Jump to content

Pemeran "Silicon Valley" Diserang karena Menentang Trump


Recommended Posts

Dua aktor pemeran film seri Silicon Valley, Kumail Nanjiani (kiri) dan Thomas Middleditch..jpg

Dua pemeran film serial Silicon Valley, Kumail Nanjiani dan Thomas Middleditch, tiba-tiba dihampiri dua orang pemuda kulit putih berusia 20-an tahun ketika sedang berada di dalam sebuah bar di kota Los Angeles, AS, akhir minggu lalu.

Kedua pemuda tersebut rupanya ingin mengajak berdebat karena tidak suka dengan sikap politik Nanjiani dan Middleditch yang dikenal sebagai penentang Presiden terpilih AS, Donald Trump. 

Tapi, Nanjiani tak mau melayani ulah mereka. “Hei, kami tidak mau berdiskusi soal politik sekarang,” kicau Nanjiani di Twitter, mengulangi ucapannya malam itu.

Penolakannya malah berbuah ejekan dari kedua pemuda pendukung Trump yang mulai berteriak dan mendekati Nanjiani. Middleditch yang berusaha menghentikan tindakan agresif itu malah diajak berkelahi.

Beruntung, sebelum situasi menjadi makin panas, petugas bar menghampiri mereka, lalu mengusir kedua pemuda tadi ke luar bar. 

Silicon Valley adalah serial TV yang ditayangkan di HBO yang bercerita seputar kehidupan startup teknologi di AS. Seperti diketahui, mayoritas perusahaan teknologi di AS memang berseberangan dengan cara pandang Donald Trump selama kampanye.

Berbau rasial

Insiden tersebut diduga dilatarbelakangi rasisme karena Nanjiani adalah komedian asal Pakistan yang bertampang Asia. Dia besar di kota Karachi, lalu pindah ke AS saat kuliah dan kini memiliki dua kewarganegaraan. 

Nanjiani menyayangkan peristiwa tersebut bisa terjadi di Los Angeles yang dikenal sebagai kota liberal. Lokasinya pun tidak sepi, melainkan ramai dengan pengunjung ketika itu.

“Saya tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya menjadi orang yang berpenampilan seperti saya di wilayah lain negeri ini,” ucapnya.

Semenjak Trump memenangi pemilu AS Rabu pekan lalu, gelombang serangan berbau hate crime yang dilatarbelakangi kebencian berbasis SARA telah melanda Negara Paman Sam. 

Para pelakunya disinyalir memperoleh justifikasi dan berani muncul ke permukan karena menganggap tindakan mereka sesuai dengan pandangan Trump terhadap politik dan masyarakat AS. 

Sang presiden terpilih itu memang sering menyuarakan kebencian terhadap golongan minoritas di AS ketika berkampanye.

Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By VOAIndonesia
      Ibu negara Amerika Melania Trump hari Senin (11/1) mengatakan ia “kecewa dan sedih” dengan penyerbuan gedung Kongres oleh kerumunan massa pendukung suaminya yang ingin mengubah hasil pemilihan presiden, tetapi juga mengatakan bahwa merupakan hal yang “memalukan” ketika ia menjadi subyek apa yang digambarkannya sebagai “gosip cabul” dan “serangan pribadi yang tidak beralasan.”
      Dalam pernyataan dari Gedung Putih itu, ibu negara menyampaikan kesedihan atas kematian enam orang terkait kekacauan di Kongres Rabu lalu (6/1), termasuk kematian polisi Kongres Brian Sicknick, dan seorang polisi lainnya, Howard Liebengoog, yang ikut menanggapi kerusuhan di Kongres dan bunuh diri akhir pekan lalu ketika sedang tidak bertugas.
      “Bangsa kita sedianya pulih dengan cara beradab,” ujar Melania. “Jangan salah, saya benar-benar mengutuk aksi kekerasan yang terjadi di gedung Kongres kita. Aksi kekerasan tidak pernah dapat diterima.”
      Ia menambahkan, “Saya mengimbau orang-orang untuk menghentikan aksi kekerasan itu, tidak membuat asumsi yang didasarkan pada warna kulit seseorang atau menggunakan ideologi politik sebagai landasan melakukan serangan dan kekejaman. Kita sedianya saling mendengar satu sama lain, memusatkan perhatian pada apa yang mempersatukan kita, dan mengatasi apa yang memisahkan kita.”
      Dalam pawai di dekat Gedung Putih pada 6 Januari lalu, Presiden Donald Trump mendorong ribuan pendukungnya untuk bergerak ke Kongres. Dalam pawai itu ia, sebagaimana yang telah disampaikannya selama berminggu-minggu, menyampaikan kembali tuduhan yang tidak berdasar bahwa ia telah dicurangi dalam pemilu presiden. Beberapa jam kemudian para pendukungnya menyerbu Kongres. Trump menyerukan kepada mereka agar “pulang” tetapi juga mengatakan, “Kami mencintai Anda, Anda sangat spesial.”
      Setelah polisi memulihkan ketertiban di Kongres, Kamis dini hari (7/1) para anggota parlemen mengesahkan perolehan kursi elektoral Joe Biden dari Partai Demokrat, yang akan dilantik sebagai presiden ke-46 Amerika pada tanggal 20 Januari nanti.
      Ibu negara pada hari Senin juga mengecam mereka yang mempertanyakan mengapa ia bungkam tentang aksi kekerasan di Kongres, hingga saat ini. “Saya merasa memalukan, di tengah-tengah peristiwa tragis ini ada gosip-gosip cabul, serangan pribadi yang tidak berdasar, dan tuduhan palsu yang menyesatkan terhadap saya, dari orang-orang yang ingin menjadi relevan dan memiliki agenda,” ujarnya.
      “Saat ini semata-mata tentang memulihkan negara dan warga negara kita. Saat ini seharusnya tidak digunakan untuk keuntungan pribadi,” tambah Melania.
      Melania tampaknya mengarahkan pernyataannya sedikitnya pada Stephanie Winston Wolkoff, mantan penasehat dan temannya yang akhir pekan lalu menulis artikel di Daily Beast bahwa Melania telah mendorong suaminya dan bahwa “tangannya juga berlumuran darah.”
      Melania Trump juga tampaknya mengucapkan selamat tinggal pada Gedung Putih sebelum masa jabatan suaminya berakhir 20 Januari nanti. “Merupakan suatu kehormatan seumur hidup bagi saya dapat menjadi Ibu Negara,” ujarnya. “Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada jutaan warga Amerika yang mendukung suami saya dan saya selama empat tahun terakhir ini, dan menunjukkan dampak luar biasa dari semangat Amerika. Saya berterima kasih karena diperkenankan memberi pelayanan di platform yang saya sukai.”
      Presiden Trump hari Senin memerintahkan untuk menurunkan bendera Amerika menjadi setengah tiang hingga Rabu nanti (13/1) untuk menghormati Sicknick dan Liebengood. [em/jm]
    • By VOAIndonesia
      Pemimpin Faksi Demokrat di Senat Amerika Serikat (AS) Chuck Schumer pada Minggu (10/1) memperingatkan akan ancaman kekerasan pada pelantikan Presiden terpilih Joe Biden pada 20 Januari. Ancaman itu terutama pasca penyerbuan Gedung Capitol pekan lalu oleh ribuan pendukung Presiden Donald Trump yang berusaha menggagalkan kemenangan Biden.
      Schumer, yang akan menjadi pemimpin mayoritas Senat, mengatakan dia berbicara dengan Direktur Biro Penyelidik Federal (Federal Bureau of Investigation/FBI) Christopher Wray pada Sabtu (9/1) untuk "mendesaknya agar terus memburu gerombolan pemberontak yang melakukan kekerasan, yang dihasut oleh Presiden Trump. Para gerombolan itu menyerbu Gedung Capitol AS dan menewaskan seorang polisi, serta menghalangi kemungkinan serangan berikutnya."
      Schumer mengatakan, “kemungkinan terjadinya kekerasan oleh kelompok ekstremis tetap tinggi dan beberapa pekan ke depan penting dalam proses demokrasi kita terkait pelantikan.”
      Wali Kota Washington DC Muriel Bowser, dalam sebuah surat tertanggal Sabtu, 9 Januari, meminta penjabat Menteri Keamanan Dalam Negeri Chad Wolf untuk memperpanjang status keamanan nasional terkait pelantikan dari tiga hari menjadi dua minggu, mulai Senin (11/1) hingga 24 Januari.
      Dia mengatakan permintaannya "penting untuk menunjukkan sikap kolektif kita dalam menjamin transisi kekuasaan yang konstitusional."
      Trump pada Jumat (8/1) mengumumkan tidak akan menghadiri pelantikan Biden. Itu akan menjadikannya sebagai presiden pertama dalam sejarah modern yang tidak menghadiri pelantikan penerusnya. [vm/ft]
    • By news
      Berbagai raksasa perusahaan teknologi memblokir Presiden AS Donald Trump dan media sosial Parler, yang populer di kalangan pendukung Trump, mengikuti kericuhan Rabu pekan sebelumnya di Gedung Kongres Amerika Serikat.
       
    • By purwa_weheb
      Harga emas naik tipis pada penutupan perdagangan Kamis (Jumat pagi waktu Jakarta), usai Presiden AS Donald Trump membangkitkan kembali harapan akan adanya paket stimulus bagi warga AS untuk menggadapi dampak pandemi Covid-19.
      Rencananya, tambahan stimulus tersebut bisa diberikan sebelum gelaran pemilihan presiden AS yang berlangsung pada 3 November nanti.
      Namun, penguatan harga emas ini sedikit tertahan karena adanya kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia lain.
      Harga emas di pasar spot naik 0,3 persen menjadi USD 1.906,15 per ounce. Sedangkan harga emas berjangka AS ditutup naik 0,1 persen menjadi USD 1.908,90 per ounce.
      Trump mengatakan dia setuju atau memberikan tandatangan jika ada kenaikan plafon stimulus penanganan dampak COvid-19 dari usulan semula sebesar USD 1,8 triliun.
      "Fokusnya adalah pada harapan baru pembicaraan stimulus karena Presiden AS terus mendorong untuk menyelesaikan kesepakatan dan emas mengabaikan kekuatan dolar AS," kata analis ED&F Man Capital Markets, Edward Meir.
      "Namun memang kekuatan dolar AS tidak bisa diabaikan. Penguatan dolar AS tetap akan membuat kenaikan harga emas kemungkinan akan terbatas." tambah dia.
      Dolar AS menahan kenaikan terhadap saingannya, didukung oleh pernyataan Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin pada hari Rabu bahwa kesepakatan stimulus akan sulit dicapai sebelum pemilihan.
      Pengangguran
       
      Lebih lanjut mendukung harga emas, klaim pengangguran mingguan AS secara tak terduga naik minggu lalu.
      “Jumlah pengangguran menunjukkan bahwa kami belum keluar dari masalah. kami masih memiliki banyak rintangan yang harus dihadapi yang menunjukkan kemungkinan lebih banyak intervensi pemerintah melalui stimulus dan menekan suku bunga,” kata kepala investasi Sica Wealth Management, Jeffrey Sica.
      Emas yang dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, penurunan nilai mata uang, dan ketidakpastian, telah naik 25 persen tahun ini. Kenaikan tersebut didorong oleh stimulus global besar-besaran untuk melindungi ekonomi dari kemerosotan yang disebabkan pandemi Covid-19.
    • By congek
      Dokter Kepresidenan Amerika Serikat, Sean Conley, mengatakan, Presiden Donald Trump diizinkan kembali bekerja setelah melihat hasil pemeriksaan kesehatannya.
      Selama 24 jam terakhir, kata Sean, Trump tak menunjukkan gejala COVID-19 sama sekali. Dia juga tidak demam dan kondisinya dalam keadaan stabil.
      Begitu juga hasil uji fisik dan tanda-tanda vital, termasuk saturasi oksigen dan laju pernapasan.
      "Semuanya tetap stabil dan normal," kata Sean dikutip dari Channel News Asia pada Kamis, 8 Oktober 2020.
      Sean lalu mengatakan bahwa sekarang Donald Trump sudah memiliki antibodi COVID-19.
      "(Uji) lab presiden mendemonstrasikan level terdeteksi dari antibodi-antibodi SARS-CoV-2 lgG pada Senin 5 Oktober," Sean menekankan.
      Donald Trump mengumumkan dirinya positif terinfeksi COVID-19 pada Jumat, 2 Oktober 2020, melalui akun Twitter pribadinya.
      Trump lalu menjalani perawatan di Walter Reed Medical Center yang berada di luar Washington.
      Saat dirawat, Sean, melaporkan, Donald Trump menjalani pengobatan campuran antibodi eksperimental COVID-19, Regeneron.
      Selain itu, Trump juga mengonsumsi multivitamin seperti zink, vitamin D, famotidine, melatonin, serta aspirin.
      Tak butuh waktu lama, pada Senin, 5 Oktober 2020 waktu setempat atau Selasa, 6 Oktober 2020, waktu Indonesia, Donald Trump sudah diizinkan pulang untuk menjalani pemulihan di Gedung Putih.
       
×
×
  • Create New...