Jump to content
Guest Benar

Saya bukan Ahoker, Tapi saya tau ahok tidak bersalah

Recommended Posts

Guest Benar

Minggu kemarin kita tau Ahok di vonis 2 tahun penjara, dan banyak orang yang membela. Baru kali ini saya melihat ada orang divonis (ya meskipun nggak final) tapi banyak yang membela. Sampai sampai Adi MS juga turut ambil adil, dia sosok musisi Indonesia terbaik. 

Inilah kebeneran, kebeneran yang di putar balikan. Saya yakin betul Ahok tidak salah, tapi kita liat aja nanti Jakarta akan jadi seperti apa kedepannyal.

Share this post


Link to post
Bagikan di situs lain
Guest
Anda komentar sebagai tamu. Jika Anda memiliki akun, silakan sign in.
Balas topik ini...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoticons maximum are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Konten yang sama

    • Oleh berita_semua

      Berita duka dari rumah lembang berbarengan dengan divonisnya Ahok oleh pengadilan. Seorang security rumah Lembang yang bernama Gerard Umbu Samapati harus menghembuskan napas terkahir di usia 43 tahun dan meninggalkan tujuh orang anak.
      Berdasarkan informasi dari Usma yang juga sesama security di rumah Lembang, Gerard meninggal tak lama setelah menyaksikan berita divonisnya Ahok selama dua tahun.
      "Benar (meninggal dunia). Kaget dengar putusan hakim soal Ahok," katanya kepada merdeka.com, Selasa (9/5)
      Sejumlah timses perwakilan Ahok-Djarot dateng melayat ke rumah duka, dan menurut informasi mereka Gerard meninggal karena serangan jantung seusai mengetahui Ahok divonis oleh majelis hakim.
      Duh jadi sedih ya. Semoga diterima di sisi Tuhan.
    • Oleh berita_semua

      Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat sekaligus petahana berdasarkan hasil quick count hasil pemungutan suara dinyatakan kalah.
      Pemenangnya adalah pasangan nomor urut tiga, Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno.
      Hasil quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) menunjukkan pasangan Basuki dan Djarot hanya meraih 44,14 persen suara, sedangkan pasangan Anies dan Sandiaga meraih 55,86 persen suara.
      Data masuk sebanyak 96,29 persen.
      Hasil quick count Penelitian dan Pengembangan Harian Kompas menunjukkan pasangan Basuki dan Djarot hanya meraih 41,87 persen suara, sedangkan pasangan Anies dan Sandiaga meraih 58,13 persen suara.
      Data masuk sebanyak 94,7 persen.
      Kendati dinyatakan kalah, namun pemenang sah adalah yang akan diumumkan Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta berdasarkan hasil real count.
      Kekalahan pasangan petahana telah diprediksi sejumlah lembaga survei dan konsultan politik, sebelumnya.
      Saat pemungatan suara putaran pertama, pasangan Ahok, sapaan Basuki dan Djarot malah menang.
      Lalu, apa sebenarnya penyebab petahana kalah pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022?
      Peneliti dari lembaga survei sekaligus konsultan politik LSI Denny JA, Adjie Alfaraby dan Ardian Sopa pernah membeberkan sebelumnya.
      Berikut lima penyebab kekalahan pasangan petahana (incumbent) ini berdasarkan hasil riset LSI Denny JA yang dirangkum Tribun-Timur.com:
      1. Kesamaan Profil Pemilih
      Pendukung, termasuk partai politik pengusung pasangan nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni yang kalah pada putaran pertama lebih banyak mengalihkan dukungan kepada pasangan Anies dan Sandiaga.
      Hal ini didasari kesamaan profil pemilih.
      2. Kebijakan Tak Pro Rakyat
      Akibat kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang dinilai tak pro kepada rakyat.
      Kebijakan tersebut, antara lain berupa penertiban kawasan pemukiman dan reklamasi di pantai Jakarta Utara.
      3. Sentimen Anti-Ahok
      Faktor sentimen anti-Ahok karena kapitalisasi isu agama dan primordial.
      Ahok dianggap tak pas untuk memimpin pemerintahan DKI Jakarta karena bukan pemeluk agama yang mayoritas dipeluk warga DKI Jakarta.
      Berdasarkan asil riset LSI Denny JA, sekitar 40 persen pemilih yang beragama Islam di DKI Jakarta tidak bersedia dipimpin oleh Ahok yang non-Muslim.
      Mereka berupaya keras agar Ahok kalah dan tidak memimpin lagi DKI Jakarta.
      Selain itu, dia juga berasal dari kelompok etnis minoritas.
      4. Kasar dan Arogan
      Karakter Ahok yang kasar dan arogan.
      Sikap mantan Bupati Belitung Timur itu dianggap bukan tipe pemimpin yang layak memimpin Jakarta karena omongannya kerap dianggap kasar.
      Puncaknya, ketika dia blunder soal ayat suci Alquran.
      Belum lagi sikapnya yang dinilai tidak konsisten, suatu ketika mencerca partai politik dan hanya ingin maju lewat jalur independen.
      Namun, selanjutnya ia berjuang mencari dukungan partai politik.
      5. Kompetitor Baru
      Hadirnya kompetitor baru yang menjadikan pemilih memiliki alternatif dalam memilih pemimpin DKI Jakarta.
      Pasangan Anies dan Sandiaga, serta pasangan Agus dan Sylviana menjadi alternatif pemilih yang pro maupun kontra Ahok.
    • Oleh berita_semua

      Raja Juli Antoni, juru bicara tim pemenangan pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat mengatakan, survei internal menunjukan suara pasangan nomor pemilihan dua telah menyalip perolehan dukungan Anies-Sandi.
      "Artinya, kemenangan Ahok-Djarot sangat tergantung kinerja kader partai dan relawan. Kami meminta kepada seluruh kader partai dan relawan untuk bekerja bahu-membahu," kata Toni sapaanya lewat pesan singkat yang diterima, Jumat (14/4/2017).
      Dirinya berharap untuk tidak merasa sudah menang sehingga berleha-leha.
      "Terus bekerja keras mengetuk pintu rumah dan pintu hari rakyat agar memilih Ahok-Djarot demi keberlangsungan fasilitas dan jaminan sosial yang telah dinikmati rakyat saat ini," katanya.
      Menurutnya, Ahok-Djarot hanya akan kalah karena tiga hal.
      Pertama, Ahok Djarot akan kalah karena ketidak-netralan penyelenggara pemilu. Sanksi DKPP kepada ketua KPU adalah peringatan serius agara KPU bekerja secara independen, netral dan tidak berpihak.
      "KPU mesti memastikan panitia pemungutan suara di TPS mengerti tugas meraka sehingga semua pemilih Ahok-Djarot mendapatkan hak konstitusional mereka, tidak seperti pada putaran pertama lalu. Jangan sampai undangan (C6) tidak sampai kepada pendukung kami yang kemudian dijadikan alasan untuk tidak memilih atau boleh memilih pada jam terakhir namun ternyata surat suara habis," kata Toni.
      Kedua, money politics atau politik uang. Sudah banyak laporan masuk bahwa basis Ahok-Djarot diserang pembagian sembako dengan alasan pasar murah.
      "Nampaknya praktik money politics akan semakin gencar dilakukan menjelang tanggal 19 April. Kami meminta Bawaslu untuk tegas mengawasi lapangan jelang pemilihan agar proses demokrasi tidak dicederai hal kotor semacam itu," ujarnya.
      Ketiga intimidasi. Masih banyak forum-forum pengajian dan rumah ibadah yang dipergunakan untuk mengintimidasi pemilih Ahok-Djarot dengan mempergunakan isu SARA.
      "Rizieq Shihab salah seorang pendukung utama Anies-Sandi di cermahnya terakhir di Surabaya mengajak para pendukungnya, pesilat dan jawara untuk datang ke Jakarta dengan alasan pengamanan yang sebenarnya merupakan bagian dari intimidasi. Namun saya percaya pendukung Ahok-Djarot sudah kuat melawan intimidasi dari hari ke hari. Saya berharap pihak keamanan dapat mengantipasi intimidasi dan teror yang akan menciderai proses demokrasi," kata Toni.
      Sumber: Tribunnews
    • Oleh berita_semua
      Seluruh kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) bertugas untuk memenangkan pasangan calon gubernur-wakil gubernur nomor pemilihan dua DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017.
      Terutama bagi kader yang merupakan anggota DPRD, DPR RI, serta menjadi Bupati, Wali Kota, dan Gubernur. Anggota DPR RI dari fraksi PDI-P, Charles Honoris mengatakan tiap anggota dewan telah diberikan wilayah pengampuan. Charles sendiri, wilayah pengampuannya di Kecamatan Kebon Jeruk.

      "Jadi saya punya tugas untuk bisa memenangkan (Ahok-Djarot) di Kebon Jeruk," kata Charles, di Jalan Cemara Nomor 19, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (7/3/2017).
      Tak hanya anggota dewan yang berasal dari daerah pemilihan DKI Jakarta, namun anggota dewan fraksi PDI-P dari seluruh Indonesia bertugas memenangkan Ahok-Djarot.
      Selain itu, PDI-P juga menurunkan kadernya yang menjabat Bupati, Wali Kota, dan Gubernur untuk memenangkan Ahok-Djarot.
      "Jadi kepala daerah, seperti Bupati dan Wali Kota dari PDI-P datang ke Jakarta, serta pimpinan DPRD untuk bekerja demi kemenangan Ahok-Djarot," kata Charles.
      Ada konsekuensi yang akan diterima tiap kader, jika Ahok-Djarot kalah di wilayah pengampuan.
      "Jadi itu nanti ada penilaian dari partai dan ibu Ketum (Ketua Umum Megawati Soekarnoputri). Pastinya ada dan bisa menjadi bahan evaluasi kinerja kader," kata Charles.
      Hasil survei
      Dari dua hasil survei yang diselenggarakan oleh lembaga survei Median dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), elektabilitas Ahok-Djarot menempati posisi kedua setelah pasangan calon gubernur-wakil gubernur nomor pemilihan tiga DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
      Elektabilitas Ahok-Djarot sebesar 39,7 persen dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebesar 46,3 persen. Sedangkan 14 persen responden lainnya masih undecided atau menyatakan belum memutuskan.
      Responden dalam survei ini sejumlah 800 warga DKI Jakarta yang mempunyai hak pilih. Survei dilakukan pada rentang waktu dari tanggal 21 sampai 27 Februari 2017, dengan margin of error sebesar plus minus 3,4 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. (Baca: )
      Peneliti menentukan sampel dalam survei ini dengan teknik multistage random sampling dan proporsional atas populasi di seluruh kotamadya di Jakarta dan faktor gender. Sumber pendanaan survei berasal dari dana mandiri pihak Median.
      Sedangkan berdasarkan survei LSI Denny JA terkait pasangan cagub-cawagub yang akan bersaing pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017, elektabilitas Anies Baswedan-Sandiaga Uno dinyatakan mencapai 49,7 persen, sedangkan elektabilitas Ahok-Djarot 40,5 persen.
      Adapun survei tersebut dilakukan pada periode 27 Februari sampai 3 Maret 2017 terhadap 440 responden dengan cara tatap muka. Metode yang digunakan yakni multistage ramdom sampling, dengan margin of error survei ini kurang lebih 4,8 persen. Survei diklaim dibiayai anggaran internal LSI.
  • Kontributor Populer

×

Important Information

Kami menggunakan cookie. Mereka tidak menakutkan, tetapi beberapa orang berpikir mereka. Terms of Use & Kebijakan Privasi