang saya dapatkan dari investigasi dilapangan selama 1 tahun. SEmoga bermanfaat buat POLRI dan dapat melindungi rakyat yang sudah susah hidupnya sehingga tidak diperas dan ditindas oleh para debt col dan oknum bank. Padahal uang itu tidak disetor ke bank , melainkan kepada oknum bank yang bisa mengeluarkan kwitansi resmi dari bank. dan surat lunas dari bank. Bahkan ada yang mengeluarkan kwitansi bodong alias palsu serta surat lunas buatan sendiri yang seolah2 dikeluarkan oleh bank. Sekian dan terima kasih. Dan semoga tidak ada pejabat yang membekingi para debt collector kartu kredit dan KTA. Demi menumpas penghisapan terhadap rakyat yang sudah tidak mampu.
      Menurut informasi dari seorang teman yang telah meneliti juga masalah debt collector dan pelanggaran undang-undang perbankan oleh bank-bank di Indonesia dan BI itu sendiri, jumlah perputaran uang kartu kredit adalah sebesar Rp. 162 triliun, dan yang macet tahun ini adalah 8% nya atau sekitar 15 triliun rupiah, yang ditagihkan melalui debt collector namun tidak disetorkan kepada bank namun ke kantung-kantu pribadi pejabat bank dan pejabat2 lain serta para debt collector itu sendiri. Bayangkan mereka ambil uang rakyat segitu banyak tuk mereka nikmatin dan sebenarnya mereka tidak berhak menerima uang itu) Kasus century belum ada apa2nya, makanya banyak pejabat yang jadi pembeking debt collector kartu kredit Pecat saja tuh pejabat. Sudah bukan zamannya cari uang dengan memeras rakyat dan membodohi rakyat . Kapan rakyat bisa makmur kalo begini, orang diperas terus…kayak zaman penjajahan aja…
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy