Jump to content
BincangEdukasi

Usia yang pasa buat ibu hamil

Recommended Posts

hamil.jpg

Ada beberapa hal yang perlu dipikirkan sebelum hamil. Selain menjaga agar kondisi tubuh sehat, usia terbaik bagi wanita untuk hamil pun harus dipertimbangkan. Berikut penjelasan dari dr. Karin Wiradarma.

Berdasarkan berbagai penelitian, ditemukan bahwa usia ideal untuk hamil bagi wanita adalah 20 hingga 35 tahun. Kehamilan yang terjadi di bawah usia 20 tahun maupun di atas usia 35 tahun kurang dianjurkan karena adanya risiko tertentu.

Di bawah 20 tahun, organ reproduksi wanita yang biasa belum matang. Demikian juga kondisi psikologisnya. Menjadi ibu dalam usia yang terlampau muda juga seringkali menghambat pendidikan dan karier wanita.

Sebaliknya, meskipun rata-rata wanita di atas usia 35 tahun telah memiliki kondisi kejiwaan dan finansial yang mapan, kondisi fisik mereka umumnya kurang memungkinkan untuk mengandung. Risiko kesehatan bagi ibu dan bayi akan lebih tinggi pada kelompok umur ini.

Usia Biologis Wanita Berjalan Terus

Pada waktu dilahirkan, bayi perempuan memiliki 5 juta sel telur di dalam indung telurnya. Jumlah ini akan menurun drastis menjadi 500 ribu saat ia mendapat haid pertamanya.

Seiring dengan bertambahnya usia, jumlah sel telur ini akan terus menurun. Di usia 37 tahun menjadi 25 ribu dan 1.000 menjelang menopause atau mati haid.

Tidak hanya jumlah sel telur yang menurun seiring dengan pertambahan usia, tetapi kualitasnya pun ikut mengalami penurunan. Itulah sebabnya, usia subur wanita yang terbaik adalah 20 hingga 35 tahun.

Tidak hanya kesuburan yang lebih tinggi di masa tersebut. Kondisi fisik wanita di masa prima juga memungkinkannya untuk menjalani kehamilan dengan lebih baik. Risiko mengalami penyakit dalam kehamilan (diabetes, hipertensi, dll), keguguran, berat badan bayi lahir rendah, dan cacat pada bayi pun akan lebih rendah.

Sementara itu, wanita yang berusia di atas 35 tahun lebih sulit hamil dan berisiko lebih tinggi mengalami masalah dan penyakit dalam kehamilan. Begitu juga dengan risiko keguguran dan kecacatan pada bayi (autisme, sindrom Down, dan kelainan bawaan lainnya).

Menurut berbagai penelitian yang dilakukan, usia terbaik bagi wanita –siap secara mental dan finansial– untuk memiliki anak pertama adalah 26 hingga 35 tahun. Para ahli menganggap bahwa di usia tersebut, fisik dan kesuburan wanita masih prima, sementara wanita pun sudah lebih matang dalam hal mental dan finansial.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By theblue
      Hamil di tengah pandemi corona Covid-19 tentunya tidak pernah dibayangkan oleh Popi dan suaminya. Namun saat mengetahui dirinya hamil pada Januari lalu, mereka tentu tak menyangka kalau wabah corona juga melanda Indonesia dan bahkan hampir semua negara.
      Namun di sisi lain, Popi dan suami sudah cukup lama menantikan anak kedua setelah dikaruniai anak pertama pada 2013. Mereka pun makin sennag setelah mengetahui calon bayi mereka adalah perempuan karena anak pertama laki-laki.
      Popi dan suami tadinya berencana melahirkan di rumah sakit tempat ia melahirkan anak pertamanya di kawasan Jakarta Pusat. Namun saat wabah corona mulai terjadi di Indonesia, ia mendapat informasi kalau Rumah sakit tempat dia berencana melakukan persalinan digunakan untuk menangani pasien Covid-19 dan sedang kekurangan APD (alat pelindung diri).
      Jadi kalau ia mau melahirkan, maka harus masuk UGD (Unit Gawat Darurat) terlebih dahulu. Ia dan suami pun memutuskan untuk berganti rumah sakit yang juga berada di kawasan Jakarta Pusat. Popi pun sudah beberapa kali menjalani pemeriksaan di rumah sakit tersebut.
      "Waktu masih awal-awal pandemi dan penerapan PSBB ya prosedurnya nggak jauh beda seperti biasanya. Paling ya harus memakai masker dan cuci tangan. Tapi setelah beberapa kali, kalo nggak salah pas bulan Mei, harus ada protokol kesehatan sebelum dan sesudah diperiksa. Ya biayanya sekitar 200 sampai 300 ribu rupiah tiap kali kunjungan. Terus biaya untuk melahirkan juga naik karena biaya buat protokol kesehatannya lebih besar," terang Popi
      Karena biaya melahirkan naik sampai sekitar 50 persen yang bisa mencapai sekitar Rp20 juta sampai Rp30 juta, Popi dan suami pun mencari altternatif lain.  Mereka pun mendapat informasi dari beberapa teman tentang klinik bersalin yang tak jauh dari rumah mereka. Mereka akhirnya lebih memilih klinik bersalin yang biayanya jauh lebih kecil tapi tetap terjamin dan bisa dipercaya.
      "Tadinya suami sempat kurang setuju karena dia lebih percaya sama dokter spesialis. Tapi setelah mendengar pengalaman beberapa teman, kita akhirnya sepakat memilih klinik bersalin walaupun cuma ditangani bidan. Tapi mereka bidan yang berpengalaman dan sekali menangani persalinan bisa empat sama lima orang bidan yang turun tangan," ucap Popi.
      Untuk biaya diperkirakan tidak sampai Rp10 juta, bahkan bisa memakai BPJS sehingga bisa lebih menghemat biaya lagi. Meski begitu, suami Popi tetap mempersiapkan bujet lebih kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan dan Popi harus melahirkan di rumah sakit. Lalu, bagaimana dengan mereka yang sudah melahirkan di masa pandemi?
      Meningkat Dua Kali Lipat
      Bagi Desi melahirkan di masa pandemi, tepatnya pada Juni lalu, ternyata menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tentunya ia dan suami senang menyambut kelahiran anak mereka yang keempat.
      Tapi mereka juga harus merogoh kocek cukup dalam yang untungnya memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Desi melahirkan anak keempatnya di Rumah Sakit (RS) Hermina Bogor, Jawa Barat.
      "Biayanya sekitar Rp22 juta, terus ada cek kehamilan sekitar Rp2 juta, itu semua udah termasuk biaya buat protokol kesehatan. Total habis biaya sekitar Rp25 juta. Itu pun saya di kamar Kelas 3. Ya mungkin juga karena pandemi dan memang di sana (RS Hermina) biayanya memang cukup tinggi," jelasnya.
      Sebelumnya, ketiga anak Desi lahir di rumah sakit di Jakarta dan biayanya jauh berbeda dengan kelahiran anak keempat.
      "Kalau yang pertama saya agak lupa, yang jelas pas lahiran anak kedua itu sekitar Rp9 jutaan dan yang ketiga sekitar Rp12 jutaan. Nah itu kan beda jauh sama lahiran yang keempat sampai dua kali lipat, ya mungkin juga karena pengaruh pandemi dan tergantung rumah sakitnya juga," lanjut Desi.
      Tiap rumah sakit sepertinya memang menambahkan tarif mereka karena dampak pandemi corona. Biaya tambahan itu biasanya untuk menjalankan protokol kesehatan maupun untuk APD.Di RSIA Asih di kawasan Melawai, Jakarta Selatan misalnya.
      Wajib Rapid Test
      Mereka menjelaskan biaya persalinan di tempat nereka sudah berlaku tarif mulai 1 April 2020 meski tidak menyebutkan berapa persen kenaikannya dari tarif sebelumnya.
      Untuk persalinan normal tarifnya mulai dari Rp19 jutaan (Kelas 3) sampai dengan Rp28 jutaan (VVIP). Sedangkan untuk persalinan Caesar, mulai dari Rp33 jutaan (Kelas 3) sampai dengan Rp48 jutaan (VVIP).
      Tarif tersebut belum termasuk biaya administrasi rumah sakit, tapi sudah termasuk untuk biaya tindakan dan perawatan ibu dan bayi sehat selama tiga hari. Biaya akan bertambah kalau ada tindakan tambahan seperti operasi atau bayi sakit.
      "Untuk melahirkan nanti pada saat masuk untuk rawat inap, untuk penunggu hanya boleh untuk suami saja dan tidak ada jam besuk. Ibu melahirkan juga wajib rapid test. Untuk biaya rapid test sekitar Rp270 ribu," terang mereka lagi.
      Tambahan Biaya untuk APD
      Lalu bagaimana dengan di klinik bersalin? Salah satu klinik di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Klinik Bersalin Lahir di Tembuni, menetapkan tarif yang sama dengan sebelum pandemi.
      "Untuk biaya melahirkan masih sama seperti sebelumnya. Untuk persalinan normal estimasinya Rp25 jutaan (VVIP), Rp22 juta (VIP) dan Rp18 juta (Deluxe). Itu sudah include biaya persalinan, jasa dokter, kamar, obat, dan alat kesehatan. Hanya ada tambahan biaya Rp300 ribu untuk APD," terang mereka melalui pesan elektronik, Jumat, 10 Juli 2020.
      Sedangkan klinik bersalin di Bandung, Jawa Barat, Klinik Utama Jasmine MQ Medika menetapkan tarif berbeda. Untuk biaya persalinan ada kenaikan sebesar 20 sampai dengan 30 persen.
      "Kenaikan biaya karena ada pandemi. Jadi ada protokol pemeriksaan, labaoratorium dan penggunaan APD bagi nakes. Tarifnya mulai dari Rp5 juta sampai Rp25 juta," terang pihak klinik melalui pesan elektronik pada Jumat, 10 Juli 2020.
      Hamil dan melahirkan tentu hal yang wajar dan bahkan membahagiakan bagi pasangan yang sudah lama menantikan kehadiran anak. Namun di tengah pandemi, tentu ada baiknya menyiapkan dana lebih untuk menghadapi segala kemungkinan.
       
    • By BincangEdukasi
      Wanita bakal hamil ketika berhubungan seks dalam dunia nyata. Tapi bagaimana kalau kehamilan kamu terjadi hanya dalam mimpi, padahal kamu masih lajang?
      Ini loh ndral adalah empat arti impi yang unik, mungkin juga pernah kamu alami ndral!
      Bermimpi lakukan tes kehamilan
      Wanita bisa saja mengalami mimpi sedang melakukan tes kehamilan dalam tidurnya. Menurut ahli mimpi, bakal ada perubahan besar yang terjadi dalam hidup kamu. Atau bahkan lebih unik lagi, kamu takut hamil karena banyak lasannya.
      Bermimpi melakukan USG bayi
      Ini adalah salah satu mimpi yang positif dalam hidup kamu. Jika kamu mendapatkan mimpi ini, itu berarti ada sesuatu yang baru yang akan terjadi dalam hidup kamu. Kamu dinyatakan bakal pindah ke rumah baru, mendapatkan pekerjaan yang baru atau promosi jabatan. Berbeda jika wanita yang sudah menikah, tidak lama lagi kamu dinyatakan hamil oleh dokter.
      Mimpi sedang melahirkan bayi
      Tidak pernah berhubungan seks, tidak pernah hamil, tapi mimpi bisa melahirkan bayi saat tidur di suatu malam. Apa tandanya? Ternyata, mimpi itu menunjukkan bahwa kamu akan mencapai sutau hal dalam urusan pekerjaan yang membuat kamu bahagia.
      Bermimpi mengalami keguguran
      Ada pula seorang wanita lajang mengalami mimpi keguguran. Hamil tidak pernah, tapi malah mimpi buruk. Ternyata, kamu bakal mengalami sebuah masalah dalam pekerjaan yang membuat diri sendiri waspada ya ndral
    • By duniagelap
      Anda mungkin pernah melihat seorang wanita paruh baya tengah hamil. Lantas amankah jika hamil di usia tua? Bagaimana dengan kondisi sang ibu dan calon bayi yang dikandungnya?
      Nah, itulah yang akan kita bahas di sini.
      Pada umumnya, setelah usia 42 tahun, kualitas telur akan menurun dan membuat wanita sulit hamil. Namun jumlah telur bisa juga menurun drastis ketika berada di usia 47 tahun. Beberapa metode menggunakan donasi telur dan vitro fertilisasi biasanya dapat membantu wanita hamil meski di usia 50 tahun.
      Jadi, amankah wanita hamil di usia 50 tahun?
      Pada dasarnya, penggunaan donasi telur memiliki risiko tertentu. Misalnya saja hipertensi dan diabetes yang tidak dapat dikesampingkan. Selain itu, ada juga kemungkinan cacat lahir bagi si jabang bayi dan kelahiran prematur. Selain itu, keterlambatan pertumbuhan bayi juga dapat terjadi.
      Wanita yang berumur di atas 50 tahun akan kesulitan membawa rahim berisi janin ketimbang wanita yang lebih muda. Risiko kelainan genetik tentu tidak dapat dianggap sepele, bahkan untuk wanita yang berusia 45 tahun. 
      Jika Anda berusia 50 tahun dan tetap ingin hamil, lantas bagaimana?
      Sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui segala jenis risiko dan kekhawatiran hamil di usia tersebut. Dokter mungkin akan merekomendasikan tes untuk menganalisis fungsi ovarium dan tuba falopi. Juga, kualitas telur akan dianalisis. Akan tetapi Anda pun juga harus terbebas dari beberapa penyakit, seperti anemia, masalah kardiovaskular, diabetes, dan juga tekanan darah tinggi.
      Gimana menurut jendral? 
    • By iiee
      Tak hanya menggunakan test pack, Anda bisa menjajal melakukan tes kehamilan dengan bahan alami. Salah satunya yakni menggunakan gula pasir.
      Selain itu, Anda juga bisa melakukan tes kehamilan dengan 4 bahan alami lainnya.
      Gula pasir
      Gula pasir menjadi salah satu bahan akurat untuk tes kehamilan. Caranya Mengumpulkan urin pertama Anda di pagi hari. Lalu, ambil mangkuk dan tuangkan satu sendok makan gula pasir di dalamnya. Jika hasilnya sangat berbuih, artinya Anda positif hamil.
      Cuka apel
      Cuka apel juga dapat digunakan untuk tes kehamilan. Ambil urin pertama kali di pagi hari, kemudian campur dengan cairan cuka apel. Jika berubah warna, artinya Anda hamil.
      Pasta gigi
      Taruh pasta gigi dalam mangkuk dan campukan dengan urin Anda. Jika warnanya berubah menjadi biru atau menjadi berbusa artinya Anda hamil. Selamat!
      Baking Soda
      Ini adalah salah satu bahan dapur yang membantu Anda untuk mengecek kehamilan Anda. Tambahkan urin ke dalam baking soda yang sudah diletakkan ke dalam mangkuk. Jika bentuknya menggumpal, Anda positif hamil.
    • By taniveline
      Penyanyi Ashanty yang tengah hamil anak kedua. Di kehamilan kedua ini, Ashanty mengaku tetap akan jalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
      “Aku akan coba. Nanti kalo kuat, ya aku puasa,” ujar Ashanty
      Ashanty juga mengungkapkan, bila dirinya tidak sanggup berpuasa, istri dari Anang Hermansyah ini mengaku tidak akan memaksakan untuk menjalankan ibadah puasa. Yang terpenting baginya adalah kesehatan si jabang bayi.
      “Kalau enggak kuat, ya enggak dipaksain ya. Kan orang hamil enggak wajib berpuasa juga. Tergantung keadaan sih. Kalau mampu ya puasa, kalau enggak kuat ya enggak dipaksain. Kasian baby-nya nanti,” kata wanita kelahiran 4 November 1984 ini.
      Sementara itu menjelang Hari Raya Idul Fitri nanti, Ashanty dan Anang beserta anak-anaknya berencana untuk mudik ke kampung halaman Anang, tepatnya di Jember, Jawa Timur.
×
×
  • Create New...