Jump to content
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Similar Content

    • By c0d1ng
      Nama-nama besar musisi dunia mengecam Youtube yang dianggap pelit dalam royalti. Bagaimana dengan layanan selain Youtube?
      Sebulan sebelum kematiannya, penyanyi Prince menghapus banyak video rekaman konsernya dari YouTube. Tindakan itu banyak mendapatkan kritik dari para penggemarnya. Guna menanggapi keluhan itu, Prince menulis di akun twitternya: “Layanan [Youtube] tidak membayar lisensi yang adil” dan menyarankan penggemarnya untuk langsung mengeluhkan persoalan tersebut ke YouTube.
      Prince berang dengan kelakuan YouTube. Pada saat kematiannya, sebagian besar karyanya tidak tersedia di setiap penyedia streamingbesar lainnya. Karyanya hanya bisa dinikmati di Tidal, layanan streaming milik Jay Z yang menjanjikan membayar tarif royalti yang lebih tinggi untuk musisi.
      Apa yang dikeluhkan Prince ternyata juga dirasakan oleh sebagian besar musisi. Pada Maret 2016 lalu, Katy Perry, Jon Bon Jovi, Steven Tyler, Rod Stewart, Bryan Adams serta banyak musisi lainnya menandatangani petisi untuk mereformasi kebijakan DMCA (Digital Millennium Copyright Act) di Amerika Serikat, yang dinilai merugikan musisi.
      Petisi itu merujuk kepada undang-undang dalam DMCA yang dinilai mengancam keberlangsungan perusahaan penulis lagu dan artis rekaman untuk bertahan hidup dari industri musik. Aturan yang tercantum di dalam DMCA itu juga memungkinkan situs seperti YouTube tidak bertanggung jawab secara hukum terkait dengan pelanggaran hak cipta.
      Kepada The Guardian, Nikki Sixx mengatakan: "YouTube membayar sekitar seperenam dari yang dibayarkan Spotify dan Apple." 
      Menurut laporan Billboard, petisi ini telah ditandatangani 180 musisi termasuk Sir Paul McCartney, U2, Lady Gaga, John Mayer, Pearl Jam, Nikki Sixx dan Chris Cornell. Mereka meminta pihak DMCA agar mampu menyeimbangkan kepentingan pencipta dengan kepentingan perusahaan yang mengeksploitasi musik. Selain itu, mereka juga mendesak DMCA untuk mengambil tindakan cepat untuk memperbaiki situasi.
      Sebulan setelah petisi ini ditandatangani, Peter Mensch selaku manajer band dari Metallica, Red Hot Chili Peppers dan Muse kembali membuat heboh dengan mengatakan bahwa YouTube telah membunuh industri rekaman.
      "YouTube, mereka setan... Kami tidak dibayar sama sekali." katanya kepada BBC Radio.
      Argumen Mensch berdasarkan laporan tahunan dari Federasi Internasional Industri Phonographic (IFPI). Menurut data yang terlampir, pada tahun 2015, pengguna situs streaming seperti YouTube, SoundCloud dan Daily Motion diperkirakan telah digunakan sekitar 900 juta, dan menghasilkan 634 juta dolar AS.
      Dilaporkan DW, lebih dari 1000 musisi termasuk Coldplay, Sting dan ABBA juga menulis surat kepada eksekutif Uni Eropa, mereka mengeluh bahwa YouTube dan layanan online lainnya telah menurunkan pendapatan mereka karena menyediakan layanan secara gratis.
      Mereka juga mendesak Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker untuk segera mengambil tindakan dan menciptakan keadilan bagi para seniman dan pemilik hak. Selain itu, mereka juga khawatir akan model YouTube yang memungkinkan penggunanya secara bebas meng-upload dan mengakses musik, hal tersebut dinilai dapat membahayakan industri musik. 
      Ini bukan pertama kalinya YouTube mendapatkan kecaman keras. Pada 2007 lalu, sebuah media raksasa Viacom juga menggugat YouTube sebesar 1 miliar dolar karena dinilai sengaja melakukan pelanggaran hak cipta.
      Terkait dengan kasus itu, Google berkelit bahwa perusahaannya tidak memiliki hak untuk mengontrol video yang diunggah ke YouTube. Mereka tidak memiliki pengaruh atau pengawasan terhadap apa yang diunggah pengguna. 
      Dalam persidangan, hakim pun mengatakan bahwa YouTube memang tidak memiliki hak dan kemampuan untuk mengendalikan segala video yang melanggar. Kedua belah pihak akhirnya berdamai.
      Jawaban YouTube Terhadap Musisi 
      Karena begitu maraknya desakan musisi terhadap YouTube, Kepala Bidang Bisnis YouTube, Robert Kyncl menyarankan para musisi untuk tidak mendesak pihaknya membuka transparansi pembayaran YouTube kepada musisi, karena hal tersebut merupakan perjanjian yang telah disepakati dengan label rekaman.
      Kynci juga mengatakan, jika para musisi ingin mendapatkan uang yang lebih besar, maka mereka harus mendaftarkan langsung akunnya kepada YouTube dan tidak melalui label. Tetapi musisi tersebut harus mampu mendatangkan banyak penonton, jika tidak maka musisi tersebut tidak akan mendapatkan banyak uang.
      Dalam satu kasus, dia mencontohkan, pemain biola Lindsey Stirling yang sukses karena membuat perjanjian iklannya langsung dengan YouTube. Dari 7,8 juta pelanggan pada akunnya, Stirling mampu meraup $ 6 juta pada 2015 lalu.
      "Lindsey mengatur langsung dengan YouTube dan dia melihat semua konsumsi dan berapa banyak uang yang dia buat dan itu sangat jelas." kata Kynci dikutip dari Rolling Stones.
      Sementara laporan berbeda dari The Wall Street Journal yang menyebutkan YouTube memiliki pandangan yang berbeda dengan persoalan tersebut. Mereka mengaku telah membayar royalti sebesar $ 3 miliar dari pendapatan iklan untuk industri musik.
      Dalam laporan itu disebutkan, YouTube juga telah menawarkan kepada label rekaman sebuah alat yang secara otomatis dapat memblokir musik yang diunggah secara ilegal. Namun persoalannya, alat tersebut juga mengharuskan pemilik hak untuk mencari secara manual setiap hari untuk melacak konten ilegal.
      Menilik Keuntungan YouTube 
      Di tangan Google, YouTube benar-benar menjadi situs yang menjanjikan. Popularitasnya semakin melonjak dan berkembang menjadi industri yang menggiurkan, serta bertindak sebagai platform bagi pembuat konten asli, yang menawarkan iklan besar maupun kecil.
      Hal ini jauh dari prediksi awal ketiga pendirinya yakni Chad Hurley, Steve Chen dan Jawed Karim. Sejak didirikan pada Februari 2005, tiga sekawan ini sempat pesimistis terhadap keberlangsungan perusahaannya. 
      YouTube mendapatkan suntikan dana pertama dari Sequoia Capital pada November 2005. Setahun kemudian, situs ini dibeli oleh Google seharga $1,65 miliar atau setara Rp23,76 triliun.
      Berapa pendapatan YouTube? Menurut laporanForbes, pendapatan YouTube pada tahun 2013 mencapai $3 miliar dan pada tahun 2014 mencapai $4 miliar. Sementara menurut laporan Music Business Worldwide, pada tahun 2015, YouTube diperkirakan telah mendapat sekitar 9 miliar dolar AS. 
      Sementara untuk pengeluaran, Ken Sena, analis di bank investasi Evercore ISI memperkirakan bahwa YouTube akan membayar sekitar 5 miliar dolar AS kepada pencipta konten dan pemegang hak. 
      YouTube memang bagai dua sisi mata uang, di satu sisi platform ini mampu mencetak miliarder seperti Felix Kjellberg yang dalam sebulan mampu mengumpulkan $12 juta atau Rp156 miliar melalui kanal “PewDiePie”. Di satu sisi, para musisi sekelas Paul McCartney dan Katy Perry juga mengkritik YouTube karena dinilai tak adil dalam memberikan royalti dan melanggar hak cipta.
    • By channelyoutube
      YouTube mencatat penonton di Indonesia memiliki kebiasan-kebiasaan sendiri saat menyaksikan video di situs berbagi tersebut.
      “Orang Indonesia menonton lebih dari satu jam sehari,” kata Vice President Engineering for Emerging Experience YouTube John Harding saat di acara Google for Indonesia.
      Penonton YouTube di Indonesia pun tumbuh 130 persen year on year pada akhir tahun lalu, begitu juga dengan jumlah video yang diunggah meningkat hingga 600 persen.
      Pertumbuhan para kreator, mereka yang mengunggah video tidak hanya berasal dari Jakarta, namun juga kota besar lainnya seperti Malang dan Surabaya.
      Saat ini, Indonesia memiliki seorang kreator yang tergolong ke dalam Gold Button, yaitu Raditya Dika dengan lebih dari satu juta pelanggan. 
      Sementara itu, ada lebih dari 106 kreator Silver Button, yang memiliki lebih dari 100.000 pelanggan.
      Jumlah tersebut meningkat tiga kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya ada 40 kreator.
      YouTube mencatat dari 100 juta pengguna internet di Indonesia, 40 persen tersambung pada jaringan 2G sehingga sejak beberapa waktu belakangan mereka mengembangkan metode offline, luar jaringan.
      “Dilokalisasi dalam bahasa Indonesia,” kata Harding.
      Mereka juga merencanakan teknologi Accelator, perangkat penyimpanan konten YouTube sehingga penonton dapat menikmati video nyaris tanpa buffering.
      Accelerator mampu menjaring 100.000 video YouTube yang populer dan dijadwalkan ada di Indonesia pada akhir tahun ini di tempat publik seperti kafe, restoran maupun sekolah.
    • By channelyoutube
      Aku, kamu, dan dia. Kita semua cinta Youtube. Ada banyak alasan orang buka Youtube, dari yang mau liat video viral terbaru, mantengin web series, sampai nontonin video klip girl band Korea yang sensual abis. Youtube emang sumber hiburan. Tapi gak cuma hiburan sih, Youtube juga bisa ngasih informasi yang edukatif. Nah, kali ini kita bakal ngomongin channel-channel Youtube paling informatif yang layak banget kamu follow!
      1. CGP Grey
       
      CGP Grey selalu berhasil membuat video-video edukatif yang menjelaskan jawaban atas sebuah pertanyaan dengan paduan grafis yang simpel dan narasi yang mengena. Mulai dari pertanyaan geografis tentang di mana sebenarnya Skandinavia berada, menjelaskan tentang negara yang berada di dalam negara sampai menjelaskan tentang apa itu Vatican City. CGP Grey tidak pernah gagal untuk membuat kita terpaku menyimak penjabarannya. CGP Grey selalu mencoba metode paling simpel untuk menjelaskan teori sekompleks apapun. Rasanya kalo sangvideomaker menjadi dosen, dia akan jadi dosen terbaik yang pernah ada.
      2. Vsauce
       
      "Hey, Vsauce. Michael Here." Adalah kalimat pembuka andalan Michael untuk membuka setiap videonya yang sudah ditonton jutaan orang. Channel Vsauce sudah kadung kesohor sebagai channel edukatif yang bisa banget ngejawab pertanyaan-pertanyaan kamu yang bersifat sarat ilmu pengetahuan. Wawasan Michael dan bagaimana antusiasme-nya dalam membawakan setiap topik adalah kunci kehebatan channel ini yang dijamin bakal bikin kamu tambah pinter cukup dengan menonton saja.
      3. Kok Bisa?
       
      'Kok Bisa?' merupakan channel yang masih terbilang baru tapi sudah sukses menyita perhatian berkat pembahasan-pembahasan tajam yang amat menarik di setiap rilisan video terbarunya (di-update mingguan). Dibantu dengan animasi dan infografis yang terlihat ciamik, channel ini selalu menjelaskan setiap topik dengan gamblang dan gak pernah ngebosenin untuk disimak. Video mereka yang paling viral sejauh ini adalah tentang kenapa Rupiah bisa melemah dan video itu sangat membantu menjelaskan kepada awam tentang kenapa kita sedang berada di situasi yang gak enak ini.
      4. In a Nutshell – Kurzgesagt
       
      Nah versi internasional dari channel 'Kok Bisa?' diatas adalah channel ini. Channel ini bisa dibilang sudah menginspirasi banyak channel lainnya untuk memberi informasi yang edukatif dengan tampilan yang sangat menarik. Animasi dan grafis cerah bersahabat dan sangat Pop bisa banget ngebantu kamu memahami materi-materi berat dengan jauh lebih mudah. Dosen pinter mustinya merujuk ke channel ini buat referensi atau bikin materi kuliah.
      5. Crack an Egg
       
      Crack an Egg lebih bersifat santai dan humoris. gak seserius channel-channel lain di atas. Pendekatan yang digunakan Crack an Egg minim grafis dan lebih mengandalkan eksplanasi langsung oleh para hostnya. Meskipun begitu, beberapa pertanyaan maha penting, seperti "Kenapa Pria menyukai Payudara?" dan "kenapa indomaret dan alfamart selalu berdekatan?" cukup bisa terjawabkan di sini.
      6. Crash Course
       
      Untuk persoalan sejarah, Crash Course ini andalan banget. Bukan hanya bisa menjelaskan sejarah dengan sangat tekun, John Green seringkali memasukan informasi-informasi tambahan dan trivia yang sangat berguna untuk dipamerin di ruang kelas. Animasi dan infografis yang digunakan untuk presentasi juga gak main-main. Langsung cek aja lah kalo gak percaya!
    • By c0d1ng
      Google diam-diam telah membangun aplikasi live streaming baru yang disebut YouTube Connect. Layanan ini bakal menjadi pesaing langsung terhadap Twitter Periscope dan Facebook Live. YouTube Connect akan tersedia pada perangkat iOS dan Android.
      YouTube Connect memiliki banyak fungsi yang sama dengan Periscope dan Facebook Live, menurut sebuah sumber VentureBeat yang dekat dengan masalah ini. Anda dapat login ke aplikasi menggunakan akun Google atau YouTube Anda dan segera mulai streaming dari ponsel Anda.
      Ada fitur chat dan tagging, dan "news feed" yang menampilkan klip terbaru dari teman atau orang-orang yang menjadi obyek Anda berlangganan di YouTube.
      Video akan dapat dilihat langsung dalam aplikasi, serta di situs YouTube di saluran masing-masing. Ini juga akan memungkinkan untuk menyimpan siaran sebelumnya dalam aplikasi, sebagai suatu pilihan. Hal ini akan memungkinkan bagi Anda dan teman Anda untuk menonton replay.
      Aplikasi ini belum memiliki integrasi dengan Facebook atau Twitter yang akan memudahkan pengguna untuk berbagi streaming langsung di jaringan sosial lainnya.
      YouTube Connect hadir saat Google telah tertinggal dalam livestreaming dari aplikasi seperti Periscope, Meerkat, dan Facebook Live. YouTube memang menawarkan livestreaming, melalui penawaran Creator Studio miliknya, tapi dengan akses terbatas. Kini aplikasi baru ini bisa membuka kemampuan untuk khalayak yang lebih besar.
      Dalam sebuah wawancara dengan Wired, Manual Bronstein, kepala produk bagi konsumen Google, mengatakan bahwa "Secara garis besar, kami berpikir YouTube menjadi identik dengan video ... hidup selalu menjadi bagian dari video, dan itu selalu menjadi bagian yang sangat menarik."
      Sebuah aplikasi livestreaming masuk akal ketika berpikir tentang arah masa depan untuk YouTube, platform yang menaungi koleksi video buatan pengguna. Memberikan pencipta konten kemampuan untuk atau bersama fans mereka secara real time saat di karpet merah atau di sebuah acara utama adalah sesuatu yang berharga.
      Baik Twitter dan Facebook telah berinvestasi di acara-acara livestreaming. Saat pengumuman laporan keuangan Twitter Q4 2015, CEO Jack Dorsey menyorot visinya bagi perusahaan, ia menunjukkan pentingnya Periscope.
      "Twitter adalah komentar langsung, percakapan langsung, dan koneksi langsung, baik itu berita, hiburan, olahraga, atau topik sehari-hari. Mendengar dan menonton siaran langsung adalah cara tercepat untuk memahami kekuatan Twitter," ujar Dorsey.
      Mark Zuckerberg juga mengatakan pilihan livestreaming Facebook adalah sesuatu yang membuatnya senang. Livestreaming mungkin akan semakin popular karena lebih banyak orang mendapatkan akses ke sana.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy