Jump to content

Faktor SARA Di Pilkada Jakarta


Recommended Posts

kandidat gubernur Jakarta.jpg

Pemilihan kepala daerah (pilkada) di Provinsi DKI Jakarta makin seru. Bukan hanya isu dan tokohnya berskala nasional, tetapi karena trend terkini kandidat petahana berpeluang besar kalah. Setidaknya tiga survei mengkonfirmasi kecenderungan yang mengejutkan itu.

Survei Indikator Politik Indonesia pimpinan Burhanuddin Muhtadi menyebut elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat melorot tinggal 26,2 persen, dan kecenderungannya terus merosot. Agus Harimurti-Sylviana Murni menyodok dengan elektabilitas teratas (30,4 persen), sementara Anies Baswedan-Sandiaga Uno menempel ketat Basuki-Djarot (24,5 persen). Komposisi itu masih bisa berubah karena responden yang belum menentukan/merahasiakan pilihan masih tinggi (18,9 persen).

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA mengungkap hasil lebih mencengangkan, karena elektabilitas Basuki-Djarot anjlok (10,6 persen) pascakasus penistaan agama Islam. Posisi Anies-Sandi teratas (31,90 persen), diikuti Agus-Sylvi (30,90 persen), dan responden yang belum menentukan pilihan cukup tinggi (26,60 persen). LSI menemukan faktor sentimen keagamaan sangat menentukan pergeseran perilaku pemilih di Jakarta. Kurangnya sensitivitas petahana membuat elektabilitasnya merosot tajam, nyaris tak tertolong.

Survei terkini dari Poltrack Indonesia pimpinan Hanta Yudha menempatkan Agus-Sylvi 27,92 persen di posisi teratas, diikuti Basuki- Djarot (22,00 persen), dan Anies-Sandi (20,42 persen). Responden yang belum menentukan pilihan tetap tinggi (29,66 persen) sehingga masih sulit diprediksi kandidat yang akan lolos ke putaran kedua, apalagi pemenang pilkada. Selisih elektabilitas antar kandidat juga sangat ketat, masih berada dalam jangkauan margin of error.

Anomali. Survei Indikator menunjukkan gejala anomali, karena mayoritas responden menyatakan puas dengan kinerja Pemprov DKI (69%) dan mayoritas responden yang sama juga percaya tidak boleh dipimpin oleh kandidat non-Muslim (52,6%).

Keanehan itu disebut Yurgen Alifia (Selasar, 28/11) sebagai gejala doublethink (berpikir ganda/kontradiktif), mengutip kategori George Orwell tentang disonansi kognitif. Yurgen, kandidat master di Oxford University dan mantan wartawan televisi, menilai sikap kontradiktif pemilih karena hasil propaganda elite politik yang mendukung kandidat penantang.

Termasuk para pemuka opini yang mengeksploitasi isu primordial/agama, dan hal itu dipandang negatif bagi perkembangan demokrasi yang rasional.

Sebenarnya, jika kita bisa menyelami suasana kejiwaan pemilih –dan itu sudah dicoba oleh LSI melalui wawancara kualitatif– tidak ada keanehan dan anomali politik. Burhan terlalu berpikir linier, bahwa kepuasan responden akan mengarah pada pilihan dan kepercayaan baru untuk kandidat petahana. Padahal, bisa saja responden menilai keberhasilan kinerja pembangunan di Jakarta adalah hasil kerja kolektif (birokrasi Pemprov) dan bukan prestasi pribadi Basuki.

Dalam konteks itu, para pemilih di Ibukota justru makin rasional, sebab mereka tahu anggaran (APBD) DKI Jakarta sangat besar dan aparat serta infrastruktur Pemprov cukup lengkap sehingga siapapun yang menjabat Gubernur dengan mudah dapat menjalankan tugas rutinnya. Ibaratnya, Basuki tidur saja atau ngomel-ngomel saban hari, program di Jakarta terus berjalan: pasukan oranye tetap membersihkan jalan dan sungai, para Lurah melayani pembuatan KTP dan izin domisili, para dokter dan perawat melayani warga di puskesmas dan seterusnya.

Yurgen Alifia berspekulasi terlalu jauh dengan menyudutkan pemilih yang berpikir dan berperilaku ganda, tanpa menunjukkan bukti tambahan di luar survei. Padahal, di masa transisi pasca-Reeformasi sudah terlalu banyak kita menyaksikan ‘anomali’ dari kacamata politik linier. Misalnya, dalam pemilihan umum, warga diajarkan untuk “menerima uang/bingkisan (money politics), tetapi jangan pilih partai/kandidatnya”. Tidak tanggung-tanggung, para aktivis Organisasi Nonpemerintah yang kritis mengkampanyekan: “Ambil saja uangnya, jangan pilih partai/kandidatnya!”

Jakarta Unfair. Jika sekarang, pemilih di Ibukota bersikap to the point, menikmati pelayanan Pemprov DKI dan menolak kandidat Basuki, apakah masih disebut ‘anomali’? Atau, justru itu konsekuensi sikap rasional-kalkulatif sebagai dampak dari kampanye Ornop yang kritis. Kita tahu saat ini Basuki tak hanya berhadapan dengan warga yang kecewa dengan berbagai kebijakan diskriminatifnya, tetapi juga mendapat tentangan keras dari Ornop yang dipelopori LBH Jakarta, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Urban Poor Consortium (UPC), dan lain-lain yang mengkritik keras tindakan penggusuran paksa dan pembangunan reklamasi pulau di Teluk Jakarta.

Para aktivis jurnalis independen juga membuat film dokumenter Jakarta Unfair yang diputar di kampung-kampung dan kampus-kampus untuk menyadarkan publik betapa berbahaya arogansi kebijakan Basuki. Setelah dua tahun berkuasa, warga kini bisa melihat perbedaan yang mencolok dari gaya kepemimpinan Basuki (2014-2016) dengan Joko Widodo (2012-2014) yang digantikannya. Sebagian besar warga Jakarta pada Pilkada 2012 memilih Jokowi, bukan Basuki, dan sekarang menyaksikan betapa Basuki tidak bisa diandalkan untuk menunaikan “Janji-janji Jokowi”. Di sinilah kontradiksi yang parah, mengguncang kesadaran pemilih di lapisan memori terdalam. Jadi, bukan anomali atau kontradiksi sikap di permukaan seperti disimpulkan Yurgen dan Burhan.

Pertanyaannya kemudian, faktor apakah yang menyebabkan pergeseran dahsyat itu sehingga di permukaan tampak seperti kontradiksi perilaku pemilih? Yurgen membantah faktor agama yang menyebabkan perubahan sikap pemilih, dengan merujuk survei-survei sebelumnya (SMRC dan Populi).

Riset lebih serius dilakukan oleh Ken Miichi (Associate Professor pada Iwate Prefectural University, Jepang) yang mengkaji peran agama dan etnisitas dalam Pilkada DKI 2012 (Jurnal Current Southeast Asian Affairs, 2012). Riset itu membandingkan hasil Pilkada DKI dengan komposisi demografi Jakarta dan sikap pemilih. Jadi, bukan sekadar prediksi atau spekulasi.

Komposisi Jakarta. Kita semua tahu, Pilkada DKI 2012 diikuti oleh empat pasangan kandidat, yaitu: Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (diusung PD dan PAN), Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (PDIP dan Gerindra), Hidayat Nurwahid-Didik Rachbini (diusung PKS dan PAN yang terbelah), Alex Noerdin-Nono Sampurno (Golkar dan PPP).

Pilkada berlangsung dua putaran, dengan hasil putaran pertama: Fauzi-Nachrowi (34,1 persen), Jokowi-Basuki (42,6), Hidayat-Didik (11,7), dan Alex-Nono (4,7). Lalu, pada putaran kedua, Foke-Nara (46,2) dikalahkan Jokowi-Basuki (53,8) dengan selisih cukup ketat (7,6).

Sebelum mengecek alasan pemilih memberikan suara kepada kandidat jagoannya, kita perlu mengetahui komposisi warga Jakarta berdasarkan etnik dan agama.

Ken Miichi menyajikan data yang menarik dari perbandingan komposisi etnik pada tahun 1960 dengan tahun 2000. Data tahun 1960 bersumber dari penelitian Lance Castle (peneliti dari Australia) dan data 2000 bersumber dari sensus nasional

            Komposisi etnik Jakarta menurut Ken Michi di tahun 1960 (dalam prosentase), Jawa (25,4), Betawi (22,9), Sunda (32,9), Chinese (10,1), Batak (1,0), Minang (2,1). Dan tahun 2000, Jawa (35,2), Betawi (27,6), Sunda (15,3), Chinese (5,5), Batak (3,6), Minang (3,2).

Sementara itu, komposisi agama warga Jakarta berdasarkan sensus adalah: Islam (85,36), Protestan (7,54), Katolik (3,15), Budha (3,13), Hindu (0,21) dan Konghucu (0,06). Warga Betawi, Jawa, Sunda dan Minang kebanyakan beragama Islam. Warga Batak mayoritas Kristen, sedang warga Chinese mayoritas memeluk Budha atau Konghucu.

Berdasarkan exit poll yang direkam Majalah Tempo (2012), alasan pemilih memberikan suara kepada kandidat pilihannya adalah sebagai berikut.

Alasan pemilih mendukung Jokowi-Basuki terutama karena: dipandang memprioritaskan kepentingan publik (32,7), suka dengan program alternatif yang ditawarkan (31,9), dan kejujuran (12,2). Sementara itu, alasan pemilih mendukung Fauzi-Nachrowi terutama karena: program yang sudah dijalankan (31,7), mewakili kesamaan agama (25,9) dan memprioritaskan kepentingan publik (9,2).

Di situ terlihat kesamaan sikap pemilih karena prioritas kepentingan publik dan suka dengan program kandidat, jadi pemilih Jakarta dapat dikatakan relatif rasional. Namun, Jokowi memiliki kelebihan karena dipandang jujur, mungkin karena pemilih belum mengetahui jelas rekam jejak mantan Walikota Solo (periode 2005-2012) itu. Sedangkan pendukung Fauzi Bowo cukup besar yang berdasarkan kesamaan agama (25,9), bandingkan dengan Jokowi yang hanya didukung (0,5) karena kesamaan agama. Kesamaan etnik/suku tidak terlalu signifikan, karena memilih Jokowi hanya 4,9 dan memilih Foke hanya 4,6 persen.

Mengapa Foke dipersepsi publik lebih agamis/Islamis, dengan asumsi mayoritas pemilih Jakarta beragama Islam? Lalu, mengapa Foke tetap kalah, meskipun didukung mayoritas pemilih Muslim? Itu pertanyaan yang menarik, apalagi bila dibandingkan dengan alasan pemilih pada Pilkada DKI 2007 yang menghadapkan Fauzi Bowo-Prijanto (diusung 20 partai besar dan kecil) dengan lawannya Adang Daradjatun-Dani Anwar (hanya diusung oleh PKS).

Berdasarkan exit poll LSI 2007, maka pemilih mendukung Fauzi-Prijanto karena: kapabilitas kandidat (28,5), karakter kandidat (19,5), suka dengan program atau isu kampanye (18,1), kesamaan latar belakang agama-suku-dll (7,5), ikut dukungan partai (6,9), dan lain-lain (19,4).

Terlihat pergeseran sikap pemilih Foke dari segi kesamaan agama-suku, pada pilkada 2007 hanya 7,5 persen, namun pada pilkada 2012 melonjak menjadi 25,9 persen. Apakah itu dukungan yang wajar karena pemilih Jakarta makin relijius, ataukah terjadi proses “religionisation” (agamaisasi) di masa kampanye, sebagaimana dinyatakan Ken Miichi, sambil mengutip konsep Robert Hefner.

Fauzi Bowo pada pilkada 2007 dipersepsi bersifat moderat dan inklusif, merangkul semua golongan. Sementara penantangnya (Adang-Dani) dipersepsi (melalui kampanye media) bersifat “radikal dan militan” sehingga mengancam kemajemukan warga Jakarta. “Jika Adang-Dani yang didukung PKS menang, maka Jakarta akan berubah menjadi kota Taliban”, begitu propaganda massif tersebar di lapangan, menakut-makuti warga Jakarta bahkan sampai hari tenang.

Tetiba, pada pilkada 2012, wajah toleran Foke berubah menjadi “militan dan intoleran” karena dinilai terlalu dekat/mengakomodir kelompok-kelompok garis keras. Foke memenangi pilkada 2007 karena mensiasati isu SARA dengan menyudutkan lawannya (Adang-Dani) dalam stigma negatif.

Pada pilkada 2012, Foke terjebak permainannya sendiri dan dikalahkan Jokowi yang dengan cerdik membalikkan isu SARA serupa.

Jadi, kita lihat dalam konteks Pilkada Jakarta, isu SARA bukan strategi jitu untuk memenangkan kandidat, tetapi efektif menyudutkan dan mengalahkan lawan dengan stigma negatif.

Sekarang, bagaimana dengan Pilkada 2017? Apakah isu SARA masih bisa dipakai untuk menjegal kandidat pilihan atau lawan politik?

Basuki masih punya waktu dua bulan untuk mengubah keadaan, menjalani proses hukum atas dugaan penistaan agama (bisa diputuskan bersalah atau bebas) dan berperilaku seperti korban (playing victim) atas fitnah dan tekanan massa. Agus Harimurti dan Anies Baswedan bisa terjebak dengan permainan isu sensitif itu, jika tak waspada, terutama para relawan pendukungnya yang bersemangat di lapangan dan ranah media sosial.

Dalam kaitannya dengan Aksi Damai 4 November 2016 (411) yang mendesak Polri agar menahan Basuki sebagai tersangka kasus penistaan agama, Agus berkomentar positif, karena itu bagian dari hak demokrasi, menyampaikan pendapat (31/10/2016).

Sementara Anies terlihat menjaga jarak obyektif dari aksi 411, tetapi memberi nasihat kepada Basuki saat berjumpa dalam acara talk show Mata Najwa (26/11/2016).

“Kata-kata dapat merenggangkan hubungan, kata-kata dapat mempersatukan hubungan. Seperti apa yang terjadi dengan pak Basuki kan seperti itu, diungkapkan lalu disesali. Dan, efeknya luar biasa,” ujar Anies, disambut tepuk tangan audiens.

Pengamat yang obyektif menganalisis berbagai survei politik dalam sejarah Indonesia kontemporer, tak kan meremehkan faktor SARA. Bahkan, unsur SARA bisa menjadi pembentuk identitas nasional atau memperkuat afiliasi politik.

Dengan pemahaman SARA yang tepat, terutama agama, orang tak akan mengalami anomali atau doublethink. 

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By BisaJadi
      Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo menyatakan, siap menerapkan kebijakan ganjil genap untuk seluruh kendaraan bermotor, termasuk roda dua. Hal tersebut akan diberlakukan jika kepadatan jumlah kendaraan di DKI Jakarta tidak berkurang seiring diberlakukannya aturan ganjil genap mulai 3 Agustus 2020.
      "Jika tidak ada perubahan maka bisa saja kami menerapkan pemberlakuan ganjil-genap bagi seluruh kendaraan bermotor," kata Syafrin di kawasan Bundaran Hotel Indonesia Jakarta, Minggu (2/8/2020).
      Selain itu, lanjut dia, kebijakan penurunan volume kendaraan bisa ditingkatkan lebih ekstem lagi dengan penerapan ganjil genap satu hari penuh. Sebab diketahui saat ini, kebijakan tersebut akan diberlakukan hanya pada dua termin, pukul 06.00 – 10.00 WIB dan pukul 16.00 – 21.00 WIB.
      "Kebijakan ganjil genap juga bisa dilakukan sepanjang hari atau juga ada tambahan pemberlakuan jam, jika analaisi kami menemukan tidak ada perubahan (jumlah volume kendaraan)," jelas dia.
      Cegah Covid-19
      Syafrin menegaskan, kebijakan ganjil genap dilakukan sebagai tindak pencegahan Covid-19 yang jumlahnya masih terus meningkat setiap harinya, khususnya di DKI Jakarta.
      "Kami mengimbau sekali lagi bahwa tujuan diberlakukan pembatasan lalu lintas dengan ganjil genap ini adalah untuk menurunkan mobilitas warga yang tidak penting, jangan lakukan pergerakan yang tidak penting," dia menandasi.
       
    • By eunike_grace
      Musisi Jerinx SID menilai pandemi corona atau Covid-19 merupakan sebuah konspirasi.
      Menurutnya, letak konspirasi tersebut ada pada angka kasus Covid-19 yang terlapor hingga saat ini.
      Jerinx mengatakan, angka-angka tersebut bukanlah jumlah yang sebenarnya.
      "Konspirasinya adalah banyaknya angka yang tidak sebenarnya, permainan-permainan angka jumlah korban," kata Jerinx dalam acara Sapa Indonesia Malam yang dipandu oleh Aiman di Kompas TV, Rabu (6/5/2020).
      Jerinx menyebutkan, alat tes Covid-19 yang ada saat ini tidak terjamin keabsahannya.
      Menurutnya, para ilmuwan di negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa pun masih belum sepakat mengatakan kevalidan alat tes tersebut.
      Jerinx juga mengatakan, banyak orang yang hasil swab test-nya positif namun menjadi negatif setelah diperiksa kembali.
      Namun, menurut Jerinx, hal ini jarang diungkap oleh media mainstream.
      "Swab test dan rapid test itu hasilnya tidak valid," kata Jerinx.
      "Itu banyak menimbulkan kesimpangsiuran informasi tapi media selalu dengan gampangnya membawa narasi jika swab test itu hasilnya sudah 100 persen."
      "Sedangkan ilmuwan-ilmuwan di negara maju, yang jauh lebih pintar daripada ilmuwan di Indonesia, mereka aja belum satu suara, tapi kenapa Indonesia begitu takut sama WHO?" tambahnya.
      Sementara itu, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, membantah pernyataan Jerinx tersebut.
      Menurut Hermawan, sejauh ini para peneliti melaporkan hasil dari swab tenggorokan melalui realtime PCR memiliki keakuratan 96 persen.
      "Sejauh ini, para peneliti untuk swab tenggorokan melalui realtime PCR itu menganggap 96 persen hasilnya valid," kata Hermawan dalam acara yang sama.
      "Agak berbeda dengan rapid test, kalau rapid test itu memang false negatifnya tinggi itu sekitar 36 persen efektivitasnya," tambah dia.
      Kendati demikian, Hermawan mengatakan rapid test penting untuk melakukan penelusuran awal.
      "Tapi, rapid test penting untuk mitigasi penelusuran awal untuk lebih private dalam rangka pendeteksian mereka dengan Covid positif," terangnya.
      Jerinx Sempat Imbau Masyarakat untuk Tidak Tes Covid-19
      Sebelumnya, Jerinx sempat mengunggah tulisan di akun Instagram pribadinya pada Senin (4/5/2020).
      Dalam unggahannya, ia mengimbau masyarakat supaya jangan pernah mau untuk dites Covid-19.
      Jerinx pun berpesan pada masyarakat supaya lebih fokus menyembuhkan penyakitnya dengan cara biasa.
      Jerinx menilai, semakin banyak yang mau untuk melakukan tes Covid-19 maka sama saja memuluskan Bill Gates dalam memonopoli dunia.
      Ketua Satgas Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp. PD., menanggapi perihal unggahan musisi Jerinx SID yang mengatakan agar jangan pernah mau melakukan tes Covid-19.
      Menurut Zubairi, pernyataan Jerinx tersebut tidaklah tepat.
      Ia mengatakan, tes Covid-19 justru semestinya dilakukan sebanyak mungkin untuk memutus rantai penularan.
      Zubairi menerangkan, dengan dilakukannya tes Covid-19 maka pasien positif akan ditemukan.
      Dengan begitu, pasien tersebut dapat segera diisolasi sehingga tidak menularkan virus yang dibawanya.
      "Kemudian dilakukan telusur kontak, teman-teman (pasien) yang positif itu juga diperiksa, yang positif kemudian diisolasi atau dikarantina," kata Zubairi.
      "Dengan cara itu, penularan akan sangat berkurang dan berhenti," tambahnya.
      Sementara itu, mengenai fokus menyembuhkan penyakit sesuai dengan penyakit yang diderita, menurut Zubairi ada benarnya.
      Namun, menolak untuk dites adalah hal yang keliru.
      "Tentu fokus pada penyakitnya ketika kita sakit itu benar tapi tidak tes itu keliru," tegasnya.
      Zubairi menyebutkan, pasien yang diminta untuk melakukan tes Covid-19 harus bersedia mengikutinya.
      Menurut Zubairi, dalam situasi wabah seperti saat ini, Indonesia harus belajar dari negara-negara lain.
      Zubairi menyebutkan, negara-negara yang melakukan tes Covid-19 secara masif terbukti dapat menyelesaikan pandemi ini dengan cepat.
      "Jadi menjawabnya adalah jika belajar dari negara lain maka negara-negara yang amat cepat mengerjakan tes sebanyak mungkin itu berhasil mengatasi masalah covid-19 ini dengan cepat," kata Zubairi.
      "Contohnya adalah Korea Selatan, contohnya juga di China, contohnya juga di Jerman," tambahnya.
      Zubairi menambahkan, meskipun Jerman memiliki angka kasus positif yang terbilang sangat tinggi, namun negara tersebut memiliki angka kematian yang lebih rendah dari negara-negara sekitarnya.

      "Dibandingkan dengan Belanda, Inggris, Spanyol, Itali, maka kematian di Jerman itu amat rendah," terangnya.
      Sementara itu, Zubair juga menanggapi pernyataan Jerinx yang menyebutkan semakin banyak pihak yang melakukan tes Covid-19 maka dianggap semakin memuluskan Bill Gates memonopoli dunia.
      Seperti yang diketahui, Jerinx juga sempat menyinggung pandemi Covid-19 ini sebagai konspirasi global.
      "Ya menurut saya sekarang yang ilmiah saja," kata Zubairi.
      "Kalau konspirasi global itu kan konspirasinya siapa?"
      "Kalau konspirasinya China, kenyataannya China yang kena banyak, yang meninggal banyak."
      "Kalau yang bikin orang Amerika, Amerika sekarang paling banyak terinfeksi lebih dari 1 juta, yang meninggal juga tadi banyak sekali, jadi tidak sesuai dengan konspirasi global," tambahnya.
      Lebih lanjut, Zubairi mengimbau agar masyarakat lebih berfokus pada bagaimana mengatasi Covid-19 di Indonesia.
      "Misalnya konspirasi oleh Amerika, ya saat ini jumlah di Amerika itu sudah sejuta lebih dengan angka kematian 69 ribu lebih, kalau konspirasinya oleh China, China itu jumlah pasiennya 82 ribu lebih, yang meninggal 4.633," kata Zubairi.
      "Jadi menurut saya, tidak sesuai dengan teori konspirasi, namun sekali lagi yang lebih penting kita fokus saja ke Indonesia," sambungnya.
      Menurut Zubairi, untuk mengatasi Covid-19 di Indonesia, saat ini yang perlu dilakukan adalah mengisolasi pasien positif, mengobati pasien positif Covid-19 yang sakit, dan disiplin untuk tinggal di rumah serta tidak berpergian.
      Zubairi mengaku mengkhawatirkan situasi di Jakarta yang saat ini mulai tampak ramai.
      "Saya terus terang agak khawatir sekarang ini, seminggu terakhir ini jalan-jalan di Jakarta makin penuh mobil kendaraan," kata Zubairi.
      "Itu tanda-tanda buruk untuk keberhasilan program penanggulangan Covid," sambungnya.
    • By purwa_weheb
      Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup, mencatat ada lebih dari 61 ribu ton sampah akibat banjir sejak 2 Januari hingga 11 Januari 2020.
      "Akumulasi sampah akibat banjir di Jakarta yang dihasilkan dari 2 hingga 11 Januari, tercatat sebanyak 61.024 ton," ucap Kepala Dinas LH Andono Warih saat dikonfirmasi, Senin (13/1/2020).
      Menurut Andono, dalam durasi tersebut Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengumpulkan paling banyak sampah yang mencapai 11,565 ton, pada Rabu 8 Januari 2020. Kemudian, pada waktu itu pula, sampah akibat banjir sebanyak 7,1 ribu ton.
      Sementara jumlah sampah yang paling sedikit dikumpulkan oleh Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta didapatkan sehari setelah bencana banjir terjadi, yakni pada 2 Januari. Berdasarkan data yang diterima, Dinas LH hanya mengumpulkan 3.481 ton sampah akibat banjir dari total 8.492 sampah regular yang berhasil dikumpulkan sehari pascabanjir.
      Pascabanjir yang melanda Ibu Kota selama 11 hari, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa pihaknya mengangkut hampir 106 ribu ton sampah regular dan akibat banjir di awal 2020.
      "Dari tanggal 2 hingga 11 Januari, Dinas LH total mengumpulkan 106.898 ton sampah reguler," tuturnya.
    • By jokers
      Lebih dari tiga ribu orang menandantangani petisi yang dimuat di situs change.org agar Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan membatalkan gelaran Formula E 2020.
      Petisi ini dibuat seiring banyaknya kritik terkait balapan mobil listrik yang akan berlangsung di Jakarta. Ajang Formula E dianggap memakan biaya besar sementara saat ini Jakarta tengah mengalami banjir parah.
      Ada pula pihak yang menyebut anggaran penanganan banjir 2020 dikurangi karena akan digunakan untuk gelaran Formula E. Isu yang langsung dibantah oleh Anies.
      "Itu bukan hanya tidak benar tapi mengarang. Jadi saya enggak mau komentar," ujar Anies saat ditemui di rusun Rawa Buaya, Jakarta Barat, Jumat (3/1).
      Petisi tersebut dibuat sejak Jumat (3/1) oleh akun Irawan Endro Prasetyo. Petisi itu meminta dibatalkannya ajang balapan Formula E 2020.
      Sebelumnya netizen ramai-ramai menyerang rencana gelaran Formula E yang akan berlangsung pada Juni mendatang. Hujatan tersebut masuk trending topic di Twitter dengan tanda pagar #shameOnyouFormulaEJakarta.
      Sejumlah netizen menilai anggaran besar yang akan dikeluarkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyakiti perasaan warga Jakarta setelah banjir melanda ibu kota pada 1 Januari 2020.
      "Event kalian sangat merugikan banyak orang," demikian tulis salah satu netizen di Twitter sembari melakukan mention ke akun @FIAFormulaE dalam tagar #shameOnyouFormulaEJakarta.
      Ada juga yang menyinggung kebijakan Anies memotong anggaran antisipasi banjir Jakarta karena anggaran besar yang akan dikeluarkan untuk Formula E.
      "Tidak layak gelar Formula E di Jakarta. Banyak korban yang meninggal karena banjir tahun baru 2020 di Jakarta," tulis salah satu akun Twitter.
      Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengajukan usulan anggaran untuk menyelenggarakan Formula E mencapai Rp1,3 triliun. Sebesar Rp360 miliar untuk commitment fee dan Rp934 miliar untuk biaya penyelenggaraan.
      PT Jakarta Propertindo (Jakpro), pihak yang berperan sebagai pembangun infrastruktur Formula E Jakarta, juga sebelumnya menyampaikan biaya yang dibutuhkan membangun infrastruktur Rp300 miliar hingga Rp350 miliar.
    • By peter_hutomo
      Semua orang senang mendengar teori konspirasi. Anda bisa menghabiskan banyak waktu untuk membaca tentang teori dan bertanya-tanya apakah ada kebenaran bagi mereka. Daftar ini adalah 10 teori konspirasi teratas.
      1. 9/11 dibuat oleh Pemerintah AS  

      Banyak teori konspirasi telah dipresentasikan mengenai serangan 11 September 2001, banyak dari mereka mengklaim bahwa Presiden George W. Bush dan / atau individu di pemerintahannya mengetahui tentang serangan tersebut sebelumnya dan dengan sengaja membiarkan mereka terjadi karena serangan tersebut akan menghasilkan dukungan publik untuk Militerisasi, perluasan negara kepolisian, dan kebijakan luar negeri dan luar negeri lainnya yang mengganggu yang dengannya mereka akan diuntungkan.
      Para pendukung menunjuk Proyek untuk New American Century, sebuah kelompok pemikir konservatif yang berpendapat untuk meningkatkan kepemimpinan global Amerika, yang mantan anggotanya termasuk mantan Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld, Wakil Presiden Dick Cheney dan beberapa tokoh pemerintahan Bush lainnya. Sebuah laporan tahun 1990 dari kelompok tersebut menyatakan bahwa "beberapa peristiwa bencana dan katalisator - seperti Pearl Harbor baru" diperlukan untuk mengimbangi opini publik yang menguntungkan mereka.
      2. UFO Dipulihkan di Roswell  

      Insiden UFO Roswell melibatkan pemulihan bahan-bahan di dekat Roswell, New Mexico, AS, pada bulan Juli 1947, yang sejak saat itu menjadi subyek spekulasi, rumor, pertanyaan dan penelitian yang intens. Ada banyak pandangan berbeda tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan perdebatan sengit tentang bukti apa yang bisa dipercaya. Militer Amerika Serikat mempertahankan bahwa apa yang dipulihkan adalah balon penelitian rahasia yang telah jatuh.
      Pada awal 1990-an, peneliti UFO seperti Friedman, William Moore, Karl Pflock, dan tim Kevin Randle dan Don Schmitt telah mewawancarai beberapa ratus orang [11] yang telah, atau mengaku memiliki, sebuah hubungan dengan kejadian di Roswell Pada tahun 1947. Selain itu, ratusan dokumen diperoleh melalui permintaan Freedom of Information Act, seperti beberapa yang tampaknya bocor oleh orang dalam, seperti dokumen "Majestic 12" yang dipersengketakan. Kesimpulan mereka adalah bahwa setidaknya satu pesawat alien jatuh di sekitar Roswell, alien itu, beberapa mungkin masih hidup, ditemukan kembali, dan bahwa penyembunyian besar-besaran pengetahuan tentang kejadian tersebut telah terjadi.
      3. Pembunuhan John F. Kennedy 

      Pembunuhan John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat yang ke tiga puluh lima, berlangsung pada hari Jumat, 22 November 1963, di Dallas, Texas, AS pada pukul 12:30 CST (18:30 UTC). Kennedy terluka parah akibat tembakan saat menaiki istrinya dengan Jacqueline dalam sebuah iring-iringan mobil presiden melalui Dealey Plaza. Investigasi resmi oleh Komisi Warren dilakukan selama periode sepuluh bulan, dan laporannya diterbitkan pada bulan September 1964. Komisi berkesimpulan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan semata-mata oleh Lee Harvey Oswald, seorang karyawan dari Texas School Book Depository di Dealey Plaza.
      Sejumlah teori konspirasi ada sehubungan dengan pembunuhan Presiden AS John F. Kennedy. Teori semacam itu mulai dihasilkan segera setelah kematiannya, dan terus diusulkan hari ini. Banyak dari teori ini mengusulkan sebuah konspirasi kriminal yang melibatkan pihak-pihak seperti Federal Reserve, Central Intelligence Agency (CIA), direktur KSM, Mafia, Federal Bureau of Investigation (FBI) J. Edgar Hoover, Wakil Presiden Lyndon B. Johnson, Richard Nixon, Fidel Castro, George HW Bush, kelompok pengasingan Kuba yang menentang pemerintah Castro dan kepentingan militer dan / atau pemerintah Amerika Serikat.
      4. Pemanasan Global adalah Penipuan  

      Saran konspirasi untuk mempromosikan teori pemanasan global diajukan dalam sebuah film dokumenter 1990 The Greenhouse Conspiracy yang disiarkan oleh Channel Four di Inggris pada tanggal 12 Agustus 1990, sebagai bagian dari seri Equinox, yang menegaskan bahwa para ilmuwan mengkritik pemanasan global. Teori ditolak pendanaannya.
      William Gray, phD (pelopor dalam ilmu peramalan topan) telah membuat daftar 15 alasan untuk histeria pemanasan global. Daftar tersebut mencakup kebutuhan untuk menemukan musuh setelah berakhirnya Perang Dingin, dan keinginan di antara para ilmuwan, pemimpin pemerintah dan pemerhati lingkungan untuk menemukan sebab politik yang memungkinkan mereka untuk 'mengatur, mempropagalkan, memaksa penyesuaian dan menerapkan pengaruh politik .Pemerintahan dunia besar bisa memimpin (dan mengendalikan) kita ke dunia yang lebih baik! ' Pada artikel ini, Gray juga mengutip penguasaan Al Gore kepada wakil presiden sebagai awal masalahnya dengan pendanaan federal. Menurutnya, Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional berhenti memberinya hibah penelitian, begitu pula NASA.
      5. Putri Diana Dibunuh oleh Keluarga Kerajaan 

      Pada tahun 1997, Putri Diana (Putri Wales) dan Dodi Fayed (putra Mohamed Fayed, pemilik Hotel Ritz dan Harrods) terbunuh dalam sebuah kecelakaan mobil saat berusaha melepaskan diri dari fotografer pers di Paris. Skandal seputar hubungan mereka (Dodi adalah seorang Muslim sementara Diana adalah ibu dari pemimpin masa depan Gereja Inggris) telah menyebabkan banyak orang berspekulasi bahwa mereka benar-benar terbunuh untuk mencegah skandal lebih lanjut ke takhta Inggris.
      Jajak pendapat menunjukkan bahwa sekitar seperempat publik Inggris, dan mayoritas orang di beberapa negara Arab, percaya bahwa ada rencana pembunuhan Diana, Putri Wales. Motivasi yang telah maju untuk sebuah konspirasi semacam itu mencakup saran bahwa Diana bermaksud menikahi Dodi Fayed, bahwa dia bermaksud untuk masuk Islam, bahwa dia hamil, dan bahwa dia akan mengunjungi tanah suci tersebut. Organisasi yang menurut teori konspirasi bertanggung jawab atas kematiannya termasuk Intelijen Prancis, Keluarga Kerajaan Inggris, pers, dinas intelijen Inggris MI5 atau MI6, CIA, Mossad, Freemason, atau IRA.
      6. Dominasi Dunia Yahudi  

      Teori ini, dalam sejarah baru-baru ini, terutama terbentang dari buklet Protokol Para Sesepuh Sion, yang secara luas dianggap sebagai awal dari literatur teori konspirasi kontemporer. Protokol dianggap oleh beberapa orang sebagai pemalsuan sastra anti-Yahudi yang bermaksud menggambarkan plot Yahudi untuk mencapai dominasi dunia. Sejumlah investigasi independen telah berulang kali membuktikannya sebagai plagiarisme dan tipuan, namun banyak investigasi independen telah menunjukkannya sebagai dokumen faktual.
        
      Teks tersebut dipopulerkan oleh mereka yang menentang gerakan revolusioner Rusia, dan disebarluaskan lebih lanjut setelah revolusi tahun 1905, yang dikenal di seluruh dunia setelah Revolusi 1917 Oktober. Itu beredar luas di Barat pada tahun 1920 dan sesudahnya. Depresi Besar dan bangkitnya Nazisme merupakan perkembangan penting dalam sejarah Protokol.
      7. Apollo Moon Landing Hoax  

      Tuduhan tipuan Apollo Moon Landing adalah klaim bahwa beberapa atau semua elemen pendaratan Apollo Moon dipalsukan oleh NASA dan mungkin anggota organisasi lain yang terlibat. Beberapa kelompok dan individu telah mengembangkan narasi sejarah alternatif yang cenderung, dalam berbagai tingkat, untuk menyatakan bahwa Astronot Apollo tidak mendarat di bulan, dan bahwa NASA menciptakan dan terus melanggengkan tipuan ini.
      Pendukung hoax bulan mencurahkan sebagian besar usaha mereka untuk memeriksa foto NASA. Mereka menunjukkan berbagai isu dengan foto dan film yang konon diambil di Bulan. Pakar dalam fotografi (bahkan yang tidak terkait dengan NASA) menanggapi bahwa anomali tersebut, walaupun kadang-kadang berlawanan dengan intuisi, sebenarnya adalah apa yang orang harapkan dari pendaratan Bulan Nyata, dan bertentangan dengan apa yang akan terjadi dengan citra studio atau dimanipulasi. Pendukung Hoax juga menyatakan bahwa whistleblower mungkin telah sengaja memanipulasi foto NASA dengan harapan dapat mengekspos NASA.
      8. Pearl Harbor Diizinkan untuk Terjadi 

      Teori ini menyatakan bahwa Presiden Roosevelt (FDR) memprovokasi serangan tersebut, mengetahuinya terlebih dahulu dan menutupi kegagalannya untuk memperingatkan komandan Hawaii. FDR membutuhkan serangan tersebut untuk menghisap Hitler untuk mengumumkan perang, karena publik dan Kongres sangat menentang memasuki perang di Eropa.Itu adalah backdoor untuk perang.
      Para ahli teori percaya bahwa AS diperingatkan oleh, setidaknya, pemerintah Inggris, Belanda, Australia, Peru, Korea dan Uni Soviet bahwa serangan mendadak terhadap Pearl Harbor akan segera terjadi. Semua kode bahasa Jepang yang penting rusak. FDR dan Marshall dan yang lainnya tahu bahwa serangan itu akan datang, mengizinkannya dan menutupi pengetahuan mereka.
      9. Rahasia Ketiga Fatima  

      Tiga Rahasia Fatima dikatakan tiga nubuat yang diberikan oleh penampakan Perawan Maria yang Terberkati kepada tiga gembala muda Portugis, Lucia Santos dan sepupunya Jacinta dan Francisco Marto. Dari bulan Mei sampai Oktober 1917, ketiga anak tersebut mengaku telah menyaksikan penampakan Maria ini, yang sekarang populer disebut Our Lady of Fatima.
      Pada tanggal 13 Juli Perawan Maria dikatakan telah mempercayakan tiga rahasia - dalam bentuk nubuatan - kepada para visioner muda. Dua dari rahasia tersebut terungkap pada tahun 1941 dalam sebuah dokumen yang ditulis oleh Lucia untuk membantu kanonisasi sepupunya, sementara yang ketiga tetap merahasiakannya, walaupun uskup Leiria memerintahkan Lucia untuk menuliskannya dan mempresentasikannya kepada Paus. .
      Seorang pastor Katolik yang rupanya telah melihat teks asli "rahasia ketiga" Fatima mempersoalkan interpretasi resmi dari rahasia yang dikeluarkan oleh Vatikan. Selanjutnya, dia telah meminta orang-orang kunci di Vatikan tentang teks tersebut dan tidak mendapat tanggapan. Sementara komentar sang Imam agak radikal, mereka bukan tanpa pamrih, karena dia telah melihat rahasia itu dengan matanya sendiri. Selain itu, sementara 2 rahasia pertama cukup jelas dan jelas, membuat beberapa orang bertanya mengapa yang ketiga diminta untuk diperiksa oleh tim ahli karena kompleksitasnya.
      10. Percobaan Philadelphia  

      Percobaan di Philadelphia adalah eksperimen militer angkatan laut yang diduga terjadi di Philadelphia Naval Shipyard di Philadelphia, Pennsylvania, sekitar tanggal 28 Oktober 1943, di mana kapal perusak AS mengawal USS Eldridge akan dianggap tidak terlihat oleh pengamat manusia untuk periode singkat waktu. Hal ini juga disebut sebagai Project Rainbow.  
      Ceritanya secara luas dianggap sebagai tipuan. Angkatan Laut AS telah menyatakan bahwa eksperimen tersebut tidak pernah terjadi, dan selanjutnya, rincian ceritanya bertentangan dengan fakta yang disebutkan tentang Eldridge. Ini tetap menyebabkan efek riak yang signifikan di banyak lingkaran teori konspirasi, dan elemen Percobaan Philadelphia ditampilkan dalam banyak teori konspirasi pemerintah lainnya.
      Menurut beberapa laporan, percobaan dilakukan oleh Dr. Franklin Reno (atau Rinehart) sebagai aplikasi militer dari Unified Field Theory. Teorinya, secara singkat, mendalilkan sifat kekuatan yang saling terkait yang terdiri dari radiasi elektromagnetik dan gravitasi. Melalui penerapan teori secara khusus, diperkirakan mungkin, dengan peralatan khusus dan energi yang cukup, untuk membengkokkan cahaya di sekitar objek sedemikian rupa sehingga membuatnya pada dasarnya tidak terlihat oleh pengamat.  
      Angkatan Laut menganggap penerapan teori ini sebagai nilai militer yang jelas (terutama saat Amerika Serikat terlibat dalam Perang Dunia II saat itu) dan keduanya menyetujui dan mensponsori eksperimen tersebut. Pengawal kapal induk angkatan laut, USS Eldridge, dilengkapi peralatan yang dibutuhkan di pangkalan-pangkalan militer di Philadelphia.
×
×
  • Create New...