Jump to content

Anak Magang Yang Dicari Di Silicon Valey


Guest News

Recommended Posts

Setiap tahun Silicon Valley menerima ribuan anak magang di berbagai perusahaan teknologi. Menurut Bloomberg, anak magang di Silicon Valley rata-rata digaji $6,800 per bulan. Anak magang seperti apa yang dicari oleh Silicon Valley?

 

Link to comment
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • Guest News
      By Guest News
      Sebuah organisasi yang didirikan mahasiswa Indonesia berupaya menjembatani Silicon Valley dengan mahasiswa Indonesia, lewat program mentoring "Indo2SV" agar bisa mendapat kesempatan magang di Silicon Valley.
       
    • Guest News
      By Guest News
      Suasana di kantor inkubator teknologi MuckerLab di Santa Monica, California. 
      Para wirausaha dengan akar imigran menjelaskan arti menjadi bagian dari sebuah 'startup'.
      Mengelola sebuah perusahaan dengan sebuah mesin treadmill di dalam kantor, di pusat Silicon Valley, bukanlah sesuatu hal yang dibayangkan Monisha Perkash ketika ia dan orangtuanya pindah dari Nepal ke Amerika Serikat.
      "Ketika saya pertama kali pindah ke sini, saya ditelepon ayah saya, yang tinggal di Texas, dan ia mengatakn, 'Monisha, saya sudah cari di seluruh peta dan saya tidak bisa menemukan Silicon Valley di mana pun," ujar Perkash.
      Silicon Valley adalah sebuah wilayah di California yang terbentang dari San Francisco ke San Jose, dan bukan saja merupakan lokasi raksasa-raksasa teknologi seperti Google, Apple dan Facebook.
      Perkash mengatakan karakteristik penting Silicon Valley adalah bahwa tempat itu sebuah budaya yang mewujudkan kewirausahaan. Budaya ini menular, dan menyentuh Perkash ketika ia datang ke Silicon Valley.
      "Awalnya orangtua saya sangat bingung. Saya telah mulai kuliah pengantar kedokteran dan diterima di fakultas kedokteran, dan ketika saya memutuskan tidak mengambilnya, mereka tidak paham kenapa," ujar Perkash, salah satu pendiri dan CEO Lumo Bodytech.
      Ia dan dua kawannya ingin membentuk sebuah perusahaan baru (startup) bidang teknologi untuk meningkatkan kehidupan orang-orang. Mereka kemudian mendirikan Lumo Bodytech untuk mengembangkan alat sensor yang dapat dipakai di badan.
      Salah satu produk mereka, Lumo Run, dapat dipakai di pergelangan tangan pelari untuk melacak pergerakan orang tersebut. Dipasangkan dengan ponsel, alat itu menyedikan pelatihan personal untuk pelari. Sensor lain, Lumo Lift, dipakai di bagian kerah pakaian dan bergetar ketika pemakai membungkuk, sebagai pengingat untuk duduk tegak.
      Perjalanan Para Pendiri
      Salah satu pendiri dan COO Lumo Bodytech, Charles Wang mengatakan sensor-sensor itu membantu memperbaiki postur tubuh dan mengurangi risiko cedera dan sakit punggung.
      "Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa postur sangat berkaitan dengan sakit punggung, kesehatan punggung," ujar Wang, yang lahir dari orangtua yang berasal dari Taiwan.
      Ia awalnya mengikuti jalur yang diinginkan banyak orangtua imigran untuk anak-anaknya. Wang adalah seorang dokter dan sempat praktik sebelum memutuskan menjadi wirausaha. Ia mengatakan orangtuanya sangat mendukung.
      "Saya kira untuk mereka, hal ini adalah, 'Bisakah kamu mencari sesuatu yang sangat kamu pedulikan dan kamu lakukan dengan bersemangat'," ujar Wang.
      Pendiri ketiga, CTO (kepala divisi teknologi) Andrew Chang, mengatakan bahwa menjadi bagian dari sebuah startup tidak seperti pekerjaan-pekerjaan sebelumnya yang ia kerjakan.
      "Kecepatan pergerakan pekerjaan ini tidak bisa dibandingkan, kecepatan membuat keputusan, berjalannya bisnis dan lain sebagainya, karena dalam bidang ini sangat kurang birokrasi."
      Chang menambahkan, "Ada banyak orang di sini yang sangat ingin mengubah dunia. Kita ada di satu titik dimana kita memiliki semua infrastruktur teknis untuk memungkinkan hal itu terjadi, untuk membuat sekelompok orang melakukan perbaikan dramatis yang dapat memantul ke seluruh dunia karena sedemikian terhubungnya kita sekarang ini."
      Membuat Orangtua Bangga
      Perkash mengatakan keterhubungan dan karakteristik kolaboratif Silicon Valley telah mendorong budaya startup. Keberhasilan perusahaan telah menjadi sumber kebahagiaan untuk orangtuanya, tambahnya.
      "Saya ingin membuat mereka bangga, dan saya ingin mereka tahu bahwa dengan memberi kita peluang untuk mengejar keinginan kita, mengejar mimpi kita, telah mendorong saya maju. Jadi dalam banyak hal, saya melakukan apa yang saya lakukan untuk menghormati mereka," ujar Perkash.
      Kepada siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya, Perkash menyarankan agar tidak takut gagal tapi melihatnya sebagai peluang untuk belajar. (www.voaindonesia.com
    • By Pengkarya_bangsa
      Google Launchpad Accelerator kembali digelar untuk kedua kalinya. Indonesia masih turut serta dalam kegiatan tersebut, bersama dengan beberapa negara termasuk India dan Brasil. 
      Program pembinaan startup tersebut memberikan fasilitas mentor dan sokongan dana hingga 50.000 dollar AS atau sekitar Rp 666 juta, tanpa keterikatan saham.
      Tujuan program ini untuk menemukan startup yang bisa berpengaruh besar pada pasar lokal. Nah, kali ini ada enam startup karya anak bangsa yang terpilih untuk unjuk gigi selama dua minggu di markas Google, Silicon Valley, AS.
      Pertama adalah HijUp yang merupakan platform e-commerce khusus busana perempuan Muslim. Startup ini adalah buatan Diajeng Lestari yang memang memiliki minat besar pada bidang fesyen. 
      Kedua adalah Talenta, yakni layanan software berbasis cloud yang bertujuan membantu bisnis kecil dan menengah untuk mengelola proses Sumber Daya Manusia (SDM). Menyasar pasar enterprise, perusahaan bisa menggunakan software Talenta untuk mengelola kehadiran karyawan, permohonan cuti, pengaturan lembur, hingga pembayaran gaji. 
      Ketiga, Javis Store. Startup ini merupakan platform jasa pembuatan situs web toko online yang instan dan anti ruwet. Prosesnya diklaim cepat, memiliki fitur lengkap, menyediakan beragam template, pembayaran lengkap, dan gratis selamanya. 
      Keempat, ruangguru.com. Berawal dari perhatian pada sektor pendidikan, startup ini didirikan dua sejoli Iman Usman dan Belva Devara. Intinya, startup ini berbentuk situs yang menghubungkan siswa potensial dengan para guru atau pengajar untuk belajar di luar sekolah atau universitas.
      Kelima adalah IDNtimes.com yang tak lain merupakan media online independen. Konten-kontennya berkisar di dunia generasi muda Indonesia. 
      Keenam, CodaPay. Startup tersebut memungkinkan para merchant menerima pembayaran di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, serta Singapura, dengan menggunakan saluran pembayaran yang dapat digunakan semua konsumen tanpa harus memiliki kartu kredit atau kartu debit.
      Enam startup di atas akan bergabung di tahap kedua rangkaian acara Launchpad Accelerator pada 13 Juni 2016 mendatang. Setelah menghabiskan dua minggu di Lembah Silikon, keenam startup bakal menjalani enam bulan mentorship serta akses ke alat bantu dan referensi dari Google.
      Para peserta juga bakal mendapat 'kredit' produk dan publisitas dari Google. Ini merupakan salah satu langkah untuk merealisasikan misi Google melatih 100.000 pengembang Indonesia hingga 2020 mendatang. 
    • By BincangEdukasi

      Berapa jumlah bola golf yang bisa ditampung ke dalam satu bus sekolah? Berapa tarif yang harus dikenakan untuk jasa membersihkan semua jendela yang ada di Kota Seattle? Bagaimana cara Anda menjelaskan apa itu database dalam 3 kalimat, kepada anak yang berumur 8 tahun?
      Jika Anda ingin magang ataupun menjadi karyawan Google, Anda harus siap menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tantangan “ajaib” semacam itu. Google memang terkenal dengan proses wawancaranya yang unik, bahkan bisa bikin orang-orang jenius sekalipun menjadi bingung. 
      Tak heran jika raksasa digital yang dibangun oleh Sergey Brin dan Larry Page itu dikenal sebagai gudang orang pintar dan kreatif.
      Situs Business Insider belum lama ini mengangkat pengalaman seorang karyawan magang di Google. Dia adalah Rohan Shah, pemuda 20 tahun, mahasiswa University of Illinois. Ceritanya mungkin bisa menjawab rasa penasaran kita tentang proses rekrutmen dan kegiatan para karyawan magang di Google.
      Yang Dicari, yang Berprestasi
      Awal bulan Januari lalu, Shah menerima email dari Google—sebuah undangan wawancara untuk posisi karyawan magang selama musim panas. Beberapa minggu sebelumnya, setelah mengikuti bursa kerja di kampusnya, Shah memang memasukkan lamaran untuk magang di Google secara online. 
      Memasukkan lamaran secara online adalah prosedur wajib bagi orang-orang yang tertarik bekerja ataupun magang di Google. Bentuk formulir yang disediakan Google sama seperti formulir pada umumnya. Selain diminta mengisi nilai rata-ratanya, pelamar juga diminta mengisi pengalaman dan kegiatan eskul yang pernah dia ikuti. 
      Shah mengisi formulir itu apa adanya. Dia menguasai 3 bahasa, pernah menerima beberapa penghargaan, dan aktif dalam dewan mahasiswa di kampusnya. Dia juga aktif sebagai asisten dosen, pernah magang di beberapa tempat lain, dan di kala senggang suka membuat aplikasiAndroid. Singkat kata, Shah adalah anak muda berprestasi.

      Mendapat email itu, Shah sangat senang. Dia tak mau melewatkan kesempatan itu. Apa lagi, kompetisi untuk masuk Google sangat ketat. Menurut juru bicara Google, Google hanya menerima 1.500 anak magang dari 40 ribu yang melamar setiap tahunnya. 
      Proses Wawancara
      Wawancara pertama yang diikuti oleh Shah adalah melalui telepon. Kebanyakan pertanyaannya bersifat teknis, yang tentu saja menguras otak. Shah sempat menjalani 2 kali wawancara melalui telepon. 
      Shah beruntung. Seminggu setelah wawancara kedua, dia menerima email lagi dari Google. Kali ini, dia diminta mengikuti tahap wawancara berikutnya. Wawancara kali ini dilakukan secara langsung, dengan beberapa tim dari Google. Tim rekrutmen Google membantu Shah memilih divisi yang cocok sebagai tempat magangnya. 
      “Aku melakukan wawancara dengan sekitar 5 tim yang berbeda,” kata Shah. Berbeda dengan wawancara melalui telepon, wawancara langsung ini bukan seputar hal-hal teknis. 
      Singkat cerita, dalam waktu 3 bulan setelah mengirim lamaran online, Shah resmi magang di Google. Dia bergabung dengan divisi Android, sesuai dengan hobinya.
      Fasilitas dan Tunjangan
      Karyawan-karyawan magang yang tinggal di luar kota, atau di luar negeri sekalipun, tak perlu pusing memikirkan tempat tinggalnya selama magang. Google menyediakan asrama bagi para mereka. Shah, misalnya, tinggal sekamar dengan 3 anak magang lainnya—dua orang dari Argentina dan seorang dari Ukraina. Lokasi asrama mereka tak jauh dari Googleplex. Google juga menyediakan shuttle bus untuk antar-jemput mereka.
      Setiap karyawan magang harus menjalani masa orientasi selama 1,5 minggu. Selama masa orientasi itu, mereka diajarkan tentang cara kerja data center Google, misi perusahaan, serta bagaimana cara kerja Google. Di sana, mereka pun bertemu dengan para Googler. 
      Satu lagi yang menyenangkan. Para karyawan magang di Google dibayar dengan gaji yang tinggi. Nilainya bahkan lebih besar daripada gaji kebanyakan karyawan tetap di perusahaan lain. Menurut komunitas karir Glassdoor, rata-rata penghasilan karyawan magang di Google adalah 5.678 dollar AS per bulan, atau 68.136 dollar AS per tahun. 
      Shah sendiri mengaku digaji sebesar 6.100 dollar AS per bulan. Mengingat Google sudah menjamin tempat tinggal, transportasi, makanan dan minuman, dan gym bagi karyawan magangnya, tampaknya sebagian besar dari penghasilannya bisa disimpan.
      Lalu, apa saja yang dilakukan oleh para karyawan magang Google? Banyak, menurut Shah. Mereka dilibatkan dalam tugas-tugas yang berhubungan langsung dengan produk Google. Setiap anak magang diberikan proyek khusus. 
      Lalu, bagaimana kesan-kesannya terhadap para Googler? Tak seperti yang dibayangkan banyak orang, para Googler tampak sangat normal. “Satu hal yang sangat mengejutkanku ketika bekerja di Google adalah, setiap karyawan di sana sangat aktif dan kreatif,” kata Shah yang magang di Google selama satu semester.
    • By BincangEdukasi

      Salah satu harapan dunia usaha untuk menghilangkan kekhawatiran pada persaingan memperebutkan lapangan kerja di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) nanti adalah keseriusan perguruan tinggi menerapkan program internship atau magang. 
      Sebagai "penyuplai" tenaga kerja, perguruan tinggi harus memperkenalkan dan menerapkan perkenalan program magang secara sistematis, baik bagi calon tenaga kerja (mahasiswa) atau pemberi kerja. Sudah saatnya universitas mengembangkan silabus magang yang baik agar link and match antara industri dan perguruan tinggi berjalan dengan baik. 
      "Kenapa penting, karena magang itu diperlukan agar lulusan perguruan tinggi bisa dengan mudah beradaptasi dengan dunia luar. Dunia kerja atau dunia usaha kalau mereka mau terjun ke bisnis atau wirausaha," ujar Henoch Munandar, Director of Risk Management and Human Resources PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, pembicara pertama pada diskusi "Binus Industry Partnership Program" di Hongkong, Rabu (12/11/2015).
      Pendapat tersebut diperkuat oleh Director PT Phincon, Arifa. Salah satu peserta diskusi itu mengaku bahwa selama ini ada gap antara perguruan tinggi dengan para calon tenaga kerja itu cukup jauh.
      Arifa berharap, anak-anak Indonesia jangan hanya dipersiapkan untuk dididik di luar negeri dan bekerja di luar negeri. Sudah semestinya anak-anak itu dididik untuk kemudian berkarya di Indonesia. 
      "Untuk itu, mereka harus dihargai dengan setimpal di negerinya sendiri. Jangan sampai kita menggaji orang bule atau orang India itu lebih tinggi dari anak-anak Indonesia sendiri," kata Arifa.
      Tak heran, lanjut Arifa, fenomena "merendahkan" anak-anak Indonesia itu pada akhirnya terlihat berakar sejak perusahaan memperlakukan para mahasiswa magang. Mereka kerap hanya dijadikan sebagai tenaga administrasi. 
      "Ini kesempatan industri mendidik anak-anak magang itu dengan benar-benar memberinya kesempatan luas mengenal dunia kerja. Ajak mereka meeting dengan klien, bagaimana cara perusahaan berjualan produknya," kata Arifa.
      "Intinya, ajarkan apa yang kita kerjakan sebagai tanggung jawab kita di perusahaan. Bagaimana kita presentasi, beradu argumen dengan klien, anak-anak magang itu harus tahu dan jangan biarkan mereka duduk di belakang meja," tambahnya.
      Untuk itulah, lanjut Arifa, dia sepakat bahwa program magang tidak bisa diterapkan sebagai program "asal ada". Jangan sampai, program magang tak membuat anak-anak didik tidak jadi
      apa-apa.
      "Tugas kitalah membantu mereka, menyiapkan mereka untuk siap menyambut dunia luar," katanya.
      Lari ke Singapura 
      Henoch mengatakan, magang merupakan pelatihan terbaik menghadapi MEA. Menurut dia, ada empat lingkup penerapan magang terbaik yang bisa dijalankan perusahaan bersama-sama pihak industri.  
      Pertama adalah asessment. Baik dilakukan secara mingguan atau bulanan, peserta magang harus diberikan penugasan yang optimal. Lingkup ini kemudian diakhiri dengan feedback sebagai evaluasi kinerja.
      Kedua adalah diverse work element. Di sini mahasiswa peserta magang harus mengikuti pelaksanaan proyek-proyek perusahaan dan bisnis keseharian si pemberi tugas atau karyawan di perusahaan tempatnya magang. 
      Adapun keempat adalah network with senior management. Di sini peserta magang bisa belajar berikteraksi dengan kalangan internal perusahaan, baik itu saat makan siang atau rapat. 
      "Sedangkan yang keempat itu intern supervisor. Di sini anak magang harus diajak untuk mengetahui jalannya organisasi perusahaan seperti apa. Di lingkup inilah proses coaching danmentoring dari si pemberi kerja bisa diterapkan," kata Henoch.
      Henoch menuturkan, selama ini perguruan tinggi di Singapura sudah menerapkan program magang secara integral dengan kurikulum. Magang juga sudah menjadi silabus universitas. 
      "Proses seleksinya sangat ketat dan anak-anak magang itu dibayar dengan uang saku yang layak," lanjutnya. 
      Artinya, lanjut Henoch, perguruan tinggi Singapura tidak main-main menerapkan program magang. Magang bukan sekadar program yang "asal ada" dan dijalankan. Padahal, dengan penerapan yang baik, program magang dapat menjadi ajang praseleksi bagi si pemberi kerja untuk mengidentifikasi dan mendapatkan SDM fresh graduate yang sesuai kebutuhannya.
      "Jadi, jangan heran kalau anak-anak kita lebih memilih di sana dibanding di sini," ujarnya.
×
×
  • Create New...