Jump to content

Silicon Valley Ttu Sebuah Budaya, Bukan Hanya Lokasi


Guest News

Recommended Posts

EFA37285-5A60-4BF8-BA39-1B3B4F3058DE_cx0_cy4_cw0_w987_r1_s_r1.jpg
Suasana di kantor inkubator teknologi MuckerLab di Santa Monica, California. 

Para wirausaha dengan akar imigran menjelaskan arti menjadi bagian dari sebuah 'startup'.

Mengelola sebuah perusahaan dengan sebuah mesin treadmill di dalam kantor, di pusat Silicon Valley, bukanlah sesuatu hal yang dibayangkan Monisha Perkash ketika ia dan orangtuanya pindah dari Nepal ke Amerika Serikat.

"Ketika saya pertama kali pindah ke sini, saya ditelepon ayah saya, yang tinggal di Texas, dan ia mengatakn, 'Monisha, saya sudah cari di seluruh peta dan saya tidak bisa menemukan Silicon Valley di mana pun," ujar Perkash.

Silicon Valley adalah sebuah wilayah di California yang terbentang dari San Francisco ke San Jose, dan bukan saja merupakan lokasi raksasa-raksasa teknologi seperti Google, Apple dan Facebook.

Perkash mengatakan karakteristik penting Silicon Valley adalah bahwa tempat itu sebuah budaya yang mewujudkan kewirausahaan. Budaya ini menular, dan menyentuh Perkash ketika ia datang ke Silicon Valley.

"Awalnya orangtua saya sangat bingung. Saya telah mulai kuliah pengantar kedokteran dan diterima di fakultas kedokteran, dan ketika saya memutuskan tidak mengambilnya, mereka tidak paham kenapa," ujar Perkash, salah satu pendiri dan CEO Lumo Bodytech.

Ia dan dua kawannya ingin membentuk sebuah perusahaan baru (startup) bidang teknologi untuk meningkatkan kehidupan orang-orang. Mereka kemudian mendirikan Lumo Bodytech untuk mengembangkan alat sensor yang dapat dipakai di badan.

Salah satu produk mereka, Lumo Run, dapat dipakai di pergelangan tangan pelari untuk melacak pergerakan orang tersebut. Dipasangkan dengan ponsel, alat itu menyedikan pelatihan personal untuk pelari. Sensor lain, Lumo Lift, dipakai di bagian kerah pakaian dan bergetar ketika pemakai membungkuk, sebagai pengingat untuk duduk tegak.

Perjalanan Para Pendiri

Salah satu pendiri dan COO Lumo Bodytech, Charles Wang mengatakan sensor-sensor itu membantu memperbaiki postur tubuh dan mengurangi risiko cedera dan sakit punggung.

"Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa postur sangat berkaitan dengan sakit punggung, kesehatan punggung," ujar Wang, yang lahir dari orangtua yang berasal dari Taiwan.

Ia awalnya mengikuti jalur yang diinginkan banyak orangtua imigran untuk anak-anaknya. Wang adalah seorang dokter dan sempat praktik sebelum memutuskan menjadi wirausaha. Ia mengatakan orangtuanya sangat mendukung.

"Saya kira untuk mereka, hal ini adalah, 'Bisakah kamu mencari sesuatu yang sangat kamu pedulikan dan kamu lakukan dengan bersemangat'," ujar Wang.

Pendiri ketiga, CTO (kepala divisi teknologi) Andrew Chang, mengatakan bahwa menjadi bagian dari sebuah startup tidak seperti pekerjaan-pekerjaan sebelumnya yang ia kerjakan.

"Kecepatan pergerakan pekerjaan ini tidak bisa dibandingkan, kecepatan membuat keputusan, berjalannya bisnis dan lain sebagainya, karena dalam bidang ini sangat kurang birokrasi."

Chang menambahkan, "Ada banyak orang di sini yang sangat ingin mengubah dunia. Kita ada di satu titik dimana kita memiliki semua infrastruktur teknis untuk memungkinkan hal itu terjadi, untuk membuat sekelompok orang melakukan perbaikan dramatis yang dapat memantul ke seluruh dunia karena sedemikian terhubungnya kita sekarang ini."

Membuat Orangtua Bangga

Perkash mengatakan keterhubungan dan karakteristik kolaboratif Silicon Valley telah mendorong budaya startup. Keberhasilan perusahaan telah menjadi sumber kebahagiaan untuk orangtuanya, tambahnya.

"Saya ingin membuat mereka bangga, dan saya ingin mereka tahu bahwa dengan memberi kita peluang untuk mengejar keinginan kita, mengejar mimpi kita, telah mendorong saya maju. Jadi dalam banyak hal, saya melakukan apa yang saya lakukan untuk menghormati mereka," ujar Perkash.

Kepada siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya, Perkash menyarankan agar tidak takut gagal tapi melihatnya sebagai peluang untuk belajar. (www.voaindonesia.com

Link to comment
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
  • Similar Content

    • By keenion
      Jepang adalah salah satu negara yang dipuji memiliki budaya jujur yang tinggi. Barang-barang yang hilang atau tertinggal di tempat umum akan dikembalikan kepada pemiliknya. Semua itu sudah diajarkan sejak dini di sekolah-sekolah Jepang.
      Jake Adelstein baru selesai makan siang dan berencana untuk membeli pancake. Ketika hendak mengambil uang, ia baru menyadari jika dompetnya terasa ringan dari biasanya. Padahal ia baru dari mesin ATM dan menarik uang tunai 100.000 yen.
      Saat diperiksa ternyata uang tersebut tak ada dalam dompet. Merasa ada sesuatu yang janggal ia pun menelepon operator bantuan ATM dan menanyakan terkait transaksi di ATM, akan tetapi menurut operator itu tak ada informasi mengenai transaksi itu. Ia pun disarankan untuk melapor ke polisi.
      Jake kemudian membuat sebuah laporan kehilangan di kantor polisi Shibuya dan menceritakan kembali kejadiannya kepada salah seorang polisi. Setelah selesai, polisi tersebut memberi Jake nomor kasus yang ia laporkan dan meminta Jake untuk tidak menghilangkannya.
      Keesokan harinya, pada pukul 10 pagi, ia mendapat telepon dari Kantor Polisi Shibuya untuk datang ke stasiun untuk mengambil uangnya dengan membawa identitas diri. Jake pun menuju ke tempat yang disebutkan oleh polisi tersebut dan setelah mengisi selembar kertas, uangnya pun dikembalikan.
      “Saya ingin meninggalkan hadiah untuk orang yang menyerahkannya (uang),” kata Jake.
      Namun, petugas tersebut menjawab bahwa orang yang menemukan uang tersebut menolak untuk mengklaim hadiah dan merahasiakan siapa yang menemukan. Mark Kareles pendiri Mt. Gox Co yang merupakan bursa Bitcoin terbesar di dunia yang kolaps pada 2014 itu juga mengagumi kejujuran sebagian besar orang Jepang.
      “Ketika saya pertama kali tiba (di Jepang), terkadang saya meninggalkan laptop saya di bangku taman dan saya kagum bahwa barang itu akan tetap ada saat saya kembali. Atau orang akan mengejar saya dengan laptop dan mengembalikannya,” ujar Mark.
      Untuk kenyamanan penduduknya Jepang memang membentuk Lost and Found Centre yang menjadi pusat barang-barang hilang. Tak hanya uang atau dompet, polisi Tokyo juga akan menindak kehilangan payung, syal atau sarung tangan termasuk penemuan uang 1 atau 5 yen.
      Ketika seseorang kehilangan barang di Jepang, biasanya mereka langsung datang ke Lost and Found Center. Barang-barang yang hilang akan disimpan selama 3 hingga 4 hari lalu setelah itu akan diserahkan Metropolitan Police Lost & Found Center yang berada dekat stasiun Lidabashi.
      Sarung tangan, payung hingga syal yang tertinggal di metro atau tempat umum dapat ditemukan di tempat itu. Asalkan harus melaporkan terlebih dahulu dan menunjukkan bukti kepemilikan barang serta identitas diri. Jika ingin meminta orang lain yang untuk mengambil barang yang hilang di Lost and Found Center, maka mereka harus membuat surat kuasa untuk dibawa oleh orang yang diminta untuk mengambil barang tersebut.
      Pada 2016, Tokyo Metropolitan Police Department's Lost and Found Center menangani sejumlah uang yakni sekitar 3,67 miliar yen atau setara 32 juta dolar AS yang hilang. Dalam prosesnya, menurut pihak kepolisian Tokyo, sekitar tiga perempat dari total uang yang hilang itu berhasil dikembalikan kepada pemiliknya.
      Benda sepele seperti payung yang ketinggalan di tempat publik atau di metro juga ditangani oleh kepolisian setempat. Di tahun yang sama, pihak Lost and Found Center menangani 381.135 payung. Mereka yang menemukan atau kehilangan uang 1 hingga 5 yen pun akan ditangani oleh pihak kepolisian.
      Anak-anak juga dibiasakan untuk melakukan hal jujur tersebut. Seperti yang dilakukan Mayako Matsumoto yang mengembalikan sebuah dompet berisi sekitar 100 dolar AS kepada pihak kepolisian dengan ditemani oleh ibunya. Pihak kepolisian mengapresiasi kejujuran Mayuko dengan memberinya imbalan beberapa permen. Kebiasaan itu tak terjadi secara tiba-tiba namun melalui pendidikan sejak dini.
      “Sekolah di Jepang memberi kelas terkait etika dan moralitas, dan siswa belajar membayangkan perasaan orang-orang yang kehilangan barang atau uang mereka sendiri. Jadi tak jarang melihat anak-anak membawa koin 10 yen ke kantor polisi itu, kata seorang profesor di Kansai University, Toshinari Nishioka.
      Selain itu, ada aturan yang menaungi terkait barang-barang yang hilang. Undang-Undang Jepang pada pasal 28 dari Lost Property Act menyatakan bahwa seseorang yang telah kehilangan barang harus membayar kepada para penemu antara 5 hingga 20 persen dari nilai barang yang ditemukan. Namun, hadiah itu hanya bisa diklaim dalam jangka waktu satu bulan. Tapi tak jarang juga mereka yang menemukan tak meminta imbalan.
      Dalam beberapa laporan menyebutkan tindakan kriminal di Jepang terutama perampokan menurun dari 5.988 kasus di tahun 2005 menjadi 3.056 kasus di tahun 2014. Atau jika dihitung per populasi yakni 4,72 kasus per 100.000 populasi di tahun 2005 turun menjadi 2,41 kasus per 100.000 populasi di tahun 2014.
      Laporan lain yakni dari United Stated Department of State Bureau of Diplomatic Security juga memberi status kriminal di Jepang pada level rendah atau low. Status itu berlaku untuk semua jenis tindak kriminal, termasuk kondisi dan keamanan transportasi yang baik.
      Bagaimana dengan Indonesia? Kejujuran memang masih ada di negeri ini tapi hanya bagi segelintir orang. Putri, penulis di salah satu media di Indonesia pernah kehilangan dompet di salah satu angkutan umum di Jakarta, sekitar tiga tahun lalu. Putri kemudian melapor kasus kehilangan itu ke pihak yang berwajib namun hingga saat ini, dompet tersebut tak kembali kepadanya.
      Dompet yang di dalamnya terdapat kartu identitas yang dapat memudahkan dalam mendapat petunjuk sang pemilik saja jarang dikembalikan, bayangkan barang seperti payung, syal, atau sarung tangan yang tentu tak ada identitas pemilik yang menempel di barang tersebut.
      Mereka yang berjalan di tempat umum kadang menjadi target dari para tangan nakal alias pencopet. Belum lagi tindakan perampokan yang berujung pada pembunuhan dan tindak kriminal lainnya. Kasus perampokan di Indonesia dari 9.742 pada 2008 naik menjadi 11.758 kasus di tahun 2014.
      Jika melihat ke Jepang, faktor pendidikan terkait kejujuran sudah dilakukan sejak dini menjadi salah satu faktor penting, sedangkan Indonesia hingga saat ini masih memperdebatkan terkait sistem pendidik full day school. Upaya tersebut diwacanakan untuk meningkatkan pendidikan karakter dari siswa siswi di Indonesia. Basisnya adalah kejujuran, toleransi, disiplin, hingga rasa cinta Tanah Air.
      Namun, sistem ini dikatakan tak tepat jika dilakukan di wilayah pedesaan dengan berbagai alasan. Sehingga masih banyak PR terkait pendidikan bagi pemerintah Indonesia, termasuk pendidikan terkait kejujuran.
    • By Partner
      Halo jendral, kenalkan ada Sobat Budaya yang sangat peduli dengan budaya-budaya di Indonesia. Kali ini Sobat Bdaya akan mengadakan Seminar, Seminar Nasional RUU PTEBT dengan Tema: "Budaya Indonesia Kini dan yang Dinanti".
      Selengkapnya bisa kunjungi di
       
    • Guest News
      By Guest News
      Setiap tahun Silicon Valley menerima ribuan anak magang di berbagai perusahaan teknologi. Menurut Bloomberg, anak magang di Silicon Valley rata-rata digaji $6,800 per bulan. Anak magang seperti apa yang dicari oleh Silicon Valley?
       
    • Guest News
      By Guest News
      Sebuah organisasi yang didirikan mahasiswa Indonesia berupaya menjembatani Silicon Valley dengan mahasiswa Indonesia, lewat program mentoring "Indo2SV" agar bisa mendapat kesempatan magang di Silicon Valley.
       
    • Guest News
      By Guest News
      Pelecehan seksual sering dialami orang-orang dimana aja terutama pada wanita. Budaya ini sejak lama sudah ada dan mementingkan hawa nafsu. 
      Ternyata di Indonesia sendiri budaya ini sangatlah dianggap hal biasa, karena selalu menyalahkan wanita yang salahnya terletak pada menunjukan auratnya ataupun berjalan sendiri pada malam hari.
      Mari dukung semua korban pelecehan seksual untuk menyadari bahwa hal ini adalah hal yang sangat-sangat merugikan, dan juga menjadi pelajaran untuk semua bahwa pelecehan seksual perlu diperhatikan lebih, serta menjadi kewaspadaan dalam diri sendiri.
       
×
×
  • Create New...