Jump to content
c0d1ng

Ilmuwan Gunakan Bakteri Atasi Pencemaran Lingkungan

Recommended Posts

ilmuwan-gunakan-bakteri-atasi-pencemaran-lingkungan-U9DiDchO7G.jpg.7c3018db72692324f6f067d3ba111ec7.jpg

Produk yang mengandung antimikroba Triclosan telah digunakan sejak 1964, diklaim menjadi salah satu dari 10 pencemaran lingkungan teratas di sungai negara bagian Amerika Serikat, Nevada. Akibatnya, produk tersebut dapat mengganggu sistem endokrin margasatwa dan menyebabkan efek toksik terhadap reproduksi dan perkembangannya.

Sebuah studi baru di University of Nevada, telah menemukan cara potensial untuk mengurangi adanya antimikroba yang juga terkait dengan masalah resistensi antibiotik.

"Hasilnya menjanjikan bahwa kita mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana triklosan terdegradasi di lingkungan alami, dan berpotensi menemukan cara untuk menghilangkan kontaminan dari lingkungan dan dalam jangka panjang melawan masalah resistensi antibiotik," kata Yu Frank Yang, Asisten profesor teknik lingkungan di Universitas Nevada dikutip dari Eurekalert.

Triclosan biasanya digunakan untuk hal-hal seperti pembersih tangan, deterjen, sabun dan cat, yang dapat terdegradasi lebih cepat di lingkungan melalui proses kombinasi bakteri pengurang logam dan bahan organik alami.

Tim yang menguji matriks dari bakteri strain yang dicampur dengan bahan organik untuk mengetahui kondisi triclosan yang terdegradasi paling cepat. Para peneliti juga menemukan sebuah campuran yang mengurangi waktu penyebaran triclosan menjadi sekira 10 jam.

Hasil keseluruhan ditentukan oleh konsentrasi bahan organik aktivitas mikroba dan kimia air. Penelitian tersebut masih memerlukan studi dan pengembangan lebih lanjut, terlebih faktor biaya yang dibutuhkan juga tak sedikit.

Sebagai informasi, Yang dan timnya telah mempresentasikan proyek ini dan pekerjaan lainnya dalam sembilan presentasi di pertemuan musim semi American Chemical Society di San Francisco, California pada awal April.

Share this post


Link to post
Bagikan di situs lain

Buat akun atau masuk untuk berkomentar

Anda harus menjadi anggota untuk memberikan komentar

Buat sebuah akun

Mendaftar untuk account baru dalam komunitas kami. Mudah!

Daftarkan akun baru

Masuk

Sudah mempunyai akun? Masuk disini.

Masuk Sekarang


  • Konten yang sama

    • Oleh News
      Pesawat tanpa awak (drone) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di banyak wilayah dunia. Dengan semakin banyaknya drone yang terbang, kemungkinan tabrakan antar drone atau dengan pesawat terbang lain menjadi masalah serius, karena itu para ilmuwan mencoba mencari solusinya.
       
    • Oleh sandyiktibal

      Apa yang dirasakan manusia saat akan meninggal? Ilmuwan berupaya menjelaskan apa yang dirasakan ketika saat tersebut tiba.
      Ajal adalah sesuatu yang dialami manusia sekali seumur hidupnya dan sangat jarang kita mendengar kesaksian bagaimana saat itu tiba. Kendati begitu ilmuwan dari The American Chemical Society membuat video mengenai apa yang dirasakan saat kematian tiba.
      Menurut asosiasi tersebut, menyaksikan seseorang dikejar-kejar pembunuh yang membawa kampak dalam film horor menciptakan perasaan yang sama seperti Anda yang tengah dikejar pembunuh tersebut.
      Dalam video tersebut ilmuwan The American Chemical Society menjelaskan bagaimana perubahan kimia dalam otak beberapa saat sebelum seseorang dibunuh oleh pembunuh berkampak.
      Rasa takut - seperti dijelaskan ilmuwan - merupakan respon kognitif yang memperingatkan kita saat berada dalam bahaya. Dari berbagai sudut pandang ilmuwan medis, Anda bisa meninggal karena ketakutan.
      Rasa takut tersebut dikirimkan ke bagian otak yang disebut Thalamus dimana pesan itu menjelaskan kepada tubuh bahwa kita dalam kondisi bertarung.
      "Saat sinyal rasa takut itu mencapai otak di bagian periaqueductal, kondisi itu memerintahkan otak untuk bersiaga," papar ilmuwan.
      Lalu mengapa kita berteriak saat kita ketakutan? Ilmuwan menjelaskan bahwa perilaku tersebut merupakan respon otomatis dari tubuh. Kita akan berusaha memberitahu orang lain dengan berteriak sekaligus menyatakan apa yang tengah dirasakan dengan harapan mendapatkan bantuan.
      "Berbeda dengan saat kita berbicara biasa, suara teriakan yang diterima telinga langsung menuju daerah Amygdala dimana itu adalah pusat darurat otak. Hal itu seperti halnya seseorang yang berteriak berusaha berbagi dengan Anda bagaimana kondisi otaknya," jelas ilmuwan.
      Saat pembunuh berkampak dalam film horor tersebut berhasil menangkap korban dan membunuhnya secara brutal serta menghentikan teriakan otomatis tadi.
      Rasa sakit menurut ilmuwan merupakan perasaan yang sangat berbeda dari sentuhan dan rasa tersebut memberitahukan tubuh bahwa apa yang baru terjadi tidak boleh terulang.
      Dengan mengasumsikan tidak terjadi kerusakan otak, sesuatu yang menarik terjadi saat ajal menjelang. Ketika jantung berhenti berdenyut dan Anda tak lagi bernafas saat itulah yang disebut kematian klinis.
      Ketika itu otak masih terus bekerja dan memasuki kondisi aktivitas perseptual-neural. Langkah terakhir dari kematian adalah saat otak berhenti bekerja dan itu yang disebut kematian biologis. Ketika itu seseorang benar-benar disebut meninggal dunia.
    • Oleh News
      Arief telah bekerja di Orion Genomics sejak lulus program pasca doctoral dari Clemson University Genomics Institute tahun 1999.

      Muhammad Arief Budiman, seorang ilmuwan senior di Orion Genomics, perusahaan bio teknologi di St. Louis, Missouri berhasil mengundang rasa kagum rekan kerjanya.
      Jared M. Ordway, Phd., Wakil Direktur Riset dan Pengembangan Orion Genomics mengatakan, "Arief punya talenta luar biasa sebagai seorang ilmuwan, dan ia adalah salah satu ilmuwan paling berbakat yang pernah bekerjasama dengan saya. Ia punya keahlian memecahkan masalah yang tidak dapat dilakukan orang lain, dan membantu orang lain untuk mengerjakannya. Arief benar-benar menggalinya dan membedah masalahnya hingga akhirnya berhasil dikerjakan."
      Arief telah bekerja di perusahaan ini sejak lulus program pasca doctoral dari Clemson University Genomics Institute tahun 1999.
      "Sebagai senior scientist, saya lebih ke menyiapkan genome. Jadi genome itu ilmu dispilin yang mempelajari gen-gen, apakah itu di tanaman, apakah itu di manusia untuk kanker misalkan. Jadi saya lebih ke men-setup, kemudian menyiapkan DNA-DNA yang akan kita analisa untuk gen-gen nya, sehingga kita bisa mengetahui mana gen-gen yang bermanfaat untuk tanaman, atau penanda untuk penyakit kanker dan lain sebagainya," ujarnya.
      Arief kini banyak terlibat dalam pengembangan tes kelapa sawit untuk mengetahui kandungan minyak yang dimiliki sejak usia dini. Ia memulai program pemetaan gen-gen kelapa sawit sejak 10 tahun yang lalu.
      Nathan D. Lakey, MBA, Presiden & CEO Orion Genomics, mengatakan, "Selama sepuluh tahun terakhir, Arief telah memimpin tim sains yang membuat banyak terobosan dan terobosan ini akan dikomersialisasikan di Indonesia oleh Orion Bio Science, sebuah perusahaan di mana Arief adalah presidennya.
      Bukan hanya kelapa sawit, menurut Arief, banyak tanaman asli Indonesia dapat mengambil manfaat dari teknologi genomics, seperti tanaman Akasia yang digunakan untuk industri bubur kertas, serta tanaman tebu.
      "Kita terletak di antara dua benua, Asia dan Australia, dengan kekayaan alam yang hebat sekali dan memang benar sebetulnya itu, dan salah satu cara, salah satu teknologi yang bisa memining, misalkan enzim-enzim yang ada, kemudian kekayaan hayati yang ada itu, salah satunya adalah dengan teknologi genomics. Saya kira banyak orang yang kompeten, kemudian perlu disinergiskan saja dan pemerintah harus benar-benar serius ya, serius untuk menyediakan dana dan untuk memberikan tempat untuk mereka berkarya," tambahnya.
      Arief sendiri melihat keberadaannya di Amerika dapat membantu mengurangi kesenjangan informasi dan kemajuan teknologi yang amat cepat.
      Bapak tiga putri yang bersama timnya juga mengembangkan tes untuk mendeteksi penyakit kanker usus ini berharap ilmu yang dimilikinya dapat memberi manfaat bagi umat manusia.
      "Ketika kita bekerja dengan DNA, ini suatu hal yang mungkin kita tidak bisa melihat secara langsung, secara makro gitu ya, tapi saya merasakan apa yang saya lakukan itu, saya berharap semoga kita menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain," ujarnya menutup wawancara dengan tim VOA. (www.voaindonesia.com)
    • Oleh c0d1ng

      Salah seorang ilmuwan yang bertanggungjawab atas demosi Pluto dan tidak lagi dianggap sebagai planet dalam sistem tata surya kita, kemungkinan telah menemukan pengganti planet itu.
      Dua astronom dari California Institute of Technology, Mike Brown dan Konstantin Batygin telah mengolah sejumlah angka dan mengatakan mereka yakin telah menemukan sebuah planet raksasa yang letaknya terlalu jauh untuk bisa dijangkau oleh gravitasi matahari.
      Para ilmuwan mengatakan mereka belum melihat planet itu tetapi telah menemukan bahwa ada sesuatu yang mereka sebut “planet nyentrik yang jauh” kini sedang mendorong sekelompok kecil obyek di dalam tata surya.
      Para ilmuwan tahu – akibat dampak gravitasinya – planet ini sangat besar, sedikitnya 10 kali lebih besar dari bumi atau hampir sebesar Neptunus.
      Planet ini belum diberi nama tetapi dikatakan bahwa planet itu bisa dilihat lewat teleskop dalam beberapa tahun mendatang.
  • Kontributor Populer

×

Important Information

Kami menggunakan cookie. Mereka tidak menakutkan, tetapi beberapa orang berpikir mereka. Terms of Use & Kebijakan Privasi