Jump to content
Sign in to follow this  
c0d1ng

Youtube membunuh Musisi dari musik

Recommended Posts

 

IMG_1931.PNG

Nama-nama besar musisi dunia mengecam Youtube yang dianggap pelit dalam royalti. Bagaimana dengan layanan selain Youtube?

Sebulan sebelum kematiannya, penyanyi Prince menghapus banyak video rekaman konsernya dari YouTube. Tindakan itu banyak mendapatkan kritik dari para penggemarnya. Guna menanggapi keluhan itu, Prince menulis di akun twitternya: “Layanan [Youtube] tidak membayar lisensi yang adil” dan menyarankan penggemarnya untuk langsung mengeluhkan persoalan tersebut ke YouTube.

Prince berang dengan kelakuan YouTube. Pada saat kematiannya, sebagian besar karyanya tidak tersedia di setiap penyedia streamingbesar lainnya. Karyanya hanya bisa dinikmati di Tidal, layanan streaming milik Jay Z yang menjanjikan membayar tarif royalti yang lebih tinggi untuk musisi.

Apa yang dikeluhkan Prince ternyata juga dirasakan oleh sebagian besar musisi. Pada Maret 2016 lalu, Katy Perry, Jon Bon Jovi, Steven Tyler, Rod Stewart, Bryan Adams serta banyak musisi lainnya menandatangani petisi untuk mereformasi kebijakan DMCA (Digital Millennium Copyright Act) di Amerika Serikat, yang dinilai merugikan musisi.

Petisi itu merujuk kepada undang-undang dalam DMCA yang dinilai mengancam keberlangsungan perusahaan penulis lagu dan artis rekaman untuk bertahan hidup dari industri musik. Aturan yang tercantum di dalam DMCA itu juga memungkinkan situs seperti YouTube tidak bertanggung jawab secara hukum terkait dengan pelanggaran hak cipta.

Kepada The Guardian, Nikki Sixx mengatakan: "YouTube membayar sekitar seperenam dari yang dibayarkan Spotify dan Apple." 

Menurut laporan Billboard, petisi ini telah ditandatangani 180 musisi termasuk Sir Paul McCartney, U2, Lady Gaga, John Mayer, Pearl Jam, Nikki Sixx dan Chris Cornell. Mereka meminta pihak DMCA agar mampu menyeimbangkan kepentingan pencipta dengan kepentingan perusahaan yang mengeksploitasi musik. Selain itu, mereka juga mendesak DMCA untuk mengambil tindakan cepat untuk memperbaiki situasi.

Sebulan setelah petisi ini ditandatangani, Peter Mensch selaku manajer band dari Metallica, Red Hot Chili Peppers dan Muse kembali membuat heboh dengan mengatakan bahwa YouTube telah membunuh industri rekaman.

"YouTube, mereka setan... Kami tidak dibayar sama sekali." katanya kepada BBC Radio.

Argumen Mensch berdasarkan laporan tahunan dari Federasi Internasional Industri Phonographic (IFPI). Menurut data yang terlampir, pada tahun 2015, pengguna situs streaming seperti YouTube, SoundCloud dan Daily Motion diperkirakan telah digunakan sekitar 900 juta, dan menghasilkan 634 juta dolar AS.

Dilaporkan DW, lebih dari 1000 musisi termasuk Coldplay, Sting dan ABBA juga menulis surat kepada eksekutif Uni Eropa, mereka mengeluh bahwa YouTube dan layanan online lainnya telah menurunkan pendapatan mereka karena menyediakan layanan secara gratis.

Mereka juga mendesak Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker untuk segera mengambil tindakan dan menciptakan keadilan bagi para seniman dan pemilik hak. Selain itu, mereka juga khawatir akan model YouTube yang memungkinkan penggunanya secara bebas meng-upload dan mengakses musik, hal tersebut dinilai dapat membahayakan industri musik. 

Ini bukan pertama kalinya YouTube mendapatkan kecaman keras. Pada 2007 lalu, sebuah media raksasa Viacom juga menggugat YouTube sebesar 1 miliar dolar karena dinilai sengaja melakukan pelanggaran hak cipta.

Terkait dengan kasus itu, Google berkelit bahwa perusahaannya tidak memiliki hak untuk mengontrol video yang diunggah ke YouTube. Mereka tidak memiliki pengaruh atau pengawasan terhadap apa yang diunggah pengguna. 

Dalam persidangan, hakim pun mengatakan bahwa YouTube memang tidak memiliki hak dan kemampuan untuk mengendalikan segala video yang melanggar. Kedua belah pihak akhirnya berdamai.

Jawaban YouTube Terhadap Musisi 

Karena begitu maraknya desakan musisi terhadap YouTube, Kepala Bidang Bisnis YouTube, Robert Kyncl menyarankan para musisi untuk tidak mendesak pihaknya membuka transparansi pembayaran YouTube kepada musisi, karena hal tersebut merupakan perjanjian yang telah disepakati dengan label rekaman.

Kynci juga mengatakan, jika para musisi ingin mendapatkan uang yang lebih besar, maka mereka harus mendaftarkan langsung akunnya kepada YouTube dan tidak melalui label. Tetapi musisi tersebut harus mampu mendatangkan banyak penonton, jika tidak maka musisi tersebut tidak akan mendapatkan banyak uang.

Dalam satu kasus, dia mencontohkan, pemain biola Lindsey Stirling yang sukses karena membuat perjanjian iklannya langsung dengan YouTube. Dari 7,8 juta pelanggan pada akunnya, Stirling mampu meraup $ 6 juta pada 2015 lalu.

"Lindsey mengatur langsung dengan YouTube dan dia melihat semua konsumsi dan berapa banyak uang yang dia buat dan itu sangat jelas." kata Kynci dikutip dari Rolling Stones.

Sementara laporan berbeda dari The Wall Street Journal yang menyebutkan YouTube memiliki pandangan yang berbeda dengan persoalan tersebut. Mereka mengaku telah membayar royalti sebesar $ 3 miliar dari pendapatan iklan untuk industri musik.

Dalam laporan itu disebutkan, YouTube juga telah menawarkan kepada label rekaman sebuah alat yang secara otomatis dapat memblokir musik yang diunggah secara ilegal. Namun persoalannya, alat tersebut juga mengharuskan pemilik hak untuk mencari secara manual setiap hari untuk melacak konten ilegal.

Menilik Keuntungan YouTube 

Di tangan Google, YouTube benar-benar menjadi situs yang menjanjikan. Popularitasnya semakin melonjak dan berkembang menjadi industri yang menggiurkan, serta bertindak sebagai platform bagi pembuat konten asli, yang menawarkan iklan besar maupun kecil.

Hal ini jauh dari prediksi awal ketiga pendirinya yakni Chad Hurley, Steve Chen dan Jawed Karim. Sejak didirikan pada Februari 2005, tiga sekawan ini sempat pesimistis terhadap keberlangsungan perusahaannya. 

YouTube mendapatkan suntikan dana pertama dari Sequoia Capital pada November 2005. Setahun kemudian, situs ini dibeli oleh Google seharga $1,65 miliar atau setara Rp23,76 triliun.

Berapa pendapatan YouTube? Menurut laporanForbes, pendapatan YouTube pada tahun 2013 mencapai $3 miliar dan pada tahun 2014 mencapai $4 miliar. Sementara menurut laporan Music Business Worldwide, pada tahun 2015, YouTube diperkirakan telah mendapat sekitar 9 miliar dolar AS. 

Sementara untuk pengeluaran, Ken Sena, analis di bank investasi Evercore ISI memperkirakan bahwa YouTube akan membayar sekitar 5 miliar dolar AS kepada pencipta konten dan pemegang hak. 

YouTube memang bagai dua sisi mata uang, di satu sisi platform ini mampu mencetak miliarder seperti Felix Kjellberg yang dalam sebulan mampu mengumpulkan $12 juta atau Rp156 miliar melalui kanal “PewDiePie”. Di satu sisi, para musisi sekelas Paul McCartney dan Katy Perry juga mengkritik YouTube karena dinilai tak adil dalam memberikan royalti dan melanggar hak cipta.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By paimin
      Untuk pertama kalinya sejak Hadiah Pulitzer untuk musik diadakan 75 tahun lalu, musisi hip-hop menjadi pemenang mengalahkan musisi musik klasik dan jazz, dua genre yang selalu memenangkan penghargaan Pulitzer. 

      Penghargaan Pulitzer yang diberikan pertama kali pada 101 tahun lalu terkenal sebagai penghargaan tertinggi untuk karya jurnalistik Amerika. Namun kemudian juga memberi penghargaan untuk buku, musik, dan puisi, tentunya dinilai dengan sudut pandang jurnalistik  yang kuat. 

      Adalah Kendrick Lamar dengan albumnya “Damn” yang mencatatkan sejarah dalam pengumuman Hadiah Pulitzer Senin 17 April sore waktu New York di Columbia University. Pada Minggu 8 April lalu teater musik hip-hip berjudul “Hamilton” juga meraih paling banyak penghargaan dalam Oliver Awards, penghargaan teater terbesar di Inggris yang gengsinya sekelas Broadway Tony Awards di Amerika dan Molière Award dari Perancis. 

      Dalam rilis persnya, Dewan Pulitzer menganggap album “Damn” sebagai koleksi lagu dengan teknik tinggi (virtuoso) yang disatukan oleh keaslian budaya yang membentuknya (vernakular) dan dinamisme ritmik yang mempengaruhi sketsa dalam menangkap kompleksitas kehidupan Afrika-Amerika modern. 

      Media Variety dalam laporannya menyatakan gagal mendapat komentar Kendrick Lamar namun kepala label Lamar, Top Dawg Entertainment dalam twitternya mengatakan, “Pemenang Hadiah Pulitzer, Kdot from Compton (salah satu lagu Lamar, yang liriiknya menjadi semacam pernyataan biografis). Saya [lebih baik] tidak pernah mendengar salah satu dari Anda, berbicara dengan sesuatu yang kurang dari rasa hormat di mulut Anda untuk Kendrick Lamar." #TDE. 

      Adapun Host Dana Canedy, seorang jurnalis yang juga administrator Pulitzer, dilaporkan Variety tampak diam-diam senang ketika memberikan pengumuman pemenang, dan dalam wawancara dengan New York Times tak lama seusai acara mengatakan, “Kami sangat bangga dengan pilihan ini.
      Ini berarti bahwa juri dan sistem penilaian dewan bekerja sebagaimana seharusnya - pekerjaan terbaik telah diberikan oleh Hadiah Pulitzer. Ini menyinari musik hip-hop dengan cara yang sama sekali berbeda. Ini adalah momen besar untuk musik hip-hop dan momen besar bagi Pulitzers. ” 

      Media sangat menunggu pernyataan lengkap Pulitzer yang biasanya menjelaskan alasan di balik keputusannya. Sebab, ada sedikit keraguan tentang dampak Lamar terhadap hip-hop, musik, dan budaya sejak Lamar pertama kali masuk industri dengan album “Good Kid M.A.A.D City” pada 2012. 

      Namun, Variety menyebut bahwa setiap album Lamar telah memberi perkembangan pada musik hip-hop dari yang pernah ada sebelumnya, tetapi yang paling penting, liriknya mencerminkan didikannya di daerah Compton yang keras di Los Angeles, pengalaman menjadi seorang  kulit hitam di Amerika, sejarah dan warisan hip-hop, ketenaran dan banyak topik lainnya. Semua melalui sikap yang sangat sederhana dan percaya diri, tidak seperti sebagian besar rapper lainnya yang kurang percaya diri dan berlebih-lebihan dalam sikapnya. 

      Lamar yang baru 30 tahun, tapi telah memenangkan 11 Grammy Awards dan telah dipuji oleh dan telah bertemu dengan Presiden Barack Obama dalam beberapa kesempatan, disebut Variety selalu mampu melihat dunia dalam lensa jiwa yang matang. 

      Secara musikal, album-albumnya telah menantang dirinya sendiri dan standar hip-hop. Sementara “Good Kid” adalah sebuah gambaran kaleidoskopik tentang kehidupan Lamar dan didikannya dalam konteks musik yang benar-benar melodis namun sanggup keras memukul. 

      Album berikutnya, “The Pimp of Butterfly” memberi tantangan berat bagi pendengarnya, Lamar meminta bantuan dari musisi jazz Los Angeles untuk mendukungnya, dan lagu-lagu seperti “Allright” adalah sebuah lagu tidak resmi dari gerakan Black Lives Matter, relatif sederhana secara musikal, sementara lagu-lagunya yang lain sangat menantang bahkan untuk komposisi jazz terumit (jazz head). 

      Dan album terakhirnya "Damn" menjadi upaya kembali ke hip-hop yang lebih konvensional secara keseluruhan, itu bukan tanpa tantangan: sebagai contoh, bagian kedua  dari lagu berjudul "DNA" menampilkan tiga unsur musik yang berbeda yang satu sama lain  nyaris tidak ada hubungannya. 
      Pada bulan November tahun lalu, Lamar mendapat penghargaan sebagai Variety's Hitmaker of the Year. Dan Lamar telah membawa tahun ini sebagai tahun yang sebenar-benarnya sangat besar untuk musik Hip-Hop.
      Mari Simak:
      Kendrick Lamar - DNA.
      Sumber: https://id.crowdvoice.com/posts/2018-tahun-hiphop-pertama-kali-menang-pulitzer-2Ku3

    • By desianiputri
      Isyana Sarasvati tak hanya bagus bernyanyi, tapi juga menguasai banyak alat musik, termasuk keyboard. Dia pun mengaku punya keyboard kesayangan.
      Nama penyanyi muda Isyana Sarasvati sedang naik daun sepanjang tahun 2015 lalu. Berkat suaranya yang enak didengar, dia pun langsung mendapat perhatian dari publik pendengar musik Tanah Air. Namun, kemampuan Isyana ternyata bukan hanya dalam bernyanyi. Selain itu, dia juga diketahui memiliki talenta yang luar biasa dalam memainkan alat musik. Tak hanya satu, ada banyak alat musik yang dikuasai oleh Isyana. Berkat kemampuannya itu pula dirinya bisa jago dalam menciptakan lagu. Nah, bicara alat musik, cewek cantik ini ternyata memiliki satu alat musik kesayangan, yakni keyboard. Dengan alat musik kesayangannya itulah Isyana berkarya di dunia musik.
      Isyana Sarasvati Berkarya di Dunia Musik dengan Keyboardnya
      “Keyboard itu sangat membantu dalam berkarya. Seperti keyboard Yamaha PSR970 yang saya pakai sekarang. Beda banget, enak touch-nya, mike-nya juga bisa langsung ke keyboard. Karena  keyboard ini saya  bisa jadi arranger,” ungkap Isyana saat ditemui oleh sejumlah awak media di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Jawara lomba keyboard di Singapura itu pun mengaku selalu membawa keyboard-nya tersebut saat show. “Sudah sehati,” tambah musisi muda yang menyelesaikan sekolah musiknya di Singapura dan London itu. Dengan keyboard itu pula Isyana mengaransemen dan menciptakan semua lagunya sendiri. Selain bermain keyboard, dia juga menguasai alat musik elekton, piano, biola, flute, dan saxophone.
    • By berita_semua
      Ed Sheeran merayakan ulang tahunnya yang ke-26 pada Jumat 17 Februari 2017. Di pergantian usianya, penyanyi Inggris ini merilis lagu terbarunya seperti yang sudah dijanjikan. Lagu tersebut berjudul How Would You Feel (Paean).
      Berbeda dengan dua lagu sebelumnya yakni Shape of You dan Castle on the Hill, How Would You Feel (Paean) merupakan lagu ballad yang bercerita tentang penantian seseorang yang sedang jatuh cinta. Salah satu liriknya berbunyi, “How would you feel if i told you i loved you.”
      Ed juga telah merilis video klip dari How Would You Feel (Paean). Jika dua video klip sebelumnya berisi adegan yang menceritakan isi lagu, kali ini How Would You Feel (Paean) hanya memperlihatkan Ed yang bernyanyi sambil memetik gitarnya di sebuah ruangan ditemani seorang pianis.
      Lewat Twitter, Ed menjelaskan jika How Would You Feel (Paean) adalah salah satu lagu favoritnya. Pemenang Grammy ini mengatakan merilis How Would You Feel (Paean) sebagai perayaan ulang tahunnya.
      “Karena ini adalah ulang tahunku, aku merilis sebuah lagu baru berjudul How Would You Feel (Paean). Dengarkan selagi aku makan kue,” kicau Ed.
    • Guest News
      By Guest News
      Setelah sukses meluncurkan single pertama yang bertajuk “Dirikan Sholat”, kali ini Hariza ingin memperkenalkan single kedua yang bertajuk “Syahadat”. Dalam single kali ini mereka ingin menjelajahi semesta music, dengan memadukan nuansa Tilawah melayu dan music elektronik modern. Teknik Rap akan sangat kental disuguhkan dalam single kali ini.
      Besar harapan mereka musikalitas dan kedewasaan dalam bermusik Hariza Nasyid terus berkembang serta bermanfaat bagi Hariza sendiri dan umat. Semoga single syahadat ini dapat diterima oleh masyarakat dan dapat ikut meramaikan belantika musik tanah air.

×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy