Jump to content

Jumpa Pers Pertama Donald Trump


Guest News

Recommended Posts

Untuk pertama kali sejak memenangkan pilpres, Donald Trump menggelar jumpa pers. Jumpa pers yang digunakan memaparkan target pencapaian ke depan serta berbagai kebijakan pemerintahan AS ke depan ini, akhirnya banyak didominasi pertanyaan seputar campur tangan Rusia dalam pilpres Amerika.

 

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By merahputih
      Para pemilih di Amerika Serikat akan menentukan pada 3 November mendatang, apakah Donald Trump akan tetap menempati Gedung Putih selama empat tahun mendatang.
      Presiden dari Partai Republik itu ditantang oleh kandidat Partai Demokrat, Joe Biden, yang dikenal sebagai Wakil Presiden-nya Barack Obama dan telah berkecimpung di ranah politik AS sejak 1970-an.
      Ketika hari-H pemilihan presiden kian mendekat, sejumlah lembaga pembuat jajak pendapat akan berupaya menangkap suara warga AS dengan bertanya kepada para pemilih: siapa kandidat yang akan mereka pilih.
      Kami akan terus memantau berbagai jajak pendapat itu seraya berupaya menganalisis apa yang bisa diketahui dan tidak ketahui tentang siapa yang akan memenangi pilpres.
      Bagaimana performa kedua kandidat secara nasional?
      Jajak pendapat nasional adalah panduan yang baik untuk mengetahui seberapa populer seorang kandidat di seantero negeri, namun jajak pendapat semacam itu tidak serta-merta menjadi alat yang bagus untuk memprediksi hasil pemilu.
      Pada 2016, misalnya, Hillary Clinton memimpin pada sejumlah jajak pendapat dan memenangi hampir tiga juta suara lebih banyak ketimbang Trump.
      Tapi, dia tetap kalah—karena AS menggunakan sistem pemilihan electoral college sehingga meraih suara terbanyak tidak lantas menjamin seorang kandidat menang pilpres.
      Lepas dari catatan itu, Joe Biden selalu lebih unggul dari Donald Trump di jajak pendapat nasional selama sepanjang tahun ini.
      Angka yang diraih mencapai kisaran 50% dalam beberapa pekan terakhir dan pada beberapa kesempatan unggul 10 angka. Namum, Trump cenderung bangkit dalam beberapa hari terakhir.

      Perbedaan kondisi sekarang dengan empat tahun lalu, jajak pendapat pada 2016 kurang begitu jelas dan hanya beberapa poin yang memisahkan antara Trump dan Hillary Clinton ketika hari-H kian dekat.
      Negara bagian mana yang menjadi penentu dalam pilpres kali ini?
      Seperti yang ditemukan Hillary Clinton pada 2016, jumlah suara yang diraih kurang penting ketimbang dari mana suara tersebut dimenangkan.
      Kebanyakan negara bagian hampir selalu jelas haluan politiknya.
      Artinya, dalam kenyataan hanya ada segelintir negara bagian yang menghadirkan peluang menang yang sama bagi kedua kandidat.
      Tempat-tempat inilah yang kemudian menentukan kemenangan (atau kekalahan) seorang kandidat sehingga muncul istilah 'battleground states' alias negara-negara bagian kunci yang menjadi medan pertarungan.

      Dalam sistem pemilihan electoral college yang AS gunakan untuk memilih presiden, setiap negara bagian mendapat jumlah suara tertentu berdasarkan populasinya.
      Ada sebanyak 538 suara electoral college yang diperebutkan, sehingga seorang kandidat memerlukan 270 untuk menang.
      Seperti yang ditunjukkan pada peta, beberapa negara bagian yang menjadi medan pertarungan punya suara electoral college lebih banyak dari negara bagian lain.
      Karenanya, kandidat akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berkampanye di negara bagian-negara bagian tersebut.
      Siapa yang memimpin di negara bagian kunci?
      Untuk saat ini, jajak pendapat di semua negara bagian kunci tampak dipimpin Joe Biden.
      Namun, jalan masih panjang dan berbagai hal bisa berubah dengan cepat, khususnya ketika Donald Trump terlibat.
      Survei menunjukkan Biden memimpin jauh di Michigan, Pennsylvania, dan Wisconsin—tiga negara bagian sarat sektor industri yang dimenangi Trump dengan selisih kurang dari 1% pada 2016 lalu.

      Akan tetapi, negara bagian kunci yang dimenangi telak oleh Trump pada 2016 yang bakal paling dirisaukan tim kampanyenya.
      Selisih kemenangannya di Iowa, Ohio, dan Texas berada pada kisaran 8-10% pada 2016, namun kini dia berkejaran dengan Biden di ketiganya.
      Angka-angka pada jajak pendapat ini mungkin bisa menjelaskan keputusan Trump dalam mengganti manajer tim kampanyenya pada Juli lalu serta mengapa dia kerap menyebut "jajak pendapat palsu".
      Meski demikian, pasar taruhan jelas belum menganggap Trump sudah keok.
      Prediksi terkini menyebut peluang kemenangan Trump pada 3 November adalah satu banding tiga.
      Seberapa jauh pandemi Covid-19 mempengaruhi peluang kemenangan Trump?
      Pandemi virus corona telah mendominasi tajuk utama media di AS sejak awal tahun dan respons terhadap aksi Presiden Trump bisa ditebak terbagi dua berdasarkan garis partai.
      Dukungan atas kebijakan-kebijakannya memuncak pada pertengahan Maret setelah dia mengumumkan darurat nasional dan menyediakan US$50 miliar bagi semua negara bagian untuk menghentikan penyebaran virus.
      Pada titik ini, 5% warga AS mendukung tindakannya, berdasarkan data lembaga Ipsos.
      Namun, sokongan dari pemilih Partai Demokrat menghilang setelah itu. Sementara simpatisan Partai Republik terus mendukung Trump.

      Namun, data terkini menunjukkan bahwa para pendukung Trump mulai mempertanyakan tindakan-tindakannya seiring dengan wilayah selatan dan barat AS menghadapi gelombang baru pandemi. Sokongan dari simpatisan Partai Republik merosot hingga 78% pada awal Juli.
      Inilah yang mungkin menjelaskan mengapa akhir-akhir dia mencoba mengubah pesannya soal virus corona. Alih-alih berkata virus akan "menghilang begitu saja", Trump memperingatkan situasi akan "bertambah buruk sebelum kemudian berangsur membaik".
      Dia pun memakai masker untuk pertama kali dan meminta warga AS memakainya, disertai kata-kata "[masker] ini akan berdampak" dan menggunakan masker menunjukkan "patriotisme".
      Sebuah model yang diciptakan para pakar Universitas Washington memprediksi angka kematian akan melampaui 230.000 pada 1 November—dua hari sebelum pilpres.
      Apakah kita bisa mempercayai jajak pendapat?
      Mudah untuk tak lagi mempercayai jajak pendapat dan mengatakan metode itu salah pada 2016, kata-kata yang kerap diutarakan Presiden Trump. Namun, itu tidak sepenuhnya benar.
      Banyak jajak pendapat memang menyebut Hillary Clinton unggul beberapa angka persentase, namun itu tidak berarti metode tersebut salah. Toh Hillary meraup tiga juta suara lebih banyak ketimbang Trump.
      Para lembaga jajak pendapat memang menemui sejumlah kendala pada 2016 — terutama kegagalan memberikan keterwakilan yang layak pada pemilih tanpa gelar sarjana.
      Ini artinya keunggulan Trump di sejumlah negara bagian kunci tidak terdeteksi sampai tahap akhir persaingan. Sebagian besar lembaga jajak pendapat kini telah mengoreksi kesalahan itu.
      Namun tahun ini ada lebih banyak ketidakpastian dari biasanya lantaran pandemi virus corona belum berakhir dan dampaknya pada ekonomi dan cara pemilih menentukan pilihan mereka pada November.
      Dengan demikian, semua jajak pendapat harus dilihat dengan skeptis, khususnya ketika hari pemilihan masih relatif jauh.
    • By eunike_grace
      Amerika Serikat seperti sedang dalam kondisi yang sangat tidak bagus. Selain diserang pandemi virus corona, AS juga tengah dihantui utang.
      Apalagi setelah sang Presiden Donald Trump menyebut dirinya sendiri dengan julukan "King of Debt" atau raja utang. Di masa jabatannya, terjadi lonjakan utang yang cukup besar dan membawa AS ke dalam krisis.
      Alih-alih mengurangi defisit ketika ekonomi sedang kuat, Trump justru membuat tumpukan utang lebih banyak untuk membiayai insentif pemotongan pajak skala besar dan belanja negara yang meningkat. Itu berarti AS sedang mengalami masa krisis dalam kondisi keuangannya.
      Melansir CNN, utang terhadap PDB mencapai hampir 80% bahkan sebelum pandemi virus corona melanda. Naik lebih dari dua kali lipat dari rata-rata dan dua kali lipat sebelum resesi hebat.
      Utang tersebut akan semakin bertambah karena Amerika Serikat harus bertahan hidup di tengah pandemi ini.
      Departemen Keuangan menyebutkan akan meminjam sekitar 3 triliun dolar AS pada kuartal ini. Itu hampir enam kali lipat rekor sebelumnya, yang ditetapkan pada 2008.
      Sementara utang nasional Amerika Serikat sekarang mencapai 25 triliun dolar AS.
      Para ekonom sepakat bahwa Amerika Serikat harus terus menumpuk utang untuk mencegah depresi ekonomi yang lebih parah. Jika tidak, Amerika Serikat tidak bisa membayar utang setelah krisis COVID-19 ini berakhir.
      Bahkan pengawas defisit mendesak Paman Sam untuk terus meminjam.
      "Kami membuat kesalahan besar dalam utang ketika ekonomi kuat. Tapi hanya karena kecerobohan yang mendorong kita ke masa krisis, tidak berarti kita tidak boleh meminjam sebanyak itu."" ujar Maya MacGuineas, presiden bipartisan Komite Responsible Federal Budget kepada CNN Business.
      Akan ada konsekuensi jangka panjang atas utang yang harus dihadapi AS. Misalnya tingkat bunga yang lebih tinggi, inflasi yang lebih parah dan kemungkinan pajak yang lebih tinggi.
      Untuk saat ini, fokus yang dilakukan adalah menjaga kondisi ekonomi Amerika tetap bertahan. Pada bulan Maret, Kongres meloloskan paket stimulus 2,3 triliun dolar AS, yang terbesar dalam sejarah AS.
      Setengah triliun dolar pinjaman telah diberikan kepada usaha kecil. Bantuan langsung diberikan kepada keluarga berpenghasilan rendah dan menengah.
      Kantor Anggaran Kongres memperkirakan defisit anggaran federal akan mencapai 3,7 triliun dolar AS tahun ini, naik 1 triliun dolar pada tahun 2019.
      Kemungkinan paket stimulus juga akan didatangkan akhir tahun ini. Jumlahnya diperkirakan sekitar 2 triliun dolar. Paket tersebut untuk membantu pemerintah negara bagian dan lokal yang terdampak oleh krisis.
    • By Brenda_Christie
      Terlahir dengan nama Donald John Trump, di Queens, New York 14 Juni 1946, calon presiden Amerika Serikat usungan Partai Republik ini akan menjadi presiden AS tertua dalam sejarah jika terpilih. Pernah merintis karier di industri hiburan, Trump dianggap sosok yang kontroversial dan terlalu banyak mencari sensasi. Faktanya, dia terhitung pengusaha yang sukses, lulusan akademi militer dan memiliki nilai akademik tinggi selama menimba ilmu di bangku pendidikan.
      Donald Trump adalah anak keempat dari lima bersaudara buah hati pasangan Frederick C dan Mary MacLeod Trump. Sedari kecil, pendiri Trump Organization tersebut tumbuh sebagai anak yang bersemangat, penuh percaya diri, tegas dan cenderung angkuh. Untuk menyalurkan semua kepribadian baik dan meredam sifat buruknya, orangtua Donald mengirimnya ke Akademi Militer New York. Kala itu, Donald berumur 13 tahun. Di akademi inilah dia belajar untuk bersikap lebih patuh dan hidup disiplin.
      Donald muda tak mengecewakan ayah-ibunya. Dia mendapat penilaian yang luar biasa baik dari akademinya, baik dari segi pelatihan fisik maupun kecerdasan. Bahkan, dia juga mendapat acungan jempol dalam hal bersosialisasi.
      Prestasi Akademis
      Melihat perawakannya sekarang yang begitu tambun, orang tidak akan menyangka bahwa Donald remaja adalah bintang dalam setiap kejuaraan atletik di sekolah dan kampusnya. Ia antara lain pernah meraih penghargaan saat aktif bermain futbol dan baseball pada 1962, serta sepak bola pada 1963. Pada 1964, Donald Trumpditunjuk sebagai kapten tim baseball-nya. Oleh karena prestasinya, pelatih baseball yang terkenal pada masa itu, Ted Tobias menganugerahinya Coach’s Award pada tahun yang sama.
      Dari segi kepemimpinan, setelah dipromosikan sebagai Kapten Perwira S-4, bersama seniornya dia membentuk kelompok sendiri yang beranggotakan perwira-perwira. Dia juga belajar rendah hati dan kemandirian dengan menjadi pekerja paruh waktu di akademi militernya.
      Pendidikan tingginya kemudian berlanjut di Fordham University selama dua tahun. Sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Wharton School of Finance di University of Pennsylvania.
      Pebisnis sekaligus Aktor
      Sejak muda, Donald tertarik pada dunia perfilman. Dia sempat ingin jadi aktor, tetapi pindah haluan jadi pebisnis mengikuti jejak ayahnya. Pikirnya kala itu, industri keuangan jauh lebih menarik dan menguntungkan.
      Meski begitu, impian untuk tampil di layar kaca tak pernah benar-benar surut. Setelah sukses mengambil alih beberapa perusahaan keluarga dan menjadi juragan pengembang real estate yang terkemuka, baru pada 2004 dia mulai melebarkan sayap ke panggung hiburan.
      Penampilannya dalam dunia pertelevisian antara lain bisa dilihat pada film Home Alone bermain jadi cameo, produser sekaligus pembawa acara utama serial reality show The Apprentice di saluran televisi NBC. Ketegasannya dalam memecat para peserta kemudian menjadikannya semakin terkenal. Jargon ‘Anda dipecat’ yang sering dilontarkannya dalam acara tersebut hingga saat ini sering dijadikan ejekan oleh lawan politiknya. Mereka meyakini Trump yang asli juga suka memecat karyawan seperti dalam acara tersebut.
      Percaya tidak percaya, Trump juga pernah muncul di acara gulat WWE. Keterlibatannya dalam acara tersebut karena gedungnya, Trump Plaza di Atlantic City, New Jersey, disewa untuk menampilkan pertandingan aktor-aktor berbadan kekar itu. Satu kemunculannya yang paling dikenang terjadi pada 2007, dia menantang pemilik WWE, Vince McMahon untuk adu pemain. Hasilnya, Vince bersama Umaga kalah; dan sesuai perjanjian, Trump dan pemain pilihannya, Bobby Lashley berhak mencukur habis rambut miliarder WWE itu.
      Video pertarungan miliarder, Donald Trump dan Vince McMahon
       
      Sebagai pebisnis, karier Trump tidak berjalan mulus. Meskipun terbilang sukses dalam beberapa proyek, seperti Grand Hyatt di Manhattan, dia juga pernah mengalami kebangkrutan. Salah satu bisnisnya yang ditutup lantaran hutang menggunung ialah kasino terbesarnya, Trump Taj Mahal di New Jersey.
      “Melewati masa-masa sulit adalah hal yang menakjubkan. Setiap orang harus merasakannya, minimal sekali,” pesannya.

      Riwayat Politik Trump
      Kantong gembung, popularitas tercapai, pernikahan berlangsung sebanyak tiga kali, anak sudah lima, Donald yang lebih mapan ini selanjutnya menancapkan kuku ke dunia politik pada 2012. Kehadiran Trump sering dikatakan para pengamat politik dan industri hiburan sebagai pembawa rona tersendiri dalam ingar bingar elit pemerintahan.
      Tercatat, pria berdarah Skotlandia ini pernah berganti partai politik (parpol) hingga lima kali. Republik adalah parpol pertama baginya pada 1987. Namun pada 1999, dia pindah ke Partai Independen. Pada 2000, Trump pernah ingin naik jadi presiden melalui Partai Reformasi. Lalu pada Agutus 2001, dia banting setir ke Demokrat. Sampai delapan tahun kemudian, dia melompat kembali ke Republik. Sempat kecewa dengan parpol, dia memutuskan tidak andil dalam parpol mana pun. Namun akhirnya, dia nyapres juga tahun ini dengan menunggangi Republik.
      Asmara dan Keluarga
      Bicara asmara, Trump menikah tiga kali. Istri pertamanya, Ivana Zelníčková adalah seorang model kelahiran Republik Ceko. Pernikahan yang bertahan selama 14 tahun tersebut menghasilkan tiga orang anak, antara lain Donald Trump Junior (38), Ivanka Trump(34), dan Eric Trump (32).
      Dua tahun bercerai dari Ivana, Trump menikah lagi dengan seorang aktris cantik AS Marla Ann Maples. Pernikahannya tersebut hanya bertahan enam tahun. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai seorang putri bernama Tiffany Trump (22).
      Istri ketiga, yang digadang-gadang akan menjadi ibu negara selanjutnya itu, Melania Knauss dinikahi Trump pada 2005. Putra bungsu mereka, yakni Barron Trump lahir setahun kemudian. Oleh karena usianya yang masih sangat muda, dia dijauhkan dari ingar-bingar media massa.
      Secara keseluruhan, Trump telah membangun keluarga besar yang terdiri dari lima orang anak dan delapan orang cucu. Meski begitu, keluarganya tampak begitu harmonis dan saling mendukung satu sama lain. Hal itu tercermin saat dia resmi dinominasikan sebagai capres Republik dan selama kampanye kepresidenannya.
      Biodata singkat
      Nama Lengkap: Donald John Trump Nama Panggilan: Donald Trump Tempat, Tanggal Lahir: New York, 14 Juni 1946 Nama Istri: 1. Ivana Marie Zelnickova (1977-1991) ; 2. Maria Maples (1993-1999); 3. Melania Knauss (2005-sekarang) Nama Anak: 1. Donald Trump Jr; 2. Ivanka Trump; 3. Eric Trump; 4. Tiffany Trump; 5. Barron Trump Jenjang Pendidikan: Akademi Militer New York, Fordham University dan University of Pennsylvania Jenjang Karier: Pebisnis, Aktor dan Politisi Penghargaan: Coach’s Award (Baseball, 1964).
    • By BincangEdukasi
      Terlahir dengan nama Donald John Trump, di Queens, New York 14 Juni 1946, calon presiden Amerika Serikat usungan Partai Republik ini akan menjadi presiden AS tertua dalam sejarah jika terpilih. Pernah merintis karier di industri hiburan, Trump dianggap sosok yang kontroversial dan terlalu banyak mencari sensasi. Faktanya, dia terhitung pengusaha yang sukses, lulusan akademi militer dan memiliki nilai akademik tinggi selama menimba ilmu di bangku pendidikan.
      Donald Trump adalah anak keempat dari lima bersaudara buah hati pasangan Frederick C dan Mary MacLeod Trump. Sedari kecil, pendiri Trump Organization tersebut tumbuh sebagai anak yang bersemangat, penuh percaya diri, tegas dan cenderung angkuh. Untuk menyalurkan semua kepribadian baik dan meredam sifat buruknya, orangtua Donaldmengirimnya ke Akademi Militer New York. Kala itu, Donald berumur 13 tahun. Di akademi inilah dia belajar untuk bersikap lebih patuh dan hidup disiplin.
      Pebisnis sekaligus Aktor
      Sejak muda, Donald tertarik pada dunia perfilman. Dia sempat ingin jadi aktor, tetapi pindah haluan jadi pebisnis mengikuti jejak ayahnya. Pikirnya kala itu, industri keuangan jauh lebih menarik dan menguntungkan.
      Meski begitu, impian untuk tampil di layar kaca tak pernah benar-benar surut. Setelah sukses mengambil alih beberapa perusahaan keluarga dan menjadi juragan pengembang real estate yang terkemuka, baru pada 2004 dia mulai melebarkan sayap ke panggung hiburan.
      Penampilannya dalam dunia pertelevisian antara lain bisa dilihat pada film Home Alone bermain jadi cameo, produser sekaligus pembawa acara utama serial reality show The Apprentice di saluran televisi NBC. Ketegasannya dalam memecat para peserta kemudian menjadikannya semakin terkenal. Jargon ‘Anda dipecat’ yang sering dilontarkannya dalam acara tersebut hingga saat ini sering dijadikan ejekan oleh lawan politiknya. Mereka meyakini Trump yang asli juga suka memecat karyawan seperti dalam acara tersebut.
      Percaya tidak percaya, Trump juga pernah muncul di acara gulat WWE. Keterlibatannya dalam acara tersebut karena gedungnya, Trump Plaza di Atlantic City, New Jersey, disewa untuk menampilkan pertandingan aktor-aktor berbadan kekar itu. Satu kemunculannya yang paling dikenang terjadi pada 2007, dia menantang pemilik WWE, Vince McMahon untuk adu pemain. Hasilnya, Vince bersama Umaga kalah; dan sesuai perjanjian, Trump dan pemain pilihannya, Bobby Lashley berhak mencukur habis rambut miliarder WWE itu.
      Video pertarungan miliarder, Donald Trump dan Vince McMahon
      Sebagai pebisnis, karier Trump tidak berjalan mulus. Meskipun terbilang sukses dalam beberapa proyek, seperti Grand Hyatt di Manhattan, dia juga pernah mengalami kebangkrutan. Salah satu bisnisnya yang ditutup lantaran hutang menggunung ialah kasino terbesarnya, Trump Taj Mahal di New Jersey.
      “Melewati masa-masa sulit adalah hal yang menakjubkan. Setiap orang harus merasakannya, minimal sekali,” pesannya.
      Riwayat Politik Trump
      Kantong gembung, popularitas tercapai, pernikahan berlangsung sebanyak tiga kali, anak sudah lima, Donald yang lebih mapan ini selanjutnya menancapkan kuku ke dunia politik pada 2012. Kehadiran Trump sering dikatakan para pengamat politik dan industri hiburan sebagai pembawa rona tersendiri dalam ingar bingar elit pemerintahan.
      Tercatat, pria berdarah Skotlandia ini pernah berganti partai politik (parpol) hingga lima kali. Republik adalah parpol pertama baginya pada 1987. Namun pada 1999, dia pindah ke Partai Independen. Pada 2000, Trump pernah ingin naik jadi presiden melalui Partai Reformasi. Lalu pada Agutus 2001, dia banting setir ke Demokrat. Sampai delapan tahun kemudian, dia melompat kembali ke Republik. Sempat kecewa dengan parpol, dia memutuskan tidak andil dalam parpol mana pun. Namun akhirnya, dia nyapres juga tahun ini dengan menunggangi Republik.
      Asmara dan Keluarga
      Bicara asmara, Trump menikah tiga kali. Istri pertamanya, Ivana Zelníčková adalah seorang model kelahiran Republik Ceko. Pernikahan yang bertahan selama 14 tahun tersebut menghasilkan tiga orang anak, antara lain Donald Trump Junior (38), Ivanka Trump (34), dan Eric Trump (32).
      Dua tahun bercerai dari Ivana, Trump menikah lagi dengan seorang aktris cantik AS Marla Ann Maples. Pernikahannya tersebut hanya bertahan enam tahun. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai seorang putri bernama Tiffany Trump (22).
      Istri ketiga, yang digadang-gadang akan menjadi ibu negara selanjutnya itu, Melania Knauss dinikahi Trump pada 2005. Putra bungsu mereka, yakni Barron Trump lahir setahun kemudian. Oleh karena usianya yang masih sangat muda, dia dijauhkan dari ingar-bingar media massa.
      Secara keseluruhan, Trump telah membangun keluarga besar yang terdiri dari lima orang anak dan delapan orang cucu. Meski begitu, keluarganya tampak begitu harmonis dan saling mendukung satu sama lain. Hal itu tercermin saat dia resmi dinominasikan sebagai capres Republik dan selama kampanye kepresidenannya.
      Biodata singkat
       
    • Guest News
      By Guest News
      Donald Trump will mark his first month in office Monday, a presidential debut unlike any other in recent history. Trump has proclaimed his presidency an early success in bringing change to Washington, even as he lashes out at what he describes as a "dishonest press" that he says is "out of control." VOA national correspondent Jim Malone has more from Washington.
       
×
×
  • Create New...