Jump to content

Mayoritas Diplomat AS Adalah Anggota CIA


Recommended Posts

Rodrigo Duterte ialah Presiden Filipina ke-16.jpg
Rodrigo Duterte ialah Presiden Filipina ke-16

Pada Kamis lalu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan bahwa kebanyakan duta besar  meremehkan pemerintah asing tempat mereka bertugas. Sebab, kata dia, karena tugas mereka lebih sebagai mata-mata.

Secara khusus, ia menyebut mantan duta besar Philip Goldberg.

Duterte mencetuskan hal itu ketika menanggapi laporan Manila Times bahwa mantan duta besar AS itu sedang merencanakan untuk 'menggoyang' Duterte.

Harian tersebut mengaku mendapat informasi dari 'sumber dalam' bahwa Goldberg mencanangkan strategi penggulingan  dalam waktu 1,5 tahun.

Seperti dikutip dari UPI pada Jumat (30/12/2016), pihak AS melalui State Department atau Departemen Luar Negeri membantah tuduhan itu pada hari yang sama.

Daniel Russel, staf menlu untuk Uurusan Asia Timur dan Pasifik menyatakan melalui harian tersebut, "Seperti kami katakan, hubungan kami dengan Filipina luas dan persekutuan kita adalah salah satu hubungan yang berjalan dan terpenting di kawasan Asia Pasifik."

Dalam wawancara televisi itu, Duterte bahkan memperluas tuduhannya kepada para duta besar AS lainnya, katanya, "Mengacu kepada berita yang kredibel, mungkin kalian sudah sedikit mengerti bagaimana mereka beroperasi."

"Karena kebanyakan duta besar AS, tidak semua, bukan benar-benar duta besar profesional…mereka sedang memata-matai. Mereka sangat terhubung dengan ."

"Duta besar suatu negara adalah mata-mata nomor wahid, tapi ada sejumlah duta besar AS bertugas menggoyang pemerintahan. Itulah yang terjadi di Bolivia," imbuhnya.

Philip Goldberg and Duterte.jpg
Philip Goldberg and Duterte.

 

Goldberg berdinas sebagai duta besar AS untuk Filipina dari 2 Desembeer 2013 hingga 4 November 2015. Sebelumnya ia adalah asisten menteri untuk intelijen dan penelitian di State Department.

Pada 2006, Presiden George W. Bush mencalonkan dia menjadi duta besar untuk Bolivia.

Pada 10 September 2008, pemerintah Bolivia memberi waktu 72 jam baginya untuk hengkang, setelah AS dicurigai memberikan jutaan dolar kepada para pemimpin oposisi dan pemikir yang berseberangan dengan Presiden Evo Morales.

Menurut State Department, tuduhan terhadap Goldberg tidak berdasar.

Kata Duterte, "Itulah yang terjadi di Bolivia. Dia diusir karena menggoyang presiden pribumi di sana."

"Dan Goldberg semakin ketahuan, menggerogoti sendi dasar kepresidenan dan diusir sebagai persona non grata (orang yang tak disuka)."

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By merahputih
      Para pemilih di Amerika Serikat akan menentukan pada 3 November mendatang, apakah Donald Trump akan tetap menempati Gedung Putih selama empat tahun mendatang.
      Presiden dari Partai Republik itu ditantang oleh kandidat Partai Demokrat, Joe Biden, yang dikenal sebagai Wakil Presiden-nya Barack Obama dan telah berkecimpung di ranah politik AS sejak 1970-an.
      Ketika hari-H pemilihan presiden kian mendekat, sejumlah lembaga pembuat jajak pendapat akan berupaya menangkap suara warga AS dengan bertanya kepada para pemilih: siapa kandidat yang akan mereka pilih.
      Kami akan terus memantau berbagai jajak pendapat itu seraya berupaya menganalisis apa yang bisa diketahui dan tidak ketahui tentang siapa yang akan memenangi pilpres.
      Bagaimana performa kedua kandidat secara nasional?
      Jajak pendapat nasional adalah panduan yang baik untuk mengetahui seberapa populer seorang kandidat di seantero negeri, namun jajak pendapat semacam itu tidak serta-merta menjadi alat yang bagus untuk memprediksi hasil pemilu.
      Pada 2016, misalnya, Hillary Clinton memimpin pada sejumlah jajak pendapat dan memenangi hampir tiga juta suara lebih banyak ketimbang Trump.
      Tapi, dia tetap kalah—karena AS menggunakan sistem pemilihan electoral college sehingga meraih suara terbanyak tidak lantas menjamin seorang kandidat menang pilpres.
      Lepas dari catatan itu, Joe Biden selalu lebih unggul dari Donald Trump di jajak pendapat nasional selama sepanjang tahun ini.
      Angka yang diraih mencapai kisaran 50% dalam beberapa pekan terakhir dan pada beberapa kesempatan unggul 10 angka. Namum, Trump cenderung bangkit dalam beberapa hari terakhir.

      Perbedaan kondisi sekarang dengan empat tahun lalu, jajak pendapat pada 2016 kurang begitu jelas dan hanya beberapa poin yang memisahkan antara Trump dan Hillary Clinton ketika hari-H kian dekat.
      Negara bagian mana yang menjadi penentu dalam pilpres kali ini?
      Seperti yang ditemukan Hillary Clinton pada 2016, jumlah suara yang diraih kurang penting ketimbang dari mana suara tersebut dimenangkan.
      Kebanyakan negara bagian hampir selalu jelas haluan politiknya.
      Artinya, dalam kenyataan hanya ada segelintir negara bagian yang menghadirkan peluang menang yang sama bagi kedua kandidat.
      Tempat-tempat inilah yang kemudian menentukan kemenangan (atau kekalahan) seorang kandidat sehingga muncul istilah 'battleground states' alias negara-negara bagian kunci yang menjadi medan pertarungan.

      Dalam sistem pemilihan electoral college yang AS gunakan untuk memilih presiden, setiap negara bagian mendapat jumlah suara tertentu berdasarkan populasinya.
      Ada sebanyak 538 suara electoral college yang diperebutkan, sehingga seorang kandidat memerlukan 270 untuk menang.
      Seperti yang ditunjukkan pada peta, beberapa negara bagian yang menjadi medan pertarungan punya suara electoral college lebih banyak dari negara bagian lain.
      Karenanya, kandidat akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berkampanye di negara bagian-negara bagian tersebut.
      Siapa yang memimpin di negara bagian kunci?
      Untuk saat ini, jajak pendapat di semua negara bagian kunci tampak dipimpin Joe Biden.
      Namun, jalan masih panjang dan berbagai hal bisa berubah dengan cepat, khususnya ketika Donald Trump terlibat.
      Survei menunjukkan Biden memimpin jauh di Michigan, Pennsylvania, dan Wisconsin—tiga negara bagian sarat sektor industri yang dimenangi Trump dengan selisih kurang dari 1% pada 2016 lalu.

      Akan tetapi, negara bagian kunci yang dimenangi telak oleh Trump pada 2016 yang bakal paling dirisaukan tim kampanyenya.
      Selisih kemenangannya di Iowa, Ohio, dan Texas berada pada kisaran 8-10% pada 2016, namun kini dia berkejaran dengan Biden di ketiganya.
      Angka-angka pada jajak pendapat ini mungkin bisa menjelaskan keputusan Trump dalam mengganti manajer tim kampanyenya pada Juli lalu serta mengapa dia kerap menyebut "jajak pendapat palsu".
      Meski demikian, pasar taruhan jelas belum menganggap Trump sudah keok.
      Prediksi terkini menyebut peluang kemenangan Trump pada 3 November adalah satu banding tiga.
      Seberapa jauh pandemi Covid-19 mempengaruhi peluang kemenangan Trump?
      Pandemi virus corona telah mendominasi tajuk utama media di AS sejak awal tahun dan respons terhadap aksi Presiden Trump bisa ditebak terbagi dua berdasarkan garis partai.
      Dukungan atas kebijakan-kebijakannya memuncak pada pertengahan Maret setelah dia mengumumkan darurat nasional dan menyediakan US$50 miliar bagi semua negara bagian untuk menghentikan penyebaran virus.
      Pada titik ini, 5% warga AS mendukung tindakannya, berdasarkan data lembaga Ipsos.
      Namun, sokongan dari pemilih Partai Demokrat menghilang setelah itu. Sementara simpatisan Partai Republik terus mendukung Trump.

      Namun, data terkini menunjukkan bahwa para pendukung Trump mulai mempertanyakan tindakan-tindakannya seiring dengan wilayah selatan dan barat AS menghadapi gelombang baru pandemi. Sokongan dari simpatisan Partai Republik merosot hingga 78% pada awal Juli.
      Inilah yang mungkin menjelaskan mengapa akhir-akhir dia mencoba mengubah pesannya soal virus corona. Alih-alih berkata virus akan "menghilang begitu saja", Trump memperingatkan situasi akan "bertambah buruk sebelum kemudian berangsur membaik".
      Dia pun memakai masker untuk pertama kali dan meminta warga AS memakainya, disertai kata-kata "[masker] ini akan berdampak" dan menggunakan masker menunjukkan "patriotisme".
      Sebuah model yang diciptakan para pakar Universitas Washington memprediksi angka kematian akan melampaui 230.000 pada 1 November—dua hari sebelum pilpres.
      Apakah kita bisa mempercayai jajak pendapat?
      Mudah untuk tak lagi mempercayai jajak pendapat dan mengatakan metode itu salah pada 2016, kata-kata yang kerap diutarakan Presiden Trump. Namun, itu tidak sepenuhnya benar.
      Banyak jajak pendapat memang menyebut Hillary Clinton unggul beberapa angka persentase, namun itu tidak berarti metode tersebut salah. Toh Hillary meraup tiga juta suara lebih banyak ketimbang Trump.
      Para lembaga jajak pendapat memang menemui sejumlah kendala pada 2016 — terutama kegagalan memberikan keterwakilan yang layak pada pemilih tanpa gelar sarjana.
      Ini artinya keunggulan Trump di sejumlah negara bagian kunci tidak terdeteksi sampai tahap akhir persaingan. Sebagian besar lembaga jajak pendapat kini telah mengoreksi kesalahan itu.
      Namun tahun ini ada lebih banyak ketidakpastian dari biasanya lantaran pandemi virus corona belum berakhir dan dampaknya pada ekonomi dan cara pemilih menentukan pilihan mereka pada November.
      Dengan demikian, semua jajak pendapat harus dilihat dengan skeptis, khususnya ketika hari pemilihan masih relatif jauh.
    • By VOAIndonesia
      Indonesia memastikan kesiapan memproduksi ventilator secara massal bulan depan, Jakarta, 20 Mei. (Foto: Twitter/@BNPB_Indonesia)
      WASHINGTON DC (VOA) — Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan bantuan ventilator dari pemerintah Amerika akan tiba di tanah air pada akhir Mei atau awal Juni mendatang. Penegasan ini disampaikannya menjawab pertanyaan VOA dalam konferensi pers di Jakarta Rabu sore (20/5).
      “Indonesia dan Amerika telah melakukan komunikasi intensif terkait ventilator. Pada 4 Mei USAID di Jakarta telah berkomunikasi dengan Kemenkes untuk mengidentifikasi spesifikasi dan hal-hal teknis lain," ujarnya.

      Menlu RI Retno Marsudi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (20/5) (courtesy: Kemlu RI)
      "Lalu pada 5 Mei, informasi yang diminta USAID pada Kemenkes itu dikirimkan ke USAID. KBRI di Washington DC juga telah memonitor dan mengkomunikasikan hal ini dengan Departemen Luar Negeri dan Dewan Keamanan Nasional NSC di Amerika. Kami diberitahu bahwa pengiriman ventilator ini akan dilakukan pada akhir Mei atau awal Juni nanti,” papar Retno.
      Namun ditambahkannya bahwa Indonesia kini juga sudah mulai mengembangkan inovasi untuk memproduksi sendiri ventilator atau alat bantu pernafasan ini.
      Mulai Juni Indonesia Siap Produksi Ventilator
      Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan ada lima dari delapan jenis ventilator yang sudah lulus “equipment and critical test” di Kementerian Kesehatan.
      “Lima ventilator ini dapat digunakan di ICU – yang sifatnya invasif – dan dalam kondisi darurat di dalam ambulans maupun ruang gawat darurat untuk membantu orang yang mengalami gangguan pernafasan. Ini merupakan ventilator pertama buatan Indonesia, dan kami siap memproduksinya secara masif bulan depan.”

      Menristek Bambang Brodjonegoro (foto: courtesy).
      Lebih jauh Bambang menjelaskan bahwa setiap pabrik akan mampu memproduksi antara 200-300 unit ventilator per minggu guna memenuhi kelangkaan ventilator dalam menangani pasien virus corona, yang sangat terasa dalam beberapa bulan terakhir ini.
      “Untuk menjadi catatan, inovasi ini baru dimulai sekitar 2,5 bulan lalu. Peneliti dan inovator Indonesia berhasil mengerjakannya dalam waktu sangat singkat,” puji Bambang.
      Permintaaan ventilator ini mengemuka setelah Presiden Amerika Donald Trump mencuit pada 22 April tentang pembicaraan telepon yang dilakukannya dengan Presiden Joko Widodo. [em/pp]
       
    • By news
      Sejumlah pemerintah daerah di AS, termasuk negara bagian Washington dan Florida telah menyatakan status keadaan darurat merespons penyebaran virus korona. Jumlah pasien COVID-19 pun bertambah dan demikian pula warga yang meninggal dunia. Bagaimana AS mengatasinya? Kita simak liputan VOA berikut.
       
    • By VOAIndonesia
      Usai KTT NATO di London, pemerintah Inggris semakin mendukung sikap pemerintah AS terhadap teknologi seluler produsen ponsel China Huawei. Meski demikian banyak negara Eropa kini tetap gunakan produk Huawei yang dicurigai AS digunakan memata-matai warga. Salah satunya adalah Serbia.
       
    • By BincangEdukasi
      Pamor CIA sudah sangat mendunia. Bukan hanya karena mereka dikemas secara eksklusif dan menarik dalam deretan film Hollywood, tapi juga deretan fakta mencengangkan yang mulai terkuak satu per satu. Keberadaan CIA bagi Amerika adalah hal yang penting. Tanpanya, negara Paman Sam ini takkan sebesar sekarang. Rusia pun takkan punya saingan dalam hal kekuatan dan pengaruh jika CIA tidak melakukan hal-hal besar sehingga membuat Amerika begitu jumawa di dunia.
      CIA adalah agen rahasia paling mematikan di dunia ini. Kiprah mereka sudah dimulai sejak perang dunia kedua dulu. Hari ini, organisasi serba tertutup tersebut tetap berdiri dan masih menjalani misi-misi khusus entah apa itu, yang jelas mereka selalu sukses membuat kejutan-kejutan. Mungkin saja mereka ada di balik huru-hara yang meresahkan dunia sekarang ini.
      Nah, selama 68 tahun terakhir sejak pertama kali dibentuk, apa saja yang sudah dilakukan mereka? Banyak, dan rangkuman fakta berikut akan menjelaskannya untukmu.
      1. CIA Memantau Hingga 5 Juta Tweet per Hari

      Sudah merupakan tugas badan spionase untuk mencari informasi. Termasuk juga CIA yang ternyata melakukan hal yang sama, hanya saja cara mereka agak ekstrem. Ya, mereka akan melakukan apa pun untuk mendapatkan infromasi. Termasuk dengan membaca jutaan Tweet dari pengguna tiap harinya.
      Entah bagaimana mereka mendapatkan akses tersebut. Namun CIA diduga memang melakukan stalking terhadap tweet apa pun yang di-post pengguna. Jumlahnya sendiri tidak spesifik, namun diperkirakan hampir 5 jutaan perhari. Jadi, bisa jadi cuitan yang mungkin kamu tulis, sekarang ini tengah dibaca oleh para agen rahasia tersebut.
      2. CIA Rekrut Mantan Nazi

      Di akhir Perang Dunia II, Nazi yang berada di pihak kalah pun mengalami kebinasaan. Termasuk Adolf Hitler yang ditemukan mati di sebuah bunker persembunyiannya. Meskipun sebagai pihak yang kalah, namun tak semua anggota Nazi dibantai. Beberapa bahkan bergabung dengan militer negara lain. Seperti salah seorang mantan tentara Nazi ini.
      Tidak diketahui siapa namanya, namun CIA konon merekrut prajurit ini. Tujuannya sendiri adalah untuk membantu CIA dalam melakukan interogasi, serta membuat eksperimen pengendali pikiran yang sepertinya cukup sukses.
      3. Pill Biru untuk Ditukar dengan Informasi

      CIA biasa menggali informasi dari siapa pun dan juga harga berapa saja. Bahkan dikatakan jika kantor mereka punya budget sendiri untuk hal-hal seperti ini. Uang memang jadi senjata utama CIA untuk mengorek informasi. Namun cara ini tidak selalu berhasil. Setidaknya bagi para informan mereka di Afghanistan.
      Entah dibilang sukses atau tidak, tapi CIA berhasil membayar informan penting mereka di Afghanistan hanya dengan butir-butir pil biru ini [Image Source]
      Namun bukan CIA kalau mereka tak memiliki yang namanya ‘Plan B’. Alih-alih menggunakan uang lebih banyak, para agen justru memberi informan Afghanistan tersebut dengan sebuah pill biru yang diketahui sebagai obat untuk disfungsi alat kelamin. Cara ini ternyata cukup berhasil dan para informan pun dibikin ketagihan.
      4. CIA Pernah Lakukan Salah Tangkap

      Memang mereka adalah para agen cerdas. Namun, namanya manusia tidak ada yang tak pernah melakukan kesalahan. CIA pun begitu, ternyata mereka juga pernah melakukan kesalahan yang cukup fatal.
      Pada tahun 2003 dilaporkan jika CIA telah menangkap seorang warga Jerman. Oleh CIA, si warga Jerman ini dianiaya sedemikian rupa, bahkan sampai mengalami kekejian luar biasa. Konyolnya, ternyata CIA salah tangkap. Si warga Jerman ini pun dilepaskan pihak CIA tanpa pernah dimintai maaf atau ganti rugi.
      5. Berikan Rusia Alat Kontrasepsi Raksasa dan Menghinanya

      Meskipun sekarang adem ayem, namun rivalitas antara Amerika dan Rusia sudah jadi rahasia umum yang diketahui banyak orang. Beberapa kali mereka pernah menunjukkan rivalitasnya. CIA yang notabene adalah agen penting Amerika, juga sering dilibatkan dalam pergolakan dua negara raksasa ini. Salah satunya adalah memancing kemarahan publik Rusia dengan menghina mereka.
      Bukan secara verbal, hanya simbolis saja. Ketika itu CIA ditugaskan untuk mengirimkan sebuah alat kontrasepsi pria dengan ukuran yang sangat besar ke Rusia. Tujuannya sendiri adalah untuk mengatakan jika pria-pria Amerika jauh lebih jantan dari pada Rusia.
      6. Mereka Punya Buku Manual untuk Melakukan Penyiksaan

      Namanya juga badan intelijen rahasia super, maka segala sesuatunya harus on the track. Percaya atau tidak, para agen CIA ternyata dibekali dengan banyak sekali manual untuk deskripsi kerja mereka. Sangat aneh sih mengingat lulusan CIA adalah mereka yang terbaik.
      Tak hanya tentang mencari informasi atau pakai senjata, ternyata ada pula buku manual soal siksa menyiksa. Di dalamnya dijelaskan bagaimana cara menyiksa dengan baik dan benar. Tak hanya dijelaskan cara menggunakan alat-alat siksa, di dalamnya juga disinggung bagaimana cara efektif melakukan intimidasi secara psikologis.
      7. Mereka Pernah Menghancurkan Guatemala Hanya untuk Perusahaan Buah

      United Fruit Company adalah kantor dagang Amerika yang berfokus pada pengelolaan dan perdagangan buah, terutama pisang, yang ada di Guatemala. Sayangnya, dalam kelola operasionalnya ternyata United Fruit banyak melakukan kecurangan. Hingga akhirnya pemerintah setempat menganggap keberadaan perusahaan tersebut membahayakan. Namun CIA segera melakukan aksi preventif.
      Diketahui, CIA membuat semacam skenario busuk yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan saat itu. Ketika itu mereka melakukan semacam propaganda anti komunis. Siapa sangka cara ini berhasil dan pada akhirnya sukses membuat United Fruit tetap bertahan.
      Inilah fakta-fakta buruk tentang CIA yang berhasil diungkap. Mungkin mereka sangat keren ketika berada di film. Namun, siapa sangka jika dalam praktiknya seringkali melakukan hal-hal kotor. Indonesia sendiri konon katanya pernah jadi korban CIA. Hal tersebut terjadi di masa-masa terakhir kepemimpinan Soekarno yang melibatkan Freeport dan juga Presiden Soeharto.
×
×
  • Create New...