Jump to content
berita_semua

Brasil dan Belanda Punya Hak Untuk Tarik Dubes

Recommended Posts

Pemerintah Brasil dan Belanda menarik dubesnya di Indonesia karena tidak terima warganya dieksekusi mati terkait kasus narkoba.

 

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Armanatha Nasir, mengatakan hal itu merupakan hak negara yang bersangkutan

 

"Hak negaranya, semua negara bisa melakukan permintaan konsultasi," kata Armanatha.

 

Kendati dubes ditarik, dia meyakinkan bahwa Indonesia akan tetap berupaya meningkatkan hubungan bilateral kepada dua negara tersebut. "Kita tetap menjaga hubungan bilateral," tuturnya.

 

Sementara itu mengenai masih banyaknya terpidana mati yang belum dieksekusi, Armanatha menegaskan pemerintah tetap berkomitmen untuk memberantas narkoba. Sebab, narkoba telah merusak bangsa, terlebih berdasarkan catatan sebanyak 4,5 juta yang ketergantungan terhadap narkoba berada diusia 10-19 tahun.

 

"Situasi narkoba sudah sangat mendesak dan merusak negara. 40 sampai 50 orang meninggal tiap harinya akibat narkoba. Tidak hanya Indonesia, masyarakat internasional juga harus memerangi," katanya.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By peter_hutomo
      Sejak dahulu kala, nusantara yang kala itu belum dikenal sebagai Indonesia merupakan salah satu kepulauan di belahan Timur yang terkenal menghasilkan rempah-rempah terbaik. Alhasil, orang-orang Eropa di benua barat pun merasa tertarik dan berusaha untuk mengunjunginya.
      Salah satunya adalah Cornelis de Houtman. Pelaut Belanda yang sukses menginjakkan kakinya di Tanah Air lewat Banten pada 27 Juni 1596. Berbekal informasi dari para pelaut pada akhir abad ke-16, ia berangkat dari pelabuhan Amsterdam bersama empat kapal dagang yang mengiringi. kedatangan Cornelis de Houtman di Nusantara, menjadi cikal bakal penjajah Belanda mulai bercokol di Indonesia.
      Tergiur karena cerita-cerita di kalangan saudagar
      Pria kelahiran Gouda, 2 April 1565 ini, tertarik menjelajah ke sisi Timur dunia setelah mendapat informasi dari kalangan pedagang Eropa tentang keberadaan Pulau “Surga” yang tersembunyi. Kawasan tersebut, diyakini memiliki kekayaan alam berupa rempah-rempah.

      Cornelis de Houtman pun segera mempersiapkan pelayaran setelah dirinya ditunjuk oleh Para otoritas saudagar Belanda. Dalam The Cradle of Colonialism (1963), George Masselman menyebutkan bahwa armada Cornelis de Houtman berangkat dari Amsterdam menuju Lisboa, Portugal. Tujuannya untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang keberadaan pulau misterius tersebut.
      Bentuk serikat dagang Belanda
      Setelah menghabiskan waktu selama dua tahun di Portugal, Cornelis pun memutuskan untuk kembali pulang ke negerinya. Saat itulah, ia berjumpa dengan seorang Belanda lainnya yaitu Jan Huygen van Linschoten. Ia merupakan pedagang yang bekerja untuk kerajaan Portugis di India. Dari van Linschoten inilah, Cornelis mendapatkan informasi berharga tentang keberadaan Nusantara yang konon kaya akan rempah-rempah.

      Pada 1594, Cornelis de Houtman bersatu dengan seluruh pedagang Belanda dan membentuk Compagnie van verre te Amsterdam (perusahaan jarak Jauh) yang berpusat di Amsterdam. Perserikatan dagang baru ini dibentuk untuk menemukan kepulauan yang menghasilkan rempah-rempah. Hingga pada 2 April 1595, Cornelis de Houtman ditunjuk agar segera angkat sauh dan mulai berlayar pada 2 April 1595.
      Sampai di Nusantara dengan korban ratusan nyawa
      Diiringi oleh empat kapal, Amsterdam, Hollandia, Mauritius, dan Duyfken, Conelis de Houtman memulai penjelajahannya menuju sisi Timur dunia. Nahas, karena tipisnya stok makanan, banyak kru kapal yang tewas karena menderita penyakit sariawan. Tak jarang, konflik internal antara kapten kapal dan kru juga jadi masalah tersendiri. Pengaruh iklim tropis yang berbeda dengan cuaca di Belanda, juga membuat banyak kru dari keempat kapal tersebut berguguran satu demi satu.

       
      Pada 27 Juni 1596, rombongan armada Cornelis de Houtman tiba di pulau Banten. Dilansir dari tirto.id, total, ada sekitar 249 orang yang selamat sampai di tujuan. Para saudagar asing ini, awalnya diterima dengan baik oleh otoritas setempat. Namun sayang, karena perangai buruk seperti keluar masuk kota seenaknya, banyak dari mereka yang ditangkap oleh petugas keamanan kesultanan Banten.
      Sukses temukan Indonesia meski harus terusir keluar
      Akibatnya pun sungguh fatal. Para pedagang asing asal Belanda, termasuk Frederick de Houtman yang merupakan kakak Cornelis, dijebloskan ke dalam penjara. Alhasil, dirinya pun harus mengeluarkan denda berupa uang untuk membebaskan sang kakak. Tingkah polah mereka pun harus dibayar mahal pada saat itu. Dilansir dari tirto.id, Cornelis beserta rombongan dagang Belanda lainnya, terpaksa digiring keluar dan diusir dari tanah Banten.

      Meski tak berhasil menemukan rempah-rempah yang dicari, toh Cornelis de Houtman berhasil menemukan jalur pelayaran menuju ke Indonesia. Dirinyalah yang nantinya membuka jalan bagi pelaut-pelaut Belanda lain untuk datang kembal ke tanah Nusantara. Bukan sebagai pedagang, melainkan berubah menjadi penjajah yang kelak mendirikan kolonialisme di Indonesia selama ratusan tahun lamanya.
      Tak heran jika Indonesia dijajah Belanda di kemudian hari. Selain tertarik dengan potensi rempah-rempahnya, kolonialis Eropa tersebut hendak melebarkan bisnis pedagangannya lebih luas. Bahkan hingga saat ini pun, Indonesia masih diincar oleh penjajah asing secara halus yang mengincar SDA dan sumber lainnya.
    • Guest News
      By Guest News
      Brasil berada dalam cengkeraman krisis ekonomi dan politik di tengah gemerlapnya gambar-gambar yang tampil dari Olimpiade di Rio de Janeiro. Tekanan ekonomi ini sangat dirasakan warga biasa di Brasil khususnya mereka yang tinggal di wilayah kumuh yang disebut favela.
       
    • By kompipanas123

      Di kota-kota di seluruh dunia sepeda sebagai moda transportasi semakin populer. Belanda, adalah negara yang identik dengan moda trasnportasi beroda dua ini. Tapi, belum lama ini ada yang menarik dari penampilan jalur sepeda di Negeri Kincir Angin ini. Di mana jalur sepeda dijadikan sebagai generator pembangkit listrik tenaga surya.
      Jadi jangan heran jika kamu ke Belanda akan menemukan panel-panel surya yang diletakkan di jalur sepeda. SolaRoad, begitulah nama proyek ini. Panel surya yang terbuat dari fabrikasi beton berukuran 2,5 dan 3,5 meter ini pada bagian atasnya dipasangi panel surya dan diletakkan di jalur sepeda untuk menangkap radiasi panas dan cahaya untuk diubah menjadi energi listrik.

      Seperti dilansir brilio.net yang dikutip dari CNBC, proyek ini dikembangkan sebuah konsorsium yang terdiri dari lembaga penelitian TNO Belanda, Provinsi Noord-Holland, perusahaan konstruksi jalan Ooms civiel dan penyedia solusi teknik Imtech. “Ide ini kami mulai dengan memanen energi matahari yang di jaringan jalan kami, mengubahnya menjadi listrik, “kata Sten de Wit, juru bicara konsorsium SolaRoad, mengatakan kepada CNBC dalam sebuah wawancara telepon.

      De Wit menjelaskan, proyek ini dikembangkan dengan menghabiskan total dana sebesar 3,5 juta euro atau setara Rp 52,8 miliar, 1,5 juta euro atau Rp 2,26 miliar dari pemerintah provinsi Belanda Utara dan sisanya dari mitra konsorsium.
      SolaRoad adalah lapisan kaca tembus pandang setebal 1 cm yang diletakkan di atas beton jalan. Di bawah kaca terdapat kristal silikon sel surya. Lapisan atas SolaRoad dirancang sebagai penolak kotoran, tahan slip, dan sangat kuat. Awal November lalu, siklus jalan di Krommenie dijadikan pilot project program ini, diprediksi mampu menghasilkan 9.800 kilowatt energi dalam satu tahun, cukup untuk memasok listrik di tiga rumah.
      Rencana proyek ambisius ini akan diperluas hingga ke wilayah perbatasan Belanda dengan sejumlah negara lain di Eropa. “Tahun depan, kita akan memperpanjang jalur sepeda dan akan mencobanya pada jalan yang lebih besar dengan skala panel surya sepanjang satu kilometer,” katanya.
      Total siklus jalan-jalan kota di Belanda saat ini mencapai 140.000 kilometer, dan 120.000 kilometer untuk jenis jalan yang lebih kecil, termasuk  jalan provinsi dan jalur sepeda. Jalan-jalan kecil yang tidak digunakan secara intensif sebagai jalan negara inilah yang akan dimanfaatkan menangkap energi matahari untuk menjadi sumber listrik. Luar biasa!
    • By davidbo
      Kedua derek tersebut berupaya mengangkat salah satu bagian jembatan, lalu tiba-tiba terbalik.
      Dua kendaraan katrol yang digunakan untuk merenovasi jembatan di sebuah kota di Belanda jatuh terbalik dan menimpa sejumlah bangunan di sekitarnya.
      Sebuah tayangan video amatir yang merekam pengoperasian katrol memperlihatkan bagaimana dua kendaraan itu berupaya mengangkat salah satu bagian Jembatan Juliana di Kota Alphen aan den Rijn lalu tiba-tiba ambruk.
      Belum diketahui berapa banyak orang yang terperangkap di antara reruntuhan mengingat kedua katrol tersebut menimpa sejumlah bangunan.
      Ton Koot, juru bicara dinas pemadam kebakaran setempat, mengatakan alat-alat berat telah dikerahkan untuk membantu upaya penyelamatan. Menurutnya, paling tidak 20 orang menjadi korban, berdasarkan perkiraan jumlah orang yang berada di dalam bangunan.

      Paling tidak 20 orang menjadi korban, berdasarkan perkiraan jumlah orang yang berada di dalam bangunan.
      Insiden terjadi di Kota Alphen aan den Rijn, sekitar 49 kilometer arah barat daya Amsterdam.
      Surat kabar Belanda, de Volksrant, melaporkan sebuah tim yang khusus menangani korban gempa dan bencana lainnya telah dikirim ke Kota Alphen aan den Rijn, sekitar 49 kilometer arah barat daya Amsterdam.
      “Kami akan mulai mencari orang-orang di antara reruntuhan. Para korban adalah prioritas utama kami. Namun, ada bahaya runtuh tiba-tiba. Sehingga kami harus terlebih dulu memeriksa stabilitas rumah dan kendaraan katrol. Saat ini kami belum tahu berapa banyak korban yang ada,” kata Wakil Wali Kota, Kees van Velzen

      Berdasarkan keterangan beberapa saksi mata, banyak orang di sekitar lokasi kejadian untuk melihat jalannya renovasi jembatan.
      Sebuah survei pada 2010 menunjukkan jembatan yang melintang di atas Sungai Rhine tersebut berada dalam kondisi buruk. Renovasi kemudian dimulai beberapa bulan lalu.
      Insiden yang melibatkan kendaraan katrol di Belanda bukan kali ini terjadi. Pada Desember 2014, sebuah kendaraan katrol menimpa atap rumah di Kota IJsselstein.
    • By berita_semua
      Kabar duka menyelimuti keluarga Duta Besar Indonesia untuk Pakistan, Burhan Muhammad. Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, memastikan istri Dubes, Heri Listyawati Burhan Muhammad, meninggal dalam kecelakaan helikopter di Pakistan.
       
      "Berdasarkan info dari Kemenlu Pakistan melalui Kedubes Islamabad diperoleh info bahwa Ibu Heri Listyawati Muhammad meninggal dunia," ujar Retno Jumat (8/5). "Saat ini beliau dirawat di Combine Military Hospital di Gilgit. Pemerintah Indonesia mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya."
       
      Kejadian bermula ketika Burhan dan istrinya memenuhi undangan Kementerian Luar Negeri Pakistan dalam program Visit of Resident Ambassadors/High Commissioners to Gilgit-Baltistan. Acara itu dijadwalkan berlangsung dari 8-11 Mei 2015.
       
      Tak hanya dari Indonesia, 57 orang yang terdiri dari 30 Kepala Perwakilan/Duta Besar dan sejumlah isteri Duta Besar beserta anak dan pejabat Pakistan juga menjadi tamu di acara tersebut. Para tamu berangkat dari Nur Khan Airbase di Islamabad, menggunakan pesawat, pukul 08.30 waktu setempat menuju wilayah Gilgit-Baltistan (utara Pakistan).
       
      Mereka tiba pukul 09.30 dan diterima oleh pihak pemerintahan Gilgit-Baltistan. Jarak dari Islamabad-Gilgit, sekitar 480 km, atau sama dengan jarak tempuh satu jam perjalanan dengan pesawat.
       
      Empat helikopter yang ditumpangi para tamu kemudian melanjutkan perjalanan ke Naltar Valley, di wilayah Gilgit-Baltistan. Sayangnya, salah satu helikopter (MI-17 dengan penumpang 17 orang) gagal mendarat (crash landing).
       
      Akibatnya, enam orang dikabarkan meninggal. Mereka adalah istri Dubes RI, istri Dubes Malaysia, Dubes Filipina, Dubes Norwegia, serta dua pilot helikopter.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy