Jump to content
  • Popular Contributors

  • Our picks

    • Kartu SIM Card ada celah keamanan nya
      Celah keamanan dalam kartu SIM disebut mengancam lebih dari satu miliar ponsel. Celah keamanan ini disebut dengan Simjacker.
      • 0 replies
    • Telegram Sindir Whatsapp
      WhatsApp dan Telegram adalah dua aplikasi pesan yang populer saat ini. Bahkan, bisa dibilang mereka sedang saling bersaing untuk mendapatkan jumlah pengguna lebih banyak.

      Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam hal fitur yang dihadirkan. Tapi, ada hal yang unik terkait fitur mereka. Telegram secara terang-terangan menyindir fitur transfer file yang dimiliki WhatsApp.
      • 4 replies
    • Pernah Menang Lotre Rp. 33 Miliyar Wanita Inggris Ini Kini Jatuh Miskin
      Seorang perempuan Inggris menceritakan kisahnya sempat menjadi seorang miliarder di usia muda setelah memenangkan lotre bernilai miliaran namun kini jatuh miskin.

      Callie Rogers, asal Cumbria, Inggris, pernah memenangkan hadiah lotre pada 2003 lalu, saat dia masih berusia 16 tahun.

      Ketika itu Callie memenangkan lotre senilai hampir 1,9 juta poundsterling (setara Rp 33 miliar untuk kurs saat ini). Berkat hadiah lotre itu, Callie pernah menjadi jutawan termuda di Inggris.
      • 0 replies
    • Malam ini, gw akan bercerita sebuah cerita dari seseorang, yang menurut gw spesial. kenapa?

      karena gw sedikit gak yakin bakal bisa menceritakan setiap detail apa yang beliau alami,

      sebuah cerita tentang pengalaman beliau selama KKN, di sebuah desa penari.

      sebelum gw memulai semuanya. gw sedikit mau menyampaikan beberapa hal.
      • 0 replies
    • Kesuksesan Jobs dengan Apple nya dunia sudah gak meragukan lagi, makanya gak sungkan-sungkan dunia menyematkan gelar "Bapak Revolusi Digital" pada Steve Jobs.
      • 1 reply
jeruk_purut

Hantu di Ruang Musik Sekolah

Recommended Posts

Ceritanya pas gw kelas 2SMA. Gw biasanya sarapan pagi di kantin skul gw yang letaknya di bawah tanah. Pengap2 gitu lah.
Untuk menuju kantin ada dua tangga. Satu melewati kantor kepala sekolah dan satu lagi berdekatan ama ruang agama Islam, Budha dan kristen. Jadi gw turun tadi sebelum makan, melewati ruang kepala sekolah.

Bener2 kantin yang juga aneh. Gak jual sarapan lagi. Gw bawa nasi bungkus dari rumah. Hehehe..

Sarapan ama kakak gw dan temen gw.
Gak lama jam 7 gitu, temen2 gw yang lain dateng dan ikut comot kerupuk2 dari nasi bungkus gw. Jam 7.15 gitu baru bel sekolah gw berdentang..

Jadi, selesai makan, gw ama temen2 plus kakak gw jalan mau menuju ke atas. Ninggalin kantin lah.
Terus kita naik ke tangga yang dekat ama ruang agama tadi yang gw ceritain. Biasanya kita juga lewat disana. Dan sambil ngobrol soal film dan lain2.

Di sebelah ruang agama Budha itu tetanggaan ama ruang agama Islam. Di dekat ruang agama Islam itu ada tangga kecil. Isinya ada mainan untuk anak TK. Dulu ruang musik itu ruang nya anak TK. Ruang musik itu tetanggaan ama ruang agama Kristen.

Mainan disana itu udah lama gak kepegang. Kita yang udah biasa lewat pun gak merasa ada yang aneh. Tapi yang tiap hari kita liatin itu yang mainan jungkat-jangkit. Permainan yang dua orang naikin kek timbangan gitu lah.

Jadi, pas kita lewat, kita udah menginjakan kaki ditangga, eh, tuh jungkat jangkit gerak sendiri.

Naek.. Turun.. Naek.. Turun..

Sumpah, gw langsung ngerasa aneh banget..
Temen2 gw langsung tereak supaya lari.
Gw malah penasaran..
Tapi, takut dikasih penampakan, gw ngabur...
Semua juga kabur..
Kita lari mpe ruang komputer. Dan diatas udah rame banget..
Gak mungkin kita tereak ada apa yang dibawah tadi..
Kita diem2 ajah.. Mpe berminggu2 setelah kejadian itu, temen gw - H - dapat mimpi aneh..
dy lagi jalan dikantin itu sendiri. Terus dy didalam mimpinya ini, melewati tangga yang yang dekat ama ruang agama.

Disana dy liat ada mainan jungkat-jangkit. Di mimpinya itu dy liat ada makhluk kecil lagi duduk disatu sisi.

Ciri2nya, tuh makhluk pendek. Mukanya udah tua dan jenggotan..
Kata H, mukanya marah gitu.
Dy waktu tuh sempat mau muncul pas kita lewat setelah sarapan itu.
Makhluk itu sempat ngasi pesan ke H.

Esoknya H cerita ke kita semua.
Terang aja kita semua kaget..
Tapi gw lupa pesannya apa..
Intinya, semua orang di skul gw itu harus sopan lah ama dy. Gw juga gak ngerti sopan gimana..

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...

  • Similar Content

    • By paimin
      SELFIE sudah barang tentu dilakukan banyak perempuan. Tak hanya untuk memastikan apakah tampilan wajah sudah cantik, tapi selfie juga bisa dijadikan sebagai cara untuk Anda menginformasikan lokasi atau kebersamaan Anda dengan teman-teman pada obrolan singkat bersama sang kekasih. 

      Namun, kasus yang satu ini mungkin akan menjadi pembelajaran bagi Anda untuk tidak asal selfie. Pasalnya, secara tidak sengaja, perempuan ini mengabadikan momen paling menyeramkan dan rasanya akan menjadi trauma tersendiri dalam hidupnya. 

      Adalah Katrina Paraiso. Perempuan asal Filipina yang kini menetap di Jepang tersebut pada awalnya mungkin tidak menyangka hal ini bisa terjadi. Namun, secara tiba-tiba muncul sebuah hal aneh dalam foto selfienya dan itu membuat dia ketakutan! 

      Kisah dimulai saat Katrina ingin mengabadikan momen dirinya di dalam kamar. Hal yang tak biasanya adalah dia mengambil selfie pada jam 12 malam! Mungkin, Anda yang penasaran bisa mengikuti hal yang dilakukan Katrina ini. Nah, pada awalnya dia nampak biasa saja berfoto di closet kamar mandinya. 

      Namun, setelah Katrina merasa puas dengan hasil fotonya, dia ingin mengeditnya agar tampak lebih menarik. Saat pengeditan ini lah terlihat hal aneh. Di filter pertama belum nampak, namun saat masuk ke filter berikutnya, muncul sesosok perempuan kecil di belakang tubuhnya. Wajahnya lemas dan menatap ke arahnya juga. 

      Agar merasa yakin, Katrina mengganti mode warna lain. Hal ini dia lakukan untuk memastikan penampakan itu hanya ilusi kamera dan efek warna. Tapi, yang terjadi setelahnya adalah sosok tersebut masih ada di seluruh hasil editan dengan beberapa filter lainnya. Katrina pun kaget dan takut untuk melihat ponselnya sendiri. 
      Sementara itu, untuk membuktikan bahwa Katrina sudah mengalami kejadian mistis, dia memberanikan diri untuk membagikan foto tersebut ke akun Facebooknya. Sontak, setelah dipublish, postingan itu menjadi viral! Banyak netizen yang merasa ketakutan dan tidak ingin melihat hantu perempuan itu. 

      Kemudian, Profesor Adam Reyes of Misteryo yang terkenal bisa melihat makhluk halus pun ikut mengomentari foto Katrina. Menurut Adam, sosok perempuan kecil itu sedang meminta bantuan pada Katrina dan dia meminta bantuan untuk bisa bertemu kembali dengan orang yang dia cintai.
      Sumber: https://id.crowdvoice.com/posts/jangan-selfie-tengah-malam-2KtU


    • By pusat_indoindo
      Foto penampakan seorang cewek memakai hijab di depan sebuah Jendela rumah ini Hebohkan para netizen di dunia maya. Salah satu foto yang sekarang ini tengah menjadi perbincangan para netizen adalah foto yang memperlihatkan adanya penampakan sepasang pria dan wanita berhijab tengah melakukan foto selfie, akan tetapi yang paling mengejutkan pada foto tersebut adanya sebuah penampakan menyeramkan yang pastinya akan membuat kamu ketakutan.
      Walaupun, sepintas seperti tak ada hal ganjil yang terlihat pada foto tersebut, akan tetapi jika dilihat lebih seksama lagi kamu akan melihat adanya keanehan pada foto tersebut. Terlihat pada foto memang seperti tak ada sesuatu hal yang ganjil, akan tetapi apabila diperhatikan maka terlihat adanya bayangan yang sangat tidak lazim yang memantul pada jendela dan sangat menyeramkan.
      Terlihat apabila sepasang pria dan wanita tengah asyik berfoto selfie, terlihat jia keduanya ambil foto selfie tepat di depan jendela, akan tetapi bayangan si pria tersebut terlihat seperti seseorang yang sedang mengambil foto selfie dengan menggunakan kamera ponselnya dan seramnya, bayangan si ceweknya yang membuat bulu kuduk meriding.
      Cewek yang berhijab alih-alih memperlihatkan pada bagian belakang hijabnya, akan tetapi pada bayangan di kaca malah memperlihatkan adanya seorang perempuan yang sedang tersenyum manja sambil melihat tepat ke arah jendela. Sontak saja, foto penampakan perempuan ini pun langsung membuat netizen ketakutan dan foto ini langsung viral di media sosial sampai sekarang ini.
      Salah seorang netizen mengomentari Foto Penampakan Cewek Berhijab di Jendela tersebut dengan penuh ketakutan, walaupun ada beebrapa netizen mengatakan apabila foto selfie tersebut dilakukan oleh 4 orang dan ada juga yang mengatakan jika foto tersebut adalah editan semata dan memakai trik kamera. “Mereka berdua berselfie terlihat di dalam ruangan, lalu yang di luar jendela ada lagi pasangan dengan penampilan yang terlihat sama sedang berselfie dan lakukan pose yang sama pula, serammmm,” komentar seorang netter.
    • Guest News
      By Guest News
      Bagi mereka yang berbakat seni termasuk seni ukir dan seni rupa sekarang terbuka peluang untuk ikut memoles tampilan special effects di Hollywood. Keahlian seperti ini diperlukan untuk memproduksi film-film blockbuster sarat efek visual, termasuk seri film "Avatar" dan "Avengers".
       
    • By BincangEdukasi
      Apa saja fungsi dan peran yang dijalankan oleh sekolah dalam mencapai tujuannya? Begitu banyak pakar dan pegiat pendidikan yang mencoba menjawab pertanyaan ini. Salah satu yang menarik adalah tulisan John Taylor Gatto, “Against School”. John Gatto adalah seorang mantan guru teladan yang telah mengajar selama 30 tahun lalu menjadi aktivis pendidikan. Ia telah mengeluarkan banyak buku dan tulisan berisi kritik terhadap model persekolahan formal seperti yang pada umumnya kita lihat dan alami sekarang. Dalam “Against School”, John Gatto tidak menuliskan pendapatnya sendiri tentang fungsi sekolah, namun ia “mengutip” tulisan Alexander Inglis.
      John Gatto menuliskan bahwa Alexander Inglis, salah satu bapak pendidikan modern, tanpa malu-malu menyebutkan enam fungsi persekolahan modern dalam bukunya “The Principles of Secondary Education” yang terbit pada tahun 1918. Enam fungsi tersebut adalah:
      Adjustive atau adaptive function. Sekolah bertujuan menanamkan reaksi yang tetap terhadap otoritas. Tujuannya adalah menghilangkan pemikiran kritis seutuhnya. Fungsi ini juga menegasikan konsep bahwa sekolah perlu mengajarkan materi yang menarik, karena kita tidak akan bisa menguji kepatuhan reaktif kecuali kita membuat anak mau belajar dan melakukan hal-hal yang bodoh dan membosankan. Integrating function. Bisa juga disebut sebagai conformity function karena tujuannya adalah membuat setiap anak menjadi mirip dan serupa satu sama lain. Orang-orang yang patuh menjadi mudah ditebak, dan oleh karenanya akan bermanfaat bagi pihak-pihak yang ingin memanfaatkan mereka untuk menjadi tenaga kerja massal. Diagnostic and directive function. Sekolah dimaksudkan untuk menentukan peran sosial yang pantas bagi setiap siswa. Hal ini dilakukan dengan memasukkan “bukti-bukti” matematik pada catatan kumulatif. Catatan ini menempel secara permanen pada setiap individu. Differentiating function. Sesudah setiap peran sosial mereka ditentukan, anak-anak kemudian dipilah berdasarkan peranan itu serta dilatih hanya sebatas untuk memenuhi tujuan yang telah ditentukan oleh sekolah itu dan tidak lebih dari itu. Tidak ada usaha untuk membuat siswa menjadi dirinya yang terbaik. Selective function. Fungsi ini bukan menggambarkan kewenangan pilihan oleh siswa, namun menggambarkan teori seleksi alami Darwin yang di[salah]gunakan untuk memilih “ras favorit”. Singkatnya, fungsi ini bertujuan meningkatkan mutu “kawanan ternak”. Sekolah digunakan untuk menandai mereka yang dianggap tidak layak – dengan nilai rendah, pengulangan kelas, dan hukuman-hukuman lain – secara sangat kentara sehingga para sesamanya akan menganggap mereka inferior dan menyingkirkan mereka dari pergaulan sosial dan “undian reproduktif”. Itulah tujuan dari segala tindakan yang mempermalukan siswa sejak kelas awal: agar mereka terbuang ke selokan. Propaedeutic function. Sistem sosial yang diimplikasikan oleh berbagai fungsi ini membutuhkan pasukan elit yang akan menjaga kelanggengan sistemnya. Oleh karenanya, sebagian kecil dari anak-anak di sekolah akan dilatih diam-diam untuk memastikan keberlanjutian proyek ini, bagaimana mengawasi dan mengendalikan populasi yang sengaja dibuat bodoh dan tidak berdaya agar pemerintah dapat berjalan tanpa tantangan dan perusahaan selalu mendapatkan persediaan tenaga kerja yang patuh.
      Wow! Keras sekali penjelasan dari Alexander Inglis seperti dikutip John Gatto ini. Namun apakah benar sekeras dan sevulgar itu Inglis menulis? Bila buku Inglis, Principles of Secondary Education, dibaca kembali maka sebenarnya ditemukan penjelasan yang berbeda dari yang dikutip Gatto. Alexander Inglis menulis bahwa fungsi-fungsi sekolah adalah:
      Adjustive atau adaptive function. Sekolah perlu menyediakan sarana agar siswa mampu melakukan adaptasi dan re-adaptasi dengan lingkungannya yang dinamis dan terus berubah dengan cepat. Namun di sisi lain sekolah juga perlu mengembangkan prinsip-prinsip tertentu diri siswa yang teguh dan tidak terombang-ambing dengan perubahan yang cepat. Integrating function. Masyarakat juga memiliki tuntutan kepada sekolah untuk menyiapkan siswa-siswa yang mampu berintegrasi ke dalam masyarakat dalam arti memiliki visi dan tujuan yang sejalan. Perkembangan kehidupan yang semakin heterogen membutuhkan benang merah penghubung berupa nilai-nilai, pengetahuan dan tindakan yang diterima secara umum [misal di Indonesia: Pancasila]. Differentiating function. Inglis menekankan bahwa integrating functiontidak boleh dilihat terpisah dan tidak berkorelasi dengan differentiating function. Dua fungsi ini bersifat suplementer satu terhadap yang lain. Saatintegrating function berfungsi mengembangkan sebagian kecil sifat homogenitas dari populasi yang heterogen untuk memastikan solidaritas sosial, maka differentiating function berfungsi menangkap, mengembangkan dan memanfaatkan perbedaan-perbedaan individual untuk tujuan kemajuan sosial. Siswa di sekolah memiliki perbedaan yang sangat beragam dalam kemampuan, minat dan sikap alami. Kegagalan menyadari fakta adanya perbedaan ini akan menimbulkan kegagalan mengembangkan kemajuan sosial semaksimal mungkin. Kebutuhan dunia sosial dan industri modern yang juga semakin beragam membutuhkan individu-individu yang tidak seragam. Kesemuanya ini tidak mungkin disediakan oleh satu model pendidikan yang seragam. Aktivitas-aktivitas kehidupan yang beragam membutuhkan model-model pendidikan yang beragam. Propaedeutic function. Fungsi ini menjelaskan bahwa persiapan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi tidak selayaknya dianggap sebagai tujuan yang terpisah dari persekolahan. [Ingat di jaman Inglis menulis di awal tahun 1900-an ini, sangat sedikit siswa yang meneruskan ke pendidikan tinggi, sehingga banyak sekolah saat itu yang mengabaikan sama sekali persiapan bagi siswa yang ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi.] Inglis menulis perlu ada keseimbangan dalam pendidikan menengah untuk menyiapkan siswa yang ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi dan yang ingin langsung bekerja sesudah pendidikan menengah. Melebih-lebihkan atau, sebaliknya, mengabaikan salah satunya tidak akan membawa manfaat. Selective function. Fungsi seleksi muncul akibat adanya perbedaan individu yang menjadi faktor yang semakin penting saat siswa menapaki jenjang pendidikan. Perbedaan individu ini tidak memungkinkan ada satu model pendidikan yang fits for all, sehingga perlu ada fungsi seleksi untuk mengarahkan siswa ke model-model pendidikan yang berbeda [walau dengan keterbatasannya masing-masing pula]. Ada dua paradigma seleksi, yang pertama adalah mengeliminasi individu-individu yang tidak memenuhi satu set tuntutan standar tertentu yang seragam. Inglis menyatakan teori yang mendukung paradigma ini perlu dimodifikasi secara sangat signifikan [artinya: teori itu meragukan]. Paradigma ke-2 yang kontras terhadap paradigma pertama adalah seleksi berdasarkan diferensiasi.Ada  dua pertimbangan yang menjadi justifikasi paradigma ini: 1. Setiap individu sangat berbeda dalam kapasitas, minat dan sikap. Perbedaan-perbedaan dalam kapasitas, minat dan sikap itu tidak bisa dinilai secara kumulatif menjadi satu penilaian karakter total, namun tetap harus dilihat sebagai bagian-bagian sifat diri yang terpisah dan berbeda namun saling terhubung dan berkaitan;
      2. Tidak ada satu subjek atau kelompok yang dapat menyatakan dirinya eksklusif dan patut mendapat perhatian utama dalam persekolahan. Setiap subjek atau kelompok memiliki kedudukan setara. Artinya, seorang siswa yang lemah dalam satu kemampuan atau minat tertentu, namun memiliki kemampuan dan minat di bidang lain, maka siswa itu perlu mendapatkankan pendidikan dalam area di mana ia memiliki minat dan kemampuan. Ia tidak boleh dilucuti hak dan kesempatannya untuk mendapatkan pendidikan yang ia butuhkan hanya karena ia tidak memiliki minat dan kemampuan dalam subjek-subjek tertentu yang lebih disukai secara resmi oleh penguasa. Diagnostic and directive function. Demi mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan individu dan demi mencapai kemajuan bersama, maka setiap individu sebisa mungkin difasilitasi untuk melakukan hal-hal terbaik dan positif yang menjadi kekuatannya. Untuk menemukan apa yang bisa dilakukan dengan sangat baik dan dengan bahagia oleh setiap siswa maka siswa perlu dipaparkan pada sebanyak-banyaknya pengalaman yang berbeda. Maka sistem persekolahan yang dibangun perlu sebisa mungkin menyediakan ragam materi dan kegiatan yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mencoba dan menjelajahi minat dan kemampuannya, serta membantu memberikan arah dan bimbingan. Selain arah dan bimbingan secara umum, perlu juga disediakan arah dan bimbingan dalam aspek-aspek yang lebih sempit, yaitu bimbingan moral, bimbingan sosial, bimbingan fisik dan bimbingan vokasional. Sesudah membaca dengan lengkap tulisan Alexander Inglis, maka muncul pertanyaan apakah John Gatto membaca tulisan yang berbeda? Apakah ia salah membuat interpretasi? Ataukah ia sengaja membuat peringatan bagi pembacanya bahwa fungsi-fungsi sekolah sebagaimana disusun oleh Inglis dapat dengan mudah terbelokkan seperti yang ia lihat pada banyak sekolah saat ini? Yang jelas, dengan membaca kedua ini maka para pegiat pendidikan akan mendapatkan pengingat tentang bagaimana fungsi persekolahan yang ideal dan sebisa mungkin diwujudkan seperti yang ditulis Alexander Inglis, serta bagaimana fungsi persekolahan yang seharusnya dihindari seperti yang ditulis oleh John Gatto.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy