Jump to content
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
  • Kemerdekaan indonesia 74
Sign in to follow this  
vyrous

Upgrade Windows 10 Ditunda Tahun Depan

Recommended Posts

windows 10.jpg

Microsoft mengonfirmasi bahwa pembaruan besar Anniversary Update bakal diumumkan pekan depan. Namun, tidak untuk update Windows 10 yang dikatakan bergulir tahun ini alias ditunda.

Informasi tersebut diketahui melalui postingan perusahaan yang mengungkapkan, pembaruan Windows 10 akan mendarat tahun depan atau 2017.

Berdasarkan laporan organisasi OS Windows 10 akan menjadi fitur update terakhir di 2016.

"Kami akan menyajikan dua pembaruan fitur tambahan terbaru pada sistem pengoperasian Windows 10, dan berharap semuanya akan selesai pada 2017," ungkapnya.

Penundaan itu lantaran perusahaan sedang fokus pengerjaan instruktur ilmu dasar dari arsitektur OS, sehingga terlambat untuk merilis pembaruan fitur baru. Pengerjaan Windows 10 pun tengah berlangsung, dan fokus utama Microsoft adalah update periodik untuk OS desktop dan Windows sebagai layanannya.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By c0d1ng
      Samsung merupakan salah satu perusahan dengan penjualan perangkat Androidterbesar di dunia. Perangkat Android besutan Samsung disukai oleh semua kalangan. Bahkan tidaklah mengherankan jika ada yang mengasosiasikan smartphone Android dengan perangkat Samsung Galaxy, layaknya mengasosiasikan air mineral dengan Aqua, pasta gigi dengan Pepsodent, atau mie instan dengan Indomie.
      Kesuksesan Samsung dalam memproduksi dan menjual perangkat Android di seluruh dunia memang patut diancungi jempol. Dibandingkan dengan produsen smartphone yang lain, Samsung memiliki basis pengguna yang jauh lebih besar. Untuk urusan hardware, Samsung memang juaranya. Namun bagaimana dari sisi software? Sehebat apapun Samsung dalam hal penjualan perangkat Android, mau tak mau mereka harus tetap tunduk pada aturan Google, perusahaan yang mengembangkan Android, sistem operasi yang mereka sematkan disetiap perangkat Samsung Galaxy.
      Untuk mengurangi ketergantungannya pada Android dan Google, Samsung bersama Intel dan Linux Foundation mengembangkan sistem operasi mobile sendiri yang diberi nama Tizen.

      Meski belum begitu populer di telinga, Tizen telah dikembangkan sejak awal tahun 2012 yang lalu. Sama halnya dengan Android, Tizen dibuat berdasarkan kernel Linux. Tizen sebetulnya merupakan peleburan antara Samsung Linux Platform (SLP) dengan Linux Mobile (LiMo), proyek gabungan antara Linux Foundation bersama Samsung. Intel bergabung untuk mengembangkan Tizen setelah melepaskan proyek MeeGo pada tahun 2011. Kerjasama ketiga perusahaan ini menghasilkan Tizen 1.0 yang dirilis pada tanggal 30 April 2012.
      Pada bulan Juni 2012, Samsung memutuskan untuk menggabungkan Bada, sistem operasi smartphone yang pernah dikembangkan oleh Samsung, di proyek Tizen. Berkat penggabungan ini, Tizen 2.0 yang dirilis pada bulan Februari 2013 memiliki fitur untuk mengembangkan native app.
      The OS of Everything
      Tizen memiliki slogan “The OS of Everything”. Pemberian slogan ini bukan tanpa alasan. Tizen sejak awal sudah dikembangkan untuk dapat digunakan di berbagai jenis perangkat, bukan hanya smartphone. Bahkan perangkat Tizen yang dirilis pertama kali bukanlah smartphone, melainkan kamera Samsung NX300M. Selain smartphone dan kamera, Tizen juga dapat digunakan untuk TV, mobil, tablet, perangkat smarthome, serta perangkat IoT lainnya. Perusahaan yang merilis perangkat bersistem operasi Tizen memang masih didominasi oleh Samsung. Meskipun begitu, Samsung sendiri dengan bermodalkan perangkat smartphone seri Z (seri khusus Tizen) telah membukukan penjualan sebesar 64 juta perangkat di India. Angka yang cukup menjanjikan mengingat Tizen belum dipasarkan secara global.
      Karena Tizen terbilang baru dibandingkan kompetitornya yakni Android, kita dapat katakana bahwa sebagian besar orang terutama yang sudah pernah menggunakan Android, pasti akan bertanya tentang apa kelebihan Tizen dibanding Android. Ini adalah pertanyaan yang sangat menantang bagi Tizen. Bila kita perhatikan sekilas antarmuka Tizen memang mirip dengan Android, tetapi sebenarnya UX Tizen berbeda dengan Android. Tapi karena Samsung sendiri mentargetkan pasar “pengguna awal smartphone” untuk device Tizen, hal ini tidak akan terlalu bermasalah, selain karena Tizen juga punya kapabilitas untuk dikustomisasi tampilannya.
      Selain itu, Tizen diklaim sebagai sistem operasi yang hemat energi, jauh lebih efisien dibanding sistem operasi Android. Kelebihan ini diraih karena Tizen memang didesain seoptimal mungkin agar dapat berjalan di perangkat apapun dengan mulus, baik itu yang memiliki resource tinggi maupun yang terbatas.
      Aplikasi Native dan Web
      Ada dua tipe aplikasi di Tizen, yakni web dan native. Aplikasi web pada dasarnya adalah website yang dikemas dalam bentuk aplikasi dan dibangun menggunakan teknologi web seperti HTML5, CSS dan JavaScript. Aplikasi web menggunakan Tizen Web Framework untuk dapat berinteraksi dengan subsistem native.
      Aplikasi web menggunakan Web API, yang menjadi struktur standar aplikasi web dengan elemen-elemen dasar. Web API ini memudahkan pengembang untuk membangun aplikasi menggunakan bahasa pemrograman web. Sama seperti aplikasi web pada umumnya, web API di Tizen terdiri dari file index.html sebagai root aplikasi, serta beberapa direktori untuk menyimpan file aset seperti CSS, JavaScript, gambar dan suara.
      Aplikasi native dikembangkan menggunakan bahasa pemrograman C dan dapat mengakses beberapa fitur native yang lebih spesifik seperti kamera, GPS, dan akselerometer secara langsung. Native API menyediakan banyak sekali antarmuka dengan fitur yang umumnya ditemukan di perangkat seluler dan modern, serta mengoptimalkan sumber daya yang terbatas.
      Tizen Store
      Sama seperti Android dengan Play Store dan iOS dengan App Store, Tizen OS juga dilengkapi dengan Tizen Store. Disinilah para pengembang aplikasi Tizen mensubmit aplikasinya sehingga dapat digunakan oleh para pengguna device berbasis sistem operasi Tizen. Tizen Store telah memiliki banyak kategori aplikasi, seperti game, hiburan, edukasi, finansial, kesehatan, anak-anak, gaya hidup, musik dan video. Developer aplikasi dapat memasang aplikasi secara gratis maupun berbayar. Tizen Store sudah dilengkapi dengan managemen aplikasi, statistik download, laporan penjualan aplikasi, hingga dukungan lainnya terkait distribusi aplikasi.
      Dukungan untuk Pengembang Aplikasi
      Melihat geliat perkembangan pemasaran perangkat Tizen, sekarang merupakan waktu yang tepat untuk bersiap-siap mengunggah aplikasi buatan kita ke Tizen Store. Pengembang aplikasi Tizen memiliki dua pilihan, mengembangkan aplikasi native atau aplikasi web. Aplikasi native dapat dibuat menggunakan bahasa pemrograman C/C++ sedangkan aplikasi web Tizen dikembangkan menggunakan HTML5 dan JavaScript.
      Tizen sangat mendukung developer yang mengembangkan aplikasi menggunakan HTML5. Bahkan panduan resmi untuk mengembangkan aplikasi menggunakan HTML5 pada Tizen telah tersedia sejak lama. Hal ini berbeda dengan Android. Secara resmi Google hanya mendukung pengembangan aplikasi Android menggunakan Java sehingga untuk mengembangkan aplikasi Android menggunakan HTML5 kita harus menggunakan perangkat pengembang pihak ketiga.
      Mengembangkan aplikasi untuk Tizen dapat dicapai dengan menggunakan Tizen SDK. Tizen SDK terdiri atas seperangkat tool untuk mengembangkan aplikasi native maupun web. SDK yang dirilis di developer.tizen.org ini terdiri atas IDE, Emulator, contoh kode, dan dokumentasi. Tizen SDK dapat digunakan baik di Windows, Linux Ubuntu, maupun Mac OS X. IDE yang disematkan bersama Tizen SDK sesungguhnya Eclipse yang telah dikustomisasi sehingga dapat mempermudah developer dalam mengembangkan aplikasi untuk Tizen. Jika tidak mau menggunakan Tizen IDE, kita masih tetap dapat mengembangkan aplikasi Tizen asalkan tetap mengikuti aturan-aturan pemaketan Tizen.
      Aplikasi Tizen yang kita kembangkan dapat diterapkan untuk empat kategori perangkat yang disebut dengan “profiles”. Keempat kategori tersebut ialah mobile, wearable, in-vehicle infotainment, dan smart TV. Penerapan aplikasi Tizen pada perangkat mobile tidak jauh berbeda dengan perangkat smartphone lainnya. Tizen memiliki fitur 3D window effects, location based service framework, sensor framework, advanced multimedia, dan kemampuan multi-tasking dan multi-touch. Karena perangkat smartphone Tizen akan memiliki bentang layar yang berbeda-beda, maka Tizen telah disertakan kemampuan untuk beradaptasi terhadap berbagai jenis resolusi layar.Profil wearableditujukan untuk perangkat-perangkat semacam smartwatch. Ia memiliki fitur yang sama seperti yang dimiliki oleh profil mobile. Namun, fitur-fitur profil wearable telah disesuaikan untuk perangkat yang memiliki bentar layar relatif lebih kecil pada profil mobile.Untuk Smart TV, Tizen telah mengadopsi standar terbuka yang berbasis pada Linux untuk mengoptimalkan perangkat entertainment di rumah seperti Blu-ray player dan TV digital. Didesain untuk TV berlayanan internet yang memungkinkan pengguna untuk mengakses beragam aplikasi, layanan, serta media personal, sembari menonton TV.Profil In-Vehicle Infotainment atau dapat disingkat juga dengan IVI, merupakan profil khusus yang diciptakan untuk membantu membawa kemampuan navigasi, entertainment, dan layanan yang terkoneksi dengan jaringan internet kedalam kendaraan seperti mobil, truk, bus, bahkan pesawat.
      Tizen dan Internet of Things
      Tizen sebagai sistem operasi yang didesain agar dapat mudah digunakan baik oleh developer aplikasi maupun developer embedded system, sudah mengimplementasikan interkonektivitas antar perangkat. Contohnya adalah perangkat wearable berbasis Tizen yang sudah dilengkapi dengan koneksi Bluetooth 4.1 dan WiFi, dapat terkoneksi dengan perangkat lain seperti smartphone untuk mengirimkan data pengguna seperti denyut jantung dan pola aktivitas keseharian. Mulai versi 3.0 Tizen Core API menyediakan fungsi IoTivity, yakni framework perangkat lunak open source untuk pengembangan proyek internet of things. Pada versi ini Tizen dapat diinstal pada perangkat single-board computer seperti Raspberry Pi, salah satu board yang paling popular untuk pengembangan embedded system dan internet of things.
    • By c0d1ng
      Steve Ballmer mungkin tidak lagi menjadi CEO Microsoft. Namun, sebagai pemegang saham terbesar tentu perlu menyuarakan pendapatnya soal pertumbuhan Microsoft. Suatu hal yang dapat membuat para ekskutif Microsoft perlu bekerja lebih keras lagi.
      Di New York Economic Club, Steve Ballmer mengatakan Microsoft perlu membuat “sesuatu yang lebih bagus dengan bergerak cepat”. Dia berkata penerusnya, Satya Nadella telah membuat langkah strategis yang tepat. Namun, dia meninggalkan ruang untuk menjadi lebih baik.
      “Saya menyetujui pengganti saya, saya pikir mereka melakukan langkah strategis yang tepat, mereka harus menghasilkan lebih banyak, lebih baik, lebih cepat,” katanya. “Saya ingin melihat lebih banyak pertumbuhan keuntungan.”
      Dia menekankan bahwa kesuksesan beberapa produk Microsoft saat ini berawal di eranya. Seperti Surface, Xbox, Office 365, dan Bing. “Tim yang ada hari ini adalah tim yang telah kami tempatkan saat saya pergi,” katanya.
      Ketika ditanya Charlie Rose soal apa penyesalan terbesarnya ketika di Microsoft. Jawabannya tentu dapat ditebak yaitu soal Windows phone. Steve Ballmer mengatakan bahwa seharusnya Microsoft lebih cepat terjun dan fokus ke dunia ponsel.
      “Saya pikir model kami, mencoba untuk mereproduksi ponsel Windows, mengalami kegagalan,” katanya. Kemudian dia melanjutkan bahwa apa yang dilakukan Apple dan Alphabet/Google adalah hal yang tepat. “Begitulah cara Anda menguangkan teknologi yang Anda bangun,” lanjutnya.
      Mungkin beberapa bulan yang lalu kalian pernah mendengar bahwa Steve Ballmer mengatakan dengan akuisisi Nokia mereka mungkin akan meraih hasil. Namun, CEO yang baru memutuskan untuk mengambil langkah jangka panjang yang lebih baik katanya.
      Dan memang bila dilihat langkah itu tepat, mengingat memaksakan untuk fokus ke Lumia memberi banyak kerugian besar bagi Microsoft di segi finansial. Ditambah pertumbuhan pun tidak terlalu tinggi. Dikarenakan kebanyakan ponsel Lumia yang terjual adalah low-end dan Microsoft merugi dalam penjualan perunitnya.
      Kini Nadella mengemban tugas berat untuk meluncurkan kategori produk baru berbasis Windows 10 di masa depan era pasca-smartphone. Meskipun sepertinya kita perlu bersabar hingga 2018 untuk produk itu.
      Sementara untuk Steve Ballmer saat ini berfokus dalam mempin manajemen klub basket NBA, LA Clippers. Serta baru-baru ini meluncurkan situs USA Facts untuk mengetahui pengeluaran pemerintah AS secara akurat dan berbasis Microsoft Azure. Steve Ballmer akan melakukan pengamatan lewat Surface Hub. Anda sekarang bisa coba USAFacts di web browser Anda.
      Laporan keuangan Microsoft Q3 Tahun Fiskal 2017 akan dipublikasikan pada pagi hari 28 April mendatang. Mungkin kita juga bisa melihat reaksi Steve Ballmer nantinya.
      Nah apa pandanganmu soal hal ini? Apakah Microsoft perlu bergerak lebih cepat lagi?
    • By c0d1ng
      Ditengah kabar negatif seputar Windows 10 Mobile, hari ini muncul laporan bahwa Samsung tengah menguji Galaxy S8 versi Windows 10 Mobile. Microsoft dan Samsung tampaknya akan membawa kerjasama mereka ke level yang lebih tinggi. Tentunya setelah kerjasama mereka meluncurkan Galaxy Book dan Galaxy S8 Microsoft Edition.

      Bila dilihat dari screenshot yang beredar S8 versi Windows 10 Mobile akan memiliki konfigurasi yang sama seperti versi China dan Korsel, yaitu dengan RAM 6GB. Sebagai tambahan sumber dari ITHome mengabarkan bahwa ada kemungkinan meluncur di acara 2 Mei mendatang.
      Namun hal itu kecil kemungkinannya. Mengingat acara 2 Mei mendatang berfokus penuh pada pendidikan, bukan berfokus untuk peluncuran hardware baru. Samsung sendiri juga senang untuk bereksperimen dengan hal baru seperti adanya prototype S8 dengan Dual Camera, tapi tidak diluncurkan untuk publik tentunya.
      Mari kita tunggu saja kabar selanjutnya menjelang akhir tahun nanti. Tentu saja hal yang bagus bila S8 nanti hadir dalam versi Windows 10 on ARM disamping Elite x3 versi baru. Tentunya karena S8 dan mungkin Elite x3 versi baru sudah menggunakan Snapdragon 835. Mengingat Surface phone kemungkinan akan meluncur tahun 2018 mendatang.
    • By c0d1ng
      Windows 10 Creators Update sejatinya belum resmi dirilis oleh Microsoft. Microsoft berencana untuk menggelar update besar ke-2 dari Windows 10 yang dijuluki “Windows 10 Creators Update” ini mulai bulan depan.
      Ya, sekali lagi, Windows 10 Creators Update sejatinya belum resmi dirilis. Tapi sejak pekan lalu Tool untuk update yaitu Upgrade Assistant untuk Windows 10 Creators Update sudah bocor dan beredar secara online.
      Melalui Upgrade Assistant ini terungkap bahwa Windows 10 Build 15063 adalah versi final untuk Windows 10 Creators Update, atau disebut juga dengan versi 1703.
      Hal ini diperkuat dengan bukti akhir-akhir ini yang menunjukkan bahwa Windows 10 build15063 adalah build ‘RTM’ untuk Creators Update. Build 15063 adalah build yang sekarang tersedia untuk PC dan Mobile Fast Ring, PC Slow Ring, dan bagi member Program Insider Xbox; dan SDK serta Mobile Emulator yang semuanya muncul secara online pekan lalu.
      Dan sekarang kami bisa mengkonfirmasi bahwa Microsoft telah mulai meluncurkan Windows 10 Creators Update untuk PC dan Tablet melalui Upgrade Assistant yang bocor ini.
      Windows 10 Upgrade Assistant adalah sebuah tool yang sama persis seperti yang Microsoft rilis tahun lalu untuk Anniversary Update. Cuma bedanya sekarang tool ini akan berfungsi untuk men-download Creators Update build terbaru, bukan Anniversary Update.
      Windows 10 Creators Update telah memiliki banyak fitur baru dan peningkatan selama buildterakhir build pratinjau (yang sudah dirasakan oleh Insider).
      HARAP DICATAT!!! Kamu tidak akan melihat apa-apa jika kamu pergi ke Settings > Update & security > Windows Update dan memeriksa update, karena update belum dirilis resmi dan nantinya akan bergulir secara bertahap.
      Beberapa jam setelah beredarnya link download Upgrade Assistant, Microsoft rupanya mengendusnya, Microsoft pun langsung memblokir link tersebut. Ya, Microsoft langsung cepat bertindak sebelum kebocoran ini meluas.
      Kini file Windows 10 Update Assistant yang bocoran link-nya beredar tersebut sudah dihapus dari server Microsoft. Bahkan meskipun kamu sudah memilikinya kamu tidak akan bisa lagi menginstall Windows 10 Creators Update.
      Nah, bagi kamu yang terlambat mendapatkan Windows 10 Creators Update melalui cara ini, perilisan resminya yang kabarnya sudah hadir pada 11 April 2017.
      Menurut kami, menunggu perilisan resminya adalah opsi yang terbaik, toh momen tersebut akan datang beberapa hari lagi.
    • By berita_semua
      Mengikuti jejak Cina dan Amerika Serikat, Asia Tenggara kini berada pada titik puncak dari zaman keemasan ecommerce. Dengan persentase belanja online yang hanya 1% dari jumlah transaksi ritel saat ini, Asia Tenggara diperkirakan akan mencapai pertumbuhan dua digit angka seperti Cina dalam empat sampai lima tahun ke depan.
      Dengan populasi sebesar 600 juta -dua kali lipat dari AS- Asia Tenggara siap untuk menjadi pasar ecommerce terbesar ketiga di dunia mengikuti China dan India (dan akhirnya melewati AS).
      Tapi cukup dengan gambaran makro ini. Apa yang telah dilewati di 2015? Dan apa yang akan terjadi di dunia ecommerce pada 2016?
      Kami melihat pemain lokal, regional, dan global meningkatkan permainan mereka. Terutama di Indonesia dengan peluncuran MatahariMall secara besar-besaran sebagai jawaban nasionalis untuk Lazada dari Rocket Internet; sebaliknya Lazada bertaruh di Indonesia dengan kembalinya CEO sebelumnya, Magnus Ekbom. Untuk pertama kalinya juga aCommerce Indonesia melampaui Thailand dalam jumlah order; dan, baru-baru ini, kompetitor Alibaba dari Cina, JD menyelinap ke Indonesia dan mengejutkan semua orang dengan peluncuran JD.id. Hal ini menambah jumlah tekanan dan daya saing di sektor B2C murni.
      2015 juga merupakan tahun M&A (Merger dan Akuisisi), seiring dengan bersatu atau diserapnya para pemain untuk mempersenjatai diri melawan para raksasa yang disebutkan di atas. Pertama, WhatsNew yang didukung oleh Ardent Capital mengakuisisi situs gaya hidup vertikal Moxy di Thailand pada bulan Januari.
      Baru-baru ini, kami menyaksikan exit menakjubkan dari situs ecommerce kecantikan Luxola yang diakuisisi oleh superstar brand mewah asal Prancis, LVMH. Dan pada bulan Desember, aCommerce memberikan 20% sahamnya ke sebuah distributor ritel Swiss yang berusia 150 tahun, memberikan akses ke lebih dari seratus brand Barat dan infrastruktur fisik di wilayah Asia Tenggara.
      Sayangnya, tahun ini tidak berakhir tanpa adanya korban karena tingginya persaingan di B2C ecommerce di Asia Tenggara. Pemain ritel fashion Paraplou Group menutup bisnisnya pada bulan Oktober setelah dua tahun (dan setelah mendapatkan pendanaan sebesar $1,500,000) karena kurangnya fokus dan dalamnya kantong.
      Pada bulan Maret, SingPost dan retailer ponsel Indonesia, Trikomsel, mengumumkan kemitraan ecommerce yang misterius – hanya untuk kemudian mendapatkan laporan tentang situasi keuangan yang mengenaskan dari perusahaan telco tersebut tiga bulan kemudian, selain itu terjadi juga kemunduran tiba-tiba Wolfgang Baierdari Group CEO SingPost di bulan Desember.
      Jika 2014 adalah tahun suntikan modal seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya di bisnis ecommerce Asia Tenggara, 2015 adalah tahun di mana kami melihat kebangkitan awal, kejatuhan, dan transformasi total dari berbagai pemain dalam lansekap yang terfragmentasi seiring dengan usaha mereka bersaing untuk mendapatkan sepotong “kue” dari pie ecommerce yang berkembang pesat.
      Sejalan dengan tradisi tahunan kami, kami memberikan Anda intipan dari apa yang akan hadir di menu untuk tahun 2016. Kesimpulan ini ditentukan melalui wawancara ekstensif dengan para investor dan eksekutif, serta data internal dan sumber sekunder dari Januari 2015 hingga Desember 2015.
      Karena kami merupakan penyedia layanan ecommerce besar di Asia Tenggara, dengan klien-klien ecommerce yang  juga besar di wilayah ini (seperti Lazada, MatahariMall, L’Oreal dan lainnya), kami memiliki kesempatan khusus untuk berdiri di persimpangan informasi teknologi, logistik, ritel, marketing dan VC. Kami melihat di mana mitra kami menempatkan uang dan di mana investor bersedia untuk mengikuti.
      Dengan demikian, kami bisa melihat dengan tajam di mana pertumbuhan akan terjadi. Tidak ada bola kristal atau firasat di sini; kami hanya berkesempatan mendapatkan pandangan yang luas yang tidak dimiliki oleh sebagian besar pemain yang lain, dan kami menyediakan proyeksi tersebut di sini dalam bentuk prediksi.
      1. Brand.com Siap Untuk Menjadi The New Black
      Evolusi ecommerce umumnya mengikuti lintasan P2P dan C2C ke B2C hingga pada akhirnya menjadi Brand.com. AS berproses dari Craigslist dan eBay ke Amazon kemudian ke situs brand seperti Nike, J.Crew dan Gap. Cina bermula dari Taobao ke Tmall dan JD kemudian ke banyak situs brand mandiri dan situs brand marketplace, seperti Estee Lauder, Burberry dan Coach.
      Asia Tenggara saat ini mengikuti pola yang sama, namun pada kecepatan yang lebih cepat karena “1 ke n,” kemajuan horizontal dan perilaku lompatan yang dihasilkan. Di wilayah ini, kami memiliki P2P (OLX), C2C (Rakuten, Tokopedia, Shopee), B2C (Lazada, Zalora, MatahariMall) dan Brand.com (L’Oreal, Estee Lauder), semua terjadi sekaligus bersamaan dalam waktu yang sangat singkat.
      Bahkan Unilever di Thailand telah menciptakan divisi ecommerce dengan target pendapatan yang diharapkan bisa mulai tercapai pada 2016. Kami melihat brand akan beralih ke platform online jauh lebih awal daripada yang biasanya diharapkan.
      Maka dari itu tidak mengherankan jika aCommerce baru saja mendapatkan investasi strategis dari distributor ritel terbesar di Asia, DKSH. Berbasis di Swiss, DKSH memiliki hak distribusi untuk beberapa brand terbesar di kawasan ini, seperti P&G, Unilever, dan Johnson & Johnson.
      Kerjasama ini memvalidasi tumbuhnya permintaan akan brand ecommerce di kawasan ini, dan selanjutnya akan mempercepat proses di mana brand akan beralih online, entah itu di situs brand sendiri atau di berbagai marketplace di Asia Tenggara.
      2. Kebangkitan Omni-Channel: “There Will Be No More Ecommerce, Only Commerce”
      Ini adalah ucapan Group CEO aCommerce, Paul Srivorakul, saat pemain logistik ecommerce SingPost mengumumkan akan membuat mal futuristik yang mengkombinasikan belanja secara online dan offline, demi mengejar mimpi ritel omni-channel – mimpi yang dengan cepat menjadi kenyataan di AS dan China.
      Mengacu pada pengalaman belanja yang mulus di toko dan online channel, ritel omni-channel dianggap sebagai Holy Grail dalam ritel yang sulit dipahami karena tantangan politik dan logistik dalam mengintegrasikan jalur-jalur online yang seringnya independen dengan rekanan brick-and-mortar mereka. Namun sejauh ini, Asia Tenggara cukup tertinggal karena lebih terfokus untuk membangun pemain-pemain ecommerce murn terlebih dahulu.
      Pada tahun 2016, kami berharap untuk melihat gerakan yang serius di wilayah ini dari pemain offline yang bergerak online, dan sebaliknya. 2016 akan menjadi tahun di mana brand offline akan pergi online karena menjamurnya kehadiran marketplace online, serta adanya layanan lengkap dari penyedia jasa ecommerce.
      Bagi pemain B2C, daya tarik dari menambahkan operasi offline termasuk memungkinkan pemenuhan dan pengiriman last-mile yang lebih cepat. Di Asia Tenggara,retailer elektronik Vietnam Nguyen Kim (diakuisisi oleh Grup Central) mampu melakukan pengiriman dalam 4 jam pada hari yang sama karena jejak retail offline yang mereka miliki besar.
      Pemain ecommerce dengan lengan offline tradisional, seperti MatahariMall, Cdiscount dan Central, juga akan berada dalam posisi yang menguntungkan untuk mengeksekusikan ini. Namun pada tahun 2016 ini kita juga akan melihat pemain murni B2C meneliti sektor ini, seiring dengan meningkatnya tantangan logistik dan last-mile di Asia Tenggara dengan bottleneck kapasitas di seluruh industri.
       
      3. Model Niche-Commerce Akan Berkembang Untuk Menghindari B2C ‘Bloodbath’
      Dalam prediksi 2015 kami, kami membahas bahwa B2C ecommerce adalah pertandingan jangka panjang, cash-intensive, winner-takes-all-game. Perusahaan-perusahaan yang berusaha untuk bersaing di ruang ini lebih baik memiliki kantong yang tebal (lihat Lazada, MatahariMall, dan JD) – atau siap menghadapi kepunahan (lihat Paraplou Group).
      Dalam esainya yang sangat berpengaruh, “E-commerce is a Bear,“ Andy Dunn, pendiri dan ketua Bonobos.com, menguraikan tentang mengapa B2C ecommerce adalah sebuah permainan di mana winner-takes-all, dan pilihan apa yang tersisa untuk pemain lain yang tidak memiliki kantong tebal atau penyokong dana.
      Banyak dari hal ini datang dari pendekatan ecommerce versi Peter Thiel “David vs Goliath” yang bertolak belakang. Industri ecommerce AS telah didominasi cukup lama oleh Amazon untuk menyaksikan beberapa model ini mulai membuahkan hasil dalam beberapa tahun terakhir: 1) Proprietary Pricing (pikirkan flash sale, Gilt Groupe), 2)Proprietary Selection (ModCloth, NastyGal), 3) Proprietary Experience (Rent the Runway, Birchbox), dan 4) Proprietary Merchandise  (Warby Parker, Bonobo).
      Tahun ini akan menjadi tahun di mana model ecommerce yang lebih kreatif bermunculan. Perusahaan seperti Pomelo dan Sale Stock Indonesia telah mengadopsi pendekatan merchandise eksklusif untuk mencapai keunggulan kompetitif. Mereka melakukan ini dengan merancang busana mereka sendiri dan secara bertahap bergerak ke hulu untuk menyertakan manufaktur.
      Moxy telah memancangkan bendera sebagai “Toko Serba Ada,” namun fokus pada kaum perempuan. Kita mungkin juga akan melihat kembalinya model bisnissubscription-commerce dari retailer seperti Central, disebabkan oleh menurunnya pembeli asing, dan kemudian dengan serius mempertimbangkan model penjualan kilata la-Gilt untuk menyingkirkan kelebihan persediaan.
       
      4. Cross-Border Ecommerce Akan Didorong Dengan Silk Road 2.0, Bukan MEA
      Terlepas dari hype di media dan harapan-harapan yang tinggi (termasuk prediksi kami tahun lalu), Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap ecommerce pada tahun 2016.
      Pemerintah terlalu terfragmentasi dalam kebijakan; ditambah dengan pertumbuhan peluang yang cepat dalam pasar domestik, sehingga tidak masuk akal untuk fokus pada cross-border dalam ASEAN, sebagaimana dibuktikan oleh perusahaan seperti Lazada dan MatahariMall yang bertaruh pada kesempatan ecommerce Indonesia.
      Cross-border ecommerce pada tahun 2016 akan didorong terutama oleh apa yang kami sebut sebagai “Silk Road 2.0.” Ini adalah para perusahaan yang berbasis di Daratan Cina yang akan membawa produk-produk mereka ke Asia Tenggara, membangun fondasi bagi Jalan Sutra versi generasi kita dan mencoba untuk memperluassoft power dan hegemoni Cina melalui industri perdagangan dan digital.
      JD dari Cina adalah contoh klasik. Toko online No. 2 di Cina ini baru-baru ini beroperasi di Indonesia dan diharapkan untuk memanfaatkan lebih dari 40 juta SKU dari bermacam-macam produk dan rantai pasokan Cina-Asia Tenggara untuk bersaing dengan pemain-pemain seperti MatahariMall dan Lazada. Alibaba juga berinvestasi hampir setengah miliar ke SingPost untuk membersihkan jalan bagi paket Alibaba, Tmall dan Taobao agar lancar memasuki Asia Tenggara.
      5. Pembayaran: COD Akan Melanjutkan Dominasinya Sementara Pembayaran Pihak Ketiga Berjuang
      Kesempatan besar selanjutnya di industri ecommerce Asia Tenggara adalah jasa pembayaran online dari pihak ketiga. AS memiliki PayPal dan Cina memiliki Alipay; apa yang dimiliki Asia Tenggara?
      Kebalikan dari apa yang dipercaya banyak orang, membangun produk pembayaran yang sukses bukanlah tentang teknologi, namun tentang distribusi. Teknologi pembayaran adalah sebuah komoditas; semua orang membangun hal yang sama, termasuk bank (SCB UP2ME), perusahaan telekomunikasi (TrueMoney, PAYSBUY), media (Line Pay, AirPay dari Garena), retailer (helloPay oleh Lazada) dan startup berfokus pembayaran (2C2P, omise).
      Bagian yang sulit adalah distribusi. Bagaimana caranya agar mencapai jumlah minimum hingga jaringan ini bisa memiliki efek? Sampai ini terjadi, COD akan tetap menjadi metode pembayaran yang dominan di Asia Tenggara. Berdasarkan angka agregat terbaru dari aCommerce, metode pembayaran COD mencapai 74% dari keseluruhan transaksi di Asia Tenggara, naik dari 53% di tahun sebelumnya. Ini memvalidasi pentingnya COD untuk ecommerce di wilayah kita, dan sudah melebihi tingkat penetrasi COD pada puncak popularitasnya di Cina pada tahun 2008 lalu.
      Pada akhirnya, COD secara alami akan melewati masa popularitasnya dan digantikan oleh produk pembayaran pihak ketiga yang lebih “modern.” Bahkan kemudian, skenario yang paling mungkin terjadi adalah satu produk pembayaran terkemuka di setiap negara di Asia Tenggara karena sifat wilayahnya yang terfragmentasi.
      Sampai saat itu tiba, selamat berusaha “membunuh” cash on delivery, Mr. Jon Sugihara.
      6. Kegagalan dari “Fast Fashion E-Tailers”
      Kita akan melihat banyak pemain-pemain mass & fast-fashion seperti Zalora mengalami kesulitan, entah gagal atau bergabung dengan sepupunya Lazada. Orang-orang yang familiar dengan sejarah ecommerce di Cina akan melihat kesamaan antara Zalora dan VANCL. VANCL, mono-brand ritel fast-fashion yang didirikan oleh Chen Nian (yang menjual bisnis sebelumnya, Joyo, ke Amazon), menjadi terkenal pada tahun 2009, mendapatkan pendanaan hingga $570M dan bahkan merencanakan untuk IPO, namun kemudian secara bertahap memudar. Menjual produk fashion sendiri adalah sedikit tentang ekonomi ritel dan lebih banyak tentang membangun brand.
      Selain itu, VANCL menderita persaingan dari para penjual di Taobao yang menjual produk serupa dengan kualitas yang lebih tinggi dan harga yang lebih rendah. Ganti Taobao dengan Instagram dan Facebook dan Anda akan mengerti kesulitan yang Zalora dan mono-brand fashion retailer lainnya alami di Asia Tenggara.
      Mengikuti perkembangan alami dari ecommerce, fashion akan mulai menjadi kategori yang lebih populer bagi para pembeli online, terutama dengan munculnyakonsumen perempuan yang lebih kaya di Asia Tenggara. Brand fashion saat ini memiliki pilihan untuk berjualan di banyak marketplace di Asia Tenggara dan/atau berjualan melalui situs mereka sendiri. Kami mengharapkan mereka mendirikan toko di situs mereka sendiri atau marketplace khusus yang fashion-friendly.
      Namun demikian, brand fashion premium mungkin ragu-ragu untuk menghadirkan produknya di marketplace seperti Lazada dan Rakuten karena memiliki risiko dianggap sebagai brand massal. Setelah bertahun-tahun mendekati brand fashion dan barang mewah, Amazon tetap masih berjuang. Jangan lupa, kebanyakan dari penjualan fashion premium Amazon saat ini dihasilkan melalui Shopbop, satu-satunya perusahaan eksklusif fashion yang diakuisisi Amazon pada tahun 2006.
      7. Jalur Baru Akan Muncul Untuk Menantang Sisi Gelap Google Dan Facebook
      Ketika Anda menggali emas di sisa-sisa pergerakan ecommerce di planet ini, pastikan Anda menggunakan cukit dan sekop terbaik yang pernah ada. Sayangnya untuk pemain ecommerce di pasar kita, pilihan senjata yang tersedia sangatlah terbatas karena faktor sejarah dan sosial ekonomi yang unik di Asia Tenggara. Munculnya lansekap “no-tail” dalam hal penerbit sangat menghambat efektivitas alat tradisional, seperti pemasaran afiliasi dan tampilan program.
      Di Asia Tenggara, para pemain sudah mati-matian menggunakan saluran “tradisional”, seperti Google Search, Facebook dan Criteo, dengan hasilnya CPC naik ke hasil tertinggi dan para perusahaan memanfaatkan marketing offline untuk mencari hasil yang lebih baik. Ini merupakan efek penuh “Law of Shitty Clickthroughs” milik Andrew Chen.
      Perusahaan dan pengusaha cerdas akan mulai menangani kesenjangan ini dengan merancang dan membangun platform demand-generation baru untuk menawarkan alternatif dari Googles dan Facebooks di luar sana. Bersiaplah untuk melihat lebih banyak perusahaan ecommerce menambahkan jalur seperti perbandingan harga, situs kupon, dan situs cash-back, serta solusi pemasaran afiliasi inovatif untuk menyeimbangkan campuran media mereka. 2016 akan memberi kita excavator dan bulldozer untuk melengkapi cukit dan sekop saat ini.
      8. Pertempuran Untuk Last-Mile Berlanjut Seiring Kegagalan 3PL Beradaptasi
      Di tahun 2016, kita akan melihat perusahaan seperti Lazada (LEX), MatahariMall, dan aCommerce berinvestasi dalam membangun armada pengiriman sendiri untuk membantu meringankan masalah kapasitas di seluruh industri dan untuk mengantisipasi meledaknya volume transaksi. Tekanan hanya akan menjadi lebih besar pada tahun 2016 bersamaan dengan volume transaksi yang diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi di Asia Tenggara.
      Tantangan pengiriman last-mile di Asia Tenggara, jika tidak ditangani dengan benar, akan menjadi hambatan terbesar untuk pertumbuhan ecommerce di kawasan ini. Industri ini tengah menyaksikan kemacetan kapasitas industri lebih dari yang perusahaan-perusahaan seperti JNE, Kerry Logistics dan DHL di dunia ini mampu tangani.
      Sebagian dari masalah ini adalah berawal dari infrastruktur yang buruk. Cina, pasar ecommerce terbesar di dunia, tidak pernah benar-benar memiliki masalah ini karena pola pikir pemerintah mereka yang sosialis dan terpusat sehingga memprioritaskan investasi infrastruktur. Pada saat ecommerce terjadi, infrastruktur sudah ada di sana, yang mengakibatkan pengiriman last-mile menjadi layanan komoditas.
      Pun dengan banyaknya perusahaan pengiriman yang telah ada namun sejak awal tidak dirancang untuk melayani pengiriman B2C. Kompetensi inti mereka terletak pada pengiriman B2B yang biasanya tidak menghadapi masalah yang kerap muncul di pengiriman B2C, seperti return management, reverse logistics, pre-calling, upaya pengiriman berulang kali, dan cash on delivery.
      9. Channel Management Akan Menjadi “Programmatic” Yang Baru, Sementara Agensi Iklan Masih Terjebak di Tahun 2011
      Selama bertahun-tahun, para eksekutif sales dari pengiklan brand, agensi, dan adtech menyambut hangat programmatic display advertising dan DSP menjadi masa depan pemasaran digital. Namun, hanya sedikit yang benar-benar berada di luar “menara gading” mereka di Singapura cukup lama untuk menyadari bahwa “no-tail” pada dasarnya telah membunuh potensi iklan “program” di Asia Tenggara di luar Singapura dan Malaysia.
      Kesempatan “programatik” sesungguhnya di Asia Tenggara akan ada di ecommerce, bukan dalam iklan display. Dengan kehadiran dan fragmentasi online marketplace, tantangan untuk para brand adalah untuk memilih saluran mana yang tepat untuk suatu produk dan produk apa yang harus didorong ke dalam masing-masing saluran ini.
      2016 akan melihat kemunculan dan adopsi dari next-generation channel management, yang pada dasarnya adalah “ecommerce DSP.” Produk-produk ini akan membantubrand memungkinkan omni-channel ritel di semua marketplace ternama, dan di saat yang bersamaan juga menawarkan manfaat programmatic tradisional seperti mesin optimalisasi dinamis dan integrasi plug-and-play dengan berbagai sumber data pihak pertama dan ketiga untuk penargetan, personalisasi, dan optimalisasi yang lebih baik.
      10. Perang Talent (Talent War) Akan Meningkatkan Gaji Lebih Cepat Dibanding Valuasi Uber
      Salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh semua pemain ecommerce di Asia Tenggara adalah kurangnya talent. Pada tahun 2015, merupakan hal yang biasa untuk melihat karyawan direbut dari kanan dan kiri dengan gaji baru yang meningkat 1,5-3 kali lipat. Tentu saja hal ini tidak sustainable, namun inilah situasi yang sedang terjadi dalam perang bakat (talent war) di Asia Tenggara.
      Para kaum profesional yang oportunis, seringnya masih muda, melompat ke peran-peran di mana keterampilan, pengalaman dan kepemimpinan mereka tidak cocok dengan paket dan jabatannya. “Hal yang paling penting untuk dioptimalkan dalam pekerjaan pertama Anda adalah pertumbuhan. Pertumbuhan adalah raja, ratu, dan kaisar digabungkan. Optimalkan pertumbuhan di atas kompensasi, di atas lokasi, di atas gaya hidup, dan di atas segalanya,” ucap Auren Hoffman, mantan CEO LiveRamp yang mendirikan dan menjual lima perusahaan.
      Perusahaan ecommerce perlu memahami bahwa meskipun kita semua berada di tengah-tengah Gold Rush, ini adalah permainan jangka panjang. Untuk menarik dan mempertahankan bakat terbaik, akan semakin banyak perusahaan ecommerce yang fokus membangun budaya dan lingkungan kerja yang menarik bagi karyawan. aCommerce pada tahun 2016 akan merelokasi kantor pusatnya ke “Ecommerce Valley”-nya Bangkok – Emquartier, yang juga rumah bagi kantor pusat regional Lazada ini.
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy