Jump to content

Praktik Aneh Sistem Keuangan Amerika


Recommended Posts

Woodrow_Wilson-H.thumb.jpeg.623222498542357b418408f5d42e268e.jpeg
Woodrow Wilson

Tahun 1914, Presiden Amerika, Woodrow Wilson, menandatangani keputusan yang kemudian hari sangat disesalinya, yaitu mengizinkan Federal Reserve (The Fed- bank sentral AS) untuk menjadi satu-satunya lembaga yang berhak mencetak uang dolar amerika. Sebuah ketidaklaziman yang dilakukan Negara sehebat Amerika. Sebab, The Fed bukanlah pemerintah dan bukan pula dimiliki oleh bangsa Amerika asli. Lembaga ini adalah perusahaan swasta murni milik miliuner Yahudi dari klan Rothschild (bapak pembangunan Yahudi). Dengan jatuhnya akad tersebut, jadilah The Fed sebagai pengendali keuangan Amerika. Bahkan, sebagian besar cadangan devisa Negara-negara di dunia menjadikan dolar Amerika sebagai ukuran kekayaan menggantikan simpanan emas.

Wilson pun menyesal setengah mati telah terbujuk oleh scenario para miliuner zionis Yahudi. Ia mengatakan“ Saya adalah orang yang paling tidak bahagia. Saya telah menghancurkan Negara saya. Sebuah bangsa industri yang besar ini dikontrol oleh sistem kredit. Sistem kredit kita terkonsentrasi. Pertumbuhan bangsa ini dan seluruh aktivitas kita berada di tangan segelintir orang. Kita telah menjadi pemerintah yang paling diatur, dikontrol, dan didominasi di dunia modern. Kita tidak lagi pemerintah yang memiliki pandangan yang bebas, pemerintah yang diakui, yang dipilih oleh suara mayoritas, melainkan pemerintah yang dikontrol oleh opini dan paksaan sekelompok kecil orang yang mendominasi.”

Quote:Penyesalan Wilson itu bukannya tanpa alasan. Sejarah membuktikan bahwa The Fed bentukan Rothschild telah melakukan praktik suap dalam bentuk sokongan dana-dana kampanye dan dana-dana operasional pemerintah berkuasa. Amerika terikat utang budi sangat besar kepada The Fed.

Keinginan untuk lepas dari jerat Yahudi

9-things-jfk-allegedly-did-with-that-young-intern.thumb.jpg.6f4893054d7afb1d2431af0cb542f2f9.jpg
John F. Kennedy

Amerika bukannya tidak berjuang untuk bisa lepas dari kontrol Yahudi pada tata pemerintahan dan ekonomi mereka. Seorang John F. Kennedy pernah bertekad dan mengumumkan secara terbuka mengeliminir hak The Fed dan bermaksud mengembalikan hak pencetakan uang kepada negara. Sayangnya, belum sempat mewujudkannya, ia ditembak mati.

Banyak orang menduga bahwa motif pembunuhan itu juga terkait erat dengan tekad mulia presiden paling popular di Amerika ini. Alasan JFK memerintahkan untuk mencetak uang Amerika sendiri adalah agar rakyat tidak lagi harus membayar bunga (pajak illegal) kepada The Federal Reserve atas penggunaan uang kertas cetakan The Fed yang dikuasai oleh Rothschild. Keputusan ini akan merugikan Rotschild triliunan dolar dalam setahun. Hal ini dikarenakan hilangnya pemasukan dari pajak yang dibayar oleh rakyat amerika untuk membayar bunga pinjaman uang dolar.

Para presiden, politisi, dan ekonom AS sebelumnya juga sudah banyak memperingatkan bahaya penyerahan hak cetak dolar dan hak pendistribusiannya kepada banker swasta. Namun, suara-suara itu lenyap oleh kekuatan zionis. Pada 1937, parlemen Amerika mengajukan tuntutan impeachment (tuduhan) terhadap anggota-anggota dari Dewan Federal Reserve. Mereka, agen-agen Federal Reserve dan para manajer dari Depkeu AS, dituduh telah melakukan kejahatan luar biasa dan penyalahgunaan wewenang , termasuk pencurian lebih dari US$ 80 juta pertahun selama 5 tahun. Namun, impeachment ini kandas di tengah jalan akibat kuatnya para pelobi Zionis di tubuh Gedung Putih dan Kongres Amerika.

Ada dugaan bahwa penembakan kepada Presiden Ronald Reagan juga terkait dengan keinginannya untuk mereformasi sistem pencetakan dolar Amerika. Faktanya setelah kasus penembakan yang gagal membunuhnya itu, tidak terdengar lagi keinginan untuk melanjutkan reformasi keuangan itu. Karena kuatnya pengaruh Yahudi dalam sistem pengendalian dolar amerika (dunia), membuat Henry Ford mengatakan , “Barangkali ada bagusnya rakyat tidak mengetahui asal-usul uang. Sebab, jika mereka mengetahuinya, saya yakin esok pagi akan timbul revolusi.”

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By VOAIndonesia
      Dengan menjanjikan hari baru bagi Amerika dan menyerukan persat uan, Joe Biden dilantik menjadi presiden ke-46 Amerika.
      Dua minggu setelah pendukung Trump mengamuk di Capitol Hill atau Gedung Kongres Amerika untuk membatalkan hasil pemilu, Biden dilantik bersama Kamala Harris, yang dilantik beberapa saat sebelumnya sebagai perempuan pertama wakil presiden.
      Sederet acara kemudian dijalani Biden dan Ibu Negara Jill Biden bersama Kamala Harris. Namun sebelum itu, di ruang presiden di Gedung Kongres, begitu selesai dilantik, Biden menandatangani tiga dokumen.
      Biden menandatangani Proklamasi Hari Pelantikan dan dokumen untuk nominasi posisi kabinet dan posisi lain dalam pemerintah. Penandatanganan itu merupakan bagian dari janji kampanyenya untuk membalikkan banyak keputusan mantan Presiden Donald Trump selama empat tahun ini, pada hari pertamanya menjabat.
      Dalam pernyataan hari Rabu, tim transisi Biden mengatakan, beberapa dari masalah tersebut termasuk mengatasi krisis virus corona, imigrasi, dan perubahan iklim. Hampir segera setelah dilantik, para pembantunya mengatakan Biden akan mengakhiri larangan datang ke Amerika bagi orang-orang dari beberapa negara yang mayoritas penduduknya Muslim, menghentikan pembangunan tembok di sepanjang perbatasan Amerika-Meksiko, dan bergabung kembali dalam perjanjian iklim Paris dan Organisasi Kesehatan Dunia.
      Biden juga berencana memenuhi janji kampanyenya untuk membantu orang Amerika yang mengalami kesulitan keuangan akibat pandemi virus corona.
      Presiden Biden dan Ibu Negara sore itu juga menyempatkan berjalan untuk secara resmi memasuki Gedung Putih.[ka/jm]
       
    • By VOAIndonesia
      Ibu negara Amerika Melania Trump hari Senin (11/1) mengatakan ia “kecewa dan sedih” dengan penyerbuan gedung Kongres oleh kerumunan massa pendukung suaminya yang ingin mengubah hasil pemilihan presiden, tetapi juga mengatakan bahwa merupakan hal yang “memalukan” ketika ia menjadi subyek apa yang digambarkannya sebagai “gosip cabul” dan “serangan pribadi yang tidak beralasan.”
      Dalam pernyataan dari Gedung Putih itu, ibu negara menyampaikan kesedihan atas kematian enam orang terkait kekacauan di Kongres Rabu lalu (6/1), termasuk kematian polisi Kongres Brian Sicknick, dan seorang polisi lainnya, Howard Liebengoog, yang ikut menanggapi kerusuhan di Kongres dan bunuh diri akhir pekan lalu ketika sedang tidak bertugas.
      “Bangsa kita sedianya pulih dengan cara beradab,” ujar Melania. “Jangan salah, saya benar-benar mengutuk aksi kekerasan yang terjadi di gedung Kongres kita. Aksi kekerasan tidak pernah dapat diterima.”
      Ia menambahkan, “Saya mengimbau orang-orang untuk menghentikan aksi kekerasan itu, tidak membuat asumsi yang didasarkan pada warna kulit seseorang atau menggunakan ideologi politik sebagai landasan melakukan serangan dan kekejaman. Kita sedianya saling mendengar satu sama lain, memusatkan perhatian pada apa yang mempersatukan kita, dan mengatasi apa yang memisahkan kita.”
      Dalam pawai di dekat Gedung Putih pada 6 Januari lalu, Presiden Donald Trump mendorong ribuan pendukungnya untuk bergerak ke Kongres. Dalam pawai itu ia, sebagaimana yang telah disampaikannya selama berminggu-minggu, menyampaikan kembali tuduhan yang tidak berdasar bahwa ia telah dicurangi dalam pemilu presiden. Beberapa jam kemudian para pendukungnya menyerbu Kongres. Trump menyerukan kepada mereka agar “pulang” tetapi juga mengatakan, “Kami mencintai Anda, Anda sangat spesial.”
      Setelah polisi memulihkan ketertiban di Kongres, Kamis dini hari (7/1) para anggota parlemen mengesahkan perolehan kursi elektoral Joe Biden dari Partai Demokrat, yang akan dilantik sebagai presiden ke-46 Amerika pada tanggal 20 Januari nanti.
      Ibu negara pada hari Senin juga mengecam mereka yang mempertanyakan mengapa ia bungkam tentang aksi kekerasan di Kongres, hingga saat ini. “Saya merasa memalukan, di tengah-tengah peristiwa tragis ini ada gosip-gosip cabul, serangan pribadi yang tidak berdasar, dan tuduhan palsu yang menyesatkan terhadap saya, dari orang-orang yang ingin menjadi relevan dan memiliki agenda,” ujarnya.
      “Saat ini semata-mata tentang memulihkan negara dan warga negara kita. Saat ini seharusnya tidak digunakan untuk keuntungan pribadi,” tambah Melania.
      Melania tampaknya mengarahkan pernyataannya sedikitnya pada Stephanie Winston Wolkoff, mantan penasehat dan temannya yang akhir pekan lalu menulis artikel di Daily Beast bahwa Melania telah mendorong suaminya dan bahwa “tangannya juga berlumuran darah.”
      Melania Trump juga tampaknya mengucapkan selamat tinggal pada Gedung Putih sebelum masa jabatan suaminya berakhir 20 Januari nanti. “Merupakan suatu kehormatan seumur hidup bagi saya dapat menjadi Ibu Negara,” ujarnya. “Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada jutaan warga Amerika yang mendukung suami saya dan saya selama empat tahun terakhir ini, dan menunjukkan dampak luar biasa dari semangat Amerika. Saya berterima kasih karena diperkenankan memberi pelayanan di platform yang saya sukai.”
      Presiden Trump hari Senin memerintahkan untuk menurunkan bendera Amerika menjadi setengah tiang hingga Rabu nanti (13/1) untuk menghormati Sicknick dan Liebengood. [em/jm]
    • By merahputih
      Para pemilih di Amerika Serikat akan menentukan pada 3 November mendatang, apakah Donald Trump akan tetap menempati Gedung Putih selama empat tahun mendatang.
      Presiden dari Partai Republik itu ditantang oleh kandidat Partai Demokrat, Joe Biden, yang dikenal sebagai Wakil Presiden-nya Barack Obama dan telah berkecimpung di ranah politik AS sejak 1970-an.
      Ketika hari-H pemilihan presiden kian mendekat, sejumlah lembaga pembuat jajak pendapat akan berupaya menangkap suara warga AS dengan bertanya kepada para pemilih: siapa kandidat yang akan mereka pilih.
      Kami akan terus memantau berbagai jajak pendapat itu seraya berupaya menganalisis apa yang bisa diketahui dan tidak ketahui tentang siapa yang akan memenangi pilpres.
      Bagaimana performa kedua kandidat secara nasional?
      Jajak pendapat nasional adalah panduan yang baik untuk mengetahui seberapa populer seorang kandidat di seantero negeri, namun jajak pendapat semacam itu tidak serta-merta menjadi alat yang bagus untuk memprediksi hasil pemilu.
      Pada 2016, misalnya, Hillary Clinton memimpin pada sejumlah jajak pendapat dan memenangi hampir tiga juta suara lebih banyak ketimbang Trump.
      Tapi, dia tetap kalah—karena AS menggunakan sistem pemilihan electoral college sehingga meraih suara terbanyak tidak lantas menjamin seorang kandidat menang pilpres.
      Lepas dari catatan itu, Joe Biden selalu lebih unggul dari Donald Trump di jajak pendapat nasional selama sepanjang tahun ini.
      Angka yang diraih mencapai kisaran 50% dalam beberapa pekan terakhir dan pada beberapa kesempatan unggul 10 angka. Namum, Trump cenderung bangkit dalam beberapa hari terakhir.

      Perbedaan kondisi sekarang dengan empat tahun lalu, jajak pendapat pada 2016 kurang begitu jelas dan hanya beberapa poin yang memisahkan antara Trump dan Hillary Clinton ketika hari-H kian dekat.
      Negara bagian mana yang menjadi penentu dalam pilpres kali ini?
      Seperti yang ditemukan Hillary Clinton pada 2016, jumlah suara yang diraih kurang penting ketimbang dari mana suara tersebut dimenangkan.
      Kebanyakan negara bagian hampir selalu jelas haluan politiknya.
      Artinya, dalam kenyataan hanya ada segelintir negara bagian yang menghadirkan peluang menang yang sama bagi kedua kandidat.
      Tempat-tempat inilah yang kemudian menentukan kemenangan (atau kekalahan) seorang kandidat sehingga muncul istilah 'battleground states' alias negara-negara bagian kunci yang menjadi medan pertarungan.

      Dalam sistem pemilihan electoral college yang AS gunakan untuk memilih presiden, setiap negara bagian mendapat jumlah suara tertentu berdasarkan populasinya.
      Ada sebanyak 538 suara electoral college yang diperebutkan, sehingga seorang kandidat memerlukan 270 untuk menang.
      Seperti yang ditunjukkan pada peta, beberapa negara bagian yang menjadi medan pertarungan punya suara electoral college lebih banyak dari negara bagian lain.
      Karenanya, kandidat akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berkampanye di negara bagian-negara bagian tersebut.
      Siapa yang memimpin di negara bagian kunci?
      Untuk saat ini, jajak pendapat di semua negara bagian kunci tampak dipimpin Joe Biden.
      Namun, jalan masih panjang dan berbagai hal bisa berubah dengan cepat, khususnya ketika Donald Trump terlibat.
      Survei menunjukkan Biden memimpin jauh di Michigan, Pennsylvania, dan Wisconsin—tiga negara bagian sarat sektor industri yang dimenangi Trump dengan selisih kurang dari 1% pada 2016 lalu.

      Akan tetapi, negara bagian kunci yang dimenangi telak oleh Trump pada 2016 yang bakal paling dirisaukan tim kampanyenya.
      Selisih kemenangannya di Iowa, Ohio, dan Texas berada pada kisaran 8-10% pada 2016, namun kini dia berkejaran dengan Biden di ketiganya.
      Angka-angka pada jajak pendapat ini mungkin bisa menjelaskan keputusan Trump dalam mengganti manajer tim kampanyenya pada Juli lalu serta mengapa dia kerap menyebut "jajak pendapat palsu".
      Meski demikian, pasar taruhan jelas belum menganggap Trump sudah keok.
      Prediksi terkini menyebut peluang kemenangan Trump pada 3 November adalah satu banding tiga.
      Seberapa jauh pandemi Covid-19 mempengaruhi peluang kemenangan Trump?
      Pandemi virus corona telah mendominasi tajuk utama media di AS sejak awal tahun dan respons terhadap aksi Presiden Trump bisa ditebak terbagi dua berdasarkan garis partai.
      Dukungan atas kebijakan-kebijakannya memuncak pada pertengahan Maret setelah dia mengumumkan darurat nasional dan menyediakan US$50 miliar bagi semua negara bagian untuk menghentikan penyebaran virus.
      Pada titik ini, 5% warga AS mendukung tindakannya, berdasarkan data lembaga Ipsos.
      Namun, sokongan dari pemilih Partai Demokrat menghilang setelah itu. Sementara simpatisan Partai Republik terus mendukung Trump.

      Namun, data terkini menunjukkan bahwa para pendukung Trump mulai mempertanyakan tindakan-tindakannya seiring dengan wilayah selatan dan barat AS menghadapi gelombang baru pandemi. Sokongan dari simpatisan Partai Republik merosot hingga 78% pada awal Juli.
      Inilah yang mungkin menjelaskan mengapa akhir-akhir dia mencoba mengubah pesannya soal virus corona. Alih-alih berkata virus akan "menghilang begitu saja", Trump memperingatkan situasi akan "bertambah buruk sebelum kemudian berangsur membaik".
      Dia pun memakai masker untuk pertama kali dan meminta warga AS memakainya, disertai kata-kata "[masker] ini akan berdampak" dan menggunakan masker menunjukkan "patriotisme".
      Sebuah model yang diciptakan para pakar Universitas Washington memprediksi angka kematian akan melampaui 230.000 pada 1 November—dua hari sebelum pilpres.
      Apakah kita bisa mempercayai jajak pendapat?
      Mudah untuk tak lagi mempercayai jajak pendapat dan mengatakan metode itu salah pada 2016, kata-kata yang kerap diutarakan Presiden Trump. Namun, itu tidak sepenuhnya benar.
      Banyak jajak pendapat memang menyebut Hillary Clinton unggul beberapa angka persentase, namun itu tidak berarti metode tersebut salah. Toh Hillary meraup tiga juta suara lebih banyak ketimbang Trump.
      Para lembaga jajak pendapat memang menemui sejumlah kendala pada 2016 — terutama kegagalan memberikan keterwakilan yang layak pada pemilih tanpa gelar sarjana.
      Ini artinya keunggulan Trump di sejumlah negara bagian kunci tidak terdeteksi sampai tahap akhir persaingan. Sebagian besar lembaga jajak pendapat kini telah mengoreksi kesalahan itu.
      Namun tahun ini ada lebih banyak ketidakpastian dari biasanya lantaran pandemi virus corona belum berakhir dan dampaknya pada ekonomi dan cara pemilih menentukan pilihan mereka pada November.
      Dengan demikian, semua jajak pendapat harus dilihat dengan skeptis, khususnya ketika hari pemilihan masih relatif jauh.
    • By eunike_grace
      Musisi Jerinx SID menilai pandemi corona atau Covid-19 merupakan sebuah konspirasi.
      Menurutnya, letak konspirasi tersebut ada pada angka kasus Covid-19 yang terlapor hingga saat ini.
      Jerinx mengatakan, angka-angka tersebut bukanlah jumlah yang sebenarnya.
      "Konspirasinya adalah banyaknya angka yang tidak sebenarnya, permainan-permainan angka jumlah korban," kata Jerinx dalam acara Sapa Indonesia Malam yang dipandu oleh Aiman di Kompas TV, Rabu (6/5/2020).
      Jerinx menyebutkan, alat tes Covid-19 yang ada saat ini tidak terjamin keabsahannya.
      Menurutnya, para ilmuwan di negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa pun masih belum sepakat mengatakan kevalidan alat tes tersebut.
      Jerinx juga mengatakan, banyak orang yang hasil swab test-nya positif namun menjadi negatif setelah diperiksa kembali.
      Namun, menurut Jerinx, hal ini jarang diungkap oleh media mainstream.
      "Swab test dan rapid test itu hasilnya tidak valid," kata Jerinx.
      "Itu banyak menimbulkan kesimpangsiuran informasi tapi media selalu dengan gampangnya membawa narasi jika swab test itu hasilnya sudah 100 persen."
      "Sedangkan ilmuwan-ilmuwan di negara maju, yang jauh lebih pintar daripada ilmuwan di Indonesia, mereka aja belum satu suara, tapi kenapa Indonesia begitu takut sama WHO?" tambahnya.
      Sementara itu, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, membantah pernyataan Jerinx tersebut.
      Menurut Hermawan, sejauh ini para peneliti melaporkan hasil dari swab tenggorokan melalui realtime PCR memiliki keakuratan 96 persen.
      "Sejauh ini, para peneliti untuk swab tenggorokan melalui realtime PCR itu menganggap 96 persen hasilnya valid," kata Hermawan dalam acara yang sama.
      "Agak berbeda dengan rapid test, kalau rapid test itu memang false negatifnya tinggi itu sekitar 36 persen efektivitasnya," tambah dia.
      Kendati demikian, Hermawan mengatakan rapid test penting untuk melakukan penelusuran awal.
      "Tapi, rapid test penting untuk mitigasi penelusuran awal untuk lebih private dalam rangka pendeteksian mereka dengan Covid positif," terangnya.
      Jerinx Sempat Imbau Masyarakat untuk Tidak Tes Covid-19
      Sebelumnya, Jerinx sempat mengunggah tulisan di akun Instagram pribadinya pada Senin (4/5/2020).
      Dalam unggahannya, ia mengimbau masyarakat supaya jangan pernah mau untuk dites Covid-19.
      Jerinx pun berpesan pada masyarakat supaya lebih fokus menyembuhkan penyakitnya dengan cara biasa.
      Jerinx menilai, semakin banyak yang mau untuk melakukan tes Covid-19 maka sama saja memuluskan Bill Gates dalam memonopoli dunia.
      Ketua Satgas Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp. PD., menanggapi perihal unggahan musisi Jerinx SID yang mengatakan agar jangan pernah mau melakukan tes Covid-19.
      Menurut Zubairi, pernyataan Jerinx tersebut tidaklah tepat.
      Ia mengatakan, tes Covid-19 justru semestinya dilakukan sebanyak mungkin untuk memutus rantai penularan.
      Zubairi menerangkan, dengan dilakukannya tes Covid-19 maka pasien positif akan ditemukan.
      Dengan begitu, pasien tersebut dapat segera diisolasi sehingga tidak menularkan virus yang dibawanya.
      "Kemudian dilakukan telusur kontak, teman-teman (pasien) yang positif itu juga diperiksa, yang positif kemudian diisolasi atau dikarantina," kata Zubairi.
      "Dengan cara itu, penularan akan sangat berkurang dan berhenti," tambahnya.
      Sementara itu, mengenai fokus menyembuhkan penyakit sesuai dengan penyakit yang diderita, menurut Zubairi ada benarnya.
      Namun, menolak untuk dites adalah hal yang keliru.
      "Tentu fokus pada penyakitnya ketika kita sakit itu benar tapi tidak tes itu keliru," tegasnya.
      Zubairi menyebutkan, pasien yang diminta untuk melakukan tes Covid-19 harus bersedia mengikutinya.
      Menurut Zubairi, dalam situasi wabah seperti saat ini, Indonesia harus belajar dari negara-negara lain.
      Zubairi menyebutkan, negara-negara yang melakukan tes Covid-19 secara masif terbukti dapat menyelesaikan pandemi ini dengan cepat.
      "Jadi menjawabnya adalah jika belajar dari negara lain maka negara-negara yang amat cepat mengerjakan tes sebanyak mungkin itu berhasil mengatasi masalah covid-19 ini dengan cepat," kata Zubairi.
      "Contohnya adalah Korea Selatan, contohnya juga di China, contohnya juga di Jerman," tambahnya.
      Zubairi menambahkan, meskipun Jerman memiliki angka kasus positif yang terbilang sangat tinggi, namun negara tersebut memiliki angka kematian yang lebih rendah dari negara-negara sekitarnya.

      "Dibandingkan dengan Belanda, Inggris, Spanyol, Itali, maka kematian di Jerman itu amat rendah," terangnya.
      Sementara itu, Zubair juga menanggapi pernyataan Jerinx yang menyebutkan semakin banyak pihak yang melakukan tes Covid-19 maka dianggap semakin memuluskan Bill Gates memonopoli dunia.
      Seperti yang diketahui, Jerinx juga sempat menyinggung pandemi Covid-19 ini sebagai konspirasi global.
      "Ya menurut saya sekarang yang ilmiah saja," kata Zubairi.
      "Kalau konspirasi global itu kan konspirasinya siapa?"
      "Kalau konspirasinya China, kenyataannya China yang kena banyak, yang meninggal banyak."
      "Kalau yang bikin orang Amerika, Amerika sekarang paling banyak terinfeksi lebih dari 1 juta, yang meninggal juga tadi banyak sekali, jadi tidak sesuai dengan konspirasi global," tambahnya.
      Lebih lanjut, Zubairi mengimbau agar masyarakat lebih berfokus pada bagaimana mengatasi Covid-19 di Indonesia.
      "Misalnya konspirasi oleh Amerika, ya saat ini jumlah di Amerika itu sudah sejuta lebih dengan angka kematian 69 ribu lebih, kalau konspirasinya oleh China, China itu jumlah pasiennya 82 ribu lebih, yang meninggal 4.633," kata Zubairi.
      "Jadi menurut saya, tidak sesuai dengan teori konspirasi, namun sekali lagi yang lebih penting kita fokus saja ke Indonesia," sambungnya.
      Menurut Zubairi, untuk mengatasi Covid-19 di Indonesia, saat ini yang perlu dilakukan adalah mengisolasi pasien positif, mengobati pasien positif Covid-19 yang sakit, dan disiplin untuk tinggal di rumah serta tidak berpergian.
      Zubairi mengaku mengkhawatirkan situasi di Jakarta yang saat ini mulai tampak ramai.
      "Saya terus terang agak khawatir sekarang ini, seminggu terakhir ini jalan-jalan di Jakarta makin penuh mobil kendaraan," kata Zubairi.
      "Itu tanda-tanda buruk untuk keberhasilan program penanggulangan Covid," sambungnya.
    • By VOAIndonesia
      Indonesia memastikan kesiapan memproduksi ventilator secara massal bulan depan, Jakarta, 20 Mei. (Foto: Twitter/@BNPB_Indonesia)
      WASHINGTON DC (VOA) — Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan bantuan ventilator dari pemerintah Amerika akan tiba di tanah air pada akhir Mei atau awal Juni mendatang. Penegasan ini disampaikannya menjawab pertanyaan VOA dalam konferensi pers di Jakarta Rabu sore (20/5).
      “Indonesia dan Amerika telah melakukan komunikasi intensif terkait ventilator. Pada 4 Mei USAID di Jakarta telah berkomunikasi dengan Kemenkes untuk mengidentifikasi spesifikasi dan hal-hal teknis lain," ujarnya.

      Menlu RI Retno Marsudi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (20/5) (courtesy: Kemlu RI)
      "Lalu pada 5 Mei, informasi yang diminta USAID pada Kemenkes itu dikirimkan ke USAID. KBRI di Washington DC juga telah memonitor dan mengkomunikasikan hal ini dengan Departemen Luar Negeri dan Dewan Keamanan Nasional NSC di Amerika. Kami diberitahu bahwa pengiriman ventilator ini akan dilakukan pada akhir Mei atau awal Juni nanti,” papar Retno.
      Namun ditambahkannya bahwa Indonesia kini juga sudah mulai mengembangkan inovasi untuk memproduksi sendiri ventilator atau alat bantu pernafasan ini.
      Mulai Juni Indonesia Siap Produksi Ventilator
      Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan ada lima dari delapan jenis ventilator yang sudah lulus “equipment and critical test” di Kementerian Kesehatan.
      “Lima ventilator ini dapat digunakan di ICU – yang sifatnya invasif – dan dalam kondisi darurat di dalam ambulans maupun ruang gawat darurat untuk membantu orang yang mengalami gangguan pernafasan. Ini merupakan ventilator pertama buatan Indonesia, dan kami siap memproduksinya secara masif bulan depan.”

      Menristek Bambang Brodjonegoro (foto: courtesy).
      Lebih jauh Bambang menjelaskan bahwa setiap pabrik akan mampu memproduksi antara 200-300 unit ventilator per minggu guna memenuhi kelangkaan ventilator dalam menangani pasien virus corona, yang sangat terasa dalam beberapa bulan terakhir ini.
      “Untuk menjadi catatan, inovasi ini baru dimulai sekitar 2,5 bulan lalu. Peneliti dan inovator Indonesia berhasil mengerjakannya dalam waktu sangat singkat,” puji Bambang.
      Permintaaan ventilator ini mengemuka setelah Presiden Amerika Donald Trump mencuit pada 22 April tentang pembicaraan telepon yang dilakukannya dengan Presiden Joko Widodo. [em/pp]
       
×
×
  • Create New...