Jump to content
Sign in to follow this  
xaverius666

Pesawat Boeing Dirakit Insinyurnya pakai Google Glass

Recommended Posts

Ilustrasi-pabrik-boeing.jpg

Para teknisi pabrik Boeing memakai Google Glass untuk merakit pesawat terbang. Para insinyur divisi riset dan teknologi Boeing itu lebih menyukai menggunakan Google Glass daripada laptop.

“Pesawat memiliki rangkaian kabel yang rumit dan kompleks dan kami harus memasangnya secara manual. Dengan Google Glass, kami bisa langsung melihat buku panduan daripada laptop,” kata Boeing seperti dilansir Verge.

Boeing mengatakan Google Glass bisa mengurangi waktu produksi pembuatan pesawat sebanyak 25 persen dan meminimalisir tingkat kesalahan.

Google-Glass-Boeing.jpg

Boeing pun menggunakan jasa APX Labs, yang merupakan pembuat platform aplikasi kacamata pintar. “Aplikasi inilah yang membantu para teknisi Google merakit pesawat,” ucapnya.

Sebelumnya, Boeing juga telah menggunakan teknologi augmented reality (AR).

Pada 1995, Boeing pernah menggunakan layar yang terpasang di kepala untuk merakit pesawat. Namun, Google menghentikan teknologi itu karena permasalah baterai dan jaringan Internet.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Join the conversation

You can post now and register later. If you have an account, sign in now to post with your account.

Guest
Reply to this topic...

×   Pasted as rich text.   Restore formatting

  Only 75 emoji are allowed.

×   Your link has been automatically embedded.   Display as a link instead

×   Your previous content has been restored.   Clear editor

×   You cannot paste images directly. Upload or insert images from URL.

Loading...
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By keenion
      Google akhirnya meluncurkan layanan terbarunya yang bernama Google Play Pass dengan tarif USD 4,99 atau sekitar Rp 70 ribu perbulan.
      Dengan berlangganan layanan ini, pengguna bisa mengakses lebih dari 350 game dan aplikasi tanpa harus terganggu iklan dan pembelian di dalam aplikasi. Google juga memberikan masa percobaan secara gratis selama 10 hari pertama, dan bakal menawarkan tarif berlangganan tahunan sebesar USD 1,99 perbulan.
      Google Play Pass bisa dibilang mirip dengan Apple Arcade yang dirilis lebih dulu, setidaknya dari segi tarif. Namun perbedaannya, Play Pass juga menawarkan akses ke aplikasi non game, sementara Apple Arcade hanya menawarkan akses ke untuk game.
      Lalu, Google tidak secara langsung mendanai para developer untuk membuat aplikasi atau game yang ada di layanan ini, dan mereka juga tidak meminta status eksklusivitas terhadap aplikasi atau game tersebut.
      Saat ini semua aplikasi dan game yang termasuk di Play Pass adalah aplikasi dan game yang sebelumnya sudah ada di Play Store. Dan aplikasi serta game tersebut pun tetap bisa diinstal/atau dibeli seperti biasa.
      Aplikasi dan game yang termasuk ke dalam paket Play Pass bakal diberi tanda sebuah ikon tiket dengan bermacam warna. Dan pengguna yang sudah terlanjur menginstal aplikasi dan game sebelumnya akan tetap bisa menikmati fitur-fitur yang didapat Play Pass ketika mereka berlangganan.
      Beberapa game yang populer yang masuk ke dalam layanan ini antara lain adalah Stardew Valley, Monument Valley, Limbo, dan Risk. Sementara aplikasi populer yang termasuk di dalamnya antara lain adalah AccuWeather, Hi-Q Recorder, dan lainnya.
      Google tak memberikan banyak syarat bagi para developer agar aplikasi dan gamenya bisa kompatibel dengan Play Pass. Menurut Google, selama developer menggunakan standar API untuk iklan dan pembelian di dalam aplikasi, developer bisa menyertakan produk buatannya itu ke dalam skema berlangganan Play Pass.
      Play Pass bisa dinikmati oleh sampai dengan lima anggota keluarga, dan terintegrasi dengan sistem parental control milik Google. Untuk saat ini layanannya baru bisa dinikmati di Amerika Serikat, namun Google menjanjikan layanan ini bakal tersedia di negara lain dalam waktu dekat.
    • By iiee
      Maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. diminta untuk lebih transparan menjelaskan laporan keuangannya yang tengah menjadi polemik. Transparansi ini adalah bagian dari keterbukaan informasi Garuda sebagai perusahaan terbuka.
      "Seyogianya direksi Garuda perlu menjelaskan ke publik sebagai keterbukaan informasi. Mengingat Garuda adalah emiten sekaligus BUMN entitas publik," kata Ketua Institut Akuntan Publik Indonesia atau IAPI, Tarkosunaryo, ketika dihubungi Tempo, Kamis 25 April 2019.
      Sebelumnya terjadi perbedaan pendapat di antara Dewan Komisari Garuda Indonesia tentang laporan keuangan 2018. Dua komisaris Garuda, Chairal Tanjung dan Dony Oskaria menyatakan keberatan dan tak menandatangani laporan keuangan tersebut.
      Keberatan itu berpangkal pada adanya pos pendapatan lain-lain yang dianggap masih berbentuk piutang yang ikut masuk sebagai total pendapatan perseroan. Namun, kedua komisaris tersebut tak sependapat dalam pembukuan tersebut.
      Keduanya menilai pencatatan ini bertentangan dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Negara atau PSAK Nomor 23. Menurut mereka, piutang yang muncul dari perjanjian kerja sama antara Garuda dengan PT Mahata Aero Teknologi tersebut seharusnya tak dimasukan pos pendapatan.
      Tarkosunaryo juga berpendapat bahwa sebaiknya Garuda membuka secara lengkap bagaimana kontrak antara Garuda dengan Mahata. Khususnya mengenai bagaimana realisasi dari adanya kerja sama itu. "Apakah prestasi pekerjaan sudah ada dan hak tagih sudah dapat dieksekusi," kata Tarkosunaryo
      Kendati demikian, Tarko menjelaskan, pencatatan piutang sebagai pendapatan dalam dunia akuntansi dianggap sebagai sesuatu yang lazim ditemui. Dalam dunia akuntansi hal ini lazim dikenal dengan istilah pencatatan akuntansi berbasis akrual.
      Baca: Laporan Keuangan Garuda Janggal, Ini Keberatan Dua Komisaris
      Dalam hal ini, lanjut dia, transaksi-transaksi dicatat pada saat terjadinya transaksi itu, bukan saat uang diterima. Transaksi pendapatan dicatat dalam pembukuan pada saat hak tagih sudah ada karena penjual sudah melakukan kewajiban sesuai kontrak.
      Artinya, dalam kasus Garuda, yang perlu diperjelas adalah realisasi transaksi yang kemudian menimbulkan hak tagih (piutang) sehingga bisa dimasukkan dalam pendapatan. Hal inilah yang perlu diungkap ke publik apakah pencatatan dari piutang menjadi pendapatan tersebut sesuai standar. "Nah yang dapat melakukan ini ya direksi beserta auditornya," kata Tarkosunaryo.
    • By ThinkSmart
      CEO Boeing Co, Dennis Muilenburg untuk pertama kalinya, akhirnya mengakui bahwa malfungsi Boeing 737 Max 8 berperan dalam jatuhnya Lion Air JT 610 pada Oktober dan Ethiopian Airlines ET 302 pada Maret 2019. Menanggapi pengakuan yang dirilis Muilenburg dalam sebuah video itu, Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti mengatakan bahwa Kementerian Perhubungan masih mempelajari ihwal kasus Boeing.
      Polana mengatakan Kemenhub masih menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi dan perbaikan yang akan dilakukan Boeing. "Terlalu dini kalau pemerintah melarang B737Max atau B737 families," kata Polana saat dihubungi, Ahad, 7 April 2019.
      Sebelumnya, CEO Boeing, Dennis Muilenburg mengakui kecelakaan Lion Air JT 610 dan Ethiopian Air ET 302 terjadi karena fitur otomatisasi MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) pesawat aktif sebagai respons terhadap informasi angle of attack/AOA (sudut serangan) yang keliru. Muilenburg  mencuitkan rasa menyesalnya itu ke akun Twitternya. Seperti dikutip Antara, Sabtu 6 April 2019, bos pabrikan pesawat terbesar Amerika Serikat itu mewakili seluruh karyawan Boeing menyampaikan simpati kepada keluarga korban para penumpang dan kru pesawat Lion Air dan Ethiopian Airlines. 
      Setelah mengakui kesalahan itu, Muilenburg mengatakan bahwa perusahaan memiliki "tanggung jawab untuk menghilangkan risiko tersebut. Lalu, Boeing pun berupaya membuat pembaruan perangkat lunak 737 Max untuk mencegah kecelakaan serupa terjadi lagi. 
      Terkait cacat sistem MCAS ini, Muilenburg menyebut pihaknya telah bekerja tanpa lelah bersama Federasi Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) semenjak tragedi Lion Air. Boeing bersama pihak lainnya pun berupaya untuk menyelesaikan dan mengimplementasikan perangkat lunak demi memastikan kecelakaan naas tersebut tak akan pernah terjadi lagi.
      Kecelakaan udara mematikan baru-baru ini telah menyebabkan pelarangan terbang pesawat 737 Max di seluruh dunia. Otoritas penerbangan Amerika Serikat, FAA, telah melarang terbang semua pesawat Boeing 737 Max 8 di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Di Indonesia, Kementerian Perhubungan telah meng-grounded 11 unit pesawat tipe tersebut yang dimiliki maskapai penerbangan Lion Air dan Garuda Indonesia sejak 14 Maret 2019.
    • By Ngobas
      Selain berhadapan dengan penyelidikan Departmen Transportasi AS terkait proses sertifikasi kelaikan terbang pesawat Boeing 737 Max, Boeing maupun Badan Penerbangan Federal (FAA) ternyata juga berhadapan dengan penyelidikan kriminal yang dilakukan oleh Biro Penyidik Federal (FBI).
       
×
×
  • Create New...

Important Information

We use cookies. They're not scary but some people think they are. Terms of Use & Privacy Policy