Jump to content
MariaAngeline

UNTUK PARA IBU, HATI HATI UNGGAH FOTO ANAK KE SOSIAL MEDIA

Recommended Posts

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, sebagai orang tua mungkin kita menjadi sering lupa dalam menjaga privasi di sosial media. Di sisi lain, sosial media memang memudahkan kita dalam menerima dan memberi informasi kepada teman terdekat hingga yang tak kenal sekalipun. Facebook contohnya, kebanyakan orangtua lebih memilih mengunggah foto anaknya dibanding foto orangtuanya sendiri.

Masih ingat kasus seorang remaja yang dituduh telah menghina Kota Bandung dengan kata-kata kotornya di Twitter? Ya, kasus yang telah dilaporkan ke polisi oleh Wali Kotanya langsung ini sempat heboh di dunia maya, hingga terungkaplah bahwa foto orang pada akun bermasalah tersebut bukan foto asli pelaku. Dari kasus ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kita tidak boleh sembarang mengupload sebuah foto di sosial media, jika yang sopan saja sudah disalahgunakan bagaimana dengan foto yang kurang sopan?

Sebaiknya orangtua kini lebih bijak dalam mengupload foto anak di sosial media, mengupload foto tanpa diseleksi lebih dulu bisa berdampak negatif di antara bahayanya adalah menjadi sasaran pelaku pedofil dan penculikan anak. Lalu, apa yang harus diperhatikan sebelum mengupload foto ke sosial media?

Perhatikan Pengaturan Privasi

Di Facebook misalnya, Anda dapat mengatur siapa saja yang bisa melihat foto atau status yang diposting, hanya untuk diri sendiri, keluarga, teman atau publik. Untuk photo anak lebih baik hanya kalangan teman atau anggota keluarga saja yang bisa melihat.

Tidak Memasang Foto Anak Tanpa Busana

Siapa yang tidak gemas jika melihat anak balita yang tengah mandi atau tanpa busana? Tentu semua orang menyukai foto bayi yang terlihat lucu saat mandi. Tapi ternyata, mengupload foto balita tanpa busana atau hanya memakai pakaian dalam sangat tidak disarankan. Karena ini akan membahayakan anak sendiri, anak bisa menjadi target dari pelaku pedofil atau predator.

Meski masih balita bukan berarti bisa bebas mengabadikan semua momen dan mengunggah fotonya di sosial media. Sebaiknya dipikir ulang jika ingin mengunggahnya, pilihlah foto yang memang sopan dan tidak memancing tindak kriminal.

Hindari Memasang Status Lokasi

Tidak jarang para orangtua suka menandai keberadaan lokasi saat bersama anak. Bukan tidak boleh berbagi informasi tentang kegiatan dan lokasi dimana kita menghabiskan waktu bersama anak, tapi cobalah untuk mengurangi kebiasaan memberitahu secara detail lokasi dimana kita berada. Hal ini bisa memancing tindakan penculikan terhadap anak, jadi alangkah baiknya jika Anda tidak menulis nama lengkap anak atau lokasi secara detail jika ingin mengupdate status di sosial media.

Hindari berfoto dengan latar tempat

Misalnya berfoto di depan sekolah, rumah dan lokasi-lokasi yang sekiranya dapat memudahkan para pedofil atau penculik mencari anak Anda. Hindari melakukan hal ini! Banyak kasus penculikan yang bermula dari lokasi sekolah anak dengan tujuan untuk memeras hingga kasus penjualan anak.

Berikan Komentar Positif

Saling memberikan komentar di sosial media memang akan menjadi ajang sosialisasi yang menyenangkan, namun pastikan Anda selalu memberikan komentar positif di sosial media. Jangan memberikan komentar negatif atau mengejek ya. Hindari menggunakan ikon atau tokoh kartun dengan karakter negatif sebagai julukan kepada anak. Sebaiknya sosial media dijadikan ajang positif untuk memberikan informasi yang bermanfaat.

Perlu diingat bahwa setiap foto yang Anda upload di sosial media meskipun telah Anda hapus tidak menjamin foto tersebut akan menghilang di database mesin pencari, mungkin foto yang Anda unggah sudah ada yang mendownload atau menyebarkannya via sosial media lain. Jadi berhati-hatilah, jangan terlalu sering mengupload foto. Lebih baik dokumentasikan melalui album foto di rumah Anda.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By BisaJadi
      Media sosial yang pada awalnya hanya bisa digunakan melalui komputer atau laptop, sekarang lebih banyak yang mengaksesnya melalui ponsel.
      Hanya dengan hitungan detik, kamu bisa mengunduh foto langsung dari ponsel ke akun media sosial tanpa perlu membuka komputer atau laptop terlebih dahulu.
      Karena kemudahan dan kecanggihan smartphone yang bisa dibawa kemana-mana, tentu hal ini bisa memancing kamu untuk terpikat terus-menerus menggunakan media sosial.
      Jika tidak mewaspadai hal ini, tentu akan berdampak buruk bagi diri kamu dengan orang sekitar.

      Untuk menghindari hal ini terjadi, simaklah beberapa tips tentang bagaimana cara agar tidak kecanduan media sosial.
      1. Bertemu dan Bicara dengan Teman juga Keluarga
      Ketika kamu berlama-lama dengan media sosial, tentu akan membuat waktu yang kamu habiskan bersama teman-teman juga keluarga akan menjadi sedikit.
      Dan hal ini bisa saja mengurangi kepekaan terhadap orang-orang sekitar karena kamu telah dikuasai oleh dunia maya di smartphone.
      Untuk itu, cobalah untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama sahabat dan keluarga ketimbang dengan media sosial.
      2. Lihat Sepintas atau Baca Sedikit Caption saja
      Saat kamu sedang membaca atau mendapatkan beberapa informasi, pilihlah informasi yang dibutuhkan dan dianggap penting. Ingatlah, untuk tidak menghabiskan waktu hanya untuk membaca review atau hal-hal lain yang kurang penting.
      Cobalah untuk membatasi diri untuk melihat dan membaca berbagai laman di media sosial hanya 15 menit saja. Hindari menghabiskan waktu berjam-jam berselancar di media sosial.
      3. Alihkan Fokus ke yang Lebih Penting
      Semakin banyak waktu yang dihabiskan di dunia maya tentu akan membuat kamu membutuhkan waktu lebih banyak untuk melakukan hal yang lain.
      Otak manusia sendiri sebenarnya membutuhkan waktu 64 detik untuk kembali ke tingkat konsentrasi di mana kamu sudah berada sebelumnya, dan jika dikumpulkan tentu membuat banyak waktu terbuang begitu saja.
      Maka dari itu, cobalah untuk mulai fokus pada satu hal yang lebih penting. Sehingga bisa lebih mudah mengontrol kembali kehidupan menjadi lebih baik dan produktif.
      4. Carilah Hobi Baru
      Cobalah mencari hobi baru yang kamu minati untuk mengisi waktu luang. Gali potensi diri untuk mempelajari hal-hal baru atau bisa juga mencoba melakukan sesuatu yang selama ini ingin dilakukan tapi tak pernah punya waktu lebih untuk merealisasikannya.
      Dengan memiliki hobi baru ini, maka kamu akan bisa menjaga pikiran dan tangan yang biasanya cenderung tak bisa lepas dari smartphone hanya untuk eksis di media sosial.
      5. Hindari Dampak Negatif dari Media Sosial
      Di era globalisasi seperti ini sudah tidak mengherankan lagi bahwa hampir semua orang di dunia ini memiliki akun media sosial dengan berbagai macam tujuan, seperti untuk berbisnis, mencari kenalan, menunjukkan eksistensi diri, dan sebagainya.
      Dengan hadirnya media sosial ini masyarakat pun semakin dimudahkan dalam berbagai aktivitas terutama menjalin komunikasi.
      Tetapi, dibalik segala manfaat yang sudah dinikmati sekarang, juga menyimpan dampak buruk, salah satunya kesehatan mata terganggu, individualis, hingga kriminalitas, dan masih banyak lagi. Untuk itu, bijaklah dalam bermedia sosial dan hindari dampak negatifnya.
    • By BincangEdukasi
      Menjaga agar anak tetap sehat dan selamat adalah bagian dari naluri orangtua, dan setiap orang memiliki caranya tersendiri untuk melakukannya. Beberapa orangtua bahkan terlalu melindungi anak mereka, bukan hanya dari permasalahan besar, tetapi juga dari hal kecil dan tanggung jawab yang seharusnya mereka bisa atasi sendiri. Hal ini dikenal dengan  pola asuh helicopter parenting dan istilah ini relatif menjadi lebih populer dalam satu dekade terakhir.
      Apa itu helicopter parenting?
      Helicopter parenting adalah istilah yang merujuk pada cara pola asuh anak oleh orangtua yang terlalu berfokus terhadap kehidupan anak. Akibatnya, orang tuaterlalu ikut campur terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh anak mereka. Berbeda dengan pola asuh yang menuruti berbagai keinginan anak, pola asuh helicopter parenting lebih cenderung menentukan bagaimana anak seharusnya bertindak, dan lebih bersifat terlalu melindungi anak dari kesulitan atau kegagalan.
      Pada dasarnya, hal ini dilandasi oleh niat yang baik, namun orangtua yang melakukan helicopter parentingcenderung menyelesaikan berbagai urusan yang dihadapi anak, meskipun si anak sebenarnya dapat menyelesaikannya sendiri. Pakar psikologi Michael Ungar mengatakan (sebagaimana yang dilansir oleh Psychology Today), “Hal ini (helicopter parenting) tentu saja tidak sesuai dengan tujuan utama pola asuh anak untuk menjadikannya mampu menyelesaikan berbagai tugas orang dewasa.“
      Ia juga berpendapat bahwa melatih anak untuk mengambil keputusannya sendiri jauh lebih penting dibandingkan membiarkan mereka bergantung pada orangtua untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi.
      Helicopter parenting dapat berupa berbagai perilaku orangtua yang terlalu memonitor kehidupan sekolah, sosial, bahkan pekerjaan anak, misalnya: Menentukan jurusan pendidikan yang diambil oleh anak meskipun anak tidak menyukainya. Memonitor jadwal makan dan olahraga. Orangtua meminta anak untuk selalu memberikan kabar di mana ia berada dan dengan siapa. Saat nilai anak buruk, orangtua menghubungi guru atau dosen untuk protes. Ikut campur jika ada permasalahan dengan teman atau pekerjaan. Kenapa orangtua terlalu ikut campur dalam kehidupan anak?
      Terdapat banyak alasan orangtua terlalu melakukan campur tangan dalam kehidupan anak. Namun pada dasarnya hal ini disebabkan oleh kecemasan yang berlebihan orangtua terhadap bagaimana anak menjalani hidup mereka. Akibatnya, helicopter parent melakukan berbagai hal untuk membantu mengatasi permasalahan hidup, bahkan mengambil alih hal yang seharusnya dilakukan oleh anak.
      Meskipun terkesan hal ini hanya dilakukan oleh orangtua dengan anak yang telah beranjak dewasa, tetapi perilaku helicopter parenting juga dapat terjadi pada setiap tahap perkembangan anak. Orangtua yang selalu cemas dan sudah terbiasa membantu anaknya dalam berbagai hal sejak ia masih anak-anak kemungkinan akan terus melakukannya hingga dewasa. Tanpa disadari, saat sudah remaja atau dewasa, anak cenderung menjadi mudah cemas dan selalu mengandalkan orangtua saat menghadapi kesulitan.
      Kenapa terlalu ikut campur dalam kehidupan anak adalah pola asuh yang kurang baik?
      Berikut beberapa alasan terlalu melindungi anak dapat berdampak kurang baik:
      Tidak membiarkan anak tumbuh
      Anak yang diasuh oleh orangtua yang terlalu mengawasi dan ikut campur cenderung mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah, karena ia memiliki kepercayaan diri yang rendah dan lebih takut akan kegagalan.  Semakin jauh orangtua ikut campur dalam tanggung jawab anak, maka semakin sedikit kepercayaan mereka akan kemampuan anaknya. Seiring dengan pertumbuhanny,a hal ini tidak hanya membuat anak mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan masalah, namun juga dapat berdampak pada kehidupan sosial, pendidikan, bahkan karir setelah ia dewasa.
      Anak tidak memiliki coping skill
      Coping skill adalah keterampilan seseorang agar dapat menghadapi permasalahan dan rasa kekecewaan atau kegagalan dengan baik. Selalu membantu anak sehingga mereka tidak pernah salah atau mengalami kegagalan adalah hal yang dapat menghambat perkembangan coping skill. Akibatnya, anak tidak terbiasa mengatasi masalah atau menghadapi kegagalan, dan mereka tidak pernah belajar bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut.
      Menurunnya kepercayaan diri anak
      Sikap orangtua yang terlalu ikut campur saat anak sudah memasuki usia remaja akan menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri untuk bergaul dengan anak seusianya. Hal ini juga akan menyebabkan ia lebih sulit bergaul dan menutup diri bahkan saat ia dewasa. Perlu dipahami oleh orangtua, bahwa kepercayaan diri adalah sesuatu yang hanya dapat diperoleh saat anak bergantung kepada kemampuannya sendiri, baik dalam mengambil keputusan maupun menerima konsekuensi.
      Orangtua membantu anak hanya karena kecemasan berlebih
      Sebagian besar perilaku helicopter parenting didasari oleh kecemasan  berlebih, dibandingkan niat untuk menolong anak. Beberapa kecemasan orangtua bahkan disebabkan karena takut merasa bersalah saat anak mengalami kegagalan, atau takut apa yang orang lain pikirkan tentang anak mereka, bukan karena rasa cemas akibat kemampuan anak atau permasalahan yang sedang dihadapi anak. Saat Anda sebagai orang tua mengalami kecemasan, sebaiknya bicarakan bagaimana anak menghadapi permasalahan tersebut. Memberikan arahan dan motivasi tanpa ikut campur secara langsung akan lebih baik bagi anak dalam menyelesaikan masalah.
      Yang dapat dilakukan orang tua agar tidak terlalu ikut campur
      Terlalu khawatir dan ikut campur dalam kehidupan anak bukanlah cara yang bijak untuk menjalin kedekatan dengan Anak. Berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menghindari pola asuh helicopter parenting:
      Biarkan anak berusaha sesuai dengan kemampuan
      Seiring dengan pertumbuhannya, anak mengalami perkembangan yang bertahap dalam melakukan berbagai hal. Oleh karena itu, membiarkan anak belajar untuk menangani hal dan tanggung jawabnya sendiri adalah hal terbaik untuk membuatnya lebih mandiri dan mengembangkan kemampuannya dalam menjalani kehidupan. Selain itu, ada baiknya orangtua membiarkan anak membuat keputusan dan menerima konsekuensinya sendiri, selama hal tersebut tidak membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan anak.
      Saat anak dalam kesulitan, jangan membuatnya cemas
      Hindari terlalu cemas dan membuat sesuatu terkesan lebih buruk dari yang sebenarnya. Hal ini hanya akan membuat anak bingung dan menjadi mudah cemas karena respon negatif yang diberikan orangtua terhadap suatu permasalahan. Hadapi kesulitan bersama dengan anak, dengan menghadirkan respon yang lebih positif dan tanpa membuat anak lebih cemas.
      Jangan membuat anak menjadi pusat dari kehidupan Anda
      Hal ini adalah penyebab utama sebagian orangtua cemas akan pilihan apa yang diambil oleh anaknya. Cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan menyadari bahwa anak memiliki kehidupan, dan berhak menentukan pilihannya sendiri. Serta ingat, tinggi atau rendahnya pencapaian anak bukanlah indikator yang sesuai dengan kualitas pola asuh anak yang Anda lakukan.
      Hargai pendapat anak
      Memaksakan pendapat terhadap anak dapat menyebabkan anak tidak memiliki pendirian akan pendapatnya sendiri. Oleh karena itu, pahamilah sebagai sesuatu yang positif jika anak Anda memiliki pendapat yang berbeda dengan Anda. Jika hal tersebut tidak kurang sesuai dengan kebaikan anak, cobalah ajak ia berbicara dan pahami mengapa anak Anda berpikir demikian.
    • By MariaAngeline
      Pembicaraan mengenai sex masih tabu di kalangan masyarakat Indonesia, namun di zaman sekarang ini rasanya pendidikan sex perlu diperkenalkan lebih dini kepada anak. Sex education yang mendidik tentu tidak akan mencederai apa yang seharusnya dijaga dan dipertahankan, bukan malah mengarahkan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma agama, sosial, dan kesusilaan. Sebagai orangtua, kita perlu mewaspadai hal-hal yang sekiranya dapat mempengaruhi pergaulan anak-anak, tidak hanya itu bahan bacaan seperti buku pun patut menjadi perhatian.

      Buku berjudul “Saatnya Aku Belajar Pacaran” karya Toge Aprilianto yang akhir-akhir ini menuai kontroversi di dunia maya, adalah salah satu contoh sumber media yang perlu diwaspadai. Isinya yang seolah mengajak anak remaja berhubungan intim banyak menuai kecaman. Bebagai media kini semakin terbuka dalam mempengaruhi pemahaman anak mengenai pendidikan sex yang akhirnya banyak menyimpang. Disinilah sebagai orangtua kita perlu mengetahui dan memahami kapan sex education diperkenalkan kepada anak dengan tepat sesuai usianya.
      Usia 5 tahun ke bawah
      Pertama, mungkin kita akan merasa kebingungan bagaimana caranya menyampaikan pendidikan seks pada seorang balita yang berusia 5 tahun, kenyataannya mungkin Anda bisa melewati tahap ini dengan mudah. Pada rentang usia ini, Anda bisa memulai pendidikan seks dengan memperkenalkan organ tubuh dan fungsinya masing-maisng. Tidak perlu merasa bingung dan ragu saat Anda harus memperkenalkan alat kelaminnya, waktu yang tepat akan menghilangkan ketidaknyamanan Anda saat memperkenalkan organ vitalnya. Seperti saat anak sedang dimandikan atau saat Anda memakaikan pakaiannya. Dalam hal ini Anda tidak perlu membahasnya hingga terlalu detail atau mengajarkannya dalam keadaan yang serius, cara ini diharapkan bisa menghindari penyebutan yang dianggap tidak sopan dengan menyebut alat kelamin yang dimilikinya saat berada di lingkungan sosial masyarakat.
      Selain memperkenalkan organ vitalnya, Anda juga bisa mengajarkan mengenai jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki dan apa perbedaannya. Mengajarkan anak tentang hak dan kewajibannya untuk menjaga milik pribadinya juga sangatlah penting, termasuk alat vitalnya. Beritahukan bahwa mereka tidak boleh menunjukkan alat kelaminnya secara sembarang tempat dan orang yang bukan muhrimnya. Hal ini untuk menghindari pelecehan seksual yang banyak mengincar anak-anak di sekitar kita.
      Jika anak mencoba menolak dicium atau dipeluk orang lain, hargai keputusannya. Mereka memiliki hak untuk menolak segala macam bentuk kasih sayang dari orang lain yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman, jangan memaksakan mereka untuk melakukannya meskipun hanya sebagai bentuk penghargaan. Hal ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mereka belajar penolakan.
      Usia 6-9 tahun
      Pada usia ini, orangtua perlu memperhatikan banyak hal. Setiap anak baik perempuan maupun laki-laki memiliki minat berbeda terhadap seks, ada yang masa bodoh tidak ingin tahu, merasa terganggu dengan pembicaraan sex, bahkan ada anak yang bisa memberikan respon sangat tertarik pada materi sex. Sebagai orangtua kita perlu pintar dalam menyikapinya sebelum memberikan sex education lebih detail jangan sampai mereka merasa terpojokkan, malu, atau bahkan menjadi terlalu liar dalam menyikapinya.
      Pada kasus pencabulan anak yang sering terjadi, kebanyakan dari mereka merasa tidak sadar bahwa dirinya mengalami pencabulan. Yang dipahami anak adalah mereka merasa disayangi karena mungkin pelaku meracuni pikiran mereka dengan pemahaman yang sesat apalagi diberikan imbalan sesuatu yang disukainya. Faktor ketidaktahuan dan ketidakberdayaan mereka telah dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan seksual secara sengaja. Oleh karena itu, Anda bisa mengajarkan anak mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri dari kejahatan seksual. Seperti mengajarkan mereka untuk menolak membuka pakaian, diraba alat vitalnya oleh teman, saudara atau orang yang dikenalinya meskipun diberikan imbalan. Mereka juga harus diberitahu cara merespon jika mereka dipaksa melakukan sesuatu atau diintimidasi oleh orang dewasa saat mereka mencoba melakukan penolakan yang membuatnya tidak nyaman. Dekati sang anak agar mereka selalu berusaha terbuka kepada orangtuanya.
      Usia 9-12 tahun
      Pada usia ini Anda perlu banyak memberikan informasi detail mengenai perubahan-perubahan yang akan terjadi pada bagian tubuh mereka saat masa puber yang cenderung berbeda pada tiap individu dan jenis kelamin. Jika laki-laki, beritahu bagaimana cara menyikapi mimpi basah sebagai bagian dari tandanya dia telah baligh. Atau jika perempuan beritahu bagaimana caranya menyikapi masa menstruasi sebagai bagian normal dari tahapan perkembangan invidu khususnya pada wanita.
      Memperkenalkan bagaimana cara menjaga kesehatan alat kelamin juga sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit kelamin di kemudian hari, tekankan bahwa jika mereka mengikuti peraturan tersebut mereka tidak perlu merasa banyak khawatir.
      Usia 12 tahun ke atas
      Berbagai data survei menyebutkan bahwa hampir setengahnya remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seksual sebelum terikat pernikahan. Ini artinya, telah banyak remaja yang sudah terjerat seks bebas tanpa pengawasan dan penanggulangan pendidikan seks dini khususnya dari orangtua. Perlu diketahui bahwa dorongan atau gairah seksual pada masa puber meningkat sangat signifikan, oleh sebab itu orangtua seharusnya sudah mengajarkan seperti apa sistem reproduksi dan bagaimana cara kerjanya pada masa ini.
      Memberikan pemahaman tentang arti cinta dan pacaran sangat mempengaruhi pemikiran sang anak dalam menyikapi pergaulan seks bebas yang terjadi di sekitarnya. Tanamkan pemahaman khususnya pada anak perempuan, bahwa jika ada laki-laki yang mengajaknya berhubungan di luar nikah bahkan sampai melakukan pemaksaan dan marah saat dia menolaknya bukan berarti dia tidak mencintainya. Justru jika hal tersebut terjadi, itu tandanya mereka tidak mencintai anak Anda dan hanya ingin menjadikan dia sebagai pelampias nafsunya saja. Sampaikan bahwa ada banyak konsekuensi yang akan dihadapinya jika mereka melanggar prinsip melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, baik dari sisi biologis, psikologis maupun sosial. Orangtua selalu dituntut untuk melakukan komunikasi dua arah untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan.
      Hindari mengeluarkan kata-kata menghakimi agar anak-anak tidak merasa takut dan enggan untuk berbagi cerita dengan orangtuanya. Jika orangtua merasa berat untuk membicarakan bahasan tentang seks dengan anak, mungkin Anda bisa meminta bantuan kepada psikologi untuk memberikan pendidikan seks yang tepat.
    • By MariaAngeline
      Pembicaraan mengenai sex masih tabu di kalangan masyarakat Indonesia, namun di zaman sekarang ini rasanya pendidikan sex perlu diperkenalkan lebih dini kepada anak. Sex education yang mendidik tentu tidak akan mencederai apa yang seharusnya dijaga dan dipertahankan, bukan malah mengarahkan untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma agama, sosial, dan kesusilaan. Sebagai orangtua, kita perlu mewaspadai hal-hal yang sekiranya dapat mempengaruhi pergaulan anak-anak, tidak hanya itu bahan bacaan seperti buku pun patut menjadi perhatian.

