Jump to content
Darur

Jawaban Matematika Anak SD yang Menghebohkan Dunia Maya

Recommended Posts

14113698861786914711.jpg

 

Jagat dunia maya kembali heboh dengan postingan salah seorang netizen yang mempertanyakan penililaian guru SD terhadap muridnya. Menurut gambar yang dipos, mereka mempermasalahkan mengapa jawaban adiknya salah. 3x4=12 sama juga 4x3=12. Namun kedua hal tersebut memilika makna fisi yang berbeda.

Keduanya adalah model matematis yang kasusnya berbeda. Konsekuensinya bisa berbeda juga. Misalnya, Budi dan Adi sama-sama memetik jambu yang jumlahnya sama, 12. Karena Budi lebih kuat, ia membawa 4 jambu sebanyak 3 kali, secara matematis ditulis 3 x 4. Tetapi Adi yang badannya lebih kecil, hanya mampu membawa 3 jambu sebanyak 4 kali, model matematisnya 4 x 3. Jadi, 4 + 4 + 4 = 3 x 4, berbeda konsepnya dengan 3 + 3 + 3 + 3 = 4 x 3, walau hasilnya sama 12.

Dan ternyata materi tersebut sudah diajarkan di Sekolah Dasar.

Berikut gambar salah satu halaman di buku pelajaran matematika Sekolah Dasar.

 

10550892_810391388981652_524596889263696

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By BincangEdukasi

      Tema “Jangan Tutup Sekolah Kami” yang diangkat dari kasus yang terjadi di Moro-Moro, Wilayah Register 45, Kabupaten Mesiji, Lampung. Tema ini sepertinya harus lebih menjadi perhatian masyarakat di tengah ramainya pemberitaan politik tanah air. Karena diundang untuk ikut dalam Hangout dalam topik ini, saya pun mencari informasi sebanyak-banyaknya  mengenai kasus tersebut hingga akhirnya menemukan sebuah film dokumenter yang diunggah di Youtube.
      Setelah menyaksikan video lengkap, saya mendapat sedikit gambaran bagaimana kondisi siswa dan guru yang ada disana, serta menjadi tahu apa yang menjadi penyebab, hingga 400 siswa terancam harus kehilangan kesempatan mendapatkan hak belajarnya. Dari gambaran yang saya dapatkan tersebut, muncul pertanyaan dalam hati, tidak adakah koordinasi antara lembaga yang berwenang di Indonesia sehingga harus mengorbankan masa depan anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa?
      Dari semua referensi yang saya baca dan saya saksikan, berikut informasi yang saya dapatkan sehingga pembaca dapat memiliki gambaran bagaimana kondisi disana.
      Sekolah yang dibangun atas dasar swadaya masyarakat ini memang berada di Wilayah Register 45, yang merupakan lahan sengketa dan berada dalam kewenangan Kementerian Kehutanan. Alasan tidak dikeluarkannya izin kelas jauh untuk sekolah yang ada disana, karena Pemkab tidak ingin melanggar Undang-Undang No.18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.
      Awal berdiri pada tahun 2000, kelas jauh ini menginduk pada SDN 04 Indraloka II, Kecamatan Way Kenanga, Kabupaten Tulang Bawang yang jaraknya 12 KM dari dusun Morodewe (salah satu dusun di Moro-moro) agar mendapatkan legalisasi dari pemerintah.
      Situasi berubah setelah terjadi pemekaran wilayah pada tahun 2008, yaitu pemecahan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Tulang Bawang Barat dan Kabupaten Mesuji dari Kabupaten Induk Tulang Bawang, karena secara administrasi, letak wilayah kelas jauh di Moro-moro menjadi terpisah dengan sekolah induknya, sehingga sekolah di Moro-moro harus menginduk pada sekolah yang ada di Kabupaten Mesuji.
      Dari cerita yang disampaikan di kronologis penutupan sekolah di Morodewe, tergambar susahnya mencari sekolah induk baru untuk sekolah tersebut, hingga akhirnya mereka menemukan SD 2 Boku Poso namun dengan ketentuan kegiatan belajar harus dilaksanakan di Sekolah Induk tersebut, dengan alasan bahwa pelayanan pendidikan kelas jauh sudah tidak diperbolehkan oleh pemerintah.
      Menurut keterangan Narasumber, penggerak gerakan #savemoro-moro kemarin, jarak dari Moro-moro ke sekolah induk sekitar 10 kilometer, pulang pergi berarti 20 kilometer, artinya harus ada kendaraan yang mengantar mereka untuk pulang pergi sekolah.
      Dari cerita yang saya rangkum diatas, ada beberapa poin yang ingin saya soroti :
      Saling Lempar Tanggung Jawab karena alasan kewenangan
      Masalah pendidikan ini tentu berada dibawah tanggungjawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Lampung, namun karena Dinas Pendidikan ini berpegang pada peraturan bahwa kewenangan untuk pemberian rekomendasi izin pendirian sekolah ada di Pemerintah Daerah, maka seolah menyerahkan solusi penyelesaian masalah ini pada pihak Pemkab (Pemerintah Kabupaten)
      Dilain pihak, Pemkab yang memegang kewenangan untuk pemberian rekomendasi pendirian sekolah merasa tidak dapat mengeluarkan izin karena sekolah-sekolah tersebut berada di wilayah kewenangan kementrian kehutanan. Keputusan ini bisa dimaklumi karena pihak Pemkab mungkin takut bila kebijakannya akan melanggar Undang Undang yang dapat menimbulkan sanksi, tetapi seharusnya dilakukan koordinasi dengan Dinas Kehutanan dan diberikan solusi yang berpihak pada pendidikan anak-anak.
      Rendahnya Inisiatif Penyelesaian Masalah
      Bila kelas jauh sudah tidak diperbolehkan oleh pemerintah, maka seharusnya dinas pendidikan beinisiatif mengajak Pemkab dan Dinas Kehutanan untuk berdiskusi mencarikan solusi yang lebih baik dibandingkan dengan memutuskan agar siswa di Moro-moro mengikuti kegiatan belajar di sekolah induk yang jaraknya sangat jauh.
      Dengan jarak tempuh yang jauh berarti harus ada tambahan biaya yang dikeluarkan untuk ongkos pulang pergi, belum lagi waktu dan energi yang harus terbuang lebih banyak dan tentu bisa berakibat pada kemunduran prestasi siswa.
      Karena UUD 1945 pasal 31, sudah memberikan jaminan kepada semua warga negara untuk mendapatkan pendidikan, maka seharusnya kasus seperti ini tidak terjadi, karena hal ini berarti pemerintah tidak melaksanakan kewajiban untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak di Moro-moro.
      Kasus yang terjadi di Moro-moro mungkin hanya satu kasus yang terangkat ke media, dan mungkin masih ada kasus-kasus serupa di pelosok tanah air. Belajar dari kasus ini, sangat diharapkan pihak dinas pendidikan lebih berinisiatif untuk berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait bila menemukan kasus-kasus serupa, dan mencarikan solusi terbaik yang tidak memberatkan siswa.
      Semoga masalah pendidikan anak-anak di Moro-moro dapat diselesaikan dengan solusi yang tidak memberatkan siswa sehingga anak-anak bisa kembali ceria dan bersemangat belajar dan menjadi generasi penurus bangsa yang berkualitas.
    • By berita_semua
      Tim Penyidik Perempuan dan Perlidungan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Selatan tengah melakukan pendalaman peristiwa terbunuhnya NA (8), siswa kelas 2 SD Negeri 07 Pagi Kebayoran Lama, usai bertengkar dengan R (8) saat lomba menggambar di sekolah, kemarin.
      Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Wahyu Hadiningrat mengatakan tim penyidik PPA telah melakukan rapat koordinasi dengan perwakilan anak, pihak Kementerian Sosial, Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), ahli psikologi, TP2A, ahli pidana dan pihak sekolah.
      Menurut Wahyu, alasan R memukul NA diawali saling ejek. Siapa yang memulai ejekan tersebut masih dalam proses pemeriksaan. Ketika terjadinya kejadian tersebut, menurutnya, diawasi guru karena kejadiannya terjadi di sekolah.
      "Berapa kali NA dipukul, saat ini semuanya masih pemeriksaan. R sudah diperiksa dan didampingi oleh orangtua. Dia akan dikembalikan ke orangtua karena sedang menderita sakit cacar," jelas Wahyu kepada wartawan di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Sabtu (19/9/2015).
      Menurut Wahyu, jenazah NA sedang dilakukan autopsi (pemeriksaan dalam) dan hasilnya akan keluar minggu depan. Namun untuk hasil visum dari korban seperti memar di kepala bagian belakang sudah diketahui.
      Saat ini penyidik PPA, menurut Wahyu, akan memeriksa kondisi psikis dari R melalui pemeriksaan psikologis forensik untuk pendalaman kasus ini.
      Untuk kasus ini pihak kepolisian akan merujuk kepada dua undang-undang (UU) yakni UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UU Nomor 11 tahun 2011 tentang Sistem Peradilan Anak.
      "Semua yang kita lakukan prosedural berdasarkan UU. Sebelumnya kita lakukan pemeriksaan seperti biasa baru masuk ke sistem peradilan anak," pungkasnya.
    • By berita_semua
      Anak SD Jaman Sekarang Ketagihan Seks
      Sungguh miris dan menggenaskan seorang siswi Sekolah dasar yang masih kecil dan layaknya belum mengetahui apa itu hubungan intim, kini malah ketagihan seks dan mengalami positif hamil.
      Seorang siswi sekolah dasar (SD) di Surabaya Timur mengaku kerap dicabuli pacar ibunya. Kini anak yang masih ingusan itu hamil lima bulan, dan dia dinyatakan mengalami ketagihan seks atau sex addict.
      Siswi SD tersebut tinggal berdua bersama ibunya yang telah lama bercerai dengan suaminya di sebuah rumah di Surabaya timur. Ibu siswi SD itu memiliki kedekatan khusus dengan seorang pria yang sering bermain ke rumahnya.
      “Dia (siswi SD) juga sering melihat ibunya dengan pria itu berhubungan intim,” kata Isa Anshori, ketua Divisi Data dan Riset, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim.
      Kini, siswi yang duduk di kelas 6 SD itu ditangani jejaring lembaga swadaya masyarakat pemerhati anak Surabaya. Korban ditempatkan di shelter khusus. ”Dia mendapatkan program pemulihan psikis, serta untuk menghilangkan ketagihan seksnya,” jelasnya.
      Sebelumnya, LPA Jatim juga menemukan siswi SD yang hamil lima bulan. Selain dicabuli ayahnya sendiri, siswi SD berusia 15 tahun itu mengaku juga dicabuli guru agamanya di sekolah.
      Kasus yang menimpa siswi SD di Surabaya utara itu kini sudah ditangani Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Ayah maupun guru agamanya sudah diamankan.
      Maka dari itu perlunya perhatian lebih dan penuh akan anak anda, tidak peduli jenjang pendidikan anak anda, tapi anak tetaplah anak, besar atau kecil, dewasa atau muda. Jagalah anak anda sebaik mungkin jangan sampai merusak akhlaknya dengan seks dan hawa nafsu untuk keperluan pribadi.
      Memang jaman sekarang marak sekali kasus seperti ini pencabulan, pemerkosaan dan lain-lain. Maka dari itu berhati-hatilah dan rawat anak anda dengan sepenuh hati.
    • By davidbo
      Penelitian dilakukan di 24 negara di mana peserta sebagian besar merupakan pelajar Sekolah Dasar
       
      Anak usia sekolah dasar di Inggris membutuhkan pendidikan lebih lanjut mengenai cara menghindari pelecehan seksual, kata seorang akademisi terkemuka.
       
      Anak-anak yang telah mengikuti program pencegahan pelecehan lebih mungkin untuk memberitahu orang dewasa jika mereka telah dilecehkan, ungkap satu penelitian.
       
      Penelitian ini mengatakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu dari 10 anak perempuan dan satu dari 20 anak laki-laki mengalami beberapa bentuk pelecehan seksual pada masa kanak-kanak.
       
      Para peneliti mendapatkan kesimpulan ini setelah mempelajari data dari sekitar 6.000 anak-anak di tujuh negara.
       
      Data "mendukung kebutuhan untuk menginformasikan dan melindungi anak-anak", kata Dr Kerryann Walsh dari Queensland University of Technology.
       
      Hal ini didapatkan dari 24 percobaan di mana terdapat 5.802 anak-anak, yang merupakan sebagian besar usia SD, ikut mengambil bagian dalam program pencegahan yang berbasis sekolah tersebut.
       
      Percobaan tersebut dilakukan di Amerika Serikat, Kanada, Cina, Jerman, Spanyol, Taiwan dan Turki, dan dinilai sebagai penelitian ilmiah yang paling kuat yang pernah dilakukan.
       
      Namun beberapa penelitian tersebut baru dilakukan beberapa tahun terakhir, sedangkan beberapa penelitian lainnya dari tahun 1980-an.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy