Jump to content

Kemenangan Real Madrid di Copa del Rey


Recommended Posts

post-84-0-98727100-1397732986_thumb.jpg

 

 

Real Madrid sukses merebut trofi pertamanya di musim ini. Gelar Copa del Rey sukses diraih berkat kemenangan dramatis atas rival abadinya Barcelona.

Partai puncak di Mestalla, Kamis dini hari tadi berlangsung cukup menegangkan. Disaksikan 50.000 pasang mata yang memadati stadion, kedua tim menampilkan performa kelas wahid.

Madrid yang berambisi menyabet treble winners musim ini, langsung menggebrak dengan unggul lebih dulu pada menit ke-11. Lewat skema serangan balik cepat, Karim Benzema mengirimkan umpan brilan ke Angel Di Maria yang lolos dari jebakan offside.

Menggiring bola ke kotak penalti dengan kawalan ketat dari Jordi Alba, winger internasional Argentina yang menggantikan posisi Cristiano Ronaldo (cedera), berhasil melepaskan tendangan yang bersarang di pojok gawang Jose Pinto.

Keunggulan 1-0 Madrid membuat jalannya laga semakin menarik. Tensi meninggi. Dan seperti biasa, selalu ada ‘bumbu’ pertikaian di El Clasico. Kali ini Neymar, Fabio Coentrao dan Pepe yang terekam kamera sempat bertikai. Untungnya, insiden tersebut bisa dikendalikan oleh wasit Antonio Mateu yang tampil cukup tegas pada laga ini.

Laga berlanjut, tempo permainan kian tinggi. Namun sejauh ini Tiki Taka Barca selalu mentah di barisan pertahanan Madrid yang bermaiin lugas. Skor 1-0 untuk El Real pun bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, tempo permainan kian meninggi. Barca berupaya keras membongkar rapatnya pertahanan Madrid yang digalang Sergio Ramos dan Pepe. Peluang emas sempat didapat Barca lewat tendangan jarak jauh Marc Bartra, tapi mampu ditepis Iker Casillas.

Sementara itu, Madrid juga tak kalah mengerikan saat melakukan tekanan. Benzema dan Bale beberapa kali memaksa Pinto berjibaku menyelamatkan gawangnya.

Memasuki 30 menit laga tersisa, Barca yang unggul dalam penguasaan bola masih cukup kesulitan menemukan celah di pertahanan Madrid. Messi cs. Terlihat mulai frustrasi. Sampai pada akhirnya Bartra sukses memecah kebuntuan Barca lewat tandukannya.

Berawal dari sepak pojok, bek muda Barca ini berhasil memanfaatkan kelengahan Pepe dalam mengantisipasi datangnya bola. Kegagalan Pepe menjangkau bola, memudahkan Bartra mengarahkan bola ke pojok gawang yang tak mampu dijangkau Casillas. Suatu hal yang sangat jarang kita lihat, Barca mencetak gol lewat skema sepak pojok.

Skor 1-1, mental Barca kembali naik. Barcelonista yang hadir di Stadion juga kembali bersemangat setelah sebelumnya cukup frustrasi. Barca mulai mengurung pertahanan Madrid. Neymar, Iniesta, Xavi dan sang megabintang Lionel Messi mulai membuat lini belakang Madrid panik dengan aksi-aksinya.

Sampai pada menit ke-86, angin kembali berbalik untuk kubu Madrid. Serangan Barca yang berhasil dipatahkan, langsung diubah jadi serangan balik mematikan oleh Madrid. Coentrao yang memimpin serangan balik, memberikan umpan ke Bale di sisi lapangan.

Dihadang Bartra, winger asal Wales ini mendorong bola jauh ke depan, lalu beradu sprint dengan Bartra. Sempat terhadang body charge Bartra hingga membuatnya keluar garis lapangan, Bale tak cengeng dan terus berlari mengejar bola.

Dengan modal sprint yang di atas rata-rata, Bale dengan mudah mendahului Bartra, lalu masuk ke kotak penalti dan dengan jeli menempatkan bola diantara kedua kaki Pito yang coba menutup ruang tembaknya. Sebuah pertunjukkan yang luar biasa dari pemain yang dihargai sangat mahal oleh Madrid.

Gol dari Bale membuat Barca kian panas. Pelatih Gerardo Tata Martino langsung merespon dengan menambah juru gedor. Alexis Sanchez masuk menggantikan Bartra. Dengan demikian, Barca bermain dengan empat striker sekaligus, yakni Messi, Neymar, Pedro Rodriguez dan Alexis.

Sementara Ancelotti menangkal strategi Martino dengan menambah amunisi di lini belakang. Raphael Varane masuk menggantikan Benzema. Di lini tengah, untuk memberikan keseimbangan, Don Carletto juga memasukkan Casemiro dan Asier Illaramendi, dengan menarik keluar Isco dan Di Maria.

Barca mulai mengurung Madrid di masa injury time. Sebuah peluang emas untuk membuat pertandingan memasuki babak perpanjangan waktu dimiliki Barca. Neymar yang lolos dari jebakan offside, hanya tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Casillas. Namun sial bagi Barca, tendangan placing bintang muda Brasil ini hanya membentur tiang gawang.

Madrid pun akhirnya berhasil mengamankan keunggulan 2-1 dan merebut gelar Copa del Rey ke-19. Hasil ini merupakan ulangan final tiga musim lalu atau 2011 di mana  El Real juga jadi juara Copa del Rey usai menaklukkan Barca di tempat yang sama. Ketika itu, Madrid yang dilatih Jose Mourinho menang 1-0 lewat babak perpanjangan waktu.

Gelar Copa del Rey, membuka peluang Madrid merealisasikan ambisi merebut treble winners di musim ini. Pasalnya, pasukan Ibu Kota juga masih punya peluang besar juara di La Liga dan Liga Champions.

Sementara buat Barca, kegagalan ini membuat mereka terancam mengakhiri musim dengan tangan hampa. Sebab, pasukan Catalan sudah kehilangan dua kompetisi, yakni Copa del Rey dan Liga Champions. Sementara di La Liga, Blaugrana masih tercecer di posisi tiga, terpaut empat poin dari Atletico Madrid di puncak klasemen.

Link to post
Share on other sites
  • 2 months later...
  • 1 month later...

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By congek
      Pandemi virus corona atau Covid-19 yang muncul pada awal 2020 ini diharapkan bisa mengubah sepak bola Eropa dan dunia ke arah yang lebih baik lagi.
      Sebelum virus corona muncul, sepak bola di Eropa tampak baik-baik saja. Namun pada kenyataannya masih menyimpan sejumlah persoalan, terutama terkait ketimpangan antara klub besar dan kecil.
      Klub-klub besar akan makin kuat dan kaya dengan kekuatan uang yang mereka miliki. Sedangkan tim-tim medioker atau kecil sekalipun tidak akan berdaya menandingi klub-klub besar tersebut. 
      Pemain-pemain potensial dari klub medioker atau kecil bisa saja pindah dengan mudah dari klub tersebut dengan rayuan gelimangan uang klub besar. Imbasnya, klub kecil kembali harus memutar otak mencari pemain yang bisa membuat mereka bisa bersaing dan bertahan di kompetisi itu.
      Sementara itu, klub-klub besar dengan latar belakang sejarah serta prestasi yang mereka punya seperti duduk manis menanti pundi-pundi uang kembali terisi oleh 'setoran' dari sponsor dan juga penggemar.
      Akan tetapi, kondisi tersebut bisa mengalami sedikit perubahan atau bahkan signifikan setelah pandemi Covid-19 ini berakhir.
      Virus corona membuktikan diri bisa memberikan dampak besar bagi keuangan klub, baik kecil maupun besar. Akan tetapi, klub-klub kecil yang tentu merasakan imbas paling besar dari krisis ini.
      Tidak ada pemasukan dari tiket penonton, tidak juga mendapat dana hak siar. Ditambah lagi, kunjungan fan ke stadion, museum, maupun fasilitas klub lainnya, nihil karena larangan dari pemerintah selama masa karantina. Di lain sisi, operasional klub terus mengalir untuk membayar gaji pegawai dan aspek lainnya.
      Barcelona sudah merasakan itu. Bahkan Blaugrana melakukan pemotongan gaji pada pemain-pemainnya sebesar 70 persen, termasuk Lionel Messi selama pandemi berlangsung.
      Tidak hanya itu, Luis Suarez dan kawan-kawan juga akan membantu Barcelona agar para pegawainya di luar pemain bisa 100 persen menerima gaji. 
      Juventus juga disebut-sebut akan melakukan langkah serupa, mengurangi gaji para pemainnya. Potongan 20 sampai 30 persen bakal didapat Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan agar Si Nyonya Tua memiliki napas panjang di tengah wabah Covid-19.
      Ini jadi bukti, kehidupan klub elite di ujung tanduk. Masa krisis ini membuka peluang klub-klub melakukan penyesuaian gaji pegawainya di masa mendatang. Hal tersebut sudah diprediksi pelatih Everton, Carlo Ancelotti.
    • By spammerindo
      Arsenal resmi ditinggalkan dua pelatihnya pekan ini. Ya, The Gunners kehilangan Andries Jonker dan Freddie Ljungberg yang sebelumnya menjadi manajer dua tim berbeda.
      Jonker merupakan manajer bagi tim Akademi Arsenal. Ia bergabung sejak tahun 2014 setelah menjadi asisten Louis van Gaal di timnas Belanda.
      Jonker selama ini punya reputasi bagus untuk menangani pemain muda. Tak heran klub Bundesliga, Wolfsburg merekrutnya untuk memperbaiki prestasi tim.
      "Saya menikmati tiga tahun bekerja di Arsenal. Terima kasih pada CEO Ivan Gazidis dan Arsene Wenger untuk semua dukungannya," kata Jonker seperti dilansir laman resmi klub.
      "Yang jelas banyak pemain muda di Akademi Arsenal setelah saya pergi. Saya akan terus memantau perkembangan karier mereka," ujar Jonker menambahkan.
      Tak hanya Jonker yang direkrut Wolfsburg. Ljungberg yang menangani tim Arsenal U-15 juga diajak untuk mendampingi Jonker.
      "Ljungberg juga tak sabar bekerja dengan saya di Wolfsburg. Kami akan saling melengkapi," kata Jonker.
    • By berita_semua
      Barcelona melakoni leg pertama babak 16 besar ajang Copa del Rey musim 2016-2017 dengan bertandang ke markas Athletic Bilbao di Estadio San Mames, pada, Jumat (6/1/2017), dini hari WIB. Tampil menekan sejak menit awal, Blaugrana justru harus menyudahi laga ini dengan kekalahaan 1-2 atas Athletic.
      Jalannya Pertandingan
      Babak Pertama
      Babak pertama baru berusia enam menit, Barca sudah memberikan ancaman ke gawang Athletic. Adalah sepakan spekulasi dari Neymar Junior yang hampir membuat publik tuan rumah terdiam. Namun bola hasil sepakan bintang Timnas Brasil itu belum menemui sasaran yang tepat.
      Hanya berjarak delapan menit, giliran Athletic yang nyaris membuka keunggulan atas Barca pada pertandingan ini. Namun, peluang emas mereka yang hadir dari aksi Inaki Williams, masih mampu diamankan oleh Marc-Andre ter Stegen.
      Aritz Aduriz! Mampu membawa Athletic unggul 1-0 atas Barca melalui golnya pada menit 22. Memanfaatkan umpan tarik dari Raul Garcia, penyerang berusia 35 tahun tersebut menyambutnya dengan sundulan yang tak mampu dihalau Ter Stegen.
      Hanya berjarak tiga menit dari gol Aduriz, gawang Barca kembali kebobolan di laga ini. Adalah Inaki Williams yang sukses mencatatkan namanya di papak skor, usai sepakannya meluncur deras ke dalam gawang kubu tamu. Athletic 2-0 Barca.
      Tertinggal dua gol dalam waktu singkat, memaksa Barca langsung meningkatkan tempo permainan mereka. Alhasil, sebuah peluang emas pun mereka dapatkan via aksi dari Luis Suarez. Namun, kans pemilik julukan El Pistolero tersebut belum membuahkan hasil.
      Dua menit jelang turun minum, Barca sejatinya bisa memperkecil ketertinggalan mereka. Tapi, peluang emas mereka via aksi Neymar belum mampu menembus rapatnya pertahanan Athletic. Hingga 45 pertama usai, kedudukan 2-0 untuk keunggulan Athletic atas Barca masih menghiasi papan skor laga ini.
      Babak Kedua
      Barca yang tengah tertinggal dua gol, langsung tampil mengebrak pada awal babak kedua laga ini. Bahkan, mereka hampir saja mengubah kedudukan jadi 1-2, jika sepakan keras Rakitic tak digagalkan oleh Iraizoz.
      Barca akhirnya mampu memperkecil ketertinggalan mereka dari Athletic jadi 1-2 setelah Lionel Messi mencatatkan namanya di papan skor. Memaksimalkan peluang dari sepakan bebas, La Pulga pun menyepak bola masuk ke dalam gawang Athletic yang tak mampu diamankan Iraizoz.
      Pada menit 62, Barca kembali hampir meraih gol penyeimbang kedudukan pada laga ini melalui aksi dari Neymar. Akan tetapi, sepakan pisang yang dilepaskan oleh mantan pemain Santos tersebut masih mampu ditepis oleh Iraizoz.
      Berselang tujuh menit, Athletic sebenarnya memiliki kesempatan untuk menambah keunggulan mereka atas Barca jadi 3-1. Akan tetapi, sepakan melambung yang dilepaskan oleh Aduriz masih dengan mudah diamankan oleh Ter Stegen.
      Memasuki sembilan menit jelang laga usai, Athletic menerima sebuah kerugian dengan harus bermain dengan 10 pemain. Hal tersebut terjadi setelah Iturrapse mendapatkan kartu kuning kedua usai melakukan pelanggaran kepada Neymar.
      Hingga peluit panjang ditiupkan wasit bertanda usainya pertandingan, tidak ada lagi gol tambahan yang mampu dicetak oleh kedua keselebasan. Tim tuan rumah, Athletic, mampu meraih kemenangan 2-1 atas tamunya, Barca.
      Susunan Pemain
      Athletic Bilbao (4-1-4-1): Iraizoz; San Jose, Boveda, Etxeita, Balenziaga; Laporte; Saborit (Muniain 68’), Raul Garcia, Inaki Williams (Gorka 84’), Iturrapse; Aduriz (Goni 78’).
      Pelatih: Ernesto Valverde
      Barcelona (4-3-3): Ter Stegen;  Roberto, Umtiti (Alcacer 88’), Pique, Jordi Alba; Sergio Busquets, Iniesta, Rakitic (Andre Gomes 70’); Messi, Suarez, Neymar.
      Pelatih: Luis Enrique
    • By Inside_in666
      Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia akhirnya memiliki kepengurusan yang baru di bawah kepemimpinan Pangkostrad Letjen Edy Rahmayadi. Tepat pukul 21.40 WIB, Kongres PSSI resmi pun ditutup Pelaksana Tugas Ketum PSSI periode 2015-2016, Hinca Panjaitan. 
      Ketua Komite Pemilihan, Agum Gumelar, menyampaikan ucapan selamat kepada kepengurusan PSSI periode 2016-2020. 
      Menurut Agum, kongres yang berlangsung hampir 12 jam tersebut berjalan dengan aman, tertib, dan lancar. Ia berharap kepengurusan PSSI selanjutnya dapat menjalani reformasi sepak bola dengan baik.
      "Ada tiga hakekat reformasi. Pertama, tinggalkan nilai-nilai lama yang tidak sesuai dengan tuntutan reformasi. Nilai-nilai yang berbau arogansi, KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme), bernuansa paling benar sendiri, pengaturan skor, suap, dan sebagainya, tinggalkan itu jauh-jauh," kata Agum dalam kesempatannya berbicara di kongres tersebut.
      Hakekat reformasi yang kedua, ucap Agum, adalah melanjutkan nilai-nilai baik yang ada dalam PSSI pengurus lama. "Ketiga, masyarakat Indonesia sangat berharap untuk bisa bawa persepakbolaan ini profesional dalam pengelolaan kompetisi dan cita-cita kuat nilai-nilai orestasi," katanya menambahkan.
      Lebih lanjut, Agum pun meminta agar Edy beserta anggota pengurus baru PSSI dapat mempersatukan semua komponen sepak bola Indonesia.
      "Saya yakin dengan cara seperti itu sepak bola bisa maju. Selamat berjuang Pak Edy dan kawan-kawan. Bawalah sepakbola seperti yang diharapkan bangsa Indonesia," ucapnya melanjutkan.
      Berikut ini adalah kepengurusan PSSI periode 2016-2020:
      Ketua Umum: Edy Rahmayadi
      Wakil Ketua Umum: Joko Driyono, Iwan Budianto
      Anggota Komite Eksekutif:
      H. Hidayat 70 suara Yunus Nusi Condro Kirono Gusti Randa Pieter tanuri Juni Ardianto Rachman A.S Sukawijaya Johar Lin Eng Refrizal Dirk Soplanit Verry Muliadi Papat Yunisal
    • By JustVideo
      Kalau di sepak bola itu terkenal yang namanya "kecohan/terkecoh", gimana jadinya kalau kipper jadi terkecoh dan dipermalukan sama lawan? Sakitnya tuh disini! 
       
×
×
  • Create New...