Jump to content

Spectre, judul film James Bond ke-24


Sam

Recommended Posts

  • Verified Account

Spectre akan menjadi judul film James Bond yang ke-24 dengan sutradara Sam Mendes dan Daniel Craig sebagai 007.

 

Sam Mendes mengumumkan judul film itu dalam peluncuran di studio Pinewood di Buckhinghamsire, tempat pengambilan foto resmi hari Senin mendatang.

 

Craig akan memainkan peran sebagai 007 untuk keempat kalinya dalam film yang akan diluncurkan di Inggris pada 23 Oktober 2015.

 

Pemain lain yang diumumkan akan tampil termasuk pemain Sherlock Holmes, Andrew Scott, aktor Guardians of the Galaxy Dave Bautista.

 

Aktris Italia Monica Belluci dan aktris Prancis Lea Seydoux akan menjadi "Bond girls" yang baru dengan nama dalam film masing-masing Lucia Sciarra dan Madeleine Swann.

 

Aston Martin DB10

 

Peraih Oscar dua kali Christoph Waltz akan memainkan karakter yang dinamakan Oberhauser.

 

post-1-0-80250300-1417910936_thumb.jpg

Daniel Craig dan peraih Oscar dua kali Christoph Waltz yang akan berperan dalam Spectre.

 

Nama karakter itu sama dengan mantan instruktur ski Bond namun sejumlah laporan menyebutkan Waltz akan memerankan musuh nama Bond, Ernst Stavro Blofeld.

 

Spectre - Special Executive for Counter-intelligence, Terrorism, Revenge and Extortion - adalah nama sindikat kejahatan internasional.

 

Organisasi ini muncul dalam film Bond pada tahun 1960-an.

 

post-1-0-20413200-1417910976_thumb.jpg

Mobil Aston Martin DB10 yang akan digunakan Bond dalam petualangan terbarunya.

 

Acara pengumuman judul film James Bond ini juga termasuk peluncurkan Aston Martin DB10 yang akan digunakan Bond dalam film terbarunya.

 

Perusahaan mobil ini sudah lama terkait dengan seri James Bond, dan dimulai dengan Goldfinger pada 1964.

Link to comment
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By status_cintaaa
      Ketika melihat sebuah film Indonesia dilabelkan sebagai biografi, lalu dikaitkan lagi dengan unsur 'kisah sukses' dan 'menginspirasi', mungkin tidak terbayang kemasan seperti yang dilakukan film Sundul Gan: The Story of Kaskus. Digarap oleh Naya Anindita sebagai debut penyutradaraan film panjangnya, Sundul Gan dikemas dengan ringan dan lincah, seakan mematahkan kebiasaan bahwa film yang 'menginspirasi' haruslah melodramatis menggetarkan hati, berisi kata-kata berat makna, atau bahwa film biografi harus menunjukkan hanya sisi-sisi terbaik subjeknya.
      Sundul Gan memang masih berpegang pada sebuah kisah sukses, dalam hal ini upaya sepasang sahabat dalam membesarkan Kaskus, salah satu situs forum terpopuler di Indonesia. Film ini pun sajikan beberapa highlight bagaimana Kaskus yang tadinya hanya proyek tugas kuliah di tahun 1999, menjadi sebuah perusahaan rintisan (start up) yang menarik minat para pemodal besar di era 2000-an.
      Namun, jelas kisah tersebut jadi kurang menarik ketika umumnya penonton sudah tahu akhirnya akan seperti apa: Kaskus kini sudah aktif selama 17 tahun dengan jutaan pengguna. Mungkin karena itu pula, Naya bersama penulis skenario Ilya Sigma dan Priesnanda Dwisatria lebih berfokus pada pasang surut persahabatan sekaligus kemitraan bisnis dari dua sosok penting di Kaskus: Andrew "Mimin" Darwis (Albert Halim) dan Ken Dean Lawadinata (Dion Wiyoko).
      Di film ini, Andrew diperkenalkan sebagai seorang yang passionate terhadap teknologi informasi, dia juga yang turun langsung mengurusi Kaskus dan dikenal para penggunanya dengan sapaan Mimin berasal dari kata administrator. Sementara Ken diperkenalkan sebagai pemuda pemalas maniak video game yang melihat peluang bisnis besar dari Kaskus. Andrew dan Ken ternyata masih punya hubungan keluarga, dan itulah yang membuat mereka cepat akrab saat sama-sama kuliah di Seattle, Amerika Serikat. Tahun 2008, Ken mengajak Andrew untuk kembali ke Jakarta untuk membangun Kaskus jadi lebih besar.

      Di Jakarta, mereka berbagi tugas. Andrew masih terus mengembangkan Kaskus dari segi teknologi dan kontennya, sementara Ken yang ke sana ke mari mencari investor potensial. Di sinilah persahabatan mereka diuji. Andrew kerap merasa ditinggal sendirian dalam mengurusi Kaskus, dan Ken berusaha seimbangkan cita-citanya untuk Kaskus, serta rencana pernikahannya dengan Tika (Pamela Bowie) yang berjalan bersamaan. Siapa yang paling pantas dalam mewakili Kaskus ke luar pun ikut menambah kompleksitas hubungan Ken dan Andrew. 
      KESAN JUJUR
      Cerita dan karakterisasi Sundul Gan sepertinya memang dirancang untuk lebih dekat dengan kalangan dewasa muda usia 20-an hingga 30-an, khususnya yang akrab dengan teknologi. Ini terutama timbul dari karakterisasi dan interaksi hubungan antara Ken dan Andrew, serta problem-problem yang diangkat. Film ini juga tak segan memasukkan umpatan dan makian, baik yang diucapkan serius ataupun bercanda, tetapi masih dalam porsi tak berlebihan.
      Bahkan, ditunjukkan pula sifat dan sikap dari kedua tokoh yang mungkin sulit dikatakan terpuji—sebut saja Andrew yang terkesan tak acuh pada kehidupan sosial dan sempat besar kepala dengan kepopuleran Kaskus, atau Ken yang jago ngeles dan sempat 'memperdaya' Andrew supaya mau kembali ke Jakarta.
      Terlepas itu benar atau hanya dramatisasi, unsur-unsur tersebut berperan penting dalam membuat film ini terkesan lebih hidup serta nyata. Film ini tak berusaha mengglorifikasi kehebatan dan keberhasilan kedua tokohnya, melainkan menunjukkan mereka memang manusia biasa seperti penontonnya. Ini menarik karena kedua sosok aslinya juga turut terlibat di produksi film ini, namun membiarkan beberapa hal yang berisiko menurunkanimage personal mereka untuk ditampilkan di film. Ini justru berdampak baik dalam mengikis kesan palsu dari cerita yang diangkat, sehingga film ini pun jadi terasa jujur.
      Believability ini pula yang membuat film ini cukup mudah dinikmati tuturannya, terlepas dari kemasannya yang cukup komikal dan bercorak komedi. Film ini dibuka dengan perkenalan oleh tokoh Ken dan Andrew berbicara langsung kepada penonton, lalu ada pula berbagai animasi grafis khas video game yang seakan menjelaskan adegan-adegan yang sedang ditampilkan. Penggunaan efek digital dan CGI di sini mungkin memang belum sempurna, tetapi karena dibangun sebagai komedi, ditambah penataan gambar yang cerdik, kekurangan ini tak sampai merusak ceritanya. 

      Film ini pun memasukkan berbagai trivia yang mungkin akrab bagi para pengguna Kaskus, termasuk bahwa awalnya banyak pengguna menggunakan Kaskus untuk bertukar materi pornografi, jenis-jenis komunitas di Kaskus yang kadang absurd, hingga titik dramatis ketika situs ini diretas. Inilah cara yang digunakan film ini untuk membuat kisah ini jadi hipdan fun, menarik bagi generasi target penontonnya, khususnya yang kenal Kaskus.

      Di sisi lain, bahwa film ini berpotensi akan lebih terkoneksi dengan kaum muda pengguna teknologi menjadi salah satu problem utama dari Sundul Gan. Film ini jadi berpotensi asing bagi demografi di luar kelompok tadi. Dengan fokus cerita pada persahabatan Ken dan Andrew, timbul kesan bahwa pembuat film ini mengasumsikan semua penontonnya sudah kenal apa itu Kaskus dan berbagai istilah teknologi informasi lainnya, sehingga hanya dijelaskan sambil lalu. 

      Meski beberapa kali ditunjukkan juga dampak keberadaan Kaskus, film ini tidak terlalu menjelaskan apa maksud dari 'gedein Kaskus' selain kantornya jadi lebih besar, demikian pula apa yang bisa didapat oleh investor sehingga mereka tertarik untuk terlibat. Memang tak harus detail, tapi gambaran besarnya tetap diperlukan, sekaligus untuk memperdalam seberapa pentingnya Kaskus bagi Andrew dan Ken, sehingga keduanya tidak saling meninggalkan sekalipun sering terjadi adu debat.

      Terlepas dari itu, Sundul Gan tetaplah sebuah film yang mampu tampil fresh untuk jenis biografi. Fokus penceritaan pada persahabatan Ken dan Andrew juga disampaikan dengan cukup utuh dan dituturkan dengan lancar. Performa pemainnya juga mendukung ini, baik dari Dion yang tampil prima seakan tanpa beban, juga Albert—walau kadang masih terlihat seperti impersonating mampu menyampaikan emosinya dengan wajar. Film ini memang belum sempurna, tetapi tidak berarti gagal, terutama dalam menyajikan materi cerita yang terkesan klise menjadi cukup berbeda dan tetap menarik.
    • By RendyGunawan

      Marvel akhirnya mengakhiri rumor kehadiran sosok Spider-Man dalam film terbaru mereka, Captain America: Civil War yang belum lama ini merilis trailer keduanya di halaman youtube mereka, Kamis [10/3].
      Spider-Man secara mengejutkan muncul di sceneterakhir dalam trailer tersebut dengan mengambil senjata dari Captain America yang sedang berhadapan dengan Iron-man.
      Film ini memperlihatkan perseteruan antara Captain America dengan Iron Man yang membuat kelompok Avengers terpecah karena perbedaan prinsip di antara keduanya.
      Di kubu Captain America sendiri didukung oleh Ant-man, Scarlett Witch, Hawkeye, Winter Soldier, dan Falcon. Sedangkan Black Widow, Vision, Black Panther, War Machine, dan Spider-Man terdapat dalam kubu Iron-Man.
      Film yang akan dirilis pada 6 Mei mendatang tersebut disutradarai oleh Anthony Russo dan Joe Russo yang sebelumnya juga membuat Captain America: The Winter Soldier.
       
      Tonton videonya disini 
       
    • By eka

      Deadpool berkekuatan super, tapi apakah dia pahlawan?
      Deadpool adalah film pahlawan super dari Marvel yang memasukkan unsur-unsur sifat mulia yang biasanya memang berlebihan dalam film seperti ini, tetapi dengan sedikit elemen nyentrik yang masih terkendali.
      Ini adalah film yang flamboyan, tak lebih dari hiburan sintetis dengan keunikan komedi gelap.
      Tokoh utamanya, Wade Wilson (Ryan Reynolds), memakai kostum yang mirip tiruan kostum Spider-Man, tapi Anda bisa lihat pakaiannya itu rada kotor, dan kelakuannya lebih buruk lagi.
      Ketika Wade bicara (kurang lebih bisa dilihat sepanjang film), dia kedengaran seperti Jim Carrey 20 tahun lalu – seperti gabungan tokoh Ace Ventura dan The Mask yang comel dan senang mengerjai orang – digabungkan dengan sikap keras kepala dan sok tahu seperti tokoh di acara Comedy Central Celebrity Roast, ditambah lagi sedikit gaya gangsta rap.
      Satu orang ini setara dengan satu pasukan mulut besar yang melontarkan olok-olok rada cabul yang tak pantas ditulis di sini, tapi juga cerdas di saat yang sama.
      Sebelum menjatuhkan hukuman kepada para penjahat dengan memukuli mereka, ia sempat-sempatnya bilang, “Saya akan perlakukan kamu seperti apa yang dilakukan oleh Limp Bizkit ke dunia musik di akhir 90-an.”
      Penonton tak hanya menghargai kecerdasan dialog yang tajam ini, tapi juga penilaiannya yang akurat terhadap dunia budaya pop.
      Sebagai bekas pembunuh dalam ketentaraan Amerika, Wade adalah seorang yang terluka, nyentrik bahkan sedikit gila – jenis tokoh yang tak mungkin Anda bayangkan akan diperankan oleh Ryan Reynolds yang simpatik.
      Namun Reynolds, yang telah banyak dipakai – dengan buruk – oleh film bergenre pahlawan super, siap untuk peran seperti itu lagi tanpa membuat kesalahan serupa.
      Dalam film Green Lantern ia membuat kesalahan dengan tampil sama sekali jauh dari keren, tapi di Deadpool ia melontarkan rentetan ocehan dengan sikap yang seakan tak peduli apakah ia masih hidup atau sudah mati, dan juga dengan kilasan sikap nihilisme yang ia perlihatkan seperti menular.
      Ia menampilkan karakter dengan akting seperti tak mempedulikan apakah ia yakin berada dalam kebenaran atau tidak.
      Di balik topeng

      Deadpool mengalami siksaan berat sebelum menjadi manusia super.
      Dalam kisah fantasi pahlawan super, ada tradisi tokoh-tokoh yang menggabungkan kebaikan dan kejahatan –Hulk, Joker – yang menemukan kekuatan fisik dan spiritual mereka ketika berada dalam kesakitan; santo pelindung mereka mungkin adalah Phantom of the Opera.
      Dalam Deadpool, Wade bergabung dalam kelompok orang-orang aneh yang mendapat kekuatan dari sisi gelap mereka, tetapi yang membuat ia lebih dari sekadar tokoh gelap dunia komik yang dipoles mengkilap adalah film ini tak sekadar menampilkan kosmetik bagi siksaan yang harus dijalaninya.
      Gambaran penyiksaan itu benar-benar membuat penonton bisa merasakan kesakitannya.
      Bahkan sebelum peralihannya, Wade sudah merupakan tokoh sangar yang temperamental.
      Ia pacaran dengan Vanessa (Morena Baccarin), yang sepadan dengan sikapnya, dan mereka terlibat dalam romansa - yang mungkin merupakan pertamakalinya dalam sejarah film – di mana perilaku seks sadomasokis ditampilkan dengan simpatik.
      Baccarin yang seksi berhasil memunculkan semangat cinta yang biasanya tak tampak dalam film superhero. Ketika hubungan yang ideal ini terputus oleh datangnya diagnosa kanker paru-paru yang diderita Wade, kita seperti bisa merasakan kutukan yang datang kepadanya.
      Dengan tak ada lagi yang tersisa, Wade bergabung dengan program pahlawan super 'mutant' bawah tanah yang bisa menjanjikan kesembuhan penyakitnya dan memberinya kekuatan. Syaratnya? Ia harus melewati siksaan yang terkutuk.
      Pimpinan eksperimen ini seorang sadis bernama Ajax (Ed Skrein), yang terus menciptakan jenis siksaan fisik baru, maka tubuh Wade, sebagai responnya, akan memilih antara “bermutasi atau mati”.
      Adegan yang menyeramkan ini memberi film Deadpool sentuhan horor di balik permukaan yang penuh humor.
      Wade selamat, dengan tubuh yang tak bisa terluka tapi juga dengan luka di wajah yang membuatnya tampak seperti anak asuhan tokoh Freddy Krueger dari film Nightmare on the Elm Street.
      Kekuatannya memang super, tapi apakah Deadpool seorang pahlawan? Ia direkrut oleh dua orang anggota X-Men namun tak punya minat untuk bergabung dengan mereka.
      Dan sukurlah ia memilih begitu! Deadpool adalah cerita asli yang tak terlalu berat dan alasan utamanya adalah karena Wade tak punya agenda untuk menyelamatkan dunia.
      Ia hanya ingin memburu Ajax, memaksanya untuk memperbaiki wajahnya, lalu mungkin membunuhnya.
      Sutradara film ini, Tim Miller – yang baru pertamakali menyutradarai – menampilkan kredit pembuka yang bergaya mirip majalah humor Mad– salah satunya misalnya, “Disutradarai oleh Peralatan yang Kelewat Mahal” – dan dia menggunakan music rock lembut yang cukup mengejutkan dari Wham! dan Peter Cetera untuk mendampingi adegan slow-motion.
      Ia juga terus membuat tokoh Deadpool “menabrak dinding keempat”: tidak hanya dengan teknik bicara langsung kepada penonton tetapi juga dengan mengolok-olok film Marvel lainnya.
      Ketika Deadpool menuju peperangan, senjata yang dipilihnya adalah sepasang pedang ninja yang ia pakai untuk memotong-motong penjahatnya, dan ia cukup terus terang tentang apa yang dilakukannya.
      Ini bukan sekadar perang melawan kejahatan, tetapi juga pembunuhan.
      Kekurangan film yang isinya melulu soal balas dendam ini adalah, terasa kurangnya risiko pertaruhan sang tokoh.
      Deadpool berhasil mengajak penonton melihat trauma yang dialami Wade tapi kemudian kita dibawa melaju oleh sikapnya yang nyeleneh itu.
      Suasana sinis film itu akhirnya seperti berkata: ia bukan pahlawan seperti yang kita impikan, tapi ia adalah orang yang pantas kita dapatkan.
    • Guest News
      By Guest News
      Majalah Forbes umumkan daftar aktor termahal 2015. Ariono Arifin mengulasnya untuk pemirsa VOA Trending Topic berikut ini....
       
       
    • By RendyGunawan

       
      Universal Pictures menarik film Steve Jobs dari 2.000 bioskop. Biopik teranyar tentang pendiri Apple itu rupanya tak laku di pasaran.
      Sejauh ini, film tersebut hanya meraup pendapatan 16,7 juta dollar AS atau sekitar Rp 226 miliar. 

      Padahal, biaya produksi film ini telah menghabiskan dana 30 juta dollar AS atau setara Rp 407 miliar.
      Hal ini bisa dibilang ironis. Pasalnya,Steve Jobs digadang-gadang bakal masuk nominasi Oscar. Resensi film garapan Danny Boyle dan Aaron Sorkin tersebut juga bernada positif.
      Bahkan, mitra Jobs yang sama-sama mendirikan Apple, Steve Wozniak, sempat memuji Steve Jobs. 

      "Saya merasa seperti benar-benar menonton Steve Jobs dan semua yang berada di sekitar dia," kata Wozniak.

      Sangat idealis
      Lalu, apa gerangan di balik minimnya minat pasar terhadap Steve Jobs?
      Menurut Senior Media Analyst dari firma penelitian Rentrak, Paul Dergarabedian,Steve Jobs dibuat sangat idealis dengan cita rasa seni berkualitas tinggi sebagai sebuah film biopik.
      Namun, penggodoknya luput memikirkan bahwa penonton mainstream belum tentu bisa menerima cara penyampaian film yang demikian. Tak heran jika biopik pertama Jobs berjudul Jobs yang dirilis 2013 mendapat antusiasme pasar yang tak jauh beda dengan Steve Jobs.
      Padahal, Jobs menuai kritik dari para pengamat film dan orang-orang di sekitar Jobs. Sementara itu, Steve Jobs dibuat dengan melewati proses penggarapan yang lebih matang. Puji-pujian dari para kritikus pun membanjirinya.
      "Sering kali, film berkualitas dengan intelektualitas tinggi seperti Steve Jobssulit mendapat penerimaan dari pasar mayoritas,"' kata Dergarabedian.
      Walaupun begitu, Dergarabedian masih optimistis Steve Jobs mampu masuk dalam jajaran nominasi Oscar. "FilmSteve Jobs sangat bagus. Performanya di box office seharusnya tak berpengaruh pada potensinya di Oscar," kata dia.
      Meski demikian, belajar dari yang sudah-sudah, film-film yang tak mendapat perhatian massa kerap luput pula dari pikiran panitia Oscar.
×
×
  • Create New...