      Buku berjudul “Saatnya Aku Belajar Pacaran” karya Toge Aprilianto yang akhir-akhir ini menuai kontroversi di dunia maya, adalah salah satu contoh sumber media yang perlu diwaspadai. Isinya yang seolah mengajak anak remaja berhubungan intim banyak menuai kecaman. Bebagai media kini semakin terbuka dalam mempengaruhi pemahaman anak mengenai pendidikan sex yang akhirnya banyak menyimpang. Disinilah sebagai orangtua kita perlu mengetahui dan memahami kapan sex education diperkenalkan kepada anak dengan tepat sesuai usianya.
      Usia 5 tahun ke bawah
      Pertama, mungkin kita akan merasa kebingungan bagaimana caranya menyampaikan pendidikan seks pada seorang balita yang berusia 5 tahun, kenyataannya mungkin Anda bisa melewati tahap ini dengan mudah. Pada rentang usia ini, Anda bisa memulai pendidikan seks dengan memperkenalkan organ tubuh dan fungsinya masing-maisng. Tidak perlu merasa bingung dan ragu saat Anda harus memperkenalkan alat kelaminnya, waktu yang tepat akan menghilangkan ketidaknyamanan Anda saat memperkenalkan organ vitalnya. Seperti saat anak sedang dimandikan atau saat Anda memakaikan pakaiannya. Dalam hal ini Anda tidak perlu membahasnya hingga terlalu detail atau mengajarkannya dalam keadaan yang serius, cara ini diharapkan bisa menghindari penyebutan yang dianggap tidak sopan dengan menyebut alat kelamin yang dimilikinya saat berada di lingkungan sosial masyarakat.
      Selain memperkenalkan organ vitalnya, Anda juga bisa mengajarkan mengenai jenis kelamin antara perempuan dan laki-laki dan apa perbedaannya. Mengajarkan anak tentang hak dan kewajibannya untuk menjaga milik pribadinya juga sangatlah penting, termasuk alat vitalnya. Beritahukan bahwa mereka tidak boleh menunjukkan alat kelaminnya secara sembarang tempat dan orang yang bukan muhrimnya. Hal ini untuk menghindari pelecehan seksual yang banyak mengincar anak-anak di sekitar kita.
      Jika anak mencoba menolak dicium atau dipeluk orang lain, hargai keputusannya. Mereka memiliki hak untuk menolak segala macam bentuk kasih sayang dari orang lain yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman, jangan memaksakan mereka untuk melakukannya meskipun hanya sebagai bentuk penghargaan. Hal ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mereka belajar penolakan.
      Usia 6-9 tahun
      Pada usia ini, orangtua perlu memperhatikan banyak hal. Setiap anak baik perempuan maupun laki-laki memiliki minat berbeda terhadap seks, ada yang masa bodoh tidak ingin tahu, merasa terganggu dengan pembicaraan sex, bahkan ada anak yang bisa memberikan respon sangat tertarik pada materi sex. Sebagai orangtua kita perlu pintar dalam menyikapinya sebelum memberikan sex education lebih detail jangan sampai mereka merasa terpojokkan, malu, atau bahkan menjadi terlalu liar dalam menyikapinya.
      Pada kasus pencabulan anak yang sering terjadi, kebanyakan dari mereka merasa tidak sadar bahwa dirinya mengalami pencabulan. Yang dipahami anak adalah mereka merasa disayangi karena mungkin pelaku meracuni pikiran mereka dengan pemahaman yang sesat apalagi diberikan imbalan sesuatu yang disukainya. Faktor ketidaktahuan dan ketidakberdayaan mereka telah dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan seksual secara sengaja. Oleh karena itu, Anda bisa mengajarkan anak mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri dari kejahatan seksual. Seperti mengajarkan mereka untuk menolak membuka pakaian, diraba alat vitalnya oleh teman, saudara atau orang yang dikenalinya meskipun diberikan imbalan. Mereka juga harus diberitahu cara merespon jika mereka dipaksa melakukan sesuatu atau diintimidasi oleh orang dewasa saat mereka mencoba melakukan penolakan yang membuatnya tidak nyaman. Dekati sang anak agar mereka selalu berusaha terbuka kepada orangtuanya.
      Usia 9-12 tahun
      Pada usia ini Anda perlu banyak memberikan informasi detail mengenai perubahan-perubahan yang akan terjadi pada bagian tubuh mereka saat masa puber yang cenderung berbeda pada tiap individu dan jenis kelamin. Jika laki-laki, beritahu bagaimana cara menyikapi mimpi basah sebagai bagian dari tandanya dia telah baligh. Atau jika perempuan beritahu bagaimana caranya menyikapi masa menstruasi sebagai bagian normal dari tahapan perkembangan invidu khususnya pada wanita.
      Memperkenalkan bagaimana cara menjaga kesehatan alat kelamin juga sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit kelamin di kemudian hari, tekankan bahwa jika mereka mengikuti peraturan tersebut mereka tidak perlu merasa banyak khawatir.
      Usia 12 tahun ke atas
      Berbagai data survei menyebutkan bahwa hampir setengahnya remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seksual sebelum terikat pernikahan. Ini artinya, telah banyak remaja yang sudah terjerat seks bebas tanpa pengawasan dan penanggulangan pendidikan seks dini khususnya dari orangtua. Perlu diketahui bahwa dorongan atau gairah seksual pada masa puber meningkat sangat signifikan, oleh sebab itu orangtua seharusnya sudah mengajarkan seperti apa sistem reproduksi dan bagaimana cara kerjanya pada masa ini.
      Memberikan pemahaman tentang arti cinta dan pacaran sangat mempengaruhi pemikiran sang anak dalam menyikapi pergaulan seks bebas yang terjadi di sekitarnya. Tanamkan pemahaman khususnya pada anak perempuan, bahwa jika ada laki-laki yang mengajaknya berhubungan di luar nikah bahkan sampai melakukan pemaksaan dan marah saat dia menolaknya bukan berarti dia tidak mencintainya. Justru jika hal tersebut terjadi, itu tandanya mereka tidak mencintai anak Anda dan hanya ingin menjadikan dia sebagai pelampias nafsunya saja. Sampaikan bahwa ada banyak konsekuensi yang akan dihadapinya jika mereka melanggar prinsip melakukan hubungan seksual di luar pernikahan, baik dari sisi biologis, psikologis maupun sosial. Orangtua selalu dituntut untuk melakukan komunikasi dua arah untuk menghindari berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan.
      Hindari mengeluarkan kata-kata menghakimi agar anak-anak tidak merasa takut dan enggan untuk berbagi cerita dengan orangtuanya. Jika orangtua merasa berat untuk membicarakan bahasan tentang seks dengan anak, mungkin Anda bisa meminta bantuan kepada psikologi untuk memberikan pendidikan seks yang tepat.
    • By BincangEdukasi
      Obesitas pada anakmerupakan salah satu kekhawatiran yang dirasakan oleh banyak orang tua saat ini. Menutur laporan dari US Centers for Disease Control and Prevention, seorang anakyang terserang obesitas cenderung rawan terkena resiko diabetes, penyakit jantung serta kanker.
      Hal tersebut biasa menjangkiti anak-anak pada rekapan usia antara 6 hingga 11 tahun. Pada usia ini, biasanya anak-anak cenderung sedang dalam tahap hiperaktif dan sulit untuk di kontrol aktifitasnya, terutama berkaitan dengan pola makan, aktifits keseharian dan ritunitas olah raga. Namun, sebenarnya obesitas dapat dicegah sejak dini, dan itu tentu saja menuntut peranan serta  dukungan ekstra dari orang tua.
      Berikut ini adalah beberapa tips jitu yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk menghindari terjadinya Obesitas Pada Anak
      Perhatikanlah pola makan anak
      Obesitas banyak menjangkiti sebagian besar  anak yang cenderung tidak terkontrol dengan baik pola makannya. Terutama jenis makanan yang banyak mengandung bahan pengawet, minuman yang bersoda, makanan cepat saji dan makanan sereal.  Jenis makanan tersebut biasanya menjadi menu favorit anak-anak. Maka dari itu, orang tua harus rutin mengawasi anak mengenai jenis makanan atau jajanan ringan yang di konsumsi. Kalau bisa, latihlah anak untuk menyukai buah-buahan dan sayur mayur sejak dini, hal ini akan sangat membantu dalam menyeimbangkan berat badan serta  baik untuk menunjang kesehatan dan  pertumbuhan.
      Latihlah anak untuk membiasakan sejak dini gaya hidup yang seimbang
      Mayoritas anak-anak, mereka sangat menyukai jenis kegiatan seperti bermain game, nonton video dan nonton tv. Padahal, kebiasaan tersebut merupakan faktor yang signifikan dalam meningkatkan kelebihan berat badan. Jadi, sebisa mungkin bagi orang tua untuk mengarahkan pada anak supaya tidak terlalu banyak menghabiskan waktu menekuni rutinitas  tersebut.
      Latihlah anak untuk mencintai olah raga
      Kebiasaan oleh raga yang teratur sejak dini bukan hanya baik untuk kesehatan anak, namun juga sangat penting dalam mengontrol keseimbangan hormon yang dapat menyeimbangkan antara pertumbuhan dan berat badan, sehingga terhindar dari obesitas.
      Kenali jenis menu died yang sehat untuk anak
      Orang tua harus mengetahui bahwa menu died sehat untuk anak-anak berbeda dengan menu died  untuk orang tua. Jika perlu, bertanyalah pada ahli kesehatan mengenai menu yang cocok dan tepat untuk anak sesuai dengan tingkat usia.
      Biasakan mengajak anak untuk berkumpul bersama keluarga
      Ajarkanlah pada anak untuk terbiasa berkumpul dengan keluarga, terutama saat makan malam. Dalam kondisi ini, biasanya seorang anak cenderung lebih tenang dan terbuka pada orang tuanya. Jadi, di sini orang tua memiliki kesempatan yang luas untuk memberikan arahan pada anak dengan cara yang santai dan menyenangkan.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy