Jump to content
Sampoernahijau

Yang kita Pelajari Dari Ulasan Media Pertama TheFacebook

Recommended Posts

Saya percaya founder yang baru terjun membuka bisnis online, terutama bisnis online yang technology based perlu belajar dari mindset founder lain di masa awal berdirinya. Mari kita lihat seperti apa mindset Mark Zuckerberg dan apa yang bisa kita pelajari dari media coverage atau ulasan media di saat awal TheFacebook berdiri.

 

Pada tanggal 9 Februari 2004, hanya beberapa hari setelah Mark Zuckerberg menyelesaikan Minimum Viable Product (MVP) dari TheFacebook.com, media offline dan online The Harvard Crimson, yang khusus mengulas berita terkait Universitas Harvard, membuat berita tentang The Facebook di Hundred Register for New Facebook Website.

 

post-4554-0-20044400-1419908346_thumb.jp

 

Hanya berselang 9 hari, The Crimson menulis berita lagi tentang TheFacebook di Harvard Bonds on Facebook Website.

 

post-4554-0-06116700-1419908396_thumb.jp

 

Yang ke-3, 10 Juni 2014, The Whiz Behind TheFacebook

 

post-4554-0-64074000-1419908440_thumb.jp

 

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari ketiga artikel ini ?

 

Kompetensi

 

“Everyone’s been talking a lot about a universal face book within Harvard,” Zuckerberg said. “I think it’s kind of silly that it would take the University a couple of years to get around to it. I can do it better than they can, and I can do it in a week.”

 

“Semua orang berbicara tentang universal face book di Harvard, saya pikir gila jika Universitas membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuatnya. Saya bisa melakukannya lebih baik dari mereka, dan saya bisa membuatnya dalam satu minggu”

 

Ya, ini adalah kompetensi yang bertemu dengan kesempatan. “Preparation meets opportunity”.

 

Banyak orang yang mengira membangun bisnis dimulai dari ide bisnis. Tetapi yang terjadi pada Mark Zuckerberg, sedikit berbeda, ia memulai dari kompetensi terlebih dahulu yang dikombinasikan dengan masalah yang ia temukan di Harvard.

 

Hal ini mengingkatkan saya pada kalimat dari Alexis Ohanian dalam buku “without their permission” bahwa salah satu starting point dalam mencari ide bisnis online adalah membuat sesuatu yang orang lain tidak bisa membuatnya, kecuali founder itu sendiri.  Cara seperti ini akan membuat sebuah benteng alami yang membatasi para kompetitor.

 

Fail fast

 

“I can do it better than they can, and I can do it in a week.”

 

Berapa lama Anda membuat produk teknologi sebelum melaunchnya ke public ? 3 bulan ? 6 bulan ?

 

Mark Zuckerberg membuat versi pertamanya hanya dalam 1 minggu, di mana dalam 1 minggu ini tiap harinya ia hanya tidur sekitar 3 jam saja.

 

Making small things

 

“I don’t really know what the next big thing is because I don’t spend my time making big things,” he says. “I spend time making small things and then when the time comes I put them together.” The Crimson, 10 Juni 2004

 

“Saya tidak tahu apa yang akan menjadi the next big think karena saya tidak menghabiskan waktu untuk membuat hal besar, saya menghabiskan waktu membuat hal-hal kecil dan ketika waktunya tiba, saya menyatukannya.”

 

TheFacebook memang terlihat sebuah big thing, big shot, moonshot thinking – apapun istilahnya, karena Zuckerberg hanya membuat 1 startup yang meledak di seluruh dunia, tetapi sebenarnya sebelum membuat Facebook, Mark Zuckerberg membuat banyak project kecil sebelumnya, antara lain:

 

Facemash, membandingkan foto mahasiswa dan mengajak user memilih yang mana yang lebih hot.

 

Social study tool, dua hari sebelum final pelajaran art history, Zuckerberg mengalami kesulitan untuk belajar karena harus memahami sekitar 500 gambar sejarah, maka ia membuat website yang berisi 1 gambar setiap halaman dan memberikan kolom komentar, lalu ia mengirimkan email ke teman-teman sekelasnya untuk berbagi catatannya, hasilnya seperti sebuah online study group di masa-masa kritis khas mahasiswa, 2 hari sebelum ujian, mereka bekerjasama belajar menggunakan website ini, dalam 2 jam seluruh gambar terisi dengan catatan, dari aktivitas ini mereka semua lulus ujian.  (Fastcompany)

 

Coursematch, project yang memiliki fitur mahasiswa bisa melihat mahasiswa lain yang mendaftar di kelas mereka.

 

Synapse, project yang mempelajari pola musik yang disukai user dan di embed sebagai plugin ke WinAmp, di posting free di internet.

 

Laser Focus

 

When Zuckerberg starts a programming project, all else takes a backseat. He doesn’t eat, doesn’t sleep, doesn’t talk to friends. When he buried himself in his room to work on thefacebook.com late last January, his roommates almost forgot he was there.

 

Ketika Zuckerberg memulai project programming, semua hal lainnya menjadi tidak penting. Ia tidak makan, tidak tidur, tidak bicara dengan temannya. Ketika ia “mengubur” dirinya di ruangannya untuk mengerjakan thefacebook.com di akhir Januari 2004, teman sekamarnya hampir lupa kalau ia ada di sana.

 

Mendapatkan pelajaran paling banyak dari ngobrol dengan teman, bukan dari buku atau pelajaran di kelas

 

C++ For Dummies was his first introduction to formal programming, but Zuckerberg says he learned most of what he knows from talking with friends.

 

C++ For Dummies adalah pertemuan pertamanya dengan pelajaran programming, tetapi Zuckerberg mengatakan bahwa ia belajar paling banyak dari ngobrol dengan teman.

 

Dengan “making small things” ia bisa melompat dari satu kompetensi ke kompetensi lainnya

 

America Online, WinAmp and Microsoft—among others—all expressed interest in buying the program. “Some companies offered us right off the bat up to one million, and then we got another offer that was like two million,” he says. He and D’Angelo at first decided not to sell.“I don’t really like putting a price-tag on the stuff I do. That’s just like not the point,”

 

But after the two had matriculated to college, they decided to accept an offer—only to find the company was no longer interested.

 

Zuckerberg says. “We were pretty naïve about it,” Zuckerberg admits. Today, he retains a legal counsel for his products. Synapse may not have made Zuckerberg money, but it put him on the programming map. It also prepared him for the hype and corporate offers he would be faced with two years later, after thefacebook.com began its exponential growth across the country.

 

Project Synapse yang adalah project kelulusan SMAnya, sempat mendapatkan offer puluhan miliar dari corporate, ditolak oleh Zuckerberg, yang kemudian mereka terima setelah beberapa bulan kemudian, tetapi corporate tersebut sudah tidak tertarik lagi.

 

Hal ini mempersiapkan dirinya dalam menghadapi hype dari pertumbuhan eksponensial Facebook 2 tahun kemudian.

 

Menilai resource (sumber daya) lebih penting daripada uang

 

“That’s just like not something we’re really interested in,” he says, referring to selling out thefacebook.com. “I mean, yeah, we can make a bunch of money—that’s not the goal…I mean, like, anyone from Harvard can get a job and make a bunch of money. Not everyone at Harvard can have a social network. I value that more as a resource more than like any money.”

 

Ketika ditanya kenapa tidak menjual thefacebook dan mendapatkan banyak uang ? Zuckerberg menjawab, “saya menilainya sebagai resource yang lebih berharga dari uang berapapun banyaknya.”

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By ega
      Mark Zuckerberg, selaku pemilik Facebook berencana untuk menggabungkan tempat bertukar pesan pada sosial media miliknya — Whatsapp, Instagram, dan Facebook Messenger. Tindakan ini membuat Mark terlihat seperti ingin unjuk gigi disaat bisnisnya babak belur diserang skandal dalam dua tahun terakhir.
      “Kedepannya ketiga tempat bertukar pesan tersebut akan menjadi satu aplikasi yang berdiri sendiri tetapi secara teknikal akan digabungkan dengan satu infrastruktur” kata empat orang yang terlibat dengan pembuatan aplikasi tersebut. Hal ini berarti akan membawa tempat pengiriman pesan terbesar dalam tiga aplikasi di dunia dengan pengguna lebih dari 2.6 miliar untuk dapat berkomunikasi lintas aplikasi untuk pertama kalinya.
      Pergerakan ini bisa dibilang sekaligus untuk mendata ulang berapa banyak orang yang sering menggunakan ketiga aplikasi tersebut sambil Facebook terus meningkatkan penggabungan industri, privasi dan keamanan. Tetapi hal ini juga semakin menegaskan jika Mark ingin memaksakan kehendaknya padahal, dulu Mark pernah bersumpah untuk tidak mengutak-atik ketiga aplikasi tersebut dan membiarkan ketiga aplikasi tersebut terpisah.
      “Rencananya proses penggabungan ini akan diselesaikan pada akhir tahun ini atau pada awal tahun 2020 dan membutuhkan ribuan pegawai Facebook untuk mengatur ulang cara WhatsApp, Instagram dan Facebook Messenger berfungsi.” kata orang yang tergabung dalam pergerakan ini dan tidak dapat disebutkan namanya karena hal ini bersifat rahasia.
      Mark juga berencana untuk mengunci percakapan pada aplikasi tersebut dengan end-to-end encryption yang mana melindungi percakapan pesan sehingga hanya orang yang bersangkutan yang dapat melihat isi pesan. “Kami membangun pengiriman pesan secepat dan serahasia mungkin. Kami juga membuka jalan untuk para pengguna dapat lebih mudah mencari teman, relasi atau keluarga dengan adanya aplikasi ini.” tegasnya.
      Dengan menggabungkan ketiga aplikasi tersebut Mark berharap dapat meningkatkan hubungan antara pengguna internet dengan aplikasi miliknya. Dan dengan meningkatnya pengguna pada aplikasi miliknya maka akan meningkat pula pengguna yang akan menggunakan iklan di tempatnya.
      WhatsApp dan Instagram sebelumnya memang perusahaan yang berdiri sendiri. Saat Facebook mengakuisisi dua aplikasi tersebut, Mark berjanji untuk tidak banyak mengubahnya. Namun semakin lama, orang-orang berkata Mark berubah. Kini ia memikirkan untuk menggabungkan ketiga aplikasi tersebut untuk mengambil keuntungan di Facebook. Kabar ini tersiar pada akhir tahun 2018.
      Usahanya ini telah mengakibatkan perselisihan di Facebook. Penemu Instagram, Kevin Systrom dan Mike Krieger telah meninggalkan perusahaan yang telah ia bangun saat mendengar rencana Mark yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Begitu juga dengan penemu WhatsApp, Jan Koum dan Brian Acton. “Seandainya bermitra dengan Facebook berarti harus mengubah nilai-nilai yang telah kami bangun, kita pasti tidak akan menyerahkan WhatsApp padanya.” Jelas Jan Koum yang telah sepakat untuk Facebook mengakuisisi WhatsApp sebesar 19 Miliar Dollar pada tahun 2014.
      Pada tanggal 7 Desember 2018 ada pertemuan besar antara pegawai dan Mark Zuckerberg. Saat para pegawai menanyakan mengapa Mark ingin menggabungkan layanan pesan pada ketiga aplikasi tersebut. Beberapa pegawai merasa jawaban Mark terlalu banyak diputar dan tidak pada intinya hingga akhirnya sebagian pegawai memutuskan untuk pergi dari perusahaan karena rencana Mark tersebut.
      Sebagai pengguna ketiga aplikasi tersebut apa pendapat kalian? Apakah penggabungan tempat bertukar pesan dari ketiga platform raksasa tersebut akan jadi menarik dan menantang atau malah membuat kalian malas menggunakannya?
    • By worldwidemarket
      Mark Zuckerberg mengawali facebook dari kamar asmara Harvard dan kini memiliki produk mata uang digital Libra yang penuh kontroversi.
      16 tahun lamanya Facebook berkembang sebagai jaringan media sosial dan kini penggunanya sudah mencapai lebih dari 2 miliar. Sang pendiri Mark Zuckerberg justru mengawalinya dari kamar asmara Harvard dan kini memiliki produk mata uang digital Libra yang penuh kontroversi.
      Bernama lengkap Mark Elliot Zuckerberg adalah orang yang mendirikan situs jejaring sosial Facebook, pada 2004 bersama teman sekelasnya. Website pertama yang dibuat oleh Mark adalah Facemash, kemudian pada Februari 2004, ia kembali membuat terobosan baru dengan nama Facebook (www.thefacebook.com).
      Website tersebut luncurkan Mark dari kamar asrama bersama teman sekelasnya Dustin Moskovitz, Eduardo Saverin dan Chris Hughes. Facebook merupakan penyempurnaan dari Facemash dan berfungsi sebagai situs sosial yang memudahkan penggunanya untuk berhubungan dengan teman dan pengguna facebook lainya.
      Awal mula ia membuat Facebook adalah dengan membuat buku direktori mahasiswa online karena Universitasnya tak membagikan face book (buku mahasiswa yang memuat foto dan identitas mahasiswa di universitas itu) pada mahasiswa baru sebagai ajang pertemanan di antara mereka.
      Dengan modal yang ditanamkan berjumlah USD12,7 juta. Ini adalah investasi kedua yang masuk ke Facebook setelah sebelumnya (Juni 2004). dengan tambahan modal itu jelas memudahkan Mark dan kawan-kawannya mengembangkan Facebook dan mengganti domain-nya dari www.thefacebook.com menjadi www.facebook.com. Setelah itu jangkauan keanggotaan facebook diperluas menjadi internasional.
      Melesatnya bisnis Facebook membuat Zuckerberg pada tahun mendapatkan harta kekayaan yang luar biasa. Majalah Forbes menyebutkan kekayaan Zuckerberg sendiri mencapai USD1,5 miliar atau sekitar Rp13,5 triliun. Jumlah yang luar biasa besar saat itu, maka wajar jika majalah Forbes menobatkan Mark Zuckerberg sebagai The Youngest `Self-made’ Billionaire on the Planet.
      Setelah sekian tahun muncul, Facebook pun berinovasi dengan mengumumkan Libra sebagai mata uang digital miliknya dan membuat mata uang kripto kian populer di dunia. Namun, hal itu ditentang sejumlah negara termasuk Indonesia.
      Facebook pun sangat ambisius untuk meluncurkan mata uang ini. Pekan lalu, Facebook juga telah mengenalkan Libra ke publik. Pada semester pertama 2020 dan ditargetkan seluruh sistem mata uang digital ini bisa berjalan secara global.
      Dijelaskan Zuckerberg, Libra adalah mata uang global dan infrastruktur keuangan. Dengan kata lain, itu adalah aset digital yang dibangun oleh Facebook dan didukung oleh versi baru dari blockchain Facebook, teknologi terenkripsi yang digunakan oleh bitcoin dan mata uang kripto lainnya.
      Uang Libra ini juga disinyalir bakal banyak digunakan oleh orang-orang yang berada di negara maju. Dan nantinya mata uang Libra Coin ini bakal digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti bayar tagihan. Libra akan diluncurkan secara penuh selambat-lambatnya pada 2020.
    • By teknotekno
      CEO sekaligus pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, mengungkap alasan di balik rencana mengintegrasikan layanan Messenger, Whatsapp, dan Instagram. Menurutnya, rencana tersebut bakal memberikan keuntungan bagi pengguna.
      "Menurut saya, mengintegrasikan tiga layanan tersebut memberikan peluang yang lebih baik. Kami ingin membuat pengguna merasa lebih nyaman dalam mengakses ketiga layanan tersebut," kata Mark Zuckerberg
      Mark Zuckerberg menambahkan, penyatuan ketiga layanan itu dilakukan pada 2020 mendatang. Dia mengklaim rencana itu memudahkan pengguna untuk saling berkomunikasi. Namun, jangan bayangkan layanan Whatsapp, Messenger, dan Instagram bakal berada dalam satu platform.
      Bagaimana pun juga, Whatsapp, Instagram, dan Messenger merupakan tiga aplikasi berbeda dan memiliki fungsi masing-masing. Mark Zuckerberg menegaskan, integrasi ini justru bakal memberikan keamanan berlapis. Penyatuan layanan ini diklaim dapat menciptakan pengalaman menarik layaknya penggunaan iMessage.
      Singkatnya, setelah diintegrasikan, pengguna Whatsapp bisa bertukar pesan dengan pemakai Instagram, begitu pula sebaliknya. Pengguna Facebook juga bisa mengirim pesan ke orang yang hanya punya Whatsapp. Pesan yang dikirim itu aman karena terenskripsi.
      Selama ini, perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu menggunakan sistem enskripsi end to end. Sistem ini melindungi pesan agar tidak bisa dibaca orang lain, kecuali yang terlibat dalam percakapan. Kabar rencana pengintegrasian ini kali pertama diungkap oleh New York Times.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy